
batampos – Perdamaian dunia menjadi pesan yang diserukan Muhammadiyah menjelang Muktamar ke-8 di Solo 18-20 November mendatang. Ormas Islam modern itu menawarkan wastiyah Islam atau Islam tengahan sebagai solusi mewujudkan perdamaian global.
Pesan perdamaian dunia itu disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam acara World Peace Forum (WPF) ke-8 yang digelar di Hotel Sunan Surakarta kemarin (17/11). Haedar hadir secara daring, karena masih ada kegiatan yang bersamaan di Jogjakarta.
Event internasional itu dibuka secara resmi oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo bersama Ketua WPF dan Center for Dialogue and Cooperation Among Civilizations (CDCC) M Din Syamsuddin. Hadir delegasi dari berbagai agama dan negara. Diantaranya, Penasehat Dewan Fatwa Al-Azhar Mesir Syaikh Abbas Suman, dan Dicastery for Interreligious Dialogue Vatican Rev. Laurent Basanese SJ.
Hadir pula Emeritus Professor of Indonesian Politics at The Australian National University Greg Fealy, President-Moderator of Asian Conference of Religions for Peace Desmond Cahill, Former Grand Mufti of Bosnia and Herzegovina Mustafa Ceric, serta Dean of Faculty of Islamic Sciences of Al-Azhar University Egypt Nahla Shabri Shu’aidi.
Sebanyak 70 peserta lintas agama dari 20 negara ikut berdiskusi dan mencari solusi dalam acara yang mengangkat tema Human Fraterniy and the Middle Path for Peaceful, Just and Prosperous World itu.
Haedar Nashir menyampaikan bahwa WPF adalah forum penting untuk meluaskan gaung pesan-pesan Islam pada level global yang diharapkan membawa pada jalan Islam tengahan atau wasatiyat al-Islam. “Kami berkomitmen pesan wasatiyah Islam tidak hanya berhenti pada deklarasi, tetapi bisa direalisasikan dalam hidup sebenarnya penduduk muslim dan warga dunia,” terangnya kemarin.
Apalagi, lanjut dia, tantangan dunia hari ini begitu kompleks, seperti suburnya kecurigaan, ujaran kebencian, permusuhan, konflik dan perang, kekerasan pada anak dan perempuan, ekstrimisme, kemiskinan hingga diskriminasi dalam lingkup domestik, regional, dan global.
Guru besar sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu berharap WPF dapat melahirkan rekomendasi bagi lahirnya dunia yang damai, adil, dan makmur disertai persaudaraan laki-laki dan perempuan dengan penuh penghargaan.
Haedar menegaskan bahwa Islam sebagai agama peradaban. Islam menentang kekerasan apapun bentuknya, baik secara epistemik, fisik, maupun secara struktural. “Islam adalah khoiru ummah, komunitas terbaik, dan bangsa terbaik,” ungkap tokoh asal Bandung itu.
Dia menyatakan, umat Islam harus menghadirkan keteladanan dan keberadaban dari nilai-nilai Islam otentik, seperti rahmatan lil alamin. Muslim harus menjadi role model dan menguatkan persaudaraan antar umat manusia dengan penuh cinta dan solidaritas.
Haedar mengatakan, WPF tersinkronisasi dengan Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, karena tema yang diangkat senada dengan tema Muktamar, yaitu Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta. Dia pun mengundang para tokoh dan peserta WPF untuk turut hadir dalam pembukaan Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah pada 19 November.
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan, di tengah berbagai persoalan global yang terjadi, WPF menawarkan gagasan menarik untuk menjadikan persaudaraan insani dan jalan tengah sebagai pondasi dan titik tumpu. Tema itu sejalan dengan dokumen Human Fraternity for World Peace and Living Together yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar Al Azhar Ahmed el-Tayeb pada 4 Februari 2019 lalu.
Menurutnya, dokumen itu mengedepankan pendekatan transendental untuk membangun semangat persahabatan dan persaudaraan antar umat manusia. “Dokumen tersebut juga dapat dimaknai sebagai kritik atas realitas global, yang belum sepenuhnya sepadan dengan besarnya upaya untuk mewujudkan kehidupan dunia yang damai, adil, dan sejahtera,” terang Bamsoet.
WPF ke-8 akan melahirkan Surakarta Message. Sekretaris Umum (Sekum) PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan, Surakarta Message bisa dimaknai sebagai pesan bersama mengenai persaudaraan dan perdamaian yang dibuat para yang berasal dari lintas agama dari negara-negara di dunia.
Menurut Abdul Mu’ti, tema human fraternity atau persaudaraan manusia merupakan tema besar tingkat global yang digerakkan banyak masyarakat dunia.”Sehingga kami akan berusaha melanjutkan upaya-upaya yang juga telah menjadi perhatian besar dunia ini,” kata Abdul Mu’ti yang juga hadir dalam forum tersebut.
Sementara itu, para peserta muktamar mulai berdatangan kemarin. Mereka memanfaatkan waktu luang untuk berkunjung ke beberapa tempat. Salah satunya Masjid Raya Sheikh Zayed Al-Nahayan Surakarta yang diresmikan Presiden Joko Widodo bersama Presiden Uni Emirat Arab (UEA) Mohammed bin Zayed pada 14 November lalu. Namun, mereka hanya bisa berfoto di pedestrian jalan, karena masjid tersebut belum dibuka untuk masyarakat.
Ketua Panitia Penyambutan Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Sofyan Anif mengatakan, para peserta muktamar sudah mulai masuk Solo. “Ada ratusan bus yang datang. Mereka menyebar di beberapa lokasi,” terangnya saat ditemui di sela-sela acara WPF kemarin.
Banyak tempat yang disiapkan bagi mereka. Yaitu, Stadion Manahan, kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), gedung sekolah Muhammadiyah, dan fasilitas amal usaha lainnya. Bahkan, beberapa yayasan pendidikan non Islam juga menyiapkan tempat penginapan bagi muktamirin.
Sofyan yang juga menjabat Rektor UMS itu mengatakan bahwa sebanyak tiga juta orang akan hadir dalam muktamar yang sempat tertunda dua tahun karena pandemi Covid-19 itu. Dia menegaskan, persiapan muktamar sudah seratus persen. “Kami siap menyambut muktamirin,” ungkapnya.
Menurut dia, pihaknya juga mengerahkan 10 ribu relawan untuk mensukseskan muktamar. Mereka akan membantu untuk melayani para peserta yang datang. Panitia juga menerjunkan 1.200 petugas keamanan. Sementara dari pihak kepolisian, akan ada 2.500 petugas yang dikerahkan. (*)
Reporter: JP Group









