Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) saat ini mengalami kekurangan guru produktif di sekolah kejuruan atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Hal tersebut ditegaskan oleh anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kepri, Sirajudin Nur.

ANGGOTA Komisi IV DPRD Provinsi Kepri Sirajudin Nur, berinteraksi dengan para siswa SMK di Tanjungpinang.
Menurut politisi PKB yang sudah dua kali menjabat sebagai anggota DPRD Kepri dari dapil Batam ini, persoalan kebutuhan guru produktif di Kep-ri, sudah menjadi persoalan yang sangat mendasar bagi SMK di Provinsi Kepri ini yang belum bisa terselesaikan secara tuntas hingga saat ini.
”Sebagai satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan kejuruan, kebutuhan akan guru produktif di SMK, sangat penting dan utama. Sayangnya, keberadaan guru produktif SMK di Kepri ini masih sangat jauh dari jumlah yang dibutuhkan,” terang calon anggota DPD RI tahun 2024 dari dapil Kepri ini.
Selain persoalan kekurangan guru produktif, persoalan lainnya, lanjut pria kelahiran 11 Juni 1973 ini, guru-guru produktif SMK yang ada sekarang ini, masih ada yang dibayar sangat murah.
”Seperti misalnya di SMK Negeri 1 Moro Kabupaten Karimun. Di sana hanya terdapat tiga guru produktif yang gajinya hanya Rp 500 ribu per bulannya. Itu kan gaji yang sangat tidak layak sekali, sangat kecil sekali,” tegasnya.
Tak itu saja, persoalan minimnya guru produktif atau guru kejuruan. Pembangunan gedung SMK yang ada saat ini, juga tak dibarengi dengan menyiapkan guru produktif.
Untuk itulah, Sirajudin Nur, menekankan pentingnya persoalan kekurangan guru produktif ini agar segera dicarikan jalan keluarnya, karena me-nyangkut masa depan lulusan SMK, dan proses pembelajaran di sekolah.
”Kekurangan guru produktif, dan rendahnya gaji guru produktif di beberapa SMK di Kepri ini harus segera ditindaklan-juti kepala daerah. Jangan dibiarkan begitu saja, kebijakan kepala daerah sangat diperlukan untuk menyelesaikan persoalan kekurangan guru produktif di sejumlah SMK di Kepri ini,” terangnya.
Beberapa tindakan yang bisa diambil untuk menambah guru-guru produktif di satuan pendidikan vokasi menurut Sirajudin Nur, bisa dengan memanfaatkan tenaga ahli industri yang kompeten untuk mengajar, melakukan alih fungsi guru-guru yang mengampu mata pelajaran umum menjadi guru produktif, serta memetakan penyaluran guru produktif agar tidak terjadi kesenjangan antarsekolah.
Sementara mengenai rendahnya gaji guru produktif yang berstatus honorer yang selama ini gajinya bersumber dari dana BOS, lanjutnya, bisa diselesaikan dengan kebijakan standardisasi gaji produktif di semua lembaga pendidikan vokasi, melalui kebijakan kepala daerah.
Mengenai persoalan rendahnya gaji guru-guru produktif yang berstatus honorer yang selama ini gajinya bersumber dari dana BOS, lanjutnya, bisa diselesaikan dengan kebijakan standarisasi gaji produktif di semua lembaga pendidikan vokasi melalui kebijakan kepala daerah.
”Jika saja pemerintah mau dan serius, masalah kekura-ngan guru produktif di SMK, serta minimnya gaji guru produktif di SMK ini bisa dituntaskan. Karena itu tidak cukup dengan political will saja, terpenting adalah political action. Kita tunggu itikad baik pemerintah mengurusi persoalan guru produktif ini,” tegas Sirajudin Nur.
Di SMK sendiri terdapat guru normatif, adaptif, serta produktif. Guru normatif adalah guru yang mengajar mata pelajaran umum seperti mata pelajaran Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris. Begitu juga dengan guru adaptif adalah guru yang mengajar mata pelajaran seperti biologi, fisika, matematika dan lainnya. Sedangkan untuk guru produktif adalah guru yang mengajar mata pelajaran sesuai dengan kejuruannya, atau penjurusannya.
Sementara, kekurangan guru produktif di sekolah-sekolah SMK di Kepri sendiri, dibenarkan oleh Gubernur Kepri Ansar Ahmad, yang menyatakan Kepri secara umum memang masih kekkurangan sekitar 1.900 guru di tingkat SMA, SMK, serta SLB. (*/adv)




Dalam aksi yang digelar pada Minggu pagi (5/11) tersebut, para peserta juga meramaikan pelataran Monas dengan berbagai macam atribut atau serba-serbi yang identik dengan Palestina. Yakni mulai dari bendera, syal, hingga tali kepala. Bahkan, sebagian peserta juga ada yang membentangkan bendera raksasa Palestina dan Indonesia.




