Senin, 25 Mei 2026
Beranda blog Halaman 11509

Partai Berkarya akan Perjuangkan UU Teknologi Informasi dan Komputer

0

Prof Zainal Arifin Hasibuan, calon legislatif (caleg) Partai Berkarya daerah pemilihan (dapil) Sumatera Utara II, mengatakan Undang Undang Pendidikan Nasional harus disempurnakan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.

“Pemerintah juga harus membuat UU Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) jika tidak ingin Indonesia menjadi negara tertinggal,” ujar Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (Aptikom) dalam wawancara Senin 1 April 2019.

Teknologi Informasi dan Komputer, lanjut Prof Zainal Arifin, telah menjadi bagian semua lapisan masyarakat segala usia. Bocah belum sekolah pun telah mampu bermain game di gadget, membuka berbagai aplikasi dan menikmati kontennya. Namun, kata Guru Besar Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (UI) itu, pemanfaatkan teknologi informasi dan komputer belum seimbang dengan investasi dan biaya yang dikeluarkan setiap individu.

“Itulah yang mendorong saya mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI,” kata Prof Zainal Arifin. “Semoga saya bisa duduk di DPR RI periode mendatang dan mewujudkan gagasan saya.”

Menurut Prof Zainal Arifin, penggunaan teknologi informasi dan komputer serta penyempurnaan UU Pendidikan Nasional harus diarahkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Setiap individu harus diajarkan berapa keuntungan materi yang diperoleh dari setiap pengeluaran Rp 100 ribu untuk membeli pulsa dan paket internet.

“Jangan jadi budak teknologi, tapi jadilah pengguna teknologi yang bijak,” ujar pria yang dipinang Partai Berkarya menjadi caleg itu.

Ia juga mengatakan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp seharusnya tidak dimanfaatkan hanya untuk membaca berita gosip dan hoax, tapi untuk aktivitas ekonomi. Itu bisa dilakukan siapa saja, dari skala kecil sampai yang besar.

Usaha Kecil dan Menengah (UKM), misalnya, bisa menggunakan teknologi untuk pengembangan usaha. Sayangnya, kemampuan pelaku UKM masih terkendala kecukupan modal dan belum memahami kaidah bisnis.

 

Dekat dengan Tuti Hasanah Mochtar, Juri Barista Pertama di Asia Tenggara

0

”MINUM kopi, teh, kalau bisa jangan pakai gula. Nanti kadar asam dalam kopinya lebih cepat naik,” kata Tuti kepada Jawa Pos (grup Batam Pos) yang saat itu memesan green tea latte di lantai 1 Esperto Barista Course di Jakarta. Sabtu (30/3) sore itu, sambil menunggu jam mengajarnya di Esperto Barista Course, pendiri Asosiasi Kopi Spesial Indonesia atau Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) itu bersedia menemani Jawa Pos mengobrol.

Dengan kandungan proteinnya, susu lebih bisa menghasilkan rasa manis alami ketimbang gula. Apalagi kalau susu itu sudah mengalami proses steaming yang baik. Namun, seperti kata Dee (Dewi) Lestari, kopi itu sangat personal. Tuti pun selalu memegang prinsip tersebut.

”Kopi itu enggak ada pakem. Minum kopi pakai gula itu enggak dosa kok,” kata dia, lantas tersenyum.

Pencinta kopi yang mempelajari kopi dari hulu sampai hilir pasti tahu siapa Tuti Hasanah Mochtar. Dia adalah juri kompetisi barista, bahkan juri barista internasional pertama di Asia Tenggara.

Dia juga merangkul pelaku industri kopi berkualitas tinggi (specialty coffee). Mulai petani, pengumpul, barista, eksporter, hingga pemilik kafe. Specialty coffee adalah kopi spesial yang tiap-tiap bijinya berukuran sama. Ketika memasuki tahap roasting, kematangan biji-biji itu juga harus rata. Tidak ada biji yang kurang matang atau terlalu matang.

Sudah lebih dari 20 tahun Tuti menggeluti industri kopi. Awalnya, dia adalah pegawai di divisi keuangan sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Kemudian, dia pindah dan menjadi karyawan di perusahaan importer makanan. Salah satu komoditas yang diimpor kopi. Kebanyakan dikonsumsi ekspatriat.

Tuti menceritakan, saat itu, tahun 1999 hingga awal 2000-an, minum kopi belum menjadi gaya hidup kelas menengah Indonesia, tidak seperti sekarang. Kopi-kopi lokal berkualitas tinggi hanya diminum bule-bule di kafe atau kelab selepas jam kerja. Itu pun justru diimpor dari Singapura. Sedangkan mayoritas orang Indonesia hanya menikmati kopi tubruk atau kopi saset di warung kaki lima.

”Ngopi itu dulu masih identik dengan kegiatan bapak-bapak saja,” ucap Tuti, yang sore itu tak berselera minum kopi. Sedang tidak haus, akunya.

Kemudian, karena permintaan ekspatriat semakin meningkat, perusahaan pun memberikan pelatihan kepada Tuti. Dia ditugaskan untuk mengikuti kursus singkat mengenai kopi selama tiga bulan di Seattle, Amerika Serikat (AS). Usianya baru 21 tahun ketika itu.

Di AS, Tuti belajar banyak hal. Dia belajar tentang cara menyangrai biji kopi mentah (roasting) serta membuat dan menyajikan kopi (menjadi barista). Karena sering berhubungan dengan kopi, lama-lama dia menjadi cupper yang bisa menilai kualitas minuman kopi hanya dengan mencium aromanya.

Sepulang ke Indonesia, Tuti dipercaya kantornya untuk mengelola kafe milik perusahaan tempatnya bekerja. Kebetulan, saat itu, 2003, jaringan kedai kopi Starbucks baru masuk Indonesia. Sejak saat itu, antusiasme masyarakat untuk nongkrong sambil ngopi pun naik. Minum kopi dengan harga lebih mahal mulai menjadi gaya hidup baru di Jakarta.

Tuti Hasanah Mochtar

Melihat pasar yang mulai antusias terhadap kopi, Tuti mencoba untuk menggelar kejuaraan barista pertama se-Asia Tenggara pada 2003. Ada 24 peserta yang mengi-kuti kompetisi kala itu. Tuti menjadi jurinya. Acara tersebut berlangsung sukses.

Tak lama kemudian, kompetisi serupa diadakan lagi pada 2006, 2009, dan seterusnya. Karena budaya ngopi semakin dikenal masyarakat di Asia Tenggara, negara lain mulai ikut menyelenggarakan kompetisi yang sama. Tuti selalu diminta untuk menjadi juri, bahkan kepala juri.

Beberapa tahun berselang, berbagai juri internasional bermunculan dari negara-negara Asia Tenggara. Karir Tuti sebagai juri pun terus melesat. Setiap tahun dia menjadi juri di kompetisi-kompetisi kopi di berbagai negara.

Menjadi juri adalah hal mengasyikkan bagi Tuti. Dia bisa membedakan karakter barista dari tiap-tiap negara. Misalnya, barista Indonesia. Karena Indonesia termasuk penghasil kopi dengan kualitas terbaik di Asia, tentu peserta dari Indonesia mudah mendapatkan kopi berkualitas tinggi. Namun, kelemahan peserta dari Indonesia adalah kemampuan berbahasa Inggris yang kurang fasih. Akibatnya, peserta dari Indonesia kurang lancar mengomunikasikan kopi buatannya kepada juri.

Sementara itu, peserta dari negara lain seperti Thailand dan Singapura sering membawa kopi berkualitas standar. Namun, peserta dari Thailand lebih mengerti tata cara penyajian dengan hospitality yang baik. ”Mereka serving kopi itu satu tangan menyajikan, satu tangan di belakang pinggang. Rambutnya dikucir kalau panjang,” jelas Tuti.

Sedangkan peserta dari Singapura lebih komunikatif dengan juri. Sebab, bahasa Inggrisnya sangat lancar.

Namun, masa-masa itu sudah lewat. Tuti sudah bosan keliling dunia menjadi juri. Dia mengurangi frekuensi bepergian ke luar negeri meski masih sering menjadi juri di dalam negeri. Menurut perempuan yang lahir di London, Inggris, itu, sudah saatnya muncul juri-juri baru yang lebih muda, lebih fresh.

”Saya saking seringnya ke luar negeri sampai bosan sarapan di hotel. Yang halal cuma roti sama egg (telur, red). Kalau lima hari di luar negeri, tersiksa saya. Hahaha,” kelakar Tuti yang juga pendiri Asean Coffee Federation.

Sambil bercerita, Tuti mengajak Jawa Pos naik ke lantai 2, melihat tempatnya mengajar di Esperto Barista Course. Di ruangan itu, banyak mesin yang diperlukan untuk menjadi barista. Mulai mesin espresso, mesin brewing, hingga mesin roasting.

”Di sekolah ini, mereka diajari manual brewing (menye-duh secara manual, red). Itu kompetensi yang penting untuk dimiliki seorang barista,” kata dia.

Ya, Tuti kini lebih berfokus di dalam negeri. Perempuan 50 tahun itu mengajar lebih banyak anak muda untuk menjadi barista profesional. Tuti juga menjadi salah satu asesor di Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Barista Indonesia. Menjadi pendidik dan asesor dilakoni karena dia tak rela Indonesia hanya menjadi produsen kopi. Bungsu di antara sembilan bersaudara itu merasa punya tanggung jawab besar untuk membagikan ilmunya agar Indonesia tak kalah oleh negara-negara maju dalam hal penyajian kopi.

Selain itu, masih ada yang mengganjal dalam hati Tuti. Kopi-kopi Indonesia, terutama dari Sumatera, sudah banyak dikenal. Bahkan terbanyak dibeli konsumen Starbucks di seluruh dunia. Namun, dalam beberapa event Cup of Excellence (COE) tingkat internasional, nilai kopi-kopi dari Indonesia masih 80-an. COE adalah kompetisi yang menilai kualitas kopi spesial dari berbagai negara. Untuk kopi dari Indonesia, nilai tertinggi yang pernah diraih 86. Kopi yang dinilai enak oleh para cupper biasanya mendapatkan nilai 90 ke atas. Nilai 90 saat ini diraih kopi dari Panama. Tuti tidak tahu pasti penyebab kopi Indonesia tidak pernah mendapatkan nilai 90.

Namun, Tuti menduga hal itu disebabkan faktor di hulu. Sebab, masih ada petani kopi yang kurang menjaga kebersihan kebun dan pohon kopi. Akibatnya, nutrisi yang terserap pohon kopi sebelum panen kurang maksimal karena diserap tanaman sela.

”Itu masih dugaan. Tapi, untuk lebih jelasnya, saya harus meneliti lagi,” tegas perempuan yang berulang tahun setiap 24 Mei tersebut.

Tuti juga menyoroti Indonesia yang masih mengimpor kertas filter untuk penyeduhan manual. ”Padahal, kita punya pabrik kertas terbesar di Asia. Tapi, tidak ada yang mau memproduksi paper filter itu. Jadinya, harga jual kopi ke konsumen lebih mahal,” keluh penggemar makanan berbahan daging sapi tersebut.

Keresahan-keresahan itulah yang membuat Tuti merasa punya tanggung jawab lebih. Untuk itu, Tuti bersama SCAI dan organisasi kopi spesial dunia Alliance for Coffee Excellence (ACE) bulan lalu menyelenggarakan kompetisi COE di Aceh. Nanti kompetisi serupa digelar di berbagai daerah di Indonesia.

Dengan menggelar kompetisi internasional di daerah-daerah, Tuti berharap petani, barista, dan pelaku industri kopi lainnya bisa bersama-sama meningkatkan kualitas kopi Indonesia. Minimal, supaya kopi lokal bisa mendapatkan nilai 90. Dengan mendapatkan nilai yang tinggi, harga jual kopi Indonesia di pasar internasional juga bisa meningkat. (*)

Merampok Bank dengan Traktor

0

KELOMPOK perampok di Kota Oaxtepec, Meksiko, ini mungkin penggemar film seri The Fast and the Furious. Rencana mereka merampok bank mirip dengan adegan dalam film Fast Five.

Menurut Associated Press, perampok tersebut mencuri sebuah traktor front-end loader. Kendaraan berat itu akan digunakan untuk menggeret brankas bank. Tapi, mereka lupa, traktor tak secepat mobil balap yang dikendarai Dominic Toretto dan kawan-kawan dalam film.

Polisi yang mendapat laporan aksi mereka ti­dak sulit melacak jejak pelaku dari ban besar dan suara kencang traktor. Seorang anggota ke­lompok itu pun dapat ditangkap. (bil/c14/fal)

2 Tahun Tersangka, Markus Nari Ditahan

0

batamnpos.co.id – Anggota Komisi VIII DPR Markus Nari tak banyak berkomentar ketika keluar dari ruang pemeriksaan. Sambil berjalan menuju kendaraan tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), politisi Partai Golkar yang berstatus tersangka kasus kartu tanda elektronik (e-KTP) itu terlihat beberapa kali hanya melempar senyum ke arah awak media. Penyidik KPK memutuskan menahan Markus Nari, Senin (1/4/2019).

Penahanan sekitar pukul 19.55 itu dilakukan setelah hampir dua tahun Markus menyandang status tersangka. Dia disangka merugikan keuangan negara bersama-sama dua pejabat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Irman dan Sugiharto, dalam kasus kakap e-KTP.

KPK sebelumnya juga menetapkan Markus sebagai tersangka dalam kasus meng-halangi penyidikan (obstruction of justice). Anggota dewan yang terpilih dari daerah pemilihan (dapil) Sulawesi Selatan (Sulsel) III tersebut disangka memengaruhi politisi Partai Hanura Miryam S. Haryani untuk memberikan keterangan tidak benar di Pengadilan Tipikor Jakarta pada 2017 lalu.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, pihaknya menahan Markus untuk 20 hari pertama. Markus ditahan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) KPK di Gedung Penunjang Kaveling 4 (K4). Penahanan itu dilakukan karena pertimbangan subjektif dan objektif penyidik. ”Penahanan dilakukan untuk keperluan penyidikan,” ujarnya.

Penahanan Markus menunjukan sinyal bahwa KPK tengah me­lanjutkan kembali kasus e-KTP. Sejauh ini, sudah ada tig­a orang anggota DPR yang ditetapkan sebagai tersangka da­lam kasus tersebut. Selain Mar­kus, sebelumnya KPK ju­ga menetapkan mantan Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) dan mantan anggota Komisi II DPR Miryam S. Haryani.

Perkara Setnov dan Miryam telah berkekuatan hukum tetap (inkracht). Setnov dijatuhi hukuman 15 tahun penjara dan ditahan di Lapas Sukamiskin, Bandung, untuk perkara pokok e-KTP. Sementara Miryam divonis lima tahun penjara terkait dengan kasus obstruction of juctice. Miryam kini mendekam di Lapas Perempuan Klas IIA Jakarta atau Lapas Pondok Bambu. (tyo)

UNBK SMA Digelar 3 Sesi

0
foto: batampos.co.id / cecep mulyana

 

batampos.co.id – pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMAN 1 Batam berjalan lancar. Ujian yang digelar tiga sesi itu dimulai pukul 08.00-16.00 WIB dengan mata ujian pertama Bahasa Indonesia.

Wakil Ketua Pelaksanaan UNBK SMAN 1 Batam Sikat Manulang mengatakan tidak ada kendala saat pelaksanaan hari pertama UNBK. Meskipun hujan di pagi hari, siswa datang tepat waktu, atau 30 menit sebelum waktu ujian berlangsung. Namun demikian, pada sesi pertama sempat ada kesulitan login saat akan mulai ujian tapi bisa diatasi.

Pelaksanaan UNBK juga mendatangkan pengawas dari luar atau silang. Satu ruangan ujian ditugaskan dua orang pengawas untuk mengawasi jalannya ujian. Siswa juga diminta untuk tidak membawa telepon genggam ke dalam ruangan ujian.

Sejauh ini, kata Sikat, siswa berhasil menyelesaikan ujian sesuai dengan waktu yang disediakan. Ia berharap seluruh siswa bisa bisa menyelesaikan ujian dan mendapatkan nilai terbaik. ”Target tetap yang pertama di Kepri. Dan mereka bisa melanjutkan pendidikan ke tahap selanjutnya,” ujarnya.

10 Persen Soal HOTS

Di setiap mata pelajaran yang diujikan dalam UNBK kali ini menyelipkan 10 persen soal HOTS (Higher Order Thinking Skills). Namun bagi siswa SMAN 3, soal-soal HOTS ini tidak menjadi hambatan. Walaupun tingkatan soal HOTS lebih rumit dibandingkan soal-soal lainnya.

”Semuanya bisa diatasi de-ngan baik oleh siswa. Lihat saja wajah-wajah mereka yang tersenyum saat keluar ruangan ujian,” kata Kepala SMAN 3 Batam Vivi Kusuma Effendi, Senin (1/4).

Vivi menjelaskan, HOTS adalah soal dengan pemecahannya membutuhkan kemampuan analisis tinggi. Soal HOTS, bukan sekadar mengandalkan hafalan siswa saja tapi membutuhkan analisa, perbandi-ngan, perhitungan.

”Jadi, siswa tidak hanya sekadar menjawab soal dengan menghafal rumus, namun perlu memahami konsep dari materinya juga. Setiap ujian itu ada 4 soal HOTS,” sebutnya.

Demi memaksimalkan siswanya menghadapi soal HOTS, Vivi mewajibkan guru SMA 3 Batam selalu membuat soal HOTS. Sehingga siswa-siswa menjadi terbiasa dengan soal-soal yang membutuhkan daya analisa yang lebih dalam.

”Sebelum kami ujian soal ini (HOTS, red), gurunya kami latih dulu, sehingga mereka bisa memberikan pemaparan mengenai soal ini,” ucapnya.

Vivi mengatakan UN hari pertama di SMAN 3 berjalan lancar tanpa ada hambatan.

”Karena kami sudah melakukan persiapan dengan baik. Siswa kami siapkan sarana dan pra sarana lainnya. Untuk listrik, kami mendapatkan janji dari PLN tidak akan mematikan listrik selama UN berlangsung,” ucapnya. (yui/ska/eja)

Jukir Liar Didenda Rp 300 Ribu

0

batampos.co.id – Dua juru parkir (jukir) liar yang diciduk tim saber pungli Polresta Barelang jalani sidang kasus tindak Pidana Ringan (Tipiring) di Pengadilan Negeri Batam, Senin (1/4). Keduanya adalah Pardi dan Suprianto yang diamankan pada Minggu (31/3) lalu karena tertangkap tangan memungut uang parkir tanpa izin resmi di lokasi wisata Jembatan Barelang.

Saat persidangan berlangsung, penyidik tim siber pungli juga menghadirkan barang bukti berupa uang pungutan sebesar Rp 150 ribu beserta dengan tiket parkir yang dicetak sendiri oleh pelaku. Sementara menurut pengakuan keduanya, dalam sehari mereka bisa mendapatkan Rp 150-200 ribu hasil pungutan.

“Pungutannya di atas jembatan barelang, besarannya Rp 5 ribu per kendaraan,” ujar keduanya di hadapan Hakim Hera Polosia Ritongga.

Padahal diketahui, lokasi tersebut tidak diizinkan untuk parkir namun kedua tetap memungut untuk pengendara roda dua maupun roda empat.

Akibat pelanggaran tersebut, keduanya dijatuhi denda Rp 300 ribu subsider 3 hari kurungan karena melanggar peraturan daerah (Perda) nomor 3 tahun 2018 tentang penyelanggaraan dan retribusi parkir.

Wakapolres Barelang AKBP Muji Supriadi mengatakan jukir liar yang tidak berizin akan langsung diamankan tim siber Pungli Polresta Barelang. “Kalau ada informasi dari masyarakat langsung kita gerak dan amankan,” katanya.

Selama ini, lanjutnya pihaknya sudah mengamankan jukir liar yang terdapat di beberapa tempat seperti jembatan barelang, pelabuhan dan maupun lokasi lainnya.

“Karena uangnya tidak tahu lari kemana makanya diamankan. Baru-baru ini ada kami amankan satu orang di Pelabuhan Sekupang beserta barang bukti uang sebesar Rp 400 ribu lebih,” tutupnya. (une)

Polisi Amankan WNA Malaysia Bawa 2 Kilogram Sabu

0

batampos.co.id– Subdit II Direktorat Reserse Narkoba Polda Kepri mengamankan seorang Warga Negara Malaysia, Muhammad Hasznizam,28 yang membawa sabu sebanyak 2.116 gram di Pelabuhan Rakyat Kawasan Sekupang, 28 Maret lalu. Dari hasil pemeriksaan pihak kepolisian, Hasnizam disuruh seorang bandar asal Malaysia, untuk mengantarkan sabu itu ke Batam.

“Bandar, pengaturnya, dan yang mengkontak kurir ini semuanya dari Malaysia,” kata Direktorat Reserse Narkoba Polda Kepri Kombes Yani Sudarto, Senin (1/4/2019).

Namun, pihak kepolisian tidak dapat mengembangkan kasus ini. Karena bandar asal Malaysia merasa curiga dan tidak memberikan intruksi lainnya ke Hasnizam. “Nomornya si bandar sudah tidak aktif lagi. Jadi gak tau siapa yang akan menerima barang ini. Walaupun begitu, kami berusaha untuk mengembangkan kasus ini,” ujarnya.

Yani mengatakan penangkapan ini bermula dari informasi masyarakat ke pihak kepolisian. Informasi ini menyebutkan adanya seorang kurir sabu yang datang dari Malaysia, melalui jalur ilegal. Berdasarkan informasi ini, polisi melakukan pemantauan di lokasi tempat turunnya sang kurir. Kamis (28/3) pukul 02.35 polisi melihat seseorang turun dari kapal, dengan menyandang tas ransel.

“Begitu si kurir turun kapal, langsung kami amankan,” ungkap Yani.

Saat diamankan, Muhammad Hasnizam tidak terlihat gugup. Yani mengatakan Hasnizam sangat santai, ketika diperiksa pihak kepolisian. “Kami buka, isi ransel itu hanya baju. Tapi kami periksa lebih seksama, ternyata sabu itu disembunyikan dalam jahitan tas. Kurir ini berusaha menggelabui kami,” ucap Yani.

Ia mengatakan setelah tas tersebut dibongkar, polisi menemukan 6 bungkus sabu seberat 2.116 gram. “Kami berusaha melakukan control delivery, agar tau siapa pemesannya,” tutur Yani.

Dari arahan bandar, Hasnizam diminta untuk datang ke salah satu hotel kawasan Nagoya. Setelah sampai disana, Hasnizam dijadwalkan bandar akan bertemu seseorang. Di hari yang sama, pukul 07.30 polisi berhasil membekuk Maizatul Akmal,23.
“Saat penangkapan Maizatul, bandar sudah mulai mengetahui kurirnya ditangkap,” ucap Yani.

Akibat itu, ponsel si bandar tak bisa lagi dihubungi. Polisi hanya berhasil mengamankan dua orang, yang terlibat dalam jaringan internasional tersebut.

“Dari penangkapan kedua, Maizatul kami mengamankan dua unit ponsel, uang Rp 1juta, KTP dan satu buah tas ransel berisikan beberapa helai pakaian serta lakban bening,” tutur Yani. (ska)

Batam Melirik Wisman Asal Malaysia

0
foto: batampos.co.id / dalil harahap

batampos.co.id – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam akan menggencarkan promosi pariwisata ke berbagai negara di Asia Tenggara dan Asia Timur. Kunjungan Wisman asal Malaysia akan ditingkatkan dengan melakukan promosi langsung ke negara jiran tersebut.

“Kita merencanakan di tahun ini, kita akan ke Jakarta dan Malaysia untuk promosi langsung. Mudah-mudahan jadi. Tetapi ke daerah lain pun akan tetap kita perkenalkan Batam sebagai daerah pariwisata. Caranya kita akan bekerjasama dengan agen tour and travel itu,” Kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Ardiwinata, Senin (1/4/2019).

Selain itu, Pemko Batam juga tetap menggandeng kementerian pariwisata. Pemko juga promosi lewat media sosial.

“Terima kasih kita sampaikan ke kemenpar yang terus mensupport kita. Batam itu selalu dipromosikan di Indonesia dan dunia internasional,” kata Kepala Dinas Pariwisata dan kebudayaan, Ardiwinata.

Menurutnya, Jakarta, Malaysia, Singapura dan negara-negara di Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang dan Korea sangat berpotensi untuk lebih banyak lagi datang ke Batam. Di mana saat ini Singapura masih tetap mendominasi kunjungan ke Batam.

“Kalau tingkat hunian hotel kita juga tinggi. Ini juga bisa sebagai indikator meningkatnya jumlah kunjungan Wisman. dan memang masih Singapura yang mendominasi,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua komisi II DPRD Batam, Edward Brando mengatakan, promosi wisata harus gencar dilakukan. Keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan. Banyak pelaku wisata yang bisa digandeng agar Batam ini lebih dikenal di negara asing, terutama negara tetangga.

Menurut Edward, saat ini masih banyak destinasi wisata yang perlu ditata dan dikelola dengan baik. Ia mencontohkan jembatan Barelang yang terkesan tidak ada kemajuan bila dibandikan jembatan lain yang menjadi ikon sebuah daerah.

“Misalnya di jembatan Ampera Palembang, di sana ditata dengan lampu yang indah. Jembatan Barelang itu bisa dibuat lebih baik dari situ. Di sinilah sinerigitas BP dan Pemko untuk memajukan pariwisata,” katanya.

Ia berharap agar semua elemen masyarakat bisa menjaga Batam. Menciptakan keamanan dan kenyamanan. Sehingga wisatawan nyaman dan aman di Batam. ” jadi kalau ada wisatawan yang sudah ke Batam akan rindu dan ingin liburan kembali ke Batam. Bukan malah tak mau lagi datang,” tutupnya. (ian)

PLN Batam Punya Gardu Induk Tanpa Operator

0
Direktur Utama bright PLN Batam Dadan Kurniadipura menandatangani prasasti peresmian GITO

bright PLN Batam meresmikan Gardu Induk Tanpa Operator (GITO) di kawasan Industri Terpadu Kabil, Nongsa, Batam, pada Senin (1/4/2019) siang.

Dengan adanya GITO diharapkan mekanisme penyaluran daya listrik yang effektif dan effisien dapat dihasilkan dengan maksimal dan mengurangi dampak kerugian akibat transmisi.

Apa sih GITO?

Secara umum Gardu Induk menggunakan operator masih mendominasi sistem kelistrikan di Indonesia. Operator dalam melaksankan tugasnya secara garis besar melakukan pencatatan terhadap parameter kelistrikan.

Dalam konsep gardu induk tanpa operator (GITO) peran operator tergantikan oleh aplikasi teknologi.

GITO merupakan salah satu alternatif dalam mendukung pengendalian terpusat untuk melakukan proses supervisi secara cepat dan akurat.

Supervisi yang cepat dan tepat sangat penting dalam menjaga keekonomian dan keefektifan proses penyaluran energi listrik, dengan mengganti peran operator dalam suatu gardu induk dengan aplikasi-aplikasi perangkat teknologi yang dapat meningkatkan kualitas informasi lebih up to date dan real.

Muhammad Nasir Tadjri, General Manager (GM) Generations adn Transmission Business Unit bright PLN Batam disela-sela peresmian GITO mengatakan perkembangan dan pembangunan GITO di mulai sejak Agustus 2018.

“Meski ditemui berbagai halangan dan kendala, tak menyurutkan tim untuk ragu dan mundur dari pembuatan sistem ini. Dan Alhamdulillah ini bisa diselesaikan secara maksimal,” jelasnya.

Direktur Utama bright PLN Batam Dadan Kurniadipura (kanan) melihat aplikasi GITO.

Sementara itu, Direktur Utama bright PLN Batam Dadan Kurniadipura mengatakan dengan hadirnya GITO menjadi nilai tambah bagi bright PLN Batam dalam rangka efisiensi. Mengingat, biasanya gardu dioperasikan oleh 2 operator setiap shiftnya (ada 3 shift tetap dan 1 cadangan). Namun dengan melakukan modernisasi sistem ini cukup dikontrol secara langsung dari pusat.

“Tujuan program ini adalah untuk revenue melalui keandalan jaringan dengan meningkatkan efektivitas pelaksanaan operasi. Hal ini adalah bentuk komitmen kami di bright PLN Batam untuk selalu bergerak maju dan memberikan yang terbaik untuk Kota Batam, khususnya pelanggan bright PLN Batam,” ujarnya.

Dari 11 Gardu Induk milik bright PLN Batam ada 8 Gardu Induk yang dibuat menjadi GITO karena 3 Gardu Induk berada di sisi pembangkit jadi harus tetap membutuhkan peranan manusia dalam pengoperasiannya. Namun baru 4 yang sudah selesai yakni di Nongsa, Batu Besar, Muka Kuning dan Kabil. Sementara sisanya akan dilakukan pada Juli 2019 mendatang.

Sementara itu, Peters Vincen Direktur Utama Kawasan Industri Terpadu Kabil menyambut baik akan kehadiran Gito di kawasannya.

“Ini sangat membantu kawasan Kabil dan memberikan listrik yang lebih stabil sehingga lebih maksimal, siapa pun investor yang masuk pastinya akan mempertimbangan masalah infrastruktur disebuah kawasan, faktor keandalan listrik di sebuah kawasan Industri. Sehingga mereka bisa lebih maksimal dalam menghasilkan produk.” jelasnya.

“Dengan efisien dan infrastruktur yang ada di Batam, dan dengan stabilitas ini pastinya akan memunculkan pertumbuhan ekonomi yang bagus. Kami sangat berterima kasih kepada bright PLN Batam,” jelasnya.

Selain peresmian Gardu Induk Tanpa Operator pada kegiatan tersebut bright PLN Batam juga memberikan santunan kepada puluhan anak yatim dari beberapa panti asuhan. Santunan diberikan langsung oleh jajaran Direksi bright PLN Batam. (*)

Titiek Soeharto: Negara Harus Kembali Memasyarakatkan Olahraga

0
Mbak Titek (bertopi) senam bersama warga.

Pemerintah harus kembali mengampanyekan olahraga menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Dengan warga yang berbudaya olahraga, Indonesia akan kembali berpotensi besar mencetak prestasi-prestasi olahraga tingkat dunia.

Pernyataan tersebut dilontarkan Siti Hediati Hariyadi atau akrab dikenal dengan Titiek Soeharto saat memperingati puncak acara Peringatan Bulan Soeharto dengan kegiatan Patriot Run, jalan sehat dan senam massal yang digelar di Museum Memorial HM Soeharto, Kemusuk, Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul,  Yogyakarta, hari Minggu pagi 31 Maret lalu. Menurut Titiek, hingga kapan pun semboyan di zaman Pak Harto, ‘Memasyarakatkan Olahraga dan mengolahragakan Masyarakat’, tetap sesuai dengan semangat zaman.

Titiek berkeyakinan, dengan kembali memasyarakatkan olahraga, maka olahraga akan menjadi gaya hidup masyarakat. Telah terbukti di berbagai belahan dunia, negara yang memiliki gaya hidup berolahraga sangat berpeluang mencetak prestasi-prestasi tingkat dunia, tak hanya di bidang keolahragaan.

Titiek mengingatkan kembali saratnya prestasi olahraga Indonesia di zaman Pak Harto. Hal itu tak lepas dari dorongan pemerintah Pak Harto saat itu yang mencanangkan Hari Olahraga Nasional mulai 9 September 1983. Saat itulah mulai bergaung semboyan ‘memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat’.

Tak tanggung-tanggung, demi mewujudkan gerakan nasional itu, Pak Harto merilis Kepres nomor 17 tahun 1984, yang memberikan ruang gerak sangat luas kepada masyarakat untuk melakukan aktivitas olahraga. Pak Harto sangat memahami pentingnya olahraga demi meningkatkan kesehatan dan prestasi hidup.

“Untuk itu Indonesia memberikan prioritas pada pengembangan olahraga yang bisa dilaksanakan bersama-sama oleh masyarakat seperti senam pagi, di samping cabang-cabang olahraga yang sesuai dengan selera masyarakat,“ kata Pak Harto. Di zaman beliaulah Indonesia memiliki senam massal, yakni Senam Pagi Indonesia (SPI) dan Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), yang popular di masyarakat.

Di saat olahraga menjadi bagian kehidupan warga itulah, Indonesia mencatat banyak prestasi di arena olahraga internasional. Saat itu atlet Indonesia mendominasi kancah olahraga Asia Tenggara. Sejak pertama kali Indonesia berpartisipasi dalam pesta olahraga dua tahunan SEA Games (yang sebelumnya bernama SEAP/Southeast Asian Peninsular Games) pada 1977, Indonesia selalu menempati posisi teratas perolehan medali.

Prestasi prestisius lainnya, antara lain Rudy Hartono menjadi juara termuda di All England (1968) dan memegang rekor delapan kali juara. Piala Thomas pun jadi langganan juara Indonesia dari 1970-1990.Tak hanya itu, Indonesia untuk kali pertama memperoleh medali di ajang Olimpiade, tiga Srikandi mendapatkan perak panahan di Seoul 1988. Selain itu, pada Olimpiade Barcelona 1992, Susy Susanti (tunggal putri) dan Alan Budikusuma (tunggal putra), medali emas bulutangkis bisa direbut. Wajar bila berkat jasa besar dalam pembinaan olahraga di tingkat Asia itu,Pak Harto mendapat penghargaan dari Dewan Olahraga Asia (OCA).

Puncak Peringatan Bulan Pak Harto yang digelar Minggu pagi itu diikuti ribuan peserta. Mereka tak hanya datang dari Bantul, melainkan warga kabupaten-kabupaten lain di Yogya, bahkan dari luar provinsi. Tak hanya berolahraga, warga pun bisa mengikuti acara bhakti sosial, antara laian pemeriksaan kesehatan gratis. [*]