Dewan Pimpinan Cabang Partai Hati Nurani Rakyat Kota Batam meresmikan Kantor Lembaga Bantuan Hukum Hati Nurani, Senin (14/2/2022) siang. Foto: Eggi Idriansyah/Batam Pos
batampos – Dewan Pimpinan Cabang Partai Hati Nurani Rakyat (DPC Hanura) Kota Batam meresmikan Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Hati Nurani, Senin (14/2) siang. Kantor LBH Hati Nurani ini berada di Kompleks Ruko Taman Eden, Batamkota.
Sekretaris DPC Partai Hanura Kota Batam, Rony Nainggolan sangat bangga dengan hadirnya LBH Hati Nurani ini. Dengan adanya LBH Hati Nurani ini, Partai Hanura bisa membantu masyarakat kurang mampu di Kota Batam.
“Saya berterima kasih ke kawan-kawan LBH yang memiliki hati nurani. Saya minta ke kawan-kawan LBH untuk bisa memberi bantuan hukum secara gratis kepada masyarakat tidak mampu,” ujarnya.
Kepada masyarakat tidak mampu yang butuh bantuan hukum, kata Rony, bisa langsung datang untuk berkonsultasi ke Kantor LBH Hari Nurani yang juga Kantor DPC Partai Hanura Kota Batam. Agar bisa dilanjutkan untuk diberi bantuan hukum.
“Ini adalah sebuah karya baru dan saya mengimbau seluruh masyarakat, siapapun mereka, jangan takut jika menghadapi hukum dan kita akan dampingi sampai tuntas,” katanya.
LBH Hati Nurani ini juga program pertama Rony sebagai Sekretaris DPC Partai Hanura Kota Batam. Ia berharap DPC Partai Hanura kedepannya mempunyai program-program yang dapat membantu masyarakat.
“Sehingga kita bisa kembali menyentuh hati nurani masyarakat. Jadi LBH ini saya minta agar dibuat gratis untuk masyarakat yang kekurangan,” katanya.
Ia menambahkan, LBH Hati Nurani ini ada 7 orang anggota yang terdiri dari 4 orang anggota dan 3 orang pengurus yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Bendahara DPC Partai Hanura Kota Batam. Sesuai dengan SK yang dikeluarkan, mereka tidak memiliki batas waktu.
Tidak hanya untuk masyarakat yang tidak mampu, namun LBH Hati Nurani ini juga akan membantu setiap kader yang punya permasalahan hukum pada Pemilu Tahun 2024. Sebab, tahun 2024 merupakan tujuan dari semua partai dengan cara yang berbeda.
“Jadi saya membuat program yang juga bisa digunakan semua kader Hanura di Kota Batam. Bukan hanya pada satu atau dua orang,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua LBH Hati Nurani, Al Reevan Simanjuntak mengatakan, pihaknya akan langsung berkolaborasi dan koordinasi dengan seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Partai Hanura. Tujuannya adalah, untuk melihat dan mengkaji lebih dalam lagi permasalahan masyarakat disetiap PAC Partai Hanura.
“Tujuan kita untuk menggali permasalahan yang ada. Baru nanti kita dari sisi hukum, LBH ini siap untuk bergerak dan terjun ke masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, permasalahan di tengah masyarakat sangat beragam. Mulai dari permasalahan kecil hingga permasalahan yang besar. Sehingga hal ini nantinya yang akan didalami LBH Hati Nurani, apakah permasalahannya harus diselesaikan melalui litigasi maupun non litigasi.
“Kalau memang harus litigasi, kita maju sampai pengadilan dan sampai kemana kita harus siap untuk maju,” tegasnya.(*)
batampos– Kota Batam kembali mengalami peningkatan status. Saat ini Batam menerapkan PPKM level 2, karena adanya kenaikan jumlah kasus selama beberapa Minggu ini.
Wali Kota Batam, Muhammad Rudi. Foto: Yulitavia/batampos.co.id
Wali Kota Batam, Muhammad Rudi mengatakan jumlah kasus Covid-19 di Batam saat ini sudah mencapai lebih 500 kasus. Apabila seluruh stakeholder lalai protkes, maka jumlah kasus akan mencapai ribuan dalam dalam waktu dekat ini.
“Semua tergantung masyarakat. Kalau mau ini cepat selesai tolong patuhi protkesnya. Apalagi dalam waktu dekat ini kita akan menyambut bulan suci Ramadan. Kalau bisa kasus ini sebelum Ramadan sudah selesai,” ujarnya usai menghadiri pertemuan dengan pelaku usaha mikro di Lantai IV, Kantor Wali Kota Batam, Selasa (15/2).
Oleh sebab itu, Rudi menegaskan masyarakat untuk selalu mematuhi prokes, seperti pakai masker, jaga jarak, rajin cuci tangan, menggunakan handsanitizer dan hindari kerumunan.
“Kita sudah kelapangan tidak ada penyekatan. Tapi kita sudah ingatkan masyarakat agar selalu pakai masker dan jaga jarak,” ujar Rudi.
Kendati tak ada pengetatan di lapangan, Rudi selalu mengimbau masyarakat untuk selalu mematuhi 2 hal. Yakni menerapkan protokol kesehatan (prokes) dan vaksinasi Covid-19 dosis 1, 2 dan 3.
“Saya berharap Covid-19 ini bisa berakhir. Perlu kita ingat Omicron ini masuk di gelombang ketiga atau keempat, semua orang mudah terkena tapi akan mudah sembuh,” katanya.
Kalau tak hati-hati diprediksi bulan ini kasus mencapai ribuan. Kita jaga dengan vaksin dosis 1, 2 dan 3 lalu prokes.
Seperti diketahui, PPKM di wilayah Tanjung Pinang dan Batam level 2. Aturan ini akan berlaku selama dua Minggu ke depan. (*)
Samsuri memperlihatkan surat bukti yang dikumpulkan terkait indikasi korupsi yang diserahkan ke polisi. f. Yusnadi Nazar
batampos– Proyek pembangunan sejumlah rumah dan sarana lain program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di Kampung Bugis, Tanjungpinang, diduga asal-asalan dalam pengerjaannya. Hal ini terungkap setelah warga Kampung Bugis membuat pengaduan ke Mapolres Tanjungpinang.
Warga Kampung Bugis, Samsuri membuat pengaduan terkait dugaan penyelewengan dana pada proyek Kotaku yang menelan anggaran Rp1,8 miliar. Dana tersebut, kata Samsuri, bersumber dari Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Sarana Multigriya Finansial (SMF) yang bekerjasama dengan Kementerian PUPR. “Tahun 2021, program Kotaku di Kampung Bugis memiliki anggaran Rp1,8 miliar, untuk pembangunan 18 rumah di RT 1 dan RT 06,” ungkapnya.
Dari 18 rumah yang telah dibangun, lanjut Samsuri, terdapat dua rumah yang pondasinya turun 50 centimeter. Akibatnya, bangunan rumah miring. Saat air laut pasang, air akan masuk ke dalam rumah. Selain itu, rumah tersebut tidak layak huni.
Bahkan, saat ini, proses pengerjaan rumah juga belum rampung. Padahal, pengerjaan proyek itu telah melewati batas waktu yang telah ditentukan. “Kami tidak tahu siapa KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) yang mengerjakan itu,” jelas Samsuri.
Atas adanya indikasi tersebut, Samsuri meminta pihak kepolisian segera melakukan penyelidikan. “Kami meminta agar polisi mengusut dugaan manipulasi ini,” harap Samsuri.
Kasat Reskrim Polres Tanjungpinang AKP Awal Sya’ban Harahap mengatakan pihaknya belum menerima aduan tersebut. Namun ia berjanji jika aduan telah masuk ke Reskrim, maka pihaknya akan melakukan penyelidikan terkait dugaan tersebut. (*)
Sejarah mencatat, jenis rempah berupa gambir pernah jadi komoditas utama perdagangan pada abad ke-18 di masa Kesultanan Johor-Pahang-Riau-Lingga yang berpusat di Negeri Riau, kawasan yang kini masuk wilayah Provinsi Kepulauan Riau.
Berkat gambir pula, kawasan perairan dan pelabuhan di wilayah ini, dikukuhkan jadi bandar perdagangan dan jalur pelayaran maritim terkemuka pada masanya.
Kini, meski tak lagi jadi barang niaga unggulan seperti dahulu, gambir tetap mendapat tempat di hati masyarakat Melayu Kepulauan Riau. Secuil gambir dalam tradisi nyirih meneguhkan klaim tersebut.
Ratna Irtatik – Batam
Hilir mudik puluhan kapal terus memadati alur sungai di Negeri Riau. Beberapa di antara kapal-kapal tersebut menurunkan jangkar dan bersandar di dermaga.
Bukan semata yang kecil, kapal berukuran besar juga menjadi bagian dari saksi betapa riuh rendah pelabuhan di bibir Selat Malaka tersebut.
Sebagian dari kapal-kapal itu milik saudagar kaya dari Tanah Jawa dan Bugis. Sementara kapal lainnya, berasal dari negeri seberang, sebut di antaranya dari Negeri Siam atau Thailand.
Kedatangan kapal-kapal itu ke tanah Melayu di Negeri Riau, utamanya untuk urusan dagang. Khususnya, mencari komoditas rempah unggulan dari wilayah ini berupa gambir.
Wilayah Negeri Riau memang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil gambir di Nusantara.
Tak mengherankan jika kemudian banyak kapal berduyun-duyun datang untuk membeli gambir maupun menukarnya (barter) dengan aneka komoditas bahan pangan dari wilayah asal kapal tersebut.
Kondisi itu membuat Negeri Riau makin ramai dan dikenal sebagai bandar perdagangan maritim di Selat Malaka.
Imbasnya, tentu saja membawa berkah kemakmuran bagi wilayah ini pada abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-19.
Catatan sejarah tentang kejayaan maritim dalam perdagangan gambir di Negeri Riau tersebut dideskripsikan secara jelas oleh sejarawan sekaligus pujangga abad ke-19, Raja Ali Haji, dalam kitab Tuhfat al-Nafis.
Pahlawan Nasional dari Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kepulauan Riau itu menggambarkan bahwa wilayah yang berhadapan dengan salah satu selat tersibuk di dunia, Selat Malaka, telah menjadi jalur bahari perdagangan utama gambir. Bahkan, gambir dari Negeri Riau dikenal karena kualitasnya yang cukup bagus.
Sejarawan Melayu, Dedi Arman, mengatakan, bahwa Raja Ali Haji telah mengungkap betapa penting komoditas gambir kala itu. Penyebabnya, pada masa itu permintaan terhadap rempah yang berwarna coklat kehitaman tersebut memang cukup tinggi dari berbagai penjuru dunia.
Beberapa negara dengan tingkat permintaan gambir yang tinggi antara lain India, Bangladesh, Jepang, Singapura, Prancis, dan beberapa negara lainnya. Selain digunakan untuk menyamak kulit dan pewarna tekstil, gambir juga digunakan untuk campuran bahan farmasi atau obat-obatan.
“Misalnya digunakan untuk obat luka bakar, sakit kepala, diare, disentri, sariawan dan lain sebagainya. Bahkan, secara tradisional, gambir ini dikenal dapat mengobati sakit mag hanya dengan mengunyah daun tanaman gambir yang masih muda,” ujar Dedi, yang kini menjadi Peneliti Sejarah di Pusat Penelitian (Puslit) Arkeologi Nasional.
Pekerja bersiap mengolah gambir di Desa Kudung, Lingga Timur, beberapa waktu lalu. Foto: Dedi untuk Batam Pos
Adapun, gambir ini didapat dengan mengolah atau mengekstraksi daun dan ranting dari tanaman gambir (uncaria) yang diproses dengan pemanasan, lalu diendapkan dan kemudian dicetak serta dikeringkan. Gambir banyak digunakan sebagai bahan penyamak kulit dan pewarna pakaian.
Menurut Dedi, cikal bakal penanaman gambir di Negeri Riau baru dimulai pada tahun 1743. Itu ditandai dengan permintaan Yang Dipertuan Muda Johor-Riau, Daeng Celak, terhadap Punggawa Tarum dan Penghulu Cedun, agar mengambil bibit tanaman gambir dari Pulau Perca atau Sumatra.
“Gambir kemudian ditanam di Pulau Bintan seperti di Senggarang, Batu 8, Ekang, Busung, Gesek, hingga ke arah Lagoi. Sedangkan di Pulau Batam, gambir bisa ditemukan di Galang, Mukakuning dan Sembulang,” sebutnya.
Seiring makin tingginya permintaan gambir, maka kian banyak pula saudagar Melayu dan Bugis yang mengembangkan ratusan perkebunan gambir di wilayah ini.
Bahkan, saat itu para saudagar kaya tersebut sampai mendatangkan langsung para pekerja dari Tiongkok.
“Tenaga kerja Tionghoa ini yang kemudian membantu memproses tanaman menjadi gambir yang siap untuk diperdagangkan,” tuturnya.
Dedi juga menjelaskan, kejayaan gambir di wilayah ini juga tercatat dalam arsip Belanda, baik itu berupa surat perjanjian kontrak, surat kabar, hingga laporan perjalanan.
Kejayaan gambir juga didapat dari hasil ekspor yang menunjukkan tren positif pada kisaran tahun 1820-1830-an.
Tak heran bila kemudian wilayah ini begitu termasyhur serta sejahtera masyarakatnya dari hasil mengekstrak tanaman berjenis perdu tersebut, hingga kemudian menjualnya ke berbagai penjuru dunia.
“Gambir menjadi komoditas andalan Kesultanan Johor-Pahang-Riau-Lingga abad ke-18 dan ke-19, dan wilayah ini cukup makmur sebagaimana digambarkan dalam kitab Tuhfat al-Nafis. Itulah mengapa gambir punya jejak sejarah panjang di wilayah ini,” terang pria yang sebelumnya bertugas di Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepulauan Riau itu.
Meski pada masa sekarang sentra pemasok utama gambir berasal dari Sumatra Barat, namun Dedi menyebut bahwa gambir dari Kepulauan Riau memiliki kekhasan tersendiri.
Itu karena, di wilayah ini ada varietas gambir bernama gambir Riau, yang dikenal dengan kualitasnya yang bagus karena kandungan asam kateku tanat atau taninnya yang tinggi.
Sejak abad ke-18, kebun gambir di Kepulauan Riau lebih banyak diusahakan oleh orang Tionghoa.
Hal itu terjadi setelah pemimpin Kesultanan Johor-Pahang-Riau-Lingga, Sultan Mahmud Riayat Syah, memindahkan pusat kekuasaan dari Negeri Riau ke Daik Lingga (wilayah yang kini masuk Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau) dan meninggalkan pekerja Tionghoa yang tak ikut pindah.
Sehingga, para pekerja itu yang kemudian meneruskan usaha produksi gambir di wilayah ini.
Dalam pembuatan gambir, Dedi menerangkan, dikenal juga istilah pengolahan gambir Tionghoa, yang sistemnya agak berbeda dengan pengolahan di daerah lain.
Dimulai dengan meletakkan daun dan ranting gambir yang telah dipetik dan dipotong-potong di atas kuali perebusan.
Lama perebusan sekitar 4-5 jam, dengan terus mengaduk daun dan ranting tersebut. Setelah itu, daun dan ranting diangkat dari kuali, namun sisa air rebusan terus dipanaskan hingga mengental.
Hasil perebusan ini kemudian dituang ke dalam ember plastik. Sekitar 30 menit kemudian diaduk hingga hasil ekstraksi mencapai suhu kamar.
Setelahnya, baru dimasukkan ke dalam cetakan yang berbentuk persegi empat berukuran besar dan terbuat dari papan balok, kemudian diendapkan selama satu malam.
Keesokan harinya, cetakan dibuka dan gambir dipotong-potong sesuai ukuran yang diinginkan. Produk tersebut kemudian diletakkan dalam tampi yang terbuat dari rotan, lalu dimasukkan dalam ruangan pengering.
“Metode pengeringannya dengan mengalirkan udara panas yang didapat dari pembakaran kayu ke dalam ruangan pengering,” terang Dedi, yang mengaku telah meneliti gambir sejak di bangku kuliah.
Meski pernah jaya beberapa abad sebelumnya, sayangnya saat ini produksi gambir di Kepulauan Riau hanya tersisa di beberapa wilayah dan dalam skala kecil.
Kawasan yang dulu menjadi lokasi perkebunan dan sentra produksi gambir, kini tak dapat dijumpai lagi keberadaannya. Namun, jejak gambir masih bisa dikenali di beberapa titik.
Misalnya, sambung Dedi, di Kota Tanjungpinang terdapat satu jalan yang bernama Jalan Gambir, karena di lokasi itu pada masa lampau banyak dijumpai bangunan serta saudagar Tionghoa yang menjadi pemilik kebun gambir.
Namun kini, kebun maupun tempat pengolahan gambir dengan asap mengepul, tak bisa lagi ditemukan di kawasan ini.
“Di Kepulauan Riau, sekarang pengolahan gambir tinggal ada di dua wilayah, yaitu di Desa Kudung di Kabupaten Lingga, serta di Pulau Kundur di Kabupaten Tanjungbalai Karimun,” sebut mantan wartawan tersebut.
Menurut Dedi, karena telah menorehkan catatan emas sebagai salah satu komoditas primadona niaga sekaligus berkontribusi membuat wilayah di sempadan nusantara ini dikenal luas oleh bangsa lain di dunia, maka sudah sepatutnya gambir mendapat porsi untuk direkonstruksi sebagai salah satu rempah warisan sejarah di Bumi Melayu Kepulauan Riau.
“Sehingga, generasi saat ini maupun yang akan datang dapat mengetahui sekaligus bangga bahwa di wilayah ini pernah jadi sentra maritim perdagangan gambir di nusantara,” tuturnya.
Bagian dari Tradisi
Periode panjang sejarah kegemilangan gambir di Kepulauan Riau pada masa lalu, tentunya tak lenyap begitu saja. Rempah ini tetap memiliki ikatan yang kuat dengan adat istiadat maupun budaya di wilayah Melayu ini.
Salah satunya, menyertakan gambir dalam tradisi menyirih atau mengunyah sirih. Warga Melayu di Kepulauan Riau menyebut tradisi ini dengan istilah nyirih.
Raja Zulkarnain, anggota Biro Adat dan Tradisi Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, mengatakan, nyirih telah menjadi bagian dalam kebiasaan orang Melayu sejak zaman dulu dan diteruskan hingga saat ini.
“Tujuannya, untuk menguatkan gigi dan membantu merangsang air liur serta mengurangi dahaga,” kata pria yang akrab disapa Razu tersebut.
Seorang anak melihat tanaman gambir di Kecamatan Kundur Barat, Karimun. Foto: Dedi untuk Batam Pos
Adapun, bahan-bahan yang digunakan untuk nyirih adalah daun sirih, gambir, pinang, tembakau, dan kapur sirih. Secuil dari masing-masing bahan-bahan tersebut kemudian dipadukan lalu dikunyah.
Perpaduan rasa sedikit pedas, pahit, getir, dan efek segar, seketika terasa menyeruak di rongga mulut usai beberapa kali mengunyah bahan-bahan tersebut.
“Tradisi nyirih ini masih dilakukan oleh beberapa orang tua hingga sekarang, harapannya agar gigi mereka awet,” ujarnya.
Selain itu, sambung Razu, bahan-bahan dan rempah dalam tradisi nyirih tersebut, juga menjadi sajian yang disodorkan bagi tamu yang datang pada suatu acara.
Tujuannya, sebagai bentuk penyambutan sekaligus penghormatan. Maka, pada tari Sekapur Sirih atau tari penyambutan tamu khas Melayu Kepulauan Riau, seorang penari akan membawa tepak sirih berbentuk kontak persegi panjang yang berisi bahan-bahan nyirih, lalu disodorkan kepada tamu agung tersebut.
“Makanya, ketika tamu disodorkan sirih itu, para tamu tersebut harus mengambil dan mengunyahnya,” papar pria yang juga menjadi staf Sejarah, Cagar Budaya dan Permuseuman di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam tersebut.
Menurut Razu, tradisi nyirih dengan menyertakan gambir di dalamnya, merupakan manifestasi bahwa rempah tersebut pernah memiliki ikatan yang kuat bagi masyarakat Melayu.
Terlebih, pada masa silam gambir berkontribusi sangat besar terhadap kemakmurah masyarakat di wilayah ini, sekaligus dipercaya memiliki khasiat yang luas untuk pengobatan berbagai jenis penyakit.
“Gambir itu kan perlu diproses dahulu sebelum jadi produk yang dijual, dan itu butuh ketekunan dan keteguhan hati untuk membuatnya. Jadi, semangat dan filosofi semacam itulah yang mendekatkan gambir dengan orang Melayu di Kepulauan Riau ini, termasuk menjadikannya bagian dari nyirih tersebut,” jelasnya.
Merefleksikan Kejayaan Masa Silam
Penurunan permintaan gambir dari seluruh dunia pada abad ke-20, sangat berimbas terhadap usaha perkebunan gambir di wilayah Kepulauan Riau.
Penurunan harga gambir dunia membuat usaha ini makin berat untuk bertahan. Terlebih, dalam produksi gambir, dibutuhkan tenaga kerja dalam jumlah banyak serta kayu bakar yang tak sedikit untuk mengolahnya.
Lambat laun, ongkos produksi tak lagi sebanding dengan harga gambir. Karena itu, banyak perkebunan dan usaha gambir, baik yang berada di Pulau Batam maupun Pulau Bintan, akhirnya gulung tikar.
Sehingga, makin lama makin sulit menemukan bekas area maupun barang-barang yang menjadi saksi kedigdayaan gambir di wilayah ini.
Kondisi itu yang memantik keinginan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, untuk kembali mengenalkan gambir kepada generasi muda Batam.
Kepala Disbudpar Batam, Ardiwinata, berencana menghadirkan jejak gambir di Kepulauan Riau di Museum Batam Raja Ali Haji. F.oto: Cecep Mulyana/Batam Pos
Tujuannya, mengingatkan kembali bahwa wilayah ini pernah mengalami periode gemilang sektor dagang dan kemaritiman yang bersumber dari gambir pada masa silam.
Salah satu metodenya, dengan mengenalkan wujud tanaman hingga merekam berbagai hal tentang gambir di Museum Batam Raja Ali Haji yang berada di Dataran Engku Putri, Batam Center, Kota Batam.
“Intinya, kami ingin merefleksikan periode keemasan gambir kepada para pemuda maupun generasi mendatang, termasuk kepada para wisatawan yang berkunjung, agar mereka tahu bahwa rempah ini pernah mengalami periode yang sangat berharga di daerah ini,” tutur Ardiwinata.
Menurut Kepala Dinas, pihaknya menerima masukan dari masyarakat yang meminta agar tanaman gambir ditanam di pekarangan maupun taman di sekitar Museum Batam.
Tujuannya, agar masyarakat, pemuda maupun anak-anak generasi mendatang yang mengunjungi museum tersebut, dapat belajar dan mengenali tanaman gambir.
“Kami ingin museum ini jadi basis edukasi anak-anak generasi mendatang untuk mengenal sejarah wilayah ini. Jika ada masyarakat yang memiliki arsip atau hal lain yang berkaitan dengan sejarah gambir di daerah ini, Museum Batam juga sangat terbuka sekali menerimanya,” kata mantan Kepala Bagian Humas Kota Batam tersebut.
Ardiwinata juga berharap, generasi masa kini dapat kembali merevitalisasi rempah-rempah seperti gambir. Pasalnya, gambir dinilai masih sangat potensial untuk dikembangkan menjadi komoditas niaga unggulan, mengingat hal serupa pernah terjadi di masa silam.
“Karena kalau pangsa pasarnya masih ada, tak menutup kemungkinan gambir ini dapat berjaya lagi,” ujarnya.(*)
batampos – Dalam sejarah bangsa Indonesia, generasi muda sudah terbukti mampu memberikan ide-ide cemerlang, duduk dalam berbagai pos penting di negeri ini serta menjadi motor penggerak perubahan.
Kini, dengan semangat yang sama, aplikasi investasi reksa dana dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk pemula, Bibit.id, mengundang generasi muda Indonesia yang tengah mengenyam studinya di tingkat universitas untuk ikut serta dalam kompetisi fintech business case bertajuk Bibit Brainwars 2022.
Bibit Brainwars 2022 merupakan kompetisi fintech business case yang pertama dan terbesar di Indonesia.
Dalam kompetisi ini, setiap tim yang beranggotakan tiga mahasiswa/i, baik dari universitas yang sama maupun universitas yang berbeda, akan diminta menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh Bibit.
Dalam upaya menyelesaikan permasalahan tersebut, kemampuan kolaborasi, kreativitas, dan inovasi para peserta akan menjadi komponen penilaian utama.
Pendaftaran untuk Bibit Brainwars 2022 telah dibuka dari tanggal 3 Februari 2022 dan akan berakhir di 20 Februari 2022.
“Di tengah masa pandemi yang telah berlangsung sekitar dua tahun terakhir, perilaku masyarakat, termasuk dalam berinvestasi, telah berubah dari semula offline menjadi online,” ujar Head of Digital Marketing Bibit.id, Angie Anandita Tjhatra, sekaligus menjadi salah satu mentor dalam kompetisi ini.
Oleh karena itu lanjutnya, penting bagi pihaknya untuk terus berinovasi dalam memberikan layanan digital terbaik bagi pengguna Bibit.id.
“Dalam Bibit Brainwars 2022, kami mengajak teman-teman mahasiswa/i untuk menyumbangkan dan mewujudkan ide-ide inovatifnya,” kata
Angie menjelaskan, ada beberapa benefit yang akan didapatkan oleh peserta Bibit Brainwars 2022, di antaranya kesempatan mempresentasikan ide-ide mereka di hadapan para mentor dan top management Bibit, kesempatan magang atau bekerja di Bibit secara fulltime dan mewujudkan ide-ide kreatif mereka serta hadiah yang menarik berupa uang Rp25 juta untuk juara pertama, Rp20 juta untuk juara kedua, dan Rp15 juta untuk juara ketiga. Pendaftaran untuk kompetisi ini pun dapat dilakukan tanpa dipungut biaya.
Untuk ikut serta dalam Bibit Brainwars 2022, peserta perlu membentuk tim yang terdiri dari tiga orang, yang dapat berasal dari fakultas atau universitas yang sama maupun yang berbeda.
Dalam rangka menegakkan protokol kesehatan sebagaimana yang dicanangkan oleh pemerintah, kompetisi ini akan dilaksanakan secara 100% online.
Setelah periode pendaftaran di tanggal 3-20 Februari 2022 berakhir, peserta yang lolos akan menerima notifikasi dari tim Bibit untuk kemudian menyusun presentasi sesuai dengan panduan.
Di minggu ketiga dan keempat Maret 2022, para semi-finalis akan melakukan presentasi dan yang terpilih akan mendapatkan pembinaan dari mentor-mentor yang kompeten di bidangnya.
Akhirnya, di awal April 2022, para finalis akan mempresentasikan idenya di depan top management Bibit.
“Dunia digital menjanjikan kesempatan yang tidak terbatas. Dengan kolaborasi, kreativitas, dan inovasi, kami meyakini bahwa akan lahir ide-ide yang bermanfaat lewat kompetisi ini. Kami mengundang teman-teman mahasiswa/i di seluruh Indonesia untuk memanfaatkan kesempatan yang baik ini, berani unjuk gigi serta merasakan pengalaman langsung bekerja di industri jasa keuangan,” tutup Angie.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai Bibit Brainwars 2022, silakan kunjungi https://brainwars.bibit.id/ atau email ke [email protected].(*)
Ilustrasi anak-anank bersama orang tuanya saat berkunjung di Mall Tangerang City Kota Tangerang, Banten. (Dok. Foto: Dery Ridwansah/JawaPos.com)
batampos – Pemerintah telah melonggarkan beberapa persyaratan terkait wilayah PPKM level 3. Mengutip aturan instruksi menteri dalam negeri (inmendagri) anak-anak usia di bawah 12 tahun diizinkan masuk ke pusat perbelanjaan atau mall dengan beberapa syarat.
Anak usia di bawah 12 tahun harus didampingi orang dewasa atau orang tua. Serta harus menunjukan vaksinasi minimal dosis pertama. Artinya anak usia di bawah 6 tahun atau yang belum mendapatkan vaksin belum diizinkan memasuki mal.
Selanjutnya, untuk aturan pusat perbelanjaan diperbolehkan membuka tempat bermain anak-anak dengan kapasitas pengunjung maksimal 35 persen dan menunjukkan bukti vaksinasi lengkap untuk setiap anak yang masuk. Begitu juga dengan aturan di dalam bioskop, yaitu anak-anak di bawah 12 tahun wajib didampingi orang tua dan menunjukan bukti vaksinasi.
Anak-anak di bawah usia 12 tahun juga dapat masuk fasilitas umum atau area publik, taman umum, tempat wisata umum dan area publik lainnya dengan ketentuan yang sama.
Selain itu, anak-anak di bawah usia 12 tahun juga diperbolehkan masuk Hotel yang tidak menangani karantina dengan menunjukan hasil negatif Antigen (H-1) atau PCR (H-2).
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengajak masyarakat agar tidak takut berlebihan terhadap varian Omicron Covid-19. Luhut juga menyebut pemerintah belum berniat untuk kembali memperketat aturan PPKM. Bahkan, justru mendorong masyarakat tetap melaksanakan aktivitas agar roda ekonomi berputar kembali normal.
“Sudah divaksin 2 kali, apalagi sudah booster, dengan proses yang ketat silakan saja jalan-jalan ke mana-mana, masuk ke mal segala macam, gunakan PeduliLindungi dan seterusnya, kemudian PCR sekali-sekali atau antigen untuk memeriksakan sendiri kalau ada symptom yang dirasakan,” ujarnya. (*)
Rumah panggung keluarga H.Subakir bin H.Ridwan dijadikan rumah tahfiz
batampos– Rumah panggung dan lahan milik keluarga H.Subakir bin H.Ridwan orang tua almarhum HM. Sani, mantan gubernur Kepri di Sungai Ungar, Kecamatan Kundur dijadikan rumah Tahfiz An Nur. Saat ini sudah ada 30 santri di pulau Kundur yang menghafal Quran di rumah Tahfiz An Nur tersebut.
Pendiri rumah Tahfiz An Nur Datok Huzrin Hood saat berkunjung belum lama ini menyampaikan terimakasih atas dukungan dan bantuan seluruh warga masyarakat. Selain itu rumah Tahfiz An Nur bisa berdiri berkat bantuan dari PT Timah Tbk, anggota DPRD Kepri HM.Taufiq, Eri Suandi, anggota DPRD Karimun Adi serta seluruh donatur.
puluhan santri foto bersama Datok Huzrin Hood dan pengasuh rumah Tahfiz An Nur
“Alhamdulillah setelah melalui proses panjang akhirnya rumah keluarga H.Subakir bin H.Ridwan orang tua almarhum HM.Sani mantan gubernur Kepri dijadikan rumah Tahfiz,”terang Huzrin.
Huzrin Hood berharap agar kelak lahir pengahafal Alquran (hafiz) dari Sungai Ungar. Selain itu tujuan utama untuk mendidik generasi muda mendalami ilmu agama yang beraklah mulia. Masa depan bangsa di tangan generasi muda sehingga harus dipersiapkan dari sekarang.
Pimpinan rumah tahfiz An Nur ustad Khairil Umam S.HI, M.Sy melalui ustad Hanafi sekretaris yayasan sekaligus pengasuh menyebutkan keberadaan rumah tahfiz An Nur pada 11 Juli mendatang tepat satu tahun. Sekarang sudah ada 30 santri yang menimba ilmu agama, 18 santri tinggal di asrama dan 12 santri non asrama. (*)
batampos- Dinas Pendidikan Provinsi Kepri memastikan akan ada Asesmen Nasional (AN) menggantikan Ujian Nasional diberlakukan untuk menentukan kelulusan siswa sekolah tahun 2022 ini. Asesmen Nasional berjalan berbarengan dengan ujian sekolah sebagai penentu kelulusan siswa.
Ujian nasional pelajar di Batam beberapa tahun lalu
“UN kan sudah tak ada lagi. Sekarang Asesmen Nasional yang didampingi dengan ujian sekolah. Uda berlaku itu dan sampai saat ini belum ada perubahan apapun,” ujar Kepala Cabang Kantor Disdik Kepri di Batam Noor Muhammad, Selasa (15/2).
Dalam aturan AN ini kata Noor, penilaian terhadap kemampuan siswa dilakukan secara menyeluruh termasuk dengan tenaga pengajar. Ada tiga aspek yang diujikan dalam Asesmen Nasional yakni, Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter (SK), dan Survei Lingkungan Belajar.
“Jadi penentu kelulusan bukan dari hasil UN sebelumnya tapi penilaian secara menyeluruh saat siswa duduk di bangku sekolah,” katanya.
Berdasarkan Panduan Operasional Standar (POS) penyelenggaraan Asesmen Nasional 2021, AN merupakan pengganti dari UN, yang akan diikuti tidak hanya siswa, tetapi juga guru dan kepala sekolah. Peserta khususnya siswa, perlu memenuhi syarat agar bisa mengikuti AN 2021.
Asesmen Nasional adalah evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah untuk pemetaan mutu sistem pendidikan pada satuan tingkatan pendidikan dasar dan menengah.
Evaluasi tersebut menggunakan instrumen asesmen kompetensi minimum, survei karakter, dan survei lingkungan belajar.
Siswa peserta AN tidak perlu melakukan persiapan khusus seperti mengikuti bimbingan belajar atau bimbel. Guru dan siswa tidak perlu berlomba-lomba meningkatkan skor pada AN tahun ini.
Peserta yang bisa mengikuti AN adalah siswa kelas 5, kelas 8, dan kelas 11. Siswa nantinya dipilih secara acak atau random di setiap satuan pendidikan dengan metode yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan. (*)
Sekda Kota Batam, Jefridin Hamid dan para pimpinan Baznas Kota Batam, berfoto bersama para duta zakat Kota Batam. Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Batam mengukuhkan duta zakat Baznas Kota Batam tahun 2022 di Hotel Sahid Batam Center, Selasa (15/2/2022).
Ketua Baznas Kota Batam, Muhith, mengatakan, para duta Baznaz Kota Batam berasal dari berbagai latar belakang profesi.
“Tujuan dibentuknya duta Baznas ini tidak lain untuk sosialisasi agar masyarakat dapat menyalurkan zakatnya melalui Baznas Kota Batam,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pada tahun 2021 lalu, pihaknya berhasil mengumpulkan zakat senilai Rp 18 miliar. Dengan adanya duta Baznas, ia berharap pihaknya dapat memperolah dana zakat lebih besar dari tahun ke tahun.
“Dengan adanya duta Baznas ini diharapkan dapat ikut dan membantu Baznas untuk mengumpulkan dana zakat. Sehingga sedikti demi sedikit bisa mencapai Rp 200 miliar, sesuai dengan target dari bapak Wali Kota Batam, Muhammad Rudi,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut pihaknya juga mengelar dialog interaktif Program Baznas Peduli Hinterland. Ia menjelaskan, saat ini ada 35 da’i di kawasan hinterland.
Para da’i tersebut lanjutnya, menyampaikan kepada Baznas Kota Batam apa saja yang menjadi kebutuhan utama masyarakat di pulau-pulau penyangga tersebut.
“Tadi sudah ada yang meminta sembako, toa, sajadah dan lain-lain,” tuturnya.
Ia memaparkan, meski baru satu tahun lebih dibentuk, Baznas Kota Batam telah menorehkan prestasi di tingkat nasional. Baznas Kota Batam lanjutnya mendapatkan penghargaan Branding Zakat dari Baznas RI.
“Ini merupakan kegiatan yang sangat luar biasa dan dipimpin langsung oleh bapak Afrizal (Wakil Ketua III Baznas Kota Batam),” ujarnya.
Kata dia, dibawah komando Afrizal, seluruh kegiatan Baznas Kota Batam dipublikasikan di media sosial. Seperi facebook dan instagram.
“Itu (Branding Baznas) adalah salah satu nominasi yang dinilai Baznas RI dan Baznas Kota Batam dinilai sangat aktif dalam mempublikasikan untuk membranding bagaimana agar masyarakat giat membayar zakat ke Baznas Kota Batam,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota (Sekdako) Batam, Jefridin Hamid, mengatakan, Pemko Batam sangat mendukung program-program dari Baznas Kota Batam.
“Bapak wali kota mengatakan, potensi zakat di Kota Batam ini sekitar Rp 200 miliar,” ujarnya.
Bahkan lanjutnya, dana zakat yang terkumpul di Baznas Kota Batam pada 2021 lalu bisa mencapai target Rp 18 miliar.
“Walaupun sudah mencapai target, tapi kita belum puas karena potensi kita sangat luar biasa. Maka salah satu kegiatan yang baru sekali dilaksanakan Baznas adalah pembentukan Duta Baznas ini,” tuturnya.
ia menjelaskan, dari Rp 18 miliar dana zakat yang terkumpul 80 persen adalah dari pegawai Pemko Batam.
“Ini memang kebijakan yang dikeluarkan bapak Wali Kota Batam dan ke depannya diharapkan masyarakat muslim di Kota Batam juga dapat membayar zakat ke Baznas Kota Batam,” jelasnya.
Perwakilan Duta Baznas Kota Batam, Sylvanny Syafruddin, mengatakan, dirinya akan konsisten dan komitmen untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai pentingnya berzakat.
batampos – Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap seorang teroris berinisial EP di kawasan Kampar, Riau. Dia tertangkap tangan tengah bersembunyi di ruangan kosong di kantor Polsek Kampar.
Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Ahmad Ramadhan mengatakan, peristiwa penegakan hukum ini dilakukan pada Selasa (8/2) sekitar pukul 23.48 WIB.
“Update penindakan tim Densus 88 terhadap tersangka tindak pidana terorisme. Tersangka atas nama EP,” kata Ramadhan saat dikonfirmasi, Selasa (15/2).
Ramadhan menerangkan, EP sudah merencakanan untuk menyerang (amaliyah) ke kantor polisi. Namun, gerak-gerik EP berhasil dipetakan oleh aparat, sehingga upayanya gagal.
“Telah melalukan persiapan amaliyah ke kantor polisi, namun berhasil digagalkan petugas Densus 88,” jelasnya..
Lebih lanjut, Ramadhan menyebut jika EP merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dari Padang. (*)