Jumat, 3 April 2026
Beranda blog Halaman 806

Modus Lama, Aksi Baru: Sabu 100 Gram Diselundupkan Lewat Tubuh

0
Ilustrasi.

batampos – Aksi nekat Abdullah, pemuda 24 tahun asal Sumbawa, berakhir di tangan aparat. Ia ditangkap Subdit 2 Ditresnarkoba Polda Kepri saat menunggu penerbangan di Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Kamis (17/10) pagi.

Yang membuat petugas curiga, Abdullah terlihat gelisah dan mondar-mandir di ruang tunggu keberangkatan gate A9 sekitar pukul 06.30 WIB. Kecurigaan itu terbukti benar. Saat diperiksa, Abdullah mengaku membawa sabu yang disembunyikan di dalam dubur.

“Dari hasil pemeriksaan awal, tersangka mengaku menyimpan narkotika jenis sabu di dalam tubuhnya. Petugas kemudian membawanya ke RS Bhayangkara untuk pemeriksaan rontgen,” ungkap Kasubdit 2 Ditresnarkoba Polda Kepri, AKBP Ruslaeni, Selasa (22/10).

Hasil rontgen menunjukkan ada dua benda mencurigakan di dalam perutnya. Tak lama setelah dibawa ke toilet rumah sakit, Abdullah mengeluarkan dua kapsul berbalut plastik bening yang berisi sabu seberat total 100 gram.

“Kedua kapsul itu dimasukkan lewat dubur. Modus ini bukan baru, tapi tetap kami waspadai,” ujar Ruslaeni.

Selain sabu, polisi juga menyita sebuah ponsel Oppo milik tersangka yang digunakan untuk berkomunikasi dengan jaringan pengirim narkoba.

Dari hasil penyelidikan awal, Abdullah diketahui berasal dari Desa Labuhan Burung, Kecamatan Buer, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Ia disebut bekerja sebagai wiraswasta dan diduga kuat menjadi kurir jaringan narkoba antarprovinsi.

“Kami masih mendalami jaringan yang mengirim dan akan menerima sabu ini. Penyelidikan terus dikembangkan,” katanya.

Ruslaeni menegaskan pihaknya akan terus memperketat pengawasan di setiap pintu masuk dan keluar Batam, baik bandara maupun pelabuhan. Pasalnya, modus menyembunyikan narkoba dalam tubuh masih sering digunakan oleh para pelaku.

Kini Abdullah mendekam di sel tahanan Mapolda Kepri dan dijerat dengan Pasal 114 ayat (2) dan Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ia terancam hukuman maksimal 20 tahun penjara atau pidana seumur hidup.

“Kami tidak akan beri ruang bagi peredaran narkoba. Siapa pun pelakunya, akan kami tindak tegas,” tutup Ruslaeni. (*)

Reporter: Yashinta

Artikel Modus Lama, Aksi Baru: Sabu 100 Gram Diselundupkan Lewat Tubuh pertama kali tampil pada Metropolis.

SPPG Batubesar Resmi Beroperasi, 1.000 Siswa Nongsa Nikmati Makanan Bergizi

0
Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) Nongsa Batubesar 04 yang berlokasi di Ruko Permata Bandara, Kelurahan Batubesar, resmi beroperasi, Rabu (22/10). Foto. Yashinta/ Batam Pos

batampos – Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) Nongsa Batubesar 04 yang berlokasi di Ruko Permata Bandara, Kelurahan Batubesar, resmi beroperasi, Rabu (22/10). Peresmian ini menandai aktifnya dapur ke-7 dari total 8 dapur yang ditargetkan untuk wilayah Nongsa.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam, Hendri Arulan, dalam sambutannya mengingatkan pentingnya kualitas dan keamanan pangan dalam proses penyediaan makanan bergizi bagi siswa sekolah dasar.

“Pastikan makanan yang disajikan benar-benar layak konsumsi. Jangan sampai kejadian seperti di Sagulung, di mana ada anak sakit usai makan, terulang lagi,” tegas Hendri.

Baca Juga: Distribusi MBG di Batuampar Hampir Tuntas, Capai 90 Persen

Ia menekankan bahwa pengelolaan dapur harus dilakukan secara teliti, higienis, dan disiplin, terutama dalam menjaga kebersihan area produksi makanan.

“Dapur adalah zona steril. Jangan ada lalat, apalagi pihak luar masuk tanpa izin. Lalat yang hinggap bisa meninggalkan telur dan berkembang menjadi ulat. Ini serius,” ujarnya.

Program MBG di wilayah Nongsa saat ini baru menjangkau sekitar 1.000 penerima manfaat, dan jumlah tersebut akan terus bertambah seiring bertambahnya kapasitas dapur.

“Ini tahap awal. Dapur SPPG 04 masih diuji coba. Kalau standar operasionalnya sudah mantap, kita tingkatkan kapasitasnya,” tambah Hendri.

Ia juga meminta seluruh kepala sekolah dan guru ikut mengawasi distribusi makanan di lapangan. Jika ditemukan makanan yang mencurigakan atau tidak layak, harus segera dilaporkan ke penyedia dapur untuk ditindaklanjuti.

Mitra pengelola SPPG 04 Batubesar, Diana Marthina, memastikan dapur yang dikelolanya sudah sesuai dengan standar nasional MBG yang ditetapkan pemerintah pusat.

“Luas dapur 400 meter persegi. Sudah sesuai layout standar MBG. Kami punya ruang produksi yang bisa menangani hingga 3.000 porsi per hari, gudang terpisah, dan fasilitas untuk tenaga gizi serta akuntan,” jelas Diana.

Ia menyebut keberadaan dapur ini adalah hasil kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam mendukung visi Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mewujudkan generasi Indonesia yang sehat dan cerdas menuju Indonesia Emas 2045.

Kepala Dapur SPPG 04 Nongsa, Nanda, menjelaskan bahwa seluruh proses produksi dan distribusi telah mengikuti prosedur ketat, termasuk pengawasan waktu konsumsi makanan.

“Kami sudah buat kesepakatan dengan sekolah bahwa makanan harus dikonsumsi maksimal empat jam setelah diterima. Proses masak dimulai pukul dua dini hari, dan distribusi dimulai sejak pukul enam pagi,” katanya.

Untuk tahap awal, dapur memproduksi 1.000 ompreng per hari, namun jumlah ini diproyeksikan meningkat pada minggu kedua operasional. Semua menu disiapkan dan diawasi langsung oleh ahli gizi yang bertugas di dapur. (*)

Reporter: Yashinta

Artikel SPPG Batubesar Resmi Beroperasi, 1.000 Siswa Nongsa Nikmati Makanan Bergizi pertama kali tampil pada Metropolis.

Amsakar Desak Sinkronisasi Pusat-Daerah, Soroti Kawasan Industri dan Pendidikan

0
Wali Kota Batam Amsakar Achmad.

batampos – Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menegaskan pentingnya harmonisasi kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah agar penyelenggaraan pemerintahan lebih efektif dan berpihak pada rakyat. Hal ini disampaikannya saat menghadiri Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Tata Kelola Pemerintahan di Swiss-Belhotel Harbour Bay, Batam, Rabu (22/10).

Menurut Amsakar, masih banyak urusan pemerintahan yang belum selaras, terutama dalam hal pengawasan kawasan industri serta pengelolaan pendidikan menengah.

“Di Batam ada 31 kawasan industri, tapi pengawasannya di provinsi. Sama halnya dengan SMA, ramai dan penuh dinamika, tapi pengelolaannya bukan di kota, melainkan provinsi. Ini perlu dievaluasi agar tidak menghambat pelayanan publik,” tegasnya.

Ia menilai, forum seperti ini penting sebagai ruang strategis bagi daerah untuk menyampaikan aspirasi dan permasalahan yang timbul akibat pembagian kewenangan yang belum sepenuhnya sinkron.

“Semangatnya adalah menggali informasi dari bawah dan mempertemukannya dalam forum nasional. Dari situ kita bisa tahu apa yang perlu disesuaikan,” ujar Amsakar.

Rapat koordinasi ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan nasional yang digelar secara maraton di berbagai wilayah Indonesia. Setelah sebelumnya dilaksanakan di Makassar untuk zona timur, kini giliran Batam menjadi tuan rumah untuk zona barat, yang mencakup wilayah Sumatera dan sebagian Jawa.

Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Heri Wiranto, menjelaskan bahwa forum ini tidak hanya menjadi ajang evaluasi pelaksanaan otonomi daerah, tetapi juga wadah untuk merumuskan kebijakan ke depan.

“Setelah lebih dari 11 tahun diterapkannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, tentu banyak dinamika baru. Forum ini jadi sarana kami menyerap masukan dari daerah,” katanya.

Salah satu hal yang turut dibahas adalah penyusunan Rancangan Undang-Undang Daerah Kepulauan yang diharapkan mampu menjawab tantangan unik wilayah maritim seperti Kepulauan Riau.

“Semua tetap dalam bingkai NKRI, tapi kita ingin aturan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan nyata di lapangan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Amsakar juga menyinggung soal formula pembagian dana transfer dari pusat ke daerah. Ia menilai, mekanisme saat ini masih terlalu berpijak pada luas wilayah daratan, tanpa mempertimbangkan kondisi geografis wilayah kepulauan.

“Kepri itu 96 persen laut. Batam juga, dua pertiga wilayahnya laut. Tapi dana transfer pusat masih berbasis daratan. Kalau tidak segera diperbaiki, wilayah kepulauan akan terus tertinggal dari segi anggaran pembangunan,” ujarnya.

Menurut Amsakar, sudah saatnya pemerintah pusat merumuskan kebijakan anggaran yang lebih berkeadilan dan sesuai karakteristik wilayah.

Lebih lanjut, Amsakar menekankan pentingnya kerja sama antarlembaga dan antarlevel pemerintahan yang sinergis, bukan saling berkompetisi.

“Tidak boleh seolah-olah provinsi dan kabupaten/kota jadi pesaing. Semua harus saling memperkuat. Tujuan akhirnya sama: memajukan masyarakat,” katanya.

Ia berharap seluruh masukan yang muncul dalam forum ini bisa menjadi bahan evaluasi nyata bagi pemerintah pusat dalam menyempurnakan tata kelola pemerintahan yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan daerah.

“Kalau semuanya bisa berjalan harmonis dan saling mendukung, pelayanan publik pun akan makin maksimal,” tutupnya. (*)

Reporter: Aziz Maulana

Artikel Amsakar Desak Sinkronisasi Pusat-Daerah, Soroti Kawasan Industri dan Pendidikan pertama kali tampil pada Metropolis.

Walikota Amsakar Dorong Sinkronisasi Pusat dan Daerah, Soroti Keadilan bagi Wilayah Kepulauan

0
Walikota Batam Amsakar Achmad mendampingi Deputi Bidang Koordinasi Politik Dalam Negeri Kemenko Polhukam Heri Wiranto.

batampos-Wali Kota Batam, Amsakar Achmad menegaskan pentingnya harmonisasi dan sinkronisasi kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah agar penyelenggaraan pemerintahan berjalan lebih efektif dan berpihak kepada masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Tata Kelola Pemerintahan dalam rangka harmonisasi kewenangan pusat dan daerah yang digelar di Swiss-Belhotel Harbour Bay, Batam, Rabu (22/10).

Deputi Bidang Koordinasi Politik Dalam Negeri Kemenko Polhukam Heri Wiranto menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan rangkaian rapat koordinasi nasional yang digelar secara maraton di berbagai wilayah Indonesia.

Setelah zona timur dilaksanakan di Makassar mencakup Sulawesi, Papua, Maluku, dan Kalimantan, kini Batam menjadi tuan rumah untuk zona barat yang meliputi Sumatera dan sebagian Jawa.

BACA JUGA: Pertamina Buka Booth Pendaftaran Pembelian Solar Subsidi di 10 SPBU Kota Batam

“Pertemuan seperti ini menjadi sarana bagi kami untuk menyerap masukan dari daerah. Setelah lebih dari sebelas tahun penerapan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah tentu banyak dinamika dan tantangan baru yang perlu direspons,” ujar Heri.

Menurutnya, forum koordinasi ini tidak hanya berfungsi sebagai evaluasi pelaksanaan otonomi daerah, tetapi juga menjadi wadah untuk merumuskan arah kebijakan ke depan, termasuk penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Daerah Kepulauan yang diharapkan mampu memberikan perhatian lebih terhadap wilayah berkarakteristik maritim.

“Masukan dari daerah sangat penting. Semua tetap dalam bingkai NKRI, tetapi kita ingin aturan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan di lapangan,” tambah Heri.

Menanggapi hal itu, Amsakar Achmad menyambut baik forum tersebut. Ia menyebut kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi daerah untuk menyampaikan aspirasi dan permasalahan yang muncul akibat pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.

“Semangatny adalah menggali informasi dari bawah dan mempertemukannya dalam forum seperti ini. Dari situ kita bisa tahu apa yang perlu disinkronkan agar pemerintahan berjalan lebih efektif,” katanya.

Amsakar menilai, masih terdapat sejumlah urusan yang belum sepenuhnya harmonis, seperti pengawasan kawasan industri dan pengelolaan pendidikan menengah yang masih menjadi kewenangan provinsi. Padahal, kebutuhan dan persoalan di lapangan sering kali muncul di tingkat kota.

“Kami di Batam memiliki 31 kawasan industri, namun pengawasannya di provinsi. Begitu juga dengan SMA yang ramai dan butuh perhatian, tetapi pengelolaannya bukan di kota, melainkan di provinsi. Ini perlu disesuaikan agar tidak menghambat pelayanan publik,” jelasnya.

Amsakar juga menekankan pentingnya hubungan yang sinergis antarlevel pemerintahan, bukan bersifat kompetitif.

“Tidak boleh seolah-olah provinsi dan kabupaten/kota menjadi pesaing. Semua harus saling memperkuat, karena tujuan akhirnya adalah kemajuan masyarakat,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Amsakar turut menyoroti pentingnya perubahan formula dana transfer ke daerah terutama bagi wilayah kepulauan seperti Provinsi Kepulauan Riau.
Ia menilai, mekanisme pembagian anggaran saat ini masih terlalu berbasis luas daratan, sehingga tidak mencerminkan karakteristik wilayah maritim.

“Sudah saatnya alokasi dana mempertimbangkan potensi laut. Provinsi Kepri 96 persen laut, hanya 4 persen darat. Batam pun serupa, sekitar 66 persen laut dan 34 persen darat. Kalau formula dana perimbangan tidak menyesuaikan kondisi ini, tentu sulit bagi daerah kepulauan untuk tumbuh optimal,” ujarnya.

Amsakar berharap seluruh masukan dari rapat koordinasi ini dapat menjadi bahan evaluasi nyata bagi pemerintah pusat dalam memperkuat sinergi dan memperbaiki tata kelola pemerintahan.

“Kalau semuanya bisa berjalan harmonis dan saling memperkuat, tata kelola pemerintahan akan lebih baik dan pelayanan kepada masyarakat semakin maksimal,” tutupnya. (*)

Reporter: Azis

Artikel Walikota Amsakar Dorong Sinkronisasi Pusat dan Daerah, Soroti Keadilan bagi Wilayah Kepulauan pertama kali tampil pada Metropolis.

Walikota Amsakar Dorong Sinkronisasi Pusat dan Daerah, Soroti Keadilan bagi Wilayah Kepulauan

0
Walikota Batam Amsakar Achmad mendampingi Deputi Bidang Koordinasi Politik Dalam Negeri Kemenko Polhukam Heri Wiranto.

batampos-Wali Kota Batam, Amsakar Achmad menegaskan pentingnya harmonisasi dan sinkronisasi kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah agar penyelenggaraan pemerintahan berjalan lebih efektif dan berpihak kepada masyarakat.

Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri Rapat Koordinasi dan Sinkronisasi Tata Kelola Pemerintahan dalam rangka harmonisasi kewenangan pusat dan daerah yang digelar di Swiss-Belhotel Harbour Bay, Batam, Rabu (22/10).

Deputi Bidang Koordinasi Politik Dalam Negeri Kemenko Polhukam Heri Wiranto menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan rangkaian rapat koordinasi nasional yang digelar secara maraton di berbagai wilayah Indonesia.

Setelah zona timur dilaksanakan di Makassar mencakup Sulawesi, Papua, Maluku, dan Kalimantan, kini Batam menjadi tuan rumah untuk zona barat yang meliputi Sumatera dan sebagian Jawa.

BACA JUGA: Pertamina Buka Booth Pendaftaran Pembelian Solar Subsidi di 10 SPBU Kota Batam

“Pertemuan seperti ini menjadi sarana bagi kami untuk menyerap masukan dari daerah. Setelah lebih dari sebelas tahun penerapan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah tentu banyak dinamika dan tantangan baru yang perlu direspons,” ujar Heri.

Menurutnya, forum koordinasi ini tidak hanya berfungsi sebagai evaluasi pelaksanaan otonomi daerah, tetapi juga menjadi wadah untuk merumuskan arah kebijakan ke depan, termasuk penyusunan Rancangan Undang-Undang tentang Daerah Kepulauan yang diharapkan mampu memberikan perhatian lebih terhadap wilayah berkarakteristik maritim.

“Masukan dari daerah sangat penting. Semua tetap dalam bingkai NKRI, tetapi kita ingin aturan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan di lapangan,” tambah Heri.

Menanggapi hal itu, Amsakar Achmad menyambut baik forum tersebut. Ia menyebut kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi daerah untuk menyampaikan aspirasi dan permasalahan yang muncul akibat pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota.

“Semangatny adalah menggali informasi dari bawah dan mempertemukannya dalam forum seperti ini. Dari situ kita bisa tahu apa yang perlu disinkronkan agar pemerintahan berjalan lebih efektif,” katanya.

Amsakar menilai, masih terdapat sejumlah urusan yang belum sepenuhnya harmonis, seperti pengawasan kawasan industri dan pengelolaan pendidikan menengah yang masih menjadi kewenangan provinsi. Padahal, kebutuhan dan persoalan di lapangan sering kali muncul di tingkat kota.

“Kami di Batam memiliki 31 kawasan industri, namun pengawasannya di provinsi. Begitu juga dengan SMA yang ramai dan butuh perhatian, tetapi pengelolaannya bukan di kota, melainkan di provinsi. Ini perlu disesuaikan agar tidak menghambat pelayanan publik,” jelasnya.

Amsakar juga menekankan pentingnya hubungan yang sinergis antarlevel pemerintahan, bukan bersifat kompetitif.

“Tidak boleh seolah-olah provinsi dan kabupaten/kota menjadi pesaing. Semua harus saling memperkuat, karena tujuan akhirnya adalah kemajuan masyarakat,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Amsakar turut menyoroti pentingnya perubahan formula dana transfer ke daerah terutama bagi wilayah kepulauan seperti Provinsi Kepulauan Riau.
Ia menilai, mekanisme pembagian anggaran saat ini masih terlalu berbasis luas daratan, sehingga tidak mencerminkan karakteristik wilayah maritim.

“Sudah saatnya alokasi dana mempertimbangkan potensi laut. Provinsi Kepri 96 persen laut, hanya 4 persen darat. Batam pun serupa, sekitar 66 persen laut dan 34 persen darat. Kalau formula dana perimbangan tidak menyesuaikan kondisi ini, tentu sulit bagi daerah kepulauan untuk tumbuh optimal,” ujarnya.

Amsakar berharap seluruh masukan dari rapat koordinasi ini dapat menjadi bahan evaluasi nyata bagi pemerintah pusat dalam memperkuat sinergi dan memperbaiki tata kelola pemerintahan.

“Kalau semuanya bisa berjalan harmonis dan saling memperkuat, tata kelola pemerintahan akan lebih baik dan pelayanan kepada masyarakat semakin maksimal,” tutupnya. (*)

Reporter: Azis

Artikel Walikota Amsakar Dorong Sinkronisasi Pusat dan Daerah, Soroti Keadilan bagi Wilayah Kepulauan pertama kali tampil pada Metropolis.

Distribusi MBG di Batuampar Hampir Tuntas, Capai 90 Persen

0
Ilustrasi. Murid SD di Batam menikmati makanan program MBG yang dibagikan di sekolah.

batampos – Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Pendidikan memastikan distribusi Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa sekolah dasar (SD) di Kecamatan Batuampar telah berjalan dengan baik. Meski sempat dikeluhkan sebagian orang tua karena belum semua siswa menerima, Dinas Pendidikan menegaskan cakupan program di wilayah ini telah mencapai sekitar 90 persen.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan, melalui Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar, Yusal, menjelaskan bahwa distribusi MBG diatur melalui Satuan Pendidikan Penyelenggara Gizi (SPPG). Namun, untuk wilayah Batuampar, kuota pendirian SPPG baru saat ini sudah tidak memungkinkan karena kapasitas dapur yang tersedia telah penuh.

“Memang kewenangan MBG itu ada di SPPG. Di Batuampar saat ini sudah ada empat dapur yang beroperasi, dan satu lagi akan segera beroperasi dalam waktu dekat. Jadi kuota di Batuampar sudah terpenuhi semua,” ujar Yusal, Rabu (22/10).

Menurutnya, jumlah sasaran penerima MBG di Batuampar memang tidak sebanyak di kecamatan lain. Hal itu membuat capaian distribusi di tingkat SD, baik negeri maupun swasta, sudah mendekati tuntas.

“Sasarannya di sana tidak banyak. Untuk SD di Batuampar, baik negeri maupun swasta, capaian MBG-nya sudah 90 persen. Saya kira untuk SMP juga sudah tersedia semua,” ujarnya.

Yusal menambahkan, sebelumnya sempat ada rencana penambahan dapur MBG dari pusat untuk wilayah Batuampar. Namun, setelah dilakukan evaluasi, rencana tersebut dibatalkan karena kapasitas dapur yang ada sudah mencukupi.

“Memang sempat ada rencana penambahan dapur dari pusat, tapi karena di lapangan ternyata sudah cukup, jadi tidak jadi ditambah,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat dapat memahami mekanisme distribusi MBG yang diatur berdasarkan kapasitas dan wilayah kerja masing-masing SPPG. Dinas Pendidikan juga terus memantau agar program makanan bergizi untuk anak sekolah ini dapat menjangkau seluruh peserta didik secara merata.

Sebelumnya secara keseluruhan penyaluran MBG di Batam Hingga Oktober 2025, sudah menyentuh angka 62 persen dari total sasaran 220 ribu siswa SD dan SMP di bawah naungan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam.

Kepala Dinas Pendidikan Batam, Hendri Arulan mengatakan sebanyak 188.742 siswa dari 464 sekolah dan posyandu telah menerima manfaat program MBG.“Untuk sekolah saja, capaian pelaksanaan MBG sudah di atas 70 persen, dan terus meningkat seiring dengan perluasan jangkauan distribusi di lapangan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pengelolaan dapur MBG di Batam sepenuhnya berada di bawah kendali Badan Pangan Nasional (Bapanas) melalui Satuan Tugas Pangan dan Gizi (SPPG). Pemko Batam, lanjutnya, turut mendukung program nasional tersebut dengan menyiapkan berbagai sarana pendukung, termasuk lahan untuk dapur umum tambahan.

“Pemko Batam sudah mengajukan usulan lahan ke Bapanas melalui Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau guna mendukung pembangunan dapur umum tambahan,” ujarnya.

Program MBG merupakan salah satu program prioritas nasional Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam upaya meningkatkan gizi anak sekolah. Melalui program ini, pemerintah berharap dapat menekan angka stunting sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Artikel Distribusi MBG di Batuampar Hampir Tuntas, Capai 90 Persen pertama kali tampil pada Metropolis.

Influenza A Kembali Merebak, Gejalanya Mirip COVID-19! Ini Cara Membedakannya

0
Ilustrasi. F. Freepik.

batampos – Virus Influenza A kembali merebak di sejumlah wilayah Asia Tenggara dan menjadi perhatian tenaga kesehatan. Penyakit ini menimbulkan gejala yang mirip dengan COVID-19, sehingga banyak masyarakat kesulitan membedakan keduanya.

Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Influenza A adalah salah satu jenis virus flu yang dapat menginfeksi manusia maupun hewan. Wabahnya biasanya meningkat saat musim hujan atau masa peralihan cuaca.

Meski memiliki gejala serupa, Influenza A dan COVID-19 disebabkan oleh virus yang berbeda. Influenza A berasal dari virus influenza tipe A, sedangkan COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2.

Berikut perbedaan gejala Influenza A dan COVID-19 menurut CDC:

1. Demam
Influenza A umumnya menyebabkan demam selama 3–4 hari, sedangkan COVID-19 dapat berlangsung lebih lama.

2. Batuk dan sakit tenggorokan
Keduanya dapat menimbulkan batuk kering berkepanjangan disertai sakit tenggorokan.

3. Hidung tersumbat
Gejala ini umum terjadi pada keduanya dan bisa menyebabkan gangguan penciuman sementara.

4. Kelelahan dan nyeri otot
Tubuh terasa lemas dan nyeri, terutama di bagian punggung dan sendi.

5. Sakit kepala
Kedua virus sama-sama dapat memicu sakit kepala ringan hingga berat.

6. Mual, muntah, dan diare
Gejala ini lebih sering muncul pada anak-anak dibandingkan orang dewasa.

7. Kehilangan rasa atau bau
Jarang terjadi pada Influenza A, tetapi sering ditemukan pada COVID-19.

8. Waktu inkubasi
Influenza A: 1–4 hari.
COVID-19: 2–14 hari.

Meski gejalanya hampir sama, tes diagnosis laboratorium tetap diperlukan untuk memastikan infeksi yang terjadi. Pemeriksaan dini sangat penting agar pasien mendapatkan penanganan tepat dan mencegah penularan ke orang lain.

Reporter: Juliana Belence

Artikel Influenza A Kembali Merebak, Gejalanya Mirip COVID-19! Ini Cara Membedakannya pertama kali tampil pada Lifestyle.

Warga mulai Mengeluh, Harga Cabai Merah Masih ‘Selangit’

0
Warga saat membeli cabai merah di Pasar Summerland, Batubesar. Foto: Yashinta/ Batam Pos

batampos– Harga cabai merah di Batam belum juga menunjukkan tanda-tanda turun. Sudah lebih dari sebulan, harga bumbu dapur ini bertahan di level tinggi dan membuat warga semakin mengeluh.

Di Pasar Victoria, Sekupang misalnya, harga cabai merah besar kini berkisar Rp80–Rp 85 ribu per kilogram, sementara di pasar-pasar tradisional kawasan Sungai Harapan, harganya bahkan menembus Rp 90 ribu per kilogram.

“Biasanya dua minggu juga turun lagi, tapi ini sudah sebulan lebih gak turun-turun. Mahal bingit!,” keluh Widia salah seorang warga Sekupang, Rabu (22/10).

BACA JUGA: Harga Cabai ‘Menggila’, Warga Panik di Pasar Batam, Tembus Rp 110 ribu per Kg

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam, Mardanis, mengatakan kenaikan harga ini mengikuti tren pasar nasional, terutama di Jakarta yang menjadi acuan harga bahan pokok di berbagai daerah.

“Harga cabai di Jakarta sekarang sudah sekitar Rp70 ribu per kilogram. Karena pola harga hampir sama di seluruh daerah, Batam ikut terdampak. Apalagi Batam bukan daerah penghasil cabai, sementara ongkos kirim dari Jawa atau Sumatera juga tinggi,” jelas Mardanis.

Menurutnya, tingginya harga cabai juga dipengaruhi penurunan hasil panen di sentra produksi utama. Saat ini, sejumlah daerah di Jawa dan Sumatera baru memasuki awal musim hujan, yang membuat tanaman cabai rentan terserang penyakit seperti busuk daun dan busuk buah.

“Otomatis kalau di daerah asal sudah mahal, masuk ke Batam akan lebih mahal lagi,” ujarnya.

Untuk menekan laju inflasi bahan pangan, DKPP menyiapkan beberapa langkah strategis. Salah satunya dengan memperkuat kerja sama antar daerah penghasil cabai.
“Rencananya kami akan bekerja sama dengan Sumatera Utara dan Jawa Tengah. Kalau di sana bisa dapat harga lebih murah, otomatis di Batam bisa ikut turun,” kata Mardanis.

Selain itu, Pemko Batam juga mendorong peningkatan produksi cabai lokal. Tahun ini, DKPP bersama 11 kelompok tani mengembangkan 15 hektar lahan cabai merah, ditambah 5 hektar untuk tanaman sayur seperti bayam dan kangkung.

Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) juga melibatkan sekitar 2.400 ibu-ibu kelompok wanita tani, masing-masing menanam 20 polybag cabai, sehingga total sekitar 50 ribu batang cabai atau setara 4 hektar.

“Kalau ditotal, ada sekitar 18 hektar lahan cabai yang sedang dikembangkan di Batam. Perkiraannya, hasil baru akan mulai keluar akhir November atau awal Desember,” jelasnya.

Lahan cabai ini tersebar di Kecamatan Nongsa, Sungai Beduk, dan Sagulung. DKPP juga melaksanakan program Sekolah Lapang (SL) bagi petani, mencakup pembibitan, pengolahan tanah, hingga pemupukan berbasis riset.

Jika semua berjalan lancar, produksi cabai lokal diperkirakan bisa mencapai hampir 1 ton per hari, sementara kebutuhan masyarakat Batam mencapai 10–15 ton per hari.
“Kalau panen sudah mulai jalan, mudah-mudahan harga cabai bisa turun di bulan Desember nanti,” tutur Mardanis.

Untuk sementara, suplai cabai Batam masih mengandalkan pasokan dari Mataram, Yogyakarta, Sumatera Utara, Aceh, dan Padang. Namun, karena daerah-daerah tersebut juga mengalami penurunan produksi, harga tetap bertahan tinggi.

“Ini bukan hanya di Batam, tapi seluruh Indonesia menghadapi kondisi yang sama,” pungkasnya. (*)

Reporter: Rengga

Artikel Warga mulai Mengeluh, Harga Cabai Merah Masih ‘Selangit’ pertama kali tampil pada Metropolis.

6 Warisan Budaya Kepulauan Riau yang Jadi Cerminan Kaya Tradisi Melayu

0
Tarian Zapin Penyengat. F. Disbudpar Tanjungpinang.

batampos – Kepulauan Riau (Kepri) tak hanya terkenal dengan panorama lautnya yang menawan, tetapi juga menyimpan warisan budaya Melayu yang sarat nilai sejarah. Banyak peninggalan budaya di provinsi maritim ini yang belum banyak dikenal masyarakat luas.

Warisan budaya di Kepri mencerminkan peradaban Melayu yang kaya akan nilai moral, seni, dan tradisi turun-temurun. Berikut enam warisan budaya Kepulauan Riau yang jarang diketahui, namun memiliki makna sejarah yang tinggi:

1. Gurindam Dua Belas
Karya sastra monumental ini ditulis Raja Ali Haji pada abad ke-19 di Pulau Penyengat. Berisi nasihat dan ajaran moral dalam 12 pasal, Gurindam Dua Belas menggabungkan nilai-nilai Islam dan budaya Melayu yang menjadi pedoman hidup masyarakat.

2. Tari Zapin
Tari tradisional yang berakar dari budaya Arab ini menjadi bagian penting dari ekspresi seni masyarakat Melayu di Kepri. Tarian Zapin kerap dipentaskan dalam berbagai acara adat dan menjadi simbol budaya yang dinamis serta religius.

3. Gambus dan Marwas
Dua alat musik tradisional ini menjadi pengiring utama dalam pertunjukan musik Melayu. Suara petikan gambus dan tabuhan marwas menggambarkan harmoni antara seni dan spiritualitas masyarakat pesisir.

4. Kuliner Khas Melayu
Kepulauan Riau memiliki aneka kuliner khas seperti otak-otak, lakse, dan kue bangkit.
Otak-otak berbahan ikan yang dibakar dalam daun pisang, lakse merupakan mi beras dengan kuah santan kaya rempah, sedangkan kue bangkit menjadi camilan wajib saat hari besar keagamaan.

5. Perahu Jong
Permainan tradisional ini menggunakan perahu kecil yang digerakkan oleh angin. Selain menjadi hiburan rakyat, Perahu Jong mencerminkan tradisi maritim dan kecerdikan masyarakat pesisir Kepulauan Riau.

6. Bahasa Melayu, Akar Bahasa Indonesia
Bahasa Melayu yang digunakan masyarakat Kepri memiliki peran penting dalam pembentukan Bahasa Indonesia modern. Ragam bahasa yang hidup di wilayah ini menjadi bukti kuat pengaruh budaya Melayu dalam sejarah nasional.

Warisan budaya tersebut menjadi kekayaan tak ternilai yang perlu dilestarikan agar tidak hilang ditelan zaman. Generasi muda diharapkan terus mengenal dan mencintai akar budayanya sebagai bagian dari identitas bangsa.

Reporter: Juliana Belence

Artikel 6 Warisan Budaya Kepulauan Riau yang Jadi Cerminan Kaya Tradisi Melayu pertama kali tampil pada Kepri.

Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pembunuhan Pegawai Imigrasi Tarempa

0
Gang Mawar, Jalan Kampung Baru, RT 002/RW 002, Kelurahan Tarempa yang menjadi tempat penangkapan terduga pelaku pembunuhan pegawai Imigrasi Tarempa, Harsyad (53). F. Ihsan Imaduddin/Batam Pos.

batampos – Misteri kematian pegawai Imigrasi Tarempa, Harsyad (53), yang ditemukan tewas di semak-semak menuju Kampung Flores, Desa Tarempa Selatan, Kepulauan Anambas, mulai menemukan titik terang.

Setelah beberapa hari penyelidikan intensif, Satreskrim Polres Kepulauan Anambas berhasil mengamankan seorang terduga pelaku berinisial ASM (20) yang diduga kuat terlibat dalam kematian korban.

Penangkapan dilakukan di kawasan Kampung Baru, Kelurahan Tarempa, Kecamatan Siantan, sekitar pukul 23.20 WIB, Selasa (21/10) malam. Proses pengamanan berlangsung cepat dan disaksikan sejumlah warga.

Menurut keterangan warga, ASM diamankan polisi di Gang Mawar, tak jauh dari SD 003 Tarempa. “Malam tadi ramai di sini, ada Pak RT juga yang menyaksikan. Begitu diamankan, langsung dibawa ke Polsek Siantan,” ujar Galang, salah seorang warga, Rabu (22/10).

Dalam proses tersebut, turut hadir Ketua RT 002/RW 002 Kelurahan Tarempa, Bambang, yang menyaksikan langsung jalannya penangkapan. ASM kemudian dibawa ke Polsek Siantan untuk pemeriksaan awal sebelum dipindahkan ke Polres Anambas.

Kapolres Kepulauan Anambas, AKBP I Gusti Ngurah Agung Budianaloka, membenarkan penangkapan tersebut. Ia mengatakan, penyidik masih mendalami motif serta kemungkinan keterlibatan pihak lain.

“Kita masih dalami dan masih pemantapan. Siapa tahu ada pengembangan lain,” ujar Kapolres singkat.

Dari hasil penyelidikan sementara, ASM diduga merupakan pria misterius yang menjemput korban di rumahnya pada Jumat dini hari (17/10) sekitar pukul 02.00 WIB, beberapa jam sebelum korban ditemukan tewas. Sejumlah saksi juga memberikan keterangan yang menguatkan dugaan keterlibatan ASM.

Sebelumnya, kematian Harsyad menggegerkan warga Tarempa. Pegawai Imigrasi berusia 53 tahun itu ditemukan tak bernyawa di semak-semak menuju Kampung Flores dalam kondisi mencurigakan.

Menindaklanjuti kasus ini, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Menipas) Agus Andrianto telah memerintahkan Tim Intelijen berkoordinasi dengan kepolisian dan melakukan autopsi terhadap jenazah korban.

Autopsi dilakukan di TPU Desa Tarempa Barat, Selasa (21/10), dipimpin langsung oleh Kepala RS Bhayangkara Polda Kepri, AKP Leonardo, dibantu tiga tenaga medis dari Polda Kepri. (*)

Reporter: Ihsan Imaduddin 

Artikel Polisi Tangkap Terduga Pelaku Pembunuhan Pegawai Imigrasi Tarempa pertama kali tampil pada Kepri.