
batampos – Jutaan warga Amerika Serikat turun ke jalan dalam aksi besar bertajuk “No Kings” untuk memprotes kebijakan Presiden Donald Trump, Sabtu (28/3).
Aksi ini disebut sebagai salah satu mobilisasi massa terbesar dalam sejarah modern Amerika Serikat.
Demonstrasi berlangsung serentak di lebih dari 3.000 lokasi di seluruh 50 negara bagian, bahkan meluas hingga ke sejumlah negara lain.
Para peserta menyuarakan penolakan terhadap berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari isu imigrasi, kondisi ekonomi, hingga keputusan Amerika Serikat terlibat dalam konflik militer dengan Iran.
Gerakan “No Kings” digerakkan oleh koalisi organisasi sipil, serikat pekerja, dan kelompok akar rumput seperti Indivisible serta 50501.
The Guardian melaporkan aksi ini menjadi gelombang ketiga dari rangkaian protes besar yang sebelumnya juga berhasil menarik jutaan peserta di berbagai kota.
Di kota-kota besar seperti New York, Washington DC, dan Chicago, massa berkumpul dalam jumlah besar dengan membawa berbagai tuntutan.
Salah satu isu utama yang disorot adalah keterlibatan militer AS di Iran yang dinilai memicu ketegangan global.
Selain itu, isu hak sipil, kebijakan imigrasi, serta meningkatnya biaya hidup juga menjadi fokus dalam aksi tersebut.
Aksi ini juga diwarnai partisipasi tokoh publik dan politik, termasuk penampilan musisi yang turut menyuarakan kritik terhadap pemerintahan.
Meski sebagian besar berlangsung damai, sejumlah lokasi dilaporkan mengalami ketegangan dan penangkapan akibat bentrokan kecil dengan aparat keamanan.
Gerakan “No Kings” sendiri muncul sebagai simbol penolakan terhadap gaya kepemimpinan yang dinilai otoriter.
Aksi ini sekaligus mencerminkan meningkatnya kekhawatiran publik terhadap dampak konflik dengan Iran yang dinilai berpotensi memperburuk situasi global. (*)
Artikel Jutaan Warga AS Turun ke Jalan dalam Aksi No Kings, Protes Trump dan Perang Iran pertama kali tampil pada News.









