Senin, 25 Mei 2026
Beranda blog Halaman 12253

Mengunjungi Lorong Buangkok, Kampung Terakhir di Singapura

0

Kontras dengan Singapura yang gemerlap, di Lorong Buangkok, jalanan masih berupa tanah, ayam berkeliaran, dan pepohonan khas kampung di pekarangan. Seorang warga keturunan Bawean jadi sosok yang dituakan.

MAK Cik Ayu, demikian dia dipanggil, tengah mengaduk-aduk bubur lambuk saat Jawa Pos (grup Batam Pos) singgah di kediamannya pada Selasa (12/6) siang lalu itu. Membuat bubur yang memiliki warna kekuningan dan bercampur potongan sayuran kecil-kecil.

Itulah tradisi warga muslim Melayu di Lorong Buangkok, Singapura, setiap Ramadan. ’’Bubur ini hanya dibuat di bulan puasa. Saya buat banyak untuk bagi-bagi ke warga,’’ ujarnya.

Di Lorong Buangkok, lanjut dia, berbagi masakan atau apa pun yang dimiliki kepada tetangga merupakan hal biasa. Layaknya tradisi yang banyak ditemui di daerah bangsa Melayu seperti Indonesia. Sebuah tradisi, yang kata dia, hampir tidak ada lagi di Singapura.

Kampung Lorong Buangkok memang satu-satunya kampung atau desa dengan akar budaya Melayu asli yang masih tersisa di Singapura. Negeri Singa itu adalah negeri kota yang serba tertib. Jadi, bayangan orang tentang bekas jajahan Inggris tersebut ya tentang kotanya, warga urbannya.

Tapi, di Lorong Buangkok, semua yang kadung melekat di benak tentang Singapura itu langsung terkelupas. Bukan hanya dari segi kebiasaan warga. Bangunan maupun lingkungan fisik yang ada di Lorong Buangkok bisa dibilang kontras dengan Kota Singapura yang demikian megapolitan.

Saat berkeliling kampung seluas 2 hektare yang berjarak sekitar 10 kilometer dari pusat kota itu, suasana Singapura yang modern, gemerlap, serta megah yang didukung teknologi maju tidak tampak. Sepanjang kaki melangkah, rasanya seperti tengah berkeliling kampung-kampung di pedalaman Indonesia.

Mulai jalanan bertekstur tanah, ayam berkeliaran, burung di sangkar yang ditaruh di teras, hingga rumah beratap seng dan berdinding kayu yang masih mendominasi. Tak hanya itu, halaman rumah dan pekarangan warga juga masih banyak ditumbuhi pepohonan khas perumahan.

Pohon mangga beraneka jenis, jambu air, jambu biji, pepaya, kelapa, singkong, asam, tebu, delima, mengkudu, rambutan, hingga kersen masih terlihat.

’’Kalau buahnya jatuh, punya siapa pun kita ambil saja,’’ kata Awiludin, orang yang dituakan di kampung tersebut, lantas terkekeh.

Awi yang berusia 83 tahun itu merupakan warga Singapura keturunan Bawean. Sebuah pulau kecil di bagian utara pantai Gresik, Jawa Timur. Hingga saat ini, sanak keluarga besarnya kebanyakan di Bawean. Meski terakhir pulang 30 tahun lalu, silaturahmi lewat telepon masih terjaga.

AWI, warga keturunan Bawean yang menjadi sesepuh Kampung Lorong Buangkok, Singapura.
F. Folly Akbar/Jawa Pos

Perjalanannya sampai di Singapura bermula dari kepindahan orang tuanya yang bekerja di Pulau Ulin puluhan tahun lalu. Pulau tersebut merupakan bagian dari wilayah administrasi negara Singapura. Awi tumbuh dan besar hingga kemudian pindah ke pulau Singapura. Menetap serta menjadi warga negeri liliput tapi kaya itu.

Awi yang sudah 50 tahun tinggal di Lorong Buangkok menceritakan, sejarah kampungnya bermula saat keluarga Tionghoa membeli tanah 2 hektare di wilayah tersebut pada 1950-an. Karena terlampau luas, mereka pun menyewakan tanah tersebut. Almarhum ayah Awi termasuk di antaranya dan kemudian membangun rumah.

Saat ayahnya meninggal, Awi mewarisi bangunan rumah. Meski demikian, tanahnya masih milik keluarga Tionghoa yang kini dikelola salah satu anaknya yang bernama Sng Mui Hong. Saat ditanya berapa harga sewanya per bulan, Awi justru tertawa.

’’Buat makan kita bertiga saja tidak cukup. Murah, hanya 13 dolar Singapura (1 dolar Singapura = Rp 10.441, red),’’ imbuhnya.

Sebagai perbandingan, tarif sewa kamar berukuran 2×3 meter di Singapura, harganya sudah 42 dolar per malam.

Harga 13 dolar Singapura (SGD), lanjut Awi, merupakan perjanjian terakhir yang dibuat ayahnya bersama pemilik sejak beberapa tahun lalu. Hingga kini tidak ada perubahan. Karena bersifat perjanjian, harga sewa tiap-tiap keluarga di sana berbeda-beda. Bergantung kesepakatan di awal. Ada yang SGD 15, SGD 20, SGD 30, dan seterusnya.

’’Kalau naik, kami demo,’’ kata pria yang sudah lima tahun menganggur itu berseloroh.

Di kampung tersebut, kata dia, total ada 30 keluarga yang tinggal. Sebanyak 16 di antara mereka beretnis Melayu dan beragama Islam. Sisanya beragam, mulai Tiongkok hingga India.

Semua hidup berdampingan. Karena alasan itu pula, Awi bisa menguasai bahasa Mandarin dan India. Selain bahasa Melayu, Bawean/Madura, dan Inggris.

Soal aktivitas warga, dia menyebut kegiatannya sama seperti warga khas Melayu dulu. Setiap sore sepulang beraktivitas, warga berkumpul dan bersantai-santai di halaman rumah. Sementara setelah isya, anak-anak dan warga dewasa berkumpul di surau.

Setiap malam, jadwalnya berbeda. Kadang hanya membaca Alquran, kadang belajar agama. Kegiatan keagamaan di sana semua terkonsentrasi di Surau Al Firdaus yang juga memiliki bangunan khas Melayu. Tak lupa, di salah satu sudutnya, ada sebuah kentongan kayu.

’’Kalau ada apa-apa, kentongan ini ditabuh. Nanti warga kampung pasti ke sini dan bertanya ada apa,’’ ceritanya dengan raut antusias.

Mengenai masa depan Lorong Buangkok sebagai kampung Melayu terakhir di Singapura, Awi tak bisa memberikan jaminan apa pun. Pasalnya, tanah tersebut memang bukan miliknya. Jika pemiliknya ingin menjual dan bisa mencapai kesepakatan dengan warga dan pembeli, takdir tidak bisa ditolak.

Menurut cerita Awi, tawaran membeli tanah di kampung tersebut sudah beberapa kali masuk. Dia tak ingat angka pastinya. Tapi, sangat mahal menurutnya. Namun, harga yang ditawarkan kepada pemilik tanah dan kompensasi yang diterima warga tidak pernah cocok.

Secara pribadi, Awi tidak ingin kampung Melayu satu-satunya di Singapura itu hilang. Namun, karena tanah tersebut bukan miliknya, yang bisa dia lakukan adalah negosiasi soal kompensasi bangunan. Dia dan warga yang lain bersepakat untuk meminta kompensasi tinggi.

Belakangan, kekhawatirannya sedikit berkurang. Sebab, banyak orang, baik dari dalam maupun luar negeri, yang meminta pemerintah Singapura ikut menjaga eksistensi kampung tersebut. ’’Sampai mati saya ingin terus di sini,’’ tegasnya.

Di rumah tempat dia tinggal, satu di antara empat anaknya ikut bersamanya. Jika ditotal, ada tujuh orang bersama istri, menantu, dan tiga cucu. Ke depan, Awi berharap ada sang anak yang mau tetap tinggal dan melanjutkan sewa tanahnya.

Kini, saat dia sudah tidak memiliki pekerjaan, kegiatannya hanya menjaga surau sambil menjaga beberapa ayam miliknya. Awi memang memelihara ayam tersebut agar tiga cucu yang kini hidup bersamanya bisa tahu bagaimana kehidupan ayam.

’’Orang Singapura jarang lihat ayam. Kalau makan sering,’’ katanya, lantas tertawa. (FOLLY AKBAR, Singapura)

Pemilih Tanjungpinang 144.597 Jiwa

0
Ilustrasi

batampos.co.id – Komisi Pemilihan Umum Tanjungpinang telah menetapkan jumlah pemilih tetap sebanyak 144.597 jiwa pada Pilkada 27 Juni mendatang. Ketetapan ini telah disepakati melalui rapat pleno pada Minggu (17/6) malam kemarin.

Dari hasil pleno itu diketahui bahwasanya jumlah pemilih perempuan lebih banyak ketimbang pemilih laki-laki. Adapun jumlah pemilih perempuan pada Pilkada tahun ini sebanyak 73.293 jiwa.

“Pemilih laki-laki lebih sedikit. Jumlahnya 71.304 jiwa,” ungkap Ketua KPU Tanjungpinang, Robby Patria.

Adapun sebaran jumlah pemilih, kecamatan Tanjungpinang Timur menjadi daerah dengan jumlah pemilih terbanyak dengan 55.516 jiwa. Lalu disusul kecamatan Bukit Bestari sebanyak 38.553 jiwa.

“Kalau di Tanjungpinang Barat 35.078 pemilih dan Tanjungpinang Kota paling sedikit dengan hanya 15.450 jiwa. Semua pemilih di empat kecamatan ini akan menyalurkan suaranya di 561 TPS yang tersebar,” jelas Robby.

Kepada masyarakat Tanjungpinang, Robby mengimbau agar memantau kembali namanya di daftar pemilih tetap yang dalam waktu dekat ini akan disebarluaskan sesuai dengan 18 kelurahan yang ada. Jikalau namanya belum tercantum, Robby memastikan, yang bersangkutan belum pasti kehilangan hak pilihnya.

“Asal dengan satu syarat membawa KTP atau Surat Keterangan ketika pemungutan suara di TPS terdekat, nanti akan masuk ke daftar pemilih tambahan. Tanpa syarat itu, baru tidak bisa memilih,” pungkasnya. (aya)

Aktivitas Perkotaan Masih Sepi

0

batampos.co.id – Meski libur Lebaran belum usai, sejumlah pihak perusahaan maupun perdagangan di Batamcenter tampak mulai beraktivitas seperti biasanya, Senin (18/6). Namun begitu, aktivitas tersebut masih terlihat sepi mengingat banyaknya warga Batam yang mudik tahun ini.

Beberapa diantaranya, pusat perbelanjaan, jalan raya, dan perdagangan di ruko-ruko, tidak dipadati warga. Volume kendaraan yang lalu lalang seolah bebas hambatan, tanpa adanya kemacetan.

“Untuk sekitar pusat kota Batamcenter memang masih sepi, karena rata-rata yang beraktivitas di sini orang pemerintahan,” ujar salah satu juru parkir di bilangan Batamcenter, Kardi, kemarin.

Menurutnya, banyak warga Batam yang masih menikmati libur Lebaran dengan mengunjungi tempat-tempat wisata yang berada di pinggiran kota.

“Yang ramai itu pasti ke arah Nongsa, Barelang, atau ke pulau-pulau sana. Di sana biasanya macet,” terangnya.

Untuk di pusat perbelanjaan seperti Mega Mall, juga tidak menunjukkan aktivitas yang padat. Sejumlah toko yang masih menyediakan beragam promo pun tidak begitu menarik minat warga untuk berbelanja.

“Kayaknya diskon sudah gak berpengaruh lagi, warga lebih milih pergi jalan-jalan atau ajak makan ketimbang belanja lagi,” sebut salah satu pedagang parfum di Mega Mall, Meychi.

Sementara, untuk aktivitas keberangkatan di Pelabuhan Feri Batamcenter yang dilihat dari aktivitas di jembatan penyeberangan antara Mega Mall dan pelabuhan, arus penumpang terpantau normal. Warga yang berangkat maupun wisman yang datang tidak begitu ramai seperti yang terjadi Minggu (17/6) lalu.

Situasi ini diperkirakan masih akan terjadi hingga libur Lebaran usai, Rabu (20/6) nanti. (nji)

Warga Minta Utamakan Angkut Sampah di Perumahan

0
Tumpukan sampah yang belum terangkut menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Kawasan patam Lestari Sekupang, Senin (18/6). Tumpukan sampah tersebut selain bau juga banyak dihinggapi lalat. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Penumpukan sampah kian terlihat di sejumlah perumahan Batam. Tiga hari pasca Hari Raya Idul Fitri, pemandangan yang tak indah itu juga mengundang bau tak sedap yang mengganggu suasana indahnya Lebaran.

“Dari hari pertama Lebaran sudah numpuk, sekarang apalagi. Tapi belum ada juga petugas yang datang ngangkut,” ujar Fitri, warga perumahan Modena Batamcenter, Senin (18/6).

Warga sekitar mengira, penumpukan sampah tersebut dapat teratasi di hari Senin ini mengingat sudah mulainya sebagian pihak untuk kembali bekerja. Namun hingga sore hari, sampah-sampah di sekitar perumahan warga tersebut belum juga diangkut.

Tidak hanya di perumahan Modena, perumahan Cendana, Bida Asri I, Mediterania, dan sekitar Legenda Malaka Batamcenter juga diwarnai pemandangan serupa yakni, penumpukan sampah rumahan (pribadi).

Ditambah dengan kondisi cuaca Batam yang cenderung hujan, membuat komposisi sampah yang sulit untuk dibakar.

“Biasanya kalau sudah numpuk dibakar sendiri. Cuma karena kena hujan begini susah bakarnya. Lagian banyak sampah basah dari sisa-sisa makanan, bau dan lalar yang bikin gak tahan,” ungkap warga lainnya, Tarno.

Menurut warga Cendana ini, tim satgas sampah yang disediakan pemerintah selama libur Lebaran, tidak tersebar merata terutama ke dalam perumahan. Jika dibandingkan, sampah yang ada di sekitar pasar memang tidak terjadi penumpukan karena dilakukan pengangkutan hampir setiap harinya.

“Rata-rata yang menumpuk itu di perumahan. Sementara mereka hanya mengangkut yang di pasar atau tempat-tempat umum. Seharusnya, mengangkut sampah yang di perumahan itu yang diutamakan,” keluhnya.

Ia bersama beberapa warga lainnya berharap agar pemerintah dapat menilik kondisi tersebut, mengingat kesehatan di lingkungan perumahan warga patut diperhatikan. ”

Tolong yang di perumahan dulu diselesaikan, biar lingkungan juga sehat,” pungkas Tarno.

Warga Perumahan Acasia, Patam Lestari pun mengeluhkan lambannya pelayanan pengangkutan sampah di perumahan mereka. Pasalnya, sudah empat hari belakangan ini, truk pengangkut sampah belum menyambangi perumahan mereka.

“Sampah sampai busuk di depan rumah,” ujar Rahmawati, warga Perumahan Acasia, Senin (18/6).

Karena tak kunjung diangkut, warga pun memilih membuang sampah di pinggir jalan. Seperti yang terlihat di pinggir jalan Kampung Tua, Patam Lestari. Pantauan Batam Pos, sampah rumah tangga tersebut terlihat menumpuk dan berserakan di sisi kiri jalan, warga yang lewatpun harus menutup hidung mereka, karena mengeluarkan bau yang cukup menyengat.

“Sampah tak diambil berhari-hari, terpaksa kami buang di sana,” katanya.

Dia mengatakan, awalnya pengangkutan sampah berjalan normal. Namun pasca Lebaran, petugas dari DLH tersebut sama sekali tak terlihat. Sehingga bak sampah milik warga penuh bahkan ada yang berulat.

“Sampai banyak lalat juga kan nggak bagus buat kesehatan apalagi kami punya anak bayi,” jelasnya.

Sementara Kepala Bidang Persampahan, DLH Batam, Faisal, mengatakan terkait pengangkutan sampah yang terlambat, Faisal meminta warga bersabar jika ada sampah yang belum diangkut. Faisal memastikan semua sampah di perumahan bisa diselesiakan dengan cepat agar tidak menumpuk.

“Kalau meningkat sudah pasti, karena lebaran banyak yang masak belum lagi kaleng minuman dan lainnya,” ujarnya. (une/nji)

Sampah Sumbat Drainase Utama di Batuaji

0
Parit bukan tempat sampah.
foto: vian sunardi / facebook

batampos.co.id – Drainase utama yang sudah dilebarkan oleh Dinas Bina Marga kota Batam akhir tahun lalu di Batuaji kini kembali bermasalah. Air tak bisa mengalir lancar sebab kembali tersumbat tumpukan sampah rumah tangga.

Inilah yang terjadi pada drainase utama di sepanjang jalan simpang Taman Makam Pahlawam Batuaji atau persisnya depan simpang Kaveling Baru, Sagulung. Drainase itu baru saja dilebarkan akhir tahun 2017 lalu, namun kondisinya kini kembali memprihatinkan. Setiap kali hujan air drainase itu bagaikan kolam besar.

Genangan air merata dengan badan jalan. Air tak bisa ngalir ke arah Sagulung sebab terhalang oleh tumpukan sampah yang tersangkut pada ujung gorong-gorong jalan. Gorong-gorong tersebut merupakan saluran penyebrangan air dari wilayah Batuaji menuju ke lokasi pembuangan akhir di Sagulung.

Fadhil Iqbal warga setempat menuturkan, tumpukan sampah di ujung gorong-gorong itu sudah lama terjadi namun tonasenya kian meningkat selama perayaan Lebaran yang baru saja dilalui. Tumpukan sampah lama ditambah lagi sampah yang baru tentu memperburuk kondisi drainase. Ini terjadi disinyalir karena diameter gorong-gorong yang belum ideal. “Mungkin kurang lebar gorong-gorong itu. Lagian sudah lama juga tersumbatnya jadi makin hari makin banyak sampah yang menyumbati gorong-gorong ini,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu diakui Fadhil, drainase utama itu sudah dilebarkan, namun tidak dibarengi dengan normalisasi gorong-gorong. Pemko Batam melalui Dinas Bina Marga hanya melebarkan gorong- gorong di persimpangan jalan menuju kaveling baru dengan pembangunan jembatan. Itu hanya mengatasi persoalan banjir di wilayah Sagulung, sementara di Batuaji masih tetap bermasalah sebab gorong-gorong penyebrangan air dari Batuaji tak dinormalisasi.

Pihak kecamatan saat dikonfirmasi lebih cenderung menyoroti kebiasaan buruk masyarakat yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan masih minim. Kebiasaan buang sampah ke parit atau drainase menjadi penyebab utama atas persoalan itu.”Upaya pemerintah sudah cukup maksimal. Sudah banyak drainase yang dikeruk. Gorong-gorong dilebarkan. Tapi itu semua percuma kalau masyarakat masih buang sampah di parit,” ujar Camat Sagulung Reza Khadafi, belum lama ini.

Untuk mengatasi persoalan itu, Reza berharap agar masyarakat peran aktif menjaga kenyamanan lingkungan tempat tinggal.

“Jangan lagi buang sampah sembarangan. Hidupkan lagi budaya gotong royong. Kalau ada yang tak beres segera bereskan dengan goro bersama,” pesan Reza. (eja)

RI Ambil Peluang dari Perang Dagang

0
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution

batampos.co.id – Perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok bakal membuat perekonomian global kian tak menentu. Meski demikian, Indonesia berharap dapat mengambil peluang dari pergeseran pasar perdagangan dunia.

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, Indonesia bisa memanfaatkan perang dagang AS dengan Tiongkok untuk menekan defisit.

”Salah satunya dengan mendapatkan harga barang impor yang lebih murah jika dua negara tersebut terpaksa mencari pasar ekspor negara lain,” ucap Darmin, Minggu (17/6) lalu di Jakarta.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menerangkan, meningkatnya neraca perdagangan Indonesia dipengaruhi pemulihan ekonomi di negara maju. Di antaranya adalah Amerika Serikat, Tiongkok, dan India.

’’Kait-mengait negara besar itu berimplikasi juga ke Indonesia. Karena mitra dagang mengalami peningkatan, maka juga mendorong demand komoditas,’’ ujar Eko.

Sebagai salah satu antisipasi, yang perlu dilakukan pemerintah adalah memperkuat ekspor dan mendorong industri dalam negeri untuk bisa melakukan substitusi bahan baku impor. ”Pemerintah harus bersiap memperkuat switching atau penyediaan bahan baku dalam negeri,’’ jelas Eko.

Sebagai balasan atas aksi AS, Tiongkok mengumumkan akan mengenakan tambahan 25 persen tarif barang AS yang masuk ke Tiongkok. Sebelumnya Presiden AS Donald Trump telah membuat daftar lebih dari 800 barang impor penting dan strategis dari Tiongkok yang akan dikenai tarif 25 persen mulai 6 Juli. Dalam daftar itu termasuk di antaranya adalah mobil.

Di sisi lain, Kementerian Perdagangan Tiongkok menanggapi hal tersebut dengan mengenakan tarif berskala dan berkekuatan sama terhadap produk Amerika Serikat. Kantor berita Xinhua menyebutkan, Tiongkok akan memberlakukan tarif 25 persen pada 659 produk AS, mulai kedelai, mobil, hingga produk perairan.

”Bea masuk senilai USD 34 miliar untuk barang Amerika Serikat termasuk produk agrikultur, termasuk kedelai, akan efektif mulai 6 Juli. Kedelai adalah impor terbesar Tiongkok dari Amerika Serikat dari sisi nilai,” tegas Kementerian Perdagangan Tiongkok sebagaimana dilansir dari Reuters.

Daftar 659 barang Amerika Serikat jauh lebih banyak dibandingkan versi yang dirilis pada April, yakni 106 barang. Beberapa item bernilai tinggi seperti pesawat komersial telah dihapus.

Sementara itu, tanggal diberlakukan bea masuk untuk barang sisanya yang bernilai USD 16 miliar akan menyusul diumumkan pihak Tiongkok. Barang-barang yang masuk adalah minyak mentah, gas alam, batu bara, dan beberapa produk minyak.

”Amerika Serikat mengabaikan ketegasan oposisi Tiongkok dan bersikeras untuk mengadopsi perilaku yang melanggar aturan WTO. Ini mengancam kepentingan ekonomi dan keamanan Tiongkok,” tambah Kementerian Perdagangan Tiongkok.

Balasan lebih telak juga disiapkan Tiongkok dengan mengancam untuk memungut tarif atas impor minyak mentah AS, gas alam, dan produk energi lainnya, dilansir dari Reuters Jumat (15/6) lalu. ”Ini adalah masalah besar. Tiongkok pada dasarnya adalah pelanggan terbesar minyak mentah AS sekarang. Ini jelas merupakan perkembangan besar,” ujar Direktur Riset Komoditas ClipperData Matt Smith kepada Reuters.

Menurut data Departemen Energi AS, Tiongkok mengimpor sekitar 363.000 barel minyak mentah AS per hari. Itu setara dengan Kanada sebagai importer minyak mentah terbesar AS. Belum lagi tambahan 200.000 barel per hari (bpd) dari produk lain seperti propana. (agf/rin/c17/sof/JPG)

Berhenti Kerja demi Piala Dunia

0
Suporter Kolombia berfoto bersama.
foto: REUTERS/Tatyana Makeyeva

Orang Kolombia dikenal sangat mencintai sepakbola, terutama Piala Dunia. Apapun dilakukan demi bisa menonton turnamen tim nasional antar negara ini. Empat penggila bola di Kolombia sampai keluar dari pekerjaan mereka demi terbang ke Rusia.

Juan Esteban Garcia, Juan Felipe Garcia, Andres Felipe Fajardo, dan Juan Jose Moggio adalah empat orang itu. Bagi orang-orang Kolombia tidak ada yang lebih penting dari Piala Dunia.

Meskipun jarak Rusia lebih dari 10.000 km dari Kolombia, namun banyak penduduknya yang membeli tiket ke Piala Dunia. Diperkirakan ada 14.700 warga Kolombia yang akan ke sana. Itu menjadikan mereka menduduki posisi ketiga sebagai penggemar dengan perjalanan tertinggi di dunia.

“Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup,” kata Andres Felipe Fajardo yang keluar dari pekerjaannya sebagai dokter demi pergi menonton Piala Dunia.

“Saya tidak mendapatkan cuti, sedangkan ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Tak perlu memikirkan tentang itu. Sepakbola adalah hal terpenting bagi saya,” tambahnya.

Tak hanya Fajardo yang berkorban demi Piala Dunia. Juan Eseteban Garcia pun melakukan hal senada. Ia adalah seorang teknisi industri yang rela berhutang dan membuat kartu kredit demi membayar biaya perjalanannya.

“Saya tidak mampu membayar semua visa dan biaya perjalanan ini tanpa kartu kredit. Tapi ini akan sepadan,” kata Esteban Garcia yang baru akan pertama kali melakukan perjalanan ke luar negeri ini.

James Rodriguez yang mencetuskan ide perjalanan ini. Bersama ketiga temannya, ia ingin melintasi Eropa dan berhenti di setiap negara dalam perjalanan menuju Rusia.

“Butuh waktu berbulan-bulan untuk merencanakan ini. Perjalanan kami akan memakan waktu total lima minggu. Ketika kami mendengar bahwa Piala Dunia dilaksanakan di Rusia, kami melihat jarak sebagai tantangan yang menyenangkan,” katanya bersemangat.

Felipe Garcia memperkirakan perjalanan itu akan menghabiskan biasa lebih dari 12 juta peso Kolombia (sekitar 58 juta rupiah). Ini adalah jumlah yang besar, mengingat upah rata-rata pegawai tiap bulan adalah 1,1 juta peso (setara 5,3 juta rupiah).

Desainer grafis Juan Jose Moggio juga berhenti dari pekerjaannya demi mengejar impiannya ke Piala Dunia.

“Ini adalah sesuatu yang Anda bagi dengan seluruh orang Kolombia sejak Anda masih anak-anak. Ketika Anda tumbuh di negera seperti ini, maka setiap hari Minggu digunakan untuk menonton pertandingan. Tidak peduli siapa Anda atau dari mana Anda berasal,” jelasnya.

Moggio menggambarkan sepakbola sebagai suatu agama.

“Di Kolombia ini adalah satu-satunya hal yang menghubungkan orang-orang. Menyaksikan tim bertanding di Rusia akan jadi salah satu momen paling berarti di hidup saya. Ini akan jadi luar biasa,” ucapnya.

Semangat Piala Dunia juga ditunjukkan oleh penduduk Kolombia yang turun ke sepanjang jalanan ibukota. Mereka optimis timnas kesayangannya memiliki peluang. Di sebelah utara Bogota, yang merupakan perumahan padat penduduk, banyak dijual stiker Panini di setiap sudut.

“Ketika pertandingan dimulai, kami mulai benar-benar sibuk. Saat ini saya menjual sekitar 10 sampai 15 kotak Panini setiap hari. Tapi belakangan bisa sampai 20 kotak,” kata salah seorang penjual. (feb/JPG)

Dobel Nikmat

0

Apa yang paling nikmat? Pastinya merayakan Lebaran usai menjalankan puasa Ramadan sebulan penuh.

Bagi saya, Idul Fitri tahun ini terasa beda. Untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, saya dan keluarga merayakan Lebaran di tiga kota berbeda. Tahun ini di Batam, tahun lalu di Samarinda-Kalimantan Timur (Kaltim), dan tahun 2016 lalu di Kota Bontang, juga di Kaltim.

Namun demikian, Lebaran kali ini terasa lebih spesial. Dikatakan spesial karena selain merayakan dengan keluarga, saya juga merayakan dengan teman-teman dan sahabat baru. Semuanya serba baru. Yang pasti, teman dan sahabat saya terus bertambah. Semakin banyak.

Berbeda ketika baru pertama kali menginjakkan kaki di Batam pada 11 Juli 2017 lalu. Tidak kenal siapa-siapa. Tidak tahu di mana. Tidak tahu mau apa. Benar-benar blank. Harus mencari teman dan sahabat baru. Meninggalkan teman-teman lama di seberang sana.

Ya, itulah nikmat Lebaran. Selalu ada jalan. Hal-hal baru belum tentu membosankan. Bagi yang mau maju, hal-hal baru adalah sebuah tantangan. Kalau dilihat sekilas, merayakan Idul Fitri berpindah-pindah kota adalah hal yang tidak lazim. Bahkan ada salah seorang teman saya bilang: sama sekali tidak enak.

Tapi bagi saya ini adalah anugerah. Mungkin ini adalah cara Allah SWT membukakan pintu dunia bagi saya dan keluarga. Agar saya bisa melek. Dan yang paling utama bisa belajar dan menambah ilmu. Juga menambah teman, sahabat, dan saudara. Meskipun saya dan keluarga akhirnya menerka-nerka: tahun depan Lebaran di mana? Hehehehehehe.

Setidaknya, saya masih memegang teguh amanah dari “guru” yang juga almarhum ayah saya, Supriyono. “Tetap sabar dan semangat. Kamu harus bersyukur karena kerja kerasmu membuahkan hasil. Yang penting tetap eling (ingat). Insya Allah bapak dan ibu terus mendoakanmu,” kata ayah saya, sebelum saya berangkat ke Batam.

“Guru” saya lainnya, Zainal Muttaqin juga seringkali mengingatkan saya. Memberi petuah. Juga banyak menyampaikan saran. Bahkan terus jadi pegangan hidup saya. “Kamu itu orang hebat, harus berani terima tantangan saya. Dunia ini luas. Kalau kamu cuma di Kaltim saja, mana bisa maju. Insya Allah kamu bisa,” kata Bos Zam, begitu saya memanggilnya.

Lebaran itu nikmat. Sangat-sangat nikmat. Bayangkan, 30 hari kita menahan lapar, haus, dan nafsu. Semuanya tersalurkan di hari yang fitri. Benar-benar nikmat. Meski demikian, saya belum bisa membayangkan tahun depan Lebaran di mana. Meski demikian, keluarga saya sepertinya sudah ikhlas. Kwakakakak.

Lalu, apa nikmat berikutnya?

Lebaran tahun ini juga benar-benar dahsyat. Kita disajikan tontonan turnamen sepak bola terbesar di dunia bertajuk FIFA World Cup 2018 di Rusia. 32 negara dari berbagai benua ambil bagian. Mereka berusaha merebut trofi Piala Dunia dari tangan Jerman.

Demam Piala Dunia tidak hanya menjangkit kaum adam. Kaum hawa pun juga tertular. Meskipun timnas Indonesia belum mendapat kesempatan tampil, euforianya menular sampai ke Batam. Bahkan di seluruh dunia. Apalagi, jam tayangnya pada saat jam istirahat.

Sudah pasti kita happy. Sembari menikmati kue Lebaran, kita juga disuguhi pertandingan-pertandingan seru. Bahkan, momen silaturahmi Lebaran pun bisa dipadu dengan nonton bareng (nobar) Piala Dunia. Benar-benar nikmat.

Piala Dunia 2018 juga diharapkan membangkitkan perekonomian. Transaksi jual-beli tampak bangkit. Kafe, rumah makan, hingga warung kopi ramai-ramai menggelar nobar. Tinggal pilih saja. Mau menonton di mana. Teriakan-teriakan dukungan untuk negara-negara peserta terdengar hampir di sepanjang jalan-jalan. Pokoknya, asyik.

Grup Whatsapp hingga media sosial (medsos) juga ramai-ramai membahas soal hasil pertandingan. Di sela-sela mengucapkan “Minal Aidin wal Faizin – Mohon Maaf Lahir dan Batin”, juga diselingi “Semoga tim jagoanku jadi juara”.

Dobel nikmat ini belum tentu bisa kita nikmati tahun depan. Ini adalah peristiwa yang langka. Bisa berpuluh-puluh, bahkan beratus-ratus tahun lagi kita mendapat dobel nikmat seperti ini. Karena Lebaran menggunakan tahun Hijriah, sementara Piala Dunia menggunakan tahun Masehi.

Jadi, selamat merayakan Idul Fitri 1439 Hijriah sembari menyaksikan laga-laga keren di Piala Dunia 2018. Dobel nikmat bukan? (*)

 

Guntur Marchista Sunan
Direktur Batam Pos

 

 

Revitalisasi Masjid Agung Batam Center Tunggu Peralihan Aset

0
Masjid Raya Batam

batampos.co.id – Rencana revitalisasi Masjid Agung Batam (sebelumnya bernama Masjid Raya Batam) tinggal menunggu peralihan aset dari BP Batam. Kini peralihan tersebut sedang berproses dan hanya menunggu arahan dari Kementrian Keuangan sebagai pemilik aset.

Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (CKTR) Batam Suhar mengatakan, program revitalisasi ini sudah masuk dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Tinggal, jika aset sudah diserahkan ke Pemko Batam tinggal dikembangkan dalam Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA PPAS).

“Kemungkinan aset setelah lebaran ini diserahkan. Setelah diserahkan, kami masukan anggaran,” ucapnya.

Informasi yang ia dapat, penyerahan aset tersebut bersamaan dengan beberapa aset lain seperti Pasar Induk Jodoh, TPA Punggur serta Masjid Baiturahman Sekupang.

“Kalau soal revitalisasi masjid Baiturahman ini, bertahaplah. Nanti dulu, duluan Masjid Raya (MAsjid Agung Batam, red). Kalau maunya kita sih sekaligus, tapi dana,” ucapnya.

Wali Kota Batam Muhammad Rudi, menyebutkan setidaknya butuh anggaran Rp 80 miliar untuk merevitalisasi Masjid Agung Batam. Dengan rincian alokasi anggaran tahun 2019 sebanyak Rp 40 miliar sementara sebagiannya dianggarkan pada tahun 2020 mendatang.

“Bangunan dan kontruksi utama yang ada sekarang tidak diubah. Kita tambah kiri, kanan, depan dan belakang. Akan bernuansa melayu seperti di Pulau Penyengat,” ucapnya. (iza)

Januari-April Tembus 791 Ribu Kunjungan Wisman

0
Sejumlah turis mengunjungi Kota Lama jalan Merdeka Tanjungpinang, belum lama ini. F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kepri, Buralimar mengatakan kunjungan wisatawan mancanagera (Wisman) ke Provinsi Kepri untuk priode Januari-April 2018 grafiknya terus menanjak. Adapun jumlah wisman dari empat pintu masuk internasional di Kepri adalah sebanyak 791.224.

“Secara komulatif Januari-April 2018 mengelami kenaikan sebesar 17,47 persen jikan dibandingkan dengan priode yang sama pada tahun 2017 lalu,” ujar Buralimar menjawab pertanyaan Batam Pos, kemarin.

Dijelaskannya, jumlah wisman yang berkunjung ke Provinsi Kepulauan Riau pada bulan April 2018 mencapai 194.118 atau mengalami penurunan 17,10 persen dibanding jumlah wisman pada bulan sebelumnya. Karena jumlah wisman pada Maret 2018 sebanyak 234.156 kunjungan. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan April 2017, kunjungan wisman April 2018 justru mengalami kenaikan, yaitu sebesar 5,00 persen.

“Pada Januari-April 2017 tingkat kunjungan wisman ke Kepri adalah 673.538 kunjungan. Sedangkan untuk priode yang sama tahun ini, jumlah wisman yang datang ke Kepri tembus 791.224 kunjungan,” paparnya.

Mantan Kepala Badan Pembangunan Masyarakat Desa (BPMD) Provinsi Kepri tersebut juga menjelaskan, Wisman yang berkunjung ke Provinsi Kepulauan Riau pada bulan Januari-April 2018 didominasi oleh wisman Singapura sebesar 47,01 persen. Kemudian disusul Malaysia 12,13 persen, Tiongkok 11,04 persen, Korsel 4,29 persen , India 3,13 persen, dan lainnya 22,04 persen.

“Sampai sejauh ini, wisman asal Singapura masih menondominasi kunjungan wisman ke Kepri,” paparnya lagi.

Lebih lanjut, Buralimar juga mengatakan bahawa Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Provinsi Kepulauan Riau pada bulan April 2018 mencapai rata-rata 53,50 persen atau turun 2,12 poin dibanding TPK Maret 2018 sebesar 55,61 persen.

Adapun rata-rata lama menginap tamu asing dan tamu Indonesia pada hotel berbintang di Provinsi Kepulauan Riau pada bulan April 2018 adalah 2,08 hari, atau naik 0,07 poin dibanding dengan rata-rata lama menginap tamu pada Maret 2018.

Ditambahkannya, ia yakin jika dimasukan jumlah wisman yang datang berkunjung ke Kepri pada priode Mei-Juni 2018 dan termasuk libur lebaran, jumlah wisman ke Kepri berpoteni tembus pada angka satu juta. Atas dasar itu, ia berharap pada priode Januari-Juni 2018 ini, jumlah wisman yang datang ke Kepri bisa mencapai 60 persen dari target.

“Acuan targetnya sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yakni 2,22 juta wisman. Artinya dengan capaian sekarang, sudah mendekati diatas 35 persen. Sedangkan target nasional sekitar 25 persen. Karena jumlah targetnya 2,4 juta,” tutup Buralimar.

Terpisah, anggota Komisi II DPRD Kepri Onward Siahaan mengatakan, melihat grafik kunjungan wisman yang membaik sekarang ini, ia mengharapkan semua pihak untuk bersama-sama menjaga kondusifitas daerah. Karena keamanan dan kenyamanan menjadi faktor penentu ramainya wisman datang ke Kepri.

“Tidak bisa kita pungkiri, kontribusi pariwisata pasti. Hanya saja prosesnya tidak instan,” ujar politisi Partai Gerindra Kepri tersebut. (jpg)