Jumat, 15 Mei 2026
Beranda blog Halaman 12543

Satu Lagi Napi Kabur Ditangkap

0

batampos.co.id – Satu lagi narapidana (napi) Lapas Kelas IIA Tanjungpinang Muhammad Effendi, 33, yang kabur berhasil ditangkap, Selasa (6/2) pagi. Kali ini warga Kampung Purwodadi dan Kampung Jawa, Sungai Lekop yang kebetulan melaksanakan ronda menangkap predator anak itu.

Warga Sei Lekop, Nardi menuturkan pagi dini hari warga yang melaksanakan jaga malam melihat seorang lelaki berjalan di kegelapan di sekitar jalan musi. Saat didekati, langkah
kaki lelaki tersebut makin cepat. “Lama-lama hilang, tak kelihatan lagi. Curiga, akhirnya warga berpencar mencari di sekitar kampung,” katanya.

Lebih kurang satu jam warga melakukan pencarian dan napi tersebut berhasil ditemukan sedang bersembunyi di gorong-gorong. Warga kemudian melaporkan kejadian tersebut
ke pihak Lapas.

“Warga menghubungi petugas Lapas. Tak lama kemudian, 8 orang petugas yang menaiki dua mobil datang untuk menjemput napi yang kabur itu,” katanya.

Kapolsek Gunung Kijang, AKP Dunot P Gurning membenarkan penangkapan itu. “Benar sudah ditangkap dekat pabrik permen,” ujarnya ditemui di Kantor Bupati Bintan, Selasa
(6/3).

Sebelum ditangkap, kata dia, napi tersebut sempat bersembunyi di gorong-gorong saluran air. Lalu tak lama dipergoki masyarakat. Agar tidak lari, warga mengikatnya.
“Ya langsung diikat,” katanya.

Kepala Lapas Kelas IIA Tanjungpinang, Haswen Hasan melalui Kepala Pengamanan Rio mengatakan, napi yang kabur dan diamankan warga sudah dijebloskan ke ruang isolasi.
“Sudah kami amankan di ruang isolasi,” tukasnya.(met)

Masyarakat Batam Diajak Berzumba Ria pada Car Free Night

0

batampos.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam kembali menggelar Car Free Night (CFN) pada Sabtu (10/3) nanti. Kali ini, CFN akan mengangkat tema Zumba Night yang melibatkan pesenam Zumba dari dalam maupun luar negeri.

“Acara ini nanti dimeriahkan oleh artis Zumba nasional Lisa Natalia dan dilaksanakan di Bundaran BP Batam dengan melibatkan 100 UKM dan 600 peserta Zumba dari Malaysia dan Singapura,” kata Deputi V BP Batam, Bambang Purwanto, Selasa (6/3).

Tujuan mengundang pesenam Zumba dari mancengara adalah dalam rangka menarik perhatian wisman lokal maupun luar negeri.”Ini semua untuk memperkenalkan Batam dalam kontekss Batam itu nyaman dan fantastik,” ujarnya.

Zumba Night merupakan tema yang diusung agar masyarakat dapat mengikutinya dengan ceria.”BP Batam ingin mengajak masyarakat untuk berolahraga dan seni. Karena ada juga pentas seni Melayu dari para pelajar untuk mengekspresikan kegiatannya di malam hari,” paparnya lagi.

Bambang mengatakan target yang ingin dicapai soal jumlah peserta mencapai 4000 orang Batam, dimana mereka akan ikut bergoyang.”Selain Zumba, acara ini juga akan dihibur oleh band lokal dan juga ada pasar kuliner,” jelasnya.

Dengan keberadaan pasar kuliner yang menyediakan stan gratis, maka dapat menggerakan ekonomi masyarakat kecil menengah kebawah. Disamping itu Bambang juga mengatakan bahwa komunitas sanggar tari juga akan diajak sebagai bagian dalam rangka latihan untuk acara yang lebih besar, yakni Batam Menari pada April nanti. (leo)

ATB Batam Tantang Pesaingnya

0
Petugas tengah melakukan kalibari meter air di Water Meter Lab dan Workshop PT Adhya Tirta Batam ATB. DOK/ATB

batampos.co.id – ATB menantang kontestan lainnya dalam tender lelang pengelolaan air baku di Batam menyusul berakhirnya kontrak konsesi ATB dengan BP Batam.

“Yes makanya saya bilang seharusnya ikut, karena secara teoritis tidak ada hal yang menyebabkan kami tak ikut,” kata Presiden Direktur ATB, Benny Andrianto, Selasa (6/3) di Hotel Aston Batam usai acara Indonesia Marketeers Festival.

Ia mengilustrasikan ATB ini sudah membangun sistem, infrastruktur dan jaringan utilitas yang rapi dan tersusun secara profesional.

“Kan saya sudah beritahu, ATB ini diilustrasikan seperti Formula One, mobilnya sudah disediakan. Makanya jangan cari supir bajaj,” ungkapnya.

Batam kata Benny punya potensi sedemikian dahsyat sebagai ladang investasi dalam bidang pengelolaan air.

“Batam sudah dikelola dengan baik, siapa yang tak pengen,” jelasnya.

Dalam prediksinya, ada 30 perusahaan lokal yang kemungkinan akan menjadi pesaing mereka.

“Banyak yang tertarik. Namun seperti yang sudah saya bilang, mobil Formula One sudah saya siapkan, jangan cari supirnya supir bajaj,” tegasnya kembali.

Sedangkan mengenai wacana pengalihan status ATB menjadi Perusahaan Daerah Air Minum, Benny mengaku hal tersebut berada di luar domainnya.

“Saya tak tahu apa program BP dan Pemko. Tapi yang harus menjadi catatan, siapkan institusi PDAM tidak sebentar. Jika mereka punya rencana tersebut, segera mulai sekarang apalagi sudah H3 minus,” ujarnya.

Membentuk PDAM merupakan hal yang kompleks karena ada sejumlah proses yang harus dilalui dimulai dari transfer ilmu dan seterusnya.

“Sedangkan kami mendidik orang ATB itu selama 20 tahun,” katanya.

Ketika ditanya soal lelang pengelolaan air nanti, ia mengatakan sesuai dengan Peraturan Pemerintah 122/2015 Pasal 56 menyebut bahwa sistem kerjasama dengan pemerintah itu dibatasi kepada satu unit produksi, unit distribusi, unit pelayanan, unit teknologi dan lainnya.

PP ini kata Benny masih merunit pada UU 11/1974 yang merupakan undang-undang lama. Makanya saat ini DPR sedang menggodok rancangan UU baru, yang selambat-lambatnya akan diikuti PP yang baru. Sehingga PP 122/2015 ada kemungkinan akan berubah.

“Sekarang pemerintah lebih mendorong ke bagian hulu yakni bagian produksi dengan syarat bila ada PDAM. Artinya kalau saya yang ambil produksi maka yang jalankan distribusi siapa,” ungkapnya.

Disamping itu, BP Batam juga menargetkan untuk mencari perusahaan lokal sebagai prioritas dalam pengelolaan air di Batam. Jika ada perusahaan asing yang berminat, maka harus mencari rekan dari lokal dengan kepemilikan saham lebih dominan ke rekan lokal.

“Memang dalam posisi saat ini, ATB itu 50-50. Namun ketika tahun 2020, kita lihat saja nanti. Tunggu tanggal mainnya,” pungkasnya. (leo)

Mantan Kasat Narkoba Dituntut 11 Tahun Penjara

0
Terdakwa Dasta Analis (2 kanan) beserta tiga anggotanya Indra Wijaya, Joko Afrianto dan Tomy Adriadi saat digiring petugas di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Selasa (6/3). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Mantan Kasat Narkoba Polres Bintan, terdakwa Dasta Analis yang terlibat kasus penggelapan barang bukti sabu dituntut 11 tahun penjara denda 1 miliar subsider 1 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Selasa (6/3).

Sedangkan anggotanya yakni terdakwa Indra Wijaya dituntut 9 tahun penjara denda 1 miliar subsider 1 tahun penjara, Joko Afrianto dan Tomy Adriadi dituntut 8 tahun penjara denda 1 miliar subsider 1 tahun penjara. Keempat terdakwa terbukti melanggar Pasal 114 ayat 2 jo pasal 132 ayat 1 UU Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

“Terdakwa terbukti melakukan percobaan atau permufakatan jahat, untuk melakukan tindak pidana Narkotika yaitu tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk di jual, menjual, membeli , menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar atau menyerahkan Narkotika Golongan I bukan Tanaman, yaitu berupa Sabu sabu seberat kurang lebih 0,5 Kilogram,” ujar JPU Irisa didampingi JPU Ricky Trianto.

Atas tuntutan tersebut, keempat terdakwa yang didampingi penasehat hukumnya akan melakukan pledoi atau pembelaan tertulis pada pekan depan. “Sidang ditunda pekan depan dengan agenda mendengar pledoi terdakwa,” kata Hakim Ketua Acep Sopian Sauri didampingi Hakim Anggota Santonius Tambunan dan Monalisa Siagian.

Kasus ini terungkap usai Polres Bintan melaksanakan rilis penangkapan Achyadi, pemilik 16 kilogram sabu. Terdakwa Dasta selaku Kasat Narkoba langsung memerintahkan anggotanya yakni terdakwa Abdul Kadir, Kurniawan Tambunan (sidang terpisah), Indra Wijaya, serta Tomy Adriadi untuk mengambil sebagian barang bukti dan menjual barang bukti untuk membayar informan serta operasional kegiatan Sat Narkoba.

Kemudian, pihaknya menemui terdakwa Joko Afrianto, Bintara urusan Administrasi Tata Usaha (Urmintu) Sat Narkoba Polres Bintan yang memegang kunci brangkas ruangan penyimpanan barang bukti.

Joko hanya menyisihkan sebagian dari 10 bungkus sabu yang disimpan di ruangan tersebut. Sedangkan sisa lainnya di simpan di ruangan SIKEU Polres Bintan sebanyak 11 paket, dari total 21 paket dalam perkara yang sedang dilakukan penyidikan atas nama tersangka Yoyok dan Suiri.

Lalu Joko menyisikan 10 paket sabu-sabu yang sudah di perintahkan terdakwa Dasta, dan memberikan kunci brankas serta kode kunci untuk diambil terdakwa Abdul Kadir dan terdakwa Kurniawan Tambunan.

Dasta lalu diberitahu Indra bahwa barang bukti sabu seberat 200 gram telah laku dijual kepada Andi Udin alias Uting (DPO) seharga Rp 50 juta. Udin membayar Rp 35 juta, sisanya Rp 15 juta akan ditransfer dua hari kemudian.

Dari uang penjualan barang haram tersebut, Dasta menyuruh Indra untuk mengambil uang Rp 32.500.000 dari terdakwa Abdul Kadir. Sisanya sebesar Rp 2,5 juta untuk membeli kain gorden ruangan unit 1, Ruangan KBO (bagian Operasi) dan ruangan Urmintu. Serta membayar papan panel anggaran Sat Narkoba Polres Bintan. Selanjutnya sisa 300 gram yang belum terjual disimpan oleh Joko dalam brankas.

Tak hanya itu, Dasta juga sempat memerintahkan Joko, untuk menjual sisa sabu yang disimpan seberat 16,6 gram kepada Dwi Supriyanto Malik, dengan harga Rp 16 juta. Namun Dwi Supriyanto Malik keburu ditangkap oleh Sat Narkoba Polres Tanjungpinang. (odi)

Proyek Drainase Mangkrak, Rumah Warga Terancam Roboh

0

batampos.co.id – Proyek peningkatan saluran drainase di samping perumahan Griya Surya Kharisma, kelurahan Kibing, Batuaji tidak berjalan maksimal. Proyek yang menelan anggaran sekitar Rp 1,2 miliar itu sepertinya asal-asalan saja sebab tak ada kelanjutan sekalipun belum rampung.

Warga sekitar mengaku kecewa karena mangkraknya proyek tersebut mulai berdampak bagi lingkungan tempat tinggal mereka.”Dapur rumah warga yang berbatasan dengan drainase mulai rusak karena galian drainase itu. Seharusnya disemenisasi tapi ini dibiarkan saja akhirnya longsor dan merusak bangunan dapur,”tutur Udin, seorang warga di perumahan tersebut, Selasa (6/3).

Informasi yang disampaikan warga, proyek pembangunan drainase induk itu sudah berhenti sejak bulan Oktober 2017 lalu. Proyek tersebut berjalan hanya sekitar dua bulan dan yang disemenisasi hanya sekitar 90 meter di bagian depan perumahan Griya Surya Kharisma. Sementara sisa sekitar 50 an meter di belakang perumahan Grya Surya Kharisma baru sebatas galian saja. “Padahal sesuai perencanaan awal harusnya sampai ke belakang perumahan ini,” kata Udin.

Ketua RW 03 Perumahan Griya Surya Kharisma mengakui hal itu. Bahkan keluhan serupa disampaikan hampir semua warga yang berdiam di blok yang berbatasan langsung dengan drainase tersebut. “Itulah yang kami sayangkan. Kenapa hanya depan saja yang disemenisasi, sementara di belakang tak. Padahal di belakang ini berbatasan dengan rumah warga harusnya itu yang duluan disemenisasi agar tidak merusak dapur rumah warga,” ujarnya.

Dengan adanya keluhan itu warga berharap agar Pemerintah Kota Batam meninjau kembali proyek tersebut apakah sudah sesuai dengan perencana awal atau belum. Sebab menurut warga selain belum rampung, proyek tersebut juga dinilai asal-asalan seja. Itu karena semenisasi pada bagian depan juga terlihat tidak efektif sebab terlalau tipis dan tidak rata. “Tembok (drainase) tidak rata dan tipis. Seperti asal-asalan proyek ini,” tutur Efendi, warga lain.

Pantauan Batam Pos di lapangan, tak ada lagi aktifitas proyek di sepanjang drainase itu. Bahkan plang proyek juga tak terlihat lagi. Seperti yang disampaikan warga pengerjaan drainase baru sebatas di bagian depan perumahan hingga ke jalan utama R Suprapto Batuaji. Sementara mulai dari perumahan Grya Surya Kharisma ke belakang belum ada semenisasi sama sekali. Pengerjaan baru sebatas galian saluran drainase saja. Galian tersebut kini sudah tak berbentuk lagi sebab banyak pinggiran drainase yang longsor dan merusak bangunan dapur rumah warga.

Camat Batuaji Ridwan saat dikonfirmasi mengaku belum tahu adanya persoalan itu. “Saya baru jadi belum begitu tahu. Nanti coba saya cros cek ke lapangan. Saya belum bisa jawab terkait persoalan ini,” ujar Ridwan.

Sementara Fridkalter camat sebelumnya menuturkan proyek pembangunan drainase itu merupakan upaya Pemko Batam untuk mengatasi persoalan banjir di wilayah Batuaji. Proyek tersebut ditargetkan rampung akhir tahun kemarin. Namun itu hanya sekedar target sebab pelaksanaanya tak sesuai target yang ada. (eja)

Wakil Walikota Batam: Anggota DPRD Jangan Paksakan Pokok Pikiran

0

batampos.co.id – Wakil Wali Kota Amsakar Achmad meminta anggota DPRD Batam kelak tak memaksakan pokok pikiran tertentu untuk direalisasikan dalam APBD 2018, jika masih ada rencana lain yang lebih dibutuhkan masyarakat.

“Jangan karena daerah pemilihan (dapil) kita paksakan, dan tak peduli dengan hal lain yang penting tapi di dapil yang lain,” harap Amsakar, Selasa (6/3) siang.

Ia menyampaikan, kini dari Pemerintah Kota sendiri sedang rutin melakukan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Lalu bagaimana penyesuaian dengan reses yang dilakukan anggota DPRD Batam, ia menyampaikan akan dibahas dalam Musrenbang Kota. Namun ia menyampaikan dalam penyertaan pokok pikiran DPRD Batam harus dilakuakn segera.

“Last minute baru input tak bisa, tak ada cerita, kalau tak salah batasnya bulan tiga bulan empat ini, ini bisa ditanyakan kepastiannya ke Bapelitbangda,”kata dia.

Input yang dimaksud Amsakar adalah sesuai dengan program electronic planning yang disiapkan pemerintah. Ia menyampaikan, setiap anggota DPRD sudah dibekali password masing-masing.

Ia menyampaikan pada Musrenbang Kota nanti selain dari Musrenbang tingkat kecamatan dan pokok pikiran DPRD Batam juga ada Rencana Kerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Kini, di Murenbang Kota untuk diajukan di e lanning dimungkinkan ada 10 ajuan program.

“Lima sangat prioritas dan cadangan. Hasil Musrenbang tentu nanti kita sesuaikan dengan APBD,”pungkas Amsakar. (adi)

Kemendagri Ingatkan Anggota DPRD

0

batampos.co.id – Maraknya Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang melibatkan pejabat pemerintah, tidak terkecuali legislator, Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otoda) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Soni Sumarsono meminta anggota DPRD tak melakukan pelanggaran serupa.

“Jangan ada yang demikian. Ini yang perlu diingat juga, masyarakat kita sudah semakin kritis dama berdemokrasi,”kata dia dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Assosiasi DPRD Kota Seluruh Indonesia (Adeksi) tahun 2018, di Batam.

Ia menyampaikan, kini informasi soal penangkapan abdi negara yang terlibat kasus tersebut, tidak terkecuali dari pejabat di lembaga legislatif. “Buktikan dengan adanya DPRD, harusnya daerah lebih baik,” kata dia.

Diakui, pemerintah prihatin atas kejadian yang terus menerus belakangan, kejadian OTT yang terjadi disepanjang daerah, dan cenderung meningkat, jelang Pilkada. Termaksud Pimpinan daerah, DPRD dan OPD. Seiring hal ini, pihaknya mengapresiasi kinerja lemabag antirasuah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

“Kita juga mengapresiasi KPK yang menjalankan tugasnya. mudah-mudahan tidak ada lagi pelanggaran semacam ini,” ucapnya.

Harapan seruap juga ia sampaikan untuk pemerintah daerah. Bukan tanpa alasan, belakangn ini informasi tentang kepala daerah yang diamankan juga ditetapkan jadi tersangka oleh KPK juga ada.Diingatkan, tidak hanya anggota DPRD yang OTT, namun pemerintah daerah. Sehingga saat ini diakui muncul wacana agar pemilihan kepala daerah di DPRD.

“Maka ada juga pendapat, pemilihan kepala daerah langsung, lebih baik,” sebutnya.

Dari wacana yang berkembang itu, saat ini Kemendagri melakukan kajian dan menyiapkan konsep baru. Dimana, konsep yang disiapkan, diantaranya pemilihan kepala daerah ada yang dilakukan DPRD dan ada yang dilakukan secara langsung, oleh masyarakat.

“Jadi Kemendagri sedang mengkaji. Ada daerah, jangan dipakasakan pemilihan secara langsung. Seperti dengan Papua. Beda dengan Surabaya, pemilihan langsung lebih baik,” jelasnya.

Namun diakui konsep itu masih final dan masih dievaluasi. Evaluasi dilakukan terhadap konsep pemilihan yang berjalan saat ini. “Kami sedang memikirkan dan evaluasi terkait sistem yang lebih baik. Kalau perlu, pembiayaan sebagian proses Pilkada, ditanggung negara. Seperti biaya saksi. Tapi ini masih pertimbangan,” ungkapnya.(adi)

Ada Yang Baru di Batam TV

0

batampos.co.id – Sebagai televisi lokal pertama dan terbesar di Kepulauan Riau, Batam TV terus berinovasi. Hal tersebut merupakan salah satu komitmen managemen Televisi lokal yang bernaung di Jawa Pos Multi Media (JPM).

Batam TV yang menempati lantai 9 Graha Pena Batam ini, memulai siaran pukul 06.00 WIB sampai dengan 00.00 WIB.

“Untuk konten siaran kita mulai dengan informasi berita dari seluruh nusantara, pukul 06.00 sampai 08.00 kita ada program Nusantara Kini Pagi atau yang biasa kita sebut NKP” ujar Andra S Kelana Direktur Operasional Batam TV.

Andra melanjutkan, Batam TV memiliki beberapa produk berita. Selain Nusantara Kini Pagi, juga ada Nusantara Kini Malam serta Berita Kini. “untuk berita skala nasional, selain NKP kita juga menyiarkan NKM yang tayang mulai pukul 22.00 sampai 23.30 WIB, sementara untuk breaking news dari daerah lain kita kemas dalam Berita Kini atau BK” tambah Andra.

Sementara untuk program berita lokal Kepulauan Riau, televisi yang telah berusia 15 tahun ini memiliki beberapa produk. “Sebagai televisi lokal, kemenangan kita adalah program berita lokal. Dan Batam TV memiliki program Detak Kepri Malam, Detak Kepri Siang dan berita berbahasa Melayu. Khusus untuk berita Melayu ini, merupakan bagian dari komitmen kita untuk menjaga dan menjunjung tinggi kekayaan Melayu di Kepulauan Riau” tambahnya.

Selain program berita, Batam TV juga memiliki program untuk olah raga serta infotaiment. Sementara untuk program hiburan, Batam TV juga menyiarkan program Stasiun Dangdut.

“Sekarang yang paling banyak ditonton itu program Stasiun Dangdut, itu kita siarkan pukul 12.00 sampai 13.30 WIB. Sengaja kita ajak masyarakat dangdutan pada jam istirahat siang agar penat hilang” tambah mantan wartawan ini.

Menyangkut penerimaan dimasyarakat, Batam TV dapat diterima di seluruh Batam, Tanjung Pinang, Karimun dan Johor Baru Malaysia.

“Selain program, kita juga berinovasi menyangkut teknologinya. Sedikit demi sedikit kita perbaiki peralatan yang terbilang “tua” sehingga kita bisa lebih baik lagi penerimaannya disbanding dulu” ujar Bayum , penanggung jawab teknik Batam TV.

Dengan perbaikan yang dilakukan, diharapkan masyarakat dapat mendapatkan siaran yang lebih baik lagi. “Kita berharap agar masyarakat bangga dan puas dengan Batam TV. Untuk itu masyarakat diharapkan menempatkan siaran Batam TV disalah satu channelnya” tambahnya.

Selain dapat diterima melalui antenna, Batam TV juga telah menjalin kerjasama dengan TV Kabel serta melalui aplikasi android JPM Stream. “Mengingat kemajuan teknologi yang sangat luar biasa, Batam TV hadir di genggaman kita. Caranya cukup mudah, yakni dengan mendownload JPM STREAM di play store android” pungkas Bayum. (menot)

Menko Perekonomian Minta Transisi FTZ ke KEK Dipercepat

0
Suasana rapat di kantor Kemenko Perekonomian

batampos.co.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution tengah membahas berbagai proyek infrastruktur pendukung yang akan dibangun di Batam. Darmin berharap, berbagai infrastruktur tersebut nantinya dapat menggaet lebih banyak investor untuk menanamkan modal di Pulau Batam.

“Ini penting agar semakin banyak yang berminat menanamkan investasi di Pulau Batam,” kata Darmin Nasution usai memimpin rapat koordinasi membahas pengembangan kawasan Batam di kantornya, Selasa (6/3).

Ia menyebutkan, beberapa proyek infrastruktur tersebut antara lain pengembangan Bandara Hang Nadim, pembangunan Jembatan Batam-Bintan, pembangunan Pelabuhan Tanjungasuh, hingga LRT atau light rail transit.

Dalam rapat yang dihadiri Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya, Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun, dan Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Lukita Dinarsyah Tuwo tersebut juga dibahas konsep masterplan Batam. Beberapa poin yang dibahas meliputi model ekonomi Batam, kondisi infrastruktur dan tata ruang beserta rencana pengembangannya, hingga kebijakan yang dibutuhkan.

“Mari kita bicarakan bagaimana sebetulnya desain ekonomi untuk Batam saat ini dan ke depan,” kata Darmin.

Darmin juga meminta transisi Free Trade Zone (FTZ) Batam menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam dipercepat. Ada beberapa prinsip terkait transformasi FTZ ke KEK Batam. Yakni KEK Batam bersifat zonasi (enclave), tidak whole island. Selain itu, penetapan KEK di cluster sesuai kawasan industri yang ada.

Kemudian, pengusaha yang tidak masuk cluster KEK, diberikan opsi untuk pindah ke KEK atau diberikan fasilitas lain seperti di Tempat Lain Dalam Daerah Pabean (Kawasan Berikat, Gudang Berikat, Pusat Logistik Berikat (PLB), Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), dan sejenisnya.

Menko Darmin juga menekankan perlunya skala prioritas dan cluster KEK Batam yang final.

“Untuk cluster itu perlu segera difinalkan. Apa saja persisnya, bagaimana visi yang menyangkut kegiatan ke depannya, serta potensi industri, potensi pariwisata dll,” tegasnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani berpesan, BP Batam dan Direktorat Jendeal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan serta stakeholder terkait lainnya perlu terus berkoordinasi terutama dalam membuat rencana kerja yang konkret.

“Perlu timeline yang jelas dalam masa transisi FTZ menjadi KEK di Batam ini,” kata Sri Mulyani.

Sementara Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo optimistis, dengan pembangunan berbagai infrastruktur, pertumbuhan ekonomi di kawasan Batam bisa mencapai target tujuh persen dalam dua tahun ke depan. Selain itu, juga dapat mendorong kinerja perekonomian di Kepulauan Riau dan nasional.

“Sebab Pulau Batam ini posisinya sangat strategis,” kata Lukita di lokasi yang sama.

Pada 2017, Dewan Kawasan Perdagangan Bebas Pelabuhan Batam (PBPB) mengganti pengurus BP Batam guna mengembalikan kejayaan kawasan Batam sebagaimana tujuan awal ditetapkan sebagai Free Trade Zone (FTZ) sejak 1973.

Lukita yang saat itu terpilih menjadi Kepala BP Batam, berjanji akan menyiapkan transformasi Batam dari kawasan FTZ menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dalam dua tahun agar kegiatan investasi menjadi bergairah dan Batam bisa kembali bersaing menjadi pusat kegiatan ekonomi.

Kawasan Batam saat ini dinilai tidak lagi memiliki daya tarik dibanding kawasan sejenis di ASEAN, terutama setelah mulai berlakunya MEA, yang memberikan pembebasan bea masuk bagi barang produksi sesama negara ASEAN.

Keterpurukan Batam terlihat dari data Dinas Tenaga Kerja Kota Batam yang mencatat jumlah perusahaan yang tutup pada 2015 di kawasan ini mencapai 54, pada 2016 mencapai 62, dan hingga Juli 2017 telah 53 perusahaan tutup.

Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan ekonomi Batam hanya mencapai 5,45 persen pada 2016 dan hingga semester I-2017 ekonomi Batam hanya tumbuh mencapai kisaran dua persen, karena lesunya kegiatan ekonomi di wilayah tersebut.

Di tempat yang sama Gubernur Kepri Nurdin Basirun menegaskan upaya-upaya untuk menjadikan Batam dan Kepri secara umum semakin menarik untuk investor terus dilakukan. Di antaranya dengan membangun infrastruktur pendukung iklim investasi seperti Jembatan Batam Bintan dan pengembangan bandara dan pelabuhan.

Percepatan transisi FTZ Batam ke KEK, kata Nurdin, juga perlu digesa. Bahkan ke depan KEK Batam akan meliputi Rempang dan Galang.

Selain membahas rencana pembangunan infrastruktur, dalam rapat tersebut juga disampaikan wacana penghapusan uang wajib tahunan otorita (UWTO) khusus untuk kawasan permukiman. “Memang ini menjadi pembahasan yang alot, tapi kami upayakan ada pembebasan (UWTO) di kawasan permukiman,” katanya. (jpg)

Penantian Panjang Jembatan Batam-Bintan

0

Rencana pembangunan Jembatan Batam-Bintan (Babin) dan pelabuhan kontainer di Tanjungsauh dimunculkan lagi oleh Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Nurdin Basirun.

Di hadapan Presiden Joko Widodo dalam satu pertemuan sejumlah kepala daerah, akhir Februari lalu, di Istana Negara di Jakarta, Nurdin memaparkan rencana tujuh proyek besar nan prestisius di Kepri itu. Salah satunya, ya, jembatan yang sudah lama dalam penantian itu.

Gayung pun bersambut. Jokowi yang lagi giatnya menggeber proyek infrastruktur fisik di negeri ini, tampaknya, tertarik dengan paparan Nurdin. Hanya hitungan hari, rencana Pempov Kepri itu pun disetujui Jokowi.

Untuk menyampaikan restunya, Jokowi sengaja mengundang balik Nurdin ke Istana Negara, Selasa (27/2). Turut diundang 40 orang warga Kepri dari kalangan pebisnis, tokoh masyarakat dan ulama.

Selain proyek jembatan dan pelabuhan kontainer, lima rancangan proyek lain yang disetujui Jokowi adalah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjungsauh, KEK Galang Batang di Bintan, KEK Tanjungasam di Karimun. Ada lagi proyek modernisasi Bandara Hang Nadim dan perluasan Pelabuhan Batuampar.

Serestu Jokowi, salah satu tim dari Nurdin pun mulai bergerak cepat. Seakan tancap gas, Johannes Kennedy, penasehat ekonomi Nurdin, Kamis (1/3) lalu, langsung terbang ke Tianjin, China.

Tujuan Jhon, biasa dipanggil JK, ke sana menemui calon penyokong dana proyek prestisius itu.

Kenapa harus ke Tianjin? Pendanaan beberapa proyek yang digagas, setakat ini, belum mampu dibiayai APBN sehingga diupayakan dari dana asing dalam bentuk kerja sama dan ini jamak terjadi.

Itu sebabnya JK, pemilik Panbil Group, langsung menyasar CCCC (China Communication Construction Company), BUMN negeri tirai bambu itu sebagai salah satu calon kuat pendana.

Sebagaimana diketahui, BUMN China tak jarang menggelontorkan pinjaman pendanaan bagi proyek-proyek berskala besar di beberapa negara di belahan dunia, termasuk di Indonesia.

Mereka memang lagi super kaya. Dana segar dikocek China Machinery Enginnering Coorporation (CEMC), misalnya, disebut mencapai Rp 1.300 Triliun. CEMC adalah semacam induk BUMN China. Sementara CCCC adalah BUMN yang berinduk ke CEMC.

Mungkin saja, tak kecuali proyek strategis di Kepri yang ditaksir puluhan triliun rupiah itu akan meraih sukses mendapat kucuran dana dari Tiongkok.

Dari Tianjin, Minggu (5/3), lewat chat di aplikasi media sosial, Johannes mengabarkan hasil dari diplomasi bisnis dengan pihak CCCC yang dijalankannya.

Menurut JK, secara prinsip kerja sama pendanaan sudah mendapat lampu hijau.
Tinggal untuk formalnya akan dilakukan penandatanganan kesepakatan kerja sama antara Pemerintah Provinsi Kepri dengan pihak CCCC.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat Pak Nurdin bisa segera ke Tianjin,” tulis JK dalam chatnya menirukan harapan pihak Tianjin.

Proyek infrastruktur yang digeber Pemprov Kepri ini memang dengan postur besar, meski sesungguhnya mimpi lama.

Sehingga untuk merealisasikan proyek Jembatan Babin dan pelabuhan kontainernya butuh kerja keras, paling tidak untuk mendapatkan pendana. Proyek Jembatan Babin diperkirakan menelan biaya Rp 7 triliun, sementara untuk pelabuhan kontainer membutuhkan Rp 20 triliun. Belum lagi lima proyek lain.

Gong pertaruhan untuk merealisasikan proyek-proyek ini telah ditabuh. Gaungnya pun seketika sudah ke mana -mana. Para pihak yang terlibat atas proyek ini mulai dari gubernur dan konsorsium lainnya meski kerja ekstra agar proyek ini tidak menjadi mimpi berkepanjangan.

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa rencana proyek jembatan dan pelabuhan itu sebenarnya sudah pernah digagas para pendahulu.

Adalah BJ Habibie yang pertama memimpikan Jembatan Babin dan pelabuhan kontainer itu.

Sebagai Ketua Otorita Batam, ketika itu, Habibie menskenariokan proyek ini bisa berjalan sesuai jadwal. Itu terjadi sekitar tahun 90-an.

Bahkan Habibie yang tak asing di mata investor luar negeri sudah bicara hingga teknis pekerjaan proyek. Janjinya waktu itu, bahwa proyek tersebut akan didesain secara high tech dan dikerjakan oleh putra-putri bangsa ini.

Begitu berapi-apinya semangat dan optimisme Habibie, yang juga Menteri Riset dan Teknologi di era Suharto itu.

Dia lebih optimis lagi akan pelabuhan kontainer itu. Saat itu, Habibie menyebut bahwa Kabil Asia Port, yakni pelabuhan kontainer besar dengan kapasitas jutaan TeuS segera diwujudkan di kawasan Kabil.

Optimisme Habibie, waktu itu, bukan tanpa alasan. MoU atau nota kesepahaman antara pemerintah Indonesia dengan pihak Evergreen dari Taiwan sudah pula pada tahap deal. Evergreen adalah salah satu perusahaan besar pengelola kontainer dan perkapalan tersibuk di dunia, paling tidak ukuran Asia.

Tapi, tak dinyana, ibarat pungguk merindukan bulan, sampai Habibie lengser dari kursi presiden tahun 1999, jembatan dan pelabuhan yang dinantikan pun tak kunjung membentang.

Tak ada penjelasan konkrit yang dapat menjadi referensi soal gagalnya pembangunan Jembatan Babin itu. Tapi sayup-sayup terdengar dari kejauhan pihak Evergreen-lah yang membatalkan deal itu. Singapura juga punya andil menggagalkan demi kepentingan bisnis negaranya.

Dan, seiring perjalanan waktu, isu soal Babin pun tinggal khayalan.

Posisi geografis antara Batam dan Bintan memang sangat seksi. Bisa memantik nafsu para pemangku kepentingan untuk dikembangkan menjadi basis perekonomian nasional. Apa lagi letak geografis kawasan ini berbatasan langsung dengan perairan internasional antara Singapura dan Malaysia yang pertumbuhan pembangunan ekonominya meroket.

Aura alam kawasan ini yang sangat strategis selalu menggoda seolah berpesan bahwa di kawasan ini terbentang masa depan ekonomi negeri ini yang cerah.

Itulah sebab mengapa mimpi membangun proyek-proyek besar yang punya potensi menarik investasi global ke sini selalu dikumandangkan.

Siapapun pejabat berkuasa, silih berganti, dari pusat negeri maupun daerah sering terlena untuk mengembangkan potensi daerah ini.

Hari pun berganti dan tahun bertukar sesuai siklusnya.

Urung Habibie, upaya merealisasikan mimpi lama pun tiba-tiba muncul lagi. Sekitar tahun 2005, di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Otorita Batam Ismeth Abdullah melakoni seperti wacana pendahulunya lagi.

Ismeth memang tidak hanya cuap-cuap. Berbagai proses perencanaan awal memang tampak digesa dan sekaligus dipamer habis-habisan.

Kita tidak tahu seberapa besar uang rakyat yang dihamburkan pada awal perencanaan. Bisa jadi tak terkira pula rupiah lesap tak berbekas untuk membiayai para ahli untuk merumuskan seluruh perencanan, termasuk gambar teknis bangunan serta pengerjaannya. Publikasi media, saat itu, menggambarkan bagaimana seriusnya para engineer bekerja.

Satu hasil teknik rekayasa gambar jembatan yang membentang di atas laut Kepri yang berdimensi tinggi pun dipamer. Keren memang bila melihat rekayasa teknik gambar jembatan itu, seolah fisik Jembatan Babin yang sebenarnya sudah siap pakai.

Namun apa lacur, rencana pun tinggal rencana. Riuh wacana pembangunan jembatan itu tiba-tiba saja lesap ditelan ingar-bingar pesta politik Pilkada Kepri saat itu.

Sekitar tahun 2005, memang tengah dilaksanakan pemilihan Gubernur Kepri yang pertama. Provinsi Kepri lahir dari hasil pemekaran Provinsi Riau. Ismeth dari Ketua OB ditugaskan Mendagri sebagai Pjs Gubernur Kepri hasil pemekaran itu.

Untuk mendefinitifkan kekuasaannya, Ismeth maju bertarung sebagai calon gubernur yang berpasangan dengan wakilnya Muhammad Sani  dan terpilih. Tapi hingga Ismeth dicopot dari jabatan gubernurnya, cerita Jembatan Babin pun lagi-lagi kandas sebatas mimpi.

Kondisi beberapa kegagalan masa lalu yang tergambar tadilah, mungkin, yang menggugah nurani kepemimpinan Nurdin. Rencana mewujudkan Jembatan Babin dan pelabuhan kontainer itu dihelat lagi dan sudah restu Presiden.

Tentu Nurdin sudah punya strategi jitu untuk mewujudkan proyek jumbo itu.
Tapi selain didukung, Nurdin dan beberapa pihak yang masuk di pusaran perencanan proyek ini perlu juga diberi masukan.

Masukan dan pesan untuk mendorong agar proyek-proyek ini bisa segera terealisasi. Harapan agar upaya merealisasikan proyek besar ini mesti dikerjakan serius karena akan berpacu seiring dengan waktu.

Bahwa rencana proyek ini sebenarnya baru tahap permulaan, hal itu dapat dibenarkan. Satu bukti adalah tampak belum berjalannya sinkronisasi antara Pemprov Kepri dengan pihak kementerian.

Itu dapat dilihat dari penyataan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PURR) Basuki Hadimuljiono saat di Batam, pekan lalu. Dia masih berbicara soal belum konkritnya skema share permodalan antara daerah dan pusat. Termasuk soal besaran biaya proyek.

Pada saat Basuki bicara di Batam, JK sedang intensif melakukan diplomasi bisnis di Tianjin. Jangan- jangan, dalam pertemuan dengan JK, pihak pendana memastikan keterlibatan Pemerintah Indonesia dan bisa jadi pula ia sudah menjawab OK. Soal besaran dana juga masih beda mencolok. Di pihak Nurdin menyebut biaya Jembatan Babin Rp 7 triliun, sementara menurut Basuki sekitar Rp 4 triliun.

Itu makanya karena kebiasaan rumit soal koordinasi pun lemah, sehingga banyak pihak kadang ragu akan kelancaran proyek ini. Persoalan yang sangat berat bisa jadi tidak hanya di dalam negeri. Kita juga harus siap-siap dengan segala argumentasi strategis untuk meyakinkan pihak pendana.

Ini erat kaitannya dengan kebijakan pihak CCCC di China yang sangat hati- hati melakukan kerja sama pendanaan.

Bahwa banyak proyek infrastruktur didanai oleh pihak China di Indonesia, publik sudah tahu. Tapi bahwa sangat banyak permintaan kerja sama yang sama sekali tak ditindaklanjuti, itu juga satu fakta yang perlu kita pahami.

Kini disebut pihak investor China sedang memikirkan pengamanan jangka panjang kucuran investasinya. Faktor keamanan, regulasi yang rumit, pangsa pasar serta peluang kompetisi proyek yang mereka danai menjadi alasan pengetatan.

Salah seorang direksi CMEC di China berbicara langsung dengan sumber, lalu menyebut
bahwa pihaknya sekarang sangat berhati-hati meminjamkan pendanaan.

Kepada sumber itu, dia menyebut bahwa dari kerja sama yang dilakukan selama ini, tak semua berjalan mulus. Tentu ada hal yang kadang membuat pihak pendana jengkel.
Mereka juga sampai membeda-bedakan sifat warga satu negara dengan negara lain di mana mereka investasi kerja sama.

Misalkan muncul penilaian bagaimana mereka lebih menaruh kepercayaan dengan Vietnam.
Untuk mewujudkan satu kerja sama di Vietnam, misalnya, sangat minim hal-hal yang menyulitkan mereka sebagai pihak yang mengucurkan dana.

Sebuah cerita dari proses kerja sama yang menjengkelkan mereka, mencuat. Dalam satu kerja sama pembangunan infrastruktur di negeri ini, pihak mereka sampai terkesan kapok karena banyak persoalan muncul di luar poin kesepakatan riil.

Salah satu masalah itu adalah soal ganti rugi lahan ke masyarakat yang terkena proyek. Masalah ini sebenarnya adalah urusan pemilik proyek. Selain muncul biaya mendadak, pengerjaan proyek pun terhenti karena berlarutnya penyelesaian ganti rugi dan pemerintah tak dapat segera menyelesaikan.

Mengomentari rencana kerja sama proyek infrastruktur fisik di Kepri, petinggi CEMC menyebut pihak CCCC yang diprospek dipastikan akan menganalisa proposal yang masuk secara sangat ketat. Tidak sesederhana yang dibayangkan untuk merealisasikan kerja sama itu. Paling tidak butuh waktu.

“Tapi tidak tahulah bagaimana CCCC menganalisa proposal yang masuk. Itu urusan mereka. Saya rasa harus dengan analisis yang cermat,” ujar sumber tersebut.

Satu contoh yang menjadi perhatian mereka adalah tentang keberadaan atau posisi tempat proyek yang akan dikerjasamakan termasuk prospeknya ke depan. Apakah proyek yang dibangun itu punya pasar potensial di sana? Apakah di sekitar itu (regional) persaingan pasarnya ketat.

Tanjungsauh, misalnya, dipastikan akan berkompetisi dengan pelabuhan kontainer raksasa di Singapura. Belum lagi soal aspek lain. Insentif, dwelling time, keamanan dan zero complain dari pemilik kontainer dan kapal. Dan banyak lagi.

Posisi Tanjungsauh (Batam) yang terpaut tak jauh dari Singapura dan Malaysia, ini yang diperhitungkan. Di Singapura ada pelabuhan kontainer besar dan sudah lama eksis. Selain itu, ada lagi pelabuhan kontainer Tanjungpelepas di Malaysia. Meski, katanya, tak sehebat Singapura namun Johor pun akan sulit disaingi Batam.

Sumber itu juga memberi pesan bahwa hal yang lebih penting adalah apakah para pengusaha perkapalan dan pemilik barang dan kontainer tertarik bila ditawarkan transit di Batam?

Ini jawaban konkritnya berada di tangan konsultan profesional yang melakukan riset sebelum kerja sama konkrit dilakukan. Kadang kala bahkan proposal yang masuk pun bisa tidak diriset sama sekali dan tak ditindaklanjuti setelah mempelajari lembar proposal.
Jadi disebut analisis tentang aspek bisnis, keamanan dan lainnya sangat ketat.

Baik CCCC dan CEMC maupun pihak pendana asing secara umum akan terlebih dahulu melakukan riset terhadap satu ajuan kerja sama yang masuk dari negara manapun. Nah, pihak BUMN China pun demikian. Mereka selalu menggunakan konsultan dan firma jasa profesional multinasional seperti Ernst & Young yang berpusat di Inggris itu.

Jadi kesimpulannya, katanya, setiap penawaran kerja sama yang datang dari belahan dunia manapun, pintu dan tangan mereka selalu terbuka. Tapi bila bicara soal kerja sama akan lanjut tergantung pada data yang digodok konsultan dan ditambah keyakinan dari analisis internal mereka.

Lalu bagaimana dengan nasib proyek-proyek di Kepri yang diharapkan bisa bekerjasama dengan BUMN di China itu?

Bila melihat dari berbagai penjelasan penting di CMEC itu, jawabannya juga kembali pada pihak Nurdin dan pihak konsorsium lain yang masuk di pusaran perencana proyek bermasa depan itu.

Sumber itu menyampaikan yang ditangkap dari pembicaraan dengan petinggi CEMC bahwa lolosnya atau terjadinya lanjutan kerja sama terlihat dari seberapa visibel proposal diajukan dibandingkan dengan fakta di lapangan.

Mudah-mudahan strategi pengajuan proposal kerja sama pembangunan Jembatan Babin dan pelabuhan kontainer ke pihak pendana, semuanya sudah lewat kajian yang cermat dan profesional.

Karena apa yang disampaikan JK lewat chat itu bahwa Nurdin dan tim akan segera menyusul berangkat ke Tianjin menyepakati dan meneken kerjasama di kedua belah pihak.

Itu artinya, proyek-proyek di Kepri, khususnya yang direncanakan lewat pendanaan asing yang diprospek ke Tianjin itu, bisa deal. Kita berharap itu terjadi agar proyek Jembatan Babin dan pelabuhan kontainer yang kita tunggu-tunggu tidak lagi menjadi mimpi berkepanjangan. (*)

 

 

Oleh: Marganas Nainggolan

Play sound