
batampos – Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau seluruh tenaga kesehatan dan masyarakat untuk mewaspadai sejak dini sejak kasus hepatitis akut.
Himbauan tersebut utamanya ditujukan pada para orangtua untuk menjaga anak-anak mereka terutama di masa mudik lebaran dan aktivitas silaturahmi. Anak-anak diimbau tetap menjalankan protokol kesehatan.
Hal ini setelah pada Selasa (2/5) kemarin Kementerian Kesehatan mengumumkan kematian tiga orang pasien anak yang diduga menderita penyakit ini. Kemenkes sendiri telah mengeluarkan Surat Edaran tentang kewaspadaan terhadap KLB Hepatitis Akut (Acute Hepatitis of Unknown Aetiology) kepada seluruh Dinas Kesehatan Provinsi dan Kab/Kota pada 27 April 2022 lalu.
Sejak secara resmi dipublikasikan sebagai KLB oleh WHO, jumlah laporan kasus ini terus bertambah, dimana tercatat lebih dari 170 kasus dilaporkan oleh lebih dari 12 negara.
Ketua Umum PB IDI, Adib Khumaidi meminta agar seluruh organisasi profesi medis dibawah IDI, seluruh dokter dan tenaga Kesehatan yang bertugas di berbagai jenis fasilitas Kesehatan tingkat pertama yakni Puskesmas, Posyandu, Klinik praktek mandiri, serta dokter praktek perorangan juga mewaspadai setiap gejala Hepatitis pada anak dan dewasa.
Adib menjelaskan, Hepatitis Akut yang masih belum diketahui penyebabnya ini memiliki gejala antara lain perubahan warna urin menjadi gelap bisa disertai warna feses yang pucat), beberapa bagian tubuh menjadi kuning. Kemudian gatal, nyeri sendi atau pegal-pegal, demam tinggi, Mual, muntah, atau nyeri perut, Lesu, dan atau hilang nafsu makan, diare, serta kejang.
Dalam gejala klinisnya, infeksi Hepatitis Akut ini ditandai dengan beberapa indikator. Diantaranya Serum Aspartate Transaminase (AST/SGOT) atau Alanine Transaminase (ALT/SGPT) dalam darah lebih dari 500 liter per serum.
Adib menjelaskan, laporan Laboratorium dari berbagai kasus sementara ini menunjukkan negatif infeksi virus Hepatitis A, B, C, D hingga E. Namun pada beberapa kasus ditemukan infeksi SARS-CoV-2 yang bisa berbarengan (ko-infeksi) dengan Adenovirus. ”Oleh karena itu, pemeriksaan patogen biologis maupun kimiawi perlu dilakukan lebih lanjut,” jelas Adib.
Adib mengatakan IDI meminta bantuan dan dukungan dari setiap tenaga medis dan tenaga Kesehatan untuk aktif mengedukasi masyarakat setempat untuk segera mengunjungi Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes) terdekat apabila ada anak atau anggota keluarga yang mengalami gejala-gejala hepatitis akut ini.
”Jika gejala ditemukan, serta berkoordinasi dengan dokter spesialis anak terkait untuk menindaklanjuti dan mengawasi dengan ketat penyakit ini, serta melaporkan kepada Dinas Kesehatan setempat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI), Piprim Basarah Yanuarso juga meminta agar seluruh dokter anak dan residen dokter anak juga turut mengawasi apabila gejala diatas muncul pada pasiennya.
Bagi masyarakat, Basarah tetap menghimbau agar tidak panik dan berhati-hati. Cara pencegahan yang bisa dilakukan sejauh ini antara lain seperti mencuci tangan, meminum air bersih yang matang, makan makanan bersih yang matang, serta membuang tinja dan atau popok sekali pakai pada tempatnya. Kemudian menggunakan alat makan sendiri-sendiri, serta memakai masker dan menjaga jarak
“Penting agar orang tua yang menemukan anak-anak dengan gejala-gejala seperti kuning, mual/muntah, diare, nyeri perut, penurunan kesadaran/kejang, lesu, demam tinggi memeriksakan diri ke fasilitas layanan kesehatan terdekat,” kata Basarah.
Sejauh ini, respon klinis dan kesehatan masyarakat telah diterapkan di Inggris Raya dan sejumlah negara dimana kasus ini muncul untuk mengkoordinasikan penemuan kasus dengan penyelidikan penyebab penyakit dalam kasus Hepatitis Akut ini. Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI dan juga Dinas Kesehatan RI sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memasukkan riwayat yang lebih rinci, dan tes virologi/mikrobiologi tambahan.
European CDC sejauh ini telah mengeluarkan beberapa hipotesis tentang penyakit ini dan hubungannya dengan infeksi Covid-19. Diantaranya ada faktor penyerta yang membuat infeksi Adenovirus menjadi lebih parah sehingga memicu kondisi patologi imun tertentu diantaranya faktor kerentanan pasien-pasien yang telah terdeteksi sejauh ini.
Kemudian infeksi Covid-19 juga bisa menjadi faktor. Termasuk efek dari varian Omicron yang sebelumnya tidak muncul. Atau kandungan obat maupun racun tertentu di tubuh penderita. E CDC juga memasukkan kemungkinan adanya patogen baru. Baik itu berupa cabang Adenovirus baru (Novel Adenovirus), atau varian baru SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. (*)
Reporter: JP Group
Penyakit Hepatitis Misterius
Acute Hepatitis of Unknown Aetiology
5 April 2022
Hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya dilaporkan menyerang 10 orang anak di Inggris. Semuanya di rawat di RS. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan negatif infeksi virus A,B,C maupun D.
8 April 2022
Penyelidikan dilakukan lebih lanjut, kasus bertambah menjadi 74 orang di seluruh Inggris Raya. 6 anak diantaranya harus menjalani transplantasi hati.
11 April 2022
Hingga 11 April 2022, tidak ada laporan kematian
21 April 2022
WHO merilis laporan bahwa kasus sudah menyebar di berbagai negara. Inggris 114 kasus, Spanyol 13 kasus, Israel 12 kasus, Amerika Serikat 9 kasus, Denmark 6 kasus, Irlandia kurang dari 5 kasus, Belanda 4 kasus, Italia 4 kasus, Norwegia 2 kasus, Perancis 2 kasus, Romania and Belgia masing-masing 1 kasus.
April 2022
Kasus serupa dilaporkan di Jepang dan Kanada
1 Mei 2022
Dilaporkan 1 kasus di Singapura. Hingga saat ini tercatat 2 kasus.
2 Mei 2022
Kemenkes melaporkan kematian 3 anak dengan kasus serupa di Jakarta.
Ciri dan Gejala
1. Mirip dengan Hepatitis biasa, seperti beberapa bagian tubuh menjadi kuning
2. Sakit/nyeri perut,
3. Mual atau muntah-muntah
4. Diare mendadak
5. Buang air kecil berwarna teh tua
6. buang air besar berwarna pucat
7. Kejang
8. Penurunan kesadaran
9. Gatal, Nyeri sendi atau pegal-pegal
10. Demam tinggi
11. Lesu dan hilang nafsu makan.
Sumber : Kemenkes, WHO, IDI, IDAI






