
batampos – Menjelang hari Raya Idul Fitri, ada beberapa tradisi unik di daerah Indonesia, salah satunya adalah tradisi Bantai (Batte) sapi atau kerbau yang ada di wilayah Dusun Huta Baru, Desa Pargarutan Dolok, Kecamatan Angkola Timur, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Bantai (Marbatte) sendiri merupakan tradisi menyembelih Sapi sehari sebelum hari raya.
Sapi atau kerbau yang disembelih tersebut kemudian dagingnya dijadikan lauk-pauk pada saat hari raya Idul Fitri.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata Bantai berarti daging binatang yang disembelih.
Biasanya, sebelum menyembelih sapi atau kerbau, panitia yang akan melakukan Pembantaian akan merekap siapa saja yang akan membeli daging maupun tulang dari sapi dan kerbau yang disembelih.
Namun, di sisi lain ada juga yang menjual daging dan tulang tersebut dengan metode lelang tradisional. Di mana penawar dengan harga tertinggi lah yang berhak memenangkan atau membeli daging dan tulang hasil bantai tersebut.
Darman (45) salah seorang warga Dusun Huta Baru yang melaksanakan Bantai, menerangkan bahwa hampir setiap tahun menjelang hari raya, ia dan beberapa orang lain patungan membeli kerbau untuk kemudian dibantai bersama.
“Tahun ini kita sembelih 1 ekor sapi. Alhamdulillah sudah banyak yang pesan baik itu daging maupun tulangnya mencapai 35 bagian. Untuk harga daging sapi itu Rp 430 perbagian. Perbagian itu bisa 6 atau 7 kilogram,” jelasnya.
Menurut Darman tradisi bantai ini sendiri sudah ada sejak zaman dahulu, dan tidak diketahui secara pasti kapan tepatnya tradisi ini dimulai.
“Setahu saya bantai ini sudah ada sejak zaman dahulu, sejak saya masih kecil sudah ada tradisi seperti ini,” ujarnya.
Sementara itu Ramli (65), salah seorang tokoh masyarakat setempat juga membenarkan adanya tradisi bantai ini sudah ada sejak zaman dahulu.
“Kalau dahulu sistemnya tidak seperti sekarang. Dulu orang yang ingin ikut Bantai, akan kongsi misalnya satu kerbau itu 10 orang. Masing-masing orang dapat 1 tiang, atau istilahnya satu bagian. Jadi berapa harga beli kerbau akan dibagi rata pada masing-masing orang yang pegang tiang. Dagingnya juga akan dibagi sama rata,” ungkapnya.
Tradisi bantai ini menyimbolkan rasa suka cita masyarakat dalam menyambut hari raya. Di mana makan dengan lauk daging, merupakan suatu yang mewah bagi sebagian besar masyarakat, dan hanya bisa dilakukan pada perayaan tertentu saja. (*)
Reporter : Dalil Harahap








