batampos.co.id – Anggota De­wan Kawasan (DK) Batam akan sege­ra menggelar rapat pe­nyusunan struktur or­ganisasi dan tata kerja (SOTK) baru Ba­dan Pengusahaan (BP) Ba­­tam.

Khusus untuk pa­ra deputi, dipastikan akan diisi oleh kalangan profesional, bukan birokrat.

“Untuk deputi itu dari kalangan profesional saja. Kemungkinan nanti akan diadakan fit and proper test untuk menguji kompetensinya,” kata anggota tim teknis DK Batam, Taba Iskandar, Selasa (17/9/2019).

Fit and proper test pernah dilakukan saat BP Batam dipimpin Mustofa Widjaja. Tujuannya untuk menjaring kepala, wakil, beserta deputi dari kalangan profesional.

Kalangan profesional diperlukan untuk membantu tugas wali kota yang nantinya akan menjadi pejabat ex officio kepala BP Batam.

Taba melanjutkan, posisi yang sudah pasti adalah Deputi I yang mengurus persoalan administrasi dan rumah tangga di BP Batam.

“Deputi I sudah dipatok akan berasal dari Kementerian Keuangan. Sedangkan deputi lainnya nanti akan diisi profesional sesuai dengan lingkup kerja deputi yang lainnya,” tambah Taba.

Hal yang belum diketahui yakni persyaratan yang diperlukan dalam menentukan wakil kepala BP Batam.

“Saya belum tahu deskripsi kerjanya seperti apa dan apa saja persyaratannya,” paparnya.

SOTK BP yang baru ini akan memprioritaskan mencari laba sebanyak-banyaknya.

Baca Juga: Terjawab, Presiden Tanda Tangani Wali Kota Batam Sebagai Ex Officio Kepala BP Batam

“Ini soal bisnis, bukan sosial. Itulah yang akan dikelola BP nanti bagaimana mengelola aset-asetnya supaya berorientasi pada profit,” ungkapnya.

Proses penyatuan BP Batam dengan Pemko Batam ini diharapkan akan memudahkan keduanya menyesuaikan perannya dalam membangun Batam.

Kantor BP Batam. Foto: Putut Ariyotejo/batampos.co.id

“Hal yang terpenting adalah bagaimana Pemko bisa sejahterakan masyarakat dan bagaimana BP Batam bisa dapat keuntungan yang banyak,” tegasnya.

Makanya sejak awal, pembagian aset pun sudah dibuat jelas. Aset-aset yang berkaitan dengan sosial kemasyarakatan seperti Pasar Induk Jodoh dan Masjid Raya dihibahkan ke Pemko Batam.

“Sedangkan aset-aset yang berpotensi menghasilkan pendapatan negara bukan pajak (PNBP) seperti bandara dan pelabuhan, harus didiskusikan dulu dengan DK dan Komisi VI DPR RI,” jelasnya.

“Itu tidak boleh dikerjakan secara sembarangan. Makanya BP akan dikelola oleh orang-orang profesional dan bukan birok-rat,” paparnya lagi.

Baca Juga: Pelantikan Wali Kota Batam Sebagai Ex Officio Belum Pasti

DK memang sejak awal berencana mengubah wajah sejumlah aset-aset milik BP Batam yang dianggap berpotensi menjadi unit-unit bisnis yang mandiri.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Mugiarso, memberikan contoh seperti Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam dapat dikembangkan menjadi sebuah usaha bisnis yang menarik di mata dunia.

“Ke depannya, pengem­ba­ngan aset ini harus disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan zaman,” katanya.

“Di mana saat ini perencanaan pengem­ba­ngan pengelolaan aset menjadi unit-unit bisnis yang mandiri,” ujarnya lagi.

Susiwijono telah mengunjungi aset-aset milik BP Batam seperti RSBP, Pelabuhan Batuampar, Pelabuhan Sekupang hingga Asrama Haji.

“RSBP ini bisa dikembangkan menjadi semacam kawasan eko­nomi khusus (KEK) me­dical service,” jelasnya.

“Fasilitasnya sudah ditinjau bersama. Dan akan dilaporkan sekaligus paparkan konsepnya ke Ketua DK,” ucapnya lagi.

Selain itu, Susiwijono juga melihat prospek pengem­bangan dari Pelabuhan Batuampar dapat dikembangkan menjadi salah satu pelabuhan yang mengandalkan konsep internasional logistik ke depannya.

“Konsep pelabuhan internasional logistik ini, akan dibangun dan dikembangkan dengan skala yang modern,” jelasnya.

Sedangkan Kepala BP Batam, Edy Putra Irawadi, mengatakan, pengembangan aset BP Batam merupakan salah satu cara menyajikan ragam bentuk investasi kepada dunia internasional.

Baca Juga: Ditanya Ex Officio, Wali Kota Batam: Saya Tak Komentar

Fokusnya adalah menciptakan aset sebagai des­tinasi wisata, khususnya des­tinasi wisata kesehatan yang bisa dibuat di RSBP Batam.

“Sesuai hasil asset trip ini, kita akan banyak kembangkan destinasi wisata,” imbuhnya.

Pengembangan wisata kesehatan ini memang sudah sesuai dengan program BP Batam. Nantinya, di RSBP akan dibangun klinik yang dikembangkan oleh investasi asing.

Seperti dari Australia, Singapura, Korea hingga Indonesia sendiri. Nanti akan ada laboratorium dan fasilitas kesehatan lainnya.

“Contohnya, jika ada yang mau buat bayi tabung. Dan ini bisa dilakukan di Batam. Dan terbilang lebih terjangkau namun berkualitas dan ditangani oleh profesional,” jelasnya.

Sehingga wisatawan mancanegara maupun Nusantara yang datang ke Batam, tidak hanya mencari destinasi wisata.

Mereka juga bisa menikmati paket wisata kesehatan yang yang dikemas dalam sajian berkualitas dan profesional.(leo)