
batampos – Rina Wulandari, 34, istri anggota TNI sekaligus korban penembakan di Semarang 18 Juli lalu, dirujuk dari Rumah Sakit Hermina Banyumanik ke RSUP dr Kariadi Semarang sejak 22 Juli lantaran harus mendapat penanganan lebih intensif. Kondisinya tak kunjung membaik. Bahkan cenderung memburuk.
”Informasinya, ada pendarahan di ulu hati,” ungkap seorang sumber Jawa Pos Radar Semarang (jaringan batampos.co.id) yang enggan disebutkan namanya kemarin (24/7). Tetangga korban di Jalan Cemara III, Padangsari, Banyumanik, Semarang, itu mengatakan, korban sampai sekarang masih mendapat pengamanan ketat dari anggota TNI. Sejak dirawat di RS Hermina Banyumanik pasca penembakan Senin (18/7) sekitar pukul 12.00 itu, Rina selalu dijaga anggota TNI.
Rumahnya pun tak luput dari penjagaan ketat. ”Ada empat orang yang jaga. Katanya sampai kasus ini tuntas. Anak-anaknya kan sama neneknya di Asrama Arhanud,” bebernya. Akibat penembakan itu, korban mengalami luka di bagian perut. Bahkan, satu proyektil peluru jenis FN kaliber 9 milimeter bersarang di tubuhnya. Namun, setelah korban mendapat perawatan, peluru tersebut berhasil diangkat ke luar.
Menurut tetangga tersebut, korban memiliki tiga anak. Yang sulung laki-laki duduk di kelas VII SMP. ”Anak kedua kelas II SD yang dijemput saat kejadian. Sedangkan yang bungsu masih kecil, baru aqiqah sebelum puasa lalu,” jelasnya.
Kapolrestabes Semarang Kombespol Irwan Anwar mengonfirmasi, pemindahan tempat perawatan Rina Wulandari dilakukan atas rekomendasi dokter RS Hermina Banyumanik. Korban dirawat intensif di ruang ICU RSUP dr Kariadi Semarang sejak Jumat (22/7) sekitar pukul 15.00. ”(Pemindahan itu dilakukan) setelah berkoordinasi dengan pihak Rumah Sakit Hermina dan Kesdam IV/Diponegoro. Supaya (korban) lebih cepat membaik,” katanya.
Alasan pemindahan itu, kata dia, ada gangguan kesehatan pada organ tubuhnya setelah menjalani pengangkatan proyektil yang bersarang di tubuhnya. Selama pemindahan dan perawatan, korban terus mendapat pengamanan ketat dari anggota TNI.
Hingga berita ini ditulis tadi malam, Kopda Muslimin, suami korban, belum ditemukan. Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa menyatakan, anggota TNO 36 tahun itu diduga menjadi dalang penembakan. Panglima menyebut motifnya asmara. Mengenai hal itu, sumber Radar Semarang sempat mendengar adanya isu perselingkuhan sebelum penembakan. ”Dengar-dengar ada wanita lain, katanya lebih kaya. Benar atau tidaknya itu saya juga baru dengar setelah kejadian ini,” jelasnya.
Informasi yang diperoleh Radar Semarang, wanita idaman lain (WIL) Muslimin itu berasal dari Wonosobo. Bahkan, rencananya keduanya hendak menikah di Temanggung. Sebelum kasus penembakan itu, menurut sumber tadi, Rina Wulandari diduga sudah menjadi target pembunuhan. Sebab, rumahnya pernah didatangi orang tak dikenal sebulan lalu. Namun, belum diketahui apakah peristiwa itu terkait langsung dengan penembakan tersebut. ”Kejadiannya tengah malam, hampir jam 12. Ada orang masuk rumah sampai lantai atas. Di dalam rumah, ada korban. Tapi dia gak tahu, dikira yang datang itu anaknya. Dipanggil Kak, tahu-tahu orang itu lari, turun keluar rumah,” jelasnya.
Diketahui, ada orang yang menyatroni rumah Rina. Yang satu masuk, sedangkan lainnya menunggu di luar mengendarai sepeda motor. Dia berhenti di samping rumah korban. Dua orang tak dikenal tersebut sempat dipergoki tetangga korban. ”Awalnya di gapura Jalan Cemara III. Terus turun, tapi mesin motor dimatikan. Saat kejadian, pintu gerbang rumah korban tidak ditutup. Suaminya juga sedang keluar rumah. Entah apa motifnya, saya tidak tahu,” bebernya.
Pasca kejadian tersebut, rumah korban langsung dipasangi tiga kamera CCTV. Satu di bagian belakang, dua di teras depan. Menurut dia, peristiwa tersebut sempat menjadi pembahasan di forum RT setempat. ”Warga sepakat untuk mengantisipasi kejadian yang sama, sorenya di rumah itu dipasang CCTV,” katanya.
Peristiwa penembakan itu juga membuat warga sekitar trauma. Meskipun tidak mengalami langsung, warga memilih sering berada di dalam rumah setelah kejadian tersebut. Mereka berharap ada penjagaan dari pihak TNI hingga kasus itu tuntas. (*)
Reporter: JP Group








