
batampos – Jumlah jamaah yang ingin menunaikan ibadah umrah diperkirakan akan kembali tinggi. Hal itu dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah Arab Saudi yang mencabut wajib karantina hingga tes PCR bagi pelaku perjalanan luar negeri (PPLN).
Meski begitu, Ketua Umum Serikat Penyelenggara Umrah Haji Indonesia (Sapuhi), Syam Resfiadi menilai, kembalinya kebijakan umrah seperti normal sebelum pandemi tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Kendati pemerintah Saudi telah mencabut aturan protokol Covid-19.
“Perlu diketahui ini tidak semerta-merta bergerak dengan cepat sesuai keinginan kita,” kata Syam saat dihubungi JawaPos.com (gruop Batam Pos), Selasa (8/3).
Syam menjelasakan, banyak stakeholder terkait di Indonesia yang belum sepenuhnya pulih akibat terdampak pandemi. Sebagai contohnya maskapai penerbangan. Sebagian banyak dari mereka masih keberatan dengan paket biaya penerbangan reguler maupun carter secara banyak untuk umrah.
“Begitu juga hotel mereka akan mulai membuka diri, memanggil lagi tenaga kerjanya yang ada dari luar negeri sehingga datang lagi ke Arab Saudi, baru bisa melayani lagi dan seterusnya,” kata Syam.
“Sehingga permintaan ini akan mahal dulu diawal-awal, setelah normal baru hisa ada harga relatif sama sebelum ada pandemi karena banyak jamaah tertunda tidak ingin mereka membayar lebih atau tanbahan-tambahan lebih karna perbedaan yang cukup tinggi karena pandemi ini,” tandasnya.
Seperti diketahui, Arab Saudi mulai Sabtu (5/3) mencabut semua tindakan pencegahan terkait dengan pandemi Covid-19. Salah satunya adalah menghapus syarat karantina. Karantina pada saat kedatangan tidak lagi menjadi persyaratan bagi mereka yang bepergian ke Saudi.
Akan tetapi, semua penumpang yang tiba di negara itu dengan visa kunjungan diminta untuk memiliki asuransi kesehatan. Hal itu untuk menutupi biaya perawatan dari infeksi virus Korona selama masa tinggal di sana.
“Ini adalah tindak lanjut situasi epidemiologis pandemi,” demikian dilaporkan Saudi Press Agency (SPA).
SPA juga menyebutkan kemajuan yang dicapai dalam program vaksinasi nasional dan tingginya tingkat imunisasi dan kekebalan terhadap virus di masyarakat. Dengan demikian, tes PCR dan tes antigen cepat tidak perlu lagi diberikan oleh penumpang yang tiba di Saudi.
Dilansir dari The National News, Senin (7/3), langkah-langkah jarak sosial di semua tempat, kegiatan, dan acara terbuka dan tertutup juga ditangguhkan, dan mengenakan masker tidak lagi menjadi persyaratan di area terbuka. Jamaah tidak perlu lagi menjaga jarak sosial di masjid termasuk Masjidilharam di Makah dan Masjid Nabawi di Madinah dimulai dengan salat Subuh pada Minggu. Namun, orang-orang harus tetap memakai masker di dalam masjid. (*)
Reporter: JP Group




