
batampos – Karung-karung berisi limbah minyak hitam yang terdampar di Pantai Trikora, Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, mulai pecah dan mengeluarkan cairan berwarna hitam.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran warga karena berpotensi mencemari lingkungan pesisir dan mengganggu aktivitas nelayan serta pariwisata.
Pantauan di lokasi, Senin (2/2), sejumlah karung terlihat robek dengan cairan minyak hitam mengalir ke pasir pantai. Bau menyengat pun tercium di sekitar lokasi, menyulitkan warga beraktivitas.
Warga setempat, Hairuddin, mengatakan karung-karung tersebut sudah terdampar sejak sekitar tiga hari terakhir dan kondisinya semakin memburuk.
“Banyak karung yang sudah rusak dan mengeluarkan minyak hitam. Baunya menyengat dan bikin susah beraktivitas,” ujarnya.
Ia menyebut limbah minyak hitam tersebut berdampak langsung terhadap nelayan. Jaring yang terkena minyak sulit dibersihkan, sehingga nelayan enggan melaut.
“Kalau jaring kena minyak hitam, susah dibersihkan. Nelayan jelas dirugikan,” katanya.
Hairuddin juga mengkhawatirkan dampak lebih luas terhadap sektor pariwisata dan usaha warga di sekitar pantai.
“Semuanya terganggu. Pariwisata terganggu, pondok-pondok usaha warga terganggu, nelayan juga,” ujarnya.
Ia mengaku tidak mengetahui asal muasal limbah minyak hitam tersebut, namun berharap kejadian serupa tidak terus berulang dan segera ditangani.
Camat Gunung Kijang, Rahak, meminta agar persoalan limbah minyak hitam di Pantai Trikora segera ditangani oleh pihak berwenang sebelum mencemari kawasan pesisir lebih luas.
“Khawatirnya kalau semakin banyak karung yang pecah, pencemarannya makin parah,” kata Rahak.
Ia memperkirakan jumlah karung limbah minyak hitam yang terdampar di Pantai Trikora mencapai sekitar 400 hingga 500 karung.
Sementara itu, Pegawai Fungsional Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kepulauan Riau, R M Noviandi, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait untuk menentukan langkah penanganan.
“Kami masih koordinasi. Drum-drum untuk penanganan harus didatangkan dari Batam, itu yang sedang dibahas,” ujarnya.
Noviandi memprediksi kemungkinan masih ada karung limbah lain yang akan kembali terdampar. Untuk sementara, DLHK Kepri membagikan karung kepada masyarakat agar limbah minyak hitam dapat dikumpulkan secara swadaya.
“Nanti dikumpulkan di beberapa titik, setelah itu diangkut menggunakan truk sampah,” jelasnya.
Ia menambahkan, proses pembersihan akan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Seluruh karung berisi limbah minyak hitam yang telah terkumpul rencananya akan dibawa ke Batam untuk dimusnahkan sesuai prosedur. (*)
Artikel Ratusan Karung Limbah Minyak Hitam Pecah di Pantai Trikora, Nelayan Terancam pertama kali tampil pada Kepri.









