
batampos – Setelah menjalani visum di RSUD Mimika, jenazah para korban penembakan kelompok separatis teroris (KST) di Nduga, Papua, diserahkan kepada pihak keluarga kemarin (17/7).
Delapan di antara sepuluh korban meninggal telah dibawa keluarga masing-masing kembali ke kampung halaman. Satu korban lainnya atas nama Alexander dimakamkan di Timika, Papua. Pdt Eliaser Baye yang juga menjadi korban meninggal dikebumikan di Kenyam, Nduga, karena merupakan warga setempat.
Seluruh penanganan hingga pemulangan jenazah ditanggung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nduga. Penjabat Bupati Nduga Namia Gwijangge hadir langsung dalam penyerahan jenazah kepada keluarga korban di Bandara Mozes Kilangin, Timika, kemarin. Termasuk berkunjung ke rumah duka Alexander di Nawaripi, Timika, ibu kota Mimika.
Namia Gwijangge sangat mengecam teror KST yang kembali menelan korban. Nduga, kata dia, sangat terbuka kepada siapa pun yang datang, tinggal, dan bersama-sama bekerja. Apa pun profesinya, baik itu sopir, pedagang, karyawan kapal, buruh bangunan, karyawan toko, maupun lainnya.
”Mereka datang di Nduga untuk membangun, membantu kami bersama-sama dengan masyarakat di Nduga. Mereka cari makan, cari hidup, sama dengan yang lain,” ujar Namia ketika ditemui di RSUD Mimika.
Aksi berdarah KST itu terjadi pada Sabtu (16/7). Mereka melakukan penyerangan dan penembakan terhadap warga sipil yang mengakibatkan 10 nyawa melayang dan dua orang luka-luka.
Jenazah para korban diberangkatkan dengan dua penerbangan. Kemarin sekitar pukul 12.00 WIT, lima jenazah di antaranya diterbangkan dengan Lion Air ke Makassar. Di antaranya, jenazah Taufan Amir, 42; Daeng Marannu/Maramli, 42; dan Sirajuddin, 27. Lalu, Mahmud Ismaun, 53, diterbangkan ke Palu, Sulawesi Tengah, dan Yuda Gurusinga, 22, dengan tujuan Medan, Sumatera Utara.
Jenazah Yulius Watu, 23; Hubertus Goti, 41; dan Johanes, 26; dengan tujuan Nusa Tenggara Timur diterbangkan dengan pesawat Batik Air melalui Makassar untuk selanjutnya ke Surabaya dan tujuan akhir Labuan Bajo.
Namia menuturkan, pemerintah sedang berupaya keras memberikan pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pemulihan ekonomi, tetapi dinodai aksi yang sangat tidak manusiawi. ”Saya atas nama pribadi dan pemerintah kabupaten serta masyarakat Kabupaten Nduga menyampaikan turut belasungkawa yang sangat mendalam atas pengorbanan jiwa 10 orang. Ini harganya sangat mahal,” tuturnya.
Semua masyarakat di Nduga, kata dia, berhak dilindungi dan mendapat pengayoman dari pemerintah. Pemkab Nduga juga akan bekerja sama dengan TNI dan Polri serta seluruh elemen yang ada untuk mengambil langkah dalam melindungi masyarakat. Diharapkan, teror pada Sabtu lalu merupakan peristiwa terakhir di Nduga.
”Supaya masyarakat kita di Nduga yang mau bergerak usaha, mau kerja di perkantoran, sopir, proyek itu bebas (bekerja),” terangnya.
Kepada masyarakat yang masih berada di Nduga, dia mengimbau untuk tetap tenang dan tidak panik, tetapi harus selalu waspada. Kepada masyarakat di luar Papua, dia berharap tidak termakan isu yang ada.
Namia menyatakan, pemerintah tidak akan pernah membedakan latar belakang, suku, dan agama siapa pun di Nduga. ”Kita sebagai sesama anak bangsa, sesama umat Tuhan, kita bergandengan tangan bersatu, bangun kebersamaan, kekompakan persatuan dan kesatuan. Ada saudara lain punya ilmu kita belajar, yang punya kekurangan dilengkapi oleh yang punya kelebihan,” tuturnya. (*)
Reporter: JP Group








Akan tetapi keadaannya berbeda apabila salah seorang anggota keluarga kita tidak berada dalam kondisi yang sehat. Hal tersebut tentu menyita pemikiran kita.
