Minggu, 5 April 2026
Beranda blog Halaman 10207

Setelah “Ayah” Sani, Kini “Ayah” Syahrul

0

HUJAN belum lama turun di Bumi Segantang Lada, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Selasa, 28 April 2020. Saya baru saja tersentak dibangunkan setelah tertidur usai shalat Ashar. Ternyata tukang instalasi listrik datang ke rumah.

Sampai di dapur, Kang Dedy, tukang listrik langganan saya itu, sudah berada di situ. Tubuhnya sedikit basah akibat kehujanan. Ada sedikit pekerjaan yang harus dia kerjakan, lampu dapur yang sekaligus jadi tempat makan kami, sedikit korslet.

Saya tak begitu menyimak ketika samar-samar istri saya, Sandra Mepa, membuyarkan nanar pikiran saya yang baru tersentak dari “tidur ayam”.
“Yah, Pak Syahrul meninggal,” katanya.
“Oh. Innalillahi wainna ilaihi rajiun”.

Sejenak saya kembali memperhatikan Dedy mulai memperbaiki listrik. Hujan masih cukup deras.
“Hati-hati, Kang. Hujannya deras nih, hati-hati kesetrum!”
“Iya Pak,” jawab pria Sunda itu.

Saya kembali ke istri yang sedang masak untuk perbukaan.
“Pak Syahrul mana?” tanya saya seperti baru sadar.
“Itu, Ayah Syahrul, Wali Kota Pinang,” ucapnya. Orang Kepri biasa menyebut Tanjungpinang, ibukota provinsi itu dengan kata Pinang saja.
“Hah?! Serius?!” saya belum jelas betul.
“Iya. Itu udah heboh di grup,” tambah istri saya. Rupanya sambil masak, dia masih bisa mengikuti perkembangan di whatsapp grup kantornya Pemko Batam.

Saya terdiam sejenak. Terbayang saat almarhum pertama dibawa ke RS Raja Ahmad Thabib, Tanjungpinang, 16 hari yang lalu. Saat itu Tanjungpinang dan Kepri dihebohkan oleh kabar almarhum dijemput dan dibawa ke RS. Yang bikin heboh, seluruh dokter dan perawat mengenakan hazmat, alat perlindungan diri (APD).

Sejak saat itu, mulailah bisik-bisik berhembus kencang bahwa almarhum menjadi pasien khusus covid-19. Saya yang berada di Batam, satu jam perjalanan laut dari kota tempat almarhum dirawat, terus menunggu perkembangan demi perkembangan. Posisi saya sebagai Ketua PWI Kepri, mau tidak mau tidak boleh kudet (kurang upadate) atas informasi penting seperti itu.

Awalnya, informasi memang agak tertutup. Maklumlah, Ayah Syahrul adalah orang penting. Selain walikota, almarhum juga Ketua DPD Partai Gerinda Kepri. Namun saya punya sahabat, yang tak usah saya sebutkan namanya, sejak awal masuknya almarhum ke RS RAT, selalu menyuplai informasi kepada saya. Memang, hasil rapid test non-reaktif. Namun gejala almarhum saat dibawa ke RS mengarah ke covid-19. Saya juga menggali informasi dari beberapa sumber lain di Tanjungpinang.

Sementara itu di Batam, ada kabar baik. Alat PCR bantuan pengusaha sudah dapat digunakan untuk melakukan uji swab covid-19. Dua hari kemudian, dapat info bahwa hasil swab almarhum positif. Sejak saat itu, berbagai informasi terus masuk ke WA saya. Bahkan apa yang terjadi di keluarga almarhum, ajudannya, dan kondisi Bu Rahma, wakil kota yang mendampinginya pun tak luput dari pantauan saya dan kawan-kawan.

Tak lama berselang, beberapa hari kemudian, kabar sedih kembali masuk ke WA saya, cucu almarhum berusia 8 tahun masuk pasien positif covid, juga benerapa orang dekatnya, harus isolasi mandiri. Kabar lain yang mengiringi, wartawan yang closed contact dengan almarhum, juga ditest.

Selama almarhum dirawat, berseliweran cerita seputar perkembangan di RS dan cerita di sekeliling kantor. Bagi seorang public figure seperti almarhum, amat sulit untuk menyembunyikan setiap gerak-gerik. Hanya saja, ada etika pers yang tak boleh kami langgar sebagai media massa. Tidak selamanya berlaku “hukum” bahwa “bad news is a good news“. Jika berita yang kita siarkan hanya akan mendatangkan mudarat, kegelisahan, atau kecemasan, atau mungkin “aib” bagi siapapun, maka lebih baik disimpan saja.

Secara pribadi, saya tak banyak berinteraksi dengan almarhum. Waktu bertugas di Tanjungpinang tahun 2010 hingga 2014, saya tak sekalipun berjumpa dengan “Ayah” Syahrul. Namun kesantunan “orang masjid” yang pernah menjadi guru hingga ketua PGRI Tanjungpinang itu sudah kesohor di mana-mana. Itu pula sebabnya di tahun 2018 “Ayah” Syarul yang berpasangan dengan Rahma terpilih dalam Pilkada Tanjungpinang. Duet santun itu mengalahkan petahana, Lis Darmansyah yang sebelumnya pasangan “Ayah” Syahrul.

Apa mau dikata. Dokter, perawat, keluarga, pemerintah telah berusaha. Doa-doa masyarakat Kota Tanjungpinang pun telah dipanjatkan bagi kesembuhan almarhum. Demikian juga harapan warga Kepri, kader partai, kolega pemimpin daerah, dan handai-taulan. Namun Allah jualah pemilik segala ketentuan. Petang tadi, Selasa, di bawah siraman hujan, almarhum dipanggil kembali kepadaNya. Innalillahi wainna ilaihi rajiun.

Kepri kembali kehilangan sosok pemimpin yang akrab dipanggil “Ayah”. Dulu, kita kehilangan “Ayah” HM Sani, Gubernur Kepri, saat masih menjabat. “Ayah” Sani dipanggil Allah pada 8 April 2016 di Jakarta, sementara “Ayah” Syahrul persis 4 tahun 20 hari kemudian, hari ini di Tanjungpinang. Juga ketika menjabat. Bedanya, almarhum HM Sani diantarkan ribuan orang ke pemakaman, sedangkan Ayah Syahrul dimakamkan di bawah protokol penanganan covid-19.

Selamat jalan “Ayah” Syahrul, semoga husnul khotimah. Kepergian “Ayah”, mudah-mudajan menjadi ikhtibar (pelajaran) bagi kami yang masih cuai dan bandel atas ganasnya virus ini. Wallahualam*

candra catatan kecil

Nikmatnya Bisa Kentut dan Dengarkan Curhat Perawat

0

Said Mufti, redaktur foto Riau Pos (grup Batampos Online) harus menjalani perawatan di ruang isolasi dengan status pasien dalam pengawasan (PDP) selama 12 hari. Sakit asmanya yang kambuh ditambah batuk, membuat dia harus menjalani perawatan 12 hari dengan standar penanganan PDP. Berikut catatan hariannya!


SETIAP pergantian perawat jaga, saya selalu menanyakan paling tidak namanya. Sore itu saya dijaga perawat bernama Al, pemuda masih jomblo asli Lubuk Basung, Sumatera Barat (Sumbar). Menjelang malam, Al digantikan perawat bernama Iyal yang juga asli Sumbar, tepatnya Payakumbuh. Ia tinggal di Jalan Kualu, Panam, tidak jauh dari kantor saya.

Sore itu, alhamdulillah sesak napas yang disertai batuk mulai berkurang. Namun, mungkin karena efek dosis obat yang saya konsumsi, perut terasa tak enak. Hanya satu yang saya inginkan, yakni bisa buang angin alias kentut dengan sekeras-kerasnya. Hingga pergantian shift malam, perawat jaga kembali berganti dari Iyal ke Hasbi, anak Tembilahan yang tinggal di Jalan Kartama, Simpang Tiga, Pekanbaru.

Kembung perut ini tak juga hilang. Hingga tengah malam saya tak bisa tidur. Terkadang kami (saya dan Hasbi) saling berpandangan dari balik jendela karena tentu dia bisa merasakan yang saya rasa. Ya, ingin kentut.

Karena sudah kami bincangkan sebelumnya. Biasanya kalau ada di rumah, palingan minun air jahe lalu dikerok punggung hingga biru dengan minyak angin bercampur bawang. Namun apa daya. Di ruang isolasi ini, pintu ditutup rapat. Tidak ada yang bisa dilakukan, seperti pergi ke warung beli obat dan lainnya. Semua obat harus konsultasi dokter dulu. Tak bisa sembarangan.

Masa shift Hasbi berakhir pukul 07.00 pagi dan diganti Ridho. Namun sebelumnya saya minta berfoto dulu, paling tidak ada kenangan di ruang isolasi ini meski saya tak tahu wajah di balik topeng APD mereka. Saya dan Hasbi bertukar akun instagram dan facebook. Dari situ saya baru bisa melihat wajahnya. Bersama Ridho saya juga jelaskan keluhan saya. Perut kembung penuh angin tak nyaman rasanya. Dokter jaga pun diberi tahu.

“Semua obat sudah disuntikan dan dimakan. Jadi, sangat mungkin itu efek kerja obat,” ujar dokter jaga memberi penjelasan.

Saya tak puas sebelum kentut pokoknya. Dari pukul 00.00 hingga jelang subuh, mata tak juga terpejam. Pagi saya minta teh panas. Nikmat sekali rasanya. Secepatnya saya habiskan disambut sarapan bubur sumsum meski tak habis. Berharap usai sarapan ini paling tidak bisa buang air.

Namun tidak juga. Ridho kembali menenangkan saya dan mengusulkan agar saya konsul ke dokter penyakit dalam. Saya pun mengiyakan. Lama duduk termenung di jendela, namun kantuk datang. Televisi dihidupkan, saya pilih channel yang ada film Spongebob. Malas dengan berita virus. Saya pun akhirnya tertidur. Alhamdulillah, hujan turun selebat-lebatnya dan saya tertidur dengan pulas hingga pukul 11.30 WIB. Nikmat sekali. Ujung mata saya menangkap makanan siang di meja, saya bermain kode dengan Ridho dari balik kaca, bahwasaya ini makan siang.

Oksigen saya cabut. Karena dengan memasang oksigen saya jadi seperti balon hanya menambah jumlah angin di perut. Ridho datang dan mejelaskan bahwa dokter penyakit dalam akan datang. Makan siang pun saya tunda. Saat dokter masuk, saya langsung jelaskan kondisi terkini. Dokter pun menjelaskan, tapi saya tidak bisa tangkap, saya cuma minta ke dokter, apakah ada obat yang bisa membuat saya kentut.

Perut diperiksa. Kawan-kawan tentu tahu ukuran perut saya. Dipukul-pukul bunyi anginnya, bertalu-talu dan dokter pun berjanji akan memberi obat. Saya tenang, tinggal tunggu kapan bisa kentut dan tuntas dengan soal kembung ini. Saya makan dan tak habis karena memang tak bisa menelan. Saya paksakan menelan nasi saja yang penting perut ada isi dan terhindar dari masuk angin. Sambil menunggu obat dokter.

Tersentak dari tidur, saya lihat jam sudah pukul 15.00. Hujan deras membuat enak tidur dan lupa kalau sedang diisolasi. Sambil melihat jam, tanpa sadar rupanya dokter ahli paru yang menangani saya berdiri didampingi perawat Iyal yang sudah berganti jaga dengan Ridho. Dokter Rohani namanya. Asyik diskusi bersama beliau. Tak perlu lama atau hal yang bertele-tele, kembali saya minta obat untuk rasa kembung ini. Dan beliau memberi jawaban oke. Lalu permisi untuk ke luar ruangan. Perawat Iyal kembali masuk membawa makan malam beserta sejumlah obat dan alat suntik untuk infus.

“Terserah lah Yal, nak suntik suntiklah. Aku dah pasrah, pokoknya aku menurut saja,” kataku terdengar suara mengaji cukup keras dari masjid di belakang rumah sakit, menandakan sebentar lagi akan masuk waktu Magrib.

Kembali mata ini menatap ujung jendela, malam datang. Saya bersiap kembali membuat rasa nyaman di dalam ruangan ini. Selamat datang malam ketiga. Usai Magrib saya menyentuh sedikit makan malam. Seluruh obat saya telan. Namun ada satu obat yang saya tunggu, obat sirup untuk membuang angin di lambung. Benar saja, efek sirup memberikan kekuatan penuh bagi otot perut untuk mengekpresikan diri. Maka meledaklah ruangan isolasi dengan suara angin saya yang kedap suara. Keras memang karena tertahan lama namun tidak menimbulkan gelombang tsunami. Angin susulan datang namun dengan nada kecil dan berbeda. Apalagi saya keluarkan semua, tanpa harus malu-malu. Ya karena saya sendirian, hihi…

Terima kasih ya Allah. keluarnya angin ini saja sudah sepantasnya aku bersyukur, karena Engkau lah zat pemberi nikmat. Jelang sore waktu Asar, ketika tanpa saya sadari perawat jaga sudah berganti dan saya terlelap dalam suara guyuran hujan yang deras di luar sana. Tanpa saya sadari di depan saya sudah berdiri perawat dengan balutan masker. Terus terang dengan pakaian begini saya susah menandai orang karena wujud mereka hampir sama seperti tokoh kartun minion.

Perawat sudah berganti. Malam ini perawat Iyal yang jaga saya mengantikan Ridho. Ia pun menjelaskan bahwasanya yang tadi itu adalah dokter paru yang menangani saya namanya Rohani. Saya mengiyakan saja, ngantuk dan cuaca begitu mendukung. Usai Salat Magrib, perawat Iyal datang membawa makan malam dan obat-obatan yang harus saya minum.

Ada tambahan obat dan ini yang saya tunggu-tunggu. Obat cair untuk lambung. Usai makan saya menerima berbagai ucapan dukungan dan semangat dari sanak keluarga handai taulan di Aceh dan teman-teman yang di Jawa Pos Group se-Indonesia. Juga teman dari Pontianak, mengucapkan semoga cepat sembuh. Hal seperti inilah yang membuat saya menjadi kuat, doa dan dukungan moril agar bisa melawan penyakit ini.

Hingga larut malam, saya melayani chat dan video call teman-teman. Dengan media seperti ini semua jadi kelihatan sempurna. Perawat Iyal kembali masuk. Kali ini ia selonjoran di atas sofa tamu yang ada di kamar, lengkap dengan alat pelindungnya. Kami pun bercerita soal kampung, kemudian soal keluarga, hingga sampai ke titik curhatnya bagaimana dalam masa pendemi dan mereka yang berjuang di barisan terdepan. Khususnya di RS ini belum mendapat layaknya sedikit perhatian dari pemerintah daerah, khususnya penambahan insentif sebagai garda depan yang penuh risiko.

“Saya baru punya anak umurnya tiga bulan. Ada rindu ingin jumpa, namanya juga anak pertama. Namun karena kewajiban tugas saya maklumi. Sejak melakukan perawatan pasien yang terpapar, kami di sini belum mendapat info tentang bantuan pemerintah daerah soal insentif. Kami mencoba mencari tahu ke teman yang ada di RS pemerintah jawabannya sama juga. Dari mereka kami terima info belum ada kabar alias belum jelas,” risaunya.

Kemudian dia melanjutkan kerisauan, bahwa apa yang disampaikannya bukan hanya soal materi namun sedikit perhatian agar para perawat juga semangat saat menghadapi risiko ini. Lama saya mendegar curhatannya. Memang iya, di saat pasien tidur di ranjang full AC, mereka memperhatikan di luar kaca dengan pakaian lengkap atribut bahkan untuk bernapas saja susah, apalagi untuk makan minum atau buang air mereka tahan selama mungkin. Barangkali dengan tulisan ini bisa jadi perhatian bagi pemerintah setempat. Ada Pak Gubernur, ada Pak Wali Kota.

Efek obat dokter memang manjur, bekerja mumpuni, sendawa dan buang angin bergantian keluar dari masing-masing tempat sesuai tupoksinya. Saking banyaknya, saya bikin video jam 4 pagi hanya untuk merekam aneka bunyi suara angin yang keluar. Happy sekali, di tengah kesunyian masa isolasi. Maaf, tuuuut…hihi….(egp/ted/bersambung)

BP Batam Berbagi Kasih Bersama Imam Masjid, Marbot dan Panti Asuhan

0

batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam melalui Badan Koordinasi Dakwah Islam (BKDI) menyerahkan bingkisan Ramadan 1441 H/2020 M kepada imam dan marbot di tiga masjid yang berbeda di Kota Batam, Senin (27/4/2020).

Kepala Biro Humas Promosi dan Protokol Badan Pengusahaan (BP) Batam, Dendi Gustinandar, mengatakan, ketiga masjid tersebut yakni Masjid Al-Huda Perumahan Rajawali, Masjid Al-Amin Perumahan Bandara Mas, dan Masjid Bidayatul Hidayah Perumahan Bida Asri 2.

“Bingkisan Ramadan tersebut berisi bahan makanan, yakni beras 10 kilogram, minyak goreng 2 liter, gula pasir 1 kilogram, tepung terigu, dan sirup sebanyak 3 paket untuk masing-masing masjid,” jelasnya.

Ia menjelaskan, bingkisan Ramadan untuk para imam masjid dan marbot diserahkan langsung oleh Direktur BUBU Hang Nadim dan TIK BP Batam, Suwarso, dan diterima oleh masing-masing Takmir Masjid. Yakni M. Yusuf, M. Sabri, dan Ustadz Romli Attaubani.

BKDI menyerahkan bingkisan Ramadan 1441 H/2020 M kepada imam dan marbot di tiga masjid yang berbeda di Kota Batam, Senin (27/4/2020). Foto: BP Batam untuk batampos.co.id

BKDI BP Batam juga memberikan santunan kepada Panti Asuhan Hizbulwathan, Batuaji yang diserahkan oleh Kasubdit Pembangunan Fasilitas Wisata dan Lingkungan Hidup, Harry Prasetyo Utomo.

Bingkisan diterima oleh Marzuki selaku pengurus Panti Asuhan Hizbulwathan.

Dendi mengatakan, penyerahan bingkisan Ramadan dan santunan ini merupakan agenda rutin yang dilakukan BKDI BP Batam sebagai bentuk jalinan tali silaturahmi dan kepedulian terhadap sesama umat Muslim.

“Ada 19 masjid yang tersebar di Kota Batam akan menerima masing-masing 3 bingkisan,” paparnya.

Selain itu, beberapa kegiatan lainnya yang akan diselenggarakan antara lain penyerahan santunan kepada anak yatim-piatu dan dhuafa, tausyiah agama secara online, pengumpulan dan penyaluran zakat, infak dan sadaqah (ZIS).(*)

Wali Kota Tanjungpinang Meninggal Dunia, Langsung Dimakamkan Malam Ini

0

batampos.co.id – Wali Kota Tanjungpinang Syahrul meninggal dunia di ruang ICU Rumah Sakit Raja Ahmad Thabib Kepulauan Riau, pada Selasa (28/4) pukul 16.45 WIB. Syahrul akan langsung dimakamkan malam ini sesuai protokol penanganan pasien Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan Kepri Tjetjep Yudiana mengatakan, Syahrul meninggal dunia bukan semata-mata disebabkan Covid-19, melainkan terdapat penyakit penyerta lainnya. ”Ada pembengkakan ginjal, hipertensi, dan diabetes. Jadi Covid-19 sebagai pemicunya,” kata Tjetjep seperti di lansir dari Antara.

Tjetjep mengemukakan, tim medis telah bekerja maksimal sejak Syahrul dirawat di RSUP Kepri pada 11 April. Peralatan dan dokter ahli telah dikerahkan untuk merawat Syahrul. Namun selama perawatan kondisi almarhum tidak stabil, kadang membaik dan kadang drop.

”Dalam beberapa hari terakhir kondisi Syahrul drop,” ujar Tjetjep.

Dia menjelaskan, kondisi Syahrul semakin memburuk sejak tadi pagi (28/4). Tim medis telah melakukan pompa jantung dan sempat membuahkan hasil yang baik. ”Tim medis sudah bekerja maksimal, tetapi Allah berkehendak lain,” ucap Tjetjep.(antara)

Pemerintah Daerah Diminta Fokus Menangani Covid-19

0

batampos.co.id – Tokoh masyarakat Kepri, Soerya Respationo meminta pemerintah daerah untuk fokus menangani Covid-19, terutama kepada masyarakat yang terdampak langsung oleh virus mematikan tersebut.

Soerya meminta semua pihak duduk bersama untuk mengatasi pandemi Covid-19.

“Semua pihak prihatin dengan keadaan sekarang ini dan hampirnya semuanya terdampak dari penyebaran Covid-19,” katanya, Selasa (28/4/2020).

Ketua DPD PDI Perjuangan Provisni Kepri itu, mengatakan, pemerintah harus bisa menciptakan kondisi aman dan tertib di masyarakat.

Jika tidak segera dilakukan akan berdampak buruk pada ekonomi dan tingkat kriminal meningkat.

“Kita tahu saat ini pertumbuhan ekonomi nasional turun drastis dan di Batam semuanya lumpuh, termasuk media massa,” paparnya.

Tokoh masyarakat Kepri, Soerya Respationo (empat dari kiri) berfoto bersama Direktur Harian Posmetro, Haryanto (lima dari kiri) dan karyawan Posmetro saat memberikan batnuan sembako, hand sanitizer dan masker. Foto: Iman untuk batampos.co.id

Ia juga meminta agar pengusaha dan para karyawannya untuk duduk bersama menyelesaikan permsalahan yang sedang dihadapi.

“Pengusaha dan pekerja pasti sama-sama stres dengan keadaan saat ini,” kata dia.

Karena itu lanjutnya antara pengusaha dan pekerja dapat mengambil jalan tengah untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan ditengah pandemi Covid-19.

Wakil Gubernur Periode 2010-2015 itu meminta agar dalam pembagian sembako tidak harus melihat KTP.

Karena banyak warga di luar Batam, mengantungkan hidupnya di kota industri ini.

“Banyak masyarakat Kota Batam yang masih memegang KTP daerah asalnya dan mereka juga terdampak permasalahan ini,” jelasnya.

Karena itu kata dia, pemerintah harus benar-benar memanfaatkan APBD dan bantuan-bantuan yang diterima untuk seluruh masyarakat Kota Batam tanpa terkecuali.

“Tidak ada yang tidak terdampak saat ini, semua prihatin, mari kita berdoa dan saling menguatkan agar Covid-19 segera bisa berakhir,” ucap Soerya.

Pada Selasa (28/4/2020), Soerya jugamenyambangi kantor Harian Posmetro Batam untuk memberikan bantuan paket sembako, hand sanitizer dan masker kain.

Soerya datang bersama Ketua Komisi III DPRD Provinsi Kepri, Widiastadi Nugroho dan
Anggota Komisi II DPRD Kota Batam, Putra Yustisi Respaty (esa)

Buruh Sulit Mengakses Kartu Prakerja

0

batampos.co.id – Mekanisme pendaftaran program Kartu Prakerja dinilai sulit dan cukup membingungkan membuat para buruh kesulitan. Banyak buruh yang tidak bisa mengakses sistem Kartu Prakerja. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengusulkan para buruh bisa mendaftar program Kartu Prakerja secara manual agar lebih mudah dan tidak mengalami kesulitan.

”Kalau hanya lewat satu pintu, sulit masuknya. Apalagi kuota hanya 5,5 juta, sekarang pendaftarnya sudah 7 juta. Kami sudah koordinasi dan kami sampaikan kepada presiden soal ini. Kami mendorong agar bisa dikirim manual, silakan nanti pusat melakukan verifikasi,” kata Ganjar seperti dilansir dari Antara di Semarang pada Selasa (28/4).

Terkait nasib para buruh yang di-PHK atau dirumahkan, Ganjar juga sudah berkomunikasi dengan semua perusahaan di Jateng. Menurut dia, sudah saatnya perusahaan peduli kepada pekerja di tengah pandemi Covid-19.

”Tuntutan pekerja tidak sulit, mereka hanya minta selama dirumahkan atau di-PHK tetap mendapat haknya yang disesuaikan, paling tidak selama tiga bulan. Saya sudah mengajak seluruh perusahaan di Jateng untuk iuran bareng-bareng untuk membantu para buruh,” tutur Ganjar.

Dengan total 45.000 buruh yang dirumahkan di Jateng saat ini, menurut Ganjar, tidak butuh uang banyak untuk menjamin hidup mereka selama tiga bulan, minimal kebutuhan sembako ada setiap hari. ”Kalau buruh, Apindo atau Kadin bisa kompak soal ini, maka ini bisa sangat baik. Kita bisa menjadi contoh dan menghadapi proses ini dengan baik,” kata Ganjar usai menemui perwakilan serikat buruh di Jawa Tengah.

Ketua Konfederasi Serikat Buruh Indonesia (KSBI) Jawa Tengah Wahyudi mengatakan, mekanisme Kartu Prakerja menyulitkan dan membuat banyak buruh tidak dapat mengakses program itu. Selain dilakukan secara daring, keterbatasan pengetahuan para buruh juga menjadi penyebabnya.

”Sudah banyak anggota kami yang mengeluh soal ini. Sulit mengakses masuk Kartu Prakerja. Padahal, Kartu Prakerja bagaikan angin surga buat kami para buruh yang di-PHK atau dirumahkan saat ini,” ujar Wahyudi.

Dia mengungkapkan, selama pandemi Covid-19, ribuan buruh sudah di-PHK atau dirumahkan tanpa ada pesangon atau gaji yang diperoleh, bahkan di serikat buruh setidaknya ada 2.000 buruh yang di-PHK atau dirumahkan. ”Kami berharap ada bantuan dari pemerintah karena kami semua kesulitan dalam kondisi ini,” kata Wahyudi.(jpg)

Positif Covid-19, Wali Kota Tanjungpinang Meninggal Dunia

0

batampos.co.id – Wali Kota Tanjungpinang, Syahrul yang positif tertular Covid-19 meninggal dunia, Selasa (28/4) sore. Kabar itu disampaikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Tanjungpinang.

“Telah berpulang ke rahmatulah walikota kita ayahanda syahrul pukul 16:43,” demikian pesan di grup WhatsApp Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Tanjungpinang, Selasa sore.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Tjetjep Yudiana membenarkan hal tersebut. “Iya, beliau meninggal,” ungkap Tjetjep.

Sebelumnya, Syahrul sejak Sabtu (11/4) pagi dirawat di ruang isolasi RSUP Kepri. Syahrul berstatus sebagai pasien dalam pengawasan (PDP). Hasil pemeriksaan cepat terhadap Syahrul dinyatakan nonreaktif. ”Swab dari Pak Syahrul dan anggota keluarganya sudah dikirim ke laboraturium Kemenkes,” terang Tjetjep.

Beberapa hari kemudian Wali Kota Tanjungpinang Syahrul menjalani perawatan intensif sebagai pasienpositif Covid-19 di Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) Kepulauan Riau sejak Sabtu (11/4). Syahrul juga telah dipasang alat ventilator untuk membantu pernapasan.(uma/antara)

Pekerja Terdampak Covid-19 Terus Bertambah

0

batampos.co.id – Pekerja yang terdampak pandemi virus corona (Covid-19) di Tanjungpinang semakin bertambah.

Hingga 24 April 2020 jumlah pekerja yang dirumahkan dan terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebanyak 1.476 orang.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Koperasi dan Usaha Mikro, Hamalis menjelaskan,
data perusahaan yang merumahkan dan PHK sebelumnya hingga 15 April 2020 sebanyak 34 perusahaan.

”Saat ini bertambah menjadi 44 perusahaan, ada penambahan 10 perusahaan,” kata  Hamalis, Senin (27/4/2020).

Dijelaskan Hamalis, dari 44 perusahaan jumlah pekerja yang terdampak adalah 1.476
orang dan sebanyak 1.388 orang di antaranya dirumahkan dan yang di PHK sebanyak 88 orang, sebelumnya yang di PHK hanya 66 orang.

”Data terbaru juga ada pekerja yang dirumahkan dan terkena pemotongan gaji,”
paparnya.

Sebelumnya dijelaskan Hamalis untuk gaji karyawan yang dirumahkan, sesuai ketentuan harus dibayarkan oleh perusahaan, namun jika perusahaan tidak sanggup, kedua pihak bisa melakukan kesepakatan bersama tentang pembayaran gaji.

“Tergantung kesepakatan keduanya, kalau dalam aturan tetap harus dibayarkan,” katanya.

Sebelumnya hingga tanggal 15 April 2020 pekerja yang dirumahkan dan di PHK sudah mencapai 1.307 orang. Sehingga berdasarkan kedua data tersebut terjadi penambahan sebanyak 169 orang.

”Data terbaru yang banyak dirumahkan adalah para buruh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) dan para penjahit,” tambahnya.(per)

436 Ribu Reagent Sudah Tiba, Tes Massal Covid-19 Bisa Dilakukan

0

batampos.co.id – Ambisi pemerintah untuk mengejar 10 ribu tes Covid-19 dalam sehari diyakini bisa dikejar. Sebab reagent atau campuran cairan laboratorium untuk menguji spesimen lewat PCR sudah tiba di tanah air. Reagent tersebut diimpor dari negara lain, salah satunya Korea Selatan.

Dan sejauh ini pemerintah memastikan bisa segera memproduksi reagent sendiri di dalam negeri. Sehingga pengujian tes Covid-19 untuk menelusuri pasien positif bisa dikejar hingga 10 ribu spesimen sehari.

“Bertahap benahi infrastruktur berusaha produksi mandiri reagent, perangkat untuk kepentingan tes. Ini jadi satu yang penting dan prioritas. Agar kita secara mandiri mampu menuju produksi tes kit dan reagent sendiri,” jelas Juru Bicara Pemerintah Untuk Covid-19, Achmad Yurianto, Senin (27/4).

Sedikitnya saat ini jumlah reagent yang sudah tiba dan telah terdistribusi 436 ribu reagent. Sehingga hal itu menjadi kunci agar Indonesia bisa melaksanakan tes 10 ribu spesimen per hari.

“Ini penting untuk lakukan tracing, sehingga menjadi konsep utuh pelaksanaan penanggulangan Covid-19,” jelas Yurianto.

Selain jumlah spesimen, jumlah rumah sakit yang merawat pasien Covid-19 juga terus bertambah. Sudah ada seribu RS yang melayani pasien Covid-19. Dan saat ini masih tersisa ribuan tempat tidur di tiap rumah sakit.

“Kami huga berusaha untuk selalu tingkatkan kapasitas dan kualitas RS rujukan yg ditunjuk. Sudah ada 1.000 RS yang melaporkan merawat pasien Covid-19 baik yang positif ataupun Pasien Dalam Pemantauan (PDP). Sejauh ini ada 10 ribu tempat tidur, dan ditempati oleh 7-8 ribu pasien. Artinya masih sangat cukup untuk menampung pasien lain,” tegasnya.(jpg)

Tak Terima Disalip, Pengendara Mobil Ancam Jenderal Polisi

0

batampos.co.id – Aksi koboi jalanan kembali terjadi di ruas tol Jakarta-Cikampek. Seorang pengendara yang tak terima disalip kendaraan lain kemudian melakukan aksi brutal menggunakan senjata tajam.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, jajaran Subdit Resmob Ditreskrimum sudah berhasil mengamankan pelaku. Yusri pun membenarkan jika korbannya adalah seorang Jenderal Polisi berpangkat Brigjen atau bintang satu. “Betul pelaku sudah kita amankan. Kita amankan di rumahnya,” kata Yusri saat dihubungi, Selasa (28/4).

Yusri menuturkan, peristiwa ini terjadi beberapa waktu lalu di tol Jakarta-Cikampek KM 29. Saat itu, sang polisi dengan kendaraan dinas berplat merah menyalip kendaraan pelaku.

Namun, entah kenapa pelaku merasa tak terima. Dia kemudian mengejar sang polisi dan meminta korban menepi. “Pelaku di jalan tol mengejar mobil pelapor dan disuruh berhenti, diancam lah pakai pisau. Pas disuruh berhenti dia (pelaku) mengeluarkan pisau,” terang Yusri.

“Pas mobil sudah berhenti, dia mengeluarkan pisau dan coret-coret mobilnya si pelapor,” tambahnya.

Pelaku kemudian langsung kabur, ketika korban memperlihatkan identitasnya sebagai Pati Polri. “Pelaku kabur tapi karena pelat nomor mobilnya terlihat jadi dilaporkan ke Polda Metro Jaya,” pungkas Yusri.(jpg)