batampos – Seorang warga Tanjungpinang yaitu Ady Indra Pawennari, 50 punya kisah sukses. Ia berhasil menanam padi di pekarangan rumah miliknya. Rumah Ady di Jalan WR Supratman Gang Nusantara I Tanjungpinang ini, mempunyai pekarangan yang cukup luas untuk menanam berbagai tanaman termasuk padi.

Warga Tanjungpinang Ady Indra Pawennari memanen padi yang ditanam di tanah bekas tambang bauksit.
Pekarangan bekas tambang bauksit tempat Ady menanam padi tidak besar, hanya 9×4 meter. Namun, padi yang ia tanam, tumbuh subur hingga panen.
Ady bercerita, ia berhasil menanam padi berjenis varietas CL 220. Ia mengaku mendapat benih padi itu dari kampung halamannya Sulawesi Selatan.
Padi jenis varietas CL tersebut, biasanya akan panen jika telah berumur 100 hari.
Saat ini, ia telah memanen padi yang ditanamnya.
Ady mengatakan ia mengolah hasil panen padi untuk kebutuhan makan sendiri dan tidak perlu lagi membeli beras.
“Alhamdulillah, sudah panen. Bisa makan nasi pakai padi hasil tanam sendiri,” kata mantan wartawan Koran Genta ini, Selasa (13/6).
*Berhasil Tanam Padi di Tanah Bekas Tambang Bauksit
Menurut Ady, Tanjungpinang terkenal bertanah bauksit dengan struktur yang keras dan bebatuan.
Ady menyebut, sebagian orang menilai tanah keras dan bebatuan seperti tanah bauksit, mustahil dan sangat sulit untuk menanam padi.
Namun Ady mengesampingkan penilaian tersebut. Sebagai anak petani, ia mencoba menanam padi di pekarangan rumah miliknya yang bertanah bauksit.
“Saya kan memang anak seorang petani, jadi saya terinspirasi dan ingin mencoba,” jelas lelaki kelahiran Wajo, Sulawesi Selatan ini.
Ady hanya ingin mencoba membuktikan bahwa tanah yang keras dan bebatuan, bisa dimanfaatkan untuk menanam padi. Namun dengan rekayasa teknologi tertentu.
Ady menggunakan inovasi serbuk kelapa atau Cocopeat. Tanah bauksit berwarna merah dan keras di pekarangan rumahnya itu, ia beri Cocopeat.
Menurutnya, Cocopeat mudah menyerap dan menyimpan air yang cukup lama. Jadi saat musim kemarau, Cocopeat membantu untuk melembabkan tanah.
“Kalau malam hari, Cocopeat bisa menyerap air dari udara (embun),” ungkap peraih penghargaan Pahlawan Inovasi MNC Media 2015 ini.
Karena itu, padi yang Ady tanam pekarangan rumah, dapat tumbuh subur, meskipun di atas tanah berstruktur bauksit yang keras dan bebatuan.
Ady mengaku tidak menggunakan pupuk khusus untuk menyuburkan padi. Ia hanya menggunakan pupuk biasa sama seperti yang digunakan petani lainnya.
*Rencana Mengembangkan Tanaman Padi di Tanjungpinang
Menanam padi di atas tanah bauksit bukan pertama kali yang dilakukan Ady. Pada Agustus tahun 2022 silam, ia mencoba menanam padi, namun hasilnya kurang maksimal.
Namun untuk kedua kalinya sekitar beberapa bulan lalu, Ady meyakini padi yang ditanamnya akan tumbuh subur secara maksimal.
Ady mengaku hasil percobaan kedua kalinya ini, lumayan baik dan cukup maksimal. Padi yang ditanamnya terus tumbuh. Bulirnya penuh dan subur.
“Sekarang hasilnya maksimal. Bisa panen beras sebanyak kurang lebih 39 kilogram,” bebernya.
Selama ini, kata Ady, beras yang ada di Tanjungpinang, merupakan beras yang didatangkan dari daerah lain. Masyarakat harus membeli beras yang tersedia.
Oleh karena itu, Ady mengajak masyarakat Tanjungpinang agar ikut mencoba menanam padi dengan memanfaatkan pekarangan rumah.
“Yang penting usaha dan mencoba,” kata Ady.
Ady yakin, dengan menanam padi di lahan yang sempit atau di pekarangan rumah dan tumbuh subur, masyarakat tidak akan bergantung beras dari daerah lain.
“Di Tanjungpinang, kita juga bisa menghasilkan beras dari padi yang kita tanam sendiri. Semoga panen padi ini jadi inspirasi buat masyarakat,” kata Ady.
Menurutnya, keberhasilan ini bukan hanya tentang menanam padi di lahan bekas tambang bauksit, namun merupakan sejarah baru bagi Kota Tanjungpinang.
“Karena untuk pertama kalinya, Tanjungpinang berkontribusi sebagai daerah penghasil padi di Indonesia,” tegas Ady.
Ke depan, Ady mengaku telah memiliki rencana jangka panjang untuk mengembangkan lahan tanaman padi yang ia miliki saat ini.
Rencana ke depan, Ady berencana akan membangun ratusan hingga ribuan petak tanah di Tanjungpinang dan mengulang kisah sukses menanam padi.
Tujuannya yaitu untuk mengembangkan tanaman padi di Tanjungpinang, khususnya di daerah bekas lahan bauksit yang keras dan bebatuan.
Bahkan, Ady akan mengajak dua pemerintah daerah untuk membuat gerakan massal memanfaatkan lahan kosong untuk menanam padi hingga panen.
Sebab saat ini, kata Ady, masih banyak lahan tidur atau lahan kosong di Kota Tanjungpinang yang bermanfaat untuk bertani dan bercocok tanam.
“Insya Allah saya siap jadi bapak angkat jika ada yang berminat. Artinya saya siap mendampingi dari sisi teknologi dan pembiayaan serta pengolahan pasca panen,” jelasnya.
Selain itu, Ady mengaku telah dihubungi oleh peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Kementerian Pertanian (Kementan) atas keberhasilan menanam padi di tanah bekas tambang bauksit.
Dia mengapresiasi respon positif sejumlah pihak termasuk dua lembaga pemerintah atas keberhasilan menanam padi di tanah bekas tambang bauksit.
“Saya sudah dihubungi BRIN dan Kementan. Mereka mengajak untuk kolaborasi mengembangkan tanaman padi di Tanjungpinang,” ungkapnya. (*)
Reporter : YUSNADI NAZAR









