
batampos – Harga pangan global kembali meningkat pada Maret 2026 dan mencapai level tertinggi sejak September tahun lalu. Kenaikan ini berpotensi berlanjut jika konflik di kawasan Asia Barat terus berlangsung.
Hal tersebut disampaikan oleh Food and Agriculture Organization (FAO) dalam laporan terbarunya, Jumat (3/4).
Kepala Ekonom FAO, Maximo Torero, menyebut kenaikan harga pangan sejauh ini masih tergolong moderat.
“Kenaikan harga sejak konflik dimulai relatif moderat, terutama didorong oleh harga minyak yang lebih tinggi dan diimbangi oleh pasokan biji-bijian global yang cukup,” ujarnya.
Namun demikian, FAO mengingatkan bahwa jika konflik berlangsung lebih dari 40 hari dan biaya produksi tetap tinggi, dampaknya bisa semakin luas.
Petani berpotensi mengurangi penggunaan input produksi, menanam dalam skala lebih kecil, atau beralih ke tanaman yang membutuhkan pupuk lebih sedikit.
Menurut Torero, kondisi tersebut dapat memengaruhi hasil panen di masa depan serta berdampak pada pasokan pangan dan harga komoditas sepanjang sisa tahun ini hingga tahun depan.
Indeks Harga Pangan FAO, yang mengukur perubahan harga berbagai komoditas pangan yang diperdagangkan secara global, tercatat naik 2,4 persen dibandingkan Februari (setelah revisi).
Secara tahunan, indeks tersebut juga meningkat sekitar 1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, angkanya masih sekitar 20 persen lebih rendah dibanding puncak harga pada Maret 2022, yang terjadi setelah pecahnya konflik di Ukraina.
FAO menegaskan bahwa dinamika geopolitik dan harga energi akan menjadi faktor utama yang menentukan arah harga pangan global ke depan. (*)
Artikel FAO: Harga Pangan Global Naik, Konflik Bisa Perparah Situasi pertama kali tampil pada News.









