Longsoran di tebing dekat simpang Kota Piring Tanjungpinang bikin pipa PDAM Tirta Kepri rusak, Senin (13/1). F. Mohamad Ismail/BATAM POS
batampos– Pipa air milik Perusahaan Daerah Air Minim (PDAM) Tirta Kepri yang tertanam di Jalan D.I Panjaitan batu 7 Kota Tanjungpinang, Kepri rusak akibat longsor. Kondisi ini, sempat membuat penyaluran air bersih ke ribuan pelanggan tertahan.
Kerusakan terhadap pipa air tersebut diketahui terjadi sejak beberapa hari lalu. Tanah yang menanam pipa tersebut longsor, setelah diterpa hujan deras. Kondisi itu membuat pipa air PDAM rusak.
“Karena curah hujan yang tinggi, ada pipa kita di Kota Piring yang mengalami kerusakan. Patah akibat longsor,” kata Direktur PDAM Tirta Kepri, Abdul Kholik, Senin (14/12).
Ia menerangkan, sebelumnya instalasi air di waduk Gesek sempat rusak akibat terendam air waduk yang meluap, namun sudah bisa beroperasi kembali. Kendati demikian, air baru bisa disalurkan ketika pipa di simpang kota piring selesai diperbaiki.
“Hari ini pipa di Kota Piring sudah kita perbaiki, jadi bisa kita operasikan kembali. Setidaknya ada 6 ribu hingga 7 ribu pelanggan yang terdampak,” tambahnya.
Saat ini, kata dia penyaluran air dari IPA Waduk Gesek Bintan masih dalam proses normalisasi. Sementara untuk penyaluran air ke wilayah Perumahan Kota Piring Residence belum dilakukan.
“Semoga bisa secepatnya normal kembali. Masih ada beberapa rumah yang belum tersalurkan, karena masih dalam proses perbaikan,” pungkasnya. (*)
Situasi terkini longsor di Tiban Koperasi. (F. Rengga Y / Batam Pos).
batampos – Longsor yang melanda kawasan Perumahan Tiban Koperasi, Kecamatan Sekupang, Senin (14/1), masih menyisakan dampak yang signifikan bagi warga. Material longsor berupa tanah dan batu yang menutupi jalan perumahan belum sepenuhnya dibersihkan, sehingga akses di lokasi masih terbatas. Beberapa warga juga dilaporkan masih mengungsi akibat rumah mereka terdampak longsor.
Pantauan di lokasi, sejumlah petugas dari Taruna Siaran Bencana (Tagana) dibantu TNI dan Polri serta masyarakat, terus melakukan pembersihan material longsor. Posko darurat yang didirikan tidak jauh dari lokasi longsor telah digunakan oleh warga yang membutuhkan tempat tinggal sementara.
Hingga saat ini, sejumlah keluarga dilaporkan mengungsi karena rumah mereka rusak akibat longsor. Beberapa rumah mengalami retakan parah, bahkan dua rumah yang menjadi korban longsor di Tiban Koperasi sudah rata dengan tanah.
Selain itu alat berat dari Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Batam masih dikerahkan ke lokasi. Meski demikian, material tanah masih berserakan di beberapa titik, dan air dari atas bukit terus mengalir di lereng bukit yang longsor. (*)
Cuaca ekstrem yang melanda Pulau Bintan termasuk Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan selama tiga hari, membuat lebih kurang ribuan warga terdampak bencana banjir dan tanah longsor.
***
Akibat cuaca ekstrem, banjir merendam perumahan Puspandari Batu 13 Tanjungpinang, beberapa hari lalu. F. Yusnadi Nazar
Cuaca ekstrem yang melanda serta fenomena hujan lebat, bencana banjir, angin kencang, dan gelombang tinggi telah menjadi ancaman nyata yang membawa kerugian materi dan kerugian psikologis bagi kehidupan warga.
Bencana banjir dan tanah longsor yang dipicu oleh cuaca ekstrem tersebut, telah berlangsung dan terus menerus terjadi sejak Jumat (10/1) hingga Minggu (12/1).
Cuaca ekstrem itu membuat curah hujan tinggi tanpa henti dan air laut pasang tinggi, sehingga menyebabkan aliran air, aliran sungai sejumlah waduk serta saluran air, meluap karena tidak dapat menampung debit air.
Akibat air yang meluap tersebut bencana banjir kemudian muncul sehingga merendam beberapa permukiman warga di Kota Tanjungpinang dan permukiman warga di Kabupaten Bintan.
Akibat bencana itu pula, ribuan warga pun terdampak. Warga harus menghadapi kenyataan pahit dengan meninggalkan rumah yang terendam banjir untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Banjir juga mengakibatkan kerusakan besar pada harta benda. Banyak warga kehilangan tempat tinggal untuk sementara waktu dan sebagian warga terpaksa mengungsi ke tempat penampungan darurat.
Kemudian, kerugian ekonomi akibat cuaca ekstrem ini diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Sementara kerugian psikologis seperti cemas, depresi dan stres bagi warga terdampak banjir ini, tidak dapat diukur dengan angka.
Selain itu, banjir akibat cuaca ekstrem ini tidak hanya merendam rumah warga, namun juga merusak berbagai fasilitas umum seperti jalan, lampu lalu lintas tumbang, layanan distribusi air bersih juga terhambat.
Belum lagi penyakit yang mengintai warga yang terdampak pasca terjadinya banjir. Akibat kondisi lingkungan yang tidak higienis dan kotor akibat banjir, dapat memunculkan berbagai penyakit.
Oleh sebab itu, pemerintah setempat bersama instansi terkait telah bergerak cepat untuk memberikan bantuan darurat kepada warga yang terdampak bencana banjir. Evakuasi juga telah dilakukan di wilayah yang memiliki risiko tinggi banjir.
Salah seorang warga Batu 8 Tanjungpinang yang terdampak bencana banjir yakni Oca (38), mengatakan ia tidak dapat menyalahkan siapapun atas terjadinya bencana banjir. Sebab musibah yang terjadi merupakan takdir dan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.
Namun, kata Oca, musibah ini menjadi pengingat akan pentingnya kesadaran bersama dari berbagai pihak dalam menjaga kelestarian lingkungan dan merupakan tantangan besar yang harus dihadapi bersama.
“Dampaknya tidak hanya kerugian materi saja, tapi juga kerugian secara psikologis, bisa cemas dan bikin stres jika bencana kembali terjadi,” katanya.
Oca berpendapat, dampaknya yang merugikan secara materi dan psikologis ini tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, namun dapat memengaruhi kualitas hidup warga secara keseluruhan.
Selain itu, kata dia, perlu langkah jangka panjang untuk mengurangi risiko banjir di masa depan. Pembangunan infrastruktur pengendali banjir dan penghijauan kembali serta edukasi tentang mitigasi bencana menjadi agenda penting yang harus diprioritaskan oleh pihak berwenang.
“Dengan langkah nyata dan kolaborasi, diharapkan kerugian akibat cuaca ekstrem dapat diminimalkan di masa depan,” kata pekerja perusahaan swasta ini.
“Semoga musibah ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk lebih peduli dan bertanggung jawab menjaga lingkungan,” sambungnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Tanjungpinang, Muhammad Yamin, mengatakan, akibat cuaca ekstrem selama tiga hari, menyebabkan banjir di sepuluh titik banjir. Hal ini membuat lebih kurang 625 Kepala Keluarga (KK) di Tanjungpinang, terdampak bencana banjir.
BPBD Tanjungpinang juga mencatat, banjir terjadi di beberapa lokasi perumahan di Tanjungpinang. Banjir terjadi di perumahan Puspandari Batu 13 dan perumahan tepatnya di belakang Kantor Camat Bukit Bestari.
Kemudian banjir juga terjadi di perumahan kawasan Sri Katon Tanjungpinang, perumahan kawasan Jalan Radar dan perumahan Jalan Hanjoyo Putro Batu 8 Tanjungpinang.
“Hari Sabtu (11/1), kami telah melakukan evakuasi warga di enam hingga sepuluh titik yang terdampak banjir di Tanjungpinang,” sebut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanjungpinang, Muhammad Yamin, Senin (13/1).
Berdasarkan laporan dari setiap Kecamatan di Tanjungpinang, terdapat sekitar ratusan warga yang berada di tempat-tempat penampungan seperti masjid, rumah warga dan tempat keluarga, telah kembali ke rumah masing-masing.
“Alhamdulillah, banjir telah surut, warga yang mengungsi telah kembali ke rumah masing-masing,” ungkap Yamin.
BPBD Tanjungpinang juga mengimbau warga agar selalu waspada terhadap cuaca ekstrem yang berpotensi kembali terjadi. Yamin meminta masyarakat agar menjaga diri dan melakukan evakuasi secara mandiri jika kembali terjadi bencana.
Pihaknya juga telah melakukan koordinasi secara intensif dengan BMKG Tanjungpinang terkait upaya memberikan peringatan dini kepada warga, jika bakal terjadi cuaca ekstrem di Tanjungpinang ke depannya.
“Jika terjadi bencana, warga bisa melakukan evakuasi mandiri. Tapi kami akan selalu siaga membantu warga yang butuh pertolongan,” tegas Yamin.
Sedangkan BPBD Kabupaten Bintan mencatat, jumlah warga yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Bintan, telah mencapai lebih kurang 1.081 KK.
Oleh karena itu, untuk membantu warga yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor ini, BPBD Kabupaten Bintan bersama unsur lainnya, telah mendirikan dapur umum di beberapa titik di kawasan Kabupaten Bintan.
“Dapur umum untuk mendukung kebutuhan warga terdampak banjir dan longsor,” kata Sekretaris BPBD Kabupaten Bintan, Agus Ariyadi.(*)
batampos — Kesepakatan antara Malaysia dan Singapura untuk membentuk Zona Ekonomi Khusus (Special Economic Zone/SEZ) di Johor terus menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk kalangan pengusaha di Batam.
Ketua Apindo Batam, Rafki Rasyid, menilai SEZ tersebut berpotensi menjadi ancaman serius bagi daya saing Batam sebagai tujuan investasi.
Menurut dia, Johor-Singapura SEZ menawarkan berbagai kemudahan investasi yang sulit disaingi, seperti pajak korporasi sebesar 5 persen hingga 20 tahun dan insentif untuk industrial building allowance sebesar 10 persen.
“Perbedaan tarif pajak yang signifikan ini membuat Johor jauh lebih menarik dibandingkan Batam, meskipun kita memiliki fasilitas Free Trade Zone (FTZ),” katanya, Selasa (14/1).
Rafki menjelaskan, meskipun dampak langsung terhadap pengusaha di Batam saat ini belum terasa, potensi penurunan minat investor baru tetap menjadi kekhawatiran.
“Tidak ada pengusaha yang hengkang dari Batam karena ini, tetapi kita tidak tahu jika calon investor yang meninjau Johor dan Batam lebih memilih Johor,” katanya.
Apindo Batam mendesak pemerintah untuk segera merespons dengan memberikan insentif fiskal serupa agar Batam tetap kompetitif. (*)
batampos – Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Iman Sutiawan, mengeluarkan imbauan penting bagi masyarakat, terutama nelayan dan pekerja pelabuhan, untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul insiden lepasnya beberapa ekor buaya dari penangkaran milik PT Perkasa Jagat Karunia (PJK) di Pulau Bulan.
“Selalu waspada, karena buaya yang lepas ini tetap menjadi ancaman. Terutama bagi para nelayan sekitar, saya mohon selalu berhati-hati,” ujar Iman Sutiawan, Selasa (14/1).
Iman menekankan bahwa meski buaya tersebut berasal dari penangkaran, keberadaannya di alam bebas dapat membahayakan masyarakat.
Ia mendesak PT PJK untuk segera mengambil langkah cepat menangkap kembali buaya-buaya yang terlepas.
Pria kelahiran Pulau Kasu ini mengungkapkan kekhawatirannya atas keselamatan masyarakat, khususnya nelayan yang menggantungkan hidupnya dari perairan di sekitar Pulau Bulan.
“Buaya yang lapar atau merasa terancam bisa bertindak agresif. Ini menjadi ancaman serius bagi masyarakat,” ujarnya .
Iman juga meminta pihak perusahaan untuk meningkatkan keamanan dan memastikan penangkaran lebih aman di masa mendatang.
Ia menilai penguatan sistem pengamanan kandang buaya sangat penting, terutama mengingat kondisi cuaca ekstrem yang sering melanda wilayah Kepri belakangan ini.
“Keamanan penangkaran harus ditingkatkan agar kejadian seperti ini tidak terulang. Perusahaan harus bertanggung jawab penuh terhadap insiden ini,” tambahnya.
Meski PT PJK menyebut buaya yang lepas merupakan jenis buaya air tawar, Iman tetap menganggap keberadaan hewan buas tersebut di sekitar pemukiman dan perairan sebagai ancaman nyata.
“Jika kelaparan, buaya bisa menyerang siapa saja, terutama karena mereka terbiasa diberi makan secara teratur di penangkaran,” jelasnya.
Insiden ini menimbulkan keresahan di kalangan nelayan setempat. Mereka khawatir keselamatan mereka terancam saat mencari nafkah di laut.
Iman berharap pihak terkait segera mengambil tindakan konkret untuk mengembalikan buaya-buaya tersebut ke habitatnya di penangkaran, sehingga situasi kembali kondusif.
“Saya mengingatkan masyarakat agar selalu waspada dan segera melapor jika melihat tanda-tanda keberadaan buaya di sekitar perairan. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama,” katanya (*)
batampos– Giat Jalan Sehat Lintas Agama yang merupakan rangkaian peringatan Hari Amal Bhakti ke-79 Kementerian Agama (Kemenag) berjalan lancar di tengah musim hujan yang melanda sebagian besar wilayah Kepulauan Riau (Kepri). Pagi ini, Sabtu (11/1/2025), hujan akhirnya berhenti setelah 2 hari mengguyur bumi, sehingga Jalan Sehat yang diawali dengan senam pagi bersama dapat terlaksana.
Kegiatan dibuka oleh Kakanwil Kemenag Kepri Zoztafia didampingi Ketua DWP Kemenag Kepri Fatimah Huriyah Zoztafia, Kepala Kemenag Kabupaten/Kota se-Kepri beserta jajaran, Kabag AUAK STAIN SAR Kepri, Tokoh Lintas Agama, para siswa, serta masyarakat setempat.
Jalan Sehat Lintas Agama dimulai di titik kumpul Kanwil Kemenag Kepri Jalan Daeng Kemboja Km. 15 Tanjungpinang. Rute jalan yang mulanya akan memutari Korem 033/Wira Pratama dan memakan waktu sekitar hampir satu jam perjalanan akhirnya dialihkan menuju simpang Perumahan Senggarang Permai dikarenakan banjir yang menggenangi beberapa titik rute jalan. Kendati demikian masyarakat tampak semangat mengikuti pelaksanaan jalan sehat meski gerimis sempat turun sejenak.
Setibanya kembali di Kanwil Kemenag Kepri, ratusan peserta jalan sehat mendapatkan undian kupon untuk mendapatkan 138 doorprize yang telah disediakan. Doorprize terdiri mulai dari hadiah hiburan hingga hadiah utama yakni lemari pendingin 2 pintu dan perangkat tablet.
“Pelaksanaan jalan sehat lintas agama lancar dan aman meski hujan deras turun sejak kemarin, alhamdulillah atas izin Allah sesaat akan dimulai kegiatan hujan berhenti. Sesekali gerimis turun tapi tidak menyurutkan semangat peserta untuk mengikuti kegiatan hingga selesai. Sama halnya dengan kegiatan PORHAB kemarin, jalan sehat ini sebagai wujud syukur kita atas bertambahnya usia Kemenag dalam melayani masyarakat, kita mengadakan kegiatan yang bisa dinikmati oleh masyarakat,” tutur Kakanwil Kemenag Kepri, Zoztafia secara terpisah.
Rangkaian peringatan HAB ke-79 ini akan ditutup dengan kegiatan family gathering Kemenag yang dilaksanakan di Grandpa Land Pantai Trikora Bintan pada Ahad 12 Januari 2025. Semoga aman dan lancar!. (*)
Banjir Rob Kembali Rendam Kawasan Pelantar 2 Tanjungpinang, Warga Khawatir Ketinggian Air Meningkat. f.ismail
batampos– Wilayah pesisir di Kota Tanjungpinang, Kepri kembali terendam banjir rob atau banjir pesisir. Satu diantaranya terjadi di Pelantar 2, air laut mulai naik ke daratan sejak pukul 07.00 WIB.
Ketinggian banjir rob tahun 2025 ini dinilai lebih tinggi, ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Warga khawatir, ketinggian banjir terus meningkat, mengingat kondisi cuaca yang kerap hujan.
“Dulu biasanya hanya mencapai selutut orang dewasa, tapi sekarang makin tinggi kalau turun hujan. Kondisi jadi lebih parah lagi,” kata Joni, seorang pedagang di Pelantar 2 Tanjungpinang, Selasa (14/1).
Banjir rob tersebut, membuat aktivitas jalan menuju Pelabuhan Kuala Riau tersebut terganggu. Banyak kendaraan kesulitan melewati jalanan yang terendam air, sehingga terpaksa mencari rute jalan lain.
Warga pun mengaku harus memutar jalan untuk berbelanja karena ketinggian air yang cukup menghambat. “Ya banyak juga tadi pengendara yang putar balik, karena airnya cukup dalam,” tambahnya.
Banjir rob di kawasan tersebut, terjadi setiap tahunnya. Sehingga, pedagang dan warga sekitar tidak kaget lagi dengan adanya banjir roh yang merendam jalan.
“Kemarin tidak sedalam ini, hari ini lebih dalam. Besok pasti lebih dalam lagi, karena setiap tahun seperti ini,” tambah Topan. Warga lainnya. (*)
batampos – Saudara-saudara se Batam marilah kita jaga aset Batam, berupa Jembatan Barelang yang selama ini sebagai ikon kota kita tercinta. Biro Humas Promosi dan Protokol, Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) mengimbau kita semua untuk tidak parkir di tubuh Jembatan Barelang.
Imbauan ini berlaku mulai dari Jembatan 1 hingga Jembatan 5 Barelang.
Imbauan ini juga didukung dengan peraturan yang dimuat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
“Sudah ada UU yang mengatur. Kendaraan bermotor umum dilarang berhenti di tempat-tempat yang membahayakan keamanan, keselamatan, dan kelancaran lalu lintas,” tegas Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol BP Batam, Ariastuty Sirait.
Jembatan Batam, Rempang, dan Galang atau yang akrab disebut Jembatan Barelang merupakan infrastruktur yang dibangun oleh BP Batam (dulu Otorita Batam) selama 6 tahun, mulai dari tahun 1992 hingga 1998.
Jembatan ini terdiri dari enam jembatan, yang menghubungkan enam pulau, yakni Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru.
Selain menjadi infrastruktur penghubung antarpulau, jembatan ini juga sekaligus menjadi ikon pariwisata kebanggaan masyarakat Kota Batam.
“Mengingat pentingnya peran Jembatan Barelang untuk mobilitas sehari-hari, kami berharap imbauan ini dapat diindahkan oleh seluruh pengendara bermotor agar ketertiban dan keamanan di area jembatan selalu terjaga,” pungkas Tuty. (*)
batampos – Saudara-saudara se Batam marilah kita jaga aset Batam, berupa Jembatan Barelang yang selama ini sebagai ikon kota kita tercinta. Biro Humas Promosi dan Protokol, Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) mengimbau kita semua untuk tidak parkir di tubuh Jembatan Barelang.
Imbauan ini berlaku mulai dari Jembatan 1 hingga Jembatan 5 Barelang.
Imbauan ini juga didukung dengan peraturan yang dimuat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
“Sudah ada UU yang mengatur. Kendaraan bermotor umum dilarang berhenti di tempat-tempat yang membahayakan keamanan, keselamatan, dan kelancaran lalu lintas,” tegas Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol BP Batam, Ariastuty Sirait.
Jembatan Batam, Rempang, dan Galang atau yang akrab disebut Jembatan Barelang merupakan infrastruktur yang dibangun oleh BP Batam (dulu Otorita Batam) selama 6 tahun, mulai dari tahun 1992 hingga 1998.
Jembatan ini terdiri dari enam jembatan, yang menghubungkan enam pulau, yakni Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Rempang, Pulau Galang dan Pulau Galang Baru.
Selain menjadi infrastruktur penghubung antarpulau, jembatan ini juga sekaligus menjadi ikon pariwisata kebanggaan masyarakat Kota Batam.
“Mengingat pentingnya peran Jembatan Barelang untuk mobilitas sehari-hari, kami berharap imbauan ini dapat diindahkan oleh seluruh pengendara bermotor agar ketertiban dan keamanan di area jembatan selalu terjaga,” pungkas Tuty. (*)
Personil Polsek Jemaja membantu masyarakat yang ingin menyeberang antar pulau dengan sampan jongkong. Hal ini dikarenakan pelabuhan Kusik rusak dihantam ombak.f.akp aang untuk batampos
batampos – Kepolisian Sektor (Polsek) Jemaja membantu masyarakat yang ingin melakukan penyeberangan antar pulau menggunakan perahu kayu atau disebut jongkong, Senin (13/01/2025).
Bantuan yang diberikan tersebut, dikarenakan pelabuhan penghubung antar Kecamatan Jemaja dengan Jemaja Barat terputus akibat gelombang pasang air laut dan angin kencang.
Pelabuhan penghubung dua kecamatan itu, berlokasi di Pantai Kusik, Desa Rewak, Kecamatan Jemaja, Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepri.
“Ini bentuk respon cepat kita dalam memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Karena akses jalan terputus, jadi kita membantu warga melintas dengan menggunakan Jongkong,” kata Kapolsek Jemaja, AKP Aang Setiawan.
Katanya, pelabuhan penghubung antar dua kecamatan yang putus akibat cuaca buruk terjadi pada dini hari, Senin (13/01/2025).
“Subuh tadi, kena ombak dan angin kencang,” ujarnya.
Selain itu, pihaknya juga melakukan pengecekan situasi di TKP seputaran Pantai Kusik.
Kepada masyarakat, AKP Aang menghimbau agar mengantisipasi gelombang dan angin kencang yang mungkin akan terjadi pada sore dan malam hari menjelang pasang air laut.
“Mengingat cuaca buruk yang terjadi belakangan ini, kita tak henti-hentinya menghimbau masyarakat agar selalu waspada,” pesannya. (*)