Dirkrimsus Polda Kepri Kombes Pol Nasriadi memberikan keterangan pengungkapan tersangka penyebar video asusila mahasisiwi di Batam saat ekspos di Mapolda Kepri, Kamis (19/10). F Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos – Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kepri meminta masyarakat tidak menyebarkan lagi video berunsur asusila terkait salah satu mahasiswi Batam yang viral di media sosial instagram.
“Apabila masyarakat, khususnya di Batam yang masih menyimpan atau merekam video yang viral tersebut harap dihapus dan jangan lagi disebarkan,” ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kepri Kombes Pol. Nasriadi, Jumat (20/10).
Dia menegaskan, akan memberikan hukuman kepada siapa saja pihak dengan sengaja yang ketahuan masih menyimpan dan menyebarkan video tersebut.
“Kalau masih ada penyebaran video tersebut, maka kami akan menetapkan tersangka baru lagi. Kami akan melakukan penangkapan terhadap mereka yang menyebarkan video tersebut. Karena ini sangat tidak bermoral,” tegasnya.
Nasriadi berharap, masyarakat dapat memberikan dorongan moral kepada korban dengan memberikan motivasi. Karena kata dia, korban masih berstatus mahasiswi.
“Mari kita bantu korban dengan tidak menyebarkan video tersebut. Mari kita berikan motivasi kepada korban, karena dia masih berstatus mahasiswi di salah satu universitas di Batam,” katanya.
Untuk saat ini, kata Nasriadi, kondisi korban masih sangat tertekan dan sudah didampingi oleh tim psikologi untuk menenangkan korban.
“Karena dia ini pertama menjadi korban penganiayaan dari tersangka, yang kedua dia menjadi objek seksual dan menjadi korban pornografi yang disebarkan oleh tersangka,” jelasnya.
Polisi telah menangkap tersangka berinisial AN, 22, terkait kasus penyebaran video berunsur asusila terhadap salah satu mahasiswi di Batam. (*)
Rektor Universitas Universal foto bersama Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepri usai penandatanganan perjanjian kerja sama di Universitas Universal pada Kamis (19/10). (Istimewa)
Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menjalin kerja sama dengan Universitas Universal. Hal ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antarkedua pihak di Universitas Universal, Bukit Beruntung, Batam, Kamis (19/10/2023).
Kepala Kantor Bahasa Provinsi Kepri, Rahmat, beserta tim bertemu dengan Rektor Universitas Universal, Bapak Aswandy, yang didampingi oleh staf.
Kerja sama ini diharapkan dapat menjadi awal yang baik untuk bersinergi dalam memantapkan fungsi bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing di Kepulauan Riau. (*)
Sebelum masuk ke dalam contoh-contoh yang variatif dan subjektif, mari kita kunjungi titik tolaknya. Sejatinya, kerja hormon-hormon yang membuat kita berada dalam “kenikmatan, kenyamanan, kegembiraan, dan kelegaan” atau sejenisnyalah yang membuat (ke)bahagia(an) lahir dan diukur.
Dalam perspektif kimia(wi), tingkat serotonin, dopamin, oksitosin dalam tubuh manusia berbeda-beda secara genetik, meskipun, katakanlah, pada umumnya kebahagiaan itu akan stabil pada angka 8 setelah perlahan-lahan naik dari bawah (bisa 0 atau lebih) menuju 10 (meskipun juga bisa berhenti sebelum 10). Apabila seorang bocah miskin di Tegucigalpa sejak lahir dikaruniai serotonin, dopamin, oksitosin yang bisa mencapai 8-10, sedangkan anak seorang legislator Bremen hanya bisa mendapatkan hormon-hormon itu dalam kadar 6 maka ketika bocah Tegucigalpa itu berhasil mencicipi es krim vanila yang ia impi-impikan sejak lama dan bocah Bremen itu mampu memiliki Play Station 4 lebih awal daripada teman-teman sekolahnya, bocah Honduras itu jauh lebih bahagia daripada si Jerman.
Dalam perkara di atas, masuk akal ketika Harari dalam dua bab terakhir Sapiens-nya mengatakan bahwa orang-orang zaman pertengahan yang sibuk dengan sihir dan paganisme bisa saja lebih bahagia dari mereka yang bebas berpendapat di bawah lindungan HAM. Itu pula yang memicu orang-orang Mesir yang hidup jauh lebih nyaman di bawah bendera demokrasi pemerintahan Husni Mubarak justru sibuk berdemonstrasi menuntut pemerintahan itu mangkat, padahal belum pernah bangsa itu berada di alam kebebasan sebagaimana Era Mubarak, apalagi jika hendak dibandingkan dengan Era Ramses dan Heraklius yang penuh pengultusan, kediktatoran, dan dogma-dogma langit yang tidak masuk akal.
Namun, apa benar kebahagiaan itu tentang (kadar) hormon-hormon?
Selintas lalu, kebahagiaan yang sangat kimiawi itu selaras dengan semangat Era New Age (kebahagiaan itu berasal dari dalam) yang mau tidak mau sepaket dengan semangat Liberalisme (jadilah dirimu apa adanya) dan ruh Kapitalisme (Just do it!) yang ujung-ujungnya mengantar penganutnya ke nganga jurang yang bernama Individualisme.
Kebahagiaan yang menolak konvensi adalah cikal-bakal lahirnya sinkretisme atau bahkan ateisme dan tentu saja “anak-anaknya” yang bernama feminisme dan sepakbolaisme dan jandabolongisme. Subjektivisme tanpa batas didewa-dewakan. Kemeriahan era disruptif yang melahirkan sekaligus memungkinkan segala hal menjadi profesi dan segala profesi menjadi duit dan segala yang menjadi duit disembah-sembah menyempurnai segala.
Lalu, apakah benar kebahagiaan sepersonal itu? Bisa iya. Namun, apakah benar kebahagiaan itu tentang mengkhidmati yang ada “di dalam” sebagaimana hormon-hormon yang bersemayam secara biologis dan menafikan yang berasal “dari luar”? Bahwa, seorang kaya yang baru mendapatkan hadiah mobil BMW bisa saja kalah bahagia dari seorang jelata yang sangat percaya bahwa calon anggota dewan akan mengubah nasibnya? Bisa saja begitu. Bahkan, dalam kekacauan informasi dan malstandar, kebahagiaan itu sungguh oportunistik: menerima apa saja yang cocok dan menolak apa saja yang menyusahkan.
Kalau memang benar itu, takaran kebahagiaan di atas haruslah sering-sering dikampanyekan kepada orang miskin atau kepada mereka yang jomlo sebab menikah bukan jaminan hidupnya lebih bahagia. Namun demikian, manusia makan kentang dan minum susu, bukan kebahagiaan.
Mungkin, saat ini, para ahli biokimia sedang meramu cara atau meracik formula terbaik untuk memastikan serotonin, dopamin, oksitosin selalu berada dalam kadar terbaiknya. Sebenarnya sudah ada, obat-obatan yang disebut “terlarang” dan “penenang” sebenarnya sudah mampu membereskannya, tetapi kesementaraan efeknya membuat manusia merasa ia bukanlah temuan yang memuaskan.
Katakanlah, semangat New Age tentang kebahagiaan yang berasal dari dalam itu dapat diterima, apakah segala “sesuatu dari dalam” adalah baik untuk kebahagiaan itu sendiri?
Mungkin ada yang terlupa bahwa tidak semua yang berasal “dari dalam” baik untuk kebahagiaan itu sendiri?
Oleh karena itu, dalam Agama Abrahamik, salah satu sumber kekuatan manusia adalah ketika ia bisa mengendalikan sesuatu yang bergeliat dari dalam yang dinamakan Hawa Nafsu. Pemahaman kebahagiaan secara biologis rentan membuat kita menuhankan kenikmatan dan sensasi-sensasinya secara membabi-buta. Kalau sudah begitu, sangat mungkin bahwa seorang pecandu narkoba mendefinisikan kebahagiaan ketika sedang fly di bawah pengaruh obat-obatan terlarang yang sangat delusional itu? Haruskah periset yang mendapati jawaban itu di angketnya merilis esai bahwa mengonsumsi narkoba adalah salah satu cara meraih kebahagiaan?
Kebahagiaan-kebahagiaan yang dirasai hari ini, dalam perspektif psikologi dan biologi, kental sekali dengan pengaruh (atau intervensi) materialisme dan individualisme. Hawa nafsu yang diganti dengan “renjana” atau “kegembiraan personal” atau “kepuasan subjektif” adalah pisau tajam yang membunuh sesiapa untuk segera tiba di surga fatamorganik.
Tapi sebentar, apa yang tidak fatamorganik di dunia ini? Atau apa yang sebenarnya penting di dunia ini, termasuk kebahagiaan yang dalam berbagai kacamata tadi? Misalnya tiba-tiba besok meteor sebesar Pluto jatuh ke Bumi sehingga yang ada hanya kelengangan? Siapa peduli idealisme atau kebahagiaan atau karya-karya besar yang mengatasnamakan kemanusiaan dan kebudayaan? Tidak ada. Matahari masih dikitari planet-planet dan kita hanya kelengangan yang tak dicatat (si)apa-(si)apa?
Kematian, hari ini, adalah hiburan paling manjur bagi kebahagiaan yang selalu gagal menafkahi orang-orang yang kurang beruntung secara ekonomi, fisik, dan nasib baik. Tah, pada akhirnya orang kaya atau artis cantik atau Youtuber superkaya akan mati juga. Hal paling luar biasa yang turun ke bumi yang kian renta ini adalah tetap tidak ditemukannya formula antikematian!
Tiba-tiba saya teringat dialog dalam sebuah film yang saya lupa judulnya:
Joko saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Batam, Kamis (19/10).
batampos – Kasus dugaan perjokian IMEI yang diinisiasi Joko alias Anok, pemilik konter ponsel Lucky Star di Komplek Lucky Plaza akhirnya bergulir di Pengadilan Negeri Batam, Kamis (19/10). Terdakwa yang tak ditahan, mengikuti proses sidang tanpa didampingi kuasa hukum.
Agenda sidang yang awalnya mendengar keterangan saksi, akhirnya beralih untuk mendengarkan keterangan terdakwa. Dalam keterangannya, Joko mengakui menjual ponsel bekas dari Singapura.
“Ponsel yang saya jual iPhone, tapi tidak ada IMEI. Kalau ada IMEI, harganya beda Rp 1 juta,” ujar Joko yang saat itu mengenakan kemeja hitam.
Menurut dia, ponsel-ponsel itu ia dapat dengan cara pergi ke Singapura seorang diri. Kemudian kembali ke Batam dengan membawa 2 ponsel
“Saya yang bolak balik, bawa 2 ponsel setiap berangkat,” terang Joko.
Dijelaskan Joko, agar iPhone bisa memiliki IMEI, maka harus berangkat dulu ke luar negeri. Pendaftaran IMEI baru dilakukan setelah sampai di Indonesia melalui Bea Cukai.
“Harus keluar negeri dulu baru bisa dapat IMEI,” sebutnya.
Masih kata Joko, dari penangkapan itu, ada 24 ponsel miliknya yang diamankan.
“Ponsel 24 unit, cuma sudah terjual 6 unit,” katanya kepada majelis hakim yang dipimpin David P Sitorus didampingi hakim Benny dan Yuane.
Keterangan Joko, jauh berbeda dengan keterangan Ditkrimsus Polda Kepri beberapa waktu lalu. Dimana Joko sebagai pemilik konter ponsel Lucky Star memakai belasan joki agar ponsel yang ia jual bisa daftar nomor IMEI.
Para joki diminta berangkat ke Singapura dengan membawa ponsel tanpa IMEI. Lalu sepulang dari Singapura barulah IMEI ponsel itu didaftarkan. Saat pengamanan itu, polisi juga mengamankan 26 unit iPhone berbagai jenis.
Perbuatan Joko dijerat dan diancam pidana dalam Pasal 111 jo Pasal 47 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan sebagaimana diubah dengan Perpu Nomor 2 tahun 2022 . Ancaman hukuman diatas 5 tahun. (*)
Tim dari RSJKO EHD Kepri di Tanjunguban memberikan edukasi dan skrining kesehatan jiwa di Anmon Resort Bintan di Lagoi, Kamis (19/10/2023). F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos.
batampos– Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat (RSJKO) Engku Haji Daud (EHD) Provinsi Kepri di Tanjunguban memberikan edukasi dan skrining kesehatan jiwa terintegrasi bagi pekerja wisata di kawasan wisata Bintan Resort di Lagoi.
Kegiatan ini dilaksanakan di Anmon Resort Bintan di Lagoi, Kamis (19/10/2023).
Direktur RSJKO EHD Provinsi Kepri di Tanjunguban, dr Asep Guntur Sapari, MARS menyampaikan, kegiatan edukasi dan skrining kesehatan jiwa bagi pekerja wisata di Lagoi terbagi dalam dua sesi.
Sesi pertama dimulai sekira pukul 11.00 hingga sekira pukul 12.30 WIB. Sedangkan sesi kedua mulai pukul 14.00 WIB hingga 15.30 WIB.
Edukasi langsung diberikan Ns. Yanti Girsang, M.Kep SpJiwa dan Ns. Erion S.Kep.
Dalam edukasi, petugas memaparkan soal penanganan anxiety atau kecemasan.
Dia menjelaskan, Tim Promosi Kesehatan RSJKO EHD memiliki program Sejati (Assesment dan Edukasi Jiwa Terintegrasi).
Kali ini, difokuskan program jiwa yang berintegrasi dengan program HIV AIDS,
Dari kegiatan ini, dia mengatakan, petugas tidak hanya mengajak pekerja wisata membuang stigma terhadap orang yang memiliki masalah kejiwaan atau Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Tapi, lanjutnya, mengajak mereka untuk membuang stigma terhadap orang dengan penderita HIV AIDS.
“Kita mengedukasi mereka soal apa HIV AIDS, cara penularan, cara pencegahan dan apa yang harus dilakukan,” kata dia.
Dari program ini, dia berharap pekerja wisata menjadi motivator bagi diri sendiri, keluarga dan orang di sekitarnya.
“Kegiatan ini akan terus dilakukan secara berkala oleh tim,” tukas dia. (*)
ILUSTRASI: Saat pengajian digelar, para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Assuniyah, Jember. (Dok. Jawa Pos)
batampos – Ada sejumlah kebijakan baru yang bakal menjadi kado dalam peringatan Hari Santri 2023. Diantaranya adalah penetapan standar mutu untuk lingkungan pesantren. Berbeda dengan standar mutu di sekolahan, pesantren memiliki kebebasan dalam menetapkan standar mutu masing-masing.
Aturan soal penetapan standar mutu pesantren itu, saat ini sedang digodok oleh Majelis Masyayikh Pesantren yang dibentuk Kementerian Agama (Kemenag). Anggota Majelis Masyayikh KH A. Muhyiddin Khotib menuturkan, keberadaan standar mutu pesantren mendesak untuk segera dijalankan. Diantara tujuannya adalah untuk menjaga pengakuan masyarakat di tengah dunia pendidikan yang semakin kompetitif.
’’Saat ini Majelis Masyayikh tengah menyusun sistem penjaminan mutu pesantren. Yang akan jadi alat ukur progresifitas pendidikan di pesantren,’’ katanya dalam sosialisasi UU 18/2019 tentang Pesantren di Pesantren Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah Aceh Jaya secara virtual kemarin (19/10). Muhyiddin mengatakan standar mutu pesantren itu nantinya disusun bersama antara Majelis Masyayikh di tingkat pusat dengan satuan quality control pendidikan di masing-masing atau disebut Dewan Masyayikh.
Dia menegaskan pengakuan masyarakat termasuk negara kepada pesantren harus dijaga. ’’Antusiasme masyarakat kepada pesantren saat ini meningkat. Sehingga perlu ada penjaga mutu internal,’’ tandasnya.
Muhyiddin mengatakan aturan penjaminan mutu di pesantren berbeda dengan di sekolah. Untuk di pesantren, sifatnya adalah bottom-up atau usulan dari tingkat lembaga pesantren itu sendiri. Sehingga penjaminan mutu nantinya mengakui kearifan lokal dan partisipasi aktif pesantren itu sendiri.
Dengan demikian pesantren akan mendapatkan kebebasan untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengawasi sistem penjaminan mutu di lembaganya. Skema ini dijalankan untuk meningkatkan mutu pesantren, tanpa meninggalkan orisinalitas pengajaran yang dijalankan pesantren bersangkutan.
Pada kesempatan yang sama pengasuh pesantren Dayah Bustanul Hidayatullah Aceh Timur KH Tgk Faisal M. Ali mengatakan penetapan standar mutu pesantren akan dijembatani oleh Dewan Masyayikh di unit satuan pendidikan pesantren. Kerjasama antara Dewan Masyayikh dengan Majelis Masyayikh itu diharapkan menghasilkan ukuran kualitatif standar mutu dan tidak mengabaikan kekhasan lokal.
Dengan adanya penjaminan mutu itu, dia mengatakan pelaksanaan pendidikan di pesantren menjadi lebih sistematis. Dia menegaskan skema penjaminan mutu untuk pesantren itu, tidak memaksakan aturan atau ukuran dari pusat untuk pesantren. Tetapi memberikan kewenangan dan kebebasan bagi pesantren untuk mengatur, mengelola, dan mengembangkan program pendidikannya sendiri. (*)
Ilustrasi: Seorang penjual menunjukkan gula curah yang dijual Rp 14 ribu per kilogram, Rabu (20/9). F Dalil Harahap/Batam Pos
batampos – Harga gula pasir di pasaran Batam kembali naik hingga Rp 17 ribu per kilogram. Kenaikan harga gula lebih terlihat pada gula curah yang dijual di swayalan atau supermarket.
Sebelumnya, gula pasir curah dijual Rp 15 ribu per kg, saat ini naik menjadi Rp 16 ribu per kg.
Tati, warga Batuampar mengaku kaget saat mengetahui harga gula curah dijual hingga Rp 16 ribu.
Sementara, Icha warga Nongsa mengatakan harga gula pasir lebih mahal di swalayan dibanding retail modern. Di retail modern, harga gula pasir kemasan masih dijual Rp 14,5 ribu per kg, sementara di swalayan gula pasir kemasan sudah Rp 16,5 ribu per kg.
“Kalau di retail modern biru dan merah itu yang kemasan masih Rp 14,5 ribu, lebih murah dibanding gula pasir curah yang dijual di swalayan,” jelas Icha .
Swalayan kawasan Batamcenter, harga gula curah dijual berkisar Rp 15000-15500 per kg. Sedangka gula kemasan dijual Rp 16.000-16.500 ribu per kg. (*)
BNN Kepri mengekspos lima laporan kasus narkotika (LKN) dengan tiga tersangka, Kamis (19/10). F. Azis Maulana
batampos – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Kepulauan Riau memusnahkan sabu 8.8 kilogram dan ganja 18 gram. Narkotika tersebut barang bukti dari lima laporan kasus narkotika (LKN) dengan tiga tersangka yang telah ditahan.
“Barang bukti ini berasal dari lima laporan yang kami tangani dengan jumlah tersangka tiga orang yakni sabu,” ujar Kabid Pemberantas Narkoba BNNP Kepri, Kombes Bubung Pramiadi, Kamis (19/10).
Ia menyampaikan dari lima laporan ada dua laporan merupakan limpahan.
Kasus pertama dari jasa pengiriman J&T. Petugas BNNP Kepri mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa terjadi pengiriman narkotika golongan I jenis ganja dari Jakarta menuju Batam melalui jasa Ekspedisi J&T.
Kemudian petugas J&T menyerahkan paket yang diduga ganja tersebut ke petugas BNNP Kepri. Usai dilakukan pemeriksaan didapati paket tersebut berisi ganja seberat 28 gram.
Kemudian petugas BNNP Kepri bersama petugas J&T mendatangi alamat yang tertera pada paket tersebut dan didapati penerima paket tidak ditemukan di alamat dan nomor HP penerima paket tidak aktif.
“Barang bukti temuan (dalam lidik) diamankan guna dilakukan proses penyelidikan lebih lanjut,” kata dia.
Lalu kasus kedua, petugas mendapatkan informasi dari petugas Lapas Kelas IIa Tanjungpinang, bahwa ditemukan barang berupa satu buah plastik warna merah di samping tong sampah dekat parkiran Lapas Kelas IIa Tanjungpinang yang dicurigai sabu.
Terdapat berisi lima bungkus platisk bening kecil diduga narkotika golongan I jenis sabu seberat bruto 23,62 gram.
“Kemudian, petugas BNNP Kepri membawa barang bukti temuan (dalam lidik) tersebut ke BNNP Kepri guna penyelidikan lebih lanjut. Dua laporan ini tidak ada tersangkanya,” jelasnya.
Sementara tiga laporan yang ditangani BNNP Kepri terjadi di Batam dan sejumlah tersangka berhasil ditangkap. Kasus pertama, transaksi narkotika di daerah kawasan Nagoya, Batam. Di depan Hotel Memory, Lubuk Baja, petugas mengamankan dua orang tersangka berinisial HR, 37, dan AK, 42.
“Usai dilakukan penggeledahan terdapat satu bungkus plastik yang diduga narkotika sabu seberat 1 kilo gram,” sebutnya.
BNNP Kepri melakukan pengembangan di rumah tersangka HR, yang berada di ruli Tanjung Uma dan didapati lima bungkus plastik yang diduga sabu seberat bruto 5,2 kilo gram.
“Dua tersangka beserta barang bukti diamankan dan dibawa ke kantor BNNP Kepri guna dilakukan proses penyidikan lebih lanjut,” kata dia.
Lalu kasus berikutnya, transaksi sabu di wilayah Nongsa. Saat itu, petugas BNNP Kepri mencurigai satu orang laki-laki yang akan turun dari mobil Avanza Velox warna putih yang berada di gapura Bumi Perkemahan Punggur, Kelurahan Kabil, Kecamatan Nongsa, Kota Batam.
Petugas mengamankan satu orang laki-laki, JF, 27, dan didapati satu buah kantong plastik warna hitam yang didalamnya terdapat kantong plastik berwarna ungu dan satu bungkus plastik berwarna coklat yang berisikan satu bungkus plastik bening yang berisi kristal diduga narkotik jenis sabu seberat 917 gram.
“Tersangka beserta barang bukti diamankan dan dibawa ke kantor BNN Provinsi Kepulauan Riau guna dilakukan proses penyidikan,” kata dia.
Pada laporan selanjutnya petugas BNNP Kepri mendapatkan informasi dari Bea dan Cukai Bandara Hang Nadim, bahwa terdapat barang bagasi yang mencurigakan saat di X-ray.
Tim melakukan pemeriksaan terhadap isi koper tersebut. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap barang koper tersebut dan didapati diduga narkotika sabu sebanyak sepuluh bungkus dengan berat total 1.9 kilo gram.
“Kami melakukan pengembangan dengan melakukan pemeriksaan CCTV Bandara Hang Nadim dan pemilik tas diduga tersangka telah meninggalkan bandara Hang Nadim,” ujarnya.
“Atas kejadian tersebut diatas, barang bukti temuan (dalam lidik) diamankan dan dibawa ke kantor BNN Provinsi Kepulauan Riau guna dilakukan proses penyelidikan lebih lanjut,” ujarnya.
Sementara untuk tiga tersangka yang ditahan atas perbuatannya dikenakan Pasal 114 ayat (2) Jo Pasal 112 ayat (2) UU RI No.35 Tahun 2009 dengan hukuman maksimal hukuman mati atau seumur hidup. (*)
Petugas Perumda Tirta Mulia saat melakukan perbaikan pipa induk yang bocor. f,PERUMDA TIRTA MULIA
batampos– Beberapa bulan ini terjadi musim kemarau yang berdampak terhadap debit atau volume air diwaduk Sei Bati milik Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Mulia Karimun. Sehingga, terjadi penyusutan air bersih sebanyak 30 persen yang saat ini masih bisa beroperasi.
” Alhamdulillah, masih dapat kita salurkan air bersih kepada pelanggan Perumda Tirta Mulia Karimun,” terang Direktur Perumda Tirta Mulia Karimun Herry Budhiarto, Kamis (19/10).
Ia mengatakan, mudah-mudahan dalam dua bulan depan instensitas curah hujan akan meningkat. Sehingga, bisa normal kembali debit air bersih yang ada di waduk Sei Bati. Sedangkan, di waduk Pongkar maupun waduk Sentani untuk debit air bersih masih mencukupi dan tidak ada kendala.
” Insyallah, untuk dua waduk amanlah. Nanti, kita siasati waduk Sei Bati agar tetap memproduksi air bersih kepada pelanggan,” ungkapnya.
Sementara ada keluhan dari pelanggan disekitar telaga kolong yang mengeluhkan beberapa hari ini tidak jalan air bersih. Ia membenarkan, terjadinya pemberhentian sementara pendistribusian air bersih kepada pelanggan sejak Selasa (17/10) lalu hingga sekarang.
Dengan meliputi pelanggan yang berada di wilayah sungai pasir, meral kota, kampung bukit, kampung bukit baran, naga mas, taman puri, makmur jaya, pantai pak imam, telaga kolong. Kemudian, naga mas bati, sungai raya parit benut, paya rengas, gang ivora jaya, tengku umar Sei Lakam, perum sinar indah, lubuku semut, teluk air, karimun bestari, pertambangan, bakti, pelipit telaga dan sebagainya.
” Terjadi perbaikan pipa JDU 14 inci atau pipa induk ada kebocoran. Ini ini cukup lama sejak tahun 2002 lalu,” ungkapnya.
Untuk itu, lanjut Herry lagi pihaknya berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki pipa yang bocor tersebut. Sehingga, bisa kembali normal.
” Lumayanlah medannya, cukup dalam setelah badan orang dewasa. Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah selesai kita atasi,” ucapnya.
Terpisah, Anwar warga Parit Benut mengeluhkan tidak mengalirnya air bersih ke rumahnya. Sehingga, dirinya terpaksa membeli air lori beberapa hari ini.
” Asyik pipa bocor terus. Lama pula tu perbaikannya, molor lagi. Ya, mudah-mudahan cepat selesailah,” keluhnya.(*)
Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini sambangi masyarakat Pulau Bertam, Gara dan Lingke, Kecamatan Belakang Padang, Batam di pelabuhan pancung Pulau Bertam, Jumat (20/10) pagi.
batampos – Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini sambangi masyarakat Pulau Bertam, Gara dan Lingke, Kecamatan Belakang Padang, Batam di pelabuhan pancung Pulau Bertam, Jumat (20/10) pagi. Menteri Risma yang didampingi Wali Kota Batam Muhammad Rudi serta Sekretaris Daerah Kota Batam Jefridin Hamid menyerahkan tiga unit kapal angkut untuk mobilitas sekolah anak di Pulau Bertam, Gara dan Lingke.
Risma tampak semangat saat menjumpai masyarakat dan anak-anak di tiga pulau tesebut. Sebelum menyerahkan ketiga kapal transportasi untuk anak sekolah ini Risma tampak antusias menyapa dan memberikan pertanyaan kepada puluhan siswa yang berjejer menjemputnya di pelabuhan Pulau Bertam. Dia juga ikut mengumandangkan lagu nasional yang dinyanyikan oleh anak-anak menyambutnya.
“Pintar-pintar ya kalian. Ingat jangan buang sampah ke laut ya,” ujar Risma di tengah-tengah aktifitasnya menyapa para siswa.
Dalam sambutnya Risma menuturkan, bantuan tiga unit kapal angkut ini merupakan tindak lanjut permintaan warga saat dia bertandang ke Pulau Bertam beberapa waktu lalu. Warga menyampaikan transportasi untuk anak sekolah masih sulit di sana, sehingga dia berkomitmen untuk membantu tiga unit kapal tersebut.
“Tidak usah khawatir, kapal ini sudah uji kelayakan. Dari Surabaya ke sini uji cobanya. Sudah ada izin dan sertifikat kelayakan dari Kemenhub juga. Insyaallah tidak ada masalah. Semoga bermanfaat, ” ujar Risma.
Tiga kapal ini nantinya akan melayani aktifitas siswa di tiga pulau tersebut. Risma berharap agar masyarakat menjaga dan memanfaat nya dengan baik demi kemajuan pendidikan anak di pulau.
“Merubah nasib suatu bangsa itu pendidikan. Pendidikan akan merubah peri kehidupan manusia. Jaga dan dukung pendidikan anak-anak kita. Saya titip pesan ini ya bapak ibu. Anak-anak harus sekolah,” tutur Risma.
Kepada masyarakat Pulau Bertam, Lingke dan Gara , Risma juga berpesan untuk tetap memperjuangkan pendidikan anak demi masa depan Bangsa dan Negara.
“Kita tidak boleh menyerah. Boleh miskin dan boleh kita orang tua ini tak berpendidikan tapi anak harus sekolah ya bapak ibu sekalian, ” pesan Risma.
Wali kota Batam Muhammad Rudi apresiasi dengan bantuan tiga kapal Kemensos tersebut. Sesuai permintaan Menteri Risma, Pemko Batam akan membiayai biaya operasional kapal pengangkut siswa sekolah antar pulau tersebut.
“Pemko yang bertanggung jawab penuh untuk operasionalnya kapal-kapal ini. Terimakasih bu Risma dan jajaran Kemensos semuanya. Ini untuk kemajuan pendidikan anak-anak kita. Mari kita jaga bapak ibu. Dukung anak-anak untuk terus sekolah,” ujar Rudi.
Camat Belakang Padang Yudi Atmadja menjelaskan untuk tiga pulau yang mendapat bantuan kapal Kemensos tersebut selama ini memang kesulitan dengan transportasi laut untuk anak sekolah. Tiga pulau baru memiliki satu SD Negeri di Pulau Bertam.
Untuk SMP dan SMA harus ke Pulau Kasu, Belakang Padang dan bahkan Batuaji. Jadi bantuan kapal yang diberikan oleh Kemensos ini sangat membantu kelancaran aktifitas pendidikan anak-anak di tiga pulau tersebut.
“Kami berterimakasih karena ini sangat membantu anak-anak kami di sini untuk ke sekolah,” ujar Yudi. (*)