batampos – Massa aksi unjuk rasa driver online se Kota Batam menuntut agar applikator Gojek, Grab, dan Maxim menerapkan SK penyesuaian tarif yang sudah diteken oleh Gubernur Kepri, Ansar Ahmad. Mereka berorasi di depan tiga kantor perwakilan di Batam dan menyegel kantor tersebut.
Kepala Dinas Perhubungan Kepri, Junaidi hadir ditengah massa aksi unjuk rasa driver online sekota Batam di kantor perwakilan applikator Maxim, Grab dan Gojek. Ia menyampaikan pemerintah dalam hal ini telah meneken SK Gubernur untuk penyesuaian tarif kepada applikator, namun hingga kini penerapannya tidak kunjung dilaksanakan.
“Applikator belum menaati SK tersebut dan kami sudah menyampaikan pada rapat dengan pihak applikator bahwa SK harus dijalankan apabila keberatan ada evaluasi tiga sampai enam bulan,” kata Junaidi, Kamis (3/10).
Dalam rapat tersebut dihadiri oleh Grab, Gojek, dan Maxim. Pihaknya dalam hal ini meminta agar para applikator menjalankan dahulu SK tersebut, namun sampai saat ini ketika di applikasi layanan belum dilaksanakan.
“Maka hal ini menjadi atensi kita semua agar aplikator segera melaksanakan SK tersebut,” ujarnya.
Dishub Kepri berharap kapada para driver online yang mencari rezeki di kota Batam dengan asas keseimbangan karena ini menyangkut keberlangsungan operasional para driver.
“Pemprov Kepri bersama Dishub Batam tetap konsisten aturan SK dan dari Kementrian Perhubungan berlaku menyeluruh se Indonesia. Kami bakal mengawal ini dengan pemanggilan secara khusus kepada tiga applikator tersebut guna memberikan penjelasan secara utuh,” terangnya.
Pemprov Kepri sudah melakukan survei secara real terkait kebutuhan operasional para driver. Ia menyebut selama SK tarif ini belum diterapkan mayoritas para driver mengeluhkan tarif yang diterapkan oleh applikator.
“Ini menjadi dasar kami menetapkan SK tarif batas bawah nya itu,” tutupnya. (*)
batampos – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat, mayoritas kasus baru Human Immunodeficiency Virus (HIV) di kota Batam berasal dari kalangan Lelaki Suka Lelaki (LSL). Namun, tantangan penanganan HIV di kelompok ini tidak hanya terbatas pada aspek medis, tetapi juga pada dukungan psikososial dan stigma yang masih melekat di masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Batam, Meldasari, mengatakan dari total 527 kasus baru HIV yang ditemukan sejak Januari hingga Agustus 2024, sebanyak 412 di antaranya adalah laki-laki.
“Mayoritas dari laki-laki ini berasal dari kelompok LSL, yang memiliki risiko penularan lebih tinggi karena faktor-faktor spesifik yang terkait dengan kontak seksual sesama jenis,” ujarnya, Kamis (3/10).
Selain penanganan medis, para pengidap HIV dari kalangan LSL sering kali menghadapi tantangan berupa diskriminasi dan stigma sosial. Hal ini membuat mereka cenderung menunda atau bahkan menghindari pengobatan dan konseling yang diperlukan.
“Salah satu fokus kami saat ini adalah memberikan dukungan psikososial, karena kita tidak hanya berbicara tentang penyembuhan fisik, tetapi juga kesehatan mental mereka. Banyak dari mereka yang merasa takut atau malu untuk mencari bantuan,” kata Meldasari.
Dinas Kesehatan Batam, bersama berbagai lembaga dan komunitas, terus berupaya untuk memberikan akses lebih mudah terhadap layanan konseling, tes, dan perawatan bagi kelompok LSL serta populasi rentan lainnya.
Selain itu, program edukasi juga digalakkan untuk mengurangi stigma terhadap pengidap HIV, sehingga mereka merasa lebih nyaman untuk mencari perawatan.
“Dengan pendekatan holistik yang tidak hanya mengedepankan penanganan medis tetapi juga dukungan sosial, kami berharap bisa lebih efektif dalam menekan angka penularan dan meningkatkan kualitas hidup pengidap HIV di Batam,” tutup Meldasari.
Ini menekankan bahwa keberhasilan penanganan HIV tidak hanya terletak pada program medis semata, melainkan juga pada upaya menghilangkan stigma yang menghambat akses layanan kesehatan bagi kelompok-kelompok rentan. (*)
Pemadam mengevakuasi ular phyton yang sembunyi di tumpukan karung di jalan Indunsuri, Tanjunguban, Rabu (2/10/2024). F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos.
batampos– Seorang warga Tanjunguban, Bintan, Hadi kaget melihat seekor ular phyton saat bersih-bersih di halaman belakang rukonya.
Kepala UPT Damkar Tanjunguban, Panyodi mengatakan, ular sepanjang lebih kurang 1,5 meter itu ditangkap di jalan Indunsuri, Tanjunguban, Rabu (2/10/2024).
“Laporan yang diterima sekitar pukul 15.23 WIB,” katanya.
Usai menerima laporan, dia mengatakan, pihaknya langsung mendatangi lokasi untuk mengevakuasi ular tersebut.
Massa driver online geruduk kantor perwakilan applikator Maxim, Grab dan Gojek di Batam agar menjalakan SK Gubernur untuk penyesuaian tarif F. Azis Maulana / Batam Pos
batampos – Hampir seribu massa driver online roda dua dan empat menggelar aksi damai menyuarakan aspirasi beberapa poin penting kepada pihak applikator perwakilan Batam seperti Gojek, Grab, dan Maxim, Kamis (3/10). Mereka berkumpul di lapangan Welcome To Batam, Batamcenter, dan bergerak menuju beberapa kantor perwakilan applikator.
Di lokasi kantor perwakilan Gojek, dan Grab Batam dijaga kawat berduri oleh aparat kepolisian Polresta Barelang dan Polda Kepri , para personel masih terlihat berjaga di area tersebut.
“Hari ini menuntut agar applikasi harus menjalankan SK yang sudah ditetapkan dan sudah menjadi kewajiban,” ujar Orator Aksi Driver Online Kota Batam, Feryandi.
Para aliansi driver menilai applikator terlalu serakah karena sudah ada ketetapan hukum mengenai penyesuaian tarif.
“Masih banyak lagi pelanggaran yang dilakukan oleh aplikator salah satunya seperti tidak dijaminnya asuransi keselamatan ada driver,” imbuhnya.
Ia menyampaikan langkah prosedur sudah dilakukan seperti aksi pada 11 Juni 2024 lalu, dan permintaan para driver agar applikator di Batam menjalankan SK Gubernur 2024.
“SK tarif itu sudah melalui tahapan mekanisme yang panjang, dan sudah di tanda tangan Gubernur Kepri, Ansar Ahmad,” sebutnya.
Pihaknya juga menaruh apresiasi atas langkah Pemprov Kepri yang telah menandatangani SK tarif atas perjuangan para driver.
“Inilah membuktikan selama kita berjuang dan sk itu sudah di teken oleh Gubernur. Kita terus berjuang untuk tarif kepada applikator karena sangat tidak layak bagi para driver,” katadia.
Diketahui, Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengeluarkan dua Surat Keputusan Nomor 1080 dan 1113 Tahun 2024 tentang penyesuaian tarif transportasi online roda dua dan empat di Batam.
Sebelumnya juga disepakati tarif batas atas roda empat Rp 6.000 per km dengan minimal Rp 18.000 per 3 km.
Sementara untuk tarif batas bawah disepakati Rp 4.500 per kilometer. Sedangkan untuk driver online pengendara roda dua memberlakukan skema tarif Rp 2.500 per kilometer.
Dilokasi aksi, Kabagops Polresta Barelang, Kompol Zainal Abidin Christopher Tamba menuturkan ada sebanyak 350 personel dilibatkan dengan mengerahkan mobil water canon dan pengurai massa.
“Pengawal diperketat untuk lalu lintas kemudian kami mengimbau kepada para massa agar bisa menjaga kondusifitas dan sampaikan aspirasi secara tertib, kami terus mengawal dan memonitor aksi agar berjalan tertib,” tutupnya .(*)
Hasbullah, 44, dan Ulfa Maya Sari, 44, (inzet) pasangan yang menginspirasi dari dari Teluk Lengung. Foto kiri, Ulfa saat mengajar di TK Little Angel, Miftahul Huda. Foto-foto: Tia Cahya Nurani untuk Batam Pos
batampos – Perlu waktu 10 menit menuju Kampung Teluk Lengung dengan sepeda motor dari dam yang juga dimanfaatkan sebagai jembatan penghubung Kampung Bagan di Piayu dan Punggur, Nongsa.
Kiri kanan jalan menuju kampung tua yang berada di Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, ini, masih dikelilingi hutan lebat.
Koran ini ingin menemui sepasang suami istri yang mengabdikan dirinya mengajar anak-anak Teluk Lengung. Mereka adalah Hasbullah, 44, dan Ulfa Maya Sari, 44.
”Kita jumpa dengan istri saya dulu ya,” ajak Hasbullah saat menyambut wartawan Batam Pos, Senin (30/9) lalu.
Pria yang mengenakan baju koko berwarna hijau lengkap dengan pecinya tersebut menuju sebuah bangunan yang letaknya sedikit menanjak dari jalan utama. Dengan berjalan kaki menapaki gang yang dikelilingi pohon rimbun.
Ternyata bangunan tersebut adalah sebuah Taman Kanak-kanak (TK), tempat istri Hasbullah mengajar. Bangunan tersebut dipenuhi lukisan mural warna-warni di setiap dindingnya. Dari luar terdengar riuhnya anak-anak yang sedang belajar.
”Warga kampung ini biasa panggil saya Cikgu, sedangkan istri dipanggil Makgu,” ujar pria yang murah tersenyum tersebut.
Hasbullah memang asli orang Teluk Lengung, sedangkan Ulfa orang Palembang yang merantau ke Batam di tahun 1999. Setelah menikah di 2008, keduanya memutuskan untuk menetap di Teluk Lengung.
Keduanya bercerita bahwa sudah banyak pelajaran hidup yang telah mereka lalui. Jika menoleh ke belakang, mereka bangga telah berhasil melewatinya, dan tiba di titik sekarang.
”Bahkan kami pernah berada di tahap mau beli lauk dan susu untuk anak tak ada uang sama sekali,” ucap Hasbullah.
”Pernah pengen beli rujak keliling, yang harganya seribuan, saya bisa nangis, tak sanggup, tak ada duit,” ujar Ulfa.
Untuk mata pencarian, sudah berbagai pekerjaan yang Hasbullah tekuni, seperti menjadi nelayan, kerja ngangkat tabung gas LPG, mengangkat air galon, hingga menjadi guru ngaji. Karena posisi Kampung Teluk Lengung di pinggir laut, maka warganya cenderung menjadi nelayan.
”Kalau mengangkat tabung gas itu mindahkan dari kapal ke lori. Satu kapal upahnya Rp40 ribu, kalau dua kapal Rp65 ribu per harinya,” sebut Hasbullah.
Hasbullah mengatakan bah-wa kerja mengangkat tabung gas, sudah ia lakukan dari sebelum nikah di tahun 2000, hingga sudah menikah. Sedangkan untuk ngangkat air galon, ia lakukan di 2018.
”Kalau untuk mengajar ngaji, itu permintaan dari warga, karena kebetulan di sana tidak ada guru. Awalnya saya diminta jadi imam salat dan khotbah Jumat,” ujar Hasbullah.
Di 2008, Teluk Lengung masih gelap, belum ada listrik, air, dan jalan juga masih tanah.
”Kalau dah hujan, anak-anak takut semua, tak sekolah, licin, takut jatuh,” ucap Ulfa.
Pernah di tahun 2012, ikan di laut Teluk Lengung mati terus, karena limbah dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) kalau hujan turun ke laut. ”Saat itu banyak ikan yang mati, sampai masuk koran,” terang Ulfa.
Karena masalah ikan yang berlarut-larut, Ulfa mengajak warga untuk ke Pemko. Setelah berdiskusi dengan warga, dan menyiapkan berbagai berkas-berkas, Ulfa bersama sejumlah warga mendatangi Kantor Wali Kota Batam di Batam Center, di hari Senin. ”Kami menyewa lori ke Batam Center,” katanya.
Dari pertemuan dengan perangkat pemerintah itulah, baru diketahui bahwa Teluk Lengung itu ada, dan satu tanah dengan Batam. Tapi tidak ada listrik, air, dan jalan masih tanah.
”Dari pertemuan itu, kami dapat kompensasi, satu juta lebih satu KK,” terang Ulfa.
Ulfa juga menceritakan hal lucu yang ia dan warga alami setelah dari pertemuan tersebut. Saat hendak pulang, mereka kebingungan mau naik apa, karena ongkos sewa lori hanya untuk pergi saja.
Kemudian mereka mendatangi Satpol PP yang sedang berada di Pemko juga. Berniat ingin meminta diantar oleh petugas Satpol PP tersebut.
”Pak.. kami ni duit lori cuma bisa sampai sini, bisa tak pak antar?” tanya Ulfa kepada anggota Satpol PP dengan logat Melayu.
”Antar bu? Tapi kalau kami antarnya pakai mobil Satpol PP tidak apa?” jawab petugas tersebut.
Dan akhirnya, Ulfa bersama warga pulang diantar oleh petugas Satpol PP, menggunakan mobil yang biasa digunakan untuk menangkap orang yang terkena razia. ”Jadi sepanjang jalan, habislah ditengok orang,” terang Ulfa sambil tertawa.
Ulfa mengaku awalnya bekerja di sebuah PT di Kawasan Industri Batamindo di Mukakuning selama 10 tahun lebih. ”Saya resign di tahun 2008, saat hamil anak pertama,” katanya.
Kemudian, Ulfa menceritakan awal mula bisa mengajar di 2009. Dulu, kata Ulfa, akses menuju Teluk Lengung sulit, terlebih saat turun hujan, dan tidak tersedianya sekolah Taman Kanak-Kanak (TK). Menyebabkan masyarakat di sana menyekolahkan anak-anaknya langsung ke Sekolah Dasar (SD).
Melihat hal tersebut, Ulfa tergerak hatinya untuk menjadi sukarelawan mengajar anak-anak di sana. ”Paling tidak saat masuk SD nanti, mereka sudah bisa menulis dan membaca,” ungkapnya. Saat itu, Ulfa mengajar masih di rumahnya, dan tidak dibayar sama sekali.
Hingga pada suatu hari, Ulfa dikenalkan oleh temannya, dengan Yayasan Dunia Viva Wanita (YDVW). Yayasan ini berlokasi di Tiban, yang merupakan lembaga non-profit, didirikan oleh almarhumah Bridget Tan di Batam, dan didedikasikan untuk perlindungan dan pemberdayaan perempuan dan anak.
Setelah YDVW melakukan survei di Teluk Lengung, dan menemui tokoh masyarakat setempat. Hingga di 2014, YDVW memutuskan untuk membangun sekolah TK dengan nama Little Angel, Miftahul Huda, di Teluk Lengung. Berdiri di atas tanah yang berbentuk trapesium, dengan luas bangunan 6 x 8 meter persegi, dan diresmikan pada 22 Juni 2015 lalu.
Tidak hanya diberi bangunan sekolah, bahkan Ulfa dibiayai untuk kuliah mengambil PGTK, dan diberi fasilitas kursus Bahasa Inggris sejak November 2023 oleh YDVW. Selain itu, Ulfa juga diberi insentif dari mengajar oleh yayasan sebesar Rp500 ribu per bulan.
”Saya tidak mengeluarkan uang sama sekali, bahkan saya dikasih ongkos,” tuturnya.
Untuk jumlah anak TK, tergantung angka kelahiran di Teluk Lengung. Tahun ini, jumlahnya ada 16 anak, berusia antara 4 hingga 6 tahun. Jadwal sekolah Senin-Jumat, pukul 07.30-12.00, sedangkan tambahan belajar bahasa Inggris setiap sore pukul 16.15-17.30.
”Awalnya gratis, lalu sekitar tahun 2020, mulai bayar Rp20 puluh ribu per bulannya setiap anak,” sebutnya.
Ulfa mengaku, sejauh ini tidak ada kesulitan yang ia alami saat mengajar. Ulfa mengatakan, ia suka belajar dan mengajar. Selain itu, Ulfa juga merasa beruntung karena mendapat dukungan penuh dari suami.
”Kalau saya lagi ngajar, suami yang jaga bayi.” ”Penyemangat saya adalah melihat murid-murid saya sukses, karena itu kebanggaan tersendiri untuk saya,” ucap Ulfa menambahi.
Hasbullah mengatakan, sejak 2011 perekonomian mereka sudah mulai stabil. Dengan mengajar ngaji, Hasbullah juga mendapatkan bantuan dari Lembaga Amil Zakat (LAZ) Batam.
Dari cerita perjalanan hidup Hasbullah dan Ulfa, banyak sekali pelajaran yang bisa dipetik. Keduanya selalu menegaskan, intinya kita harus selalu bersyukur, dan akan selalu ada rezeki dari Allah yang tidak disangka-sangka.
”Syukuri apa yang dikasih sama Allah, apapun yang dikasih nikmati aja, Insyaalah jadi cukup,” ucap Ulfa di akhir perbincangan. (*)
Warga antri saat membeli gas 3 Kg saat operasi pasar LPG 3 kg yang di gelar oleh Disperindag Kota Batam bersama Pertamina Patra Niaga Kepri dikantor camat Bengkong Senin (16/9). F Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos – Tujuh pangkalan gas subsidi 3 kilogram di Batam, resmi diberhentikan oleh PT Pertamina Patra Niaga Kepri akibat penyelewengan dalam distribusi. Meski demikian, Pertamina memastikan pasokan gas bagi masyarakat tetap terpenuhi.
Demikian disampaikan oleh Sales Branch Manager PT Pertamina Patra Niaga Kepri, Gilang Hisyam. Adapun tujuh pangkalan tersebut tersebar di Kecamatan Batuaji, Batamkota, dan Bengkong.
“Sebanyak tujuh pangkalan telah kami PHU (pemutusan hubungan usaha). Sebelumnya, hanya dua pangkalan yang ditindak,” kata dia, Rabu (2/10).
Langkah tersebut diambil karena pangkalan-pangkalan tersebut melakukan penyelewengan. Mereka tidak menyalurkan langsung LPG 3 kilogram kepada masyarakat yang berhak, melainkan menjualnya ke pihak yang tidak sesuai ketentuan.
Meski tujuh pangkalan telah di PHU, Pertamina memastikan bahwa pasokan gas melon di Batam tetap tersedia dan mencukupi kebutuhan masyarakat. Kuota dari pangkalan yang ditutup akan disebar ke pangkalan-pangkalan lain di sekitarnya.
“Kuota gas dari tujuh pangkalan tersebut kami alihkan ke pangkalan di sekitarnya. Masyarakat tidak perlu khawatir, jangan panik, kami pastikan gas subsidi ini tetap tepat sasaran,” kata Gilang.
Pertamina juga terus berkolaborasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam, untuk memastikan pengawasan distribusi LPG 3 kilogram berjalan dengan baik. Sehingga gas subsidi tersebut dapat diterima oleh masyarakat yang berhak.
Gilang menambahkan, pihaknya sudah melakukan penambahan pasokan LPG 3 kilogram sebanyak 85 ribu tabung dalam kurun waktu dua minggu untuk disalurkan ke seluruh pangkalan di Batam. Langkah ini diambil untuk memastikan pasokan gas di pangkalan-pangkalan tetap mencukupi.
“Penambahan pasokan sifatnya fleksibel. Saat ini stok masih cukup, dan jika dibutuhkan, kami siap melakukan penyesuaian kembali. Namun, saat ini kondisi pasokan lebih baik dibandingkan dua minggu yang lalu, jadi kami belum merencanakan penambahan lebih lanjut,” ujar dia. (*)
Kondisi taman Gurindam 12 Tanjungpinang pasca weekend, Senin (30/9). F. Mohamad Ismail/BATAM POS
batampos– Tidak adanya tong sampah di Taman Gurindam 12 Kota Tanjungpinang, Kepri membuat taman tersebut dikotori oleh sampah yang dibuang sembarangan oleh pengunjung.
Tumpukan sampah, baik di tanaman bunga hingga seluruh kursi membuat taman tersebut terlihat sangat kotor. Padahal, Taman Gurindam 12 terletak tepat di depan Gedung Dekranasda dan Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Provinsi Kepri, Adi Prihantara mengatakan, pihaknya bakal membeli tong sampah, yang nantinya akan ditaruh di sejumlah titik taman Gurindam 12 Tanjungpinang.
Kendati demikian, penganggaran pengadaan tong sampah tersebut bakal dilaksanakan di tahun 2025 mendatang. “Akan dianggarkan ke tahun kemudian. Jadi ke depan kita sediakan tempat sampah,” kata Adi, Rabu (2/10).
Dia menerangkan, bahwa menjaga kebersihan di taman tersebut merupakan tugas bersama antara Pemprov Kepri dan Pemko Tanjungpinang. Sebab, Pemprov Kepri sendiri memang tidak memiliki petugas kebersihan.
“Kita (Pemprov) Kepri tidak ada petugas kebersihan di sana (Taman Gurindam 12). Karena wilayahnya kabupaten kota,” ujarnya.
Menurutnya, berserakan sampah di Taman Gurindam 12 juga disebabkan oleh pedagang UMKM yang berjualan di sekitar lokasi tersebut. Sehingga, kata Adi pedagang harus ikut andil untuk menjaga kebersihan taman itu.
“Banyak yang jualan di sana. Kita juga minta pedagang ikut andil dalam kebersihan, karena sampahnya dari mereka (pedagang),” pungkasnya.
Kondisi Taman Gurindam 12 yang dikotori oleh sampah menimbulkan protes dari pengunjung yang mendatangi tempat tersebut.
“Ya risih juga. Soalnya sampahnya berserak dimana-mana,” kata Ikhsan, warga sekitar yang sedang mengunjungi taman tersebut, Senin (30/9).
Menurutnya, sampah yang berserak di taman tersebut pun dapat menimbulkan pemikiran negatif bagi wisatawan yang datang. Ia khawatir, wisatawan yang datang berfikir bahwa Tanjungpinang sebagai ibu kota Provinsi Kepri sangat kotor.
Kondisi ini, kata Ikhsan juga dipicu dengan tidak adanya tempat sampah, yang ada di taman tersebut. Sehingga, pengunjung yang datang mau tidak mau membuang sampah sembarangan.
“Harusnya setiap sisi ada tong sampah. Petugas kebersihan harusnya juga datang membersihkan. Saya pun yang duduk disini juga risih,” ungkapnya. (*)
batampos – KPU Kota Batam berencana menggelar debat calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota dalam rangka Pilkada Batam 2024, yang dijadwalkan berlangsung sebanyak dua kali. Kini persiapannya masih dalam tahap pembahasan.
Debat ini menjadi ajang penting bagi masyarakat Batam untuk mengetahui lebih dalam program serta visi-misi dari para calon pemim-pin yang akan bertarung di Pilkada 2024.
Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan Internal KPU Batam, Bosar Hasibuan, mengungkapkan, penentu-an jadwal dan lokasi debat sedang dibahas. Untuk pelaksanaannya akan menyesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
“Kami kemungkinan akan mengadakan debat kandidat hanya dua kali, sesuai dengan anggaran yang ada. Saat ini kami masih dalam proses persiapan,” kata Bosar, Rabu (2/10).
Debat calon kepala daerah ini direncanakan berlangsung antara bulan Oktober dan November 2024. Pelaksanaannya merujuk pada Peraturan KPU Nomor 13 Tahun 2024 tentang Kampanye Pilkada, dan Keputusan KPU Nomor 1363 Tahun 2024 tentang Pedoman Teknis Pelaksanaan Kampanye Pilkada.
Debat ini akan melibatkan panelis dari berbagai kalangan profesional, tokoh masyarakat, serta akademisi. Kata Bosar, debat akan dibagi dalam enam segmen.
Untuk segmen pertama, merupakan pembukaan serta penyampaian visi dan misi oleh pasangan calon (paslon). Segmen kedua dan ketiga berfokus pada pendalaman visi dan misi.
Sementara, pada segmen keempat dan kelima diisi dengan sesi tanya jawab serta sanggahan antar paslon. Terakhir, debat akan ditutup pada segmen keenam.
“Materi debat juga sudah ditentukan, meliputi enam tema utama yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat, kemajuan daerah, peningkatan pelayanan kepada masyarakat, penyelesaian persoalan daerah, penyelarasan pembangunan dari tingkat daerah hingga nasional, serta penguatan NKRI dan kebangsaan,” kata dia. (*)
Anggota MPR RI yang juga Sekjen Gerindra, Ahmad Muzani, dan Siti Hediyati Hariyadi (kanan) usai mengikuti Sidang Paripurna MPR di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (2/10). F. Miftahul Hayat/Jawa Pos
batampos – Proses pemilihan pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) nampaknya berjalan alot. Sempat dijadwalkan kemarin, pemilihan urung digelar hingga tadi malam dan dijadwalkan ulang hari ini.
Pimpinan MPR sendiri terdiri dari perwakilan delapan partai dan satu perwakilan DPD. Satu di antaranya akan ditetapkan sebagai ketua.
Satu nama yang santer dijagokan sebagai ketua adalah Sekjen Gerindra Ahmad Muzani. Nama Muzani sebelumnya sudah disebut oleh Ketua DPP PDI Perjuangan Said Abdullah dan Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad.
Namun, saat ditemui di kompleks parlemen Jakarta kemarin, Muzani enggan terburu-buru. Dia menyebut prosesnya belum selesai dan pihaknya tidak ingin mendahului. ”Tunggu semua sudah ber-proses, sehingga semuanya berjalan sesuai dengan mekanisme yang ada,” ujarnya.
Terkait lobi-lobi, dia menegaskan hubungannya dengan partai-partai lain sangat baik.
”Nggak ada hambatan, nggak ada masalah, termasuk dengan teman-teman kelompok DPD,” imbuhnya.
Jika Muzani terpilih, keputusan itu relatif tidak biasa. Dalam tradisinya, Ketua MPR dijabat oleh partai pemenang kedua pemilu. Meskipun, hal itu tidak diatur secara eksplisit dalam UU MD3 layaknya jatah Ketua DPR yang diplot untuk pemenang pemilu.
Terkait hal itu, Sekjen Golkar Sarmuji tidak sepakat jika itu disebut sebagai tradisi. Sebab, baru terjadi beberapa kali saja. Yang jelas, pihaknya tidak mempersoalkan meski Golkar tidak mendapat Ketua MPR. Dia beralasan, sistem kerja MPR adalah musyawarah sehingga semua pimpinan punya peran. ”Karena permusyawaratan jadi dimusyawarahkan,” ujarnya.
Dalam urusan bernegara, dia menilai tidak perlu ada dikotomi rela atau tidak. Yang terpenting adalah kesepakatan terbaik untuk bangsa. ”Jadi kalau kita sudah bicara nasionalisme tentang negara, kita pasti ingin yang terbaik,” ungkapnya.
Berdasarkan informasi yang beredar, Golkar rela melepas jatah ketua MPR dengan kompensasi jatah lima kursi menteri. Namun, Sarmuji menepis isu itu. Kalaupun Golkar mendapat banyak menteri, dia mengklaim itu karena banyaknya kader potensial. ”Bukan karena tukar ini, tukar itu,” jelasnya.
Sementara itu, sejumlah partai telah mengusulkan nama untuk mengisi posisi pimpinan DPR. Antara lain PKS yang kembali memilih Hidayat Nur Wahid. ”Iya, masih Ust Dr. HNW insyaallah sebentar lagi diumumkan,” ujar Ketua Fraksi PKS DPR RI, Jazuli Juwaini.
Sementara Golkar akan mengutus Kahar Muzakkir. Wakil Ketua Umum Golkar Ace Hasan Syadzily mengakui, Kahar masuk kriteria untuk mengisi kursi pimpinan MPR. ”Pimpinan MPR adalah orang berpengalaman sebagai pimpinan AKD, dan juga pernah menjadi pimpinan fraksi. Mungkin, saya kira figur senior,” tuturnya. Kahar, diakuinya, memenuhi kriteria.
Kemudian Nasdem dipastikan akan mengusulkan Lestari Moerdijat. Kepastian itu disampaikan politikus Nasdem Syarief Abdullah saat rapat paripurna penetapan fraksi MPR.
Dalam rapat paripurna itu, semua fraksi juga telah menyepakati nama pimpinan dan keanggotaan fraksi di MPR. PDIP yang mendapat giliran pertama menetapkan Ahmad Basarah sebagai ketua fraksi di MPR. Kemudian Golkar menetapkan Melchias Marcus Mekeng, dan Gerindra memilih Habiburrokhman.
Sementara Nasdem menetapkan Roberth Rouw, PKB menetapkan Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, PKS menetapkan Tifatul Sembiring, PAN menetapkan Ahmad Rizki Sadig, dan Demokrat memilih Edhie Baskoro Yudhoyono.
Sementara itu, Sultan Bachtiar Najamudin terpilih sebagai Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Dia berhasil mengalahkan La Nyalla Mattalitti yang berupaya menduduki kursi ketua senator untuk kedua kalinya.
Proses terpilihnya Sultan sendiri sempat memicu dinamika. Saat pembahasan tata tertib, sempat terjadi ketegangan, sebelum akhirnya disepakati dan dilanjutkan dengan voting.
Voting pemilihan dilakukan dengan sistem paket. Paket pertama diketuai Sultan Najamudin, dengan calon wakil ketua GKR Hemas, Yorrys Raweyai, dan Tamsil Linrung. Kemudian paket kedua diketuai La Nyalla Mattalitti dengan calon wakil ketua di antaranya Nono Sampono, Elviana, dan Andi Muhammad Ihsan.
Dalam voting, dari 151 voters, paket Sultan berhasil mengum-pulkan 95 suara. Sementara La Nyalla memperoleh 56 suara. Kepada media, Sultan berkomitmen untuk menampilkan wajah DPD yang lebih kolaboratif dan inklusif. ”Untuk bisa menjawab permasalahan di daerah,” ujarnya.
Ke depan, pihaknya berharap agar lembaga DPD bisa dirasakan langsung keberadaannya. Diakuinya, saat ini, eksistensi DPD belum banyak diketahui masyarakat. Pihaknya juga akan membangun komunikasi dengan Presiden terpilih Prabowo Subianto. (*)
Isabella Fawzi (kanan) dan Chikita Fawzi (kiri) di pemakaman Marissa Haque. (Abdul Rahman)
batampos – Marissa Haque dalam kenangan keluarga dan sahabatnya adalah sosok bersemangat hingga penghujung usia. Ia juga sosok pembelajar. Hingga sebelum akhir hayatnya, istri Ikang Fawzi tersebut masih mengunggah postingan di akun medsosnya.
Marissa Haque meninggal dunia di rumahnya di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. ”Menurut keluarga, kalau dilihat meninggalnya tuh sudah tidak bergerak pas di rumah. Cuma, untuk memastikan kondisi terakhirnya ya dibawa ke rumah sakit,” ungkap Soraya Haque, adik Marissa.
Keluarga membawa mantan anggota DPR itu ke Rumah Sakit Premier, Bintaro. Surat keterangan menyatakan, aktris, politikus, dan akademisi tersebut tutup usia kemarin
dini hari pukul 00.43 WIB.
Ikang Fawzi yang terlihat sangat terpukul saat melepas jenazah sang istri di di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, kemarin (2/10).
Sembari sesekali menyeka air mata di pipi, Ikang turut turun mengantarkan tubuh perempuan yang telah memberinya dua anak perempuan itu ke liang lahat. ”Aku beruntung bisa menjadi suamimu. 38 tahun bersama, kau wanita yang hebat, kuat, dan luar biasa baik,” ucap Ikang.
Ikang mengenang semangat sang istri untuk menimba ilmu sampai akhir hayartnya di usia 61 tahun. ”Dia berusaha mendapatkan gelar profesor. Di titik itulah saya bilang istri
saya sangat berbeda,” tutur pelantun lagu Selamat Malam itu.
Marissa sulung dari tiga bersaudara. Seperti dirinya, kedua adiknya, Soraya dan Syahnaz Haque, juga sempat terjun di dunia hiburan. Seperti Marissa pula, Soraya menikah dengan musisi, Ekky Soekarno. Demikian juga Syahnaz menikah dengan Gilang Ramadhan yang juga musisi.
Meski tidak pernah memuji secara langsung, Marissa sering kali membanggakan saudara kandungnya kepada orang lain. ”Ketika saya memeluk jenazah, anak-anaknya dan Ikang
bilang, ’Ibu itu paling bangga sama adik-adiknya’. Tapi, kakak saya nggak pernah ngomong gitu, tipenya memang perempuan tangan besi, tapi hatinya lembut. Mungkin ini yang menyebabkan kenangan saya bahwa kakak saya adalah perempuan yang unik,” ucap Syahnaz.
Sementara Chikita Fawzi, putri bungsunya, mengungkapkan bahwa TPU Tanah Kusir merupakan pilihan sekaligus wasiat pesan yang ditinggalkan almarhum dua pekan sebelum wafat. ”Biar anak-anak sering ngunjungin, katanya. Kalau di Karet, jauh,” ucapnya sembari menangis.
KESEDIHA TAK TERHINGGA: Ikang Fawzi diapit kedua putri, Bella (kiri) dan Chiki, di hadapan jenazah Marissa Haque di rumah duka di Bintaro, Tangerang Selatan, Rabu (2/10). (MUHAMAD ALI/JAWA POS)
Tak hanya itu, dia juga menyatakan masih ada harapan sang ibunda yang belum bisa diwujudkan olehnya hingga mengembuskan napas terakhir. Yakni, menyaksikan anak-
anaknya menikah.
Pendidikan adalah salah satu passion terbesar Marissa. Beberapa jam sebelum meninggal, aktris yang sudah membintangi puluhan film itu masih aktif mengajar sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia Banking School.
Habibah, salah seorang mahasiswinya, menceritakan bahwa Marissa sering kali mengeluhkan tentang kondisinya selama dua minggu terakhir saat mengajar. ”Nggak (sakit, Red), beliau segar, tapi agak beda. Beliau ngomong udah lima watt,
capek aja,” ucapnya.
Di hari terakhir mengajar, Risya, mahasiswinya yang lain, mengenang ibu dua anak tersebut datang terlambat. Menurutnya, itu sangat tidak biasa. Sebab, selama ini
almarhumah selalu datang tepat waktu.
”Kemarin tumben terlambat 20 menit. Kami juga kaget. Pas datang minta maaf, katanya capek. Isi kelas sebelumnya juga nggak semangat. Beliau bilang, kalian nanti tanya jawab aja, ya,” ungkap Risya.
Kepada Risya dan Habibah, almarhumah sempat menyampaikan hajatnya meminta didoakan ketika sudah tak lagi bernyawa. Permintaan itu diucapkan ketika mereka
ditraktir sarapan bareng di kampus pada Senin (30/9).
Bahkan, di momen terakhir itu, Marissa menyatakan harapannya untuk mati syahid. ”Ibu juga bilang, ’nggak apa kalau ini meninggal habis traktir kalian. Ibunya mati syahid
karena habis traktir kalian yang sedang menuntut ilmu. Apalagi yang ngekos dan rumahnya jauh’,” kenang Risya.
Anies Baswedan turut melayat ke rumah duka. ”Kami sekeluarga dekat ketika kami sama-sama kuliah di Amerika Serikat,” tutur Anies.
Di matanya, Marissa sosok yang berdedikasi besar terhadap profesi. Dengan jabatan dan kewenangan yang dimiliki, almarhumah kerap memanfaatkannya untuk menyuarakan
isu-isu sosial.
”Ini menunjukkan bahwa hidupnya adalah hidup yang memberikan manfaat,” papar Anies.
Aktris sekaligus politikus Wanda Hamidah kali terakhir bertemu almarhumah dalam Aksi Bela Palestina bulan lalu. ”Beliau sosok yang inspiratif buat saya. Selain public figure,
beliau juga seorang artis yang berdedikasi dalam dunia sosial dan politik,” kata Wanda. (*)