Jumat, 8 Mei 2026
Beranda blog Halaman 1042

Pemerhati Lingkungan: Daur Ulang Limbah Elektronik di Batam Aman Jika Dikelola Sesuai Standar Lingkungan

0
Impor ilegal
KLH saat menggagalkan masuknya limbah elektronik asal Amerika Serikat ke Batam. Foto, ANTARA

batampos – Isu dugaan masuknya limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) asal Amerika Serikat yang sempat menghebohkan publik Batam dinilai perlu dicermati secara objektif. Pemerhati lingkungan sekaligus auditor manajemen ISO 9001, Dodi Jufri, menegaskan bahwa tidak semua limbah elektronik yang masuk ke Batam bersifat berbahaya.

Menurutnya, selama dikelola oleh perusahaan yang memiliki izin resmi dan sistem pengolahan sesuai standar lingkungan, aktivitas daur ulang limbah elektronik tetap aman.

“Memang dalam barang elektronik ada komponen berbahaya seperti timbal. Tapi perusahaan di Batam saya pikir sudah memiliki mesin yang benar-benar mampu memisahkan bahan berbahaya itu sesuai fungsinya, sehingga prosesnya tetap aman. Pemerintah juga tentu tidak asal dalam memberikan izin kepada perusahaan, apalagi kegiatan ini sudah berjalan bertahun-tahun,” ujar Dodi, Sabtu (11/10).

Baca Juga: Polisi Tunggu Hasil Kajian 78 Kontainer Limbah dari Amerika Serikat

Ia menjelaskan, sejumlah perusahaan di Batam mengelola limbah elektronik (e-waste) untuk keperluan daur ulang (recycling). Dari proses tersebut, kandungan logam bernilai tinggi seperti emas, platinum, dan perak dapat diambil kembali untuk dimanfaatkan kembali di industri.

Dodi juga memastikan, tidak ada limbah yang dibuang bebas di Batam. Sebagian hasil olahan justru dikirim ke daerah lain seperti Bogor untuk diproses lebih lanjut.

“Kalau tidak salah, perusahaan di Batam mengekspor hasil recycling ke Bogor. Biasanya mereka sudah memiliki izin resmi dari pemerintah, BP Batam, dan Dinas Lingkungan Hidup,” jelasnya.

Ia menambahkan, kegiatan daur ulang di Batam turut menyerap banyak tenaga kerja lokal. Barang-barang bekas seperti telepon genggam, televisi, dan komponen IC dipisahkan secara manual untuk diambil material berharganya.

“Yang perlu diwaspadai justru limbah ilegal yang dikirim tanpa izin, hanya untuk ditimbun atau dibuang ke laut maupun ke tanah,” tegasnya. “Kalau limbahnya dikirim untuk didaur ulang oleh perusahaan berizin, itu hal yang berbeda. Tapi kalau untuk dibuang, apalagi dari luar negeri, itu baru masalah.” katanya, menambahkan

Menurut Dodi, tingginya biaya pengolahan limbah di luar negeri seperti Amerika membuat banyak pihak memilih mengirimkan limbah elektronik ke negara lain yang memiliki industri daur ulang berizin.

“Biasanya barang-barang itu reject, dikirim ke negara yang bisa mendaur ulang. Tapi kalau dikelola benar dan perusahaan diaudit setiap tahun, maka aman,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya sertifikasi ISO 14001, yang menjadi standar sistem pengelolaan lingkungan berkelanjutan. “Kalau perusahaan sudah lulus ISO 14001, berarti mereka punya sistem pengendalian polusi tanah, udara, dan air yang baik,” ucapnya.

Selain itu, Dodi menilai kasus yang dialami PT Logam Internasional Jaya, PT Esun Internasional Utama Indonesia, dan PT Batam Battery Recycle Industry menunjukkan perlunya kepastian hukum bagi investor di kawasan Free Trade Zone (FTZ) Batam.

“Jangan sampai tumpang tindih aturan membuat investor yang beritikad baik terhenti di tengah jalan,” katanya.

Sementara itu, penghentian sementara kegiatan impor bahan baku oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sejak akhir September 2025 menimbulkan efek domino pada sektor tenaga kerja dan investasi di Batam. Sedikitnya ribuan pekerja kini terancam kehilangan mata pencaharian apabila aktivitas produksi tak segera dipulihkan.

“Kami bekerja sejak tahun 2017 dan selama ini tidak pernah ada masalah. Sejauh yang kami tahu, perusahaan tempat kami bekerja lengkap, aman dan,legal,” ujar Wahyu, salah satu pekerja di perusahaan pengolah limbah elektronik itu.

“Banyak dari kami yang tidak tamat SD, tapi digaji sesuai UMK. Jangan sampai gara-gara masalah ini kami kehilangan pekerjaan. Ada ribuan keluarga yang menggantungkan hidup di sini,” tambahnya.

Sebelumnya, sejumlah instansi pemerintah pusat dan daerah sudah pernah membahas belum adanya kejelasan regulasi terkait pemasukan bahan baku elektronik yang belum ditentukan pembatasannya di kawasan perdagangan bebas, khususnya Batam.

Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Analisis Regulasi Pemasukan Bahan Baku yang Belum Ditentukan Pembatasannya di Kawasan Perdagangan Bebas” yang digelar secara daring oleh Sustainable Circularity Consulting Indonesia (SCCI) pada Selasa (12/11) tahun lalu.

FGD tersebut menghadirkan perwakilan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Perindustrian (Kemenperin), BP Batam, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batam, serta sejumlah pelaku industri.

Ketua Tim Ahli Kajian, Masyithoh Annisa, memaparkan bahwa pengelolaan limbah, termasuk limbah elektronik (e-waste), merupakan bagian penting dari target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 12, yakni konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.

“Dalam penerapan ekonomi sirkular pada industri elektronik, peluangnya besar. Bappenas memproyeksikan potensi peningkatan PDB hingga Rp12,2 triliun pada 2030,” jelasnya.

Namun, Masyithoh menambahkan, hingga kini belum ada aturan yang secara jelas mengatur legalitas kegiatan impor bahan baku elektronik untuk dimanfaatkan kembali dan diekspor di kawasan perdagangan bebas seperti Batam.

Kondisi ini, katanya, membuat pelaku industri berada di area abu-abu hukum. Padahal, di sisi lain, bahan baku elektronik yang sebagian dikategorikan sebagai limbah B3 oleh KLHK sebenarnya berpotensi diolah kembali untuk memperoleh logam bernilai tinggi seperti emas, platinum, dan perak.

Dari sisi regulasi, perwakilan KLHK Dwi Rahmayanti menjelaskan bahwa setiap bahan yang mengandung B3 wajib diregistrasikan untuk mendapatkan izin peredaran dan pengolahan. Ia menegaskan, tidak ada perbedaan perlakuan terhadap pengelolaan limbah B3, baik untuk diedarkan di dalam negeri maupun diekspor kembali.

Sementara itu, perwakilan Kemenperin dari Pusat Industri Hijau, Abdul Aziz menyebutkan kegiatan pengelolaan e-waste dapat dilakukan di kawasan berikat selama hasil akhirnya tidak dijual di dalam negeri.

“Sisa hasil residu pengelolaan e-waste harus diawasi secara ketat oleh KLHK dan Kementerian Perdagangan,” ujarnya.

Aziz juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyusun pedoman pengelolaan e-waste serta peta jalan ekonomi sirkular sektor elektronik yang sejalan dengan kebijakan Bappenas. Namun, hingga kini, pengawasan bahan baku e-waste di lapangan masih terbatas.

FGD tersebut menyimpulkan perlunya penyamaan persepsi antara KLHK, Kemenperin, Kemendag, dan BP Batam mengenai status bahan baku elektronik di kawasan perdagangan bebas. Sinkronisasi regulasi lintas kementerian dianggap menjadi kunci agar kegiatan industri tetap berjalan tanpa mengorbankan aspek lingkungan. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Artikel Pemerhati Lingkungan: Daur Ulang Limbah Elektronik di Batam Aman Jika Dikelola Sesuai Standar Lingkungan pertama kali tampil pada Metropolis.

Dinsos Bintan Ungkap 72 Penerima Bansos Terindikasi Judi Online

0
Ilustrasi
Ilustrasi judi online. F. Jawa Pos.

batampos – Sebanyak 72 penerima manfaat bantuan sosial (bansos) di Kabupaten Bintan terindikasi melakukan transaksi judi online.

Temuan ini terungkap dalam rapat koordinasi dan sinkronisasi kebijakan peningkatan literasi digital terkait bahaya judi online di Kepulauan Riau, yang dihadiri perwakilan Kemenko Polhukam, Kementerian Komunikasi dan Digital, Kementerian Sosial (Kemensos), serta PPATK, belum lama ini.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Bintan, Samsul, membenarkan adanya 72 penerima bansos yang terindikasi melakukan transaksi mencurigakan lewat rekening bank yang digunakan untuk menerima bantuan.

“Rekening bank penerima bansos yang dicurigai oleh PPATK. Kemungkinan besar terkait aktivitas judi online,” ujar Samsul saat dihubungi, belum lama ini.

Dari total tersebut, empat orang diketahui sudah tidak lagi menerima bansos, sementara sisanya masih tercatat sebagai penerima aktif.

Namun, kata Samsul, pihaknya belum dapat memastikan apakah transaksi judi online tersebut benar dilakukan oleh penerima bansos atau oleh pihak lain yang memanfaatkan rekening mereka.

“Bisa jadi rekening penerima dimanfaatkan anaknya,” jelasnya.

Menurutnya, Kemensos saat ini sedang menyiapkan langkah lanjutan dengan bekerja sama bersama PPATK untuk melakukan skrining dan verifikasi calon penerima bansos, agar tidak ada penerima bantuan yang terlibat aktivitas terlarang.

“Kalau pusat menyerahkan ke kami untuk melakukan asesmen, kami siap. Tapi datanya belum kami terima,” ujarnya.

Samsul menegaskan, penerima bansos yang terindikasi judi online tetap diberi kesempatan untuk klarifikasi. Namun jika terbukti benar terlibat, maka bantuan akan dihentikan dan dialihkan kepada warga yang lebih berhak.

“Bansos itu untuk membantu orang susah, bukan untuk menyuruh orang berjudi,” tegasnya. (*)

Reporter: Slamet Nofasusanto 

Artikel Dinsos Bintan Ungkap 72 Penerima Bansos Terindikasi Judi Online pertama kali tampil pada Kepri.

Air Surut di Pantai Batubesar, Warga Berburu Kerang dan Main Lumpur Sore Hari

0
Anak-anak bermain di Pantai Batubesar Melayu, Nongsa. Foto. Yashinta/ Batam Pos

batampos – Air laut di kawasan Pantai Batubesar Melayu, Nongsa, surut cukup jauh pada Sabtu sore (11/10). Kondisi ini dimanfaatkan warga sekitar untuk bermain air, mencari kerang, hingga berjalan-jalan di hamparan pasir yang terbuka lebar.

Fenomena air surut di pantai nongsa ini sudah menjadi pemandangan biasa bagi masyarakat. Dimana proses surut permukaan air laut mulai pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB dari bibir pantai. Fenomena ini, menurut warga, hampir terjadi setiap hari.

Pantai Batubesar memang dikenal sebagai salah satu kawasan pesisir dengan kontur dataran landai, sehingga saat surut, permukaan pasir bisa terlihat hingga ratusan meter ke tengah. Kondisi ini menjadikannya lokasi favorit bagi warga sekitar untuk beraktivitas ringan atau sekadar menikmati pemandangan.

Anak-anak tampak riang berlarian sambil membawa ember kecil atau kantong plastik, sementara orang dewasa sibuk memungut kerang dan siput laut yang terlihat jelas di permukaan lumpur.

Langit cerah kebiruan berpadu dengan awan tipis, menghadirkan pemandangan yang menenangkan. Dari kejauhan, tampak beberapa pengunjung berfoto dan menikmati panorama laut yang seolah tak berujung.

“Kalau air surut seperti ini, banyak yang datang. Anak-anak senang main lumpur, sementara kami bisa cari kerang untuk dimasak,” ujar Rani warga Batubesar, sambil tersenyum.

Ia mengaku hampir setiap pekan datang ke pantai untuk sekadar bersantai bersama keluarga. Menurutnya lokasi tersebut cukup aman.

“Lokasinya aman untuk bermain anak-anak. Ada pasir putih dan aliran air laut juga,” sebut Rani

Hal senada disampaikan Abdul Rahman warga lainnya. Ia mengatakan fenomena surut seperti itu hampir terjadi setiap hari, terutama menjelang sore.

“Biasanya sekitar jam empat mulai kelihatan surut. Kadang bisa sampai jauh sekali, jadi pantainya makin luas,” katanya.

Menurut Rahman, momen seperti ini juga sering dimanfaatkan warga untuk mencari umang, kepiting kecil, hingga remis. “Kalau beruntung, bisa dapat banyak. Lumayan buat lauk makan malam,” tambahnya.

Meski tampak tenang, warga tetap diingatkan agar berhati-hati saat bermain di area berlumpur karena beberapa bagian cukup licin dan dalam.

“Tadi ada yang tergelincir juga karena kerang yang licin,” ungkap pria berusia 45 tahun ini. (*)

Reporter: Yashinta

Artikel Air Surut di Pantai Batubesar, Warga Berburu Kerang dan Main Lumpur Sore Hari pertama kali tampil pada Metropolis.

RDK Award 2025 Hidupkan Semangat Literasi dari Kepri untuk Indonesia

0
RDK Award
Jurnalis Batam Pos, Mohammad Ismail menjadi salah satu pemenang RDK Award 2025. F. Yusnadi Nazar/Batam Pos.

batampos – Semangat literasi di Kepulauan Riau (Kepri) terus tumbuh lewat berbagai kegiatan kreatif. Salah satunya melalui ajang Lomba Karya Tulis RDK Award 2025 bertema “Dari Kepri untuk Indonesia” yang menjadi penggerak baru dunia literasi di daerah kepulauan itu.

Ajang perdana ini digagas untuk mendorong budaya menulis dan membaca di kalangan masyarakat, terutama generasi muda.

Penggagas RDK Award sekaligus wartawan senior, Rida K Liamsi, mengatakan lomba ini akan digelar secara rutin setiap tahun sebagai wadah pengembangan literasi di Kepri.

“RDK Award ini khusus untuk menggerakkan dunia literasi di Provinsi Kepri,” jelas Rida, Jumat (10/10) malam.

Rida juga menekankan pentingnya peran generasi muda untuk rajin menulis demi menciptakan masa depan yang lebih baik.

“Menulis itu anugerah dari Allah, harus disyukuri. Semoga peserta lomba semakin banyak di tahun-tahun berikutnya,” harapnya.

Sementara itu, Gubernur Kepri Ansar Ahmad memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif tersebut. Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus mendukung kegiatan positif di bidang literasi.

“Kami akan terus mendukung kegiatan positif seperti ini,” ujar Ansar.

Terpisah, pemenang RDK Award 2025, Mohamad Ismail dari Batam Pos, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada penyelenggara dan rekan-rekan jurnalis yang turut memberi semangat selama proses lomba.

“Awalnya tidak menyangka, tapi karena tekad kuat menulis, Alhamdulillah karya kami terpilih sebagai pemenang,” ucapnya.

Pada ajang perdana ini, Muhammad Fadli dari Natuna berhasil meraih juara pertama dengan karya berjudul “Natunaloka, Cahaya Inklusi dari Perbatasan.”

Juara kedua diraih Mohamad Ismail dari Tanjungpinang melalui karya “Menanti Mimpi Lumbung Ikan Terbesar di Indonesia, dari Laut Kepri untuk Nusantara.” Sedangkan juara ketiga disabet Ogen dari Tanjungpinang dengan karya “Kepri Penyumbang Nafas Pariwisata Indonesia.”

RDK Award diharapkan menjadi agenda tahunan yang terus menyalakan semangat literasi dan menulis dari Kepri untuk Indonesia. (*)

Reporter: Yusnadi Nazar 

Artikel RDK Award 2025 Hidupkan Semangat Literasi dari Kepri untuk Indonesia pertama kali tampil pada Kepri.

Aktris Legendaris Diane Keaton Meninggal Dunia di Usia 79 Tahun

0
Diane Keaton. F. People.
Diane Keaton. F. People.

batampos – Dunia perfilman Hollywood berduka. Aktris legendaris Diane Keaton, peraih Oscar lewat film “Annie Hall” (1977) dan pemeran Kay Adams dalam trilogi “The Godfather”, meninggal dunia pada usia 79 tahun.

Kabar duka ini dikonfirmasi oleh juru bicara keluarga kepada majalah People, yang menyebut Keaton meninggal dunia di California pada Jumat (11/10) waktu setempat.

“Detail lebih lanjut belum dapat disampaikan. Keluarga meminta ruang privasi dalam masa berduka ini,” ujar pernyataan resmi pihak keluarga, dilansir People.

Diane Keaton dikenal luas lewat perannya sebagai Annie Hall, kekasih Alvy Singer (Woody Allen) dalam film klasik garapan Allen, “Annie Hall.”

Film tersebut tak hanya melambungkan nama Keaton, tetapi juga meraih empat Piala Oscar: Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Skenario Asli Terbaik, dan Aktris Terbaik untuk Keaton sendiri.

Peran itu menjadikannya simbol kecerdasan, kehangatan, dan gaya eksentrik yang khas, menjadikannya salah satu ikon fesyen dan sinema Amerika pada era 1970-an.

Sepanjang kariernya, Keaton kerap berkolaborasi dengan sutradara Woody Allen dalam delapan film, mulai dari “Play It Again, Sam” (1972) hingga “Manhattan Murder Mystery” (1993).

Chemistry keduanya di layar lebar dianggap sebagai salah satu pasangan sinematik paling berpengaruh dalam sejarah perfilman modern.

Selain itu, Keaton juga meninggalkan jejak kuat lewat perannya dalam trilogi “The Godfather.” Ia memerankan Kay Adams, kekasih dan kemudian istri Michael Corleone (diperankan Al Pacino). Karakter tersebut menjadi salah satu sosok perempuan paling ikonik dalam film mafia klasik itu.

Di luar kolaborasinya dengan Allen, Keaton tampil memukau dalam berbagai film populer seperti “Father of the Bride” (1991), di mana ia berperan sebagai istri Steve Martin.

Di film ini, Keaton memperlihatkan sisi hangat dan emosional seorang ibu yang penuh cinta.

Memasuki masa akhir kariernya, Keaton tetap aktif di dunia film. Ia membintangi “Book Club” (2018) yang menyoroti kisah cinta di usia senja, dan “Poms” (2019), tentang perempuan lanjut usia yang membentuk tim pemandu sorak di komunitas pensiunan.

Selain Oscar, Keaton juga meraih BAFTA dan Golden Globe, serta tiga nominasi tambahan untuk Aktris Terbaik lewat “Reds” (1981), “Marvin’s Room” (1996), dan “Something’s Gotta Give” (2003).

Pada 2017, American Film Institute (AFI) menganugerahkan Lifetime Achievement Award kepada Keaton atas kontribusinya dalam dunia perfilman. AFI memujinya sebagai sosok “luar biasa, ikonoklastik, dan berbeda dari kebanyakan aktris Hollywood.”

Aktris Andie MacDowell, yang pernah bekerja sama dengan Keaton dalam film “Unstrung Hero” (1995), menyampaikan rasa duka mendalam.

“Saya merasa sangat beruntung pernah bekerja dengan wanita hebat ini. Dunia kehilangan salah satu seniman paling berani dan autentik,” ujar MacDowell. (*)

Artikel Aktris Legendaris Diane Keaton Meninggal Dunia di Usia 79 Tahun pertama kali tampil pada News.

LPPM UNIBA Gelar Kuliah Internasional Bahas Smart City dan Kawasan Ekonomi Batam

0
LPPM Uniba
Kuliah internasional LPPM UNIBA Bahas Smart City dan Kawasan Ekonomi Batam. F. Tangkapan layar.

batampos – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Batam (UNIBA) kembali memperkuat kiprahnya di dunia akademik global dengan menyelenggarakan Kuliah Internasional bertema “Batam City Towards an Integrated Sustainable Smart City with Free Trade Zone (FTZ) and Special Economic Zone (SEZ)”, Sabtu(11/10).

Kegiatan yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting ini menghadirkan enam narasumber dari empat negara yakni Rusia, Jepang, Malaysia, dan Indonesia, yang membahas arah transformasi Batam sebagai kota cerdas (smart city) sekaligus kawasan ekonomi strategis di tingkat regional dan global.

Acara dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UNIBA, Prof. Dr. Ir. Chablullah Wibisono, MM, yang menegaskan pentingnya kolaborasi lintas negara untuk mendorong inovasi dan keberlanjutan pembangunan kota.

“Batam memiliki posisi yang unik sebagai simpul ekonomi dan inovasi kawasan. Dengan kolaborasi akademik seperti ini, kita dapat mengarahkan Batam menjadi kota cerdas yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujar Prof. Chablullah dalam sambutannya.

Enam Pakar Dunia Bahas Masa Depan Batam

Kuliah internasional ini menampilkan enam pakar dengan latar belakang multidisipliner.
Dari Rusia, Prof. Tsvetkova Natalia Alexandrovna dari The Institute for U.S. and Canadian Studies of the Russian Academy of Sciences memaparkan topik “Comparing Two Digital Infrastructure Models: Centralized Moscow vs Inclusive Chicago.” Ia menyoroti pentingnya keseimbangan antara kendali pemerintah dan partisipasi publik dalam membangun kota digital.

Dari Jepang, Nakamura Hirohide, Chairman A-Wing Group, menyebut Batam memiliki posisi strategis sebagai kawasan dengan status ganda FTZ dan SEZ.

“Keunggulan ini menjadikan Batam bukan hanya pintu masuk investasi internasional, tetapi juga laboratorium kebijakan perkotaan modern,” ujarnya.

Dekan Fakultas Hukum UNIBA, Prof. Dr. H. M. Soerya Respationo, S.H., M.H., M.M., menekankan pentingnya sinergi antara inovasi, kolaborasi, dan supremasi hukum dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

“Dengan inovasi dan hukum yang kuat, Batam dapat menjadi representasi kota masa depan Indonesia yang berdaulat dan berdaya saing,” katanya.

Sementara itu, Dr. Lita Sari Barus, dari Universitas Indonesia, menyoroti pentingnya konsep Segitiga Pertumbuhan Indonesia–Malaysia–Singapura sebagai strategi integrasi ekonomi kawasan.

Dari Malaysia, TPr Ts. Dr. Gobi Krishna Sinniah berbagi pengalaman negaranya dalam menerapkan konsep smart city di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) melalui penggunaan teknologi digital dan tata kelola kolaboratif.

Sebagai penutup, Dr. Ir. Paramita Rahayu dari Universitas Sebelas Maret mengangkat tema reflektif “Paradoks Kota Cerdas: Ketika Teknologi Melupakan Manusia.” Ia menekankan pentingnya aspek sosial dan empati dalam pembangunan kota modern.

UNIBA Perkuat Jejaring Akademik Global

Melalui kegiatan ini, Kepala LPPM UNIBA, Dr Malahayati Rusli Bintang BSc MPH, menegaskan komitmennya untuk terus memperluas kerja sama riset dan inovasi internasional. Diskusi lintas negara ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran Universitas Batam sebagai pusat pemikiran strategis dalam bidang pembangunan wilayah dan perkotaan berkelanjutan.

“Kami berkomitmen memfasilitasi riset dan kolaborasi internasional yang mendukung transformasi Batam menuju kota pintar yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat,” tutup Malahayati.

Reporter: M. Sya’ban

Artikel LPPM UNIBA Gelar Kuliah Internasional Bahas Smart City dan Kawasan Ekonomi Batam pertama kali tampil pada Metropolis.

7 ABK Indonesia Terkatung di Myanmar, 3 Bulan Tanpa Gaji dan Makan

0
ABK Indonesia
Kondisi tujuh anak buah kapal (ABK) Indonesia yang bekerja di kapal tanker MT SHI XING. (Istimewa)

batampos – Kisah memilukan dialami tujuh anak buah kapal (ABK) Indonesia yang bekerja di kapal tanker MT SHI XING. Selama tiga bulan, mereka terombang-ambing di perairan Myanmar tanpa kepastian, tanpa gaji, bahkan sempat kehabisan bahan makanan.

Chief Engineer kapal, Riski, memohon perhatian dari pemerintah Indonesia, termasuk KBRI Yangon, Kemenlu, Bakamla, hingga BP2MI, agar segera mengevakuasi mereka.

“Kondisi fisik dan mental ABK sudah terganggu. Keluarga juga sangat menghawatirkan keadaan kami di kapal. Kami sedih karena sudah tiga bulan gaji tidak dibayar,” ujar Riski dilansir JawaPos.com, Sabtu (11/10).

Sembilan Hari Hanya Makan Nasi dan Air Hujan

Menurut Riski, kondisi kru di atas kapal benar-benar memprihatinkan. Selama 25 September hingga 4 Oktober 2025, bahan makanan di kapal habis total.

“Sembilan hari itu kami hanya makan nasi tanpa lauk dan minum air hujan yang kami tampung,” ujarnya.

Bantuan bahan makanan baru dikirim setelah KBRI Yangon menindaklanjuti laporan mereka pada 1 Oktober 2025. Namun, bantuan itu hanya bersifat sementara.

Janji Docking Tak Pernah Terwujud

Awalnya, para ABK dijanjikan bahwa kapal MT SHI XING akan masuk galangan (docking) di Yangon, Myanmar. Namun, janji itu tak pernah ditepati hingga kini.

“Kami sudah lelah dengan semua ini. Pihak owner hanya memberi janji-janji kosong,” keluh Riski.

Meski dalam tekanan berat, seluruh kru tetap berusaha menjaga kondisi kapal agar berfungsi. Kapten dan Chief Officer mengatur situasi tetap kondusif, juru mudi bergantian memasak dan membersihkan kapal, sementara kru mesin terus menjaga generator dan pompa tetap menyala.

Empat Tuntutan ABK MT SHI XING

Dalam video terbuka yang dikirim ke media, para kru MT SHI XING menyampaikan empat poin permohonan mendesak kepada pemerintah Indonesia:

1. Selama tiga bulan tidak menerima gaji, sementara keluarga di rumah sudah kesulitan ekonomi.

2. Janji kapal untuk docking di Yangon selalu ditunda tanpa alasan jelas.

3. Kondisi fisik dan mental para ABK semakin terganggu akibat tekanan dan ketidakpastian.

4. Memohon segera dipulangkan ke Indonesia dan gaji dibayarkan penuh.

“Mohon perlindungan, Pak. Uang sudah habis dan utang pun sudah banyak,” kata Riski dalam video tersebut. (*)

Artikel 7 ABK Indonesia Terkatung di Myanmar, 3 Bulan Tanpa Gaji dan Makan pertama kali tampil pada News.

Timnas Indonesia Gagal ke Piala Dunia 2026 Usai Takluk dari Irak

0
Timnas Indonesia Gagal ke Piala Dunia 2026 Usai Takluk dari Irak. F. dok. Timnas Indonesia. 

batampos – Pupus sudah mimpi Timnas Indonesia melangkah ke Piala Dunia 2026. Skuad Garuda harus mengucapkan selamat tinggal pada ajang sepak bola terbesar dunia itu setelah kalah 0-1 dari Irak, Minggu (12/10) dini hari WIB.

Gol tunggal yang dicetak Zidane Iqbal pada menit ke-76 di Stadion King Abdullah Sport City, Jeddah, Arab Saudi, memastikan langkah Garuda terhenti di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.

Kekalahan ini membuat Timnas Indonesia finis di posisi juru kunci Grup B dengan nol poin dari seluruh laga. Harapan untuk tampil di Piala Dunia 2026 pun resmi kandas.

Pertandingan berjalan dengan tempo lambat sejak awal. Kedua tim sama-sama berhati-hati dan belum menampilkan permainan agresif. Namun, Indonesia sedikit lebih dominan dengan sejumlah peluang berbahaya.

Thom Haye membuka ancaman lewat sepakan spekulatif pada menit ke-9, meski masih melebar dari gawang Irak. Peluang emas datang pada menit ke-14 saat kerja sama Haye dan Mauro Zijlstra di sisi kanan hampir membuahkan gol, tetapi bola berhasil diblok pemain Irak.

Irak lebih banyak menunggu dan mengandalkan serangan balik cepat. Peluang terbaik mereka datang dari tendangan bebas Munaf Younus pada menit ke-43, namun upayanya digagalkan karena terjebak offside dan sempat bertabrakan dengan kiper Maarten Paes.

Babak pertama berakhir tanpa gol, 0-0.

Memasuki babak kedua, Kluivert mencoba menambah daya serang dengan memasukkan Ragnar Oratmangoen menggantikan Ricky Kambuaya. Namun, alih-alih menambah tekanan, dominasi Garuda justru menurun.

Irak tampil lebih agresif dan mulai menekan pertahanan Indonesia. Hingga akhirnya, pada menit ke-76, Zidane Iqbal memecah kebuntuan lewat aksi individunya yang diakhiri dengan tembakan mendatar ke sisi kiri gawang Paes.

Gol pemain jebolan akademi Manchester United itu membuat Irak unggul 1-0. Timnas Indonesia berupaya keras menyamakan kedudukan hingga menit-menit akhir, namun tak ada gol balasan tercipta.

Menjelang laga usai, Irak harus bermain dengan 10 pemain setelah Zaid Tahseen diusir wasit akibat protes keras kepada wasit usai terlibat kontak dengan Kevin Diks di kotak penalti.

Meski unggul jumlah pemain di akhir laga, Garuda tetap gagal mencetak gol. Skor 0-1 bertahan hingga peluit panjang berbunyi, menandai akhir perjalanan Timnas Indonesia di kualifikasi Piala Dunia 2026. (*)

Artikel Timnas Indonesia Gagal ke Piala Dunia 2026 Usai Takluk dari Irak pertama kali tampil pada Olahraga.

Catatan dari AJF 2025 di Singapura, Merawat Nostalgia, Melihat Masa Lalu Singapura dari Holland Village

0

Redaktur Batam Pos, Chahaya Simanjuntak terpilih menjadi salah satu peserta Asia Journalism Fellowship 2025, beasiswa profesi yang diadakan Temasek Foundation dan Institute of Policy Studies (IPS) bekerjasama dengan Universitas Nasional Singapura (NUS). Bersama 19 peserta lainnya dari 15 negara, setelah mengikuti kuliah secara online selama satu bulan penuh, kursus singkat secara langsung pun diadakan di Singapura, yang berlangsung hingga November mendatang. Chahaya pun membagikan pengalamannya selama di Singapura, di luar jadwal kelas, dengan melihat langsung Singapura merawat tradisi dan masa lalu di kawasan Holland Village, di tengah pembangunan hunian gedung tinggi secara masif di kawasan itu.

***

Kawasan Holland Village, salah satu kawasan elit Singapura yang tetap merawat masa lalu dan komunitas lokal di kawasan itu sebagai bagian dari menjaga sejarah. F Chahaya Simanjuntak/Batam Pos

DERETAN bangunan bertingkat empat itu berdiri berderet. Desain bangunannya terlihat lebih unik dibanding aneka bangunan tinggi di sekitarnya. Dindingnya, secara keseluruhan terbuat dari batu bata merah. Menuju ke sana, harus menaiki tujuh anak tangga.

Di belakang bangunan itu, beragam usaha menggeliat dengan tampilan sederhana. Ada salon, konter ponsel, warung lokal, hingga optik yang menjual kacamata, serta beragam usaha lainnya. Ada juga food Hawker yang menyatu dengan pasar tradisional. Namun kawasan itu sudah tutup di malam hari. Hanya buka setengah hari. Mulai dari pukul 06.00 hingga 12.00 di siang hari.

Sementara di sudut lainnya, di seberang jalan, ada juga food hawker lainnya yang buka sampai malam. Meski sudah malam, kawasan ini tetap hidup. Di sana, para warga mengobrol dengan teman sambil menikmati makanan dan minuman di hadapan. Ada juga yang berdiri antri memesan makanan dan minuman di beberapa stal, serta ada yang memperhatikan menu yang terpampang besar di atas stal, lengkap dengan daftar harga. Bangunan food hawker itu juga sudah terlihat tua.

Bangunan bata merah itu adalah Holland Drive 47, yang sudah ada sejak 1980-an. “Nama kawasan ini adalah Holland Village. Bangunan lama yang kalian lihat ini memang sengaja dirawat pemerintah untuk mempertahankan keaslian kawasan.

BACA JUGA: Ini 5 Pelabuhan Feri Internasional di Batam Tujuan Singapura dan Malaysia

Tidak akan dirobohkan. Merawat sejarah Singapura,” ujar Zakaria Zainal. Seorang Singapura yang akrab disapa Zak. Dia menjadi guide bagi 20 peserta Asia Journalist Fellowship (AJF) 2025, awal pekan lalu.

Holland Village merupakan salah satu kawasan di Negara Kota Singapura. Berada di antara kawasan Bukit Timah dan Queenstown. Bertetangga langsung dengan Buona Vista. Di kawasan ini, Anda bisa melihat modernitas dan masa lalu Singapura dalam waktu yang sama. Dari bangunannya. Dari cara masyarakatnya bersosialisasi, benar-benar melihat masa lalu Singapura yang terkesan terburu-buru, tapi ramah.

Mengapa namanya Holland Village? Karena kawasan ini merupakan warisan masa lalu Eropa. Termasuk Holland Drive 47 itu. Pemandangan di sana bangunan pencakar langit memeluk bangunan lama. Menjadi pagar pelindung.

Kala petang tiba, kawasan ini menjadi pusat kuliner yang paling diminati warga lokal. Suasananya berubah menjadi semakin hidup dengan dukungan aneka lampu warna-warni, lalu lalang warga, hingga kesibukan jalan raya dengan berbagai jenis kendaraan.

” When I was younger, i used to think that men would take their girlfriend to places like this,” ujar Zak terkenang. Kenangannya akan masa lalu hidup kembali dengan melihat kawasan kota lama ini di masa kini.

Dia menyebutkan, kawasan pertokoan lama di Holland Village ini tetap menjadi jantung kehidupan komunitas lokal Singapura. Meski pusat komersial modern berdiri megah di sebelahnya tapi nuansa Singapura tempo dulu tetap bisa dirasakan dengan otentik di masa kini.

Guna merawatnya, setiap malam, satu kawasan itu ditutup. Kendaraan tidak boleh masuk. Dengan begitu, warga yang berkunjung ke sana untuk menikmati aneka hidangan kuliner, atau sekedar minum bir sambil mengobrol dengan rekan, teman, atau pasangannya, tidak terganggu.

“Jika kamu ingin merasakan sesuatu yang benar-benar lokal Singapura, ini adalah tempat yang benar untuk dikunjungi,” ungkapnya.

Menurut data Mediacorp, jumlah penduduk Singapura pada pertengahan 2025 sebanyak 6,11 juta jiwa. Apakah karena jumlah kelahiran yang tinggi? Tidak. Melainkan karena semakin meningkatnya pemegang izin kerja.

Mereka merupakan bagian dari sekitar 540 ribu jiwa penduduk yang menjadi permanent resident di negara ini. Karena semakin meningkatnya jumlah penduduk Singapura dan lahan yang terbatas, kawasan Holland Village ini juga terkena dampak untuk penambahan pasokan perumahan.

Di beberapa titik, terjadi pembangunan yang sangat masif. Hunian pencakar langit. Salah satunya di kawasan Holland Village Wy, di depan bangunan apartemen mewah Quincy House. Ratusan pekerja sudah terlihat di sana menggerakkan puluhan crane, meski waktu baru menunjukkan pukul 06.00 pagi.

“Ya, kawasan ini merupakan salah satu kawasan dengan harga sewa atau harga beli apartemen tertinggi. Tapi tetap, Holland Village, merawat masa lalunya dengan baik. Dukungan dari pemerintahlah yang menjaga ini dengan baik,” ujar Zak.

Singapura. Salah satu negara kota termaju di dunia. Setiap sudut kawasannya berdiri ratusan gedung pencakar langit seperti di kawasan Marina Bay, Orchard, hingga kawasan downtown Raffles City.

Ya, negara ini mampu membentuk wajah kota yang nyata,modern, hidup, dan terus berubah. Selain itu, tetap menjaga akar komunitas demi masa depan yang inklusif dengan merawat masa lalu. (*)

Reporter: CHAHAYA SIMANJUNTAK

Artikel Catatan dari AJF 2025 di Singapura, Merawat Nostalgia, Melihat Masa Lalu Singapura dari Holland Village pertama kali tampil pada Metropolis.

SMP Negeri 3 Putik, Anambas, Rayakan HUT ke-19 dengan Aksi Nyata untuk Bumi

0
Narasumber sedang memberikan edukasi pengelohan sampah organik menjadi eco-enzim kepada siswa dan warga Desa Putik. f.ihsan

batampos– SMP Negeri 3 Putik merayakan hari jadinya yang ke-19 dengan cara yang berbeda dan bermakna, Sabtu (11/10).

Tidak ada pesta, panggung hiburan, atau perlombaan siswa. Tahun ini, sekolah tersebut memilih merayakan ulang tahunnya melalui aksi nyata untuk bumi.

Sekolah yang berdiri sejak 10 Oktober 2006 ini mengusung tema “Cinta Lingkungan, Cinta Bumi” sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan hidup alam.

Bagi mereka, bumi bukan sekadar tempat berpijak, tetapi rumah besar yang harus dijaga bersama.

BACA JUGA: Terbongkar Gegara Guru Curiga, Pria di Anambas Ditangkap usai Cabuli Siswi SMP

Kegiatan peringatan hari jadi ini disejalankan dengan World Clean Up Day 2025, gerakan global yang melibatkan jutaan orang di seluruh dunia dalam aksi bersih-bersih lingkungan.

Di SMP Negeri 3 Putik, kegiatan tersebut diikuti oleh siswa, guru, dan masyarakat sekitar Desa Putik.

Ketua Tim Adiwiyata SMP Negeri 3 Putik, Sariana, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran berbasis lingkungan yang menjadi ciri khas sekolah tersebut.

Sebagai sekolah Adiwiyata, seluruh kegiatan belajar mengajar diarahkan agar siswa memiliki karakter peduli lingkungan.

“Sebagai sekolah Adiwiyata, kami ingin anak-anak tidak hanya belajar teori di kelas, tapi juga memahami bagaimana menjaga alam dengan tindakan nyata. Pendidikan lingkungan harus hidup di keseharian mereka,” ujar Sariana.

Dalam aksi tersebut, siswa tidak hanya membersihkan lingkungan sekolah dan sekitar permukiman, tetapi juga memberikan edukasi dan pelatihan pengolahan sampah organik menjadi eco-enzym.

Kegiatan ini dikemas secara interaktif agar masyarakat dapat langsung memahami prosesnya.

Pelatihan ini menyasar ibu-ibu PKK Desa Putik, yang selama ini menjadi motor penggerak kegiatan rumah tangga dan kebersihan lingkungan.

Melalui pelatihan tersebut, para ibu diajak memanfaatkan limbah dapur seperti kulit buah dan sayur menjadi cairan serbaguna yang ramah lingkungan.

Sariana menjelaskan bahwa eco-enzym memiliki banyak manfaat, mulai dari pembersih alami, pupuk tanaman, hingga pengusir serangga.

“Dengan cara ini, sampah organik tidak lagi dianggap kotor, tetapi menjadi sumber manfaat. Ini langkah kecil yang bisa memberi dampak besar,” katanya.

Warga Desa Putik menyambut baik kegiatan ini. Banyak yang mengaku baru mengetahui bahwa sampah rumah tangga dapat diolah kembali menjadi produk berguna tanpa perlu biaya besar.

Semangat gotong royong terlihat dari antusiasme warga mengikuti setiap tahap pelatihan.

Selain edukasi dan pelatihan, kegiatan juga diisi dengan penanaman pohon di halaman sekolah dan beberapa titik strategis di sekitar desa.

Penanaman pohon ini menjadi simbol harapan agar bumi tetap hijau dan generasi muda tumbuh dengan kesadaran menjaga alam.

Momentum ulang tahun ke-19 ini bukan hanya menjadi perayaan perjalanan panjang SMP Negeri 3 Putik, tetapi juga menjadi tonggak baru bagi dunia pendidikan di Anambas dalam menanamkan nilai-nilai cinta lingkungan sejak dini.

Sekolah ini ingin membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil.

Dari ujung perbatasan nusantara, semangat hijau itu berkobar. SMP Negeri 3 Putik menegaskan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab bersama.

Dengan kolaborasi sekolah, masyarakat, dan pemerintah, Kepulauan Anambas siap menjadi paru-paru dunia — penjaga napas kehidupan dari timur negeri ini. (*)

Reporter: Ihsan

Artikel SMP Negeri 3 Putik, Anambas, Rayakan HUT ke-19 dengan Aksi Nyata untuk Bumi pertama kali tampil pada Kepri.