batampos-Kepala SDN 002 Seri Kuala Lobam, Herni Mariyanis menyampaikan, masalah yang dialami guru honor bernama Imam Masroni sudah ditangani dinas pendidikan Bintan.
Dia juga membenarkan kalau dirinya dan guru yang dimaksud telah dipanggil ke dinas pendidikan.
“Sudah ditangani dinas tidak ada masalah. Saya sudah (dipanggil), pak Roni juga sudah (dipanggil),” kata dia. Dia juga mengatakan, sudah mengklarifikasi semua masalahnya ke dinas.
Menurut dia, masalah yang terjadi pada guru tersebut sudah terjadi sebelum dirinya masuk ke sekolah tersebut.
“Masalah pak Roni sebelum saya masuk (jadi) plt,” kata dia.
Mengenai gaji guru honor yang dipotong, dia mengaku kurang tau.
“Mungkin ada kesepakatan pak Roni dengan bendahara, waktu itu saya belum menjadi plt di situ,” kata dia.
Terkait pemotongan gaji guru honor tersebut, dia menyarankan untuk bertanya ke bendahara.
“Itu urusan bendahara, tanya ke bendahara,” saran dia.
Kabid PTK pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bintan, Bagio ketika dihubungi, Rabu (8/11/2023) mengatakan, pihaknya sudah menindaklanjuti masalah ini dengan memanggil kepala sekolah.
“Kepala sekolah sudah dipanggil. Kita tanya kenapa gajinya dipotong Rp 250 ribu, katanya untuk kegiatan adiwiyata. Saya bilang ke kepala sekolah seharusnya tidak boleh seperti itu,” kata dia.
Dia mengatakan, pihak sekolah seharusnya memberikan insentif ke guru honor sesuai kekuatan anggaran yang dimiliki sekolah.
“Kalau sanggupnya Rp 1.250.000 ya dibayarkan segitu. Tapi kalau dari awal sudah disepakati Rp 1,5 juta ya hak guru tersebut harus diserahkan,” kata dia.
BACA JUGA: Pj Walikota Tanjungpinang Mengaji Kembali Investasi Indomaret dan Alfamart di Tanjungpinang
Dia meminta pihak sekolah untuk menghitung uang yang sudah diambil dari guru tersebut dan mengembalikannya.
Dia juga mengatakan, pihaknya telah memanggil guru honor yang dimaksud.
“Belum dikeluarkan, karena terdata di dapodik, guru tersebut sedang mengikuti P3K jalur umum,” kata dia.
Ditanya soal data di dapodik guru yang bersangkutan terdata berpendidikan lulusan SD, dia mengatakan, datanya sudah diperbaiki.
“Harusnya S1, mengapa di dapodik jadi SD, ternyata operator dari sekolah salah input tapi sudah diperbaiki sejak Agustus kemarin,” kata dia.
Dia mengatakan, pihak sekolah masih membutuhkan tenaga dan pikiran guru tersebut.
“Tenaga guru kurang di kita apalagi tenaga guru laki-laki,” tukasnya. (*)
reporter: slamet







