Senin, 6 April 2026
Beranda blog Halaman 262

Kapal Baru Dirawat tapi Cemari Laut Dangas, Klaim Asuransi Rp5 Miliar Disorot

0
Tumpahan limbah hitam dari Kapal LCT Mutiara Garlip Samudra tampak mencemari perairan Dangas, Batam. Petugas gabungan bergerak cepat memasang oil boom. F. KSOP Batam untuk Batam Pos

batampos – Insiden pencemaran laut di perairan Dangas, Kecamatan Sekupang, Kota Batam, memunculkan tanda tanya besar. Kapal LCT Mutiara Garlip Samudra dilaporkan miring hingga karam di dekat pantai dan menumpahkan limbah ke laut, meski kapal tersebut disebut baru selesai menjalani perawatan dan dinyatakan layak laut.

Pihak perusahaan mengklaim kejadian tersebut sebagai musibah alam. Namun publik mempertanyakan kelayakan teknis kapal, terutama setelah muncul pengakuan adanya ruang terbuka pada badan kapal yang memungkinkan air masuk.

Kuasa hukum kapal, Erlan Jaya Putra, mengatakan kapal milik PT Mutiara Haluan Samudra dan PT Jagar Prima Nusantara itu tidak mengalami kelalaian teknis. Menurutnya, insiden dipicu kondisi cuaca ekstrem.

Baca Juga: Perdana di Kepri 2026, RSBP Batam Tangani Penyakit Jantung Bawaan Dewasa Tanpa Bedah Terbuka

“Kapal selesai perawatan. Kejadiannya karena situasi alam, angin utara cukup kuat sehingga kapal miring ke arah Pantai Dangas,” kata Erlan saat dihubungi Batam Pos, Minggu (8/2) sore.

Meski demikian, Erlan mengakui adanya ruang terbuka di badan kapal. Pernyataan ini justru memantik sorotan baru terkait standar keselamatan dan kelayakan kapal pascaperawatan.

“Memang ada ruang terbuka sehingga air masuk. Tapi tidak ada unsur kesengajaan. Ini murni musibah,” ujarnya.

Sementara itu, dampak pencemaran telah dirasakan langsung oleh nelayan. Aktivitas melaut terganggu, dan ekosistem pesisir terancam tercemar.

Erlan menyatakan perusahaan siap bertanggung jawab dan memberikan kompensasi kepada nelayan terdampak. Namun hingga kini, belum ada kepastian nilai maupun jadwal pembayaran.

“Kami siap bertanggung jawab. Jika ada nelayan yang tidak bisa melaut, akan diberikan kompensasi. Saat ini masih dalam proses pendataan,” katanya.

Baca Juga: Jelang Berangkat, Kemenhaj Batam Tegaskan Wukuf Arafah Inti Haji

Terkait besaran ganti rugi, Erlan menyebut perusahaan belum dapat memastikan angka karena masih menunggu hasil pendataan dan musyawarah dengan warga.

Di sisi lain, klaim asuransi senilai Rp5 miliar mulai menjadi sorotan publik. Nilai tersebut dinilai belum tentu sebanding dengan potensi kerusakan lingkungan dan dampak ekonomi jangka panjang.

“Kalau soal asuransi, kami masih konfirmasi ke pihak asuransi. Fokus kami saat ini penanganan dampak,” ujar Erlan.

Sorotan juga datang dari DPRD Kota Batam. Ketua Komisi II DPRD Batam, Muhammad Rudi, menyebut pihaknya telah memanggil seluruh pemangku kepentingan dalam rapat dengar pendapat. Bahkan, DPRD mengusulkan pembekuan sementara operasional perusahaan.

“Usulan pembekuan ada. Tapi tentu harus dikoordinasikan dengan KLHK. Tidak bisa gegabah,” kata Rudi.

Ia menegaskan DPRD akan mengawal kasus ini hingga tuntas. “Ini bukan hanya soal satu kapal, tapi menyangkut ekosistem laut dan nasib nelayan di Dangas,” tegasnya.

Rudi juga mempertanyakan klaim asuransi Rp5 miliar yang disampaikan perusahaan. “Kami belum tahu dasar perhitungannya. Semua harus dibuka secara transparan,” ujarnya.

Sementara itu, pemerhati lingkungan sekaligus pendiri Akar Bhumi Indonesia (ABI), Hendrik Hermawan, menilai dampak pencemaran laut di Dangas berpotensi berlangsung lama.

Menurut Hendrik, pencemaran lingkungan—baik disengaja maupun tidak—memiliki konsekuensi hukum berbeda. Namun yang paling mendesak saat ini adalah pemulihan lingkungan dan perhitungan kerugian secara menyeluruh.

“Tim Gakkum dan DLH sudah turun sejak minggu lalu. Sekarang yang penting memastikan proses pemulihan berjalan dan kerugian dihitung secara objektif,” ujarnya.

Ia menegaskan evaluasi tidak hanya menyasar kerugian nelayan, tetapi juga kerusakan ekosistem laut dan masyarakat pesisir secara luas.

Hendrik mengingatkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menjadi dasar kuat dalam penegakan hukum pencemaran lingkungan.

Baca Juga: Transportasi AirFish Dinilai Dapat Mendongkrak Pariwisata dan Bisnis Batam

“Semua kerugian bisa dihitung, baik melalui sanksi administratif, denda, maupun gugatan perdata,” katanya.

Ia menambahkan pemulihan ekosistem laut bukan perkara singkat. “Kalau mangrove yang rusak, pemulihannya bisa tiga sampai lima tahun. Untuk laut, juga bisa di atas lima tahun,” jelasnya.

Terkait klaim asuransi Rp5 miliar, Hendrik menegaskan nilai tersebut harus diuji secara ilmiah oleh tim ahli independen yang diturunkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Yang berwenang menghitung kerugian adalah tim ahli kementerian, bukan perusahaan. Jadi klaim Rp5 miliar itu harus diuji secara objektif,” tegasnya. (*)

Artikel Kapal Baru Dirawat tapi Cemari Laut Dangas, Klaim Asuransi Rp5 Miliar Disorot pertama kali tampil pada Metropolis.

Kapal Baru Dirawat tapi Cemari Laut Dangas, Klaim Asuransi Rp5 Miliar Disorot

0
Tumpahan limbah hitam dari Kapal LCT Mutiara Garlip Samudra tampak mencemari perairan Dangas, Batam. Petugas gabungan bergerak cepat memasang oil boom. F. KSOP Batam untuk Batam Pos

batampos – Insiden pencemaran laut di perairan Dangas, Kecamatan Sekupang, Kota Batam, memunculkan tanda tanya besar. Kapal LCT Mutiara Garlip Samudra dilaporkan miring hingga karam di dekat pantai dan menumpahkan limbah ke laut, meski kapal tersebut disebut baru selesai menjalani perawatan dan dinyatakan layak laut.

Pihak perusahaan mengklaim kejadian tersebut sebagai musibah alam. Namun publik mempertanyakan kelayakan teknis kapal, terutama setelah muncul pengakuan adanya ruang terbuka pada badan kapal yang memungkinkan air masuk.

Kuasa hukum kapal, Erlan Jaya Putra, mengatakan kapal milik PT Mutiara Haluan Samudra dan PT Jagar Prima Nusantara itu tidak mengalami kelalaian teknis. Menurutnya, insiden dipicu kondisi cuaca ekstrem.

Baca Juga: Perdana di Kepri 2026, RSBP Batam Tangani Penyakit Jantung Bawaan Dewasa Tanpa Bedah Terbuka

“Kapal selesai perawatan. Kejadiannya karena situasi alam, angin utara cukup kuat sehingga kapal miring ke arah Pantai Dangas,” kata Erlan saat dihubungi Batam Pos, Minggu (8/2) sore.

Meski demikian, Erlan mengakui adanya ruang terbuka di badan kapal. Pernyataan ini justru memantik sorotan baru terkait standar keselamatan dan kelayakan kapal pascaperawatan.

“Memang ada ruang terbuka sehingga air masuk. Tapi tidak ada unsur kesengajaan. Ini murni musibah,” ujarnya.

Sementara itu, dampak pencemaran telah dirasakan langsung oleh nelayan. Aktivitas melaut terganggu, dan ekosistem pesisir terancam tercemar.

Erlan menyatakan perusahaan siap bertanggung jawab dan memberikan kompensasi kepada nelayan terdampak. Namun hingga kini, belum ada kepastian nilai maupun jadwal pembayaran.

“Kami siap bertanggung jawab. Jika ada nelayan yang tidak bisa melaut, akan diberikan kompensasi. Saat ini masih dalam proses pendataan,” katanya.

Baca Juga: Jelang Berangkat, Kemenhaj Batam Tegaskan Wukuf Arafah Inti Haji

Terkait besaran ganti rugi, Erlan menyebut perusahaan belum dapat memastikan angka karena masih menunggu hasil pendataan dan musyawarah dengan warga.

Di sisi lain, klaim asuransi senilai Rp5 miliar mulai menjadi sorotan publik. Nilai tersebut dinilai belum tentu sebanding dengan potensi kerusakan lingkungan dan dampak ekonomi jangka panjang.

“Kalau soal asuransi, kami masih konfirmasi ke pihak asuransi. Fokus kami saat ini penanganan dampak,” ujar Erlan.

Sorotan juga datang dari DPRD Kota Batam. Ketua Komisi II DPRD Batam, Muhammad Rudi, menyebut pihaknya telah memanggil seluruh pemangku kepentingan dalam rapat dengar pendapat. Bahkan, DPRD mengusulkan pembekuan sementara operasional perusahaan.

“Usulan pembekuan ada. Tapi tentu harus dikoordinasikan dengan KLHK. Tidak bisa gegabah,” kata Rudi.

Ia menegaskan DPRD akan mengawal kasus ini hingga tuntas. “Ini bukan hanya soal satu kapal, tapi menyangkut ekosistem laut dan nasib nelayan di Dangas,” tegasnya.

Rudi juga mempertanyakan klaim asuransi Rp5 miliar yang disampaikan perusahaan. “Kami belum tahu dasar perhitungannya. Semua harus dibuka secara transparan,” ujarnya.

Sementara itu, pemerhati lingkungan sekaligus pendiri Akar Bhumi Indonesia (ABI), Hendrik Hermawan, menilai dampak pencemaran laut di Dangas berpotensi berlangsung lama.

Menurut Hendrik, pencemaran lingkungan—baik disengaja maupun tidak—memiliki konsekuensi hukum berbeda. Namun yang paling mendesak saat ini adalah pemulihan lingkungan dan perhitungan kerugian secara menyeluruh.

“Tim Gakkum dan DLH sudah turun sejak minggu lalu. Sekarang yang penting memastikan proses pemulihan berjalan dan kerugian dihitung secara objektif,” ujarnya.

Ia menegaskan evaluasi tidak hanya menyasar kerugian nelayan, tetapi juga kerusakan ekosistem laut dan masyarakat pesisir secara luas.

Hendrik mengingatkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menjadi dasar kuat dalam penegakan hukum pencemaran lingkungan.

Baca Juga: Transportasi AirFish Dinilai Dapat Mendongkrak Pariwisata dan Bisnis Batam

“Semua kerugian bisa dihitung, baik melalui sanksi administratif, denda, maupun gugatan perdata,” katanya.

Ia menambahkan pemulihan ekosistem laut bukan perkara singkat. “Kalau mangrove yang rusak, pemulihannya bisa tiga sampai lima tahun. Untuk laut, juga bisa di atas lima tahun,” jelasnya.

Terkait klaim asuransi Rp5 miliar, Hendrik menegaskan nilai tersebut harus diuji secara ilmiah oleh tim ahli independen yang diturunkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

“Yang berwenang menghitung kerugian adalah tim ahli kementerian, bukan perusahaan. Jadi klaim Rp5 miliar itu harus diuji secara objektif,” tegasnya. (*)

Artikel Kapal Baru Dirawat tapi Cemari Laut Dangas, Klaim Asuransi Rp5 Miliar Disorot pertama kali tampil pada Metropolis.

Belajar Tak Sekadar Teori, Pelajar SMAN 1 Palmatak Amati Raflesia Hasselti di Alam

0
Puluhan pelajar SMA Negeri 1 Palmatak mengikuti pembelajaran luar kelas dengan mengamati langsung bunga langka Raflesia hasselti, di kawasan Bukit Tabir, Desa Tarempa Selatan, Anambas, Minggu (8/2). F. Ihsan Imaduddin/Batam Pos

batampos – Puluhan pelajar SMA Negeri 1 Palmatak mengikuti pembelajaran luar kelas dengan mengamati langsung bunga langka Raflesia hasselti yang tengah mekar di kawasan Bukit Tabir, Desa Tarempa Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas, Minggu (8/2).

Kegiatan ini menjadi bagian dari metode pembelajaran kontekstual agar siswa tidak hanya memahami materi melalui teori di kelas, tetapi juga melihat secara langsung objek pembelajaran di alam.

Sejak pagi, para siswa bersama guru pendamping menempuh perjalanan menuju lokasi Raflesia yang cukup jauh dari permukiman warga dengan medan yang menantang. Meski demikian, antusiasme para pelajar tetap tinggi.

Baca Juga: Bunga Langka Rafflesia Hasseltii Mekar di Anambas, Polhut Awasi

Selama kunjungan, siswa mengamati bentuk, ukuran, serta habitat Raflesia hasselti yang selama ini hanya mereka kenal melalui buku pelajaran dan materi pembelajaran.

Guru pendamping, Susi Susanti, mengatakan pembelajaran di luar kelas penting untuk memperkuat pemahaman siswa terhadap materi.

“Pembelajaran tidak cukup hanya teori di dalam kelas. Dengan turun langsung ke lapangan, siswa bisa melihat dan memahami secara nyata apa yang dipelajari,” ujarnya.

Menurut Susi, melalui kegiatan ini siswa juga dibekali pemahaman tentang keanekaragaman hayati serta pentingnya pelestarian tumbuhan langka yang dilindungi.

Selain menambah wawasan, kegiatan tersebut juga melatih kepedulian dan tanggung jawab siswa terhadap lingkungan.

Baca Juga: Masalah Sampah Mengancam Pariwisata Anambas, Pemda Diminta Serius Benahi

Selama kegiatan berlangsung, para pelajar turut didampingi oleh Polisi Kehutanan untuk memastikan kunjungan berjalan tertib dan tidak merusak ekosistem di sekitar lokasi Raflesia.

Anggota Polhut, Kelvin, mengapresiasi inisiatif pembelajaran yang dilakukan SMAN 1 Palmatak. Menurutnya, kegiatan edukatif semacam ini penting untuk menanamkan kesadaran sejak dini tentang pelestarian lingkungan dan perlindungan tumbuhan langka.

“Kegiatan seperti ini sangat positif karena membangun kepedulian generasi muda terhadap kelestarian hutan dan flora langka,” katanya. (*)

Artikel Belajar Tak Sekadar Teori, Pelajar SMAN 1 Palmatak Amati Raflesia Hasselti di Alam pertama kali tampil pada Kepri.

Haul Jama’, Tradisi Dzikir dan Doa Warga Lingga Sambut Ramadan

0
Haul Jama’ atau Dzikir dan Doa Bersama seluruh masyarakat Lanjut, Kecamatan Singkep Pesisir Kabupaten Lingga di Surau Nurul Yaqin, pada Minggu (8/2). F. Vatawari/Batam Pos

batampos – Menjelang masuknya bulan suci Ramadan, masyarakat Desa Lanjut, Kecamatan Singkep Pesisir, Kabupaten Lingga, kembali menggelar Haul Jama’, tradisi dzikir dan doa bersama yang telah diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Kegiatan berlangsung di Surau Nurul Yaqin, Kampung Air Merah, Minggu sore (8/2), mulai pukul 16.00 WIB hingga selesai, bertepatan dengan penghujung bulan Sya’ban 1447 Hijriah.

Haul Jama’ merupakan tradisi keagamaan masyarakat Melayu Lingga yang rutin dilaksanakan setiap akhir bulan Sya’ban. Di Kecamatan Singkep Pesisir, kegiatan ini digelar secara bergiliran di masjid dan surau setiap desa hingga menjelang Ramadan.

Baca Juga: Puluhan Karung Diduga Limbah B3 Terdampar di Pantai Dungun Lingga

Ketua Surau Nurul Yaqin, Encek Azhar, mengatakan Haul Jama’ bertujuan untuk mendoakan para pendahulu, orang tua, keluarga, serta seluruh umat Muslim yang telah wafat.

“Kegiatan ini berupa dzikir dan doa bersama untuk mendoakan nenek moyang, orang tua, dan seluruh umat Muslim yang telah meninggal dunia agar mendapatkan ampunan Allah SWT, dilapangkan kuburnya, serta diangkat dari siksa kubur,” ujar Encek Azhar.

Selain sebagai ritual keagamaan, Haul Jama’ juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus saling bermaaf-maafan menjelang Ramadan.

“Ini juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk berkumpul, bersilaturahmi, dan saling memaafkan karena sebentar lagi kita akan memasuki bulan suci Ramadan,” jelasnya.

Usai dzikir dan doa bersama, seluruh jemaah yang hadir mengikuti makan bersama sebagai simbol kebersamaan. Hidangan disajikan secara talam sehidang, ciri khas tradisi masyarakat Melayu Kabupaten Lingga.

Baca Juga: DPRD Kepri Minta Pusat Selidiki Temuan Karung Diduga Limbah B3 di Perairan Lingga

“Makanan yang disajikan berasal dari sumbangan masyarakat yang memiliki kelebihan rezeki. Semuanya dibawa ke surau dan dinikmati bersama,” tambah Encek Azhar.

Tradisi Haul Jama’ tidak hanya dilakukan di Kecamatan Singkep Pesisir, tetapi juga masih dijalankan di sejumlah wilayah lain di Kabupaten Lingga. Kegiatan ini diharapkan terus lestari sebagai bagian dari warisan budaya dan sarana memperkuat kebersamaan masyarakat. (*)

Artikel Haul Jama’, Tradisi Dzikir dan Doa Warga Lingga Sambut Ramadan pertama kali tampil pada Kepri.

Gaya-gayaan Pakai Knalpot Brong, 11 ABG di Jemaja Terjaring Razia Polisi

0
Petugas kepolisian menegur pengendara sepeda motor yang masih ABG karena menggunakan knalpot brong untuk gaya-gayaan. F. Ihsan Imaduddin/Batam Pos

batampos – Aksi gaya-gayaan di jalan raya kembali ditertibkan aparat kepolisian. Sebanyak 11 pengendara sepeda motor, mayoritas remaja, terjaring razia Polsek Jemaja karena menggunakan knalpot brong saat operasi rutin Kegiatan yang Ditingkatkan (KYRD), Sabtu malam (8/2).

Operasi digelar sebagai langkah menjaga ketertiban dan kenyamanan masyarakat, khususnya pada malam akhir pekan yang kerap diwarnai aktivitas anak muda di sejumlah ruas jalan Pulau Jemaja.

Para pengendara tersebut kedapatan menggunakan knalpot tidak standar dengan suara bising serta berkendara secara ugal-ugalan untuk menarik perhatian. Aksi tersebut dinilai mengganggu ketenangan warga, terutama di kawasan permukiman dan pusat aktivitas masyarakat.

Baca Juga: Bunga Langka Rafflesia Hasseltii Mekar di Anambas, Polhut Awasi

Kapolsek Jemaja Iptu Sutomo mengatakan penindakan dilakukan setelah pihaknya menerima sejumlah keluhan warga terkait maraknya penggunaan knalpot brong.

“Petugas mendapati sekelompok pemuda mengendarai sepeda motor dengan knalpot yang tidak sesuai spesifikasi,” ujar Sutomo, Minggu (8/2).

Ia menjelaskan, razia dilakukan dengan metode penyisiran di titik-titik yang kerap menjadi lokasi berkumpulnya remaja pada malam hari. Penyisiran dimulai dari kawasan Pelabuhan Berhala hingga Tugu Kemerdekaan, yang merupakan jalur utama dan pusat keramaian di Pulau Jemaja.

Dalam pemeriksaan tersebut, petugas langsung melakukan penindakan terhadap pengendara yang terbukti melanggar aturan lalu lintas, khususnya penggunaan knalpot tidak standar.

“Kendaraan boleh dibawa pulang setelah knalpot diganti dengan standar pabrikan. Kita minta diganti malam itu juga,” tegas Sutomo.

Selain penindakan, para pengendara juga diberikan pembinaan dan edukasi mengenai pentingnya keselamatan berlalu lintas serta menjaga ketertiban umum.

Baca Juga: Masalah Sampah Mengancam Pariwisata Anambas, Pemda Diminta Serius Benahi

Menurut Sutomo, pendekatan persuasif tetap diutamakan mengingat sebagian besar pelanggar masih berusia remaja.

“Alhamdulillah belum ada yang mengarah ke balap liar. Ini masih sebatas kenakalan remaja yang ingin gaya-gayaan,” ujarnya.

Polsek Jemaja memastikan razia dan patroli serupa akan terus dilakukan secara rutin guna mencegah pelanggaran lalu lintas serta menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap kondusif. (*)

Artikel Gaya-gayaan Pakai Knalpot Brong, 11 ABG di Jemaja Terjaring Razia Polisi pertama kali tampil pada Kepri.

Buka Puasa Ramadan di Harper Premier Batam, Nikmati Bebek dan Sambal Khas Nusantara

0
Harmony Nusantara Heritage Cerita Rasa Bebek & Sambal di Meja Ramadan Hotel Harper Premier Nagoya Batam

batampos – Ramadan selalu identik dengan kebersamaan dan tradisi berbagi. Menyambut bulan suci tahun ini, Hotel Harper Premier Nagoya Batam menghadirkan pengalaman berbuka puasa bertema kuliner Nusantara bertajuk “Harmony Nusantara Heritage”, yang mengangkat kekayaan rasa Indonesia dalam suasana hangat dan penuh makna.

Mengusung konsep All You Can Eat, Harmony Nusantara Heritage menempatkan bebek sebagai menu utama. Setiap hari selama Ramadan, tamu dapat menikmati Bebek Goreng Bumbu Hitam dengan cita rasa rempah yang kuat serta Bebek Goreng Kremes yang renyah dan gurih. Sajian ini dilengkapi nasi gurih harum serta aneka sambal khas Nusantara yang menghadirkan ragam sensasi rasa, dari pedas segar hingga gurih yang membekas.

Executive Chef Harper Premier Nagoya Batam, Chef Singgih Kisworo, mengatakan konsep ini lahir dari keinginan menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang lebih dari sekadar makan bersama.

“Ramadan adalah tentang kebersamaan dan kehangatan. Tahun ini kami memilih bebek karena karakter rasanya kuat dan sangat identik dengan kuliner Nusantara. Kami memadukannya dengan berbagai sambal khas daerah agar setiap tamu bisa merasakan perjalanan rasa Indonesia dalam satu waktu berbuka,” ujarnya.

Menurutnya, sambal dalam sajian ini bukan sekadar pelengkap, melainkan identitas budaya yang merepresentasikan keberagaman kuliner Indonesia. Seluruh olahan bebek dimasak secara perlahan untuk menghasilkan tekstur empuk dengan rasa yang meresap hingga ke dalam.

Melalui Harmony Nusantara Heritage, Harper Premier Nagoya Batam berharap dapat menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang membangkitkan kenangan akan masakan tradisional Indonesia, sekaligus mempererat kebersamaan keluarga, sahabat, dan kolega.

Paket berbuka puasa Harmony Nusantara Heritage tersedia setiap hari selama Ramadan dengan harga Rp209.000 nett/pax untuk minggu pertama dan keempat, serta Rp229.000 nett/pax untuk minggu kedua dan ketiga.

Hotel juga menawarkan berbagai promo menarik, di antaranya beli 10 pax gratis 1 pax, serta promo khusus pengguna kartu kredit Bank Mandiri dengan penawaran beli 5 pax gratis 1 pax.

Tak hanya itu, tamu berkesempatan mengikuti program undian harian, mingguan, hingga undian utama di akhir Ramadan dengan hadiah menarik seperti voucher F&B, handphone Android, hingga 1 unit sepeda motor matic sebagai grand prize.

Untuk informasi dan reservasi, tamu dapat menghubungi Svarga Premier Bistro di nomor +62 811-7752-886. (*)

Artikel Buka Puasa Ramadan di Harper Premier Batam, Nikmati Bebek dan Sambal Khas Nusantara pertama kali tampil pada Lifestyle.

Razia Knalpot Brong, Puluhan Sepeda Motor Diamankan

0
Personel Satlantas Polresta Barelang menindak pengendara yang menggunakan knalpot brong, Sabtu (7/2) malam. F.Y udhi untuk Batam Pos

batampos – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Barelang menggelar kegiatan cipta kondisi (cipkon) pada Sabtu (7/2) malam. Hasilnya, 43 unit sepeda motor ditindak karena menggunakan knalpot brong dan tidak dilengkapi dokumen kendaraan.

Kegiatan tersebut dilakukan sebagai respons cepat atas aduan masyarakat yang merasa terganggu dengan maraknya penggunaan knalpot tidak standar serta aksi balap liar di sejumlah titik wilayah Kota Batam.

Kaur Bin Ops (KBO) Satlantas Polresta Barelang, Iptu Yudhi Patra, mengatakan cipkon bertujuan menciptakan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas (Kamseltibcarlantas).

Baca Juga: Transportasi AirFish Dinilai Dapat Mendongkrak Pariwisata dan Bisnis Batam

“Tujuannya untuk menciptakan Kamseltibcarlantas di wilayah hukum Polresta Barelang sekaligus mencegah terjadinya pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas,” ujarnya.

Dalam operasi tersebut, petugas melakukan penindakan menggunakan tilang elektronik (ETLE) mobile. Seluruh kendaraan pelanggar diamankan, sementara knalpot brong disita untuk dimusnahkan.

“Kami juga memberikan edukasi kepada para pengendara agar bersama-sama menjaga ketertiban berlalu lintas sesuai dengan aturan yang berlaku,” kata Yudhi.

Ia menambahkan, pengendara yang ditindak dapat mengambil kembali kendaraannya di Mapolresta Barelang dengan syarat mengganti knalpot brong dengan knalpot standar pabrikan serta melengkapi dokumen kendaraan.

“Untuk knalpot brong, kami sita dan nantinya akan dimusnahkan,” tegasnya.

Baca Juga: BP Batam Pacu Percepatan Pengelolaan Sampah, Siapkan Skema Kemitraan hingga WTE

Sementara itu, Kasat Lantas Polresta Barelang, Kompol Afiditya Arief Wibowo, menyebutkan kegiatan cipta kondisi tersebut merupakan bagian dari Operasi Keselamatan Seligi 2026.

“Operasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya tertib berlalu lintas. Harapannya, Kamseltibcarlantas yang aman, nyaman, dan selamat dapat terwujud, terutama menjelang Operasi Ketupat 2026,” tutupnya. (*)

Artikel Razia Knalpot Brong, Puluhan Sepeda Motor Diamankan pertama kali tampil pada Metropolis.

Ribuan Pekerja Kampanyekan Nol Kecelakaan Kerja di Bulan K3 Nasional 2026

0
Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional ke-56 Tahun 2026 digelar dengan jalan sehat massal di lapangan bola kawasan Batamindo, Mukakuning, Seibeduk pada Minggu (8/2) pagi. F. M. Sya’ban/Batam Pos

batampos – Ribuan pekerja industri bersama masyarakat turun ke jalan untuk mengampanyekan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam peringatan Bulan K3 Nasional ke-56 Tahun 2026 di Provinsi Kepulauan Riau. Kegiatan jalan sehat massal digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri di lapangan bola kawasan Batamindo, Mukakuning, Seibeduk, Minggu (8/2) pagi.

Kegiatan tersebut menjadi puncak rangkaian Bulan K3 Nasional di Kepri yang berlangsung sejak awal Februari. Bulan K3 sendiri diperingati setiap tahun pada 12 Januari hingga 12 Februari sebagai momentum meningkatkan kesadaran penerapan K3 di seluruh sektor kerja.

Sekitar 3.000 peserta ambil bagian dalam kegiatan ini. Peserta berasal dari berbagai perusahaan di kawasan industri Muka Kuning serta masyarakat umum. Panitia juga menyiapkan beragam hadiah, dengan hadiah utama perjalanan ibadah umrah ke Tanah Suci.

Baca Juga: BP Batam Pacu Percepatan Pengelolaan Sampah, Siapkan Skema Kemitraan hingga WTE

Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Provinsi Kepri, Diki Wijaya, mengatakan jalan sehat tersebut merupakan rangkaian akbar Bulan K3 yang secara resmi dibuka oleh Gubernur Kepulauan Riau.

“Alhamdulillah, hari ini menjadi rangkaian puncak. Sebelumnya kegiatan Bulan K3 sudah kita mulai sejak tanggal 5, dan hari ini dilanjutkan dengan jalan santai yang dibuka langsung oleh Gubernur,” ujar Diki kepada Batam Pos usai kegiatan.

Ia menyebut antusiasme peserta sangat tinggi dengan jumlah kehadiran mencapai sekitar tiga ribu orang. “Hadiah utamanya adalah ibadah umrah dan insyaallah akan diberangkatkan minggu depan,” katanya.

Lebih dari sekadar kegiatan seremonial, peringatan Bulan K3 ini menjadi sarana kampanye keselamatan kerja di tengah masih tingginya angka kecelakaan kerja, khususnya di sektor industri dan manufaktur di Batam dan wilayah Kepri.

“Inilah media yang kami bangun untuk mengingatkan semua pihak. Bulan K3 berlangsung dari 12 Januari sampai 12 Februari, dan kami mengimbau seluruh pelaku usaha benar-benar menjalankan prinsip K3. Target kita jelas, yaitu nol insiden kecelakaan kerja,” tegas Diki.

Baca Juga: Kemenkes Dukung Pengembangan Layanan Prioritas di RSBP Batam

Ia menekankan bahwa pembinaan dan pengawasan K3 tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah, melainkan harus dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah, pelaku usaha, dan dunia industri.

“Jika terjadi kecelakaan kerja, sering kali disebabkan kelalaian, kurangnya verifikasi, atau kompetensi pekerja yang belum memadai. Karena itu kami terus meningkatkan literasi dan pemahaman K3, baik kepada pekerja maupun perusahaan,” jelasnya.

Menurut Diki, komitmen penerapan K3 menjadi sangat penting bagi sektor-sektor berisiko tinggi, seperti galangan kapal, konstruksi, dan industri berat yang banyak beroperasi di Batam dan Kepulauan Riau.

Terkait strategi pengawasan, Disnaker Kepri telah menjalankan berbagai langkah konkret, mulai dari sosialisasi, seminar, pembaruan data, hingga audit dan investigasi kecelakaan kerja.

“Semua upaya itu terus berjalan. Harapannya, dengan pengawasan dan pembinaan berkelanjutan, angka kecelakaan kerja bisa ditekan dan keselamatan tenaga kerja semakin membaik,” tutup Diki. (*)

Artikel Ribuan Pekerja Kampanyekan Nol Kecelakaan Kerja di Bulan K3 Nasional 2026 pertama kali tampil pada Metropolis.

Transportasi AirFish Dinilai Dapat Mendongkrak Pariwisata dan Bisnis Batam

0
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata. F. M. Sya’ban/Batam Pos

batampos – Waktu tempuh perjalanan Singapura–Batam yang selama ini mengandalkan feri konvensional berpeluang dipangkas signifikan. Moda transportasi laut berkecepatan tinggi bernama AirFish disiapkan sebagai alternatif baru untuk konektivitas lintas negara tersebut.

AirFish merupakan wahana laut yang melaju melayang di atas permukaan air. Rencana pengoperasiannya diumumkan oleh ST Engineering AirX, usaha patungan perusahaan teknologi Singapura ST Engineering dengan startup Peluca, bersama operator feri BatamFast, pada ajang Singapore Airshow 2026 awal Februari lalu. Rute Singapura–Batam ditargetkan mulai beroperasi pada paruh kedua 2026, setelah seluruh persetujuan regulasi dan sertifikasi rampung.

Menanggapi rencana itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata, menyebut pembahasan mengenai moda transportasi tersebut sebenarnya telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu.

Baca Juga: Jelang Berangkat, Kemenhaj Batam Tegaskan Wukuf Arafah Inti Haji

“Rencana ini sudah dibicarakan sejak sekitar 2022. Waktu itu sudah ada pembahasan di Pemko Batam, BP Batam, hingga Kementerian Perhubungan,” ujar Ardiwinata.

Ia menjelaskan, pada tahap awal moda ini lebih dikenal dengan istilah seaplane, meski secara konsep memiliki kesamaan dengan AirFish yang kini diperkenalkan.

“Jenisnya mungkin berbeda, tapi konsepnya sama, yakni transportasi laut berkecepatan tinggi yang melayang di atas permukaan air,” katanya.

Menurut Ardiwinata, pengoperasian AirFish akan melibatkan banyak pihak dan sebelumnya juga sempat diwacanakan untuk uji coba. Batam dinilai memiliki potensi sekaligus kesiapan untuk pengembangan transportasi jenis tersebut.

Di wilayah Kepulauan Riau, konsep transportasi serupa sebenarnya sudah diterapkan, seperti penggunaan pesawat amfibi di kawasan Pulau Bawah, Kabupaten Kepulauan Anambas, meski dengan wahana berbeda.

“Secara konsep ini sangat menarik. Waktu tempuhnya bisa sekitar 25 menit saja, dengan kapasitas 8 hingga 10 penumpang. Jadi memang bukan transportasi massal,” jelasnya.

Baca Juga: Kemenkes Dukung Pengembangan Layanan Prioritas di RSBP Batam

Dari sisi infrastruktur, pembangunan dermaga dinilai tidak terlalu kompleks karena dapat memanfaatkan fasilitas yang sudah ada dengan sejumlah penyesuaian. Namun demikian, aspek perizinan lintas negara menjadi tantangan utama yang masih memerlukan kajian mendalam.

“Yang paling krusial tetap soal perizinan dan regulasi internasional,” kata Ardiwinata.

Pemerintah Kota Batam menyambut positif rencana pengoperasian AirFish karena dinilai sejalan dengan visi Batam sebagai kota pariwisata dan pusat kegiatan bisnis. Ardiwinata menilai, kehadiran moda ini memperkuat unsur aksesibilitas, salah satu dari tiga syarat utama kota pariwisata selain amenitas dan atraksi.

“Akses itu mencakup laut, udara, dan konektivitas. Kehadiran transportasi seperti AirFish tentu menambah daya tarik Batam,” ujarnya.

Ia juga menilai AirFish berpotensi besar mendukung sektor Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) serta perjalanan bisnis, sejalan dengan upaya pemerintah daerah mendorong investasi.

Terkait kemungkinan kerja sama lintas negara antara perusahaan Singapura dan BatamFast, Ardiwinata menyebut hal tersebut sangat memungkinkan selama sesuai dengan regulasi yang berlaku.

“Kalau membuka jalur lintas negara, tentu melibatkan dua negara. Mekanismenya seperti saat membuka jalur Ro-Ro Batam–Johor,” tegasnya.

Ia pun menepis kekhawatiran bahwa kehadiran AirFish akan mengganggu pelaku usaha transportasi laut lainnya. Menurutnya, kapasitas AirFish yang terbatas justru menyasar segmen tertentu.

Baca Juga: Perdana di Kepri 2026, RSBP Batam Tangani Penyakit Jantung Bawaan Dewasa Tanpa Bedah Terbuka

“Ini bukan transportasi massal. Sangat cocok untuk segmen MICE dan perjalanan bisnis,” katanya.

Sesuai rencana, AirFish Voyager akan melayani rute dari Terminal Feri Tanah Merah, Singapura, menuju Batam. BatamFast akan menyewa dan mengoperasikan satu unit AirFish yang mampu menempuh perjalanan sekitar 25 menit, lebih cepat dibandingkan feri konvensional yang memakan waktu sekitar 45 menit.

Selain Singapura–Batam, AirFish juga berpotensi dikembangkan untuk rute lain di Asia Tenggara, seperti Bintan, Pulau Bawah, Telunas, Tioman, hingga kebutuhan evakuasi medis dan kondisi darurat. (*)

Artikel Transportasi AirFish Dinilai Dapat Mendongkrak Pariwisata dan Bisnis Batam pertama kali tampil pada Metropolis.

BP Batam Pacu Percepatan Pengelolaan Sampah, Siapkan Skema Kemitraan hingga WTE

0
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad. F. Dok. Batam Pos

batampos – Badan Pengusahaan (BP) Batam bersama Pemerintah Kota (Pemko) Batam memacu percepatan pengelolaan sampah melalui skema kemitraan dengan pihak ketiga serta penerapan teknologi pengolahan modern. Langkah ini dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar Kamis (6/2).

Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan percepatan menjadi kunci agar program pengelolaan sampah yang telah dialokasikan dalam Anggaran 2026 tidak terlambat dieksekusi.

“Kalau penganggarannya sudah kita plotting di tahun 2026, mestinya semua tahapan sudah dipersiapkan sejak awal. Jangan sampai program baru berjalan di bulan ke-5 atau ke-6,” ujar Amsakar, Minggu (8/2).

Baca Juga: Perdana di Kepri 2026, RSBP Batam Tangani Penyakit Jantung Bawaan Dewasa Tanpa Bedah Terbuka

Selain persoalan waktu, rapat juga menyoroti pentingnya pemetaan timbulan sampah secara akurat. Data tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan pola kerja sama dengan pihak swasta agar pengelolaan sampah berjalan efektif dan berkelanjutan.

Saat ini, timbulan sampah di Batam berada pada kisaran 7,5 hingga 8 juta ton, sehingga diperlukan terobosan pengolahan yang lebih modern. Salah satu opsi yang dikaji adalah penerapan teknologi Waste to Energy (WTE), yang memungkinkan sampah diolah menjadi sumber energi.

“Dengan volume sampah yang besar, diperlukan sistem yang bisa langsung mengolah, termasuk pemanfaatan teknologi WTE,” katanya.

Amsakar menjelaskan, pembahasan juga mencakup aspek pengadaan barang dan jasa. Sejumlah skema kerja sama tengah dikaji, mulai dari Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) hingga pelelangan parsial yang dapat difokuskan pada sektor hulu maupun hilir.

Baca Juga: Kemenkes Dukung Pengembangan Layanan Prioritas di RSBP Batam

Opsi lain yang turut dipertimbangkan meliputi penyediaan sumber daya manusia saja atau paket lengkap termasuk armada operasional. Ia meminta tim teknis menyusun perencanaan terintegrasi agar seluruh tahapan berjalan selaras dan tidak terpisah-pisah.

“Perencanaan harus satu kesatuan. Apalagi dengan adanya pejabat baru di lingkungan terkait, perlu adaptasi yang cepat agar program tidak tersendat,” tegasnya.

Rapat koordinasi tersebut menjadi bagian dari upaya sinkronisasi antara BP Batam dan Pemko Batam dalam merespons persoalan sampah yang terus meningkat seiring pertumbuhan kota dan aktivitas ekonomi. (*)

Artikel BP Batam Pacu Percepatan Pengelolaan Sampah, Siapkan Skema Kemitraan hingga WTE pertama kali tampil pada Metropolis.