
batampos – Setelah Amerika Serikat (AS) menahan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro, muncul pertanyaan besar tentang siapa yang akan memerintah negara Amerika Latin tersebut.
Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa pemerintahan sementara Venezuela akan dikelola langsung oleh AS, bukan diserahkan kepada oposisi demokratik setempat.
Trump juga menyebut perusahaan-perusahaan AS akan diuntungkan dari sektor minyak Venezuela, yang diketahui memiliki cadangan terbesar di dunia. Pernyataan itu disampaikan setelah pasukan AS melancarkan serangan ke ibu kota Caracas dan menahan Maduro dalam operasi pada malam hari.
Selama bertahun-tahun mengkritik apa yang ia sebut sebagai kegagalan AS dalam upaya pembangunan negara lain, Trump kini secara terbuka menyatakan bahwa Washington akan mengelola Venezuela sementara waktu, negara berpenduduk hampir 30 juta jiwa.
“Kami akan mengelola negara ini sampai tiba saatnya melakukan transisi yang aman, layak, dan bijaksana,” kata Trump dalam konferensi pers di Florida, dilansir AFP, Minggu (4/1).
Namun, hingga kini belum jelas bagaimana AS akan menjalankan pemerintahan tersebut, mengingat Kedutaan Besar AS di Venezuela telah ditutup dan tidak ada laporan keberadaan pasukan AS di darat.
Trump mengatakan AS tengah menyiapkan sejumlah individu, termasuk satu kelompok yang tidak disebutkan namanya. Untuk sementara, menurut Trump, Venezuela akan dipimpin oleh orang-orang yang “berdiri tepat di belakang saya”, yakni Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan para pimpinan militer AS.
Marco Rubio, yang dikenal sebagai penentang keras kelompok kiri Amerika Latin, selama berbulan-bulan menegaskan bahwa AS dan sebagian besar negara Barat menganggap Maduro tidak sah menyusul dua pemilu yang dinilai pengamat penuh kejanggalan.
Namun, beberapa jam setelah penangkapan Maduro, Trump justru menepis peluang Maria Corina Machado, tokoh oposisi yang meraih Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu dan selama ini dipuji pemimpin Barat sebagai kandidat kuat pengganti Maduro.
“Saya rasa sangat sulit baginya untuk menjadi pemimpin,” ujar Trump.
“Dia tidak memiliki dukungan internal atau penghormatan di dalam negeri. Dia perempuan yang baik, tetapi tidak memiliki penghormatan,” lanjutnya.
Trump juga mengungkapkan bahwa AS tidak menghubungi Machado, meski sang tokoh oposisi menyambut penangkapan Maduro sebagai momen pembebasan.
Sebaliknya, Trump mengatakan Marco Rubio telah berbicara via telepon dengan Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez, tokoh penting gerakan kiri yang dekat dengan Maduro dan mendiang Hugo Chavez.
“Dia pada dasarnya siap melakukan apa pun yang kami anggap perlu untuk membuat Venezuela hebat kembali,” kata Trump.
Namun, dalam pidatonya kepada rakyat Venezuela, Rodriguez tidak sejalan dengan klaim Trump. Ia menegaskan bahwa Maduro tetap presiden sah Venezuela dan menuntut kepulangannya.
Sejumlah sekutu AS yang sebelumnya bersatu menentang Maduro dilaporkan mulai menjaga jarak dari Trump. Presiden Prancis Emmanuel Macron, meski menyambut berakhirnya apa yang ia sebut sebagai “kediktatoran Maduro”, menegaskan bahwa kehendak rakyat Venezuela diwakili oleh Edmundo Gonzalez Urrutia, tokoh oposisi dan sekutu Machado yang dinilai komunitas internasional sebagai pemenang sah pemilu 2024.
Mantan diplomat senior AS Kevin Whitaker mengaku terkejut dengan pernyataan Trump yang menyingkirkan peran Machado.
“Ini terlihat seperti situasi di mana pemerintahan Trump memutuskan masa depan demokrasi Venezuela tanpa merujuk pada hasil pemilu,” ujar Whitaker, yang kini bergabung dengan lembaga pemikir Atlantic Council.
Secara konstitusional, Rodriguez seharusnya memanggil pemilu baru. Namun analis menilai belum jelas apakah ia benar-benar bersedia menyerahkan kekuasaan.
“Kenaikan Rodriguez mungkin memperbaiki hubungan dengan AS, tetapi saya ragu akan membawa perubahan besar bagi rakyat Venezuela,” kata analis Venezuela Iria Puyosa.
Selama bertahun-tahun, Maduro dan Chavez menantang AS dengan retorika anti-imperialisme sembari menerapkan ekonomi sosialis yang kemudian runtuh dan memicu eksodus jutaan warga Venezuela.
Di dalam negeri AS, para pesaing politik Trump dari Partai Demokrat mengecam keterlibatan terbuka perusahaan minyak, menyebutnya sebagai kebangkitan imperialisme dalam bentuk paling ekstrem.
“AS tidak seharusnya mengelola negara lain dengan alasan apa pun,” kata Senator Demokrat Brian Schatz.
“Kita seharusnya sudah belajar untuk tidak terjebak dalam perang tanpa akhir dan misi pergantian rezim yang membawa dampak buruk bagi rakyat Amerika.” (*)
Artikel Trump Tolak Oposisi, AS Klaim Akan Pimpin Venezuela Sementara pertama kali tampil pada News.









