batampos – Pedagang di Pasar Puan Ramah berencana akan pindah berjualan ke sekitar Pasar Baru usai lebaran akibat kondisi pasar yang semakin memprihatinkan. Tidak hanya sepi dari pembeli, pasar relokasi itu juga semakin sepi dari berbagai pedagang, yang sudah banyak kembali berjualan ke kawasan semula.
Pantauan Batam Pos, total pedagang yang berjualan di pasar itu hanya berkisar antara 25-30 pedagang setiap harinya.
Salah satu pedagang ayam, Kateno mengatakan kondisi pasar yang sepi itu sudah berlangsung sejak lama, setiap hari ada pedagang pindah ke sekitar Pasar Baru dan Pasar Bintan Center, akhirnya masyarakat juga malas berbelanja karena yang berjualan di sana tidak lengkap.
“Rencana kami akan pindah setelah lebaran mau pindah semua, kalau pindah sekarang nanggug karena belum ada dipungut sewa,” Kata Kateno, Rabu (5/4).
Kata Kateno, para pedagang sudah sering meminta solusi kepada Pemko Tanjungpinang, namun hal itu terasa percuma. Pemerintah tidak kunjung memberikan solusi bahkan untuk mengunjungi dan melihat pedagang sudah tidak pernah.
“Terakhir wali kota ke sini waktu senam pagi dan bagi-bagi doorprize, setelah itu tidak ada,” ucapnya.
Ia mengaku sering rugi, karena yang dijualnya adalah daging ayam yang tidak bisa tahan lama, dalah satu hari Kateno membawa belasan ekor ayam, namun yang terjual tidak sampai setengah.
“Apalagi yang saya jual ini adalah ayam jadi tahan lama, dua hari sudah busuk kalau tidak habis,” ucapnya.
Pedagang lain, Abdurrahman menuturkan hal yang sama, bahwa para pedagang di pasar itu tidak punya solusi lain selain pindah dari tempat itu. “Kalau yang lain pindah kita harus ikut, gak mungkin jualan sendiri di sini,” ucapnya.
Menurutnya pasar murah yang diadakan di kawasan terminal Sei Carang harusnya diadakan di pasar itu, karena bisa membawa masyarakat untuk berbelanja di sana.
“Coba lihat, pasar murah aja diadakan di Bintan Center, kenapa nggak di sini, kan warga bisa belanja di sini,” ucapnya.
Pedagang bumbu masak, Ranta menyebut sekarang pemerintah daerah tidak lagi pernah mendatangi para pedagang di pasar itu menanyakan kondisinya, akhirnya mereka mencoba mencari solusi sendiri dengab cara pindah dari tempat itu.
“Sedihnya kadang dalam satu hari tidak ada yang pecah telur, tidak ada jualan, kami sudah tidak bisa tahan lagi di sini,” keluhnya. (*)
Reporter: Peri Irawan















