Jumat, 8 Mei 2026
Beranda blog Halaman 194

‎Tender Pasar Induk Jodoh Disorot, Ombudsman Pertanyakan Transparansi Proses Lelang

0
Lahan pasar Induk Jodoh kini mulai di pasang pagar, Jumat (3/4). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Proses lelang proyek pembangunan kembali Pasar Induk Jodoh melalui skema Kerja Sama Pemanfaatan (KSP) senilai Rp85 miliar dengan kontrak 30 tahun menuai sorotan.

‎Persoalan tidak hanya pada mekanisme tender, tetapi juga mengarah pada peran perusahaan pemenang yang menjadi satu-satunya peserta dalam proses tersebut.

Kondisi ini memicu pertanyaan terkait transparansi sekaligus integritas pengelolaan aset publik oleh Pemerintah Kota (Pemko) Batam.

‎Diketahui, panitia pemilihan telah mengumumkan tender pada 12–13 November 2025 dan melakukan tender ulang pada 3–5 Desember 2025 melalui media massa nasional.

Namun hingga batas akhir pemasukan dokumen, hanya satu perusahaan yang ikut berpartisipasi, yakni PT Usaha Jaya Karya Makmur (PT UJKM).

‎Kerja sama tersebut kemudian ditandatangani langsung oleh Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, bersama perwakilan PT UJKM, Yuwangky, di Kantor Wali Kota Batam pada Selasa (17/3) lalu.

‎Kepala Ombudsman Kepri, Lagat Siadari, menyebut pihaknya telah menerima informasi terkait proyek tersebut, yang sebelumnya merupakan aset BP Batam dan kemudian diserahkan kepada Pemko untuk dikelola.

‎Ia menjelaskan, proyek pasar induk tersebut sebelumnya telah dibangun dengan anggaran sekitar Rp34 miliar, namun tidak berjalan optimal hingga terbengkalai dan tidak terawat.

‎Meski mendukung penataan kembali pasar, Lagat menegaskan bahwa proses lelang seharusnya dilakukan secara terbuka dan transparan. Ia justru mengaku menerima informasi penetapan pengelola secara tiba-tiba tanpa mengetahui proses lelang sejak awal.

‎“Apakah ada dipublikasikan sebelumnya terkait rencana kerja sama ini, penerimaan pendaftaran lelangnya, kemudian bagaimana penawarannya, apa yang ditawarkannya, apakah syarat-syarat terpenuhi atau bagaimana, atau memang tidak memenuhi syarat,” kata dia.

‎Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan kesan bahwa proses lelang tidak berjalan transparan. Informasi publik dinilai minim hingga tiba-tiba diumumkan penandatanganan kerja sama.

‎“Artinya proses lelang ini tidak ada transparansi. Namun tiba-tiba dipublikasikan kerja sama dan tanda tangan pihak pemerintah kota dan perusahaan pengelola,” ujarnya.

‎Lagat juga mempertanyakan kemungkinan adanya komunikasi awal yang tidak terbuka sebelum proses lelang berlangsung.

‎“Kenapa memilih PT ini sebagai pihak pemenangnya? Apakah ada persekongkolan,” kata dia.

‎Ia menegaskan, jika terdapat dugaan penunjukan sepihak, kurangnya transparansi, atau indikasi persekongkolan, maka hal tersebut perlu menjadi perhatian aparat penegak hukum (APH) dan kejaksaan.

‎Kondisi tender dengan satu peserta serta minimnya keterbukaan informasi ini dinilai membuka ruang evaluasi terhadap mekanisme pengelolaan aset publik agar lebih akuntabel.

‎Sementara itu, Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa proses yang dilakukan merupakan lelang, bukan penunjukan langsung. Ia menyebut tender telah dilakukan beberapa kali sebelum akhirnya mendapatkan pemenang.

‎“Kalau tidak salah beberapa kali lelang baru mendapat pemenang. Karena tidak ada yang ikut lelang pertama. Habis itu buka lagi. Habis itu dia menang, saya tanda tangani dokumen kerja samanya,” jelasnya saat dikonfirmasi Batam Pos, Kamis (2/3) sore.

‎Ia juga menyampaikan bahwa penandatanganan kerja sama tersebut turut disaksikan oleh aparat penegak hukum.

‎“Saya senang karena aset itu menjadi produktif. Dari sebelumnya tidak menghasilkan apa-apa, barangnya berdebu-debu saja. Lalu kemudian dia menjadi produktif,” kata Amsakar.

‎Saat ditanya terkait nilai kerja sama, Amsakar tidak merinci dan meminta konfirmasi lebih lanjut kepada dinas terkait maupun pihak perusahaan.

‎“Itu tanya ke dinas atau perusahaan,” ujarnya.

‎Di sisi lain, Batam Pos telah berupaya mengkonfirmasi pihak perusahaan PT UJKM, melalui Niko yang disebut sebagai kuasa hukum Yuwangky pemilik perusahaan, pada Jumat (3/4) siang. Namun hingga kini, belum ada tanggapan atau respon yang diberikan.(*)

Artikel ‎Tender Pasar Induk Jodoh Disorot, Ombudsman Pertanyakan Transparansi Proses Lelang pertama kali tampil pada Metropolis.

Gubernur Ansar Resmikan Jembatan Semala Natuna, Dorong Ekonomi dan Konektivitas

0
Gubernur Kepri Ansar Ahmad didampingi Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura meresmikan Jembatan Semala di Kabupaten Natuna. F. Kevin untuk Batam Pos.

batampos – Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, meresmikan Jembatan Semala yang berada di Desa Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara, Kabupaten Natuna, Jumat (3/4).

Peresmian jembatan tersebut turut didampingi Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura. Infrastruktur ini menjadi penghubung strategis antara wilayah Batubi dan Kelarik yang sebelumnya sulit diakses secara langsung.

Sebelum jembatan dibangun, masyarakat harus menempuh jalur memutar dengan waktu tempuh lebih lama. Kondisi tersebut berdampak pada mobilitas warga hingga distribusi barang.

Kini, dengan hadirnya Jembatan Semala, akses antarwilayah menjadi lebih cepat dan efisien, sekaligus mempermudah aktivitas ekonomi masyarakat.

“Pembangunan jembatan bukan sekadar proyek fisik, tetapi simbol kehadiran pemerintah dalam membuka akses dan menyatukan wilayah,” ujar Ansar.

Ia menjelaskan, pembangunan jembatan ini menelan anggaran sebesar Rp12,5 miliar dengan tipe AG 30 Composite Girder Bridge dan panjang sekitar 30 meter.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di wilayah perbatasan seperti Natuna.

“Saya berharap kehadiran jembatan ini dapat memicu tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Ansar juga menilai peningkatan konektivitas akan berdampak langsung pada daya saing daerah, termasuk sektor pariwisata dan investasi.

“Dengan akses yang semakin baik, kita harapkan kunjungan wisatawan meningkat dan investasi berkembang lebih maksimal,” tambahnya.

Data pemerintah menunjukkan, di Provinsi Kepulauan Riau terdapat 154 jembatan dengan total panjang mencapai 4.001,85 meter. Sementara di Natuna sendiri terdapat 35 jembatan dengan panjang sekitar 537 meter.

Ansar menegaskan bahwa infrastruktur merupakan urat nadi pembangunan daerah. Tanpa akses yang memadai, potensi ekonomi sulit berkembang secara optimal.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga dan merawat fasilitas yang telah dibangun agar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

“Anggaplah jembatan ini sebagai milik bersama yang harus kita jaga,” tutupnya.

Peresmian Jembatan Semala diharapkan menjadi momentum percepatan pembangunan di Natuna sebagai wilayah perbatasan strategis di Kepri. (*)

Artikel Gubernur Ansar Resmikan Jembatan Semala Natuna, Dorong Ekonomi dan Konektivitas pertama kali tampil pada Kepri.

Harga Ayam Potong dan Cabai di Batam Turun

0
Seorang pedagang pasar Botania merapikan cabai yang siap dijual, Rabu (25/3). Harga cabai kini sudah turun F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Harga sejumlah kebutuhan pokok di pasaran Kota Batam mulai menunjukkan tren penurunan. Salah satunya daging ayam potong yang kini dijual lebih murah dibandingkan pekan lalu.

Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar, harga ayam potong saat ini berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp43 ribu per kilogram. Angka ini turun sekitar Rp2 ribu dari pekan sebelumnya yang sempat menyentuh Rp44 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram.

Di Pasar Botania Batam Center, harga ayam potong rata-rata dijual Rp42 ribu per kilogram. Salah seorang pedagang, Ari, mengatakan penurunan harga ini sudah terjadi sejak awal bulan puasa.

“Sudah sejak awal puasa tinggi, kali ini turun jadi Rp42 ribu per kilogram. Minggu lalu masih Rp45 ribu,” ujarnya.

Meski harga mengalami penurunan, Ari menyebut daya beli masyarakat masih relatif stabil. Daging ayam potong tetap menjadi salah satu komoditas yang paling dicari oleh warga.

“Masih tetap sama, pembeli ramai juga. Ayam ini memang kebutuhan utama,” tambahnya.

Sementara itu, di Pasar Summerland Nongsa, harga ayam potong juga berada di kisaran Rp42 ribu hingga Rp43 ribu per kilogram. Pedagang setempat mengakui adanya penurunan harga, meskipun tidak terlalu signifikan.

“Turunnya memang tidak banyak, tapi lumayan membantu pembeli. Biasanya di atas Rp44 ribu,” kata salah seorang pedagang.

Ia menambahkan, stok ayam potong saat ini cukup stabil sehingga harga di pasaran cenderung terkendali. Kondisi ini juga membuat pedagang tidak kesulitan memenuhi permintaan konsumen.

Selain daging ayam, harga komoditas cabai juga mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir. Untuk cabai merah keriting, saat ini dijual di kisaran Rp35 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram.

Mira pedagang di pasar Botania menyebutkan, sebelumnya harga cabai merah keriting sempat tinggi, yakni mencapai Rp45 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram.

“Sekarang sudah turun, paling murah Rp30 ribu. Dulu sempat Rp50 ribu, pembeli banyak yang mengeluh,” ujarnya.

Untuk cabai rawit hijau, harga saat ini berada di kisaran Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram. Padahal sebelumnya, harga cabai jenis ini sempat menembus Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram.

“Rawit hijau juga turun lumayan. Sekarang di bawah Rp50 ribu, sebelumnya bisa Rp70 ribu,” kata Mira

Sementara itu, cabai rawit merah atau lombok kini dijual di kisaran Rp65 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram. Harga ini juga turun dari sebelumnya yang sempat menyentuh Rp100 ribu per kilogram.

Mira menyebut penurunan harga cabai dipengaruhi oleh pasokan yang mulai lancar dari daerah penghasil. “Sekarang stok sudah banyak, jadi harga ikut turun. Mudah-mudahan stabil terus,” pungkasnya.(*)

Artikel Harga Ayam Potong dan Cabai di Batam Turun pertama kali tampil pada Metropolis.

Atasi Kekeringan, Warga Bintan Pilih Maksimalkan Sumber Air daripada Sumur Bor

0
Salah satu sumber air baku di Kampung Sei Lepan, Kecamatan Seri Kuala Lobam, yang dinilai warga bisa dimaksimalkan untuk mendukung pasokan air bersih. F. Pardo untuk Batam Pos.

batampos – Warga Kecamatan Seri Kuala Lobam menilai pembangunan sumur bor sebagai solusi krisis air dinilai kurang efektif dan berpotensi menimbulkan persoalan baru.

Salah seorang warga, Erdis Suhendri, mengatakan sumur bor memang bisa menjadi alternatif sumber air. Namun, tanpa pengelolaan yang baik, fasilitas tersebut dikhawatirkan tidak berkelanjutan.

“Kalau air SPAM kembali normal, sumur bor bisa saja terbengkalai karena tidak ada yang merawatnya,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah daerah seharusnya lebih memaksimalkan sumber air baku yang berada di sekitar waduk SPAM IKK Seri Kuala Lobam, karena distribusinya dinilai lebih efisien dan bisa langsung dimanfaatkan masyarakat.

Ia juga menyebut masih terdapat sumber air lain di sekitar waduk, seperti dua kubangan besar yang dikenal warga sebagai “danau biru”, yang berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung pasokan air bersih.

“Kenapa tidak itu saja yang dimaksimalkan,” katanya.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bintan memastikan tetap akan membangun sumur bor sebagai langkah cepat mengatasi dampak kekeringan di wilayah tersebut.

Sekretaris Daerah Bintan, Ronny Kartika, mengatakan pembangunan sumur bor akan menggunakan dana tanggap darurat dan segera direalisasikan.

“Kita akan eksekusi dalam waktu dekat. Mudah-mudahan dalam dua minggu sudah bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.

Kepala Dinas PUPRP Bintan, Wan Affandi, menambahkan bahwa saat ini pihaknya masih melakukan survei lokasi untuk menentukan titik serta kedalaman sumur bor yang akan dibangun.

Setiap unit sumur bor diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp150 juta. Pemerintah berharap pembangunan ini dapat segera membantu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Meski demikian, warga berharap solusi jangka panjang tetap menjadi prioritas, dengan memaksimalkan sumber air yang telah tersedia di sekitar waduk SPAM. (*)

Artikel Atasi Kekeringan, Warga Bintan Pilih Maksimalkan Sumber Air daripada Sumur Bor pertama kali tampil pada Kepri.

Siagakan Personel di Gereja dan Titik Rawan, Polsek Batuaji Perketat Pengamanan Jumat Agung

0

 

 

Polisi patroli di titik rawan. F Yofie Yuhendri/ Batam Pos
Polisi patroli di titik rawan. F. Yofie Yuhendri/ Batam Pos

batampos -Polsek Batuaji memperketat pengamanan pelaksanaan ibadah Jumat Agung, Jumat (3/4). Personel diterjunkan ke sejumlah gereja dan lokasi rawan guna memastikan umat Kristiani dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.

Kapolsek Batuaji, AKP Bayu Rizki Subagyo mengatakan pengamanan dilakukan sebagai bentuk pelayanan kepolisian kepada masyarakat selama rangkaian perayaan Jumat Agung.

“Pengamanan ini kami lakukan untuk memastikan seluruh rangkaian ibadah Jumat Agung berlangsung aman, tertib dan khidmat. Personel kami tempatkan di sejumlah gereja yang melaksanakan ibadah,” ujarnya.

Menurut Bayu, ada sejumlah gereja yang menjadi prioritas pengamanan karena dipadati jemaat dari berbagai wilayah di Batuaji. Di lokasi tersebut, jumlah personel ditambah untuk mengantisipasi kepadatan, baik di dalam maupun di sekitar gereja.

“Kami memprioritaskan pengamanan di gereja-gereja yang jumlah jemaatnya cukup besar. Personel disiagakan di pintu masuk, area parkir, hingga di sekitar lokasi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.

Selain penjagaan di gereja, Polsek Batuaji juga mengerahkan personel patroli ke sejumlah titik yang dianggap rawan. Patroli dilakukan secara berkala di ruas jalan, kawasan permukiman, hingga lokasi yang minim aktivitas selama ibadah berlangsung.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas, seperti pencurian kendaraan bermotor, aksi kriminalitas, maupun gangguan lain yang dapat mengusik kenyamanan masyarakat.

“Patroli kami lakukan selama ibadah berlangsung. Selain di sekitar gereja, personel juga bergerak ke titik-titik rawan untuk mencegah tindak kejahatan dan memastikan situasi tetap kondusif,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sebelum pelaksanaan ibadah dimulai, petugas juga melakukan sterilisasi di sejumlah gereja. Pemeriksaan dilakukan di area dalam dan luar gereja, termasuk lingkungan parkir, untuk memastikan tidak ada benda mencurigakan.

“Sterilisasi dilakukan sebelum jemaat datang. Kami ingin memastikan seluruh lokasi ibadah benar-benar aman,” katanya.

Hingga ibadah selesai, situasi di seluruh gereja di wilayah Batuaji dilaporkan berlangsung aman dan lancar. Arus lalu lintas di sekitar gereja juga tetap terkendali meski sempat terjadi peningkatan volume kendaraan jemaat.

“Kami juga mengimbau masyarakat agar memastikan rumah dalam keadaan aman sebelum ditinggalkan. Pastikan pintu dan jendela terkunci, serta gunakan kunci tambahan pada kendaraan,” tutupnya.(*)

Artikel Siagakan Personel di Gereja dan Titik Rawan, Polsek Batuaji Perketat Pengamanan Jumat Agung pertama kali tampil pada Metropolis.

Pengawasan Ketat Bea Cukai Batam Selama Lebaran, Pelanggaran sangat Minim

0
Ilustrasi Kantor Bea Cukai Kota Batam. f Istimewa

batampos– Aktivitas pengawasan oleh Bea dan Cukai Batam selama periode Lebaran berlangsung optimal dengan pendekatan berbasis manajemen risiko. Meski intensitas mobilitas barang dan penumpang meningkat signifikan, situasi tetap terkendali tanpa adanya temuan pelanggaran yang menonjol.

Kepala Seksi Humas Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Batam, Mujiono, menyampaikan bahwa pihaknya tetap menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal di tengah lonjakan aktivitas selama hari raya. Namun demikian, tidak ditemukan kasus besar atau penindakan signifikan dalam periode tersebut.

“Setelah dilakukan pengecekan, tidak ada penindakan yang menonjol selama pengawasan Lebaran kali ini,” ujar Mujiono melalui keterangan resminya.

Ia menjelaskan, strategi pengawasan yang diterapkan lebih mengedepankan manajemen risiko. Pendekatan ini dinilai efektif untuk menjaga keseimbangan antara fungsi pengawasan dan pelayanan, khususnya dalam memastikan kelancaran arus barang dan penumpang di wilayah Batam.

Menurutnya, penerapan manajemen risiko memungkinkan petugas untuk lebih fokus pada potensi pelanggaran yang memiliki tingkat risiko tinggi, tanpa menghambat arus logistik dan mobilitas masyarakat yang meningkat selama momen Lebaran.

Selain itu, Bea dan Cukai Batam juga terus memperkuat koordinasi internal serta meningkatkan kewaspadaan di sejumlah titik strategis, termasuk pelabuhan dan bandara. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi potensi pelanggaran yang bisa saja terjadi di tengah tingginya aktivitas.

Mujiono menegaskan, meskipun tidak ada penindakan besar, bukan berarti pengawasan dilonggarkan. Justru sebaliknya, pengawasan tetap dilakukan secara selektif dan terukur dengan memanfaatkan analisis intelijen dan data yang akurat.

Dengan kondisi tersebut, Bea dan Cukai Batam memastikan bahwa situasi selama Lebaran tetap aman dan kondusif. Masyarakat pun diimbau untuk tetap mematuhi ketentuan yang berlaku demi menjaga kelancaran serta ketertiban bersama di wilayah perbatasan.(*)

Artikel Pengawasan Ketat Bea Cukai Batam Selama Lebaran, Pelanggaran sangat Minim pertama kali tampil pada Metropolis.

Dinkes Batam Belum Surati Sekolah soal Kewaspadaan Campak, Pengawasan Tetap Diperketat

0
Kepala Dinkes Batam dr. Didi Kusmarjadi, SpOG.

batampos – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mengaku belum mengeluarkan surat edaran kepada sekolah-sekolah terkait peningkatan kewaspadaan terhadap penyakit campak.

Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan hingga saat ini pihaknya belum berkoordinasi secara formal dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam untuk menyebarluaskan imbauan kewaspadaan melalui sekolah.

“Belum ada, kita menyurati,” ujarnya singkat, Jumat (3/4).

Meski demikian, Dinkes Batam memastikan langkah antisipasi tetap diperkuat guna mencegah lonjakan kasus campak di wilayah tersebut.

Didi menjelaskan, berdasarkan hasil pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), belum ditemukan peningkatan signifikan yang mengarah pada Kejadian Luar Biasa (KLB). Namun demikian, sinyal kewaspadaan tetap terdeteksi di beberapa wilayah.

“Berdasarkan SKDR, hingga saat ini tidak terdapat peningkatan signifikan yang mengarah pada KLB. Namun perlu respons cepat untuk mencegah penularan lebih luas,” jelasnya.

Data Dinkes mencatat, selama 12 minggu pertama tahun 2026 terdapat 278 kasus campak di Batam. Puncak kasus terjadi pada minggu pertama Januari dengan 44 kasus. Seiring berjalannya waktu, tren kasus menunjukkan penurunan hingga akhir Maret.

Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Batam terus memperkuat pemantauan mingguan melalui SKDR, melakukan verifikasi cepat terhadap setiap sinyal kasus, serta melaksanakan penyelidikan epidemiologi dalam waktu kurang dari 24 jam untuk setiap kasus suspek.

Selain itu, kewaspadaan juga ditingkatkan di seluruh fasilitas layanan kesehatan, mulai dari puskesmas, klinik hingga rumah sakit.

“Kami juga menggencarkan sweeping serta imunisasi kejar bagi anak-anak yang belum melengkapi imunisasi,” kata Didi.

Namun demikian, capaian imunisasi campak-rubella (MR) di Batam masih jauh dari target. Hingga saat ini, cakupan imunisasi MR untuk usia 9 bulan baru mencapai 16,7 persen, sementara imunisasi lanjutan sebesar 15,7 persen yang tersebar di 12 kecamatan.

Menurut Didi, salah satu kendala utama rendahnya capaian tersebut adalah masih adanya penolakan dari sebagian orang tua terhadap vaksinasi.

“Kendala utama masih adanya penolakan dari sebagian orang tua terkait vaksinasi. Untuk itu petugas kesehatan bersama kader terus melakukan sweeping agar target imunisasi bisa tercapai,” ujarnya.

Dinkes Batam pun mengimbau masyarakat, khususnya orang tua, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala campak seperti demam dan munculnya ruam pada kulit, serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala tersebut.

“Campak sangat mudah menular dan berisiko serius pada anak. Dengan imunisasi lengkap dan kewaspadaan bersama, kita bisa mencegah penyebarannya,” tutupnya.(*)

Artikel Dinkes Batam Belum Surati Sekolah soal Kewaspadaan Campak, Pengawasan Tetap Diperketat pertama kali tampil pada Metropolis.

Hindari Dune 3, Avengers: Doomsday Bisa Tayang Lebih Cepat

0
Sumber gambar: x.com/update_marvel

batampos – Marvel Studios dikabarkan tengah mempertimbangkan perubahan jadwal rilis film Avengers: Doomsday menjadi lebih awal dari rencana semula.

Film tersebut awalnya dijadwalkan tayang pada 18 Desember 2026. Namun, berdasarkan laporan terbaru, jadwal rilis berpotensi dimajukan sekitar satu pekan menjadi 11 Desember 2026, meski belum ada pengumuman resmi.

Diskusi internal disebut sudah dilakukan, tetapi keputusan final masih menunggu konfirmasi dari pihak studio maupun distributor.

Salah satu alasan utama perubahan strategi ini adalah untuk menghindari persaingan langsung dengan Dune: Part Three yang dijadwalkan rilis pada tanggal yang sama.

Film tersebut dilaporkan telah mengamankan slot eksklusif layar IMAX selama beberapa minggu, yang berpotensi mengurangi jangkauan penayangan bagi film lain.

Dengan memajukan jadwal, Avengers: Doomsday berpeluang mendapatkan akses layar premium lebih awal sekaligus memaksimalkan pendapatan box office global.

Selain itu, dinamika kalender rilis film juga turut memengaruhi keputusan ini. Film Jumanji 3 disebut mundur dari 11 Desember ke periode Natal, sehingga membuka slot strategis bagi Marvel.

Langkah ini dinilai krusial karena pekan pertama penayangan menjadi faktor penentu kesuksesan film blockbuster, terutama di musim liburan akhir tahun.

Jika rencana ini terealisasi, Marvel berpotensi menghindari perebutan layar dengan kompetitor sekaligus menjaga momentum penonton.

Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari Marvel terkait perubahan jadwal tersebut. Namun, strategi ini menunjukkan keseriusan studio dalam mengoptimalkan performa film di pasar global. (*)

Artikel Hindari Dune 3, Avengers: Doomsday Bisa Tayang Lebih Cepat pertama kali tampil pada Lifestyle.

Cegah Sengketa, Tanah Wakaf di Natuna Didata dan Disertifikasi

0
Kepala Kemenag Natuna Muhammad Sabirin bersama Kajari Natuna dan Kepala Kantor Pertanahan usai penandatanganan kerja sama pengamanan tanah wakaf. F. Galang untuk Batam Pos.

batampos – Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Natuna menggandeng Kejaksaan Negeri dan Kantor Pertanahan untuk mengamankan aset tanah wakaf melalui program pendataan dan sertifikasi.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama terkait pengamanan serta legalisasi tanah wakaf dan tempat ibadah, Jumat (3/4).

Pelaksana Harian Kepala Kemenag Natuna, Muhammad Sabirin, mengatakan langkah ini dilakukan untuk mempercepat proses sertifikasi sekaligus memberikan kepastian hukum terhadap aset keagamaan.

“Tanah wakaf adalah amanah umat yang harus dijaga keberlanjutannya,” ujarnya.

Ia menegaskan, masih banyak tanah wakaf di Natuna yang belum memiliki legalitas lengkap, sehingga berpotensi menimbulkan sengketa di kemudian hari.

“Melalui kerja sama ini, kami ingin memastikan seluruh tanah wakaf dan tempat ibadah memiliki kepastian hukum yang kuat,” tambahnya.

Dalam pelaksanaannya, ketiga instansi akan melakukan pendataan menyeluruh terhadap tanah wakaf, dilanjutkan dengan proses identifikasi dan verifikasi di lapangan.

Data yang telah dikumpulkan akan dipertukarkan antarinstansi untuk mempercepat proses administrasi hingga penerbitan sertifikat.

Kantor Pertanahan akan menangani verifikasi teknis dan penerbitan sertifikat, sementara Kejaksaan Negeri akan memberikan pendampingan hukum apabila muncul permasalahan atau sengketa.

Melalui sinergi ini, pemerintah berharap seluruh aset tanah wakaf dan rumah ibadah di Natuna dapat terlindungi serta memiliki status hukum yang jelas dan kuat. (*)

Artikel Cegah Sengketa, Tanah Wakaf di Natuna Didata dan Disertifikasi pertama kali tampil pada Kepri.

Jong, Permainan Klasik yang Mengajarkan Kearifan Maritim Melayu

0
Permainan jong di Pulau Penyengat Tanjungpinang. F. Yusnadi Nazar/Batam Pos

Di pesisir Kepulauan Riau, permainan jong bukan sekadar hiburan yang mengisi waktu senggang. Jong adalah warisan sejarah maritim Melayu. Bersentuhan dengan lintas budaya dan bertahan di tengah perubahan zaman.

batampos – Secara historis, permainan jong diyakini telah ada sejak ratusan tahun lalu. Setidaknya sejak masa kejayaan Kerajaan Johor Pahang Riau Lingga. Permainan rakyat ini muncul saat budaya maritim Melayu berkembang pesat di kawasan pesisir Kepulauan Riau.

Dalam konteks masyarakat pesisir, jong lahir dari kehidupan nelayan yang sangat bergantung pada alam. Saat musim angin utara datang dan gelombang tinggi menghalangi aktivitas melaut, jong menjadi alternatif hiburan sekaligus sarana pembelajaran.

Baca Juga: Politeknik Bintan Cakrawala Hadirkan Chef Muhammad Tirta dan Chef Cinta, Perkuat Kurikulum dan Buka Wawasan Karier Jerman

Perahu kecil tanpa awak ini dibuat menyerupai kapal layar sungguhan. Digunakan di tepi pantai, jong bergerak mengikuti arah angin. Merefleksikan pengetahuan dasar pelayaran yang dimiliki masyarakat Melayu sejak lama.

Meskipun demikian, sejarah permainan jong tidak tunggal. Dalam literatur budaya, terdapat versi yang menyebut permainan ini sebagai hasil akulturasi dengan budaya Tionghoa.

Menurut Peneliti Sejarah BRIN Dedi Arman, kata “jong” memiliki sejarah panjang dalam bahasa dan kebudayaan nusantara.

Dalam Bahasa Indonesia, disebut “jung” sebagai perahu besar buatan negeri Cina, sementara istilah jongkong berarti sampan dari batang kayu.

Undang-Undang Laut Melaka abad 15 menyebut, istilah jung dipakai untuk menunjuk kapal pengangkut barang. Dengan demikian, sejak awal kata jong bukan hanya istilah teknis, melainkan juga penanda penting dalam sejarah pelayaran.

Naskah klasik Melayu Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu) menceritakan, Kerajaan Bintan sebagai pelabuhan dagang besar yang dipenuhi kapal, termasuk jong.

“Dalam salah satu kisah, Sultan Mahmud Syah bahkan disebut melarikan diri dari serangan Portugis dengan menaiki sebuah jong menuju Bintan,” sebut Dedi, Jumat (3/4).

Dalam Catatan Tome Pires dalam Suma Oriental (1512-1515), menyinggung banyak jung atau jong yang datang ke Malaka dari Cina, Jawa, Gujarat, hingga Arab.

Baca Juga: Pelantar Kayu di Teluk Sasah Bintan Roboh, Aktivitas Nelayan Terganggu

“Fakta-fakta ini menegaskan jong bukan sekadar kapal, melainkan simbol kapal besar, perdagangan dan identitas maritim Melayu,” tegas Dedi.

Menurut Dedi, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat pesisir Bintan, jong berfungsi lebih dari sekadar permainan. Jong menjadi ruang belajar yang alami dan mengajarkan anak-anak untuk mencintai laut.

Para nelayan dan anak-anak memainkan jong untuk mengisi waktu setelah melaut atau menunggu hasil tangkapan. Dari aktivitas sederhana ini, dapat memahami arah angin, keseimbangan perahu, hingga teknik membaca kondisi laut.

“Bahan jong berasal dari alam seperti kayu pulai atau kayu ringan lainnya. Ini menunjukkan kedekatan masyarakat dengan alam,” jelas Dedi.

Dari Tradisi Lokal, Identitas Budaya dan Festival Jong

Seiring berjalannya waktu, permainan jong tidak lagi sekadar milik komunitas nelayan. Permainan ini berkembang menjadi simbol identitas budaya Melayu Kepulauan Riau, khususnya Pulau Bintan.

Festival dan perlombaan jong yang rutin digelar hingga kini menjadi bukti bahwa permainan tradisional lokal ini, tetap hidup dan bertahan.

Bahkan, partisipasi komunitas lintas daerah dan negara, menunjukkan jong telah melampaui batas lokal menjadi warisan budaya yang lebih luas.

Dedi melanjutkan, permainan jong tersebar di berbagai daerah pesisir nusantara dengan beragam nama. Di Kepulauan Riau seperti di Bintan, Tanjungpinang, Batam, dan Karimun dikenal sebagai jong.

Baca Juga: Kebakaran Lahan Melonjak di Tanjungpinang, 133 Kasus dalam 3 Bulan

Sedangkan di Natuna, muncul tradisi jong kate dengan corak khasnya. Di Riau daratan seperti Siak, Pelalawan, Meranti, hingga Dumai, dikenal jong katil.

Tradisi serupa juga hidup di luar wilayah Melayu, seperti lomba perahu layar mini di Mandar (Sulawesi Barat), Surabaya, dan Palu (Sulawesi Tengah).

Dalam setiap perlombaan, para peserta berlomba membuat perahu kecil dengan layar sederhana. Jong tidak digerakkan mesin atau tangan, melainkan murni mengandalkan kekuatan angin.

Meskipun memiliki akar yang sama, permainan jong di berbagai daerah memiliki variasi. Di Kepulauan Riau, perahu dibuat sederhana dengan ukuran relatif kecil dan diperlombakan di laut atau pantai yang dangkal.

Sementara itu di Riau daratan, tradisi jong berkembang di sungai-sungai, dengan bentuk perahu yang sedikit berbeda karena menyesuaikan kondisi perairan darat.

“Permainan jong menjadi sarana belajar tentang maritim, memahami arah angin, mengatur keseimbangan perahu dan melatih kesabaran,” ujar Dedi.

Selain itu, permainan jong juga menumbuhkan nilai sosial. Proses pembuatan perahu dilakukan bersama-sama. Anak-anak belajar tidak hanya dari segi teknis, tetapi juga nilai gotong royong dan kebanggaan.

Baca Juga: UMKM Anambas Naik Kelas, Produk Masuk Resort Mewah Bawah Reserve

Bagi masyarakat Melayu, laut adalah cermin kehidupan. Oleh sebab itu, permainan jong dipandang lebih dari sekadar hiburan. Jong menjadi miniatur perahu dagang dan kapal perang yang dulu meramaikan pelabuhan di Kepulauan Riau dan Malaka.

Permainan ini juga menanamkan kesadaran bahwa identitas Melayu berakar pada kebudayaan maritim. Bahkan, menurut Dedi, jong dapat disebut sebagai simbol warisan takbenda.

“Permainan jong menjaga ingatan masa kejayaan maritim dan menyalurkan nilai-nilai itu ke generasi baru,” tutup Dedi. (*)

Artikel Jong, Permainan Klasik yang Mengajarkan Kearifan Maritim Melayu pertama kali tampil pada Kepri.