
batampos – Puluhan pelajar asal Denmark menempuh perjalanan sejauh sekitar 10 ribu kilometer untuk mempelajari budaya Melayu secara langsung di Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau.
Kedatangan mereka bukan sekadar kunjungan wisata, melainkan bagian dari program pembelajaran budaya yang berlangsung selama tiga bulan. Para pelajar tersebut tinggal bersama masyarakat di Pulau Nongkat, Kecamatan Palmatak.
Selama berada di Anambas, mereka tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga berinteraksi langsung dengan kehidupan sehari-hari warga. Rumah penduduk, dapur tradisional, hingga lingkungan sekitar menjadi sarana pembelajaran yang nyata.
Beragam aspek budaya Melayu diperkenalkan kepada para pelajar, mulai dari pakaian adat, kuliner khas, prosesi pernikahan, hingga tulisan Arab Melayu. Nilai-nilai sosial seperti gotong royong, kebersamaan, dan sopan santun juga menjadi bagian penting dari pengalaman mereka.
Salah satu pelajar, Jens Peter Jacobsen, mengaku terkesan dengan kehidupan masyarakat Melayu yang dinilai hangat dan penuh kebersamaan.
“Budaya Melayu sangat unik. Orang-orangnya saling menyapa dan banyak melakukan kegiatan bersama. Di Denmark, kehidupan cenderung lebih individual,” ujar Jens, Rabu (1/4).
Ia juga mengagumi nilai kesopanan yang dijunjung tinggi, terutama dalam interaksi sosial dan penghormatan kepada orang yang lebih tua.
Ketertarikan Jens semakin terlihat saat mengenakan pakaian adat Melayu. Ia menilai busana tersebut sederhana namun tetap terlihat elegan.
“Saya suka baju adat Melayu. Sederhana tapi terlihat mewah, apalagi dengan songket dan tanjak,” katanya.
Tak hanya itu, pengalaman kuliner juga menjadi momen yang berkesan bagi para pelajar. Jens menyebut masakan Melayu memiliki cita rasa kuat dengan rempah yang khas.
Ia mengaku menyukai berbagai hidangan seperti asam pedas, gulai kari, roti kirai, lakse, hingga mie Tarempa.
Selain kuliner, para pelajar juga diperkenalkan dengan kesenian tradisional seperti gendang Siantan dan tari makyong. Keduanya menjadi pengalaman baru yang memberikan pemahaman lebih dalam tentang kekayaan budaya Melayu.
“Nanti setelah pulang, kami ingin mempromosikan budaya Melayu di Denmark agar lebih banyak orang mengenalnya,” tambah Jens.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Anambas, Masykur, mengatakan program tersebut telah berjalan sekitar satu tahun dengan sistem kedatangan bergilir setiap tiga bulan.
“Program ini sangat membantu memperkenalkan budaya Melayu ke dunia internasional. Mereka belajar di sini, lalu menjadi duta budaya di negaranya,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran pelajar asing ini tidak hanya berdampak pada promosi budaya, tetapi juga mempererat hubungan antarnegara melalui jalur pendidikan dan kebudayaan. (*)
Artikel Pelajar Denmark Tinggal 3 Bulan di Anambas demi Dalami Budaya Melayu dari Dekat pertama kali tampil pada Kepri.









