Jumat, 3 April 2026
Beranda blog Halaman 293

BP Batam Jelaskan Skema Investasi PT Moya, Bantah Isu Tagihan Air Masuk Kemenko

0
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait. F. Dok. Batam Pos

batampos – Persoalan layanan air bersih di Kota Batam kembali menjadi sorotan publik. Muncul spekulasi bahwa gangguan distribusi air dipicu minimnya investasi, bahkan beredar isu bahwa seluruh tagihan air pelanggan mengalir ke Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian sehingga dana yang kembali ke daerah terbatas.

Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menegaskan pengelolaan operasional air bersih di Batam saat ini dilaksanakan oleh PT Moya Indonesia sebagai mitra pemenang tender kegiatan operasi dan pemeliharaan (operation and maintenance).

“Seluruh mekanisme pengelolaan sudah diatur dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS). Semua ketentuan ada di dalam perjanjian tersebut,” ujar Ariastuty, Jumat (30/1).

Baca Juga: MBG Tetap Dibagikan saat Ramadan, SPPG Batam Tunggu Petunjuk

Ia menjelaskan, apabila mitra melakukan investasi, mekanismenya telah diatur melalui skema belanja sesuai PKS. Namun, dalam pelaksanaannya, belanja investasi memerlukan perencanaan dan perhitungan matang agar tepat sasaran serta tidak menimbulkan persoalan administratif maupun temuan audit.

BP Batam, lanjutnya, membuka peluang melakukan amandemen terhadap PKS. Langkah ini dilakukan untuk memastikan sinkronisasi antara kebutuhan investasi dan mekanisme pembiayaan, sehingga pengembangan sistem air bersih dapat berjalan tanpa hambatan regulasi.

Terkait isu bahwa tagihan air masuk ke Kemenko, Ariastuty membantah tegas kabar tersebut. “Tidak benar jika disebut tagihan air masuk ke Kemenko. Seluruh penerimaan tagihan air masuk ke Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) BP Batam,” tegasnya.

Dari penerimaan tersebut, dilakukan mekanisme bagi hasil antara BP Batam dan mitra, baik untuk sektor hulu (ABH) maupun hilir (ABHi), sesuai skema yang disepakati dalam PKS.

Baca Juga: Bantuan Iuran BPJS Kesehatan di Batam Sasar 90 Ribu Peserta Tahun Ini

Di tengah tantangan layanan, BP Batam bersama PT Moya juga membahas penanganan 18 titik stress area atau wilayah dengan tekanan air rendah di Batam. Dari jumlah tersebut, pimpinan BP Batam meminta agar sembilan proyek yang telah dianggarkan tetap dijalankan.

Sementara sembilan proyek lainnya direncanakan dikerjakan oleh mitra, dengan estimasi mulai tahun ini. “Namun hal ini masih dalam tahap diskusi dan harus dikoordinasikan dengan BPK serta BPKP,” ujar Ariastuty.

Untuk jangka pendek, terutama menghadapi bulan Ramadan, BP Batam dan mitra telah menyiapkan langkah-langkah penanganan agar distribusi air bersih dapat tersuplai lebih merata kepada masyarakat. (*)

Artikel BP Batam Jelaskan Skema Investasi PT Moya, Bantah Isu Tagihan Air Masuk Kemenko pertama kali tampil pada Metropolis.

KDM Bongkar Kebohongan Pedagang Es Gabus Viral, Ini Pandangan Sosiolog

0
Sudrajat mendapat motor dan modal usaha. Penjual es kue viral yang sempat dituduh jual es berbahan spons, Selasa (27/1). (Istimewa)

batampos – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) kerap menggali kisah hidup para korban yang viral di media sosial. Salah satu yang terbaru adalah cerita hidup pedagang es kue, Sudrajat, yang viral usai difitnah dan diintimidasi oknum aparat kepolisian dan TNI beberapa waktu lalu.

KDM menggebrak meja dan marah kepada pedagang es kue, Sudrajat, yang viral usai difitnah dan diintimidasi oknum aparat kepolisian dan TNI karena dituding menjual es berbahan gabus atau spons. Kemarahan KDM ditengarai karena Sudrajat berbohong dalam sejumlah penyataannya.

Terbaru adalah terkait dengan tempat tinggalnya yang sebelumnya ia akui masih mengontrak, padahal memiliki rumah sendiri. Ia juga bahkan pernah menerima bantuan rumah tidak layak huni (Rutilahu). Fakta ini memicu kemarahan KDM yang langsung menggebrak meja dan mempertanyakan kebohongan yang berulang dari Suderajat.

Peristiwa itu terjadi saat KDM menggali kebenaran status tempat tinggal Suderajat melalui pertemuan langsung dengan Ketua RW Sudrajat. Ia menyatakan bahwa rumah yang ditempati Sudrajat adalah rumah sendiri, bukan kontrakan seperti yang selama ini disampaikan.

“Rumah sendiri, Pak. Tanahnya juga tanah sendiri,” ujar Ketua RW Sudrajat di hadapan KDM, dikutip dari kanal YouTube-nya, Jumat (30/1).

KDM yang sejak awal menerima informasi bahwa Sudrajat hidup serba kekurangan dan hanya mengontrak rumah, langsung bereaksi keras. Ia menuding Sudrajat telah memberikan keterangan yang tidak sesuai fakta.

“Babeh bilangnya ngontrak, bohong sih! Kenapa bohong terus?” kata KDM dengan nada tinggi sambil memperbaiki posisi duduk.

Menggapi hal tesrebut, Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) AB. Widyanta menyebut itu sebagai ekonomi perhatian.

Widyanta menerangkan, ekonomi perhatian menunjukkan bagaimana penderitaan personal di media sosial kerap berubah menjadi komoditas, di mana emosi publik menjadi sumber utama nilai dan perputaran bantuan.

Dalam dinamika media sosial, penderitaan yang terus-menerus ditampilkan secara dramatis cenderung memicu respons emosional yang kuat dari publik. Kisah yang dikemas mengharu biru membuat orang merasa iba, tersentuh, bahkan perih, sehingga perhatian publik tersedot dalam skala besar.

“Jadi semakin penderitaan itu dinampakkan di dalam dunia sosial media, itu nampak begitu mengharu biru, membuat orang iba. Atensinya menyedot emosi publik yang besar sekali, dan persis di situlah orang mendonasikan,” ujar Widyanta saat dihubungi JawaPos.com, Jumat (30/1).

Setelah itu, aliran bantuan dari warganet pun berdatangan secara masif. Banyak orang terdorong untuk membantu karena dorongan moral dan empati spontan. Namun, kasus serupa ternyata bukan hal baru dan telah berulang kali terjadi dalam berbagai konteks di ruang digital.

Masalahnya, penderitaan yang diperdalam dan ditampilkan terus-menerus tidak selalu berhenti pada solidaritas semata. Dalam perspektif pendidikan sosial dan kritik media, kondisi ini justru berpotensi menjadi bentuk eksploitasi emosi publik.

“Penderitaan yang diperdalam terus-menerus itu sebetulnya bagian dari mengeksploitasi simpati atau emosi publik. Setelah simpati muncul dan donasi mengalir, yang terjadi adalah penumpukan yang luar biasa,” tutur Widyanta.

Fenomena ini menunjukkan adanya aspek komodifikasi penderitaan, di mana kisah duka tidak lagi sekadar pengalaman personal, melainkan alat untuk meraih capaian berupa atensi ekonomi. Dalam konteks inilah ekonomi perhatian bekerja secara nyata di era digital.

Logika ekonomi perhatian (attention economy) memandang perhatian manusia yang terbatas sebagai komoditas langka di tengah banjir informasi. Platform digital kemudian memonetisasi perhatian tersebut melalui iklan dan algoritma yang dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan, seperti jumlah tayangan, suka, dan bagikan.

Akibatnya, konten yang viral—terutama yang memicu emosi kuat—menjadi lebih bernilai dibandingkan konten yang substansial. Dalam dunia sosial media yang demikian, kisah penderitaan kerap terjebak dalam siklus tontonan, simpati, dan atensi, yang pada akhirnya membentuk wajah baru dinamika sosial di era digital. (*)

Artikel KDM Bongkar Kebohongan Pedagang Es Gabus Viral, Ini Pandangan Sosiolog pertama kali tampil pada News.

Jungle Culinary Festival Resmi Dibuka, 63 Tenant Nusantara hingga Internasional Ramaikan Nagoya Hill

0
Jungle Culinary Festival, event kuliner terbesar di Kota Batam yang dilaksanakan di Nagoya Hill Shopping Mall lantai dasar, Jumat (30/1). Foto. Rengga Yuliandra/ Batam Pos

batampos – Event kuliner terbesar di Kota Batam, Jungle Culinary Festival, resmi dibuka oleh Kepala Dinas UMKM Kota Batam, Salim, di Nagoya Hill Shopping Mall lantai dasar, Jumat (30/1). Event yang digelar oleh Queen Production ini akan berlangsung hingga 15 Februari 2026, menghadirkan 63 tenant UMKM dari Batam dan berbagai daerah di Indonesia.

Jungle Culinary Festival hadir dengan konsep berbeda dari bazar kuliner pada umumnya. Mengusung tema “Jungle Culinary”, event ini menghadirkan suasana hijau bernuansa hutan dengan dekorasi pohon dan elemen alam, hasil kolaborasi Queen Production bersama Surga Pelaminan sebagai penata dekorasi.

CEO Queen Production, Ningsih, mengatakan konsep jungle dipilih untuk memberikan pengalaman baru bagi pengunjung saat menikmati kuliner.

“Biasanya bazar kuliner identik dengan tema tradisional. Kali ini kami hadir dengan konsep jungle, nuansa hijau, banyak elemen pohon, jadi seperti makan di tengah hutan,” ujar Ningsih saat diwawancarai, Jumat (30/1).

Sebanyak 63 tenant turut meramaikan festival ini. Tak hanya UMKM lokal Batam, Jungle Culinary Festival juga menghadirkan pelaku usaha kuliner dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Semarang, Yogyakarta, Jakarta, hingga Sumatera Barat. Bahkan, kuliner internasional pun turut meramaikan event ini.

Beragam menu andalan disuguhkan, mulai dari tengkleng kambing, ayam penyet cabai hijau super pedas, getuk, serabi Solo, kerak telor Betawi, hingga kuliner internasional seperti makanan Jepang, mochi, Som Tam, serta Bakso Mama Papa Muda, franchise asal Jakarta yang cukup dikenal.

“Ini benar-benar bazar kuliner yang lengkap. Ada makanan berat, ringan, sampai jajanan khas daerah yang jarang ditemui di Batam,” tambahnya.

Menariknya, Jungle Culinary Festival juga menerapkan sistem pembayaran non-tunai. Seluruh transaksi dilakukan menggunakan QRIS, hasil kerja sama dengan BNI, sehingga pengunjung dapat bertransaksi lebih praktis dan modern.

Dari sisi harga, Ningsih memastikan masih ramah di kantong. Menu seperti pecel dan asinan buah dibanderol di kisaran Rp20 ribu hingga Rp25 ribu, sementara menu berbahan daging menyesuaikan dengan kualitas bahan yang digunakan.
Antusiasme masyarakat pun terlihat sejak hari pertama penyelenggaraan.

“Hari pertama respons pengunjung sangat luar biasa. Kami puas karena pengunjung ramai dan makanan yang disajikan benar-benar diminati,” katanya.

Dengan konsep unik, ragam kuliner nusantara hingga internasional, serta dekorasi bertema hutan yang kuat, Jungle Culinary Festival diharapkan menjadi destinasi kuliner favorit baru di Batam.

“Makanya kami beri nama Jungle Culinary Festival, karena ingin menghadirkan sensasi makan yang berbeda, seperti di tengah hutan,” ujar Ningsih.

Sementara itu, Kepala Dinas UMKM Kota Batam, Salim, menyambut baik penyelenggaraan event tersebut. Menurutnya, kegiatan bazar seperti ini menjadi salah satu strategi efektif untuk mendorong UMKM naik kelas.

“Kami sangat mendukung karena ini salah satu upaya untuk menaikkan UMKM melalui bazar,” ujar Salim.

Ia berharap, produk-produk UMKM Batam dapat semakin dikenal, tidak hanya oleh masyarakat lokal, tetapi juga pengunjung dari luar daerah hingga mancanegara.
“Apalagi saat akhir pekan, banyak pengunjung dari Singapura dan Malaysia. Ini tentu berdampak positif bagi peningkatan UMKM kita,” katanya.

Salim menambahkan, Pemko Batam secara konsisten memberikan dukungan berkelanjutan kepada pelaku UMKM melalui berbagai program peningkatan kapasitas.

“Seperti tahun lalu, tahun ini juga ada pelatihan UMKM naik kelas, pendampingan melalui PLUT, hingga kunjungan lapangan,” jelasnya.

Ia juga menyinggung adanya apresiasi dari pemerintah pusat bagi pelaku usaha yang berhasil meningkatkan kinerja usahanya.“Kemarin di Nagoya, di salah satu hotel, Kementerian UMKM memberikan reward kepada pengusaha yang berhasil mencapai target dan meningkatkan omzet. Ada lima pelaku usaha yang menerima penghargaan,” ungkapnya.

Ke depan, Pemko Batam bersama BP Batam dan BRI juga berencana membangun kawasan khusus UMKM di wilayah Nagoya.

“Nantinya akan dibangun kawasan UMKM dari Harbour Bay hingga Nagoya, seperti Nagoya Boulevard dan Nagoya Thamrin. UMKM kita akan diperkenalkan di kawasan tersebut,” tutup Salim. (*)

Artikel Jungle Culinary Festival Resmi Dibuka, 63 Tenant Nusantara hingga Internasional Ramaikan Nagoya Hill pertama kali tampil pada Metropolis.

Keluhkan Air Bersih, Warga Tanjung Sengkuang Titip Harapan pada Aparat dan Pemerintah

0
Warga Tanjung Sengkuang berdiskusi dengan Kapolresta Barelang terkait krisis air yang mereka hadapi. F.Istimewa

batampos – Keluhan warga terkait krisis air bersih di wilayah Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batuampar, kembali mencuat. Kesulitan mendapatkan air bersih yang dialami hampir setiap hari mendorong masyarakat menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Polresta Barelang, dalam pertemuan dialogis yang digelar di Ruang Kapolresta Barelang, Kamis (29/1).

Pertemuan tersebut dihadiri Ketua RT, Ketua RW, tokoh masyarakat, serta perwakilan warga dari sejumlah RW di Tanjung Sengkuang, Kota Batam. Warga memanfaatkan forum ini untuk mengungkapkan langsung dampak keterbatasan air bersih terhadap kehidupan sehari-hari mereka.

Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono mengatakan, pertemuan tersebut merupakan bentuk kepedulian Polri terhadap persoalan yang dirasakan masyarakat.

“Pertemuan ini kami laksanakan untuk mendengar langsung keluhan warga sekaligus mencari solusi atas permasalahan air bersih yang terjadi di Tanjung Sengkuang,” ujar Anggoro.

Baca Juga: Bantuan Iuran BPJS Kesehatan di Batam Sasar 90 Ribu Peserta Tahun Ini

Ia menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Air Batam Hilir (ABH) dan PT Moya sebagai instansi terkait. “Kami akan terus memfasilitasi dan mengawal penyelesaian persoalan distribusi air bersih agar penanganannya berjalan berkelanjutan dan tepat sasaran,” katanya.

Dalam forum tersebut, warga mengeluhkan pasokan air yang sering kali hanya mengalir dengan debit kecil dan waktu yang tidak menentu. Kondisi ini dinilai sangat menyulitkan, terutama untuk kebutuhan dasar rumah tangga. Warga berharap distribusi air dapat dilakukan secara rutin pada pagi hari.

Ketua RW 02 Tanjung Sengkuang, Ustaz Modiliwang, mengatakan persoalan air bersih sudah lama dirasakan oleh masyarakat.

“Air ini kebutuhan paling dasar. Kalau air tidak ada, semua aktivitas warga terganggu. Kami berharap distribusi air bisa mengalir antara pukul 05.00 WIB sampai 12.00 WIB agar warga bisa beraktivitas,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa masyarakat tetap berkomitmen menjaga keamanan dan ketertiban. “Kami sepakat menjaga kamtibmas di Batam. Tapi kami juga berharap keluhan ini mendapat perhatian serius dan segera ada solusi nyata,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan tokoh masyarakat RW 12, Abdul Latif. Ia menyoroti kondisi pasokan air yang semakin krusial menjelang bulan Ramadan.

“Kami sangat berharap selama Ramadan nanti air bisa mengalir lancar. Air sangat dibutuhkan untuk ibadah dan aktivitas sehari-hari warga,” ujarnya.

Baca Juga: Rawan Kecelakaan di Bukit Kemuning, Warga Minta Pasang Pita Penggaduh

Abdul Latif juga menjelaskan bahwa sejak masa peralihan pengelolaan air dari PT Adhya Titra Batam (ATB) ke ABH, masyarakat mengalami kesulitan memperoleh air bersih.

“Di RW 01, debit air kecil sudah hampir satu tahun terakhir. Salah satu penyebabnya karena ukuran pipa distribusi yang kecil, ungkapnya.

Menanggapi berbagai keluhan tersebut, Kapolresta Barelang mengimbau masyarakat agar tetap menjaga situasi kondusif dan tidak mudah terprovokasi.

“Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kamtibmas dan tidak mudah terhasut pihak-pihak yang ingin memanfaatkan persoalan air bersih untuk kepentingan pribadi,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut, Polresta Barelang melalui jajaran Intelkam telah berkoordinasi dengan ABH dan PT Moya terkait permasalahan debit air di RW 01 dan dilaporkan telah dilakukan penanganan. Warga berharap langkah ini tidak bersifat sementara, melainkan mampu menghadirkan solusi jangka panjang.

Sementara itu, Polsek Batuampar juga mengawal pendistribusian bantuan air bersih melalui mobil tangki yang disalurkan pemerintah. Sebanyak 39 mobil tangki air didistribusikan ke wilayah terdampak sebagai solusi darurat.

“Pengamanan ini kami lakukan agar pendistribusian air berjalan aman, tertib, dan tepat sasaran,” kata Kapolsek Batuampar Kompol Amru Abdullah.

Melalui pertemuan ini, masyarakat Tanjung Sengkuang berharap keluhan yang mereka sampaikan benar-benar ditindaklanjuti, sehingga air bersih dapat kembali mengalir normal ke rumah-rumah warga. (*)

 

Artikel Keluhkan Air Bersih, Warga Tanjung Sengkuang Titip Harapan pada Aparat dan Pemerintah pertama kali tampil pada Metropolis.

Konflik IKSB Batam Disorot, Praktisi Hukum Ingatkan Hormati Putusan Pengadilan

0
Kuasa hukum tergugat I, Arisal Fitra dan Tergugat I AKBP (Purn) Maryon saat sidang di PN Batam. Foto. Aziz Maulana/ Batam Pos

batampos – Sengketa lahan antara Yayasan Pagaruyung dan Ikatan Keluarga Sumatera Barat (IKSB) Batam kembali menuai perhatian. Praktisi hukum yang juga perantau Minangkabau, Taufiq Idris, mengingatkan agar konflik tersebut tidak terus berlarut-larut dan diselesaikan secara bermartabat dengan menjunjung tinggi marwah urang Minang di tanah rantau.

Taufiq menegaskan, perbedaan pandangan maupun ketidakpuasan terhadap putusan pengadilan merupakan hal yang wajar dalam proses hukum. Namun demikian, seluruh pihak tetap wajib menghormati putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, baik yang diputuskan di Pengadilan Tata Usaha Negara (TUN) maupun Mahkamah Agung.

“Tidak puas dengan putusan pengadilan itu manusiawi. Tapi penyelesaiannya harus melalui jalur hukum yang sah dan beretika, bukan dengan cara-cara yang justru merusak kepastian hukum,” ujarnya, Jumat (30/1).

Baca Juga: Gugatan Yayasan Pagaruyung Ditolak Tergugat, PN Batam Lanjutkan Sidang ke Tahap Pembuktian

Ia juga mengingatkan agar upaya mencari bukti baru atau novum dilakukan secara jujur, objektif, dan sesuai ketentuan perundang-undangan, khususnya dalam mekanisme peninjauan kembali.

“Novum tidak boleh direkayasa atau dipaksakan demi kepentingan sepihak. Kalau dilakukan tanpa itikad baik, itu bisa memunculkan persoalan hukum baru,” tegasnya.

Terkait polemik lahan yang disengketakan, Taufiq menyebut berdasarkan pengetahuannya, lahan tersebut sejak awal diperuntukkan bagi masyarakat Minangkabau di Kepulauan Riau melalui IKSB. Lahan itu dialokasikan oleh Otorita atau BP Batam untuk pembangunan fasilitas bersama, seperti gedung serba guna atau Minang Centre.

“Pengajuan lahan menggunakan nama Yayasan Pagaruyung merupakan hasil musyawarah pengurus dan pendiri IKSB saat itu. Bahkan pengurus yayasan dan IKSB kala itu adalah orang-orang yang sama, para senior Minang yang sudah lama merantau di Batam,” jelasnya.

Ia juga menyoroti gugatan yang diajukan Yayasan Pagaruyung terhadap Ketua IKSB Batam saat ini, H. Marion. Menurutnya, gugatan tersebut perlu dikaji secara lebih mendalam.

“Jika objek sengketa merupakan aset organisasi, maka harus dibedakan antara tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab organisasi. Dasar kerugiannya juga harus jelas,” ujarnya.

Sebagai sesama perantau Minangkabau, Taufiq mengaku prihatin konflik tersebut terus bergulir hingga ke ranah pengadilan. Ia menilai, perselisihan ini berpotensi mencoreng citra masyarakat Minang di Batam.

“Kita ini sama-sama anak nagari di rantau. Sudah semestinya saling menjaga dan mengedepankan musyawarah. Jangan sampai paguyuban justru menjadi sumber perpecahan,” katanya.

Taufiq yang juga mantan Ketua Ikatan Keluarga Tanah Datar (IKTD), salah satu dari 18 ikatan kabupaten/kota asal Sumatera Barat di Batam, mengajak semua pihak kembali pada semangat kebersamaan dan gotong royong.

“Persatuan itu jauh lebih berharga daripada kemenangan pribadi. Tidak ada yang benar-benar menang jika paguyuban terpecah,” pungkasnya. (*)

Artikel Konflik IKSB Batam Disorot, Praktisi Hukum Ingatkan Hormati Putusan Pengadilan pertama kali tampil pada Metropolis.

MBG Tetap Dibagikan saat Ramadan, SPPG Batam Tunggu Petunjuk

0
Seorang guru membagikan makanan bergizi gratis untuk murid-murid SDN 010 Batam Kota beberapa waktu lalu. F.Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan suci Ramadan di Kota Batam masih menunggu petunjuk teknis lebih lanjut dari pemerintah pusat. Ketua Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Batam, Defri Frenaldi, mengatakan hingga kini belum ada arahan resmi terkait perubahan mekanisme penyaluran MBG saat Ramadan.

“Untuk sementara kami masih menunggu petunjuk,” kata Defri saat dikonfirmasi, Jumat (30/1).

Namun demikian, Defri menyebut jika berkaca pada pelaksanaan MBG pada Ramadan tahun lalu, program tersebut tetap berjalan normal, dengan penyesuaian menu agar dapat dikonsumsi saat berbuka puasa.

“Kalau melihat pengalaman tahun lalu, MBG tetap berjalan. Hanya saja makanan yang diberikan disesuaikan untuk berbuka puasa,” ujarnya.

Baca Juga: Bantuan Iuran BPJS Kesehatan di Batam Sasar 90 Ribu Peserta Tahun Ini

Defri menegaskan, SPPG Batam siap mengikuti kebijakan pusat dan akan segera menyesuaikan pola distribusi maupun jenis makanan begitu petunjuk teknis diterbitkan. Menurutnya, prinsip utama program ini tetap memastikan kebutuhan gizi penerima manfaat terpenuhi, meskipun dalam suasana ibadah puasa.

“Intinya kami siap menjalankan kebijakan apa pun yang ditetapkan, demi memastikan program MBG tetap berjalan dan manfaat gizinya tetap diterima masyarakat,” ucap Defri.

Sebelumnya, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan bahwa akan ada perubahan menu MBG selama Ramadan, khususnya bagi siswa yang menjalankan ibadah puasa. Nantinya, makanan tidak lagi disajikan siap santap, melainkan dalam bentuk makanan kering yang bisa dibawa pulang.

“Contoh untuk puasa, kurma, telur rebus atau telur asin atau telur pindang, buah, susu, abon,” kata Dadan.

Ia menjelaskan, skema ini berlaku untuk sekolah-sekolah dengan mayoritas siswa beragama Islam. Makanan akan dibagikan pada siang hari saat jam sekolah dan dibawa pulang untuk dikonsumsi saat berbuka puasa.

Baca Juga: Rawan Kecelakaan di Bukit Kemuning, Warga Minta Pasang Pita Penggaduh

“Untuk anak sekolah di daerah yang mayoritas puasa, itu akan dibagikan di siang hari untuk dibawa pulang sebagai menu buka puasa,” jelasnya.

Sementara itu, untuk sekolah dengan mayoritas siswa non-muslim, pelaksanaan MBG akan tetap berjalan seperti hari biasa. Hal yang sama juga berlaku untuk penerima manfaat lain seperti ibu hamil dan balita.

Adapun untuk SPPG yang berada di lingkungan pesantren, Dadan menyebut pelayanan MBG akan digeser ke sore hari dengan menu makanan normal, mengingat penerima manfaatnya bersifat lokal. (*)

Artikel MBG Tetap Dibagikan saat Ramadan, SPPG Batam Tunggu Petunjuk pertama kali tampil pada Metropolis.

Ini 5 Karakter Orang yang Lebih Suka Bayar Tunai daripada Pembayaran Digital

0
Ilustrasi – Transaksi pembayaran melalui aplikasi uang elektronik “server based”, dompet elektronik dan mobile banking saat peluncuran dan implementasi QR Code Indonesian Standard (QRIS) untuk desa wisata di Pasar Slumpring, Desa Cempaka, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/foc/aa)

batampos – Di tengah kemudahan pembayaran digital yang semakin marak, masih ada banyak orang yang tetap memilih menggunakan uang tunai.

Pilihan ini sering dianggap kuno atau ketinggalan zaman, padahal di baliknya tersimpan alasan-alasan yang sangat pribadi dan mendalam.

Mereka bukan sekadar menolak tren atau teknologi baru, tetapi memiliki pertimbangan dan cara pandang sendiri terhadap transaksi sehari-hari.

Memahami keputusan ini akan memberi kita wawasan menarik tentang bagaimana orang menilai kenyamanan, keamanan, dan kebebasan dalam hidup mereka.

Dilansir dari laman Global English Editing pada Jumat (30/1), berikut merupakan 5 karakter orang yang tidak suka pembayaran digital alias cashless.

1. Anda suka merasa punya kendali sendiri

Orang yang lebih memilih menggunakan uang tunai biasanya merasa lebih nyaman ketika bisa mengendalikan sendiri seluruh proses transaksi.

Dengan uang tunai, mereka mengetahui persis apa yang terjadi sejak pembayaran dimulai hingga selesai, tanpa ada pihak lain yang ikut mencatat atau memprosesnya.

Sebaliknya, pembayaran digital melibatkan sistem yang merekam setiap langkah transaksi, sehingga sebagian orang merasa kehilangan kendali atas keputusan mereka sendiri.

Ini bukan karena mereka takut akan teknologi atau gagap digital, melainkan karena mereka ingin mempertahankan kebebasan dan kemampuan untuk menentukan cara mereka dalam berinteraksi secara finansial.

Dengan begitu, orang seperti ini cenderung menghargai otonomi dan merasa lebih tenang ketika bisa memegang kendali penuh atas pilihan mereka sendiri.

2. Anda peduli terhadap privasi dan data pribadi

Setiap kali menggunakan QR code atau aplikasi pembayaran digital, secara otomatis data pribadi Anda, seperti lokasi, kebiasaan belanja, dan pola pengeluaran, akan terekam.

Bagi sebagian orang, hal ini menimbulkan kekhawatiran karena mereka tidak ingin informasi pribadi mereka dipantau atau disalahgunakan.

Orang yang menolak sistem cashless cenderung sangat memperhatikan privasi dan tidak sembarangan menukar informasi pribadi demi kemudahan transaksi.

Sikap ini menunjukkan bahwa mereka bijak dan berhati-hati dalam menghadapi teknologi, serta memahami bahwa kemudahan yang ditawarkan selalu datang dengan konsekuensi tertentu.

Kepedulian terhadap privasi semacam ini sebenarnya adalah bentuk kesadaran yang sehat dalam dunia yang semakin digital.

3. Anda berhati-hati sebelum mengikuti perubahan

Tidak semua orang langsung mengikuti tren terbaru begitu muncul. Ada sebagian orang yang lebih memilih menunggu, mengamati, dan mengevaluasi sebelum ikut serta dalam sesuatu yang baru.

Sikap skeptis ini sering kali muncul pada orang yang menolak penggunaan QR code atau pembayaran digital, bukan karena mereka menolak teknologi sepenuhnya, tetapi karena mereka ingin memastikan bahwa perubahan tersebut aman dan efektif.

Sikap seperti ini juga menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan menilai risiko dengan baik.

Dengan menahan diri, mereka sering kali bisa melihat masalah atau kelemahan yang luput dari perhatian orang lain.

Jadi, keraguan terhadap sistem cashless sebenarnya merupakan bentuk kehati-hatian dan pertimbangan matang sebelum membuat keputusan.

4. Anda peduli agar semua orang tetap bisa ikut bertransaksi

Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap smartphone, internet, atau rekening bank.

Ketika bisnis atau layanan memaksa sistem cashless sepenuhnya, sebagian kelompok masyarakat bisa merasa tertinggal atau tidak terlayani.

Orang yang menolak sistem ini sering kali memiliki kepedulian tinggi terhadap keadilan sosial dan inklusivitas.

Mereka menyadari bahwa kemajuan teknologi, meskipun mempermudah sebagian orang, bisa menimbulkan hambatan baru bagi kelompok rentan, seperti lansia yang kesulitan menggunakan aplikasi, keluarga berpenghasilan rendah tanpa rekening bank, atau masyarakat di daerah terpencil dengan koneksi internet yang terbatas.

Dengan menolak sistem cashless, mereka secara tidak langsung memperjuangkan agar semua orang tetap bisa mengakses layanan dan tidak ada yang tersisih akibat perubahan teknologi.

5. Anda lebih suka pengalaman fisik yang nyata

Beberapa orang memiliki preferensi alami untuk pengalaman yang bisa disentuh dan dirasakan secara nyata.

Misalnya, menyerahkan uang tunai secara langsung atau menggesek kartu memberi sensasi yang berbeda dibandingkan mengetuk layar ponsel.

Pengalaman fisik ini terasa lebih konkret, lebih nyata, dan lebih dapat dipercaya bagi mereka.

Orang yang menolak pembayaran cashless biasanya memiliki cara berpikir yang sama, di mana mereka menghargai pengalaman sensorik yang nyata, dan merasa lebih nyaman melakukan transaksi yang bisa mereka rasakan secara fisik.(*)

Artikel Ini 5 Karakter Orang yang Lebih Suka Bayar Tunai daripada Pembayaran Digital pertama kali tampil pada Lifestyle.

Rawan Kecelakaan di Bukit Kemuning, Warga Minta Pasang Pita Penggaduh

0
Kapolsek Seibeduk, Iptu Alex Yasral. (F.Radarsatu.com).

batampos – Ruas jalan di kawasan Bukit Kemuning, Kecamatan Seibeduk, dinilai rawan kecelakaan lalu lintas. Kondisi jalan yang menurun dan lurus membuat banyak pengendara melintas dengan kecepatan tinggi, sehingga kerap memicu kecelakaan.

Beberapa hari lalu, kecelakaan beruntun yang melibatkan tiga unit sepeda motor terjadi di kawasan tersebut. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden itu, meski kerugian materi tak terhindarkan.

Thamrin, warga Bukit Kemuning, mengatakan kecelakaan di ruas jalan tersebut sudah berulang kali terjadi. Selain faktor kondisi jalan, minimnya penerangan pada malam hari turut memperparah situasi.

“Bukan hanya siang, malam juga beberapa kali terjadi kecelakaan. Lampu penerangan jalan di sini padam total,” ujarnya.

Baca Juga: SPPG Yasmin Batu Besar 6 Mulai Beroperasi, Targetkan 1.000 Penerima Manfaat

Ia menilai, ruas jalan Bukit Kemuning sudah seharusnya dilengkapi pita penggaduh atau marka kejut agar pengendara mengurangi kecepatan saat melintas.

“Seperti kecelakaan kemarin, dua motor melaju dengan kecepatan tinggi. Padahal jalannya lurus dan saling terlihat,” katanya.

Selain itu, warga juga berharap adanya perbaikan lampu penerangan jalan di kawasan tersebut. Minimnya penerangan dinilai tidak hanya meningkatkan risiko kecelakaan, tetapi juga berpotensi menimbulkan tindak kriminal.

“Kalau lampu mati, ada kecelakaan lalu rawan begal. Itu tentu jadi lebih berbahaya,” ungkap Thamrin.

Baca Juga: Curanmor Marak di Seibeduk, 2 Motor Raib Dalam Semalam

Sementara itu, Kapolsek Seibeduk, Iptu Alex Yasral, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti keluhan warga terkait kondisi jalan dan penerangan di Bukit Kemuning.

“Akan kita koordinasikan dengan RW setempat. Untuk keluhan lampu jalan juga akan kita sampaikan ke pihak terkait,” tutupnya. (*)

Artikel Rawan Kecelakaan di Bukit Kemuning, Warga Minta Pasang Pita Penggaduh pertama kali tampil pada Metropolis.

Chelsea Terancam Tak Bisa Main di Stamford Bridge, Ini Penyebabnya

0
Joao Pedro (kedua kanan) mencetak dua gol saat Chelsea kalahkan Napoli 3-2 dalam laga terakhir fase liga Liga Champions 2025/26 di Stadion Diego Armando Maradona pada Kamis (29/1/2026). (UEFA.com)

batampos – Keberhasilan Chelsea melaju ke babak 16 besar Liga Champions setelah kemenangan dramatis 3-2 atas Napoli harus dibayangi kabar buruk.

Sebuah regulasi UEFA yang jarang diketahui umum berpotensi memaksa The Blues terusir dari kandang mereka sendiri Stamford Bridge pada laga Maret mendatang.

Dilansir dari Daily Mail (31/1), Chelsea terancam tidak dapat memainkan laga kandang di London karena adanya aturan bentrok jadwal di kota yang sama (city clash).

Akar permasalahannya terletak pada keberhasilan tiga klub London, yaitu Arsenal, Tottenham Hotspur, dan Chelsea yang semuanya lolos ke fase gugur. Berdasarkan jadwal, pertandingan akan berlangsung pada 17 dan 18 Maret 2026.

Namun, UEFA memiliki aturan ketat yang melarang dua pertandingan besar digelar di kota yang sama atau dalam radius 30 mil (sekitar 48 kilometer) pada malam yang sama.

Alasan utamanya ialah faktor keamanan, sebab kepolisian setempat dianggap tidak akan mampu menjamin keamanan maksimal jika massa suporter dari dua atau tiga pertandingan besar berkumpul di satu kota secara bersamaan.

Dalam situasi itu, Chelsea berada di posisi yang paling tidak menguntungkan karena Arsenal dan Tottenham Hotspur memiliki peringkat yang lebih tinggi pada papan klasemen.

Arsenal yang berada di posisi puncak dan Tottenham di posisi keempat membuat keduanya mendapatkan hak prioritas untuk tetap bermain di kandang sesuai jadwal utama.

Berdasarkan regulasi UEFA, klub dengan peringkat klasemen lebih rendah wajib mencari opsi lain jika jadwal mereka bentrok. Alhasil, Chelsea terancam harus mendaftarkan stadion netral di luar London jika gagal mengantongi dispensasi khusus.

Namun, masih ada celah yang dapat diambil Chelsea dengan mengajukan permohonan untuk membalikkan urutan laga (reverse the tie).

Jika biasanya tim yang lolos dengan status tertentu bermain di kandang pada leg kedua, Chelsea dapat memilih bermain di kandang pada leg pertama untuk menghindari bentrok jadwal, asalkan kesepakatan dicapai sebelum pengundian dilakukan.

Opsi lain ialah dengan menggeser jadwal ke hari Kamis. Namun, langkah itu diprediksi akan mendapat tentangan keras dari pemegang hak siar televisi yang sudah memiliki kontrak ketat untuk slot Selasa dan Rabu malam.

Hingga saat ini, manajemen Chelsea dikabarkan terus menjalin komunikasi intensif dengan otoritas keamanan London dan UEFA. Pihak klub berargumen bahwa pada akhir pekan, London sering kali menggelar beberapa pertandingan sekaligus tanpa kendala keamanan yang berarti.

Seorang juru bicara UEFA menyatakan bahwa diskusi mengenai penjadwalan itu masih berlangsung.

“Diskusi mengenai penjadwalan sedang dilakukan dengan otoritas lokal terkait bentrokan kota untuk pertandingan mendatang, termasuk yang akan dimainkan pada bulan Maret,” kata juru bicara UEFA dikutip dari Daily Mail.(*)

Artikel Chelsea Terancam Tak Bisa Main di Stamford Bridge, Ini Penyebabnya pertama kali tampil pada Olahraga.

Bantuan Iuran BPJS Kesehatan di Batam Sasar 90 Ribu Peserta Tahun Ini

0
Kepala Dinkes Batam dr. Didi Kusmarjadi, SpOG.

batampos – Pemerintah Kota Batam terus memperkuat jaring pengaman kesehatan bagi masyarakat kurang mampu. Melalui program Bantuan Kesehatan Daerah (Bankesda), Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam memastikan puluhan ribu warga tetap memiliki akses layanan kesehatan, meski status kepesertaan BPJS Kesehatan mereka tidak aktif atau belum terdaftar.

Pada APBD murni Tahun Anggaran 2026, Bankesda dialokasikan sebesar Rp44,38 miliar untuk menjamin 90 ribu peserta, terutama warga yang kesulitan membayar iuran BPJS Kesehatan.

Kepala Dinkes Batam Didi Kusmarjadi menjelaskan, alokasi tersebut baru mencakup sembilan bulan anggaran, namun sudah disiapkan untuk menjangkau kelompok masyarakat paling rentan.

“Fokus kita adalah warga yang BPJS Kesehatannya tidak aktif dan masyarakat yang belum masuk JKN, supaya tetap bisa berobat dan mendapatkan pelayanan kesehatan,” ujar Didi, Jumat (30/1).

Baca Juga: Pemerintah Pusat Ganjar Kinerja Investasi Batam

Tak hanya untuk iuran BPJS, dana Bankesda juga dimanfaatkan untuk bantuan pelayanan kesehatan, termasuk rujukan ke luar daerah, transportasi, hingga akomodasi pasien dan pendamping.

“Anggarannya kita proporsionalkan sesuai kebutuhan layanan di lapangan,” kata dia.

Didi menyebutkan, pada Tahun Anggaran 2025, program Bankesda memiliki anggaran lebih besar, yakni Rp79 miliar, yang menyasar sekitar 80 ribu penerima, sekaligus mencakup layanan kesehatan dan rujukan pasien ke luar Kota Batam.

Meski pada 2026 anggaran awal lebih kecil, peluang penambahan masih terbuka. Tim Anggaran dan Pendapatan Daerah (TAPD) Pemko Batam berencana meningkatkan alokasi pada APBD Perubahan 2026, sehingga jumlah penerima bantuan iuran bisa mencapai 100 ribu peserta.

“Di perubahan nanti akan ditambah, karena di APBD murni ini hanya sembilan bulan,” ujarnya.

Baca Juga: Kapal Bermuatan Limbah Hitam Kandas di Sekupang, Khawatir Laut Tercemar

Untuk memastikan layanan berjalan optimal, Pemko Batam menggandeng sejumlah rumah sakit, di antaranya RSUD Embung Fatimah, RSBP, RS Harapan Bunda, RS Soedarsono, RS Bhayangkara, RS Elisabeth Batam Kota, hingga beberapa rumah sakit swasta lainnya. Rujukan khusus layanan kesehatan jiwa juga menjangkau fasilitas di Pekanbaru dan Tanjung Uban.

Melalui skema Bankesda, Dinkes Batam berharap tidak ada warga yang tertinggal dalam mendapatkan pelayanan kesehatan hanya karena keterbatasan ekonomi.(*)

Artikel Bantuan Iuran BPJS Kesehatan di Batam Sasar 90 Ribu Peserta Tahun Ini pertama kali tampil pada Metropolis.