
F. Tia Cahya Nurani untuk Batam Pos
Berawal dari rasa iba, melihat anak-anak yang tinggal di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Punggur, harus membantu orangtuanya memulung di tumpukan sampah. Membuat hati Lenny tergerak, untuk mengajar mereka mengenal huruf.
Kamis (10/10), Batam Pos mendatangi Tempat Pembuangan Akhir (TPA), yang berlokasi di Punggur, Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa, Kota Batam. Sebagian orang hanya mengetahui TPA Punggur adalah tempat pembuangan akhir sampah Kota Batam.
Tetapi, sebagian lahan di sana terdapat permukiman penduduk. Kali ini, Batam Pos mengunjungi PAUD, yang berada di tengah-tengah permukiman warga tersebut.
Akses jalan menuju PAUD terbilang sulit, karena harus melalui jalanan tanah yang penuh lubang, terlebih pascaturun hujan, jalan menjadi berlumpur. Setelah naik turun, koran ini tiba di PAUD yang berada di belakang rumah warga.
Sekolah ini dikenal dengan nama PAUD Kenangan, yang berlokasi di Teluk Waheng. Sekolah ini berdiri di atas tanah dua kaveling seluas 14 x 20 meter. Dindingnya dipenuhi lukisan mural warna-warni.
Saat itu, terlihat anak-anak tengah asyik belajar.
Batam Pos menemui Ihat Solihat, 64, Kepala Sekolah di PAUD tersebut, dan Lenny Marlina, 47, pengajar sekaligus penggagas berdirinya PAUD tersebut.
”Saya kasihan lihat anak-anak di sini harus ikut orangtuanya mulung di tumpukan sampah,” tutur Lenny mengawali cerita.
Sebelumnya, Lenny tinggal di Sengkuang, kemudian pindah ke Punggur. Ikut sang suami setelah menikah di 2004. Lenny menyampaikan bahwa dirinya terpanggil untuk mengajar dan mendirikan PAUD atas dasar gerakan hati dan kemanusiaan.
Lenny tidak ingin anak-anak yang tinggal di TPA direndahkan orang di luar. ”Bahkan anak saya sendiri pernah dibilang sama kawannya, kok anak TPA sekolah,” ujar Lenny menyampaikan pengalaman pribadinya.
Sebelum berdiri bangunan PAUD, Lenny mengajar anak-anak baca tulis di masjid, secara sukarela, dan terbuka untuk umum pada 2013. Kemudian setelah berjalan selama beberapa tahun, pihaknya mendapat bantuan dari Yayasan Dunia Viva Wanita.
Yayasan tersebut mendirikan bangunan PAUD Kenangan ini pada 2017, dan diresmikan di 2018. ”Awalnya saya kumpulkan satu-satu anak supaya mau belajar, saya izin ke orangtuanya,” ucap Lenny mengingat awal-awal perjuangannya.
Dan yang membuat Lenny bangga, anak-anak di TPA ini tidak kalah juga pintarnya dengan anak di luar. Lenny mengatakan ada beberapa anak yang dulunya bersekolah di sini, sekarang selalu mendapatkan juara umum saat bersekolah di luar.
PAUD Kenangan memiliki jadwal belajar dari Senin hingga Jumat, mulai pukul 07.30-11.00 WIB. Lenny dibantu satu pengajar bernama Fitri Yani, 25, dan untuk Kepala Sekolah Ihat Solihat juga membantu mengajar setiap Jumat, yaitu siraman rohani, seperti praktik salat, dan hafalan surah pendek.
Total PAUD Kenangan mmemiliki jumlah siswa sebanyak 30 anak di tahun ini. Hebatnya, SPP baru diterapkan setelah satu tahun berjalan bangunan sekolah berdiri. Itu pun tidak dipaksa, dengan nominal Rp50 ribu per siswa setiap bulannya.
”Kadang satu bulan cuma lima anak yang membayar. Kalau kita paksa membayar, nanti justru malah tak masuk,” imbuh Lenny.
Lenny dan Ihat berharap, agar PAUD Kenangan Teluk Waheng ini bisa lebih maju lagi. Kedua pegiat pendidikan usia dini ini sangat bersyukur dan berterima kasih apabila ada pihak luar yang ingin membantu dan berkunjung.
”Intinya anak TPA jangan sampai terbelakang, dan jangan sampai buta huruf,” ucap Lenny.
”Semoga tulisan tentang PAUD Kenangan bisa dibaca banyak orang, sehingga orang-orang jadi tau ternyata di dalam TPA ada sekolah,” ucap Ihat menimpali. (*)
Reporter: TIA CAHYA NURANI









