batampos – Perubahan iklim yang ekstrem, serangan organisme perusak tanaman, dan aktivitas penebangan yang tak terkendali telah menggerus kemampuan hutan-hutan di Eropa dalam menyerap karbon. Kini, hutan yang sebelumnya menjadi “paru-paru hijau” justru berubah menjadi penyumbang emisi karbon.
Mengutip laporan dari New Scientist (10/6), fenomena penurunan kemampuan hutan dalam menyerap karbon terlihat hampir di seluruh kawasan berhutan di Eropa. Glen Peters dari CICERO Center for International Climate Research, Norwegia, menyebut bahwa kondisi ini dapat menyebabkan banyak negara Uni Eropa gagal memenuhi target iklim di sektor penggunaan lahan.
Pada Januari lalu, Finlandia secara terbuka menyatakan bahwa kawasan hutannya telah berubah status: dari penyerap karbon menjadi sumber emisi. Jerman pun mengalami hal serupa—untuk pertama kalinya dalam sejarah. Sementara itu, Republik Ceko sudah lebih dulu menghadapi kondisi ini sejak 2018.
Situasi yang sama juga terjadi di Prancis, di mana volume karbon yang berhasil diserap hutan menurun drastis dari 74,1 juta ton CO₂ pada 2008 menjadi hanya 37,8 juta ton pada 2022. Norwegia mengalami tren serupa, dari 32 juta ton CO₂ pada tahun yang sama menjadi hanya 18 juta ton. Anu Korosuo dari Joint Research Centre, Komisi Eropa, menyebutkan bahwa penurunan daya serap hutan secara konsisten tampak sejak tahun 2013 hingga 2015 di hampir seluruh negara Eropa dengan luas hutan signifikan.
Peningkatan aktivitas penebangan, terutama setelah Uni Eropa memberlakukan embargo terhadap impor kayu dari Rusia, memperburuk keadaan. Finlandia adalah salah satu negara yang paling terdampak. Raisa Makipaa dari Natural Resources Institute Finland menjelaskan bahwa lonjakan permintaan pasar dan intensitas panen menjadi penyebab utama.
Meski demikian, faktor perubahan iklim dinilai lebih dominan dalam menurunkan kemampuan hutan menyerap karbon. “Kami bisa menyaksikan efeknya secara nyata. Banyak pohon mengalami stres lingkungan,” ujar Wouter Peters dari Universitas Wageningen, Belanda. Ia menambahkan bahwa kekeringan ekstrem pada musim panas 2022 menyebabkan penurunan drastis serapan karbon di kawasan hutan.
Sementara itu, Uni Eropa telah menargetkan agar hutan dan lahan di kawasan tersebut mampu menyerap 310 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun pada 2030. Namun, kajian terbaru menunjukkan bahwa target tersebut kemungkinan akan meleset hingga 29 persen dari total yang direncanakan. (*)
Artikel Fungsi Hutan Eropa Melemah, Kini Jadi Sumber Emisi Karbon pertama kali tampil pada News.




Sebelumnya, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) menilai Belanda bisa menjadi alternatif pasar ekspor bagi sejumlah produk Indonesia yang sebelumnya banyak dikirim ke Amerika Serikat. Ekonom Senior LPEI, Donda Sarah Hutabarat, mengatakan bahwa Belanda memiliki posisi strategis secara global karena merupakan eksportir keempat terbesar dan importir kesembilan di dunia.





