
batampos – Suasana pagi di halaman SD Negeri 001 Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas, mendadak berbeda pada Senin (26/1). Ketika barisan siswa tengah bersiap mengikuti upacara bendera, sekelompok polisi berseragam lengkap dari Polsek Siantan melangkah masuk ke area sekolah.
Kehadiran aparat berseragam cokelat itu sontak menyedot perhatian para pelajar. Sebagian tampak terkejut, bahkan ada yang terlihat cemas. Tatapan polos bercampur rasa penasaran dan khawatir tergambar jelas di wajah anak-anak yang berdiri rapi di lapangan.
Bagi siswa sekolah dasar, polisi kerap diasosiasikan dengan peristiwa serius. Namun, ketegangan itu perlahan mencair. Kedatangan polisi pagi itu bukan untuk mencari kesalahan, apalagi melakukan penindakan.
Mereka hadir dengan misi berbeda: menjadi pembina upacara sekaligus menyampaikan pesan-pesan kehidupan yang sarat makna bagi masa depan generasi muda.
Upacara bendera pun berlangsung dengan nuansa tak biasa. Barisan polisi berdiri berdampingan dengan para guru, memberi warna baru dalam rutinitas sekolah.
Kehadiran mereka menjadi simbol bahwa pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan tugas bersama seluruh elemen masyarakat.
Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Kepala Unit Reserse Kriminal (Kanit Reskrim) Polsek Siantan, Ipda Vicky Satria Irawan, melangkah ke mimbar. Dengan sikap tenang dan bahasa sederhana, ia menyampaikan amanat yang mudah dipahami anak-anak.
Ipda Vicky menekankan pentingnya bersungguh-sungguh dalam belajar sebagai bekal utama meraih masa depan. Menurutnya, sekolah adalah fondasi awal pembentukan karakter, disiplin, dan tanggung jawab yang akan melekat hingga dewasa.
“Waktu belajar tidak akan terulang. Manfaatkan masa sekolah ini sebaik mungkin,” pesannya kepada para pelajar.
Tak hanya menyinggung soal akademik, Vicky juga mengingatkan pentingnya menjaga perilaku sosial di lingkungan sekolah. Ia meminta para siswa menjauhi perundungan, ejekan, serta segala bentuk kenakalan yang bisa melukai perasaan teman.
“Adik-adik harus saling menyayangi. Jangan mengejek, apalagi menyakiti teman. Kalau melihat teman kesusahan, bantulah,” ujar Vicky.
Menurutnya, keberanian sejati bukan ditunjukkan lewat kekerasan, melainkan dari kemampuan menghormati dan menjaga perasaan orang lain.
Suasana semakin hangat ketika Vicky berbagi kisah pribadinya. Ia mengaku sejak kecil bercita-cita menjadi polisi. Mimpi itu, kata dia, tumbuh dari kebiasaan belajar dengan giat, patuh kepada orang tua, dan menghormati guru.
“Dulu saya juga seperti adik-adik. Punya mimpi, lalu belajar sungguh-sungguh. Jangan pernah malu dengan cita-cita dan jangan mudah menyerah,” tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses untuk menjadi pribadi yang lebih kuat.
Ratusan pelajar tampak menyimak dengan penuh perhatian. Upacara yang biasanya berlangsung formal, hari itu berubah menjadi ruang refleksi dan motivasi yang membekas di hati.
Para guru pun mengapresiasi kehadiran polisi sebagai pembina upacara. Pesan moral yang disampaikan langsung oleh aparat penegak hukum dinilai mampu memberikan dampak positif bagi pembentukan karakter siswa.
Kehadiran polisi di SD Negeri 001 Tarempa menjadi pengingat bahwa sosok berseragam tidak selalu identik dengan ketegasan semata. Di balik itu, ada peran sebagai sahabat, pembimbing, dan penyemai harapan bagi generasi penerus.
Hari itu, halaman sekolah bukan sekadar tempat upacara. Ia menjelma ruang berbagi nilai tentang kasih sayang, mimpi, dan masa depan—sebuah momen sederhana yang mungkin akan terus dikenang para pelajar sebagai awal tumbuhnya semangat untuk menjadi manusia yang lebih baik. (*)
Artikel Di Balik Seragam Cokelat, Ipda Vicky Satria Irawan Tanamkan Mimpi Anak-anak Tarempa pertama kali tampil pada Kepri.









