batampos.co.id – Infrastruktur Batam siap untuk menjadi pusat e-commerce dan hub logistik. Disamping itu, ada sejumlah kemudahan yang ditawarkan bagi investor yang bergerak di bidang digital agar mau berinvestasi di Batam.
“Dari segi infrastruktur, Batam siap karena didukung bandara dan pelabuhan yang dekat dan memiliki potensi besar. Batam juga jauh dari patahan seismik sehingga aman untuk dijadikan sebagai pusat data,” kata Kepala BP Batam Lukita Dianrsyah Tuwo, Kamis (29/11/2018).
Sedangkan insentif yang ditawarkan yakni penjaminan bagi warga negara asing untuk kepemilikan properti di Batam.
“Kebijakan sekarang yang probisnis akan mendorong pengembangan salah satu kawasan industri digital yakni Nongsa Digital Park (NDP) menjadi kawasan industri modern,” paparnya.
Sementara itu, Direktur Utama Nongsa Digital Park & Infinite Studio, Mike Wiluan mengatakan NDP akan menjadi rumah terbesar dan pertama bagi industri kreatif Indonesia dan menjadi proyek percontohan dari upaya lebih lanjut Indonesia untuk mencapai potensi ekonomi digitalnya.
Makanya, NDP membentuk Nongsa Creative & Digital Academy yang akan menjadi pusat pelatihan bakat inovasi ilmiah dan teknologi yang paling aktif dan basis pertukaran bakat terdepan di Asia Tenggara.
“Ini dapat membantu transformasi ekonomi digital Asia Tenggara, sekaligus menjadi salah satu ajang diskusi, kolaborasi dan inovasi bagi terbukanya gerbang ekonomi digital utama di Indonesia,” paparnya.
Ini akan memperkuat Nongsa, Batam sebagai salah satu tujuan yang disukai untuk pariwisata domestik dan internasional di Kepulauan Riau.
“Kami juga mengungkapkan apresiasi terhadap kebijakan BP Batam dalam rangka turut membantu mengembangkan NDP sebagai pusat industri digital yang modern melalui kebijakan investasi yang probisnis,” ungkapnya.(leo)
batampos.co.id – Pengembang menyambut baik masuknya investasi properti yang akan dibangun diatas lahan tidur. Setelah itu, investasi baru ini harus didukung dengan sejumlah regulasi yang dapat mempermudah pembangunan properti.
Namun, Badan Pengusahaan (BP) hanya akan memberikan waktu hingga tiga tahun bagi pengembang untuk membangun properti diatas lahan tidur tersebut.
“Saya mengerti bahwa BP menuntut keseriusan dari pengusaha. Tapi jika begitu, maka pemerintah juga harus mendorong mereka dengan sejumlah kebijakan yang memberikan kemudahan,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Batam Achyar Arfan, Kamis (29/11).
Investasi properti yang akan ditanamkan di atas lahan tidur bernilai sebesar Rp 343 miliar. Achyar mengatakan bahwa dengan dana sebesar itu, kemungkinan pengusahanya akan membangun gedung tingkat tinggi seperti apartemen, kondominium dan lainnya.
“Membangun apartemen dalam dua hingga tiga tahun bisa saja selesai. Tapi itu berarti mereka kerja selama 24 jam,” ungkapnya.
Belum lagi pengembang harus mensurvey pasar properti di Batam. Saat ini, banyak gedung tingkat tinggi dibangun di Batam. Contohnya proyek Apartemen Pollux, kemudian ada Oxley, Citra Plaza dan lainnya.
“Membangun properti itu juga harus memperkirakan segmentasi pasarnya. Jika bangun gedung tingkat tinggi, maka di Batam sudah banyak penuh pasarnya. Kan sayang kalau dibangun tapi tak ada pasarnya,” ungkapnya.
Makanya, cara lain yang diperlukan adalah dengan memberikan kemudahan lewat regulasi. Salah satunya adalah mempercepat perizinan terkait lahan dan mempermudah kepemilikan asing terhadap properti di Batam.
Sebelumnya, BP Batam memang menyetujui rencana investasi properti sebesar Rp 343 miliar di atas lahan tidur di Batam.
“Sekarang investor silahkan berjanji. Janji itu akan dijadikan adendum. Baru kami akan evaluasi berdasarkan janji tersebut,” ungkap Deputi III BP Batam Dwianto Eko Winaryo.
Dengan kata lain, BP Batam akan mengawasi proses pembangunan properti di atas lahan tidur sesuai dengan jangka waktu yang sudah disetujui.
“Jika bangun 500 unit rumah contohnya, dua hingga tiga tahun itu sangat logis. Tapi ada juga yang minta waktu pembangunan hingga tahun 2092 diatas lahan 50 hektar, ya kami tak mau,” ungkapnya.
Ia juga mengatakan pembangunan properti, khususnya perumahan jangan dibuat bertahap-tahap. “Rumah tak bisa tahap-tahap. Kalau tahap pertama laku sekian persen, maka bisa lanjut tahap kedua tanpa menunggu rumah tahap pertama selesai terjual semua,” pungkasnya.(leo)
Jembatan Barelang kala senja. foto: Andi Mubestan – Humas BP Batam untuk batampos
batampos.co.id – Daerah Rempang Galang menjadi destinasi pariwisata di Batam. Ada sejumlah pantai yang indah di sana. Sayang mau menuju pulau tersebut, terutama di malam hari masih terkesan angker karena masih gelap.
“Kedepannya kita akan mendorong agar di sisi kiri dan kanan jalan mulai dari jembatan satu ada lampu jalan. Dan harusnya ini dihias,” kata ketua Tanggungjawab Sosial Perusahaan (TSP) Kota Batam, Johanes Kennedy, Kamis (29/11).
Ia mengatakan,saat hendak ke Galang miaalnya ke Pulau Abang atau sejumlah pantai di sana, maka kebanyakan dilakukan pagi atau siang hari. Nantinya dengan adanya penerangan dan lampu jalan, maka malam hari pun tidak terkesan menakutkan.
“Semua penataan ini bukan untuk pribadi. Tapi bagaimana pariwisata Batam bisa lebih dikenal dunia. Bagaimana pariwisata kita menjadi andalan untuk pertumbuhan ekonomi,: katanya.
Ia meyakini Pemko dan BP Batam akan mendukung pengembangan pariwsata di Batam. Di mana selama ini wisatawan yang datang dan berkunjung ke Batam berdurasi sehari atau dua hari. Sangay jarang wisatawan yang sampai lima hari atau seminggu.
“Kalau memang objek wisata kita sudah aman dan nyaman maka bukan tak mungkin wisatawan berlama lama di Batam. Kita ciptakan sesuatu dan suasana yang nyaman untuk mereka,” katanya.
Ia berharap kepada semua perusahaan-perusahaan besar yang ada di Batam untuk bisa berpartisipasi memajukan pariwisata Batam. Di mana diyakini pariwisata mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di Batam.
Sebelumnya, Johanes Kennedy juga mengatakan bahwa TSP bersama pemerintah juga akan membangun dua tempat peristrahatan atau rest area sepanjang jembatan satu sampai jembatan enam. Ini ditujukan untuk memanjakan para turis ke daerah galang yang sering kewalahan untuk mencari kamar mandi atau tempat bersantai sebelum sampai ke tempat tujuan.
Selain kamar mandi, nanti rest area ini akan dilengkapi dengan musolah, tempat makan, tempat bermain anak, dan parkir. Ini semua perlu dilakukan untuk membuat turis aman dan nyaman selama di Batam. (ian)
batampos.co.id – Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI Basaria Panjaitan meminta istri-istri pejabat ikut mengawasi sang suami dari kegiatan yang berpotensi korupsi. Ini disampaikan Basaria dalam seminar Peran Perempuan untuk Mencegah Korupsi di Aula Kantor Wali Kota Batam, Kamis (29/11).
”Jaga bapaknya, jangan sampai tempat tidur bapaknya pindah ke Kuningan (Lembaga Pemasyarakatan/Lapas, red). Kawal!” Seru Basaria.
Menurutnya, tidak ada salahnya jika istri pejabat turut bangga akan posisi sang suami sebagai pejabat, tidak terkecuali menjadi istri pemimpin daerah.
”Kalau saya tanya kira-kira ada kebanggaan enggak sih punya suami sebagai pejabat. Kalau bangga, kebanggaan ini dipegang teguh. Kalau kira-kira Pak Wali Kota atau apapun jabatannya, mereka harus diingatkan selalu,” pesannya.
Sementara itu, Bunda PAUD Kota Batam, Marlin Agustina Rudi mengatakan pendidikan antikorupsi akan disampaikan ke peserta didik di Taman Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
”Itu langkah pertama saya sebagai Bunda PAUD,” kata Marlin.
Sebagai istri wali kota yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Kota Batam, kata Marlin, akan mengingatkan pendamping pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemko) Batam agar menjaga suami masing-masing. Para istri diminta untuk selalu bertanya asal uang atau barang yang diberikan suaminya.
”Saya agak cerewet di rumah. Waktu suami jadi wali kota, saya bilang saya tak mau terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Kami sangat menjaga itu. Anak saya juga sudah diajari jauh sebelumnya. Jangan mengambil yang bukan haknya,” imbuhnya.
Pembicara dari Australia Indonesia Partnership of Justice (AIPJ), Judhi Kristantini mengajak para istri pejabat untuk bergabung dalam Gerakan Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK). Gerakan ini merupakan hasil kerja sama KPK dan AIPJ sejak April 2014 lalu.
”SPAK sudah ada di 34 provinsi dengan lebih dari 1.000 agen. Pencegahan korupsi harus dimulai dari diri sendiri, kemudian ke lingkungan. Misal dari ibu-ibu mengajarkan ke anaknya, mengingatkan suaminya,” tuturnya. (iza)
batampos.co.id – Lembaga Perlindungan Konsumen Kelistrikan Indonesia (L-Perkkindo) dan Bright PLN Batam, menggelar sosialisasi peningkatan konsumsi tenaga listrik (KWh) perkapita dan bahaya penggunaan listrik di Kantor Kelurahan Bukit Tempayan, Batuaji, Jumat (30/11/2018). Kegiatan ini dihadiri puluhan pelanggan Bright PLN. Dalam kesempatan itu, pihak PLN dan L-Perkkindo memberikan kesempatan kepasa pelanggan untuk menyamapaikan keluhan terkait masalah listrik.
“Ada banyak keluhan yang disampaikan, terutama masalah pemadaman, tagihan tinggi, jaringan yang ada di pemukiman tidak teratur dan lain sebagainya,” ujar Junarso, Staff Comersial PLN Batam.
Pihak PLN sendiri akan langsung merespon seluruh keluhan yang disampaikan masyarakat. Seperti saat sosialisasi beberapa waktu lalu, masyarakat Tiban meminta pemagaran gardu di area Bright PLN Tiban. “Hasil keluhan pelanggan hari ini pun masing-masing area akan langsung merespon,” katanya.
Namun demikian, baik PLN maupun L-Perkkindo meminta pelanggan untuk memenuhi hak dan kewajiban mereka. Misalkan membayar tagihan listrik dengan tepat. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan praktik pemakaian listrik secara ilegal. “Di Batam masih banyak ditemukan,” sebut Junarso.
“Itu karena keterbatasan kita, tapi kami tak bosan-bosan untuk selalu melakukan penertiban dan imbau kepada masyarakat,” sambungnya.
Dia mengingatkan bahaya mecantol (mencuri) listrik dan penyambungan listrik ilegal tanpa melalui prosedur yang biasa dilakukan PLN. “Sangat membahayakan, contohnya kebakaran, dan dampak lain yang membahayakan,” jelasnya.
Sementara itu, sosialiasi serupa juga berlangsung beberapa waktu lalu. (une)
MINGGU 28 Oktober 2018, selepas Subuh, Wan Zuhendra bergegas meninggalkan rumahnya di Tarempa, ibu kota Kabupaten Anambas, Kepulauan Riau. Roda sepeda motor dinas yang ia kendarai menggelinding menuju Desa Sri Tanjung, Kecamatan Siantan.
Hari itu, Anambas sedang menggelar pesta besar. Pemilihan langsung kepala desa dilaksanakan serentak di 22 desa. Warga tumpah di balai desa-balai desa. Wajah Wan Zuhendra semringah.
“Alhamdulillah, pilkades berjalan lancar. Saya senang karena warga antusias, terbukti lebih dari 80 persen warga menggunakan hak pilihnya,” ujar Wakil Bupati Anambas itu kepada Batam Pos di Balai Desa Sri Tanjung.
Ia tak meyangka warganya begitu bersemangat datang, meski pesta demokrasi ini skala desa. “Ini bisa menjadi acuan pada pileg dan pilpres 2019 nanti. Mudah-mudahan tingkat partisipasinya lebih tinggi lagi,” ujar Wan.
“Harapan akan adanya perubahan yang lebih baik di masing-masing desa oleh pemimpin baru membuat warga antusias,” ujar Kepala Dinas Sosial, Perlindungan Anak, Pemberdayaan Perempuan, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Anambas, Ody Karyadi, sahibulhajat kegiatan itu.
Anambas adalah kabupaten termuda di Provinsi Kepulauan Riau, berdiri tahun 2008, dan salah satu daerah terluar Indonesia. Di utara berbatasan dengan Laut Cina Selatan dan Vietnam. Di wilayah barat berbatasan dengan Laut Cina Selatan dan Malaysia. Posisinya yang jauh di garis batas negara dan terpecah dalam ratusan pulau kecil, membuat Anambas masih tertinggal jauh dari kabupaten lain. Di Tarempa, ibu kota kabupaten, nyaris tak ada kendaraan roda empat. Bupati dan wakilnya masih menggunakan sepeda motor sebagai kendaraan dinas.
Kondisi daerah yang masih tertinggal itulah yang membuat warga Anambas bersemangat mengejar kemajuan. Pemilihan kepala desa, pemilihan kepala daerah hingga pemilihan presiden dipandang sebagai salah satu jalan untuk mencapai perubahan. Hal itu tergambar dari tingginya tingkat partisipasi warga di setiap pemilihan.
Pada pemilihan anggota legislatif (pileg) 9 April 2014, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Anambas mencatat, tingkat partisipasi masyarakat mencapai 83,95 persen. Sementara pada pemilihan presiden (pilpres) 9 Juli 2014, lebih dari 80 persen warga menggunakan hak pilihnya. Jumlah total pemilih terdata saat itu sebanyak 30.419 orang.
Pengamat kebijakan publik dari Polteknik Negeri Batam, Muhammad Zainuddin, mengatakan tingginya partisipasi menunjukkan besarnya harapan masyarakat Anambas akan perubahan wilayah mereka. “Di setiap pemilu memang pasti ada harapan akan perubahan yang lebih baik ke depan, meski kenyataanya nanti belum tentu,” ujar Zainuddin.
Analisa Zainuddin terkonfirmasi di Desa Nyamuk, Kecamatan Siantan Timur yang berbatasan langsung dengan Vietnam. Hingga saat ini, desa tersebut masih kesulitan air bersih yang menjadi kebutuhan dasar. Pilkades, pilbup, pilgub, pileg, hingga pilpres berganti di setiap periodenya, namun ketersediaan air bersih tak kunjung ada.
ilustrasi
Ketika musim kemarau tiba, seperti cerita dahulu kala sebelum ada beragam pemilihan pemimpin, sumur milik warga kering tak berair. Mereka pun mencari air bersih dari tetesan air di balik bebatuan cadas di desa itu.
Harapan akan adanya aliran air bersih sudah berkali-kali disampaikan. Mulai dari level Musrenbang Desa, kecamatan, hingga ke kabupaten, dan gubernur, namun belum ada solusi permanen.
“Mereka benar-benar mengandalkan air hujan untuk minum, mandi, cuci, dan kakus,” ujar anggota DPRD Anambas, Firman Edi, pertengahan November lalu, saat berkunjung ke Desa Nyamuk, yang terpisah pulau dengan ibu kota kabupaten.
Tak hanya persoalan air bersih, masalah lain yang dihadapi Desa Nyamuk maupun desa lainnya di Kepulauan Anambas adalah sulitnya akses telekomunikasi. Sejauh ini, akses telekomunikasi selular hanya bagus di wilayah ibu kota Tarempa. Selebihnya masih blank spot.
Belum lagi persoalan pendidikan. Rentang kendali yang terlalu jauh dari satu pulau ke pulau lain, membuat banyak anak tak bisa mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Begitupun akses kesehatan. Ditambah masalah listrik yang sering black out. Padahal Anambas merupakan penghasil gas alam yang dikelola perusahaan asing untuk dialirkan ke negara tetangga Singapura sebagai bahan bakar pembangkit listrik di sana.
Namun, induk dari segala persoalan adalah akses transportasi yang terbatas. Sejauh ini, masyarakat yang ingin bepergian dari satu pulau ke pulau lain hanya menggunakan pompong atau sejenis kapal kayu. Sangat berbahaya jika berlayar di musim angin Utara karena berhadapan dengan ombak Laut Cina Selatan yang besar dan ganas.
Masyarakat berharap ada solusi moda transportasi yang cocok untuk medan berombak besar yang mampu mencapai pulau satu dengan pulau lain dalam waktu singkat.
Akses transportasi di Anambas memang sangat vital. Tak hanya terkait mobilitas warga, tapi juga barang kebutuhan. Sembako misalnya, jika transportasi lancar, harga bisa terkendali, namun saat mandeg, harga melambung tinggi.
Seorang pedagang sayuran di Tarempa, Juliani, mengatakan saat ini harga cabai merah naik dari Rp 55 ribu menjadi Rp 90 ribu per kilogram akibat pasokan barang terputus karena angkutan feri Tanjungpinang-Tarempa tidak berlayar akibat cuaca buruk.
“Ini sudah mulai masuk angin Utara. Gelombang tinggi, angin kencang. Feri tak berani berlayar,” ujarnya, Jumat (2/11) lalu.
“Persoalan utama adalah transportasi antarpulau dan akses komunikasi informasi yang belum maksimal. Kami berharap dari Proyek Palapa Ring Kementerian Kominfo isolasi akses informasi di semua wilayah Anambas bisa teratasi,” ujar Bupati Anambas Abdul Haris.
Kendati sederet masalah hidup sehari-hari belum terpecahkan melalui aneka macam pemilihan yang pernah diselenggarakan, animo warga untuk menghadapi pemilu berikutnya di tapal batas utara Indonesia itu masih tetap tinggi.
“Untuk pileg dan pilpres mendatang di Anambas ada 150 tempat pemilihan suara (TPS). Saya yakin partisipasi masyarakat akan tinggi,” ujar Ketua KPU Anambas, Jupri Budi.
Meski sosialisasi menggunakan media sosial atau media massa relatif sulit mengingat masih banyak wilayah tak ada sinyal telekomunikasi, Jupri yakin sosialisasi melalui temu langsung PPK (Panitia Pemilih Kecamatan) maupun PPS (Panitia Pemungutan Suara) di kelurahan tetap efektif.
“Masyarakat Anambas memang punya harapan besar wilayah mereka maju. Makanya mereka tetap yakin siapapun nanti pemenang pileg maupun pilpres akan memberi perhatian pada Anambas. Karena daerah ini kaya,” ujarnya.
***
ilustrasi
SEBELUM berdiri sebagai kabupaten sendiri, Anambas adalah sebuah kecamatan dalam wilayah Kabupaten Natuna. Meski sama-sama berada di garis batas negara, nasib sang induk kini jauh lebih baik. Sejak tiga tahun terakhir, pembangunan berderap cepat di Natuna.
Presiden Joko Widodo yang menang telak di sana telah berkunjung sebanyak tiga kali ke gerbang utara Indonesia itu. Tak terhitung lagi jumlah kunjungan menteri dan pejabat tinggi, khususnya bidang pertahanan dan kemaritiman. Termasuk duta besar negara-negara luar.
Menteri Perikanan Susi Pujiastuti adalah pejabat yang paling akrab di mata penduduk Natuna. Sudah belasan kali ia menjejakkan kaki di kabupaten itu. Maklumlah, Natuna adalah salah satu lumbung ikan nasional yang selalu disatroni pencuri ikan dari negara-negara tetangga. Kerugian negara dari pencurian ikan di Natuna lebih dari Rp20 triliun setahun. Di Natuna-lah Susi pertama kali menenggelamkan kapal ikan asing yang mencuri kekayaan laut Indonesia. Setelah itu, kata “tenggelamkan” jadi terkenal ke mana-mana.
Pada Pilpres 2014 lalu, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla meraup 22.372 suara dari 158 TPS di 12 kecamatan. Pesaingnya pasangan Prabowo-Hatta hanya memperoleh 9.952 suara.
Jokowi kemudian menetapkan Natuna sebagai pangkalan utama Indonesia di Laut Cina Selatan, yang jadi rebutan dan medan konflik banyak negara. Karena itu, pembangunan berbagai sarana pertahanan digesa di Natuna. Latihan tempur oleh TNI beberapa kali digelar di sini. Kegiatan itu berdampak pada denyut perekonomian warga. Terlebih setelah Natuna ditetapkan sebagai salah satu titik persinggahan kapal tol laut di Sumatera.
Wakil Bupati Natuna, Ngesti Yuni Suprapti, mengakui besarnya perhatian pemerintah pusat pada Natuna empat tahun belakangan ini. “Investor dari berbagai negara juga sudah banyak yang dibawa ke Natuna untuk menjajaki peluang investasi,” ujarnya.
Minyak dan gas bumi adalah potensi sumber daya alam terbesar Natuna. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, kandungan minyak Natuna mencapai 14.386.470 barel. Sedangkan kandungan gas bumi 112.356.680 barel. Terdapat 16 blok migas potensial di Natuna. Blok D-Alpha merupakan blok paling terkenal. Blok yang punya nama lain East Natuna ini pernah dikelola raksasa migas Amerika Serikat ExxonMobil sebelum diserahkan kepada Pertamina pada 2017 lalu.
Geliat perubahan di Natuna jadi pendorong kuatnya perhatian warga pada pileg dan pilpres 2019. Sehari-hari masyarakat membincangkan politik di kedai-kedai kopi. Akan seperti apa Natuna setelah pilpres nanti? Masihkah Gerbang Utara -julukan Natuna- akan tetap ramai dikunjungi presiden dan petinggi dari Jakarta? Itulah pertanyaan yang menggantung di pikiran warga.
Bupati Abdul Hamid Rizal mengatakan, Pemilu 2019 bagi Natuna adalah penentu arah pembangunan ke depan. Natuna sudah dijadikan pangkalan militer. Namun, ia meminta pemerintah perlu melakukan pemerataan pembangunan, khususnya sektor ekonomi masyarakat.
“Lima pilar percepatan pembangunan yang ditetapkan pemerintah pusat belum tuntas. Perlu pemerataan yang seimbang di sektor migas, pariwisata, dan lapangan pekerjaan,” ujar Hamid di kantornya pekan lalu.
Denyut pembangunan yang cepat diyakini para aparat pemerintah akan meningkatkan partisipasi publik dalam Pemilu 2019 nanti.
“Karena pembangunan yang terus dilaksanakan pemerintah menjadikan masyarakat semangat,” ujar Camat Pulau Laut, Sudirman, kepada Batam Pos di kantornya awal November lalu.
Pulau Laut adalah salah satu pulau terluar di Natuna yang berbatasan dengan Vietnam dan Thailand. Dari Ranai, ibu kota kabupaten, butuh waktu delapan jam dengan kapal untuk sampai ke sana. Di Pulau Laut sekarang dibangun banyak infrastruktur. Mulai jalan, embung, jaringan air bersih, dan lainnya. Bahkan masyarakat sudah merasakan listrik PLN yang menyala 24 jam. Tahun depan direncanakan pelabuhan perintis juga rampung dibangun.
Akses informasi ke daerah itu diyakini Camat Sudirman akan semakin maju dengan telah selesainya pembangunan proyek Palapa Ring Barat oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi. Jika sebelumnya para operator selular mengandalkan satelit yang berbiaya mahal tapi tidak stabil, kini bisa memanfaatkan jarigan fiber optic dari proyek Palapa tersebut.
“Dulu memang masyarakat kami tidak begitu peduli soal pemilu. Apalagi tingkat pendidikan yang tak begitu tinggi. Tapi sekarang masyarakat tidak ketinggalan informasi lagi. Pemilu sudah jadi topik bahasan sehari-hari,” kata Sudirman.
Berdasarkan data KPU Natuna, pada pileg dan pilpres 2014 angka partisipasi warga di atas 81,24 persen.
ilustrasi
Kajian yang dilakukan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Natuna tahun 2015 mengungkapkan, besarnya partisipasi publik kala itu karena maraknya politik uang (money politics). Masyarakat datang ke TPS karena sudah menerima duit dari calon-calon yang bertanding. “Jika tak ada yang memberikan uang, masyarakat lebih suka tak menggunakan hak pilihnya atau golput,” kata Umar Natuna, akademisi dari STAI Natuna.
Namun, pada pemilu 2019 mendatang, politik uang diperkirakan menurun karena publik sudah melihat dan merasakan langsung perhatian pemda maupun pemerintah pusat di berbagai sektor.
Menurut Umar, kesadaran warga akan kemajuan daerahnya bakal menentukan tinggi-rendahnya tingkat partisipasi dalam pemilu. Jika kesadaran politik masyarakat tinggi maka partisipasi juga tinggi. Namun jika kesadaran politik rendah maka partisipasi masyarakat dalam pemilu juga rendah.
“Tapi di Pemilu 2019, partisipasi bisa meningkat dilihat dari pembangunan di daerah. Perhatian pusat besar di Natuna. Apalagi pemilu legislatif dilakukan serentak dengan pemilu presiden. Namun politik uang tidak bisa terlepas di sebagian kalangan masyarakat. Itu menurut kajian kami tahun 2015,” kata Umar.
Ketua KPU Natuna, Junaedi Abdilah, mengatakan daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2019 sebanyak 50.050 orang. Namun angka tersebut masih terus diperbaiki karena masih banyak warga belum masuk DPT akibat belum punya e-KTP.
KPU sendiri, kata dia, memasang target partisipasi pemilih di 2019 sekitar 80 persen. “Politik uang adalah tantangan pemilu. Dan itu menjadi tanggung jawab bersama mengawalnya agar tak terjadi lagi, baik Bawaslu dan semua elemen masyarakat, termasuk media,” katanya.
Suherman, tokoh masyarakat di Ranai melihat perubahan pembangunan saat ini membuat kepedulian masyarakat untuk memilih bisa meningkat. Namun bisa juga menurun dari target KPU jika masyarakat masih memikirkan pentingnya “serangan fajar” jelang pencoblosan.
“Dulu ada uang dapat suara banyak. Tapi pemilu serentak ini mudah-mudahan berbeda. Saya yakin masyarakat sudah sadar bahwa pembangunan lebih penting,” ujar Suherman.
***
GEDUNG-GEDUNG pencakar langit di sekitar Marina Bay Sand, Singapura, tampak jelas dari bibir pantai Pulau Belakangpadang, Batam. Dari sini, Pelabuhan Harbourfront, salah satu pintu masuk jalur laut Singapura, bisa dijangkau dalam waktu 30 menit. Siaran radio dan televisi Singapura dan Malaysia, kerap terdengar dari balik pintu rumah-rumah warga.
Pada masa sebelum konfrontasi Indonesia-Malaysia, hubungan warga Belakangpadang dan Singapura (ketika itu masih tergabung dalam Federasi Malaysia) seolah tanpa batas. Jual beli dan barter aneka produk kebutuhan antar-kedua wilayah sudah jadi rutinitas. Dolar beredar luas di Belakangpadang, dan jadi alat pembayaran utama. Tak sedikit warga Belakangpadang menetap turun-temurun di Singapura.
Kini, Belakangpadang merupakan satu dari 12 kecamatan di Kota Batam sejak otonomi daerah didengungkan pada 1999 lalu, dan merupakan kecamatan tertua yang menjadi saksi sejarah berkembangnya Batam sebagai kota industri.
Berkunjung ke Belakangpadang kita seolah diajak melintasi zona waktu era 1990-an. Bangunan-bangunan lama dengan jalan kecil. Warga berinteraksi dengan akrab. Sesuatu yang langka di Pulau Batam.
Saban pagi warga dari ragam profesi. Mulai nelayan, pedagang, hingga pegawai negeri sipil (PNS) berkumpul menikmati sarapan di kedai kopi Double Peach atau yang terkenal dengan sebutan kedai kopi Ameng.
Sambil menikmati roti bakar, mi goreng, dan segelas kopi susu atau teh tarik, mereka duduk melingkari meja membincangkan macam-macam tema. Mulai dari kehidupan sehari-hari, hasil melaut selama memasuki musim angin Utara, hingga politik.
“Pro-kontra mengenai pemilihan presiden kalau duduk di sini tak adalah. Kita berbeda pilihan tapi tetap akrab ngobrol, minum kopi bersama. Sangat beda kondisinya dengan media sosial saat ini,” ujar salah seorang warga Belakangpadang, Amry Beddu.
Pria 55 tahun ini mengungkapkan, euforia Pemilu 2019 di tempatnya memang semarak. Tapi tidak untuk pembahasan mengenai pilihan presiden, melainkan pembicaraan tentang ada berapa warga Belakangpadang yang mencalonkan diri jadi caleg untuk pemilu nanti.
“Kebetulan saya juga termasuk yang ikut mencalonkan diri menjadi caleg Kota Batam dari PKS. Ada delapan warga yang jadi caleg di sini. Nah, warga lebih memilih membahas para caleg itu daripada bahas calon presiden. Kita di kedai ini kan sebagian besar orang tua. Politik itu pekerjaannya orang tua,” katanya.
Benar saja. Asoy alias Herman, sang pemilik kedai, mengungkapkan hal yang sama. “Jarang bahaslah sama warga. Yang penting nanti, saat pemilu, saya menggunakan hak pilih saya,” ungkapnya.
Menurutnya, pesta demokrasi yang diadakan setiap lima tahun sekali ini tidak terlalu banyak membawa perubahan terhadap taraf hidupnya dan perubahan Pulau Belakangpadang tempat ia tinggal.
“Dulu 1999 saya pilih SBY, Belakangpadang begini juga. Lalu pilih Jokowi, begini juga. Tak banyak perubahanlah. Nanti saya coba Prabowo juga. Kita lihatlah dulu. Apa berkembang atau tak. Tak mungkin Prabowo yang seorang mantan panglima suruh kita berperang untuk kampung ya kan,” ujar warga Kampung Tanjung, RT 001/RW IV ini.
Pilpres tak terlalu membuat pusing Asoy. Akan halnya pileg, seperti kebanyakan warga Belakangpadang, ia pening menentukan pilihan. Pasalnya, delapan warga Belakangpadang yang mencalonkan diri menjadi caleg tersebut ia kenal semua. Kedelapan orang tersebut datang dari partai yang berbeda.
“Bingung saya. Tapi nanti lihatlah. Lihat orangnya dan tim suksesnya juga pada saat kampanye. Saya memilih bukan melihat partai, tapi memilih orangnya,” ujar pria kelahiran Moro yang sudah tinggal di Belakangpadang sejak 38 tahun yang lalu.
“Kadang calon yang kita pilih itu baik, tapi tim suksesnya sombong. Kalau orang-orang sini kita sudah hafal-lah tabiatnya pada saat musim pemilu begini,” tambahnya.
Ia berharap, apapun hasil pemilu nanti, Belakangpadang bisa lebih baik. “Yang jelas, bisa lebih memperhatikan pulau inilah. Air bersih perlu diperhatikan. Di sini punya sulingan air bersih. Tapi kalau sudah musim kemarau, kita pasti beli air dari Batam. Bisa bayar Rp 20 ribu – Rp 30 ribu per drumnya. Diperhatikanlah. Belakangpadang sekarang masalahnya air bersih,” ujarnya.
Camat Belakangpadang, Ashraf Ali, menyebutkan dari sekitar 30 ribu warga Pulau Belakangpadang, ada 15 ribu yang sudah terdata sebagai pemilih aktif. “Kita di sini ini ada enam kelurahan. Data dari KPU Batam, khusus Belakangpadang, ada sekitar 15 ribu pemilih aktif. Ada nelayan, PNS, pedagang, sudah termasuk pemilih pemula anak-anak usia sekolah,” jelasnya.
KPU Kota Batam mencatat, khusus Kecamatan Belakangpadang, berdasarkan rekapitulasi Daftar Pemilih Tetap Hasil Perbaikan (DPTHP-2) untuk Pemilu 2019 ini sebanyak 15.625 orang.
“Ada 7.800 pemilih pria, dan 7.825 pemilih perempuan. Untuk mengcover jumlah pemilih itu, kami siapkan 70 TPS di Belakangpadang,” ujar Ketua KPU Batam, Syahrul Huda ketika ditemui di sela-sela bongkar muat kotak suara di gudang KPU di Pelabuhan Logistik Sekupang, Kamis (22/11) lalu.
Anggota PPK Belakangpadang, Muhammad Hanafi, menambahkan sebagian besar pemilih berada di dua kelurahan yang berada di Pulau Belakangpadang. Masing-masing di Kelurahan Tanjung Sari sebanyak 4.302 dan Kelurahan Sekanak Raya 4.441 orang.
“Khusus di Pulau Belakangpadang memang ada dua kelurahan dan pemilih paling banyak di Belakangpadang ini,” ujar Muhammad Hanafi, Jumat (23/11).
Sejauh ini, lanjut Hanafi, tahapan pelaksanaan Pemilu 2019 berlangsung lancar. DPT tidak begitu banyak masalah. Perbaikan harus dilakukan karena masih ada beberapa pemilih ganda. Bawaslu yang merekomendasikan perbaikan tersebut memberi waktu satu bulan.
Tahapan demi tahapan pendataan pemilih, lanjut Hanafi, berjalan lancar. Dalam pendataan ini, PPK Belakangpadang masih menemukan warga yang sama sekali tidak memiliki dokumen kependudukan. Mereka adalah warga Suku Laut. Di wilayah Kecamatan Belakangpadang, tercatat ada 45 warga Suku Laut yang hidup di atas perahu.
“Kami sudah mendata dan melaporkan ke KPU. Nantinya apakah mereka bisa memilih atau tidak itu diputuskan KPU. Karena mereka tidak memiliki akte lahir, KTP, dan dokumen lainnya,” ungkap Hanafi.
Setiap tahapan pendataan dilanjutkan dengan pengumuman daftar pemilih. Ketua PPK Belakangpadang, Faizal Hamid, mengatakan daftar pemilih langsung disebarkan ke PPS. Kemudian PPS melanjutkan ke setiap RT/RW. “Dari PPS ke RT/RW. Jadi langsung terjun ke bawah biar warga tahu ada atau tidak nama mereka dalam daftar pemilih,” kata Faizal.
Saat ini, lanjut Faizal, tidak sulit mengumumkan daftar pemilih. Sebab setiap RT/RW memiliki grup Whatsapp dan daftar pemilih langsung disebarkan di grup tersebut. Dengan begitu, warga yang tidak menemukan namanya, bisa langsung menyampaikan laporan.
Hanafi menambahkan, untuk melindungi hak pilih warga, pada tahapan DPTHP-2, KPU meluncurkan gerakan nasional dengan nama Gerakan Melindungi Hak Pilih (GMHP). GMHP adalah sebuah upaya untuk menyelamatkan hak pilih warga negara. Jadi, bagi penduduk yang setelah mengecek daftar pemilih belum menemukan namanya, dapat langsung mendatangi PPS.
“Kita sudah memasang spanduk di mana-mana untuk mengimbau warga bila terdapat yang belum terdaftar agar melapor ke PPS,” tegasnya.
Selain melalui GMHP, kata Hanafi lagi, PPK juga menerima laporan masyarakat terkait pemilih yang sudah meninggal, pemilih ganda, pemilih yang sudah pindah atau tidak dikenali. Termasuk TNI/Polri yang tidak boleh masuk dalam daftar pemilih. Sejauh ini, katanya, respon masyarakat relatif bagus ketika tidak menemukan namanya dalam daftar pemilih atau ada pemilih yang sudah pindah.
“Warga langsung melapor ke PPS, warga langsung melapor ke website dan mendaftar di website KPU provinsi dan kita selaku panitia menindaklanjuti laporan tersebut,” ujarnya.
Hanafi mengatakan, meski suasana politik semakin riuh menjelang Pemilu 2019, pelaksanaan tahapan-tahapan pemilu di Belakangpadang tetap tenteram. Menurut Hanafi, masyarakat Belakangpadang sudah terbiasa dengan perbedaan. Sebab warganya berasal dari berbagai suku. Kerukunan terjaga sejak lama di pulau yang dikenal dengan julukan Pulau Penawar Rindu.
“Jadi untuk rusuh tak ada yang terjadi dan alhamdulillah untuk tahun ini, pengataman kamikejadian-kejadian rusuh itu tidak ada,” katanya.
Hanya saja, tingkat partisipasi masyarakat dalam setiap pemilu tidak begitu tinggi. Menurut Faizal, dari jumlah pemilih yang mencapai 15 ribu orang, hanya setengahnya yang menggunakan hak suaranya.
Untuk pemilu mendatang, Faizal tidak bisa menerka-nerka jumlah pemilih yang akan menggunakan hak suaranya. Namun dari pengamatannya, lanjut dia, selama pendataan pemilih, masyarakat relatif antusias untuk melihat daftar pemilih yang diumumkan.
“Kita juga sampaikan kepada masyarakat jangan seperti lima tahun yang lewat. Artinya minat masyarakat ke TPS itu sangat kurang. Dari data pemilih, hanya setengah yang datang,” ungkapnya.
Baik Faizal maupun Hanafi, tidak mengetahui persis penyebab masyarakat Kecamatan Belakangpadang kurang antusias mendatangi TPS. Padahal hampir setiap pulau yang berpenghuni ada TPS. Hanafi mencontohkan Kelurahan Sekanak Raya yang memiliki Pulau Lengkang dan Pulau Sarang, ada TPS.
“Kita hanya berfirasat saja, mungkin kesadaran untuk memilih,” imbuh Faizal.
Untuk mengantisipasi kurangnya partisipasi pemilih, PPK Belakanpadang gencar melakukan sosialisasi. Bahkan hingga saat ini sosialisasi terus dilakukan untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat betapa pentingnya satu suara mereka. Antara lain sosialisasi kepada pemilih pemula di SMA 2 Batam di Sekanak Raya dan sosialisasi kepada pemilih berbasis keluarga.
“Sosialisi ini sudah full dan kita lakukan dengan berbagai cara. Sosialisasi berbasis keluarga ini kita mendatangi ke rumah-rumah,” kata Faizal lagi.
Adnan, 60, warga Belakangpadang yang namanya sudah masuk dalam DPT bertekad akan menggunakan hak pilihnya dengan harapan calon anggota legislatif ataupun pemimpin yang terpilih benar-benar memperjuangkan peningkatan ekonomi dan kesejahteraan.
“Anak bisa sekolah, anak yang sudah sekolah disalurkan untuk kerja, bantu pengangguran untuk mendapatkan kerja. Jangan sampai bapak nelayan, anak jadi nelayan juga,” katanya.
Adnan sudah dua tahun ini bekerja sebagai nelayan. Pendapatannya tidak menentu karena melaut dengan cara tradisional. Hasil tangkapan berupa ikan dan sotong dijual di Belakangpadang. Paling banyak ia mendapatkan uang Rp 150 ribu sehari. Padahal biaya operasional tidak sedikit. “Paling sering ya cuma Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Kadang tak dapat apa-apa,” ungkapnya.
Karena itu, ia berharap bantuan pemerintah. Ia memulainya dengan membentuk Kelompok Nelayan Sejati. Anggotanya sepuluh orang. Melalui kelompok, ia bisa mendapatkan bantuan kapal dan alat tangkap. Ia juga menyelipkan harapannya pada calon legislatif yang akan maju pada pileg 2019 agar memerhatikan kesejahteraan nelayan.
“Siapa pun yang terpilih dan duduk di DPRD nanti, bantu kami. Intinya ada peningkatan ekonomi,” katanya. (nur/sya/arn/uma/cha)
batampos.co.id – Pemko Batam telah memasang 301 alat perekam transaksi (tapping box) dari 500 yang ditargetkan di sejumlah restoran, hotel, dan tempat hiburan. Pemasangan tapping box ini diharapkan mampu menekan potensi kebocoran pendapatan asli daerah (PAD) Batam.
Berdasarkan hitungan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), potensi PAD Batam mestinya mencapai Rp 2 triliun per tahunnya. Namun realisasi penerimaan PAD Batam selama ini rata-rata hanya Rp 1,1 triliun. KPK menduga ada kebocoran PAD sebesar Rp 900 miliar per tahun.
“Saya nggak tahu, kami belum dapat dasar hitungan KPK, tapi tentu mereka melihat perkembangan di Batam,” kata Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kota Batam Raja Azmansyah menanggapi hasil penghitungan KPK itu, Kamis (29/11/2018).
Meski begitu, Raja mengaku akan terus memaksimalkan penerimaan daerah dari potensi PAD. Dengan pemasangan tapping box ini, Pemko Batam menargetkan realisasi PAD tahun depan mencapai Rp 1,3 triliun.
Sebelumnya, Wali Kota Batam Muhammad Rudi mengklaim pemasangan tapping box ini cukup efektif meningkatkan realisasi PAD Kota Batam, khususnya dari empat sumber pajak daerah. Yakni hotel, restoran, tempat hiburan, dan parkir. Menurut Rudi, realisasi pajak daerah periode Januari-Oktober 2018 rata-rata naik 20 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Hitungan kami, target 2019 sudah termasuk dengan berfungsinya tapping box itu. Harapannya kalau di 2019 ekonomi semakin bagus bisa kami kejar lagi pendapatan yang lebih tinggi,” ucap Raja.
Raja menyebut, kehadiran tapping box akan mempermudah pengawasan dan tentu akan bermuara pada upaya penekanan potensi kehilangan PAD.
“Dengan tapping box itu membantu kami untuk memiliki database. Intinya itu mengurangi kebocoran, kalau ada kebocoran ya,” imbuhnya.
Ia menerangkan, ketika salah satu usaha sudah memasang alat ini, akan mudah dikontrol. Sebab alat ini bisa merekam setiap transaksi di lokasi objek pajak. Sehingga Pemko Batam bisa menghitung berapa jumlah pajak yang harus dibayarkan oleh wajib pajak.
“Yang dibayarkan harus sesuai dengan yang tercatat. Inilah selama ini yang tidak kami miliki. Data lebih akurat lagi,” terangnya.
Menurutnya pembayaran jenis pajak yang dipasang tapping box ini menerapakan sistem self assesment. Sehingga semua transaksi akan terekam secara transparan.
“Pusat juga sedang memodernisasi perpajakan, next kita dengan KPP Madya join dengan itu integrasi data,” imbuhnya.
Ia menegaskan, perbaikan sistem ini, akan membuat pelaku usaha lebih teratur membayar pajak. “Kami sampaikan ke wajib pajak kemarin, ke depan jangan macam-macam lagi terhadap pajak daerah ini. Kalau tidak disetor, ya korupsi, itu sudah ditegaskan,” tegas dia.
Sebab pada prinsipnya, pajak daerah seperti pajak restoran, tempat hiburan maupun hotel merupakan titipan pengguna jasa kepada pengusaha untuk disetor ke kas daerah. Sebab pajak tersebut dibayarkan konsumen, yakni sebesar 10 persen dari harga barang maupun jasa yang digunakan konsumen.
Pemko Batam menargetkan pemasangan 500 tapping box hingga akhir tahun ini. Hingga saat ini baru ada 301 tapping box yang telah terpasang.
Ketua Komisi II DPRD Batam Edward Brando mengatakan, pemasangan tapping box ini diprioritaskan untuk wajib pajak atau objek pajak potensial. Pihaknya akan ikut mengawasi tingkat efektifitas dan efisiensi dari penerapan sistem ini.
Edward mengatakan, target PAD dari pajak hotel, restoran, dan tempat hiburan di 2019 mendatang mencapai Rp 1,3 triliun. Atau naik sekitar Rp 363 miliar dari target 2018.
“Bayangkan peningkatannya sangat luar biasa. Kalau semua nantinya sudah pakai tapping box, maka akan sangat signifikan PAD kita,” katanya.
Ia mengatakan pemasangan tapping box ini sudah pernah dilakukan di beberapa daerah di luar Kepri tetapi gagal. Alasannya, pengawasan dan perawatannya dilakukan oleh pemerintah daerah.
“Setelah kita pelajari dari sana, maka kita bekerja sama dengan perbankan. Nah jadi perbankan yang mengawasi dan maintainance,” katanya.
4 Sektor Pajak Naik Signifikan
Pemasangan tapping box di sejumlah wajib pajak di Kota Batam dinilai cukup efektif. Realisasi pendapatan pajak restoran, hotel, tempat hiburan, dan parkir naik cukup siginifikan sejak alat tersebut terpasang pada tahun ini.
“Alhamdulillah, target pajak daerah di APBD Perubahan 2018 sudah mendekati 100 persen ini sudah kita targetkan dengan efektivitas tapping box,” kata Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BP2RD) Kota Batam Raja Azmansyah, Kamis (29/11).
Raja mengatakan, penerapan sistem tapping box ini didukung aplikasi yang disiapkan Bank Riau yang setuju menuntaskan hingga 1.500 aplikasi. Pemasangan alat perekam pembayaran pajak berbasis online ini difokuskan di beberapa wajib pajak yakni hotel, restoran, hiburan, dan sektor parkir.
“Sponsor untuk tapping box kita juga mendukung, artinya ke depan kita akan terus maksimalkan,” paparnya.
Raja mengklaim, realisasi penerimaan pajak daerah juga naik menyusul dipasangnya tapping box ini. Untuk sektor pajak hotel, hingga November 2018 sudah terealisasi 91,03 persen. Dari target Rp 107,1 miliar tercapai Rp 97,5 miliar. Sementara restoran terealisasi 92,79 persen dari target sebesar Rp 68,6 miliar.
“Dibandingkan sebelum memakai aplikasi ini, kita masih di angka 80 persen, artinya cukup signifikan,” tuturnya.
Sementara itu untuk pajak hiburan sudah tercapai 96,34 persen, atau tercapai Rp 28,1 miliar dari target Rp 29,1 miliar. Begitu juga dengn pajak reklame 97,50 persen dari target Rp 9 miliar dan parkir 85,46 persen dari target Rp 12 miliar.
“Ke depan bukan hanya sektor ini saja, semua wajib pajak kita targetkan pasang aplikasi ini,” tambah Raja.
batampos.co.id – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lingga Junaidi Adjam menegaskan banyak guru yang golongannya mentok pada 4 A saja. Ini dikarenakan banyak guru yang belum bisa menulis karya ilmiah sebagai salah satu syarat mereka mendapatkan kenaikan golongan ke 4 B.
Mengatasi ini, Junaidi akan melakukan gerakan mendorong guru-guru di Kabupaten Lingga agar dapat menulis karya ilmiah inovatif mereka. Sehingga ke depan banyak guru yang naik golongan menjadi 4B.
“Dinas Pendidikan juga memiliki program pelatihan kepada guru K-13,” ujar Junaidi, Kamis (29/11) pagi.
Selain itu, pihaknya akan melakukan bimbingan teknis terhadap sejumlah guru yang akan meningkat atau layak menjabat kepala sekolah de-ngan program Calon Kepala Sekolah (Cakep). Program ini juga diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan.
Junaidi mengatakan selain persoalan di atas, masih ada persoalan lain yang dihadapi tenaga kependidikan di Lingga yakni dari 1.600 guru di Kabupaten Lingga hanya 586 guru saja yang sudah mengantongi sertifikasi. Sementara sebanyak 1.014 guru belum mengantongi sertifikasi.
“Untuk mendapat sertifikasi tersebut, setiap guru harus mengikuti pendidikan profesi guru dan harus lulus, jika tidak juga tidak mendapat sertifikasi tersebut,” kata Junaidi.
Junaidi juga membenarkan kalau sertifikasi salah satu indeks untuk menyatakan guru tersebut layak untuk mengajar. Untuk tahun ini, Kabupaten Lingga telah me-ngirim sebanyak 90 guru mengikuti pendidikan profesi guru dan tinggal menunggu hasil saja.(wsa)
batampos.co.id – Cabang olahraga (cabor) tarung derajat masih menjadi cabor unggulan kontingen Anambas. Terbukti dari cabor ini berhasil menyumbangkan 2 emas, 2 perak, dan 1 perunggu.
Prestasi tersebut mampu mengantar kontingen Anambas menduduki posisi ke-6 pada klasmen sementara perolehan medali Porprov Kepri IV dengan total perolehan medali 2 emas, 2 perak dan 2 perunggu. Total keseluruhan menjadi 6 medali.
“Masing-masing ditorehkan regu putra dan putri. Sedang-kan 1 perunggu dari cabor sepak takraw,” kata Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Cabang Anambas Fahri Hidayat, Kamis (29/11).
Meski tinggal satu hari lagi tapi pihaknya masih memiliki harapan untuk meraih meda-li yakni dari cabor silat, catur dan atletik. Karena cabor atletik masih main sementara itu untuk silat ada peluang meraih emas dan medali perak atau perunggu.
Sementara itu, atlet bola voli, sepak bola, badminton, tenis terpaksa pulang dulu dengan tangan kosong. Pihaknya mengimbau kepada para atlet yang sudah terlebih dahulu pulang, agar tidak berkecil hati. Mereka harus menjadikan kekalahan kali ini sebagai pengalaman yang berarti.
“Saya melihat sejauh ini permainan para atlet sudah baik dan menjunjung tinggi spotivitas,” ucapnya.
Sebelumnya, kontingen Anambas mengirimkan 120 atlet untuk berkompetisi pada ajang Pekan Olahraga Tingkat Provinsi Kepri. Pemda memberikan Iming-iming uang pembinaan bagi atlit yang meraih medali emas pada event tersebut.(sya)
F. SYAHID/BATAM POS Wakil Bupati Kepulauan Anambas Wan Zuhendra menyerahkan bendera hitam kepada lima Kepala OPD di lapangan Kantor Bupati Kepulauan Anambas, Kamis (29/11).
batampos.co.id – Pemerintah Daerah Anambas memberikan penghargaan terhadap sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang memiliki kinerja yang baik. Inspektorat menjadi OPD terbaik pertama dengan perolehan poin 841. Disusul Disdukcapil terbaik kedua dengan perolehan poin 791,33.
Peringkat ketiga Dinas Perikanan, Pertanian dan Pangan dengan total poin 724,61, sedangkan Dinas PTSP Tenaga-kerja dan Transmigrasi, BKD dan DKUMPP menjadi peringkat terbaik keempat, kelima dan keenam dengan total poin masing-masing 713,44, 712,56 dan 702.
Penghargaan diberikan Wakil Bupati Kepulauan Anambas Wan Zuhendra.
Wan Zuhendra mengatakan, penentuan atau penilaian OPD terbaik tidak sembarangan tapi melalui beberapa indikator penilaian seperti daftar hadir pegawai di masing-masing OPD, tingkat kedisip-linan, realisasi penyerapan anggaran, masalah yang terjadi di OPD atau pelanggaran dan penanganan pelanggaran tersebut.
”Ada beberapa ukuran untuk penilaian itu,” ungkap Wan Zuhendra usai acara penye-rahan penghargaan satya lencana terhadap 127 pegawai di lingkungan Pemkab Kepulauan Anambas di halaman Kantor Bupati Kepulauan Anambas, Kamis (29/11/2018).
Sementara itu, untuk OPD yang memiliki nilai atau poin kinerja paling rendah mendapatkan bendera hitam. Ada lima OPD yang memiliki penilaian paling rendah, di antaranya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan menduduki peringkat 15, Bakesbangpol pe-ringkat 16, Disdikpora peringkat 17, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat peringkat 18 dan Sekretariat Daerah peringkat terbawah.
Bendera hitam tersebut diberikan kepada kepala SKPD atau yang mewakili.
Untuk Sekretariat Daerah, diterima Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Anambas Sahtiar.
”Pemberian bendera hitam ini bukan berarti untuk membuat malu atau memperlakukan OPD di depan khalayak ramai tapi sifatnya memberikan motivasi agar OPD yang dimaksud mau memperbaiki kinerja,” jelasnya.
Disinggung mengenai makna bendera hitam yang diberikan kepada OPD yang nilainya terendah? Wan mengatakan itu artinya simbol bahwa OPD penerima perlu perbaikan, peningkatan kinerja dari level pimpinan OPD sampai bawahan.
”Pemerintah tidak bermaksud mempermalukan tapi niatnya memberikan motivasi agar OPD dimaksud meningkatkan kinerja, supaya mereka berlomba meningkatkan prestasi kerja,” jelasnya lagi. (sya)