batampos.co.id – Sejumlah pusat perbelanjaan atau mal di Kota Batam dipadati pengunjung menjelang pergantian tahun 2019 mendatang. Kondisi itu terlihat di Nagoya Hill Mal, BCS Mal dan Mega Mal.
Pengunjung memadati mal tersebut hingga mengakibatkan lahan parkir dipenuhi kendaraan roda empat maupun roda dua. Kepadatan pengunjung mulai terasa sejak pukul 11.00 WIB dan semakin meningkat pada pukul 13.30 WIB.
“Saya menghabiskan libur hari ini di pusat perbelanjaan karena sekalian belanja dan banyak juga barang-barang yang diskon saat Natal maupun tahun baru,” ujar salah seorang pengunjung, Martha, 34 di Pusat Perbelanjaan Nagoya Hill.
Kepala Pos Pelayanan Nagoya Hill mal, Iptu Awal Syaban Harahap mengatakan, kepadatan pengunjung di Nagoya Hill mal sudah terjadi sejak Sabtu (29/12) lalu. Baik pengunjung lokal maupun turis dari Singapura dan Malaysia.
“Sewaktu libur seperti ini terjadi kemacetan saat di pintu masuk, karena pengunjung Nagoya Hill membeludak sejak kemarin (Sabtu, red). Dua hari ini paling ramai dari hari-hari sebelumnya,” ujarnya.
Dikatakan Awal, Pos Pelayanan di pintu barat Nagoya Hill mal sudah berdiri sejak 23 Desember lalu. Dalam memberikan pelayanan dan memberikan rasa aman kepada pengunjung, satu unit mobil baracuda milik Sat Brimob Polda Kepri disiagakan di lokasi.
“Untuk petugas yang ada di pos, kami membantu untuk mengatur arus lalu lintas, penyeberangan orang, pengecekan atau patroli ke money changer dan sebagainya. Kita siaga disini selama 24 jam dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” imbuhnya. (gie)
Warga Batam memadati alun-alung Engkuputri Batamcentre untuk melihat kembang api seklaigus menyambut pergantian tahun 2017 ke 2018, Senin (1/1). F Dalil Harahap/Batam Pos
batampos.co.id – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Hang Nadim Batam memprediksi cuaca pada malam pergantian tahun dari tahun 2018 ke 2019 untuk daerah Batam cerah berawan.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Hang Nadim Batam, Suratman menjelaskan secara umum untuk 12 kecamatan di Batam diperkirakan cerah berawan, mulai tanggal 31 Desember 2018 hingga 1 Januari 2019 pukul 07.00 WIB.
”Perkiraannya di Batam tidak turun hujan, baik pagi, siang, malam maupun dini hari,” ujarnya, Minggu (30/12).
Dia menjelaskan, cuaca di Batam juga sama dengan daerah lain di Kepulauan Riau (Kepri) seperti di Kabupaten Tanjungbalai Karimun juga diperkirakan tidak akan turun hujan hingga 1 Januari 2019 pukul 07.00 WIB.
”Bagi masyarakat Batam dan Tanjungbalai Karimun yang akan mengadakan acara di luar rumah untuk tahun baru mudah-mudahan tidak terkena hujan,” ucapnya.
Meski demikian, ia mengatakan perkiraan ini berbeda untuk kabupaten lain di Kepri, seperti di Kota Tanjungpinang diperkirakan akan turun hujan pada sore pukul 16.00 WIB dan dini hari pukul 04.00 WIB.
”Perkiraan ini berlaku untuk tiga wilayah di Kota Tanjungpinang, yakni Tanjungpinang Barat, Kota, dan Timur,” jelasnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk daerah Kabupaten Natuna diperkirakan akan turun hujan lokal untuk 13 kecamatan. Hujan akan terjadi pada pagi hari pukul 07.00 WIB, malam pukul 19.00 WIB, dan dini hari pukul 04.00 WIB.
”Natuna akan lebih sering hujan dibanding Kota Tanjungpinang,” sebutnya.
Selain itu, jelang pergantian tahun untuk Kabupaten Lingga juga diprediksi akan turun hujan pada pagi dan dini hari. Sedangkan di Kabupaten Bintan juga akan turun hujan pada sore dan dini hari, termasuk Kabupaten Anambas juga diprediksi akan hujan pada pagi dan dini hari serta berawan pada pukul 19.00 WIB.
”Jadi memasuki tahun 2019, perkiraanya di Kepri hanya Batam dan Tanjungbalai Karimun yang tidak akan hujan,” imbuhnya.
Namun, untuk perjalanan laut dan aktivitas kelautan harus selalu waspada terhadap gelombang tinggi, terutama daerah perairan Lingga, Bintan, Natuna, dan Anambas.
”Sebab di wilayah-wilayah tersebut masih berpotensi akan turun hujan,” tuturnya.(cr2)
batampos.co.id – Klub renang Central Aquatic Club (CAC) bekerja sama Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Provinsi Kepri dan PRSI Kota Batam menggelar Pelatihan Pelatih Renang Sertifikasi D, di Politeknik Batam, Sabtu (12/1) dan Minggu (13/1). Pelatihan ini akan dikuti sebanyak 40 pelatih renang se-Kepri.
Ketua Umum PRSI Kota Batam, M Al Ichsan menyambut baik pelatihan yang diselenggarakan CAC. Menurutnya upaya ini akan meningkatkan kualitas dan perfoma pelatih dalam pembinaan atlet renang.
”Ini adalah upaya baik dari CAC dalam meningkatkan kualitas pelatih renang di Batam. PRSI menyambut baik upaya untuk pembinaan renang dan komponen di dalamnya,” tutur Ichsan, Minggu (30/12/2018).
Dia menyampaikan peningkatan pembinaan renang adalah tugas dan kewajiban semua pihak, termasuk klub.
”Sebagai sebuah klub yang baru terbentuk, CAC berusaha untuk meningkatkan manajemen pengelolaan klub melalui kebersamaan dan profesionalitas,” terangnya.
”CAC juga berupaya untuk menciptakan iklim saling support antarklub renang dan PRSI Kota Batam. PRSI Kota Batam sangat mendukung apapun kegiatan yang berorientasi pada kemajuan renang dan peningkatan prestasi,” papar Ichsan.
Ketua Panitia Pelatihan Pelatih Renang Sertifikasi D Putra mengatakan dilaksanakannya kegiatan ini untuk memberikan pemahaman lebih para pelatih renang di Batam dan Kepri.
”Ini menjadi satu langkah untuk melakukan standarisasi kepelatihan renang di Batam dan Kepri,” tuturnya.
Selain itu, lanjutnya, juga untuk meningkatkan kemampuan pelatih renang di Batam dan Kepri demi prestasi yang lebih tinggi lagi di masa mendatang. Dengan kondisi geografis Batam dan Kepri yang bisa dikatakan adalah kawasan kepulauan, maka olahraga air seperti renang harus menjadi olahraga unggulan.
Putra juga menjelaskan kegiatan ini digelar dalam rangka peresmian CAC sebagai salah satu klub yang secara resmi terdaftar sebagai anggota PRSI Kota Batam. Keberadaan CAC, lanjut Putra, juga dimaksudkan untuk membantu pembinaan renang di Kota Batam.
Dalam pelatihan pelatih renang sertifikasi D, sedianya akan diikuti oleh pelatih renang Batam dan Kepri.
”Karena keterbatasan waktu dan tempat kami hanya membuka kuota untuk 40 orang pelatih saja. Pelatihan ini digelar dua hari, dengan pembagian teori sebanyak 60 persen dan praktik 40 persen,” jelasnya.
Lokasi pelatihan terbagi menjadi dua tempat. Untuk pemberian teori dilaksanakan di Politeknik Negeri Batam. Sedang praktik akan dilaksanakan di Kolam Renang The Central Sukajadi. Peserta yang ingin mengikuti pelatihan ini dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp 1.750.000. Peserta akan mendapatkan seragam, modul kepelatihan baik itu hard copy maupun soft copy, dan juga sertifikat.
Pemateri dalam pelatihan pelatih sertifikasi D ini, lanjut Putra, akan dihadirkan langsung dari Pengurus Besar (PB) PRSI.
”Pemateri utama adalah Suroyo, dari Komisi Rule and Regulation PB PRSI. Didampingi Afrizal juga dari PB PRSI,” beber Putra.
Beberapa materi yang akan diberikan dalam pelatihan ini adalah beberpa hal yang berkaitan dengan kepelatihan dan juga mempersiapkan seorang atlet dari awal hingga menjadi atlet yang berprestasi.
”Karenanya kepelatihan ini sangat penting artinya bagi pelatih renang di Batam dan Kepri. Pelatihan ini akan memberikan banyak manfaat dalam pembinaan atlet renang,” jelasnya.
Putra mengimbau agar pelatih renang di Batam dan Kepri segera mendaftarkan diri untuk mengikuti pelatihan ini.
”Segera daftarkan diri, jangan lewatkan kesempatan ini. Bagi yang berminat bisa langsung menghubungi panitia,” tutup Putra.(yan)
Berpuluh tahun mengandalkan hidup sebagai nelayan dengan pendapatan serba pas-pasan, warga Kampung Tua Tanjungpiayu Laut kini terpacu mengubah keadaan. Ketika kampung di pesisir Pulau Batam itu ditunjuk menjadi Kampung Berseri Astra (KBA) Batam di wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), secercah asa menjalari segenap warga untuk mewujudkan perubahan menuju kehidupan yang lebih sejahtera.
RATNA IRTATIK, Batam
Harinah, 63, menumpahkan keluh kesah penyakit yang dirasakannya kepada dokter Fajar dan dokter Puspa, dua dokter muda di hadapannya. Lansia warga Kampung Tua Tanjungpiayu Laut itu mengaku perutnya sering perih jika telat mendapat asupan makanan. Badannya yang mulai renta itu juga diakuinya sering lemah saat perutnya melilit.
“Telapak kaki saya juga sering sakit, susah digerakkan,” keluh Harinah, sembari mengangkat telapak kaki kirinya, yang kala itu tanpa mengenakan alas.
Pemeriksaan kesehatan dari Program KBA Batam untuk warga Tanjungpiayu Laut. f. ratna/batam pos
Dokter Fajar kemudian mendiagnosa Harinah menderita sakit magh. Terkait sakit di kakinya, dokter yang praktik di Puskesmas Seipancur, Kecamatan Seibeduk, Kota Batam itu menyimpulkan wanita lanjut usia (lansia) itu menderita sakit asam urat.
“Nenek kurangi makan sayur daun ubi ya, boleh makan tapi sedikit saja. Kacang-kacangan juga jangan dimakan dulu,” saran dokter Fajar. Harinah mengangguk.
Dokter muda itu kemudian menyerahkan tiga kantong obat kepada Harinah. Setelah diberi penjelasan jadwal minum obat, wanita yang rambutnya mulai memutih itu pamit, tak lupa ia mengucapkan terima kasih.
“Saya agak sakit, makanya periksa. Tapi sudah dikasih obat,” kata Harinah, yang kemudian pamit pulang karena mengaku sedang tak enak badan.
Ketika Harinah beringsut, giliran Saamah yang bergeser untuk duduk. Persis di hadapan dokter Puspa, ia menyodorkan lengan kanannya agar diperiksa tekanan darahnya. Beberapa menit berlalu, wanita berhijab itu didiagnosa menderita darah tinggi.
“Tekanan darah ibu 160/100, nanti minum obat ya, sekali saja sehari,” kata dokter Puspa usai melihat alat pengukur tekanan darah digital di hadapannya.
Saamah menerima obat yang diberikan. Ia tersenyum lalu pamit berdiri, keluar dari deretan tempat duduk. Ia kemudian menyalami Batam Pos yang telah menunggunya.
Saat itu, memang sedang diadakan pemeriksaan kesehatan rutin dan gratis bagi warga Kampung Tua Tanjungpiayu Laut yang digelar oleh PT Astra International Tbk melalui program Kampung Berseri Astra (KBA) Batam. Menggandeng tenaga medis dari Puskesmas Seipancur, acara itu diadakan di sebuah balai pertemuan kecil di depan rumah Saamah, yang berada di RT 01/RW 10 Tanjungpiayu Laut pada Sabtu (22/12/2018) lalu.
Saamah kemudian bertutur, kala itu dirinya tidak sedang merasakan sakit. Namun, ia tetap ingin memeriksakan diri.
“Saya periksa rutin saja, cek tensi darah mumpung gratis. Kata bu dokter agak tinggi, makanya saya dikasih obat,” katanya sembari menunjukkan bungkus obat dalam kemasan plastik berwarna biru di tangan kirinya.
Menurut Saamah, pemeriksaan kesehatan rutin dari program KBA di tengah-tengah permukiman warga pada tanggal 22 tiap bulannya itu dinilai sangat membantu masyarakat. Betapa tidak, warga yang tinggal di Kampung Tua Tanjungpiayu Laut tersebut sebelumnya memang tak bisa rutin menjangkau layanan kesehatan umum. Pasalnya, untuk bisa memeriksakan diri ke layanan medis dari pemerintah seperti Puskesmas Seipancur, warga harus menempuh perjalanan sekitar 7 kilometer (km) jauhnya.
“Yang benar-benar sakit atau yang tak kuat jalan saja yang dicarikan kendaraan lalu dibawa ke sana. Kalau yang cuma periksa-periksa biasa, bisa datang rutin ke sini,” tuturnya.
Selain faktor jarak, warga Tanjungpiayu Laut yang mayoritas menekuni pekerjaan sebagai nelayan, pilih melaut mencari ikan untuk menyambung hidup ketimbang harus pergi jauh untuk memeriksakan kesehatan ke Puskesmas. Sedangkan bagi kalangan wanita yang tak ikut melaut, biasanya tinggal di rumah mengasuh anak atau memasak. Namun, ada juga sebagian kaum wanita yang sudah berkeluarga dan ikut membantu suami melaut. Misalnya, membantu memasang bubu, alat tangkap ikan sederhana yang biasanya dianyam dari bambu.
Itulah sandaran hidup warga, meski hasil yang didapat tak seberapa, namun tetap dilakoni demi memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan, rutinitas itu yang menyita waktu dan perhatian sebagian besar warga, sehingga banyak yang kadang mengabaikan kesehatannya.
Karena itu, hadirnya pemeriksaan kesehatan di tengah warga Tanjungpiayu Laut setidaknya bisa memangkas jarak, sekaligus mendorong kesadaran warga untuk rutin memeriksakan dirinya. Tak heran jika kemudian Saamah menyebut dalam beberapa waktu terakhir, jumlah warga yang bersemangat memeriksakan diri ke layanan kesehatan yang diadakan KBA Batam terus meningkat.
“Ya karena periksa kesehatan di sini lebih mudah, dekat, gratis pula. Semua orang kan inginnya sehat,” ujarnya.
Selain pemeriksaan kesehatan rutin bagi kalangan lanjut usia (lansia) dan dewasa setiap tanggal 22 setiap bulannya, program KBA juga menghadirkan pemeriksaan kesehatan untuk bayi di bawah lima tahun (balita) dan anak-anak dengan mengadakan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) tiap tanggal 16 saban bulannya. Kegiatan ini selain bekerja sama dengan kader posyandu dari pemerintah, biasanya juga menggandeng lembaga pendidikan yang fokus di bidang kesehatan.
“Sudah beberapa waktu ini berjalan dan masyarakat yang punya bayi juga rutin periksa,” kata Saamah.
Tak hanya pemeriksaan kesehatan, pada momen tertentu, KBA Batam juga menggelar penyuluhan dan sosialisasi tentang kesehatan yang menyangkut suatu jenis penyakit. Misalnya, pada 21 Oktober 2018 lalu digelar diskusi tentang osteoporosis, sempena peringatan Hari Osteoporosis Dunia. Kemudian, pada pada Kamis 22 November 2018 digelar penyuluhan kesehatan tentang penyakit diabetes dan pentingnya menjaga kesehatan, juga sempena Hari Diabetes se-Dunia. Nyatanya, warga antusias menyambutnya.
“Dengan adanya kegiatan ini saya merasa senang dan terbantu, karena kami jadi lebih paham lagi untuk menjaga kesehatan,” ucap Kusmadi, 59, warga lain yang juga tinggal di RT 01/RW 10 Tanjungpiayu Laut.
Selain itu, pada 13 Oktober 2018 lalu juga diadakan acara penyuluhan kesehatan tentang pentingnya cuci tangan di SDN 002 Seibeduk, RT 01/RW 10 Tanjungpiayu Laut. Para murid sekolah itu juga diajak simulasi mencuci tangan agar tetap sehat.
Nurma (kiri) mendapat bimbingan tentang menghitung HPP dari pemilik usaha Bayam Edan Batam, Hafidz. f. instagram kba.batam
Selain kesehatan, program KBA Batam yang merupakan bentuk tanggung jawab sosial perusahan atau Corporate Social Responsibilty (CSR) dari grup Astra itu juga mendorong agar warga Tanjungpiayu Laut mengembangkan potensi yang ada melalui tiga pilar lainnya. Yakni, pengembangan ekonomi melalui kewirausahaan, mendorong peningkatan kapasitas diri melalui bidang pendidikan dan juga ikut menjaga lingkungan.
Misalnya di bidang pengembangan kewirausahaan. KBA Batam aktif memberikan pendampingan bagi pelaku atau perintis usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Tanjungpiayu Laut.
Jika sebelumnya warga Tanjungpiayu Laut mayoritas hanya mengandalkan pendapatan dari hasil melaut, lambat laun mulai banyak warga yang mencoba peruntungan dengan berwirusaha. Meskipun, dengan skala yang masih sangat kecil. Misalnya, berjualan keripik pisang, keripik peyek kacang, peyek teri, keripik royco original dan pedas, membuat kerajinan tangan dari cangkang gonggong yang merupakan siput laut khas perairan Provinsi Kepri, berjualan ikan asin dalam kemasan, dan beberapa jenis wirausaha lainnya.
KBA Batam kemudian mendukung pengembangan usaha tersebut. Selain memberikan pendampingan dengan mendatangkan pelaku usaha di Batam yang sudah lebih dulu sukses untuk berbagai ilmu dan memberi pengarahan, KBA Batam juga membantu memberikan bantuan usaha. Seperti, membuatkan kemasan produk yang lebih modern agar bisa masuk ke segmen pasar yang lebih luas.
Sebut misalnya, bantuan membuatkan kemasan untuk produk keripik pisang milik Rentina. Jika sebelumnya keripik pisang yang dijual Rentina hanya dikemas dengan plastik bening biasa, kini dengan kemasan bantuan KBA, tampilannya lebih modern dan enak dipandag.
Berbahan dasar aluminium foil di sisi belakang sedangkan bagian depannya plastik transparan, lengkap dengan tempelan merek dan tanggal pembuatan serta batas waktu kedaluwarsanya. Banana Chips Mrs Rentina, Kripik khas Tanjungpiayu Laut. Begitu bunyi label di bagian depan kemasan, lengkap dengan gambar keripik pisang goreng berwarna kekuningan. Sementara bagian atasnya, merupakan klip yang bisa dibuka tutup berulang kali.
“Sekarang memang lebih bagus kemasannya, semoga bisa terjual semakin luas di Batam ini,” harap Rentina, sembari menyiapkan pisang yang akan digorengnya menjadi keripik.
Menurut ibu dua orang anak tersebut, membuat keripik pisang adalah usahanya untuk membantu ekonomi keluarga. Karena sebelumnya, keluarga ini hanya menyandarkan hidup dari hasil kerja sang kepala keluarga, Edi, sebagai nelayan.
“Saya juga dulu kadang membantu suami melaut, saya bisa ikut pasang bubu,” ujarnya.
Namun, lambat laun, kebutuhan ekonomi meningkat. Maka terbersitlah keinginan untuk membuat sesuatu yang bisa dijual guna menambah pundi-pundi pendapatan keluarga. Hingga, ia memilih mengiris tipis pisang kepok dan dijadikan keripik pisang. Tak dinyana, keripik pisangnya diterima dan disukai warga sekitar. Permintaan meningkat. Bahkan, beberapa rumah makan khas makanan laut (seafood) yang mulai banyak berdiri di pesisir Tanjungpiayu Laut, juga menerima keripik pisang miliknya.
“Saya bersyukur sekarang ada pelatihan usaha dan juga bantuan kemasan dari KBA Batam. Warga yang berminat bikin usaha sampingan juga semakin banyak sekarang,” tuturnya.
Selain Rentina, warga Tanjungpiayu Laut lainnya yang juga merasakan manfaat dari hadirnya program KBA adalah Nurma. Ia adalah pengrajin bunga hias dari cangkang gonggong. Nurma mengaku sudah beberapa kali difasilitasi KBA Batam yakni dipertemukan dengan mentor yang juga pelaku usaha dan sudah berpengalaman menjalani usaha. Salah satunya, Hafidz, pemilik usaha Oleh-oleh Keripik Bayam Edan Batam. Nurma mengaku diajari menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) agar kerajinan gonggong yang ia buat bisa mendapatkan keuntungan.
“Jadi nanti bisa membedakan, mana keuangan pribadi dan keuangan usaha,” kata Nurma.
Hal itu, sambung Nurma, juga penting lantaran pelaku usaha baru seperti dirinya kadang masih bingung bagaimana membedakan modal usaha dengan uang pribadi. Tak hanya itu, ia juga mengaku mendapat ilmu bagaimana agar produk yang dihasilkannya semakin terlihat estetik dan berkelas. Sehingga, pangsa pasarnya juga semakin luas.
“Sekarang tambah semangat. Mudah-mudahan nanti dibantu juga mencari pembeli lebih banyak,” harapnya sembari terkekeh.
Tak hanya di bidang ekonomi melalui kewirausahaan, gelora untuk mengubah hidup makin baik dan sejahtera juga menghinggapi warga Kampung Tanjungpiayu Laut yang ingin agar anak-anaknya kelak mendapatkan pendidikan yang layak. Lewat kerja sama antara Astra dengan Bank Permata, dihadirkan program beasiswa pendidikan KBA Batam bagi 35 anak warga Tanjungpiayu Laut. Tujuannya, untuk meningkatkan semangat belajar anak-anak di kampung tersebut. Untuk murid jenjang SD, tiap semester mendapatkan bantuan beasiswa Rp 480 ribu. Sedangkan siswa SMP dapat Rp 600 ribu per semester. Pembukaan tabungan beasiswa dilaksanakan di RT 02/RW 10 Kampung Tanjungpiayu Laut pada 30 Oktober 2018 lalu.
Kamariah, warga yang tinggal di RT 01/RW 10 mengaku sangat senang dan terbantu dengan adanya program beasiswa pendidikan dari KBA Batam. Dengan itu diharapkan bisa membantu anak-anaknya mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik ke depannya.
“Terima kasih banyak atas beasiswanya. Semoga anak-anak kami bisa terus sekolah tinggi,” tutur wanita 49 tahun tersebut.
Supriadi dan tim Relawan Nusantara ikut gotong royong membersihkan lingkungan tempat tinggal warga di Tanjungpiayu Laut. f. instagram kba.batam
Sementara untuk kehidupan sosial kemasyarakatan, KBA Batam juga ikut mendorong masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan tempat tinggalnya. Hal itu disambut baik masyarakat Tanjungpiayu Laut. Beberapa waktu lalu, warga mau bekerja sama dan bergotong royong membersihkan lingkungan.
Seperti, pada 2 Agustus 2018 lalu diadakan gotong royong membersihkan rumput dan membuat aliran air di sekitar tempat tinggal warga, khususnya di sekitar lapangan RT 01/RW 10. Sekitar 15 orang hadir di acara itu. Ada yang membabat rumput gajah yang tumbuh tinggi, namun ada juga yang mencangkul dan membuat aliran air menuju parit.
Bahkan setelah itu, pada Sabtu (30/9/2018), KBA Batam juga memfasilitasi gotong royong membersihkan kampung dan membuat mini garden di Tanjungpiayu Laut. Acara yang dilaksanakan dari pagi hingga sore hari itu juga dibantu tim dari Relawan Nusantara sebanyak 19 orang serta unsur dari warga dan perangkat RT 01 dan 02/RW 10 Tanjungpiayu Laut.
“Kami bersyukur karena banyak yang peduli dengan lingkungan tempat tinggal kami. Warga juga makin kompak gotong royong,” kata Yanto, warga RT 01 Tanjungpiayu Laut.
***
Semangat Mengejar Ketertinggalan
Kampung Tua Tanjungpiayu Luat berada di ujung timur Pulau Batam. Meskipun masih satu daratan dengan pulau utama (mainland) Batam, namun perkembangan kampung ini tidak terlampau pesat seperti wilayah lain di Batam.
Sejak Batam dikembangkan pemerintah pusat dan kemudian dibentuk Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam atau yang lebih dikenal dengan Otorita Batam pada awal tahun 1970-an, pulau yang berhadapan langsung dengan negara tetangga, Singapura ini memang mengalami kemajuan pesat. Puluhan kawasan industri dibangun. Ratusan investor yang mayoritas dari luar negeri berduyun-duyun masuk dan membangun pabrik di Batam.
Pemerintah bahkan menetapkan Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas atau free trade zone (FTZ). Artinya, diberlakukan kebijakan penghapusan bea masuk dan pajak dalam perdagangan internasional. Dengan begitu, barang-barang dari luar negeri yang masuk ke Batam tidak dikenakan beberapa jenis pajak. Seperti, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) maupun Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM).
Pertumbuhan Batam kian moncer dari tahun ke tahun. Seiring kemajuan tersebut, jumlah penduduk juga terus meningkat. Itu karena, jumlah pendatang dari berbagai daerah lain di Indonesia yang mengadu nasib ke kota ini juga tinggi. Beberapa kawasan kemudian ikut berkembang, baik sebagai kawasan perdagangan yang ramai seperti di Jodoh dan Nagoya, kawasan wisata terpadu dan resort di Nongsa, maupun berdirinya kawasan perumahan elite di sekitar Batam Center.
Namun ternyata, derap kemajuan ekonomi di pusat Kota Batam tak selaras dengan yang terjadi di beberapa kawasan pesisir. Salah satunya di Kampung Tua Tanjungpiayu Laut ini.
“Karena akses jalan dari sini langsung ke Batam dulu tidak ada. Jalan yang menghubungkan sekarang ini, baru dibangun sekitar tahun 2003, sebelumnya itu (akses jalan) hutan belantara,” tutur Ketua RT 02/RW 10 Kampung Tua Tanjungpiayu Laut, Budiyanto.
Dulu, ia mengenang, warga Tanjungpiayu Laut yang hendak pergi ke Batam biasanya menaiki sampan atau perahu kecil menuju dermaga kecil berupa jembatan pelantar dari kayu di kawasan Telaga Punggur, Kecamatan Nongsa, Kota Batam. Dari sana, warga melanjutkan perjalan darat ke tempat yang dituju di Batam.
“Itulah kenapa kami lambat berkembangnya. Baru sekitar 10 tahun ini kami bisa cepat menuju ke Batam,” tuturnya.
Selain itu, sambung Budi, mayoritas warga Tanjungpiayu Laut masih mengandalkan hidup dengan bergantung pada laut, yakni sebagai nelayan. Namun, penghasilan sebagai nelayan tak menentu. Terlebih, saat musim angin kencang atau cuaca buruk melanda. Seperti, saat musim angin utara. Saat musim ini datang, ombak tinggi menerjang. Biar selamat, nelayan pilih menepi dan menambatkan perahu. Pendapatan pun tak menentu lagi. Begitu roda perputaran ekonomi warga pesisir Tanjungpiayu Laut sebelumnya.
“Makanya, ketika program KBA Batam itu datang dan memilih kampung kami, tentu kami sangat senang. Apalagi, ada juga program untuk mengembangkan kewirausahaan, yang bisa jadi alternatif kami menyambung hidup selain sebagai nelayan,” jelas Budi.
Selain itu, Budi juga berharap agar program lain yang dicanangkan KBA Batam makin melecut semangat warga untuk terus meningkatkan kapasitas dan kualitas hidupnya. “Tentu kami ingin maju seperti daerah lain, mengejar ketertinggalan lewat program Astra ini,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Lurah Tanjungpiayu, Syamsul Rizal. Menurutnya, program KBA Batam untuk warga Kampung Tanjungpiayu Laut sangat bermanfaat. Pasalnya, empat pilar program yang dilaksanakan KBA Batam di kampung tua itu mampu menggerakkan sekaligus memberikan dorongan agar warga bisa hidup lebih sejahtera.
“Misalnya untuk pelatihan kewirausahaan, saya minta warga menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya sehingga muncul pengusaha-pengusaha baru yang bisa menggerakkan roda perekonomian,” kata Syamsul.
Bahkan, Syamsul juga berharap agar perusahaan-perusahaan lain di Batam mau ikut berkontribusi seperti yang dilakukan PT Astra International Tbk melalui program KBA. Terlebih, di Kecamatan Seibeduk yang juga merupakan satu kecamatan yang sama dengan Kampung Tanjungpiayu Laut, terdapat banyak perusahaan asing. Misalnya, di kawasan industri Batamindo, Mukakuning.
“Kita berharap agar perusahaan di wilayah Seibeduk mau peduli dengan menyalurkan CSR-nya untuk warga kami,” harapnya.
Sementara itu, Fasilitator Program KBA Batam, Supriadi mengatakan empat pilar KBA yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan sudah dijalankan semua di Kampung Tanjungpiayu Laut. Supri, panggilan akrabnya, juga melihat dan merasakan semangat warga Tanjungpiayu Laut untuk memperbaiki kualitas hidupnya juga kian meningkat seiring waktu.
“Tentu kami akan terus mendorong sehingga target agar warga Kampung Tanjungpiayu Laut bisa semakin sejahtera itu insyaallah bisa terwujud,” katanya.
Bahkan, Supri berharap Kampung Tua Tanjungpiayu Laut ini bisa berkembang dan menjadi kampung wisata di Batam. Mengingat, potensi yang dimiliki kampung ini cukup banyak. Antara lain, berada di pinggir laut dan suplai makanan laut juga cukup banyak sehingga bisa dijadikan destinasi wisata kuliner seafood unggulan di Batam.
“Saat ini kan sudah ada beberapa rumah makan dan investor yang membangun restoran seafood tepi laut di dekat sini, kita harapkan itu terus berkembang sehingga banyak yang datang ke wilayah ini,” ujar Supri.
Namun, ia ingin agar tak hanya kuliner saja yang diandalkan jika Tanjungpiayu Laut telah jadi kampung wisata. Namun juga, bisa memiliki dampak luas dan melibatkan masyarakat dalam pengembangannya. Ia mencontohkan, masyarakat bisa ikut menata kawasannya sehingga pemandangan ke tepi laut juga makin indah dan menarik. Selain itu, bisa dikembangkan juga untuk wisata memancing, dipadu atraksi budaya dan lain sebagainya.
“Nah, nanti masyarakat juga bisa menyediakan homestay. Nanti pelan-pelan program kita juga akan mengarah ke sana,” tutupnya. ***
batampos.co.id – Proses pencetakan KTP Elektronik di Kecamatan Seibeduk sampai saat ini masih terkendala. Pasalnya, blangko e-KTP kosong. Akibatnya, masyarakat kembali harus menunggu untuk mendapatkan e-KTP.
Dipastikan, kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kecamatan lainnya. Karena, blangko e-KTP dari Pusat, didistribusikan oleh Disduk Capil ke setiap kecamatan masih kosong.
“Kami minta masyarakat bersabar. Mudah-mudahan blangkonya cepat datang,” ujar Camat Seibeduk, Science Taufik Riyadi.
Science tidak menyampaikan jumlah pengajuan pembuatan e-KTP yang menumpuk. Namun dapat dipastikan, jumlahnya cukup banyak. Pasalnya, pengajuan di tahun 2018 masih banyak yang belum terlayani.
Hal senada juga disampaikan Camat Sagulung, Reza Khadafi. Reza mengatakan kekosongan blangko e-KTP disebabkan keterlambatan pendistribusian dari pusat.
“Kecamatan hanya membantu manfasilitasi agar masyarakat dekat,” jelasnya.
Mengantisipasi hal ini, pihak kecamatan telah lama memberlakukan surat keterangan (Surket). Bagi masyarakat yang sudah melakukan perekaman e-KTP namun bemum memperoleh KTP maka, akan diberi surat keterangan.
Surket tersebut berlaku selama tiga bulan. Jika masa aktif habis, masyarakat kembali harus melapor ke kecamatan.
“Namun ini masih menjadi polemik. Beberapa bank mau manerimanya dan melayani masyarakat. Namun ada juga yang tidak menerimanya,” kesahnya.
Beberapa waktu lalu, Camat Batuaji, Ridwan juga membenarkan jika saat ini masih banyak berkas pengajuan pembuatan e-KTP yang menumpuk. Tak hanya di tahun 2018, pengajuan di tahun 2017 juga masih ada yang belum selesai.
“Tapi yang pengajuhan 2017, tidak banyak lagi,” sebutnya.
Ridwan menyebut, saat ini Disduk Capil mengutamakan pencetakan e-KTP pengajuan pembuatan baru. Sementara, yang mengajukan penggantian harus menunggu. hal ini sesuai arahan pusat. (une)
Pemegang konsesi mengelola air bersih di Pulau Batam, PT Adhya Tirta Batam (ATB) telah menjadi benchmark perusahaan air dengan pengelolaan terbaik, efisien dan profesional. Sebuah anugerah besar bagi Pulau Batam yang cadangan air bakunya terbatas memiliki ATB sebagai operator handal dan profesional dibidangnya, sehingga dapat memberikan dukungan pada Pulau Batam sebagai daerah tujuan investasi.
Konsep Smart Water Management System diterapkan ATB untuk memenuhi kebutuhan air bersih pelanggan. Aplikasi ATB SCADA terintegrasi mampu meningkatkan efisiensi operasional. Melayani lebih dari 270.000 pelanggan bukanlah hal yang mudah. Namun ATB mampu memberikan kontinuitas layanan 23,8 jam per hari dan tingkat kebocoran tahunan 16%.
Kualitas layanan yang diberikan ATB senantiasa selaras dengan pencapaian visi misi dan nilai-nilai inti perusahaan. Kinerja terbaik ATB ini menorehkan prestasi dengan keberhasilan meraih berbagai penghargaan dari lembaga kredibel dibidangnya. Sebut saja Top BUMD, DataGoVAi Award, SNI Award, Anugerah Batam Madani hingga Penghargaan Pembayar Pajak Terbesar berhasil diraih ATB sepanjang tahun ini.
ATB sangat menyadari pentingnya menerapkan teknologi demi menghasilkan pelayanan prima bagi pelanggan. Meskipun konsesi akan berakhir pada 2020, sama sekali tidak menyurutkan semangat ATB. Justru ATB semakin gencar meningkatkan performanya dalam melayani kebutuhan air bersih pelanggan di Batam.
“Menjadi jawara itu mudah, tapi untuk tetap mempertahankan sebagai yang terbaik adalah sebuah PR besar. Perkembangan era digital yang semakin pesat, ATB juga harus mampu mengikuti ritmenya agar bisa mengidentifikasi setiap kebutuhan dan faktor kepuasan pelanggan. Akhir konsesi, justru ATB tetap memberikan yang terbaik seperti biasanya kepada pelanggan dan kualitas terus ditingkatkan dengan beragam inovasi”, jelas Maria Jacobus, Head of Corporate Secretary pada Jumat (28/12/2018).
Kepuasan pelanggan merupakan salah satu komitmen utama ATB demi memberikan pengalaman terbaik dan peace of mind bagi pelanggan. Melalui Smart Water Management System, ATB menghadirkan kanal digital media sosial yang dapat mengakomodir kebutuhan pelanggan secara lebih efisien.
ATB senantiasa menjaga kepercayaan dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Kesuksesan dan meraih penghargaan memang membanggakan. Namun kesuksesan melayani pelanggan bagi ATB tidak terbatas pada kemudahan informasi maupun transaksi saja, tetapi juga bagaimana pengalaman pelanggan secara keseluruhan selama berlangganan air bersih ATB. Komitmen ATB memberikan pelayanan prima menjadikan ATB satu-satunya operator air bersih terpercaya dan tak terganti. (*)
batampos.co.id – Operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) membongkar sejumlah fakta mencengangkan.
Misal, proyek yang menjadi objek suap salah satunya ternyata terkait pengadaan pipa high density polyethylene (HDPE) untuk tanggap bencana tsunami Palu-Donggala-Sigi, Sulawesi Tengah.
Jaringan pipa di Palu memang mengalami kerusakan parah akibat gempa 7,4 skala richter (SR) yang terjadi September lalu.
Kondisi tersebut membuat jaringan air minum setempat terputus. Kondisi serupa juga terjadi di Donggala, wilayah tetangga Palu.
”KPK mengecam keras karena dugaan suap ini salah satunya terkait proyek di daerah bencana,” kata Wakil Ketua KPK Saut Situmorang, Minggu (30/12/2018)
Saut menjelaskan, suap itu diterima kepala satuan kerja (satker) sistem penyediaan air minum (SPAM) darurat Kementerian PUPR Teuku Moch. Nazar. Nilai suap sebesar Rp 2,9 miliar. Duit haram itu diperoleh dari Budi Suharto, Direktur Utama PT Wijaya Kusuma Emindo (WKE) yang sesuai kesepakatan bakal mendapat proyek strategis tersebut.
Selain proyek tanggap bencana, fakta lain yang membuat dahi berkernyit adalah latar belakang penyuap. KPK menetapkan empat tersangka pemberi suap. Yakni, Budi Suharto, Lily Sundarsih Wahyudi (Direktur PT WKE), Irene Irma (Direktur PT Tashida Sejahtera Perkasa/TSP) dan Yuliana Enganita Dibyo (Direktur PT TSP).
Nah, tiga di antara empat penyuap itu ternyata merupakan satu keluarga. Budi Suharto merupakan suami Lily Sundarsih.
Sedangkan Irene Irma adalah anak dari pasangan tersebut.
Mereka tercatat tinggal di satu alamat yang sama. Yakni, Jalan Kayu Putih Selatan No. 15 Kelurahan Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur.
KPK menduga dua perusahaan yang dimiliki satu keluarga itu sudah lama berkecimpung dalam proyek penyediaan air minum. Dugaan itu dikuatkan dari catatan lelang Kementerian PUPR. Sepanjang 2017-2018, PT WKE dan PT TSP telah memenangkan 12 paket proyek di Kementerian PUPR. Bila diakumulasi, keseluruhan proyek yang digarap bernilai Rp 429 miliar.
”PT WKE diatur untuk mengerjakan proyek bernilai di atas Rp 50 miliar, PT TSP diatur untuk mengerjakan proyek bernilai di bawah Rp 50 miliar,” ungkap Saut. Dua perusahaan tersebut selalu memberikan fee sebesar 10 persen dari nilai proyek. Perinciannya, tujuh persen untuk kepala satuan kerja (satker) dan tiga persen untuk pejabat pembuat komitmen (PPK).
Sejauh ini, KPK mengamankan duit suap sebesar Rp 3,3 miliar, 23.100 dolar Singapura (sekitar Rp 245 juta), dan 3.200 dolar Amerika Serikat (sekitar Rp 46,5 juta) dari OTT yang dilakukan pada Jumat (28/12). Selain untuk Teuku M. Nazar, suap itu juga mengalir ke PPK SPAM Katulampa Meina Woro Kustinah. Nilainya sebesar Rp 1,42 miliar dan Rp 22.100 dolar Singapura.
Selain itu, KPK juga mengidentifikasi suap yang telah diterima Kepala Satker/PPK SPAM Lampung Anggiat Partunggul Nahot Simaremare. Perinciannya sebesar Rp 350 juta dan 5.000 dolar AS untuk fee proyek SPAM Kota Bandar Lampung senilai Rp 210,023 miliar.
Dan fee sebesar Rp 500 juta untuk pembangunan SPAM Umbulan senilai Rp 73,965 miliar.
PENYIDIK KPK menunjukkan uang dalam pecahan rupiah dan dolar Singapura saat konferensi pers hasil OTT kasus korupsi pejabat Kementerian PUPR di Gedung KPK, Jakarta, Minggu (30/12/2018).
Sementara suap lain juga diduga diterima PPK SPAM Toba 1 Donny Sofyan Arifin. Fee yang telah diterima sebesar Rp 170 juta dari nilai proyek SPAM Paket 1 KSPN Danau Toba Rp 26,315 miliar. Sebagai pihak yang diduga penerima suap itu disangka melanggar pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 13 UU Pemberantasan Korupsi juncto pasal 64 ayat (1) KUHP.
Juru Bicara KPK Febri Diansyah menambahkan, selain barang bukti uang, pihaknya kemarin juga telah menyita satu unit mobil CRV tahun 2018 warna hitam dari rumah salah satu tersangka. Mobil tersebut diduga diperuntukkan bagi tersangka Anggiat Partunggul.
Febri menyebut pola korupsi yang diduga dilakukan para tersangka terbilang sistematis. Sebab, para pejabat Kementerian PUPR yang berkapasitas sebagai kepala satker dan PPK ditengarai mengatur lelang proyek SPAM untuk PT WKE dan PT TSP.
”Ini (pola korupsi, red) dapat sangat mengganggu kepentingan masyarakat karena ketersediaan air minum adalah kebutuhan dasar,” ujarnya.
Saat ini, KPK telah menahan delapan tersangka dari total 21 orang yang diamankan saat OTT. Mereka ditahan di sejumlah rumah tahanan (rutan) cabang KPK. Antara lain, di gedung KPK Kavling C1, gedung KPK Kavling K4, Polda Metro Jaya, Polres Metro Jakarta Selatan dan Pomdam Jaya Guntur. Semua ditahan untuk 20 hari pertama.
KPK tengah mendalami peran-peran pihak lain terkait dengan dugaan suap sistematis tersebut. Baik itu dari pihak Kementerian PUPR maupun dari pihak swasta. Untuk diketahui, dua perusahaan itu berkantor di lokasi yang sama di Jakarta Timur. Yakni di Jalan Rawa Sumur II Blok BB-1 Lt 3 Kawasan Industri Pulogadung.
KPK juga tengah menggodok kemungkinan menjerat pasal korupsi korporasi dalam kasus tersebut. Itu seiring perbuatan perusahaan yang diduga telah mengabaikan kepentingan masyarakat luas. Termasuk, korban bencana yang sangat berkepentingan terhadap jaringan pipa air minum untuk kebutuhan sehari-hari mereka.
”Niat baik pemerintah untuk mengalokasikan anggaran terhadap proyek-proyek infrastruktur dan prioritas nasional jangan sampai disalahgunakan oleh pejabat-pejabat di Kementerian PUPR tersebut,” imbuh mantan peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) tersebut.
Direktur Eksekutif Lokataru Foundation, Haris Azhar, meminta KPK segera menyiapkan hukuman terberat bagi pelaku korupsi yang menggerogoti hak dasar manusia.
Menurutnya, air merupakan salah satu sumber kehidupan manusia yang semestinya dijaga dengan baik.
”Pelakunya harus dihukum dengan cara diperberat, ditambah setengah dari ancaman hukuman,” ungkapnya.
Selain itu, mantan koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) tersebut juga meminta KPK menuntut para pelaku dengan membayar ganti rugi yang telah ditimbulkan dari korupsi proyek penyediaan air. Sebab, bisa saja dari korupsi itu berakibat pada menurunnya kualitas air.
”Ganti rugi nanti bisa diberikan kepada seluruh masyarakat pelanggan dan pengguna air yang merasakan turunnya kualitas air,” paparnya. Hanya, untuk membuktikan penurunan kualitas itu mesti dibarengi dengan dokumen resmi. KPK bisa mengumpulkan dokumen-dokumen itu untuk memastikan semua pengguna fasilitas SPAM tersebut tidak dicurangi oleh koruptor.
Sementara itu, Kementerian PUPR mengambil langkah tegas menyikapi OTT KPK terhadap oknum pegawai pada satker mereka. Dua satker yang ternodai oleh korupsi adalah satker SPAM Strategis dan Satker Tanggap Darurat Permukiman.
Kepala Biro Komunikasi Publik Kementerian PUPR Endra S Atmawidjaja menegaskan bahwa PUPR segera mengganti para pejabat pada kedua satker untuk memastikan penyelesaian tugas-tugas pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik di bidang air minum tetap terlaksana.
”Kami memastikan penanganan kondisi darurat (di Donggala,Red) tetap berjalan dengan sebaik-baiknya,” katanya, Minggu (30/12). Selain itu, Endra mengatakan bahwa PUPR juga tengah mengkaji opsi untuk memutuskan kerjasama dengan dua perusahaan penyuap yakni PT WKE dan PT TSP.
PUPR berjanji untuk bersikap kooperatif dengan penegak hukum KPK dengan membantu memberikan data dan keterangan yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi status, proses dan progres kegiatan 4 proyek yang dikorupsi, yakni SPAM Umbulan-3 Pasuruan, Toba 1, Lampung, Katulampa, serta Palu, Sigi dan Donggala.
Endra mengatakan bahwa PUPR masih mempertimbangan untuk memberikan bantuan hukum terhadap 4 oknum pejabat yang terciduk.
“Tapi kami tetap menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada KPK atas 4 (empat) oknum pegawai pada kedua Satker tersebut,” jelasnya.
Endra mengatakan, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono sudah berkali-kali mengingatkan pegawai PUPR pada setiap kesempatan. Baik Rapat Koordinasi (Rakor), Rapat Kerja (Raker) dan berbagai kesempatan lainnya, termasuk terakhir kalinya pada saat Raker Persiapan Program dan Kegiatan Tahun 2019 Tanggal 11 Desember 2018 lalu.
Basuki menyampaikan pesan tegas Presiden Joko Widodo saat penyerahan DIPA Tahun Anggaran 2019 di Istana Negara untuk menghentikan praktek-praktek korupsi, ijon, penggelembungan, dan pemborosan dalam membelanjakan uang negara.
Dalam belanja infrastruktur setiap tahunnya, kementerian PUPR melaksanakan 10.000 hingga 11.000 paket pekerjaan. Baik konstruksi maupun konsultansi. Pekerjaan-pekerjaan tersebut berada dibawah tanggungjawab 1.165 Satker dan 2.904 Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sementara proses pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh 888 Kelompok Kerja (Pokja) dengan jumlah anggota 2.483 orang. (tyo/tau)
Sejumlah warga antri saat akan melakukan Perekaman kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) serentak di gelar Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Batam di halaman parkir Nagoya Hill Mal, Nagoya, Kamis (27/12/2018). F Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos.co.id – Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Kepulauam Riau (Kepri) menyampaikan catatan akhir tahun sepanjang 2018. Kepala Ombudsman Repbulik Indonesia Perwakilan Provinsi Kepri, Lagat Parroha Patar Siadari mengatakan laporan kependudukan seperti KTP masih menjadi yang paling tertinggi.
“Substansi yang dilakukan pelapor beragam. Sebanyak 19 laporan menyangkut administrasi kependudukan. Diantaranya persoalan KTP, KK, dan Akte lahir,” ujar Lagat, kemarin.
Diakuinya, sejauh ini laporan persoalan kependudukan sudah diselesaikan Ombudsman. Permasalahan umumnya misalnya, kehabisan blanko, printer rusak, dan persoalan SDM lainnya.
“Kami akan tetap mengawali ini agar Kadisduk Capil bisa tetap melakukan pengawasan kepada kecamatan. Saya kira untuk Batam, sudah bisa seperti Surabaya, Jakarta, persoalan KTP masih minim,” tutur Sahat.
Ia mencontohkan, ketika ada warga yang datang ke Kantor Camat untuk melakukan perekaman. Namun petugas kecamatan meminta kepada warga untuk ke Kantor Disduk. Padahal di Kantor Camat sendiri bisa melakukan perekaman.
“Kehadiran negara melalui pelayanan, pertama dari mereka. Kalau mereka tidak memberikan pelayanan maksimal maka masyarakat akan kecewa kepada negara. Padahal negara telah menggaji mereka sudah cukup besar,” sesal Lagat.
Kasus lainnya masalah perhubungan atau infrastruktur, termasuk jalan dan pelabuhan ada 18 laporan. Kemudian instansi di kepolisian ada 18 laporan, bersumber dari Polsek, Polresta, dan Polda Kepri.
“Dugaan mal adimisntrasi atau penyimpangan, dari 10 jenis mal administrasi yang diatur dalam Undang-Undang ada 9 yang dilaporkan, dan paling banyak diantaranya tidak memberikan pelayanan sebanyak 50 laporan. Kemudian penundaan berlarut sebanyak 45 laporan, penyimpangan prosedur 27 laporan. Tiga hal ini selalu paling dominan secara nasional,” papar Lagat.
Dari data tersebut, kata Lagat, dapat ditarik pelayanan publik di Kepri masih banyak bermasalah karena tidak memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sayangnya ditambah lagi, penundaan berlarut penanganan kasus dan penyimpangan prosedur perizinan atau lainnya.
“Dari asal pelapor, kabanyakan asal pelapor dari Kota Batam ada sebanyak 182 pelaporan. Karena banyaknya instansi yang ada di Kota Batam,” katanya. (rng)
Mansar, 55, warga Tanjungriau menangkap ikan menggunakan bubu di kelongnya di Karangtumpuk, Pulau Seloko, Tanjungriau, Sekupang. F Dalil Harahap/Batam Pos
batampos.co.id – Pada penghujung Desember 2018 ikan segar di pasaran Batam langka. Begitu juga dengan harga ikan mulai melambung.
Seperti di pasar Tos 3000 Jodoh, harga ikan segar naik dari biasanya. Naiknya harga dikarenakan ikan segar langka. Hal itu dikatakan Amri salah satu pedagang ikan di pasar tersebut.
“Gelombang sedang tinggi, nelayan banyak yang tak melaut. Jadi ikan segar langka,” imbuh Amri.
Meski langka, namun menurutnya masih ada yang mendapatkan ikan segar. Sebagian lagi menjual ikan es yang ditangkap sehari sebelumnya.
“Mau segar mau tidak, harga ikan memang naik,” ujar Amri lagi.
Seperti harga ikan tongkol putih perkilonya Rp 33 ribu, naik dari harga Rp 30 ribu per kilonya.
Tongkol merah dari harga Rp 25 ribu naik Rp 28 ribu.
Ikan mata besar Rp 40 ribu naik menjadi 45 ribu.
Ikan kakap merah Rp 60-70 ribu per kilo naik dari harga Rp 50 ribu per kilo,
ikan lebam Rp 45 ribu per kilo naik dari Rp 40 ribu per kilo.
Ikan selar dari Rp 40 naik menjadi Rp 50 ribu per kilo.
“Banyak jenis ikan yang tak keluar, terutama untuk ikan yang kecil seperti teri dan lainnya,” tutur Amri.
Naiknya harga juga terlihat di pasar pagi Bengkong. Dea pedagang ikan mengatakan ikan segar cukup sulit karena banyak nelayan tak melaut. Hal itu dikarenakan gelombang tinggi.
“Susah ikan segar yang memang dapat dinihari, karena gelombang laut sedang tinggi,” imbuhnya. (she)