Rabu, 15 April 2026
Beranda blog Halaman 7114

Penggunaan Masker Makin Minim, Polisi Razia ke Pasar Tos 3000

0
Tidak Pakai Masker e1658889871224
Personel Polsek Lububaja mendatangi pasar untuk memperingatkan masyarakat agar menggunakan masker, Selasa (26/7) pagi. F.Budi untuk Batam Pos

batampos – Polsek Lubukbaja kembali melakukan sosialisasi dan razia masker di kawasan pasar, yakni di Pasar Tos 3000 dan Pasar Pujabahari, Selasa (26/7) pagi. Hasilnya, banyak ditemukan pedagang dan pengunjung yang tak menggunakan masker.

“Sekitar 50 persen ditemukan tidak menggunakan masker. Kita beri sanksi teguran, kemudian diberikan masker,” ujar Kapolsek Lubukbaja, Kompol Budi Hartono, Selasa (26/7) siang.

Budi menjelaskan kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.440/3917/SJ. Surat ini tentang percepatan vaksinasi dosis lanjutan bagi masyarakat serta imbauan tetap memakai masker.

“Sekarang angka Covid juga meningkat. Di sini (Kecamatan Lubukbaja) 2 orang di rawat di rumah sakit,” katanya.

Menurut Budi, kegiatan sosialisasi ini akan terus gencar dilakukan. Hingga seluruh masyarakat kembali menerapkan protkes dan mengikuti vaksin booster sesuai ketentuan pemerintah.

“Bukan di pasar saja, di pertokoan, dan di sekitar perumahan. Bagi masyarakat yang belum booster, segera ke polsek, kita menyediakan setiap hari,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kapolresta Barelang, Kombes Nugroho Tri Nuryanto menegaskan pihaknya akan meningkatkan kegiatan razia masker. Sebab, angka Covid-19 di Batam kembali meningkat.

“Kegiatan itu (razia masker) akan kita lakukan lagi. Kita datangi ke lokasi-lokasi dan peringatkan masyarakat untuk terus menerapkan protokol kesehatan,” ujar Nugroho di Mapolresta Barelang.

Selain peningkatan kegiatan razia, pihaknya juga meningkatkan kegiatan vaksinasi. Menurut dia, vaksinasi sangat penting untuk menurunkan dan mencegah penyebaran Covid-19.

“Kalau bicara data sebelum ada vaksin, 2 tahun laku, masyarakat yang terkonfirmasi positif dan meninggal karena Covid meningkat. Setelah vaksin turun,” katanya. (*)

 

 

Reporter: YOFI YUHENDRI

Liga Premier Inggris Dipimpin Perempuan untuk Pertama Kalinya

0
Ilustrasi logo Liga Premier Inggris. (Andrew Yates/Reuters/Antara)

batampos – Liga Premier pada Selasa (26/7) mengumumkan penunjukan Alison Brittain sebagai perempuan pertama yang bakal menjabat ketua liga domestik Inggris tersebut.

Brittain terpilih menjadi ketua Liga Premier setelah mendapat suara bulat dari klub-klub Liga Inggris. CEO bisnis perhotelan Whitbread itu akan menggantikan posisi ketua interim Peter McCormick pada awal tahun depan.

McCormick sebelumnya ditunjuk menjadi ketua sementara Liga Premier setelah ketua kala itu, Gary Hoffman, mengundurkan diri akibat protes keras dari sejumlah klub terkait keputusan akuisisi Newcastle United oleh perusahaan Arab Saudi.

”Liga Inggris memiliki kepentingan nasional yang sangat besar, dicintai begitu banyak orang di seluruh dunia dan dapat memberikan dampak positif yang luar biasa bagi masyarakat,” kata Brittain dalam sebuah pernyataan dikutip dari AFP seperti dilansir dari Antara.

”Ini menjadi sebuah keistimewaan bisa membantu mengembangkan rencana masa depan dan bekerja dengan semua pemangku kepentingan utama untuk memastikan keberlanjutan dan kesuksesan jangka panjang liga,” lanjut dia.

Kepala Eksekutif Liga Premier Richard Masters menyatakan, Brittain cocok mengisi posisi tersebut karena berpengalaman dalam bisnis.

”Dia memiliki rekam jejak yang hebat dalam bisnis, bisa menyelesaikan pekerjaan dengan rendah hati dan cukup disegani di seluruh industri tempat dia bekerja. Dia juga mempunyai minat terhadap liga dan cara bagaimana mengembangkannya,” papar Masters.

Brittain, perempuan berusia 57 tahun, telah menghabiskan hampir dua dekade di Barclays dan menjadi dewan penasihat tiga perdana menteri Inggris terakhir. (*)

 

Reporter: Antara

Berangkat Umrah Wajib Booster Vaksin Covid-19

0
Ilustrasi suntikan vaksin Covid-19. ( F Reuters)

batampos – Pemerintah mewajibkan para pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) usia 18 tahun ke atas, termasuk para jamaah umrah, sudah divaksin Covid-19 dosis ketiga atau booster.

Ketentuan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Satgas Covid-19 22/2022 yang terbit beberapa waktu lalu. Di dalam SE tersebut dinyatakan sertifikat vaksin dosis ketiga wajib tertera dalam sertifikat fisik atau digital di aplikasi PeduliLindungi. Ketentuan ini dikecualikan untuk beberapa alasan. Seperti PPLN dengan kondisi kesehatan khusus atau memiliki komorbid.

Sejumlah asosiasi penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU) merespon adanya kebijakan tersebut. Ketua Umum Kebersamaan Pengusaha Travel Haji dan Umrah (Bersathu) Wawan Suhada menegaskan mereka keberatan dengan aturan tersebut.

Menurut dia aturan tersebut berdampak terhadap pelayanan penyelenggaraan umrah. Khususnya kepada calon jemaah umrah yang belum mendapatkan vaksin booster atau dosis ketiga. Menurut dia di daerah-daerah tertentu, untuk mengakses vaksin dosis ketiga tidak gampang. Aturan kewajiban booster atau dosis ketiga itu diharapkan untuk ditinjau ulang. Apalagi pemerintah Arab Saudi tidak mewajibkan ketentuan serupa.

Wawan membenarkan bahwa mulai Agustus depan, sudah bisa mengirim jemaah umrah kembali. Setelah sebelumnya ditutup, karena difokuskan untuk pelayanan jemaah haji.

Suara serupa disampaikan Ketua Umum Sarikat Penyelenggara Umrah dan Haji (Sapuhi) Syah Resfiadi. ’’Kami memahami aturan itu dibuat demi keselamatan bangsa,’’ katanya kemarin (26/7). Tetapi dia mengatakan pemerintah harus terus menggencarkan program vaksinasi dosis ketiga.

Melihat statistik vaksinasi Covid-19 saat ini, jumlah yang sudah mendapatkan dosis ketiga masih jauh dibawah dosis kedua atau pertama. Data sampai 26 Juli menyebutkan ada 54,9 juta masyarakat mendapatkan dosisi booster. Sementara itu untuk dosis pertama ada 202 juta jiwa dan dosis kedua ada 169 juta jiwa.

’’Tentunya kebijakan ini (wajib booster) akan mengganggu perjalanan umrah,’’ katanya. Syam mengatakan sampai saat ini Arab Saudi tidak mewajibkan kedatangan jemaah umrah sudah di-booster. Syam menegaskan sekarang pemerintah harus meningkatkan kegiatan vaksinasi dosis ketiga di pelosok Indonesia. Sehingga umat Islam yang ingin berumrah bisa terbang ke Arab Saudi. (*)

Reporter: JP Group

Jemaah Haji Kloter Pertama Tiba di Batam, Ada yang Bergejala Covid-19

0
Jemaah Haji 3 F Cecep Mulyana e1658842804241
Jemaah Haji kloter pertama debarkasi Batam tiba di Asrama Haji Batam, Selasa (26/7).F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Sebanyak 449 orang jemaah haji kloter pertama debarkasi Batam tiba di Asrama Haji, Selasa (26/7). Semua jemaah tergabung tujuh kabupaten dan kota di Kepri berada dalam kondisi sehat.

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Batam, Mahbub Daryanto mengatakan perjalanan ibadah yang membutuhkan tenaga, dan diharapkan jemaah melakukan pengecekan fisik ketika kembali ke keluarga.

“Alhamdulillah jemaah Kepri kembali sesuai dengan jumlah yang berangkat. Semoga menjadi haji mabrur,” imbuhnya.

Sementara itu, ia menyebutkan lima jemaah dari Riau meninggal dunia selama mengikuti pelaksanaan ibadah. Seluruh jemaah sudah mengikuti tes ketika tiba di Bandara Internasional Hang Nadim Batam. Semoga hasilnya baik, dan tidak ada yang terpapar Covid 19 sampai kloter berikutnya.

“Semalam datang, semoga perjalan menuju daerah asal berjalan lancar. Kami menyerahkan jemaah kepada panitia daerah, mudah-mudahan selamat sampai ke keluarga masing-masing. Terima kasih kepada wali kota Batam membantu memberikan bekal baik berupa uang atau makan kepada jemaah,” kata Mahbub.

Saat pemeriksaan kesehatan ada satu jemaah yang terdeteksi. Jemaah merupakan kloter pertama dan berasal dari Bintan. Ada empat orang juga yang bergejala, namun negatif dari paparan Covid-19.

Untuk kloter pertama ini ada tiga kabupaten yang menginap di asrama haji. Jemaah berasal dari Anambas sebanyak 19 orang, Lingga 19 orang, dan Natuna sebanyak 46 orang. Sedangkan untuk Batam, Tanjungpinang, Bintan, dan Karimun langsung kembali ke daerah asal. (*)

 

Reporter : YULITAVIA

TPID Kota Batam Gelar Pasar Murah

0
IMG 20220726 WA0034
TPID Kota Batam menggelar operasi pasar di Pasar Aviari dan Pasar Sagulung selama 3 hari yang dilakukan pada tanggal 25 hingga 27 Juli 2022. Foto: TPID Kepri untuk Batam Pos

batampos – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Batam menggelar operasi pasar di Pasar Aviari dan Pasar Sagulung selama 3 hari yang dilakukan pada tanggal 25 hingga 27 Juli
2022 mendatang.

Operasi pasar ini, khususnya untuk komoditas utama penyumbang inflasi bahan pangan yaitu aneka cabai terutama cabai merah, dan telur ayam
ras yang harganya mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.

”Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya TPID dalam rangka pengendalian inflasi khususnya inflasi volatile food,” ujar Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Musni Hardi K. Atmaja.

Musni yang juga Kepala Perwakilan BI Kepri, melanjutkan, operasi pasar yang dilakukan juga diharapkan dapat mendorong efisiensi rantai distribusi. Sehingga, dapat membantu masyarakat memperoleh aneka cabai dan telur ayam ras dengan harga lebih terjangkau.

Selain itu, melalui kegiatan operasi pasar ini menunjukkan bahwa ketersediaan pasokan cabai mulai meningkat dengan harga yang mulai menurun.

”Ke depan, penurunan harganya diharapkan terus berlanjut seiring dengan mulai panennya beberapa sentra produksi cabai antara lain di Mataram, Palu, Yogyakarta, dan Sumatra
Utara,” katanya.

Sebagaimana diketahui bahwa pasokan aneka cabai khususnya cabai merah dalam dua bulan
terakhir menurun dikarenakan beberapa sentra produksi baru memulai musim tanam. Sebagian besar sentra produksi cabai di Kota Batam juga baru akan memulai panen dalam jumlah yang cukup banyak pada bulan Agustus dan Sep-
tember 2022.

”Pasokan cabai merah di pasar saat ini masih mengandalkan sumber pasokan dari luar daerah mengingat Kota Batam bukan merupakan daerah produsen bahan pangan,” jelasnya.

Upaya lain yang dilakukan TPID Kota Batam dalam menjaga ketersediaan barang, antara lain dengan memperkuat koordinasi dengan asosiasi distributor di Kota Batam. TPID secara rutin melakukan koordinasi dengan asosiasi distributor.

Hal ini dilakukan untuk menjaga dan memastikan agar pasokan kebutuhan pokok dari daerah produsen ke Kota Batam dapat terus berjalan lancar dengan rantai distribusi yang semakin efisien.

Selain itu, TPID Kota Batam juga telah melakukan kerjasama antarbdaerah (KAD) dengan beberapa daerah produsen bahan pangan, antara lain dengan Pemkab Simalungun dan Pemkab Tapanuli Utara.

”Kerja sama tersebut dimaksudkan untuk mempermudah pasokan bahan pangan khususnya aneka cabai danbhortikultura lainnya ke Kota
Batam,” tuturnya.

Pemerintah Kota Batam, Bank Indonesia, dan instansi terkait lainnya yang tergabung dalam TPID Kota Batam juga terus mendorong perluasan lahan
produksi bahan pangan khususnya cabai merah.

Melalui sinergi antaranggota TPID termasuk Bank Indonesia, dalam waktu dekat di Kota Batam setidaknya akan dilakukan perluasan lahan aneka cabai sebesar 11,5 hektare yang tersebar di Sembulang, Rempang Cate, dan Kelompok Wanita
Tani (KWT) Jadi Makmur.

Selain itu, TPID juga melakukan pembinaan kepada kelompok petani lokal di Batam di antaranya di Pulau Setokok,bSembulang, Rempang Cate, Nongsa dan Tembesi. Program pembinaan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produksi melalui penerapan teknik budidaya yang lebih baik, penguatan kelembagaan melalui pembentukan koperasi dan pendampingan akses pembiayaan bagi petani.

Dukungan juga diberikan dalam bentuk pemberian bantuan alat produksi seperti traktor, rumah bibit, dan pelatihan.

”Melalui program tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan bahan pangan yang berkesinambungan di Kota Batam,” katanya.

Selain itu, pada saat terjadi inflasi tinggi, TPID Kota Batam juga dapat berkolaborasi dengan koperasi untuk melakukan upaya stabilisasi harga seperti Operasi Pasar pada saat ini. Dengan rantai distribusi dari produsen ke konsumen akhir yang lebih efisien, maka harga dalam operasi pasar dapat lebih rendah dibandingkan harga di dalam
pasar.

”Sehingga masyarakat mendapatkan cabai dan telur dengan harga yang lebih terjangkau,” imbuhnya.(*)

Reporter: Eggi Idriansyah

TPID Kota Batam Gelar Pasar Murah

0
IMG 20220726 WA0034
TPID Kota Batam menggelar operasi pasar di Pasar Aviari dan Pasar Sagulung selama 3 hari yang dilakukan pada tanggal 25 hingga 27 Juli 2022. Foto: TPID Kepri untuk Batam Pos

batampos – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Batam menggelar operasi pasar di Pasar Aviari dan Pasar Sagulung selama 3 hari yang dilakukan pada tanggal 25 hingga 27 Juli
2022 mendatang.

Operasi pasar ini, khususnya untuk komoditas utama penyumbang inflasi bahan pangan yaitu aneka cabai terutama cabai merah, dan telur ayam
ras yang harganya mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.

”Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya TPID dalam rangka pengendalian inflasi khususnya inflasi volatile food,” ujar Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Musni Hardi K. Atmaja.

Musni yang juga Kepala Perwakilan BI Kepri, melanjutkan, operasi pasar yang dilakukan juga diharapkan dapat mendorong efisiensi rantai distribusi. Sehingga, dapat membantu masyarakat memperoleh aneka cabai dan telur ayam ras dengan harga lebih terjangkau.

Selain itu, melalui kegiatan operasi pasar ini menunjukkan bahwa ketersediaan pasokan cabai mulai meningkat dengan harga yang mulai menurun.

”Ke depan, penurunan harganya diharapkan terus berlanjut seiring dengan mulai panennya beberapa sentra produksi cabai antara lain di Mataram, Palu, Yogyakarta, dan Sumatra
Utara,” katanya.

Sebagaimana diketahui bahwa pasokan aneka cabai khususnya cabai merah dalam dua bulan
terakhir menurun dikarenakan beberapa sentra produksi baru memulai musim tanam. Sebagian besar sentra produksi cabai di Kota Batam juga baru akan memulai panen dalam jumlah yang cukup banyak pada bulan Agustus dan Sep-
tember 2022.

”Pasokan cabai merah di pasar saat ini masih mengandalkan sumber pasokan dari luar daerah mengingat Kota Batam bukan merupakan daerah produsen bahan pangan,” jelasnya.

Upaya lain yang dilakukan TPID Kota Batam dalam menjaga ketersediaan barang, antara lain dengan memperkuat koordinasi dengan asosiasi distributor di Kota Batam. TPID secara rutin melakukan koordinasi dengan asosiasi distributor.

Hal ini dilakukan untuk menjaga dan memastikan agar pasokan kebutuhan pokok dari daerah produsen ke Kota Batam dapat terus berjalan lancar dengan rantai distribusi yang semakin efisien.

Selain itu, TPID Kota Batam juga telah melakukan kerjasama antarbdaerah (KAD) dengan beberapa daerah produsen bahan pangan, antara lain dengan Pemkab Simalungun dan Pemkab Tapanuli Utara.

”Kerja sama tersebut dimaksudkan untuk mempermudah pasokan bahan pangan khususnya aneka cabai danbhortikultura lainnya ke Kota
Batam,” tuturnya.

Pemerintah Kota Batam, Bank Indonesia, dan instansi terkait lainnya yang tergabung dalam TPID Kota Batam juga terus mendorong perluasan lahan
produksi bahan pangan khususnya cabai merah.

Melalui sinergi antaranggota TPID termasuk Bank Indonesia, dalam waktu dekat di Kota Batam setidaknya akan dilakukan perluasan lahan aneka cabai sebesar 11,5 hektare yang tersebar di Sembulang, Rempang Cate, dan Kelompok Wanita
Tani (KWT) Jadi Makmur.

Selain itu, TPID juga melakukan pembinaan kepada kelompok petani lokal di Batam di antaranya di Pulau Setokok,bSembulang, Rempang Cate, Nongsa dan Tembesi. Program pembinaan dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produksi melalui penerapan teknik budidaya yang lebih baik, penguatan kelembagaan melalui pembentukan koperasi dan pendampingan akses pembiayaan bagi petani.

Dukungan juga diberikan dalam bentuk pemberian bantuan alat produksi seperti traktor, rumah bibit, dan pelatihan.

”Melalui program tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketersediaan bahan pangan yang berkesinambungan di Kota Batam,” katanya.

Selain itu, pada saat terjadi inflasi tinggi, TPID Kota Batam juga dapat berkolaborasi dengan koperasi untuk melakukan upaya stabilisasi harga seperti Operasi Pasar pada saat ini. Dengan rantai distribusi dari produsen ke konsumen akhir yang lebih efisien, maka harga dalam operasi pasar dapat lebih rendah dibandingkan harga di dalam
pasar.

”Sehingga masyarakat mendapatkan cabai dan telur dengan harga yang lebih terjangkau,” imbuhnya.(*)

Reporter: Eggi Idriansyah

DPRD Kepri Soroti Pembangunan BLK Karimun, Irwansyah: Jarak Harga Cukup Besar, Tak Ada Kantor Proyek

0

batampos-Komisi III DPRD Kepri menyoroti pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK) Karimun. Selain nilai kontrak yang ganjal, aktivitas pekerjaan juga tidak didukung dengan standar kerja yang sesuai.

Irwansyah

“Hari ini (Selasa 26/7) Komisi III DPRD Kepri melakukan sidak terhadap sejumlah pembangunan strategis Pemprov Kepri di Karimun. Yakni, peningkatan jalan Coastal Area dan BLK,” ujar Legislator Komisi III DPRD Kepri, Irwansyah, Selasa (26/7)

Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Provinsi Kepri tersebut mengatakan, pembangunan BLK Karimun yang digarap PT. Mira tersebut menimbulkan sejumlah pertanyaan. Karena aktivitas pekerjaan tidak didukung dengan standar yang sesuai.

“Kami tidak melihat ada kantor proyek atau direksi keet. Sementara ini adalah proyek yang dilaksanakan melalui proses tender,” jelasnya.

Persoalan kedua yang menjadi perhatian pihaknya adalah, besarnya jarak antara pagu anggaran dengan nilai kontrak. Disebutkannya, untuk pembangunan tersebut pagu anggaran yang diplot di APBD Kepri TA 2022 sebesar Rp10 miliar.

BACA JUGA: Gubkepri Usul 10 Proyek Strategis Kepri saat Rakor Gubernur Se-Sumatera

“Namun pekerjaan yang diawasi oleh PT. Bentan Sondong ini mengajukan penawaran sebesar Rp7,9 miliar. Ada jarak harga yang cukup besar, bahkan sekitar 21 persen,” ungkapnya.

Menyikapi kondisi ini, pihaknya meminta Pemprov Kepri melalui Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Pertanahan (PUPP) Provinsi Kepri melakukan pengawasan yang ekstra. Karena pelaksaan pembangunan proyek ini rawan bermasalah.

“Kontraktor berkomitmen untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu 210 hari. Saat ini sudah berlangsung 10 minggu atau 70 hari dengan progres sekitar 15 persen. Adapun deviasi kegiatan sebesar 5 persen,” ungkapnya.

Disebutkannya juga, didalam papan pengumuman proyek disebutkan, bawah pembangunan BLK Karimun ini bersumber dari dana pinjaman Pemprov Kepri ke PT Sarana Multi Makmur (SMI) Persero. Pihaknya tidak ingin, hasil pembangunan tidak sesuai dengan spesifikasi rencana.

“Kami juga akan terus memberikan atensi sesuai dengan fungsi pengawasan yang kami miliki,” tutup Mantan Legislator DPRD Kota Batam tersebut.

Belum lama ini, Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Provinsi Kepri, Mangara Simarmata mengatakan, lewat APBD TA 2022 ini, Pemprov akan membangun workshop di Karimun. Adapun pembangunannya akan ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Kepri.

“Kemudian untuk pembangunan BLK di Batam, Kemenaker akan melanjutkannya pada tahun ini. Kita berharap, tahun ini selesai. Sehingga bisa segera memberikan manfaat,” ujar Mangara Simarmata. (*)

reporter: Jailani

Sebelum Peristiwa, Ajudan Ferdy Sambo Sebut Tidak Ada Ketegangan

0
Ajudan Irjen Pol. Ferdy Sambo, Bhayangkara Dua Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E (tengah) usai menjalani pemeriksaan di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Selasa (26/7/2022). Bharada E dimintai keterangan terkait insiden baku tembak dengan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J yang terjadi pada Jumat (8/7) lalu di rumah dinas Kepala Divisi Propam Polri nonaktif Irjen Pol. Ferdy Sambo. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)

batampos – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melanjutkan rangkaian proses penyelidikan dalam kasus pembunuhan Brigadir Yosua dengan memeriksa  tujuh ajudan Irjen Pol Ferdy Sambo, Selasa (26/7). Termasuk Bharada Richard Eliezer atau Bharada E.

Total, ada tujuh orang ajudan yang sempat dijadwalkan dimintai keterangan. Namun, hanya enam yang memenuhi undangan. Lima ajudan datang sejak pukul 10.00 WIB, sementara Bharada E menyusul tiba di Komnas HAM sekitar pukul 13.20 WIB.

Proses pemeriksaan sendiri berlangsung maraton. Lima ajudan yang lebih dulu datang, menuntaskan pemeriksaan sekitar pukul 17.00. Sementara Bharada E menuntaskan sekitar pukul 18.30. Sayangnya, tidak ada satupun yang mau memberikan keterangan.

Usai pemeriksaan, Komisioner Komnas HAM Choirul Anam mengatakan pihaknya mendatangkan semua ajudan untuk menambah perspektif dalam melihat persoalan. “Kami suruh, (kami) meminta menggambar posisi,” ujarnya dalam konferensi pers tadi malam.

Di situ, masing-masing ajudan, ditanya dalam ruangan yang berbeda-beda untuk melihat konsistensi. Apakah ada perbedaan pernyataan atau tidak.

Anam menambahkan, pihaknya memulai pertanyaan dengan menggali informasi pada berbagai spektrum waktu. Mulai dari keadaan di hari H, kondisi di H-1 hingga situasi di Magelang. Dari hasil pemeriksaan, para ajudan umumnya menilai situasi tanpa tekanan/tegang “Beberapa orang ngomongnya tertawa-tertawa (tidak ada tekanan),” ujarnya.

Selain situasi, dalam pemeriksaan Komnas HAM juga menggali hal yang sifatnya personal. Seperti hubungan kedekatan antar ajudan, hubungan masing-masing ajudan dengan Sambo, hingga hubungan para ajudan dengan istri Sambo, Putri.

Kemudian, Komnas juga menanyakan hal yang bersifat klarifikasi atas berbagai asumsi yang berkembang. Mulai dari dugaan adanya hubungan personal, hingga mengklarifikasi siapa pelaku penembakan dan sebagainya.

Namun dia tidak bisa membeberkan hal-hal yang menjadi jawaban masing-masing ajudan. Termasuk apakah Bharada E mengakui atau tidak soal penembakan. “Tapi Bharada E dia ada dalam struktur peristiwa,” kata dia.

Anam menambahkan, semua jawaban dari hasil wawancara akan dikumpulkan dan disusun untuk mendapatkan kesimpulan atas peristiwa tersebut. Untuk melengkapi perspektif, Komnas HAM juga akan terus mengumpulkan bukti.

Rencananya, hari ini Komnas HAM juga akan melanjutkan penyelidikan dengan digital forensik. Semua peralatan yang terkait seperti handphone dan cctv akan dicek isinya. “Untuk mengecek semua HP dan komunikasinya,” jelasnya.

Selain itu, kemarin Choirul Anam juga mengungkapkan hasil keterangan dari tim Forensik Polri yang sampai di pemeriksaan Senin (25/7). Salah satu temuannya, Tim forensik mensinyalir datangnya tembakan dari jarak dekat. “Kalau dari karakter luka, jaraknya memang tidak terlalu jauh,” ujarnya.

Anam mengaku, pihaknya sudah mendapat data detail terkait kondisi tubuh Yosua. Bahkan, penjelasan terkait luka sudah didapatkan sebelum jasad diotopsi. “Kalau ada lebam mayat tipis atau tebal, itu sangat kelihatan, kami ditunjukkan itu. Kami juga ditunjukkan titik-titik lubang luka,” jelasnya. (*)

Reporter: JP Group

Kuburan Yosua Dijaga Keluarga Siang-Malam

0
Keluarga almarhum Brigadir Pol Yosua di makam sebelum pembongkaran.(ANTARA/Nanang Mairiadi)

batampos – Ekshumasi jenazah Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat hari ini (27/7) menjadi perhatian banyak pihak. Tidak hanya keluarga besar mendiang Yosua, publik turut menantikan otopsi ulang tersebut. Atensi besar itu tampak dan terasa sejak Jawa Pos mendarat di Jambi kemarin (26/7). Terlebih ketika kami tiba di Pemakaman Umum Desa Suka Makmur, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi.

Di tempat Brigadir Yosua dikebumikan pada Senin (11/7) lalu tersebut, keluarga dan kerabat Yosua beberapa hari belakangan berjaga. Mereka membangun tenda persis di seberang makam putra pasangan Rosti Simanjuntak dan Samuel Hutabarat itu. Di tenda tersebut, Pemuda Batak Bersatu (PBB) berjaga siang dan malam. ”Kami 24 jam,” ungkap Roslin Simanjuntak kepada Jawa Pos. Roslin merupakan adik perempuan ibunda Yosua.

Ketika polisi yang dilaporkan meninggal dunia di rumah dinas kepala Divisi Propam Polri itu masih balita, Roslin yang mengurusnya. Dia turut menggendong dan menemani Yosua bermain. Tidak heran, kabar yang dia terima pada Jumat malam (8/7) lalu membuat dirinya kaget bukan main. Roslin tidak percaya Yosua sudah meninggal dunia. Jauh lebih tidak percaya saat ponakannya itu disebut melakukan pelecehan terhadap istri Irjen Ferdy Sambo.

Selama hidupnya, Roslin mengenal Yosua sebagai pribadi yang sangat baik. Dia patuh pada orang tua. Juga sayang pada keluarga besarnya. Termasuk kepada Roslin. ”Terakhir ketemu bulan satu (Januari 2022, Red),” imbuhnya. Saat itu, Yosua pulang untuk mengantar adik neneknya ke peristirahatan terakhir. Kini, di samping makam tersebut pemuda yang meninggal dunia pada usia 28 tahun tersebut dimakamkan. Hari ini, makamnya kembali dibongkar.

Oleh Polri, ekshumasi jenazah Yosua dijadwalkan mulai berjalan pukul 07.30. Keluarga berencana datang ke pemakaman tersebut 30 menit lebih awal dari jadwal tersebut. ”Kami akan doa bersama dulu. Nanti dipimpin langsung oleh pendeta kami,” jelas Roslin. Keluarga inti Yosua yang terdiri atas ayah, ibu, seorang kakak, dan dua adik dipastikan hadir. Mereka bakal ditemani oleh kerabat dekat dan penasihat hukum keluarga Yosua.

Namun demikian, aparat kepolisian mengantisipasi keramaian yang sangat mungkin terjadi. Selain keluarga, Tim Dokter Forensik, dan petugas keamanan, diprediksi masyarakat sekitar akan berdatangan. Tidak hanya itu, atensi besar terhadap peristiwa yang terjadi di Komplek Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan juga mengundang perhatian awak media. Berbagai media massa lokal dan nasional akan meliput proses ekshumasi.

Saat Jawa Pos  (jaringan batampos.co.id) tiba di tempat pemakaman Yosua, memang belum tampak penjagaan yang ketat. Hanya ada beberapa polisi yang berdatangan. Mereka menambah pembatas untuk memastikan Tim Dokter Forensik memiliki ruang yang lebih luas saat memulai ekshumasi. Selain itu, mereka juga berkoordinasi dengan Roslin untuk memastikan tidak ada kendaraan keluarga yang dibawa masuk ke dekat pemakaman Yosua.

Di luar kendaraan yang digunakan oleh petugas, hanya ambulans yang boleh masuk sampai mendekati makam Yosua. ”Dari pihak kepolisian sudah bolak-balik nengok. Lihat keadaan dan rumah sakit juga, mereka sudah datangi. Rumah duka juga sudah mereka lihat,” imbuh Roslin. Jarak dari makam Yosua ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sungai Bahar sekitar satu kilometer. Sementara rumah duka berada di seberang rumah sakit tersebut.

Sesuai dengan permintaan Polri, pihak keluarga sudah menyiapkan lima orang yang akan menggali makam Yosua. Yakni empat orang anggota PBB dan adik laki-laki Yosua. Setelah dikeluarkan dari makam, jenazah Yosua akan diotopsi ulang di RSUD Sungai Bahar. Belum diketahui pasti berapa lama proses otopsi akan berlangsung. Namun, kabar yang diterima oleh pihak keluarga Tim Dokter Forensik butuh waktu tiga sampai empat jam.

Kemarin, RSUD Sungai Bahar sudah menyiapkan tempat ekshumasi. Letaknya persis di samping Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit tersebut. Tempat ekshumasi itu sudah ditutup tirai berwarna oranye. Tujuannya untuk membatasi pandangan masyarakat sekitar. Sebab, tempat ekshumasi tersebut berada di pinggir jalan yang setiap hari dilalui oleh masyarakat Sungai Bahar. Di tempat ekshumasi itu juga sudah dipasangi circuit closed television (CCTV).

Hanya, pihak keluarga tetap ingin ada perwakilan keluarga yang diperbolehkan melihat proses ekshumasi. ”Kalau boleh dua orang. Tapi, kalau tidak minimal satu orang ada,” ucap Roslin. Tentu keluarga Yosua tidak memaksa. Itu harapan mereka. Bagaimana prosedurnya, mereka akan mengikuti. ”Yang penting transparan lah. Itu saja permintaan kita kan. Keadilan ditegakkan,” tegasnya. Pihak keluarga ingin peristiwa yang menimpa Yosua diungkap secara terang-benderang.

Selama ini, mereka masih belum yakin dengan informasi yang beredar. Utamanya yang terkait dengan tindakan Yosua melecehkan istri Irjen Ferdy Sambo. Kemudian keterangan yang menyatakan bahwa Yosua meninggal dunia akibat tembak-menembak dengan Bharada E. Apalagi setelah dia melihat langsung luka-luka di tubuh Yosua. ”Luka di bagian dalam tubuhnya (Yosua) yang kami lihat setelah kami kasih formalin,” ujar dia.

Kemarin, Roslin juga ikut mengantar keluarga Yosua bertemu dengan Tim Dokter Forensik di Jambi. Mereka berangkat dari Muaro Jambi sekitar pukul 15.15. Dia pun berharap besar ekshumasi yang dilaksanakan hari ini berjalan lancar. Sehingga tanda tanya yang masih mengganjal dalam pikiran dan dalam benak keluarga Yosua terjawab oleh hasil otopsi ulang tersebut. ”Apapun hasilnya nanti akan kami terima,” ucapnya.

Misteri Tiga Menit Pada Pukul 17.11 di Rumah Dinas Ferdy Sambo

Penyelidikan kasus terbunuhnya Brigadir J di rumah dinas Kadiv Propam Mabes Polri Non Aktif Irjen Pol Ferdy Sambo menunjukkan titik terang. Setidaknya, ini terlihat dari gambaran-gambaran yang terlihat dari kronologi CCTV (closed circuit television) Polda Metro Jaya.

Sebelumnya, hasil kronologi CCTV dari Polda Metro Jaya sudah beredar di sejumlah media. Hingga kemarin, CCTV masih berada dalam penguasaan Polda Metro Jaya, dan Puslabfor Mabes Polri belum mendapatkan materialnya untuk diteliti. Rekaman yang ada itu pun diambil dari CCTV Umah Saguling III, rumah kediaman Ferdy Sambo yang berjarak tak lebih dari 1 km dari rumah dinas (TKP ditemukannya Brigadir J dalam kondisi tewas). Kemudian, ada sejumlah CCTV lagi yang diamankan dari rumah-rumah tetangga.

Namun, tetap saja, CCTV yang penting seperti di rumah dinas, di pos sekuriti, dan di rumah Kasat Reskrim Polres Metro Jaksel AKBP Ridwan Soplanit (yang bertetangga persis dengan rumah dinas TKP tersebut) diketahui rusak setelah diamankan oleh petugas.

Dari hasil yang ada, setidaknya ada sejumlah hal yang perlu dicatat. Yakni, waktu eksekusi dan narasi pelecehan yang tampaknya mustahil terjadi. Selain itu, juga ada kejanggalan terkait soal alibi tes PCR yang diajukan oleh Irjen Pol Ferdy Sambo saat peristiwa itu terjadi.

Menurut hasil penelusuran, diketahui bahwa rombongan besar keluarga Irjen Pol Ferdy Sambo datang ke rumah kediaman di Umah Saguling III sekitar pukul setengah 4 sore. Irjen Pol Ferdy Sambo datang terlebih dulu, baru disusul oleh Putri Chandrawati, nama istri Ferdy Sambo, beberapa saat kemudian.

Dalam rekaman CCTV di Umah Saguling tersebut, terlihat bahwa Putri Chandrawati dan Brigadir J melakukan swab PCR di kediaman sekitar pukul empat kurang seperempat. Ini kemudian yang menimbulkan pertanyaan, jika ada fasilitas PCR di rumah, kenapa Irjen Pol Ferdy Sambo harus mengaku tes PCR di luar?

Kemudian, setelah PCR, Putri Chandrawati berangkat ke rumah singgah (yang jadi TKP) menggunakan Alphard sekitar pukul 17.09. ’’Tapi, tidak jelas dengan siapa. Sebab, CCTV yang ada di Umah Saguling tidak menunjukkannya,’’ ucap seorang petugas yang ikut menangani kasus tersebut. Apakah tidak terlihat dari CCTV yang lain yang ada di Umah Saguling atau dari tetangga? Sumber tersebut diam sesaat. ’’Nah, itu yang belum diketahui. Apakah memang ada CCTV lain di Umah Saguling,’’ ucapnya.

Kemudian, sekitar dua menit kemudian, Irjen Ferdy Sambo terlihat ikut keluar menggunakan mobil Lexus. Kemana tujuannya, yang jelas mobil yang ditumpangi Irjen Ferdy Sambo terlihat berada di dekat TKP. Bagaimana dengan Brigadir J? Tidak jelas keberadaannya. Dia terakhir kali terlihat hidup di CCTV kediaman Irjen Pol Ferdy Sambo pada pukul 15.49, sebelum akhirnya ditemukan tewas tertelungkup dengan sekujur tubuh penuh luka tembakan.

Menurut petugas tersebut, kejadiannya kemungkinan terjadi sekitar pukul 17.11. ’’Ada beberapa poin yang mengarah ke waktu itu. Dan ini juga belum kesimpulan final, namun kira-kira di waktu itu,’’ terangnya. Selain itu, dari rangkaian CCTV dan analisa menyebutkan bahwa waktu kejadian terbunuhnya Brigadir J hanyalah sekitar tiga menit. ’’Sangat singkat sekali,’’ terangnya.

Waktu kejadian yang hanya tiga menit pada 17.11 tersebut itulah yang kemudian bisa dianalisa. Bahwa ini adalah sebuah eksekusi dari sebuah perencanaan, dan narasi pelecehan nyaris mustahil masuk dalam logika. ’’Jika benar analisanya, maka tiga menit itu waktu yang sangat singkat. Jika merunut logika narasi “pelecehan berujung baku tembak, apakah mungkin?’’ katanya, dengan nada tanya.

Belum lagi dia menjelaskan bahwa dalam tiga menit itu bukan hanya eksekusinya saja. Tetapi, juga mulai dari Putri Chandawati masuk rumah, kemudian masuk kamar, berganti pakaian, dan kemudian tidur. Lalu, kemudian Brigadir J masuk, melakukan pelecehan, kemudian Putri Chandrawati terbangun, berteriak, kemudian Bharada E terbangun, berlari, dan kemudian baku tembak dengan Brigadir J. ’’Coba, bayangkan. Kira-kira dengan durasi tiga menit bisa terjadi hal sebanyak itu?’’ katanya.

Sumber tersebut mengatakan bahwa untuk berganti baju dan kemudian tertidur saja, orang normal setidaknya butuh waktu lima sampai sepuluh menit. Belum lagi, durasi berjalan ke kamar, lalu kemudian melakukan pelecehan, lalu kemudian terjadi adu tembak. Maka, narasi awal “pelecehan berujung baku tembak” nyaris tidak masuk akal.

Dalam kasus penembakan Brigadir Yosua, motif penembakan menjadi penting untuk diungkapkan. Hal itu akan menunjukkan siapa saja pelaku yang melakukan pembunuhan tersebut. Pakar Hukum Pidana Universitas Trisakti Abdul Fickar Hadjar menjelaskan, secara pidana telah ada korban meninggal dunia, yakni Brigadir Yosua. “Artinya, ada korban kejahatan,” terangnya.

Entah kejahatannya merupakan pembunuhan, perkelahian atau lainnya. Bahkan, sudah ada pihak yang mengaku menembak korban. Artinya, ada pelaku utama dalam kasus tersebut. “Bharada E yang mengaku menembak Brigadir Yosua,” ujarnya.

Dengan karakter kasus semacam itu, maka menjadi sangat penting untuk mengungkap motif. Dari diketahuinya motif, maka akan diketahui siapa saja pelakunya. “Bila motif yang sebenarnya diketahui, maka akan terungkap pula siapa saja pelakunya. Tunggal atau ada pelaku lainnya,” paparnya.

Menurutnya, bisa jadi Bharada E hanya seorang eksekutor. Sedangkan pelaku utama yang berperan sebagai konseptor atau perencana dan memiliki motif utama diperankan orang lain. “Sangat mungkin pelakunya bersama-sama. Ada pengatur strategi dan eksekutor, semua disebut dader (pelaku.red),” jelasnya.

Dia menuturkan, sebenarnya tingkat kesulitan kasus ini rendah. Hanya saja motif ini yang membuatnya lama. Karena bisa berkembang kemana-mana. “Korban Brigadir Yosua itu memiliki luka yang bukan hanya luka tembak,” tuturnya.

Sesuai dengan dugaan keluarga dan kuasa hukum Brigadir Yosua ada kemungkinan pembunuhan berencana. Tentunya, berbeda dengan kasus anggota TNI yang merencanakan pembunuhan istrinya di Jawa Tengah. “Perbedaannya tidak ada kepentingan besar yang melingkupinya,” katanya. (*)

Reporter: JP Group

Ibu Brigadir Yosua Masih Syok, Keluarga Ingin Kasus Terang Benderang

0
Suasana Makam Brigadir J di Desa Suka Makmur, Jambi, Selasa (26/7/2022).FOTO : FEDRIK TARIGAN/ JAWA POS

batampos – Hari ini (27/7) Tim Dokter Forensik dari Jakarta akan melakukan ekshumasi terhadap jenazah Brigadir Polisi Nopriansyah Yosua Hutabarat. Keluarga almarhum optimistis hasil otopsi ulang itu bisa membantu aparat kepolisian untuk mengungkap kasus yang menyeret-nyeret nama Irjen Ferdy Sambo tersebut. Kemarin sore (27/7) Jawa Pos berbincang langsung dengan Samuel Hutabarat, ayah Brigadir Yosua. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana kabar ibu (Rosti Simanjuntak), kami mendengar ibu yang paling syok atas peristiwa yang menimpa Brigadir Yosua? Iya (Rosti Simanjuntak yang paling syok). Sekarang jangan diingatkan soal (peristiwa yang menimpa Brigadir Yosua) ini, kalau nggak dia teringat (dan sedih lagi). Terus suntik vitamin dia itu.

Sejak mendapat kabar, apa saja yang sudah dilakukan oleh pihak keluarga? Kami fokus di sini, kami pun nggak bisa ke mana-mana.

Berkaitan dengan ekshumasi apakah pihak keluarga optimistis dengan Tim Dokter Forensik yang diturunkan? Iya, (Tim Dokter Forensik kali ini) lebih independen. Nggak dari satu organisasi. Jadi, lebih independen lah, lebih kelihatan (prosesnya nanti). Panglima TNI itu kan berbicara, tim forensik senior dikasih itu. Itulah dukungan dia biar terbuka ini persoalan.

Pihak keluarga bertemu dulu dengan Tim Dokter Forensik sebelum ekshumasi dilakukan, apa yang disampaikan kepada mereka? Kami usul harus ada dari orang tua untuk mendampingi atau melihat otopsi ulang ini, harus ada. Kalau memang diperkenankan terimakasih. Permintaan kami yang utama nanti, paling tidak satu orang dari keluarga melihat langsung.

Apakah keinginan itu terkait dengan ketidakpercayaan pihak keluarga terhadap hasil otopsi pertama? Dari awal kami kurang percaya bahwa di rumah Pak Ferdy itu (Brigadir Yosua) meninggal. Hanya, informasi kejadian di situ. Lagi pula luka-lukanya itu kalau hanya ditembak, nggak mungkin sebanyak itu. Biar jelas kita tahu apa sebenarnya (yang terjadi). Itu saja.

Siapa yang disiapkan oleh pihak keluarga untuk ikut langsung melihat proses ekshumasi? Kalau nggak saya sendiri. Nanti adik ipar saya. Salah satu lah nanti di antara dua itu.

Keinginan dari pihak keluarga, hasil otopsinya langsung disampaikan secara terbuka. Bagaimana kalau tidak langsung diumumkan oleh kepolisian? Kita ikuti saja prosedurnya nanti. Soalnya saya pun belum pengalaman soal begini kan. Bagaimana prosedurnya, yang terbaik ya kami ikuti.

Melalui ekshumasi pihak keluarga yakin hasilnya nanti bisa membantu penanganan kasusnya? Saya rasa berdasarkan temuan-temuan baru itulah nanti bisa dilanjutkan proses selanjutnya. Dari situ dasar penyidik nanti bisa (membuka peristiwa yang terjadi) terang benderang.

Pihak keluarga sudah siap dengan apapun hasil ekshumasi nanti? Iya, menerima. Biar terbuka semua lah. Biar kita tahu gitu (apa yang terjadi), lapang dada kita. (*)

Reporter: JP Group