Kepala BP Batam, Muhammad Rudi (kemeja biru) meninjau progres pembangunan dan peningkatan ruas jalan arteri yang menghubungkan Batuampar hingga Batubesar, Nongsa. Foto: BP Batam untuk Batam Pos
batampos – BP Batam membangun infrastruktur berskala internasional di Batam. Infrastruktur bertaraf internasional yang dibangun itu yakni jalan yang menghubungkan Batuampar hingga Batubesar, Nongsa.
“Semenisasi beton jalan itu setebal 20 centimeter. Setelah itu, barulah diaspal lagi. Daya tahannya, bisa bertahun-tahun,” kata Kepala BP Batam, Muhammad Rudi.
Ia mengatakan, pembangunan tersebut menunjukan komitmen, dan keseriusan BP Batam menjadikan Kota Batam yang modern.
Rudi menuturkan, tidak hanya jalan dari Batuampar ke Batubesar saja. Namun, beberapa ruas jalan lainnya di Batam.
Ia mengatakan, pembangunan infrastruktur menjadi salah satu fokus utamanya. Selain jalan, BP Batam juga meningkatkan infrastruktur di Bandara Hang Nadim, Pelabuhan Batu Ampar hingga pembangunan Rumah Sakit Internasional.
“Semuanya sudah berjalan, namun belum selesai. Karena untuk pembangunan infrastruktur ini tidak semudah yang kita bayangkan,” ujar Rudi.
Pembangunan infrastruktur ini, ditargetkan selesai di tahun 2029. Tidak hanya pembangunan jalan utama, namun juga jalan-jalan ke perumahan.
Rudi mengatakan, pembangunan yang tengah berjalan yakni, dari Simpang Batu Besar hingga Simpang Turi Beach, peningkatan jalan arteri dari Batuampar menuju Nonga dan beberapa ruas jalan lainnya.
BP Batam dan Pemko Batam, kata Rudi saling bahu membahu membangun Batam. Ada beberapa ruas jalan, yang dikerjakan Pemko Batam, seperti jalan arteri Batu Aji ke Sagulung.
Pembangunan infrastruktur ini, memberikan dampak positif. Ia mengatakan, investor akan berdatangan, perekonomian juga meningkat. Dampaknya, masyarakat Batam menjadi sejahtera.
“Hari ini sudah mulai ramai (investor) yang akan mau masuk. Datang ke BP Batam mau investasi. Untuk itu kedepannya persaingan akan semakin tinggi,” tutur Rudi.
Jelang menuju Batam menjadi kota modern, Rudi berharap masyarakat Batam untuk mempersiapkan diri. Ia tidak ingin, Batam yang sudah menjadi kota modern dinikmati oleh orang luar, akan tetapi masyarakat Batam yang harus terlebih dahulu menikmatinya.
“Momentum ini, saya harapkan dimanfaatkan secara baik oleh warga Batam,” ungkapnya. (*)
batampos- Dua terdakwa kasus begal, Ari Sucipto dan Widodo Supriono dituntut 2 tahun 6 bulan penjara oleh Jaksa di Pengadilan Negeri Tanjungpinang.
Jaksa Bambang Wiradhany menyatakan, dua terdakwa terbukti bersalah melakukan pencurian dengan kekerasan di kawasan Pulau Dompak Tanjungpinang. Dua terdakwa terbukti melanggar Pasal 365 KUHP
“Menuntut dua terdakwa dengan hukuman masing-masing 2 tahun dan 6 bulan penjara,” kata Jaksa.
Barang bukti berupa satu unit motor yang digunakan dua terdakwa untuk melakukan kejahatan dikembalikan kepada pemiliknya.
Sebelumnya diketahui, dua begal bersenjata parang ditangkap Unit Jatanras Polresta Tanjungpinang, Selasa (31/1) lalu. Saat penangkapan, polisi menyita barang bukti parang dan motor pelaku.
Saat beraksi pada 17 Januari 2023, dua begal mengintai terlebih dahulu korbannya yang tengah bersantai di bundaran Dompak Tanjungpinang. Dua begal yang menggunakan sepeda motor kemudian menghampiri korbannya lalu mengancam korban menggunakan parang. (*)
batampos – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tengah mengevaluasi perguruan tinggi kementerian/lembaga lain (PTKL). Evaluasi dilakukan dalam upaya penataan dan penyusunan peta jalan PTKL yang merupakan bagian dari revitaliasi pendidikan.
Ada 125 PTKL di bawah 24 kementerian/lembaga yang kini tengah menjalani proses evaluasi ini. Berdasarkan data Kemendikbudristek, PTKL tersebut tersebar di bawah Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertahanan, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kementerian Keuangan, Kementerian Kesehatan, Badan Pusat Statistik, Kepolisian, hingga Lembaga Administrasi Negara. Saat ini, seluruhnya dalam masa transisi sembari menunggu proses evaluasi dan penyesuaian oleh Kemendikbudristek melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim menjelaskan, evaluasi dan penataan PTKL tersebut merupakan bagian dari agenda besar dalam revitalisasi pendidikan dan pelatihan vokasi dalam rangka menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang unggul. Penataan dan evaluasi juga untuk memastikan tersedianya layanan pendidikan tinggi vokasi dan profesi yang terstandarisasi, berkualitas, dan bermakna. Dipastikan, evaluasi dilaksanakan secara transparan.
Selain itu, pada masa evaluasi dan transisi ini, perguruan tinggi tetap dapat menjalankan tridharma perguruan tinggi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang ada. ”PTKL juga dapat terus menerima mahasiswa baru tahun pada tahun akademik 2023/2024,” ujarnya, kemarin (25/5).
PTKL pun masih dapat melaksanakan kegiatan pelayanan pendidikan sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Mendikbudristek Nomor 4 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Perguruan Tinggi oleh Kementerian Lain dan Lembaga Pemerintah Nonkementerian dalam Masa Evaluasi. Selanjutnya, SE ini dapat dijadikan rujukan bagi PTKL dalam menjalankan operasional perguruan tinggi selama masa transisi berlangsung. ”SE tersebut mengatur apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh PTKL selama masa transisi yang dijadwalkan berakhir Desember 2024 mendatang,” sambungnya.
Senada, Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek Kiki Yuliati menjamin, pelaksanaan evaluasi terhadap PTKL dilakukan secara objektif dan transparan. Hal tersebut sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2022 dan Surat Edaran (SE) Mendikbudristek Nomor 4 Tahun 2023.
”Proses evaluasi akan dilakukan dengan kriteria dan instrumen yang ditetapkan oleh Kemendikbudristek,” ungkapnya. Sehingga, diharapkan ada pemahaman dan penyamaan persepsi antara para pimpinan PTKL dan kementerian penyelenggara PTKL mengenai penyelenggaraan PTKL selama masa evaluasi ini.
Dalam proses ini, Direktorat Vokasi telah membuka dukungan layanan (helpdesk) yang bisa dimanfaatkan oleh PTKL, masyarakat, dan sebagainya terkait proses evaluasi. Helpdesk bisa diakses melalui surat elektronik [email protected]. (*)
ASAL Usul Orang Darat
Orang Darat merupakan salah satu masyarakat adat atau komunitas adat terpencil (KAT) yang ada di Kepulauan Riau yang berdiam di Kampung Sadap, Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang, Kota Batam.
Mereka hidup nomaden (berpindah-pindah) di hutan-hutan yang ada di Pulau Batam dan
Pulau Rempang sebelum dimukimkan (resettlement) oleh pemerintah tahun 1973 ke Kampung Sadap.
Ada berbagai versi asal usul Orang Darat berdasarkan cerita rakyat. Pertama, Orang Darat yang ada di Pulau Batam dan sekitarnya berasal dari Lingga. Mereka berasal dari daerah Teluk (Lingga). Kondisi kampung mereka kacau sehingga mereka memutuskan pindah ke daerah Batam.
Setiba di daerah Mukakuning, sekitar Waduk Duriangkang, perahu yang mereka naiki karam. Mereka menyelamatkan diri dan masuk ke dalam hutan. Di daerah hutan-hutan yang ada di Batam dan sekitarnya mereka tinggal dan tidak mau lagi kembali ke Lingga. (Arman, 2022).
Versi kedua, Orang Darat disebutkan berasal dari Trengganu (Malaysia). Cerita bermula saat Orang Kaya dari Pulau Mepar (Lingga) pergi ke Trengganu untuk membeli sapi. Orang Kaya ini ke Trengganu membawa anak buah Orang Laut.
Saat pulang, beberapa Orang Trengganu diajak ikut serta karena mereka nantinya yang
mengajarkan tata cara beternak sapi. Dalam perjalanan sampai daerah Batam, sapi tersebut lepas dan lari ke dalam hutan. Orang Trengganu berusaha mengejar tapi sapi itu tidak bisa ditangkap. Orang Trengganu tersebut tidak berani kembali karena takut akan dihukum. Dari hutan yang ada di Batam, Orang Darat tersebut menyebar ke Bulang dan Pulau Rempang.
Versi ketiga, Orang Darat di Kampung Sadap berasal dari Pulau Siantan yang saat ini masuk dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepri. Pada masa lampau, pelaut dari Siantan terbiasa berlayar sampai ke Singapura, Johor, dan sekitarnya.
Pada suatu hari, saat mereka berlayar melewati Pulau Batam, badai datang. Sejumlah perahu yang ditumpangi tercerai-berai dan berusaha menyelamatkan diri. Mereka yang selamat ada yang terdampar di daerah Galang. Mereka mendiami kampung yang saat itu belum ada penduduknya (Suarman & Galba, 1993).
Versi keempat, Orang Darat yang ada di Pulau Rempang termasuk kelompok Orang Laut.
Orang Darat disebut kelompok Orang Laut yang sudah menetap. Kelompok ini berciri baru
memeluk agama tertentu dengan tingkat asimiliasi fisik, sosial, dan kebudayaan yang belum maju (Kadir dkk., 1986).
Kelompok ini dekat dengan Orang Barok yang ada di Pulau Lipan (Lingga) dan Orang Kuala di Tanjung Batu (Karimun).
Ahli lingusitik Jerman, Kehler (1960), dalam penelitiannya berjudul “Ethnographische und
linguistische Studien uber die Orang Darat, Orang Akit, Orang Laut, Orang Utan im Riau-
Archipel und auf den Inseln an der Ostkuste von Sumatra” menyatakan bahwa Orang Darat ini memiliki budaya yang berbeda dengan Orang Laut yang banyak mendiami wilayah Kepulauan Riau.
Kahler menegaskan bahasa yang digunakan Orang Darat di Pulau Rempang berbeda dengan bahasa Orang Laut di Kepri, berbeda dengan Orang Akit di Pulau Rupat, Bengkalis, dan berbeda dengan Orang Hutan yang ada di Kepulauan Meranti.
Secara lingiustik, menurut Kahler, Orang Darat mirip dengan orang asli di Malaysia, yakni suku Jakun yang ada di daerah Trengganu. Hal ini berdasarkan pemantauan orang Belanda yang sudah berinteraksi dengan Orang Darat sejak abad ke-19. Elisha Netscher melakukan
kunjungan dan catatannya dimuat dalam “Beschrijving Van Een Gedeelte Der Residentie
Riouw” tahun 1849.
Sebelum Netscher ke Pulau Rempang, dua Orang Darat dibawa ke Tanjungpinang untuk
menghadap Residen Riau, H. Cornets de Groot, di Kantor Residen Riau di Tanjungpinang.
Selain Hans Kahler, dua ahli linguistik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),
Harimurti Kridalaksana dan Zulkarnain, tahun 1970-an pernah turun ke Pulau Rempang dalam melacak bahasa yang digunakan Orang Darat yang mereka sebut Orang Hutan karena berdiam di hutan ini.
Sayangnya, Majalah “Tempo” edisi 28 Juni 1975 tidak menjelaskan temuan hasil penelitian
itu. Artikel “Tempo” berjudul Memelayukan Orang-Orang Terakhir hanya menyebutkan
kedatangan peneliti LIPI tersebut membuat heboh pejabat Pemda Kabupaten Kepri dan DPRD Kabupaten Kepri. Mereka pun ramai-ramai berkunjung ke Pulau Rempang melihat kondisi Orang Darat ini.
Dalam sistem kekerabatan, sapaan yang digunakan Orang Darat sehari-hari menarik dan
berbeda dengan bahasa Melayu dialek Galang.
Berikut contohnya. Neneng : Panggilan atau sapaan anak-anak kepada orang tua laki-lakinya Nemang : Panggilan atau sapaan kepada orang tua perempuan Mamak : Panggilan kepada saudara laki-laki bapak dan ibunya Amai : Panggilan atau sapaan kepada saudara perempuan bapak dan ibunya Cucuk : Panggilan atau sapaan kakek dan nenek kepada cucunya Apai : Panggilan cucu kepada kakeknya Moyang : Panggilan atau sapaan cucu kepada neneknya Oi : Panggilan atau sapaan istri kepada suaminya Bah : Panggilan atau sapaan adik kepada saudara laki-lakinya yang lebih tua Kak : Panggilan adik kepada saudara perempuan yang lebih tua
Panggilan kepada saudara yang sama umur atau sebaya hanya dengan menyebut nama saja. Pihak yang lebih tua memanggil yang lebih muda juga pakai nama saja.
Menurut Suarman & Galba (1993), bahasa Orang Darat ini dikelompokkan pada bahasa
Melayu kuno. Bahasa mereka tidak memiliki tingkatan. Semua berbahasa yang sama sehingga saling memahami. Namun, untuk berhubungan dengan masyarakat Melayu, Orang Darat menggunakan bahasa Melayu dialek Galang.
Saat ini kondisi Orang Darat di Kampung Sadap, Pulau Rempang, terancam punah. Jumlah
mereka terus menyusut sejak abad ke-19 hingga tahun 1995. Di tahun 1995 masih ada
belasan kepala keluarga (KK). Namun, di tahun 2023 jumlahnya tinggal tiga KK atau lima jiwa. Mereka adalah Lamat, Tongku, Senah, Opo dan Baru. Orang Darat ini mendiami lahan seluas dua hektar.
Hanya Tongku yang memiliki keturunan tapi istrinya pun bukan Orang Darat, melainkan
bersuku Sunda dari Jawa Barat. Lamat dan Senah sudah berusia tua, sementara Opo dan Baru meski sudah berumur tidak menikah.
Dikhawatirkan, jika Orang Darat ini punah, punah pula bahasa mereka karena tidak ada lagi penuturnya. Tongku yang memiliki tiga anak sehari-hari menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia dengan anak dan istrinya.
Tugas kita semua untuk menjaga keberlangsungan bahasa ini. Pemerintah daerah dapat
memperhatikan keberlangsungan masyarakat adat yang berdomisili di Pulau Rempang ini.
Kantor Bahasa Kepri, Dinas Kebudayaan Batam, dan instansi terkait lain dapat dalam mengkaji aspek kebudayaan mereka, termasuk masalah bahasa. Tidak ada kata terlambat. (*)
Oleh: Dedi Arman (Peneliti Pusat Riset Kewilayahan-BRIN)
Tim Perkamusan Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau foto bersama peserta kegiatan di Hotel 21 Karimun pada Kamis (25/5). f. Istimewa
batampos – Kantor Bahasa Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mengadakan Lokakarya Kosakata Bahasa Daerah (LKBD) di Kabupaten Karimun pada tanggal 24 hingga 25 Mei 2023.
Kegiatan yang diselenggarakan di Hotel 21 Karimun ini mengundang 15 peserta dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karimun dan LAM Kabupaten Karimun. Narasumber yang hadir dalam kegiatan ini adalah Drs. Raja Syirwansyah dari LAM Kabupaten Karimun.
Selama dua hari, peserta dilibatkan untuk memeriksa, mengoreksi, dan melengkapi data kosakata bahasa daerah yang telah terkumpul pada tahap sebelumnya. Sebanyak 239 kosakata bahasa daerah tuntas dibahas pada kegiatan ini.
Data tersebut terdiri dari kosakata di bidang budaya, maritim, dan kosakata sehari-hari. LKBD edisi ini merupakan LKBD pertama yang dilakukan di luar Tanjungpinang. Selain terverifikasinya data kosakata secara lebih maksimal, hal ini juga bertujuan untuk menyosialisasikan kegiatan pengayaan kosakata bahasa daerah, khususnya di Kabupaten Karimun. (*)
Pembeli susah masuk ke website resmi penjualan tiket Coldplay saat war presale, Rabu (17/5). (Rahman/JawaPos.com)
batampos – Tingginya antusiasme masyarakat menonton konser Coldplay pada November justru berujung kecewa. Sebab, ada indikasi penjualan tiket band asal Inggris tersebut justru dikuasai para calo.
Bahkan, Puteri Indonesia Inteligensia 2019 Lycie Joanna Jon Sen turut menjadi sorotan karena menjual 100 tiket konser Coldplay dengan harga dua kali lipat. Dia menyebutnya tiket-tiket itu diperoleh dari ’’orang dalam”.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengatakan, masyarakat jangan membeli tiket Coldplay yang dijual dengan harga tidak masuk akal. ’’Jangan terkecoh dan tergiur dengan penipuan dan percaloan tiket Coldplay,” kata menteri yang akrab disapa Sandi itu saat menghadiri acara Beasiswa Pelatihan Youthpreneurship Berbasis Digital di Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya kemarin (25/5).
Sandi menuturkan, tiket Coldplay hanya dijual di kanal resmi. Jadi, masyarakat diimbau agar tidak memaksakan diri jika tidak kebagian tiket. Sebab, banyak oknum yang mencari kesempatan dalam kesempitan.
’’Apalagi kalau mencari sumber-sumber pendapatan dari pinjaman online. Sebaiknya jangan dipaksakan,” ujarnya.
Tidak hanya itu, laki-laki yang pernah menjabat wakil gubernur DKI Jakarta ke-14 itu meminta agar mereka yang terang-terangan menjual tiket Coldplay di luar kanal resmi dan dengan harga yang tidak wajar ditindak secara tegas. Tidak terkecuali Putri Inteligensia 2019 Lycie Joanna.
’’Ya, itu harus diproses secara hukum. Kita negara hukum, segala tindak pidana harus diproses hukum dan diberi sanksi tegas jika terbukti bersalah,” katanya.
Sandi juga menyebut, sudah ada 60 laporan ke kepolisian terkait penipuan tiket Coldplay. Karena itu, jangan sampai ada korban tambahan lagi. Apalagi, tiket konser Coldplay sudah habis dan belum ada konfirmasi resmi terkait tambahan kuota atau hari.
’’Beli tiket dari sumber tepercaya. Jangan tergiur oleh calo karena tiket Coldplay sudah habis,” ujarnya.
Sementara itu, Sandi menyebut konser Coldplay yang akan digelar pada November 2023 membawa angin segar bagi pertumbuhan pariwisata dan ekonomi Indonesia. Bahkan, hotel-hotel di kawasan inti seputar GBK (Gelora Bung Karno) sudah 90 persen terpesan penuh. Begitu juga okupansi di seluruh kawasan pendukung yang berkaitan dengan wisatawan mancanegara dan Nusantara sudah di atas 50 persen.
’’Ini juga dapat membuka lapangan kerja, UMKM, penyedia kuliner pun bisa terangkat,” imbuhnya.
Selain itu, konser Coldplay juga memiliki peluang untuk mengundang 10–12 ribu wisatawan mancanegara. ’’Targetnya, dapat mencapai 8,5 juta wisatawan mancanegara di 2023,” ujarnya. (*)
KM Cahaya Ilahi naik ke atas batu usai dihantam angin dan ombak besar
batampos- Akibat cuaca ekstrim berupa angin kencang dan ombak tinggi di laut telah menyebabkan kapal kargo berukuran kecil mengalami musibah. Yakni, kapal kandas dan naik ke atas batu setelah dihantam angin dan ombak pada Rabu (24/5).
”Peristiwa terjadinya kecelakaan di laut dialami KM Cahaya Ilahi GT 6 pada Rabu (24/5) pukul 03.00 WIB. Lokasinya di Perairan Batu Limau, Alai, Kecamatan Ungar,” ujar Danlanal Tanjungbalai Karimun, Letkol Laut (P) Joko Santosa, Kamis (25/5).
Berdasarkan keterangan dari Mindi selaku nakhoda KM Cahaya Ilahi, lanjut Danlanal, pada Selasa ( 23/5) pukul 02.00 berangkat dari Pelabuhan 3 Desa Sokoy, Kuala Kampar Kabupaten Pelelawan. Saat berangkat kapal tidak ada muatan dan di dalam kapal terdapat 2 orang kru.
”Kapal bisa sangkut atau naik ke atas batu di Perairan Batu Limau disebabkan tujuannya memang ke Tanjungbatu, Kundur. Yakni, untuk mengangkut kelapa dan akan kembali dibawa ke Pelalawan. Namun, sebelum sampai ke pelabuhan tujuan kapal dihantam angin dan ombak. Sehingga, tidak bisa menghindar dan akhirnya naik ke atas batu,” paparnya.
Lokasi atau perairan Batu Limau, tambahnya, memang perairan yang berbatu. Artinya, kapal-kapal yang melalui perairan tersebut harus mengetahui dan benar-benar faham pada saat melalui perairan tersebut.
”KM Cahaya Ilahi akhirnya baru bisa lepas dari batu tersebut setelah menunggu air laut pasang. Untuk bisa lepas juga dibantu kapal lain. Yakni, KM Dika Bila. KM Cahaya Ilahi kemudian dibawa ke Alai, Kecamatan Ungar untuk pengecekan. Setelah tidak ada kebocoran dan kerusakan, siang harinya kapal melanjutkan perjalanan ke Penyalai, Kabupaten Pelalawan,” jelas Danlanal. (*)
Salah satu pintu Masjid Nawabi penuh sesak oleh jamaah meski di hujan deras, Kamis (25/5/2023). (ANTARA/Nur Istibsaroh)
batampos – Madinah diguyur hujan deras disertai petir dan angin kencang sekitar pukul 17.55 Waktu Arab Saudi atau bertepatan dengan masuknya waktu salat magrib. Kondisi tersebut tidak menghalangi antusiasme jemaah berbondong-bondong datang ke Masjid termasuk calon haji dari Indonesia untuk melaksanakan ibadah Arbain.
Seperti yang dilakukan pasangan suami istri lanjut usia (lansia) Wartono dan Ismoyowati, calon haji dari Kabupaten Demak, Jawa Tengah yang salat Magrib dan Isya di Masjid Nabawi meskipun istrinya menggunakan kursi roda.
Hal sama juga dilakukan Zainuddin dan Surinah, jemaah haji kloter l asal Kabupaten Lingga Kepri memutuskan untuk tetap melaksanakan ibadah Arbain meski turun hujan. “Saya sudah melaksanakan ibadah Arbain sejak Subuh kemarin. Sudah target sampai selesai, dapat 40 waktu,” ujar Zainuddin, Kamis (25/5).
Jemaah calon haji kloter pertama yang tiba di Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz (AMAA) Madina pada Rabu 24 Mei 2023 ini baru bisa melaksanakan ibadah haji pada tahun ini karena pada 2020 terhalang pandemi. Begitu juga pada 2022, Zainuddin tidak bisa berangkat haji karena istrinya harus menjalani operasi. “Alhamdulillah tahun ini bisa berangkat haji,” katanya.
Hal yang sama juga disampaikan Sita (46) jemaah haji kloter l ini mengaku tetap melaksanakan ibadah arbain meski turun hujan. “Mumpung masih di sini, jangan melewatkan Arbain,” katanya.
Selain Masjid Nabawi, hujan juga mengguyur Bandara Internasional Pangeran Amir Mohammad Bin Abdul Aziz (AMAA) Madinah. Ini merupakan kali kedua hujan mengguyur kawasan tersebut.
Hujan deras disertai angin kencang tersebut terjadi sekitar pukul 17.15 WAS. Landasan dan pesawat yang biasanya terlihat juga tertutup tingginya curah hujan. Tidak hanya itu, angin kencang juga menerbangkan benda benda seperti plastik yang ada di area bandara.
Sebelumnya, hujan disertai angin kencang juga melanda bandara tersebut pada pukul 19.30 WAS ketika jemaah haji asal embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) dan jemaah dari Pakistan baru keluar dari ruang pemeriksaan Imigrasi. Jemaah calon haji Indonesia yang baru di bandara langsung mengucap syukur. (*)
Kawah Gunung Ijen di Banyuwangi, Jawa Timur. (Istimewa)
batampos– Ijen Geopark resmi menjadi bagian geopark dunia. Taman bumi di kawasan Gunung Ijen yang berada di antara Banyuwangi serta Bondowoso, Jawa Timur, tersebut juga bakal menjadi laboratorium alam, baik geologi, biologi, maupun budaya.
Itu menyusul penabalan Ijen Geopark sebagai anggota UNESCO Global Geopark (UGG). Peresmian tersebut diputuskan dalam sidang tahunan UNESCO (badan PBB yang mengurusi pendidikan, sains, dan kebudayaan) di Paris, Prancis.
General Manager Geopark Ijen Abdillah Baraas yang turut mengikuti sidang tahunan UNESCO Rabu (24/5) lalu melalui saluran virtual menyebut Ijen Geopark lulus dengan capaian nilai terbaik, 872 dari 1.000 poin. Nilai tersebut tertinggi sepanjang sejarah.
”Bersyukur, Geopark Ijen secara sah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark melalui session of the executive board yang berlangsung pada 10–24 Mei di sekretariat UNESCO Paris,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin (25/5).
Geopark atau taman bumi merupakan kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi. Di dalam kawasan geopark, masyarakat diajak berperan serta untuk melindungi atau meningkatkan fungsi warisan alam yang dimiliki. Termasuk kandungan nilai arkeologi, ekologi, dan budaya di dalamnya. Dalam penamaannya, Ijen diambil langsung dari Gunung Ijen yang menjadi dasar pembentukan cerita geologi di keseluruhan kawasan geopark serta hubungannya dengan unsur biologi maupun budaya di sekitarnya.
Menurut Abdillah, terdapat 18 geopark baru yang ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark di dunia. Empat di antaranya berada di Indonesia: Ijen Geopark, Geopark Maros Pangkep, Geopark Merangin Jambi, dan Geopark Raja Ampat.
Ijen Geopark yang resmi dengan status UGG kini otomatis telah menjadi bagian jaringan geopark dunia. ”Kami berharap hal ini tidak hanya membawa manfaat secara lingkungan, namun juga secara sosial, budaya, dan ekonomi,” tuturnya.
Ada beberapa situs geologi yang dikembangkan tim Ijen Geopark. Mulai skala lokal hingga internasional. ”Salah satu dari banyak situs geologi yang mempunyai fenomena luar biasa adalah Kawah Ijen dengan danau kawah paling asam di dunia dengan fenomena alam blue fire yang muncul sebagai solfatara,” ungkap Abdillah yang juga wakil ketua I Jaringan Geopark Indonesia.
Ke depan, pihak Ijen Geopark juga diminta untuk terus melakukan update atau pembaruan data, mempertahankan kelestarian alam, serta mengembangkan inovasi sustainable development goals.
”Selain itu, kami tentu mendapat beberapa kritikan membangun. Seperti fasilitas publik dan transportasi yang kurang serta bahan interpretasi yang masih perlu diperbaiki. Kami harap ke depan bisa terus memperbaiki apa yang menjadi kekurangan tersebut,” kata dia.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Yanuarto Bramuda menyatakan bersyukur atas capaian menjadi UNESCO Global Geopark tersebut. Dia berharap pariwisata Banyuwangi bisa terus melambung.
”Banyuwangi memang memiliki banyak peninggalan geologi. Selain itu, Banyuwangi memiliki budaya yang cukup komplet dari berbagai suku. Kekayaan ini menjadi salah satu penunjang penilaian sehingga mendapatkan hasil terbaik,” katanya. (*)
Jemaah Calon Haji kloter tiga Embarkasi Batam saat meninggalkan Asrama Haji Batam, menuju Bandara Hang Nadim Batam untuk melakukan keberangkatan melaksanakan ibadah haji, Kamis (25/5). F Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Batam memberangkatkan Jamaah Calon Haji (JCH) yang tergabung dalam kloter 3 yang berasal dari Provinsi Kepulauan Riau, di Asrama Haji Batam, Kamis (25/4).
Jumlah rombongan pada JCH Kloter 3 Embarkasi Batam merupakan jamaah yang berasal dari Provinsi Kepulauan Riau, berjumlah 373 Orang.
Berdasarkan data dari PPIH Embarkasi Batam, terdapat seorang JCH yang tunda berangkat ke Tanah Suci pada kloter ini, yakni Syamsul Bahri asal Kota Tanjungpinang karena sakit.
“Pada kloter 3 ini terdapat satu JCH yang tunda berangkat ke Tanah Suci, asal Kota Tanjungpinang karena sakit,” kata Wakil Ketua III PPIH Embarkasi Hang Nadim Batam Abu Sufyan.
Ia menyampaikan saat ini calon haji yang bersangkutan sedang dirujuk di Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam.
“Kalau dalam waktu dekat jamaah tersebut sehat dan sudah layak terbang, nanti bakal ikut kloter selanjutnya,” kata dia.
Lebih lanjut ia menyampaikan pada kloter 3 tersebut terdiri dari JCH asal Kota Batam sebanyak 87 orang, Kabupaten Bintan 68 orang, Kota Tanjungpinang 212 orang, dan petugas kloter 5 orang.
Berdasarkan jadwal, kloter 3 Embarkasi Hang Nadim Batam diberangkatkan Kamis (25/5) pukul 11.20 WIB dan tiba di Madinah pada pukul 17.35 Waktu Arab Saudi (WAS).
Kata Abu, calon haji tertua pada kloter tersebut berusia 86 tahun berasal dari Kota Batam dan calon haji termuda berusia 23 tahun berasal dari Kabupaten Bintan.
“Sampai saat ini sudah 2 kloter yang berangkat ke Madinah dengan jumlah jamaah 741 orang,” ujar dia.
Ia menambahkan, saat ini terdapat enam JCH yang masih dalam perawatan karena sakit. Keputusan pemberangkatan JCH bisa kembali dilaksanakan, usai mendapatkan persetujuan dari pihak medis.
“Masih dalam pemantauan. Kami berharap kondisi JCH membaik, sehingga JCH bisa berangkat ke tanah suci, dan menjalankan ibadah haji yang sudah lama mereka tunggu,” tutupnya. (*)