batampos-Perseroda PDAM Tirta Kepri yang bertanggungjawab terhadap penyediaan air bersih di Tanjungpinang dan Bintan mengalami kerugikan Rp472 juta pada tahun 2021 lalu. Kondisi tersebut disebabkan tingginya tingkat kebocoran dari jaringan yang tersedia.
“Dari hasil audit tahun 2021 lalu, Perseroda PDAM Tirta Kepri mengalami kerugian sekitar Rp472 juta. Kondisi ini disebabkan oleh tingginya tingkat kebocoran dari jaringan,” ujar Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Provinsi Kepri, Irwansyah, Jumat (20/5) di Tanjungpinang.
Legislator Komisi III DPRD Kepri tersebut menjelaskan, pada tahun tersebut PDAM menargetkan pendapatan sebesar Rp34 miliar. Sedangkan realisasi sebesar Rp31,274 miliar. Politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut menyebutkan, jika dibandingkan antara target dengan realiasi, perusahaan tersebut mengalami kerugian Rp2,8 miliar.
BACA JUGA:
“Pada tahun 2021, target yang dipatok adalah Rp34 miliar. Sedangkan realisasi Rp31,274 miliar. Artinya meleset sebesar Rp2,8 miliar,” jelasnya.
Dikatakannya juga, tingkat kebocoran PDAM dari tahun ketahun terus meningkat. Jika pada 2020 kebocoran masih pada angka 42 persen, maka pada tahun 2021 menjadi 43,95 persen. Kondisi ini, disebabkanya banyak pipa primer rusak atau bocor.
“Dari laporan PDAM jumlah produksi adalah 9,4 juta kubik. Namun yang tersalur hanya pada angka 7,8 juta kubik. Melihat dari angka ini, PDAM kehilangan pendapatan sekitar Rp12 miliar,” tegasnya.
Mantan Legislator Batam tersebut mendesak Pemerintah Provinsi Kepri untuk melakukan evaluasi terhadap kinerja Direksi perusahaan tersebut. Jika memang kemampuan PDAM terbatas, ia menyarankan pengelolaan melibatkan pihak swasta. Karena kebutuhan air menyangkut hajat hidup orang banyak.
“Banyak pekerjaan yang harus dilakukan, baik itu peremaan jaringan maupun perencaan kebutuhan air di Pulau Bintan. Karena daftar tunggu PDAM masih pada angka 5.000, seharusnya dibuka sehingga tahu berapa kebutuhan air,” tutup Irwansyah.
Belum lama ini, Direktur PDAM Tirta Kepri, Mamat mengatakan, sewaktu Musrenbang untuk penyusunan APBD TA 2022 lalu, pihaknya sudah menyampaikan kebutuhan untuk mengatasi persoalan-persoalan yang dialami PADM Tirta Kepri.
“Kebutuhan yang kami ajukan adalah sebesar Rp17 miliar. Namun sepertinya ditahun 2022 mendatang masih belum ada kabar baiknya. Namun demikian, kami akan tetap melayani, meskipun dengan kondisi yang tidak prima,” jelas Mamat.
Disebutkannya, kebutuhan yang telah diajukan adalah pekerjaan peningkatan intake atau air baku, adalah pengadaan pompa dan dinamo untuk Sei Pulai, dengan kebutuhan Rp1,5 miliar. Infrastruktur yang tersedia sering mengalami kerusakan. Karena pengadaannya sejak 2010 lalu.
“Di Sei Gesek, PDAM juga membutuhkan pompa dan dinamo sebagai cadangan. Adapun kebutuhannya sebesar Rp500 juta,” jelasnya.
Berikutnya adalah untuk peningkatan kapasitas produksi dan distrubi. Pada sektor ini, PDAM sudah mengusulkan pengadaan pemasangan VSD di IPA PCM lengkap dengan panel, kabel dan aksesoris pendukung di Sei Pulai. Besaran anggaran yang dibutuhkan Rp250 juta. Tujuannya adalah untuk menghemat pemakaian energi listrik PLN. Selain itu bisa mengatur kapasitas pompa.
Kegiatan yang kedua adalah pengadaan dan pemasangan pompa distribusi centrifugal sebanyak lima unit di Sei Pulai. Untuk pengadaan ini, PDAM membutuhkan anggaran Rp1,7 miliar. Karena pompa yang tersedia efesiensi kapasitas sudah menurun.
“Berikutnya adalah pemasangan kabel MWY, GBWY 4×200 mm dari gardu RDP ke intake dengan pagu Rp400 juta. Karena kabel yang ada sudah mulai panas, sehingga bisa terbakar. Apalagi belum pernah diganti sejak Rp1996,” jelasnya lagi.
Lebih lanjut katanya, kegiatan lainnya yang diusulkan PDAM adalah untuk perbaikan dan pengembangan jaringan perpipaan. Pertama adalah untuk penggantian jaringan distribusi utama pipa PCM dari km 10 sampai km 8. Alokasi anggaran yang dibutuhkan Rp12,5 miliar.
“Jaringan ini utamanya berada di badan jalan yang sering bocor. Selain menyebakan air hasil produksi terbuang, juga kebocoran merusak infrastruktur jalan,” paparnya.
Dukungan lain yang dibutuhkan PDAM adalah penggantian jaringan distribusi sekunder di Jalan Tugu Pahlawan, Tanjungpinang sebesar Rp350 juta. Karena infrastruktur yang tersedia dibangun tahun 1999. Saat ini kondisinya memprihatinkan, karena sering bocor.
“Kebocoran yang terjadi, juga menyebabkan air mengaliar tidak optimal pada daerah-daerah tertentu. Karena harus dilakukan secara bergiliran,” tutup Mamat. (*)
reporter: Jailani