Rombongan remaja lakukan perang sarung di Pelabuhan Tarempa, Anambas. f.ist
batampos– Tradisi perang sarung yang melibatkan sekelompok remaja kembali lagi terjadi di Tarempa. Biasanya, perang ini kerap terjadi di bulan suci Ramadan.
Berdasarkan video yang diunggah oleh akun instagram;igjuntak, terlihat rombongan remaja ini saling menyerang satu sama lain dengan menggunakan sarung sebagai senjata, Minggu, (2/3) malam tadi.
Mereka memilih Pelabuhan Tarempa sebagai arena perang sarung. Menurut mereka, lokasi ini sangat tepat dijadikan arena perang karena ketika malam hari tidak ada aktifitas apapun.
Menanggapi hal ini, Kapolsek Siantan, Iptu Sutomo menegaskan akan meningkatkan kembali jam patroli untuk mencegah terjadinya perang sarung.
Selain itu, Sutomo juga mengingatkan pentingnya peran aktif orang tua dalam mengawasi anak-anak, terutama selama libur Ramadhan.
Dengan pengawasan yang baik, waktu libur bisa dimanfaatkan untuk aktivitas yang lebih positif dan mendidik.
“Orang tua harus berperan aktif mengawasi anak-anaknya, terutama di waktu libur bulan Ramadhan. Kita berharap liburan ini bisa dimanfaatkan dengan kegiatan yang bermanfaat,” himbau Sutomo.
Selain peran keluarga, Sutomo juga menekankan perlunya peningkatan kewaspadaan di lingkungan warga.
Ia mengimbau agar Pos Kamling di tiap desa lebih diaktifkan untuk menjaga keamanan wilayah masing-masing
“Jadikan lingkunganmu bebas dari bahaya kriminalitas, tindak pidana, atau penyakit masyarakat. Kerja sama dan kewaspadaan kita bersama sangat penting untuk menciptakan suasana Ramadhan yang aman dan damai,” pungkas Sutomo. (*)
Bupati Karimun Iskandarsyah saat melaksanakan safari ramadan 1446H di Masjid AL Amin Meral. f,DISKOMINFO
batampos– Kali pertama, kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Karimun Iskandarsyah-Rocky Marciano Bawole melaksanakan safari ramadan 1446 H yang sudah menjadi tradisi bagi pemerintah daerah Karimun.
Dalam safari Ramadan bersama sekda Karimun dan para kepala OPD Pemda Karimun, di masjid Al Amin Meral, Minggu (2/3) malam, bupati Karimun Iskandarsyah menyampaikan pesan bahwa safari ramadan yang dilaksanakan pemda Karimun tidak lain untuk menjalin talisilaturahmi antar pemerintah dan masyarakat.
” Sebelumnya, saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa, marhaban ya ramadan,” terangnya saat pembukaan sambutan kepada para jamaah masjid.
Melalui safari ramadan ini, dirinya berharap kepada umat muslim agar tetap terus memakmurkan masjid dengan berbagai kegiatan keagamaan, termasuk shalat berjamaah, pengajian, serta aktivitas sosial lainnya.
” Momentum ramadan ini, mari kita sama-sama melaksanakan shalat fardhu secara berjemaah. Maupun, berbagai kegiatan keagamaan selama bulan suci ramadan, yang belum pasti tahun depan bisa jumpa lagi,” ungkapnya.
Sehingga, lanjut Iskandarsyah lagi, masjid selain tempat ibadah juga bisa dimanfaatkan untuk pusat kebersamaan dan pembinaan umat. Selain itu mari kita menjalankan ibadah puasa dengan penuh keimanan dan keikhlasan, semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT.
” Mari kita terus tingkatkan kwalitas dan kuantitas puasa kita lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Perbanyak amal ibadah maupun sedekah, serta menghindari hal-hal yang membatalkan puasa dengan mengisi aktivitas yang positif,” pesannya.
Selain itu, ia mengajak untuk terus menjalin silaturahmi, kebersamaan serta kekompakan dalam mengisi pembangunan. Dan, saat ini sudah terjadi dengan baik dan tetap terus dipertahankan.
” Modal utama kita, yaitu kebersamaan dan kekompakan yang telah terjalin selama ini. Sehingga bisa mempersatukan semua golongan, dalam rangka pembangunan karimun kedepannya,” tutupnya.(*)
Pelayanan di RSUD Embung Fatimah tetap berjalan normal.
batampos – Layanan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah Batam tetap berjalan normal selama bulan Ramadhan. Direktur RSUD Raden Roro Sri Widjayanti Suryandari memastikan bahwa seluruh layanan medis, baik di Instalasi Gawat Darurat (IGD), rawat inap, maupun poliklinik rawat jalan, tetap beroperasi seperti biasa.
“Masyarakat tidak perlu khawatir, karena layanan medis di RSUD tetap berjalan seperti biasa. Semua pasien yang datang akan dilayani dengan baik oleh tenaga medis kami,” ujar Sri Widjayanti. Ia menegaskan bahwa tidak ada perubahan dalam sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dipimpinnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Humas RSUD Embung Fatimah Batam, Ellin Sumarni. Menurutnya, seluruh layanan medis tetap beroperasi normal dengan sistem shift bagi tenaga kesehatan. Perubahan hanya terjadi pada jam kerja pegawai administrasi.
“Ada sedikit perubahan pada layanan administrasi. Biasanya, pegawai masuk pukul 07.30 pagi, kini berubah menjadi pukul 08.00. Sedangkan jam pulang yang sebelumnya pukul 15.30 kini menjadi pukul 15.00,” jelas Ellin Sumarni.
Meskipun ada penyesuaian jadwal bagi pegawai administrasi, pasien tetap dapat mengakses layanan kesehatan tanpa kendala. IGD, rawat inap, dan poliklinik tetap buka seperti biasa guna memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan optimal selama bulan puasa.
Sebagai rumah sakit tipe B, RSUD Embung Fatimah telah memiliki layanan yang cukup lengkap. Rumah sakit ini juga berfungsi sebagai pusat rujukan bagi sejumlah fasilitas kesehatan di daerah sekitarnya.
Beberapa layanan poliklinik yang tersedia di RSUD Embung Fatimah di antaranya adalah Poli Umum, Poli Gigi dan Mulut, Poli KIA/KB, Poli Penyakit Dalam, Poli Anak, serta Poli Bedah. Selain itu, tersedia pula Poli Mata, Poli THT, Poli Paru, Poli Kulit dan Kelamin, hingga Poli Ortopedi.
Bagi pasien dengan kebutuhan layanan spesialis, RSUD Embung Fatimah juga menyediakan Poli Bedah Digestif, Poli Saraf/Bedah Saraf, Poli Jantung dan Pembuluh Darah, serta Poli Rehabilitasi Medik (Fisioterapi). Layanan lainnya mencakup Poli Jiwa, Poli Laktasi, Poli Methadone, dan Poli VCT.
Dengan kelengkapan layanan yang dimiliki, RSUD Embung Fatimah berkomitmen untuk tetap memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat, termasuk selama bulan Ramadhan. Diharapkan, masyarakat tidak ragu untuk datang berobat jika membutuhkan penanganan medis.
“Semua tenaga medis kami siap melayani pasien dengan profesionalisme dan dedikasi tinggi. Kami ingin memastikan bahwa selama Ramadhan, masyarakat tetap mendapatkan akses kesehatan yang optimal,” tutup Ellin Sumarni. (*)
batampos – Dua calon penumpang pesawat tujuan Lombok ditangkap Subdit II Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Kepulauan Riau (Kepri) di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam. Keduanya kedapatan usai membawa narkotika jenis sabu seberat 400 gram yang disembunyikan di dalam pakaian dalam mereka.
“Kedua pria tersebut, berinisial Z dan R, merupakan warga asal Karimun. Mereka ditangkap pada Minggu kemarin saat hendak memasuki ruang tunggu keberangkatan menuju Lombok, NTB,” kata Kasubdit II Ditresnarkoba Polda Kepri, AKBP Gokmaulitae Sitompul, Senin (3/3).
Ia menjelaskan bahwa penindakan berawal dari laporan masyarakat mengenai dugaan upaya penyelundupan narkotika melalui jalur udara.
Setelah mendapatkan informasi, tim Subdit II Ditresnarkoba segera bergerak ke Bandara Hang Nadim dan melakukan pemantauan terhadap kedua tersangka.
“Saat melewati pemeriksaan keamanan, detektor terus berbunyi, meskipun petugas awalnya tidak menemukan barang bukti. Karena ada kejanggalan, kedua tersangka diarahkan ke ruang pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.
Setelah dilakukan penggeledahan, petugas menemukan bungkusan kecil berisi serbuk putih berupa kristal yang diselipkan di dalam celana dalam tersangka, menyerupai pampers .
“Setelah diuji, serbuk putih tersebut dipastikan sebagai sabu,” jelasnya:
Hasil pemeriksaan sementara mengungkap bahwa masing-masing tersangka membawa 200 gram sabu, sehingga total barang bukti yang diamankan sebanyak 400 gram.
Saat diinterogasi, kedua tersangka mengaku baru pertama kali menjadi kurir narkoba dan dijanjikan upah sebesar Rp 50 juta yang akan dibagi dua.
“Kami masih melakukan pendalaman terhadap jaringan yang melibatkan kedua tersangka ini. Saat ini kasus masih dalam tahap pengembangan,” tambah AKBP Gokmaulitae.
Polda Kepri menegaskan komitmennya dalam memberantas peredaran narkotika di wilayah Kepulauan Riau, terutama jalur penyelundupan melalui bandara dan pelabuhan. (*)
Sejumlah kendaraan sedang melakukan pengisiian bahan bakar minya (BBM) di SPBU di Jalan Sudirman beberapa waktu lalu, F Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos – Kasus dugaan pengoplosan BBM oleh oknum petinggi Pertamina terus menjadi perhatian masyarakat, termasuk di Batam. Warga khawatir distribusi BBM yang telah dioplos bisa saja telah masuk ke daerah mereka, sehingga menimbulkan kerugian bagi pengguna bahan bakar, khususnya Pertamax.
Afriyandi Sitompul, seorang warga Tiban, menyatakan keresahannya terkait kasus ini. Ia menilai belum ada kejelasan dari Pertamina mengenai berapa banyak BBM yang telah dioplos dan apakah sudah tersebar ke berbagai daerah, termasuk Batam.
“Selaku masyarakat, kekhawatiran itu pasti ada. Kita tidak tahu berapa banyak BBM yang sudah dioplos. Bisa saja masih ada dan sudah sampai ke Batam,” katanya, Senin (3/3).
Ia menyoroti belum adanya pernyataan resmi dari Pertamina mengenai jumlah BBM yang terkontaminasi. Jika benar BBM oplosan telah beredar di Batam, maka masyarakat sebagai konsumen akan dirugikan.
“Saya sebagai pengguna Pertamax, tentu merasa dibohongi kalau BBM itu memang sudah sampai ke sini. Seharusnya pemerintah dan Pertamina memastikan hal ini dengan cek ulang,” kata Afriyandi.
Menanggapi hal tersebut, DPRD Batam berencana memanggil pihak Pertamina dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) setempat untuk meminta klarifikasi. Legislator Batam, Safari Ramadhan, berencana melakukan sidak ke kilang minyak dan SPBU di Batam bersama jajaran dewan Komisi II.
“Kemungkinan dalam waktu dekat ini kami akan melakukan sidak ke kilang minyak di Batam, termasuk SPBU. Tapi tentu kita lihat situasi dan perkembangan terlebih dahulu,” katanya.
Pihaknya akan melakukan pengecekan secara langsung untuk membedakan BBM asli dan BBM oplosan. Menurutnya, karena semua BBM berasal dari kilang, ada indikasi kemungkinan BBM oplosan sudah masuk ke wilayah Kepri.
“Wilayah Kepri ini hanya menerima minyak yang sudah diolah di kilang, lalu didistribusikan ke daerah-daerah. Bisa saja BBM oplosan itu sudah masuk ke Batam. Maka dari itu, sidak ini sangat penting,” ujarnya.
Safari mengatakan, DPRD Batam akan meminta Disperindag dan Pertamina untuk menjelaskan lebih lanjut terkait kasus ini agar masyarakat tidak semakin resah.
“Kami ingin memastikan agar tidak ada keraguan di masyarakat. Sebab, masih banyak yang belum memahami perbedaan antara Pertalite dan Pertamax yang asli maupun yang sudah dioplos,” katanya.
Sementara itu, Kepala Ombudsman RI perwakilan Kepri, Lagat Parroha Patar Siadari, menyebut bahwa Pertamina telah memastikan tidak ada masalah dengan kualitas BBM, khususnya Pertamax.
“Pertamina sudah menegaskan dalam konferensi pers bahwa kualitas BBM tidak bermasalah. Namun, kita tetap perlu menunggu hasil proses hukum dari Kejagung,” kata Lagat.
Dia menambahkan, saat ini kasus dugaan pengoplosan BBM sudah ditangani aparat penegak hukum, DPR, serta pihak terkait lainnya. “Kalau ada keluhan dari masyarakat, tentu akan kami tangani. Tapi saat ini, kasusnya sudah ditangani oleh APH dan telah ditanggapi berbagai pihak,” tambahnya.
Sejauh ini, lanjutnya, belum ada laporan atau temuan terkait dampak dari BBM oplosan di Kepri, seperti kendaraan yang mengalami kerusakan akibat kualitas BBM yang buruk.
“Kami harap masyarakat tidak terlalu reaktif, karena kasus ini sudah dalam penanganan hukum. Jika nantinya terbukti ada pengoplosan, maka harus ada pertanggungjawaban sosial, termasuk pengembalian uang bagi pengguna Pertamax,” kata Lagat. (*)
batampos – Dua calon penumpang pesawat tujuan Lombok ditangkap Subdit II Direktorat Reserse Narkoba (Ditresnarkoba) Polda Kepulauan Riau (Kepri) di Bandara Internasional Hang Nadim, Batam. Keduanya kedapatan usai membawa narkotika jenis sabu seberat 400 gram yang disembunyikan di dalam pakaian dalam mereka.
“Kedua pria tersebut, berinisial Z dan R, merupakan warga asal Karimun. Mereka ditangkap pada Minggu kemarin saat hendak memasuki ruang tunggu keberangkatan menuju Lombok, NTB,” kata Kasubdit II Ditresnarkoba Polda Kepri, AKBP Gokmaulitae Sitompul, Senin (3/3).
Ia menjelaskan bahwa penindakan berawal dari laporan masyarakat mengenai dugaan upaya penyelundupan narkotika melalui jalur udara.
Setelah mendapatkan informasi, Tim Subdit II Ditresnarkoba segera bergerak ke Bandara Hang Nadim dan melakukan pemantauan terhadap kedua tersangka.
“Saat melewati pemeriksaan keamanan, detektor terus berbunyi, meskipun petugas awalnya tidak menemukan barang bukti. Karena ada kejanggalan, kedua tersangka diarahkan ke ruang pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.
Setelah dilakukan penggeledahan, petugas menemukan bungkusan kecil berisi serbuk putih berupa kristal yang diselipkan di dalam celana dalam tersangka, yang dimodifikasi seperti pampers. (*)
Trotoar Mukakuning yang mulai rusak dan tak terurus. Foto: Eusebius Sara / Batam Pos
batampos – Trotoar di kawasan Mukakuning dalam kondisi rusak parah. Jalur khusus pejalan kaki yang membentang dari Simpang Panbil Mall hingga ke kawasan Rusunawa Mukakuning ini sudah lama tidak mendapat perhatian perbaikan. Kondisi ini semakin memprihatinkan karena jalur ini merupakan akses utama bagi warga sekitar, terutama para pekerja yang beraktivitas di kawasan industri dan pusat perbelanjaan terdekat.
Setiap pagi dan sore hari, trotoar ini selalu ramai digunakan oleh masyarakat. Namun, banyak pengguna mengeluhkan kondisi infrastruktur yang semakin memburuk. Kerusakan terjadi di berbagai bagian, termasuk atap dan lantai trotoar. Beberapa atap terlihat sudah bolong, bahkan beberapa tiang penyangganya telah hilang.
Selain itu, lantai trotoar juga mengalami banyak kerusakan. Permukaannya berlubang, dan paving block yang seharusnya menjadi alas pijakan banyak yang hilang. Beberapa warga menduga bahwa paving block tersebut sengaja dicuri oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
“Ada yang sengaja mencuri paving block ini. Besi atap juga dipatahkan untuk dijual,” kata Irma, salah satu pengguna trotoar yang tinggal di Rusunawa Pemko Batam Mukakuning. Ia berharap ada tindakan tegas untuk mencegah aksi pencurian material di jalur trotoar ini.
Selain permasalahan infrastruktur, trotoar ini juga dipenuhi oleh pedagang kaki lima. Para pedagang memanfaatkan area pejalan kaki sebagai tempat berjualan, sehingga semakin menyulitkan warga yang melintas. Tak hanya itu, kendaraan bermotor juga kerap diparkir di sepanjang jalur ini, menambah kesemrawutan kondisi trotoar.
Rini, salah satu penghuni Rusunawa Mukakuning, berharap agar pemerintah segera turun tangan mengatasi persoalan ini. Ia menilai kondisi trotoar yang rusak serta dipenuhi pedagang dan kendaraan parkir sangat mengganggu kenyamanan dan keselamatan pejalan kaki.
Menanggapi keluhan masyarakat, Pemko Batam melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air menyatakan telah berkomunikasi untuk mencari solusi atas permasalahan ini. Namun, pengerjaan perbaikan akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan prioritas dan ketersediaan anggaran.
Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Batam, Suhar, mengatakan bahwa langkah awal yang akan dilakukan adalah pelebaran jalan serta normalisasi drainase di kawasan tersebut. Setelah itu, barulah perbaikan trotoar bisa dilakukan secara menyeluruh.
Masyarakat berharap Pemko Batam segera merealisasikan perbaikan trotoar Mukakuning agar jalur pejalan kaki ini kembali aman dan nyaman digunakan. Selain itu, diperlukan juga penertiban terhadap pedagang kaki lima dan kendaraan yang parkir sembarangan agar jalur tersebut bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
Dengan adanya perbaikan dan penataan yang tepat, trotoar Mukakuning diharapkan bisa kembali menjadi jalur yang nyaman dan aman bagi pejalan kaki, khususnya bagi warga Rusunawa dan pekerja di kawasan industri sekitar. (*)
Saksi dari Propam Polda Kepri saat sidang lanjutan perkara narkotika yang melibatkan mantan 10 anggota polisi Satnarkoba Polresta Barelang di Pengadilan Negeri Batam. Foto. Yashinta/ Batam Pos
batampos – Sidang lanjutan perkara narkotika yang melibatkan mantan 10 anggota polisi Satnarkoba Polresta Barelang kembali digelar di Pengadilan Negeri Batam. Agenda persidangan adalah 6 saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU).
Proses persidangan agenda keterangan saksi berlangsung cukup alot. Dimana satu saksi saja bisa memberi keterangan selama 4 jam dan dihujani ratusan pertanyaan oleh penasehat hukum para terdakwa. Meski begitu, saksi dari Propam Polda Kepri tampak masih tenang menjawab pertanyaan penasehat hukum
Dalam agenda pemeriksaan saksi, sidang ke 12 terdakwa dibagi menjadi dua sesi. Sidang pertama yakni untuk terdakwa Wan Rahmat, Aryanto, Jaka Surya, Junaidi dan Azis. Sedangkan pada sesi kedua yakni untuk terdakwa Satria Nanda, Fadilla, Sigit, Alex Candra, Zulkifli, Rahmadi, Ibnu Makruf.
Saksi pertama yang memberi keterangan dalam sidang sesi satu yakni Ipda Aryanto Gultom dari Bidang Propam Polda Kepri. Dalam keterangannya, Ipda Aryanto menjelaskan perkara dugaan keterlibatan 10 anggota polisi adalah turunan dari bidang Paminal Polda Kepri.
“Perkara turunan dari Paminal, untuk pemeriksaan awal, menyerahkan barang bukti dan nama-nama terdakwa,” ujar saksi.
Menurut dia, dari hasil pemeriksaan ia mendapati peranan para terdakwa. Yang mana peranan Jaka Surya dan Aryanto mengantarkan sabu yang dijual kepada Azis sebesar Rp400 juta. Uang penjualan sabu itu rencananya dibayarkan untuk informan atas nama SI sebesar Rp400 juta.
“Sabu dijual Rp400 juta untuk pembayaran informan. Informan bernama SI mendapat uang Rp20 juta per kg,” sebut Aryanto.
Selain itu, terdakwa lainnya, yakni Junaidi, Wan Rahmad, Aryanto, Jaka, dan Azis, juga diduga terlibat dalam peredaran 5 kilogram sabu. Barang tersebut dikaitkan dengan kasus 5 kilogram sabu yang berada di Tembilahan dan tengah ditangani oleh Bareskrim. Junaidi disebut mengetahui proses penyusunan rencana peredaran narkoba tersebut.
Dalam persidangan juga diungkap bahwa sabu tersebut dijemput oleh Tim Opsnal yang terdiri atas Sigit, Jaka, dan Ibnu Makruf. Berawal dari pertemuan Mantan Kasat Narkoba Polresta Barelang pada bulan Mei yang meminta anggota untuk melakukan Operasi Tangkap dalam jumlah besar.
“Ada dua tas, masing-masing isi tas 18 paket. Yang mana barang bukti 35 kilogram diperuntukan untuk perkara Dayat dan Nelly,” jelas aryanto.
Saksi Ipda Aryanto Gultom menyebut bahwa mereka menerima barang bukti dari Paminal (Pengamanan Internal) dan mengaku masih menghormati para terdakwa meskipun terlibat dalam kasus ini. Berkas perkara dalam kasus ini dibagi (split) sesuai dengan kepangkatan masing-masing terdakwa.
“Pada akhir persidangan, terdapat pencabutan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) setelah pembacaan putusan. Mereka membantah menyalahgunakan dan menjual barang bukti narkoba,” tegas Aryanto.
Proses jalannya sidang cukup alot, hingga pukul 16.00 WIB masih satu saksi yang diperiksa dalam sesi pertama. Sedangkan untuk satu sesi ada 6 saksi yang akan diperiksa.
Sebelumnya, dalam sidang yang digelar Kamis (27/2), dua saksi yang dihadirkan mencabut BAP yang diberikan pada saat pemeriksaan di Polda Kepri. Atas dicabutnya BAP, para terdakwa mengucapkan terimakasih kepada saksi.
Diketahui, kasus dugaan tindak pidana narkotika yang menyeret 10 anggota polisi Polda Kepri akhirnya bergulir di Pengadilan Negeri Batam, Kamis (30/1) sekitar pukul 11.20 WIB. Dimana dua warga sipil yang satu diantaranya mantan anggota polisi juga mengikuti sidang dalam perkara sama dengan agenda pembacaan dakwaan.
Dalam dakwaan, terungkap jika para terdakwa polisi tak hanya menyalahgunakan barang bukti narkoba jenis sabu. Namun juga menjemput 44 kilogram sabu hingga perbatasaan Malaysia, dengan membayar upah tekong Rp20 juta dan upah informan Rp20 juta perkilogram.
Dalam dakwaan menjelaskan bahwa kejadian tersebut berlangsung antara bulan Juni hingga September 2024. Berawal dari salah satu ruangan Satnarkoba Polrest Barelang.
Kasus bermula dari informasi terkait penyelundupan 300 Kg sabu dari Malaysia yang diperoleh Rahmadi SI seorang informan. Namun, rencana tersebut batal hingga akhirnya muncul informasi baru pada Mei 2024 mengenai masuknya 100 kg sabu ke Indonesia.
Atas informasi tersebut, beberapa terdakwa menggelar pertemuan di One Spot Coffee, Batam, guna membahas distribusi barang haram itu. Awalnya, rencana penyelundupan mengalami kendala, namun setelah Ditresnarkoba Polda Kepri mengungkap kasus narkotika di Imperium, Batam, serta adanya tekanan dari pimpinan Polresta Barelang agar segera mengungkap kasus besar, Satria Nanda diduga memerintahkan timnya untuk kembali menjalankan operasi ini.
Dalam rapat lanjutan, terdakwa Shigit Sarwo Edhi sebagai Kanit memberikan arahan kepada Fadillah dan Rahmadi untuk memastikan eksekusi berjalan lancar. Rencana itu mencakup pembagian 100 Kg sabu, dimana 90 Kg digunakan untuk pengungkapan kasus, sedangkan 10 Kg lainnya diduga disisihkan untuk membayar SI dan keperluan operasional.
Pada akhirnya, strategi tersebut mendapat persetujuan Satria Nanda meski awalnya ia menilai skema itu berisiko tinggi. Hingga akhirnya, pada bulan Juni, beberapa terdakwa menyewa Awang seorang tekong untuk mengambil sabu dari Malaysia. Awang diupah Rp20 juta dan melaju dari Perairan Nongsa, menuju Tanjunguban hingga ke Malaysia.
Awang membawa kapal seorang diri, dikawal oleh beberapa terdakwa (polisi) menggunakan kapal terpisah. Namun diperbatasaan, para terdakwa berhenti. Sedangkan Awang masuk ke perairan Malaysia.
Setelah Awang kembali dari perairan Malaysia, para terdakwa kembali mengawal Awang hingga perairan Nongsa. Sesampai di perairan Nongsa, Awang tetap berada di atas kapal, sedangkan para terdakwa mengambil dua tas besar dan memasukan ke dalam mobil warna silver untuk menuju Satnarkoba Polresta Barelang.
Di Satnarkoba Polresta Barelang, para terdkawa menghitung jumlah sabu di dalam dua tas ada 44 bungkus yang masing-masing tiap bungkus berisi 1 kilogram. Sabu-sabu tersebut kemudian disisihkan 9 bungkus dan disimpan di tempat terpisah.
Untuk 35 bungkus lagi atau 35 kilogram, dilaporkan untuk diekspos dan disetujui oleh Kasat yang saat itu berada di Bandara Hang Nadim Batam.
Dalam pertemuan para terdakwa dan Kasat, Kasat juga sempat mengucapkan selamat kepada para terdakwa karena sudah sukses bekerja. Yang kemudian ditentukan waktu untuk melakukan ekspos perkara nantinya. Para terdakwa kemudian menghubungi Poy (DPO), untuk mencari orang yang akan membawa sabu itu ke Jakarta. Dan Poy mendapatkan 3 orang, yakni Effendi, Nely dan Ade.
Dua diantara kurir adalah pasangan suami istri yang dijanjikan upah Rp150 juta dan Ade yang dijanjikan upah Rp10 juta. Namun dalam aksi itu, para polisi yang semula memiliki barang, melakukan aksi penyergapan kepada ketiganya. Orang suruhan Poy ditangkap di dekat jembatan Barelang dengan barang bukti 35 kilogram sabu.
Tak hanya itu, 9 kilogram sabu yang disisihkan itu kemudian dijual, salah satunya kepada Azis dengan harga Rp400 juta per kilogram. Namun diperjalanan, Azis tak melunasi sisa dari pembelian sabu tersebut. Perbuataan para terdqkwa dijerat dengan pasal 112 ayat 2 UU narkotika jo 132 jo pasal 64 UU narkotika. Atau pasal 114 ayat 2 Jo 132 Jo 64 UU narkotika. (*)
Knalpot brong didapati saat kegiatan cipta kondisi.
batampos – Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polresta Barelang dalam 2 bulan ini menindak 128 unit motor yang menggunakan knalpot brong. Seluruh knalpot tersebut disita dan akan dimusnahkan.
Kanit Turjawali Satlantas Polresta Barelang, Iptu Yelvis Oktaviano mengatakan knalpot tersebut didapati dari kegiatan cipta kondisi (cipkon), khususnya pada akhir pekan.
“Kegiatan cipkon ini tentunya akan memberikan efek jera dan membangun kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan pelanggaran lalulintas lagi,” ujarnya, Senin (3/3)
Yelvis mengaku penindakan ini akan terus dilakukan sesuai perintah Kapolresta Barelang, Kombes Heribertus Ompusunggu. Dengan target, Batam zero knalpot brong.
“Sesuai arahan Bapak Kapolresta, kegiatan ini akan rutin kita lakukan,” katanya.
Yelvis menjelaskan dari 128 motor yang ditindak tersebut didominasi oleh anak remaja, dan pelajar. Untuk sanksinya berupa tilang elektronik (ETLE) mobile.
Diketahui, pengendara yang ditindak harus membayar denda tilang melalui sistem BRIVA di BRI. Kemudian wajib menunjukkan bukti transfer dan membuat pernyataan tidak akan mengulangi pelanggaran yang sama.
Sedangkan untuk pelajar, saat pengambilan kendaraan wajib didampingi oleh orangtua. Seluruh kendaraan yang ditindak kemudian dibawa ke Mapolresta Barelang.
“Seluruh motor kita amankan di Mapolresta Barelang. Untuk mengambilnya, harus memenuhi persyaratan yang ada,” tutupnya. (*)
Saat bulan Ramadan yang bermakna tiba, berbagai cara dilakukan umat Muslim untuk menunggu waktu berbuka puasa. Di Tanjungpinang, salah satu tradisi atau aktivitas ngabuburit favorit warga adalah menikmati suasana senja di tepi laut.
***
Ngabuburit menjelang waktu berbuka puasa, sejumlah warga berkumpul di sekitar Taman Tugu Sirih Tanjungpinang, menikmati senja. F. Yusnadi Nazar
Di Indonesia termasuk di Tanjungpinang Ibu Kota Kepri, tradisi ngabuburit (istilah bahasa Sunda yang berarti menunggu waktu berbuka puasa sore hari), menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat saat bulan Ramadan.
Kegiatan menunggu waktu berbuka puasa ini diisi dengan berbagai aktivitas atau kegiatan positif dan berpahala yang mencerminkan kekayaan budaya dan kebersamaan warga setempat.
Ngabuburit menunggu waktu azan Magrib biasanya diisi dengan membaca Al Qur’an, mengikuti kajian agama atau ceramah di masjid. Ini menjadi cara produktif warga Tanjungpinang untuk menambah wawasan keislaman sekaligus mendapatkan pahala di bulan suci Ramadan.
Kemudian, seiring perkembangan teknologi, cara ngabuburit juga mengalami perubahan. Kini, banyak orang memilih untuk ngabuburit dengan menonton video ceramah, bermain game online, atau berinteraksi di media sosial. Selain itu, ada pula yang mengikuti kelas online atau membaca buku digital sebagai alternatif ngabuburit yang lebih produktif.
Namun ada juga sebagian warga menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan di sekitar kota atau mengunjungi pasar dadakan yang menjual aneka makanan berbuka seperti kolak, es cendol, gorengan, dan aneka kue menjadi incaran utama.
Kemudian ada sebagian warga memilih untuk ngabuburit dengan berolahraga ringan, seperti jogging, bersepeda, atau bermain sepak bola. Ini menjadi cara menyenangkan untuk menunggu berbuka sekaligus menjaga kebugaran tubuh.
Sebagian warga Tanjungpinang yang lain, memilih berkumpul dan bersosialisasi. Ngabuburit sering dijadikan momen untuk berkumpul bersama teman atau keluarga. Banyak yang menghabiskan waktu di taman kota, masjid, atau tempat nongkrong sambil berbincang-bincang ringan.
Salah satu lokasi favorit untuk ngabuburit adalah kawasan tepi laut yang membentang dari Jalan Haji Agus Salim hingga Jalan Hang Tuah Tanjungpinang. Di sini, masyarakat dapat menikmati pemandangan alam laut sambil menunggu waktu berbuka puasa.
Hamparan laut biru yang tenang, semilir angin sepoi-sepoi, serta panorama matahari terbenam menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang ingin melepas penat sambil menanti azan magrib.
Menjelang sore, kawasan tepi laut Tanjungpinang mulai dipadati warga. Ada yang sekadar duduk santai di bangku-bangku taman, ada pula yang berjalan-jalan di sepanjang pinggir laut.
Dua lokasi favorit ngabuburit di tepi laut Tanjungpinang adalah Taman Gurindam 12 dan Taman Tugu Sirih, yang menyuguhkan pemandangan laut luas dengan latar kapal-kapal yang berlalu lalang.
“Kami suka menunggu waktu berbuka puasa di sini karena suasananya adem dan pemandangannya indah. Kalau cuaca cerah, matahari terbenamnya luar biasa cantik,” kata Ayu, salah seorang warga Tanjungpinang yang datang bersama suami dan anaknya, Sabtu (1/3).
Menurut Ayu, ngabuburit menjadi momen kebersamaan. Bagi sebagian orang, ngabuburit bukan hanya sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi juga menjadi ajang berkumpul bersama keluarga dan teman-teman.
Saat ngabuburit di tepi laut Tanjungpinang, kata Ayu, banyak kelompok anak muda dan remaja yang terlihat bercengkerama, sementara keluarga menikmati waktu santai bersama anak-anak menunggu waktu berbuka puasa.
“Ada juga yang membawa tenda kecil, tikar dan kursi lipat. Ya sambil bersantai menunggu azan Magrib di tepi laut,” ungkapnya.
Selain menikmati keindahan alam, lanjut Ayu, warga juga memanfaatkan momen ngabuburit untuk berburu takjil. Sepanjang jalan di sekitar kawasan tepi laut, banyak pedagang yang menjajakan berbagai kuliner khas Ramadan, seperti otak-otak, laksa, bubur, hingga aneka es segar dan lain sebagainya.
“Kami akhir pekan ya sering ke sini sama keluarga. Sambil ngobrol, menikmati suasana laut, dan tentu saja berburu makanan enak,” kata Ayu yang berprofesi sebagai pegawai pemerintah ini.
Seiring azan magrib berkumandang, warga yang berkumpul di tepi laut Tanjungpinang segera membatalkan puasa dengan air mineral dan makanan berbuka yang sudah dibeli sebelumnya. Senyum kebahagiaan pun tergambar, menutup hari dengan rasa syukur.
Tepi laut Tanjungpinang tak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menjadi tempat penuh kenangan bagi warga yang menghabiskan waktu ngabuburit di tepi laut Tanjungpinang. Ramadan pun terasa semakin bermakna dengan kebersamaan dan kehangatan yang tercipta di setiap senja.
“Alhamdulillah kalau sudah azan Magrib ya kami berbuka sambil menikmati sunset, selesai berbuka kami ke Masjid Raya Al Hikmah untuk salat Magrib,” sebut Ayu.
Tradisi ngabuburit tetap menjadi bagian penting dalam budaya Ramadan di Tanjungpinang. Dengan berbagai aktivitas yang bisa dilakukan, ngabuburit bukan hanya sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat kebersamaan, menambah ilmu, dan menjalani Ramadan dengan penuh makna.
“Yang terpenting adalah mengisi waktu berbuka puasa dengan hal yang bermanfaat dan membawa kebaikan,” tutup Ayu. (*)