Aktivasi gelombang alfa dilakukan dengan menggunakan teori gelombang otak manusia. Berawal dari upaya guru yang menjadi instruktur untuk mencari cara agar sang anak yang mengalami autis bisa lebih tenang.
MARIA Septia Ningrum, siswa kelas 12 SMAN Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, berdiri bersama tujuh rekannya yang lain di depan kelas. Semuanya sudah dalam kondisi mata tertutup oleh dua lembar kertas dan sehelai kain abu-abu yang melingkar di kepala.
Jangkung Suprianta, sang guru, lantas membagi satu-satu bola kecil dengan warna beda-beda. Sejenak meraba, masing-masing dari mereka mengangkat tangan untuk menebak warna bola yang mereka pegang. ”Orange,” ucap Chantika Claudia. ’’Pink,’’ sahut Maria.
’’Merah,’’ ucap Ocha yang menjadi siswa terakhir, mengutarakan tebakannya pada siang akhir Juli (29/7) lalu itu.
Jawa Pos (grup Batam Pos) yang berada di ruang kelas tersebut melihat langsung tebakan mereka semua benar. Di peragaan kedua, Kepala SMAN Pilangkenceng, Setyo Utomo, mengeluarkan selembar uang Rp100 ribu dari dompetnya. Utomo lantas meminta Jawa Pos ikut melihat dan mengingat-ingat nomor serinya.
Jawa Pos (grup Batam Pos) memilih memfotonya. Setelah itu, uang diberikan kepada Rahmah Nur Hasanah, salah satu siswi yang berdiri. Sejenak dia membolak-balikkan uang itu dan merabanya. Sekitar 13 detik kemudian, Jangkung menyodorkan mikrofon ke Rahmah. ”THL 188386,” ucapnya. Jawaban itu benar. Tanpa satu pun angka dan huruf yang terlewat.
Masih terheran-heran, Jawa Pos lantas diberi satu peragaan tambahan. Jangkung meminta koran ini menuliskan kalimat apa pun di selembar kertas.
”Apa pun. Kata atau kalimat. Panjang, pendek, terserah. Bahasa apa saja boleh,” ucapnya.
Setelah ditulis, Jangkung menyerahkan kertas itu kepada Maria yang masih berdiri di depan kelas dengan mata tertutup bersama rekan-rekannya. Sejenak siswi 17 tahun itu meraba dan membolak-balik kertas tersebut.

Sekitar 10 detik kemudian, ”Kaifa Haaluka,” ucap Maria perlahan. Jawaban Maria yang berarti ’apa kabar’ dalam bahasa Arab itu benar-benar tepat. Sesuai dengan yang ditulis koran ini sebelumnya.
Saat ditanya bagaimana bisa melakukannya, Maria menyebut ada bagian-bagian kasar yang membentuk huruf saat meraba kertas itu. Hal yang sama diungkapkan Rahmah ketika memegang uang Rp100 ribu di bagian nomor seri.
”Rasanya seperti ada yang kasar dan membentuk huruf,” ucapnya.
Jangkung menjelaskan, kasar yang dikatakan anak didiknya itu sebenarnya penjabaran dari imajinasi pikiran mereka. ”Kertasnya ya tetap rata dan halus,” ujarnya. Jawa Pos yang memegang sendiri kertas dan uang itu mengamininya.
Pria yang biasa dipanggil Pak Jay oleh murid-muridnya itu melanjutkan, kemampuan yang diperagakan delapan siswa tersebut bukan ilmu magis atau klenik. Mereka melakukannya murni berdasar ilmu fisika.
Jangkung menyebutnya sebagai aktivasi gelombang alfa. Metode yang digunakan adalah teori frekuensi gelombang otak manusia atau brainwave yang dicetuskan ilmuwan Amerika Serikat Dr Jeffrey D. Thompson.
Guru seni yang juga instruktur aktivasi gelombang alfa itu menjelaskan, sistem kerja otak manusia dibagi dalam lima gelombang. Masing-masing adalah gamma, beta, alfa, teta, dan delta. Gelombang alfa muncul di frekuensi 8-12 Hz atau ketika manusia berada dalam kondisi tenang dan rileks.
Beberapa pakar menyebut alfa adalah penghubung pikiran sadar dan bawah sadar manusia. Saat melakukan meditasi, otak manusia berada di posisi itu. Bagi praktisi hipnotis, mereka memasukkan sugesti yang mereka mau saat otak pasien ada di posisi tersebut.
”Jadi, ini kekuatan imajinasi. Resonansi. Ketajaman rasa dan kepekaan. Setiap manusia punya gelombang alfa. Hanya besar kecilnya yang berbeda. Bukan magis, ndak pakai mantra,” jelas Pak Jay.
Dia mempelajari ilmu itu secara otodidak. Semua berawal saat dia mencari cara untuk membuat anaknya yang mengalami gejala autis bisa lebih tenang.
Di sekolah, dia memperkenalkannya kepada siswa yang ikut Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS setiap tahun. Tujuannya, memotivasi belajar para siswa. Juga agar lebih bisa berkonsentrasi saat belajar. Selain itu, diharapkan kepercayaan diri mereka meningkat.
”Karena kebanyakan mereka itu awalnya tidak mau sekolah di sini, karena ini sekolah pinggiran,” ucapnya.
Pilangkenceng memang berada di wilayah paling utara Kabupaten Madiun. Berbatasan dengan Bojonegoro dan Ngawi, dua kabupaten di Jawa Timur yang berbatasan dengan Jawa Tengah.
Dalam pelatihan itu, Jangkung membuat para siswa rileks dengan mengajak bermain game dan melupakan semua yang ada di pikiran. Dia juga memasukkan kalimat-kalimat motivasi. Para siswa lantas diminta istirahat dan tidur sekitar dua jam sambil diperdengarkan musik maupun suara gelombang alfa dengan volume 60–80 desibel (dB). Suara yang diperdengarkan seperti gemericik air, angin, dan aliran sungai.
Wakil Kepala SMAN Pilangkenceng Suwandi yang selalu mendampingi Jangkung dalam pelatihan LDK menceritakan, beberapa tahun lalu, dalam pelatihan itu dia sempat terkejut. Ketika Jangkung memberikan motivasi di depan siswa, dia berkeliling di belakang mereka.
Saat Jangkung mengajak peserta memejamkan mata dan melontarkan kata-kata motivasi tentang bermimpi setinggi-tingginya, ada satu siswa yang kedua kakinya benar-benar sedikit terangkat. Terbang. ”Sampean boleh percaya atau tidak. Tapi, itu nyata,” ucapnya.
Dua tahun lalu, ada seorang siswa yang kehilangan handphone di sekolah tersebut. Jangkung lantas masuk ke kelas itu dan memfoto ruangan dengan semua siswanya. Jangkung lantas menyerahkan foto itu kepada empat siswa yang dianggap memiliki gelombang alfa paling kuat.
Keempatnya menunjuk satu orang. Saat orang itu didekati, dia mengakui sebagai pelakunya. Peristiwa tersebut sempat terjadi dua kali.
Kemampuan para siswa SMAN Pilangkenceng itu sudah diperagakan di kantor Bupati Madiun beberapa kali. Juga di Gedung Grahadi Surabaya, di depan Gubernur Jatim saat itu, Khofifah Indar Parawansa, dua tahun lalu. Saat itu Khofifah yang didampingi Kapolda Jatim juga tak kalah terkejut.
Jangkung lantas diajak berbincang empat mata dengan Kapolda. Sang jenderal memintanya untuk mengaktivasi gelombang alfa para anggota kepolisian di satuannya.
Tapi, permintaan tersebut ditolak Jangkung. Sebab, setahu dia, aktivasi itu tidak bisa dilakukan pada orang dewasa. ”Hanya untuk remaja-remaja awal, anak-anak lebih baik. Pokoknya buat yang belum punya pikiran aneh-aneh. Dan satu lagi, belum punya utang,” ucap Pak Jay, lantas terkekeh.
Pak Ut, panggilan akrab Setyo Utomo, menyebut pelatihan yang digagas Jangkung didukung penuh oleh pihak sekolah. Itu karena terbukti bisa meningkatkan konsentrasi belajar dan kepercayaan diri murid-murid. Sekaligus menambah keunikan sekolahnya.
Meski berada di kawasan pinggiran, Utomo menyebut SMAN Pilangkenceng terus berusaha bersaing dengan sekolah-sekolah lain. Berbagai kegiatan ekstrakurikuler sudah tersedia. Seperti program seni mural, membuat wayang, dan kafe sekolah yang jadi wadah belajar berwirausaha bagi siswa.
Beberapa prestasi tingkat kabupaten sampai provinsi juga sudah mereka raih. ”Kami juga tergabung di program Double Track Dinas Pendidikan Jatim untuk penguatan vokasi. Penting bagi kami karena kebanyakan murid di sini tidak melanjutkan kuliah setelah lulus,” ucap Utomo.
Dari SMAN Pilangkenceng manusia kembali diingatkan, kekuatan otak dan imajinasi manusia tak ada batasnya. Tidak mengenal ruang. Tak peduli mereka berada di kecamatan paling ujung utara Madiun sekalipun. (*)
Reporter: I’ied Rahmat Rifadin

batampos – Sebanyak 33 ribu lebih warga di Batam sudah menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) digital atau dikenal Identitas Kependudukan Digital (IKD). Jumlah tersebut akan terus ditingkatkan oleh petugas menyesuaikan kebijakan pemerintah pusat terkait peralihan KTP dari manual ke digital.
Soal polemik alat kontrasepsi untuk remaja atau pelajar itu, Ma’ruf mengatakan instansi terkait untuk berkonsultasi dengan pihak terkait. Seperti dari unsur lembaga keagamaan.
batampos – Kemarahan warga Galang yang berdomisili di dekat sebuah Yayasan Panti Asuhan yang membina puluhan anak yatim akhirnya tak terbendung. Mereka menangkap pimpinan Yayasan berinisial Sy alias Uj karena diduga melakukan pencabulan (rudapaksa) anak yatim binaanya yang masih berusia 11 tahun.



batampos – Untuk yang suka motor sport Yamaha namun belum bisa kebeli yang kelas 600 cc atau 1.000 cc-nya, alternatifnya bisa coba sport fairing yang lebih kecil. Dia adalah Yamaha R15, motor sport fairing andalan Yamaha di kelas 150 cc.


