Sabtu, 4 April 2026
Beranda blog Halaman 12648

Pengusaha Batam Mengeluh, Katanya Syahbandar Persulit Usaha

0
Sejumlah kapal sedang melakukan bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Batuampar. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Pengusaha pelayaran di Batam mengeluhkan pelayanan dari kantor syahbandar pelabuhan Batam. Pasalnya birokrasi disana sangat berbelit karena perizinan yang seharusnya bisa rampung di tangan Kepala Bidang (Kabid) maupun Kepala Seksi (Kasi) dan bisa langsung digunakan pengusaha ternyata harus melewati restu dulu dari Syahbandar atau Kepala Pelabuhan Laut Batam, Bambang Gunawan. Akibatnya, kegiatan pengusaha terhambat karena harus menunggu restu dari Bambang dan mereka mengaku merugi ratusan juta perhari.

“Ini merupakan masalah lama dan ini sudah keterlaluan. Izin yang seharusnya bisa selesai di tangan Kabid atau Kasi dan bisa kami dapatkan malah harus lewat izin dia (Bambang, red) lagi. Jika dia sedang rapat, maka kami harus menunggu sehari atau dua hari. Benar-benar jadi masalah buat kami karena pelayanan publik tak boleh berhenti karena dia sibuk,” ujar Ketua Indonesia National Shipowners Association (INSA) Batam, Osman Hasyim, Kamis (30/11) di Batuampar.

Osman mengungkapkan pada Rabu (29/11) kemarin, banyak agen pelayaran yang mengantri untuk mendapat restu dari Bambang terkait penerbitan izin-izin penting seperti izin berlayar, izin muat,izin bongkar dan lainnya di depan kantor syahbandar. Mereka sudah menunggu berhari-hari tanpa kepastian.

“Ini soal pelayanan publik. Syahbandar harus sediakan ketepatan waktu dan biaya pengurusan sehingga efisiensi bisa tercapai. Namun ini tidak terjadi di Batam. Dua atau tiga hari menunggu sudah biasa, apalagi prosedur pengurusan juga tak jelas,” paparnya.

Imbas lebih jauh mengakibatkan kerugian besar-besaran bagi pengusaha pelayaran. Pertama urusan logistik dan ekspor impor terganggu. Kapal-kapal yang membawa kebutuhan rakyat seperti barang konsumsi sering telat tiba di tujuan. Begitu juga kapal yang mau berlayar keluar negeri membawa hasil ekspor atau membawa bahan baku industri terpaksa harus menunda keberangkatannya dan ini sangat merugikan.

“Ini menyebabkan biaya tinggi. Karena kapal urusan logistik kena biaya demorage atau biaya keterlambatan akibat terikat perjanjian bisnis yang harus dibayar pemilik kapal kepada si pemberi pesanan. Kalau pemesannya di Singapura, maka biaya demorage bisa 2000 Dolar Singapura tergantung jenis kapal,” jelasnya.

Osman mengungkapkan sudah banyak keluhan yang diterima oleh Insa Batam terkait hal ini. Dan mereka telah menyurati Kementerian Perhubungan dan akan terus menyurati sampai kantor syahbandar pelabuhan Batam dievaluasi.”Jika tidak diindahkan, kami akan demo,” tegasnya.

Sebelumnya, pengusaha pelayaran dipersulit oleh tingginya tarif labuh tambat yang diterapkan oleh BP Batam. Namun ketika BP Batam sudah mulai membuka diri dengan menurunkan tarif dan menjalin komunikasi, malah kantor syahbandar masih berkutat dengan masalah klasik seperti mempersulit birokrasi.

“Ini bertentangan dengan keingingan Presiden yang menginginkan agar izin dipermudah dan jangan beranak pinak lagi,” papar Regional Manager PT Bahari Eka Nusantara, Aris Wibowo.

Aris yang datang dari perusahaan pelayaran mengakui tugas kantor syahbandar pelabuhan Batam telah diatur dalam Peraturan Menteri (PM) 36/2012 tentang organisasi dan tata kerja kantor kesyahbandaran dan otoritas pelabuhan di Batam.

“Dalam PM tersebut sudah mengatur dengan jelas tugas masing-masing eselon. Sehingga tak perlu disposisi Kepala Kantor karena sudah ada bidang-bidangnya,” terangnya.

Ia juga mengatakan setiap kebijakan yang diterapkan akan diikuti, tapi pelayanan harus diperbaiki.

“Sudah dua tahun kami menderita. Konsep BP Batam saat ini yang mendukung investasi harus didukung oleh instansi lainnya seperti syahbandar Batam,” harapnya.

Sedangkan syahbandar atau Kepala Pelabuhan Laut Batam, Bambang Gunawan yang coba dikonfirmasi lewat telepon dan pesan singkat belum merespon hingga berita ini diturunkan.(leo)

Hafid Zulqarnaen 15 Tahun Keliling Indonesia

0
Hafidz seorang pramuka tunga rungu yang melakukan perjalanan keliling Indonesia saat kunjungan ke kantor Batam Pos, Kamis (30/11/2017). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Anggota Pramuka luar biasa, dengan keterbatasannya sebagai penderita Tuna Rungu, Hafid Zulqarnaen mampu melakukan aktifitas yang membanggakan dengan berkeliling Indonesia hingga manca negara.

Pria asal Pare-Pare, Makassar ini mengaku, sudah 15 tahun berjalan mengelilingi Indonesia. Hingga ia pun sampai di tanah Melayu, Kota Batam.

“Saya melakukan perjalanan sendiri, berkeliling tanpa henti ke seluruh kabupaten/kota di Indonesia,” ungkap Hafid melalui tulisan tangannya, saat menyambangi Batam Pos, Kamis (31/11).

Di usianya yang menginjak angka 49 tahun, dalam setiap perjalanannya, Hafid menyempatkan untuk mengunjungi kantor-kantor pemerintahan dan instansi tertentu, agar mendapatkan bukti nyata dan apresiasi berupa ucapan selamat yang tertuang di secarik kertas.

Menariknya, kesempatan itu pun diabadikan melalui foto yang dilampirkan bersama surat ucapan selamat tersebut.

“Ini cita-cita saya. Dan saya akan terus berjalan hingga manca negara,” tutupnya. (nji)

Emaaak…. Aku Lulus….. !!!

0
F Cecep Mulyana/batam Pos

Universitas internasional Batam (UIB) menggelar wisuda sarjana angkatan ke-13 di Swissbell Hotel, Kamis (30/11/2017).

Pada wisuda kali ini UIB meluluskan 476 wisudawan yang terdiri dari 31 wisudawan program magister manajemen, 21 wisudawan program magister hukum, 422 wisudawan strata satu dan dua wisudawan diploma.

Arloji Seharga Rp 1,3 M untuk Kado Setya Novanto

0

batampos.co.id – Wajah Andi Agustinus alias Andi Narogong tampak cerah ketika bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Kamis (30/11). Bahkan, terdakwa kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) itu terlihat semangat dan lantang menjawab pertanyaan jaksa penuntut maupun majelis hakim.

Gestur pengusaha yang hanya lulusan SMP itu cukup mengejutkan. Sebab, sejak ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Maret lalu, Andi cenderung memilih “tutup mulut” ketika dimintai keterangan sebagai saksi di persidangan Irman dan Sugiharto atau ketika ditanya awak media.

Di persidangan tahap akhir kemarin, Andi memang membuat kejutan. Dia membuka “Kotak Pandora” tentang aliran uang haram e-KTP untuk DPR, khususnya Ketua DPR Setya Novanto. Jumlahnya fantastis, yakni USD 7 juta atau sekitar Rp 94,668 miliar. Uang itu ditransfer dua tahap ke rekening Made Oka Masagung, rekan Novanto, pada akhir 2011 dan awal 2012.

Andi menjelaskan, uang itu berasal dari Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo, anggota konsorsium pemenang tender e-KTP. Distribusi tahap pertama, yakni sebanyak USD 3,5 juta dikirim Anang dengan difasilitasi pemilik PT Biomorf Lone Indonesia, Johannes Marliem yang dikabarkan tewas beberapa waktu lalu di Amerika Serikat.

Transaksi dilakukan di Singapura dari rekening Biomorf ke rekening Oka Masagung yang memang sengaja dibuat di negara tetangga itu. Sedangkan pengiriman tahap kedua dengan nominal yang sama diurus sendiri oleh Anang. Uang tersebut juga ditransfer ke rekening Oka di Singapura. ”Oka Masagung punya jaringan luas terhadap perbankan,” ungkap Andi.

Keterangan distribusi uang itu belum pernah dijelaskan secara detail di persidangan sebelumnya. Andi mengatakan, pengiriman uang ke Oka itu atas perintah Novanto. Itu setelah mantan Ketua Komisi II DPR Chairuman Harahap menagih Irman soal komitmen fee sebesar 5 persen yang dijanjikan pemenang tender e-KTP kepada sejumlah anggota DPR periode 2009-2014.

”Atas penagihan itu, Pak Paulus Tannos dan saya diundang ke Equity Tower, kantornya Pak Novanto. Waktu itu ada Pak Chairuman, saya, Pak Paulus dan Pak Novanto,” terang suami Inayah itu. Setnov mengenalkan Oka kepada Andi dan Paulus di kediamannya pada November 2011. ”Nanti dia (Oka) yang akan urusi masalah fee ke DPR,” tutur Andi menirukan perintah Novanto kala itu.

Jatah fee 5 persen untuk DPR itu merupakan komitmen awal yang disepakati Irman, pemenang tender e-KTP dan wakil rakyat. Komitmen bagian 5 persen dari nilai proyek e-KTP setelah dipotong pajak itu juga diberikan kepada Irman dan pejabat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Total, 10 persen komitmen fee itu senilai Rp 500 miliar dari proyek senilai Rp 5,9 triliun.

Selain USD 7 juta, Andi mengaku tidak mengetahui distribusi uang haram e-KTP lain untuk DPR. ”Setelah itu, saya tidak mengikutinya kembali. Setahu saya yang USD 7 juta itu,” jelasnya. Andi mengaku tidak lagi mengurusi proyek e-KTP setelah tidak mendapat kepastian terkait pekerjaan yang dijanjikan konsorsium PNRI, pemenang tender e-KTP.

Bukan hanya membeberkan keterangan soal aliran uang itu saja, Andi juga membongkar soal pemberian hadiah jam tangan mewah merek Richard Mille untuk Novanto. Jam tangan senilai USD 135 ribu (sekitar Rp 1,3 miliar saat pembelian 2012) yang dibeli Johannes Marliem di Los Angeles, California, Amerika Serikat itu diberikan saat peringatan ulang tahun Novanto yang ke 57 pada November 2012 lalu.

Namun, jam tangan itu dikembalikan Novanto ke Andi pada awal 2017 atau ketika kasus e-KTP tengah ramai. Andi pun menjual jam tangan itu di Blok M dengan harga sekitar Rp 1 miliar.

”Pak Johannes Marliem bilang mau memperhatikan Pak Novanto. Dia bilang mau ulang tahun patungan saja, beli jam. Saya berikan uang sekitar Rp 650 juta, lalu Pak Johannes Marliem beli di Amerika Serikat,” bebernya.

Andi mengakui jam tangan itu sebagai ucapan terimakasih kepada Novanto atas bantuan anggaran proyek e-KTP. Menurut dia, tanpa bantuan Novanto, proses penganggaran di DPR tidak bisa berjalan mulus.

Selain itu, Andi juga mengungkapkan bahwa dirinya memang kerap bertemu dengan Novantoselama proyek e-KTP tahun anggaran 2011-2012 bergulir. Keterangan itu menepis bantahan Setnov yang mengaku hanya dua kali bertemu Andi. Itu pun bukan terkait proyek e-KTP, melainkan soal jual beli kaos untuk partai. ”Saya sudah kenal (Setnov) dari tahun 2009,” ucapnya. (tyo/jpg)

Kapolda Kepri Ajak Tumbuhkan Optimisme

0
Kapolda Kepri Irjen Pol Dididd Widjanardi didampingi Irjen Pol Sam Budigusdian Wakapolda Kepri Brigjen Yan Firi disambut upacara pedang pora pada acara penyambutan di Mapolda Kepri, kamis (30/11/2017). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Kapolda Kepri Irjen Pol Didid Widjanardi memiliki beragam program dan agenda selama 100 hari kerjanya. Pembangunan perekonomian dan peningkatan keamanan di wilayah Kepri menjadi fokus utamanya.

Namun Didid menyadari, visi besar itu tidak bisa dicapai tanpa kerja sama semua pihak. Karenanya, mengawali masa tugasnya di Polda Kepri ia akan banyak menjalin komunikasi dengan sejumlah instansi vertikal maupun horisontal.

“Langkah pertama saya akan menyambangi semua aparat yang ada di Kepri,” kata Didid usai parade pelepasan Kapolda Kepri yang lama, Irjen Pol Sam Budigusdian, di lapangan Mapolda Kepri, Kamis (30/11).

Didid menjelaskan, keamanan dan perekonomian saling erat berakitan. Pembangunan ekonomi akan berjalan dengan baik jika tingkat keamanan juga kondusif.

“Sehingga (perekonomian) bisa dibangun lebih cepat,” ungkapnya.

Ia mengatakan, pihaknya juga siap menyukseskan program pemerintah dalam berbagai bidang. Tidak hanya itu, Didid juga berjanji akan mengamankan kebijakan-kebijakan pemerintah. Dalam kesempatan itu Didid juga meminta peran media untuk menciptakan pemberitaan yang positif guna menumbuhkan optimisme di semua kalangan.

“Tentunya dengan bantuan teman-teman media sebagai corong informasi,” ujarnya.

Setelah menata hal ini, Didid mengatakan pihaknya akan bersiap-siap menghadapi Pemilu 2019 dan Pilkada di Tanjungpinang. Ia mengatakan, sama halnya dengan membangun perekonomian, dalam pemilu nanti pihaknya juga akan fokus menciptakan rasa aman dalam masyarakat.

Didid melihat Kepri memiliki tingkat kerawanan yang berbeda dengan daerah lain. Lalu kasus kriminalitas Kepri, memiliki spesifikasinya berbeda dibandingkan tempat lainnya di Indonesia. Hal ini, menurut Didid, karena letak geografis Kepri yang dekat dengan negara tetangga.

“Kerawanannya bersifat lintas negara,” ungkapnya.

Oleh sebab itu, dirinya akan melakukan evaluasi di Polda Kepri. Ia mengatakan sumber daya manusia (SDM) di jajaran Polda Kepri sudah sangat bagus. Berbagai prestasi sudah ditorehkan Polda Kepri di tingkat nasional. Tapi menurutnya, masih ada yang perlu diperbaiki.

“Saya akan menyisir apa saja kekurangan itu. Kalau ada nanti akan ditambahkan, sehingga menjadi lebih baik,” ujarnya.

Ia juga menyebut program kapolda yang lama sangat bagus. Program-program ini akan dilanjutkannnya dan disempurnakan lagi. “Apa yang sudah dirintis pejabat lama akan saya teruskan,” ucapnya.

Sementara kapolda lama, Irjen Pol Sam Budigusdian, memuji Didid jauh lebih baik dari dirinya, dalam beberapa hal. Karena Didid peraih Wibawa Seroja Nugraha, penghargaan untuk lulusan terbaik Lemhanas angkatan ke 50. “Sahabat saya, satu almamater, latar belakang pendidikan yang sama. Dan memiliki integritas yang sangat baik,” ungkap Sam.

Sam sangat percaya dengan kemampuan Didid dalam menyelesaikan permasalahan di Kepri. Selain itu, Sam menilai Didid memiliki komitmen yang baik. “Beliau pasti akan lebih baik. Jadi jangan khawatir,” tuturnya.

Dilepas dengan Air Mata

Kapolda Kepri Irjen Pol Dididd Widjanardi bersama Irjen Pol Sam Budigusdian dibopong oleh anggota Brimob saat acara pisah sambut di Mapolda Kepri, kamis (30/11/2017). F Cecep Mulyana/Batam Pos

Sementara itu, pelepasan Irjen Pol Sam Budigusdian berlangsung penuh haru, Kamis (30/11). Setelah pedang pora terakhir diturunkan, seluruh jajaran Polda Kepri berbaris menunggu giliran bersalaman dengan Sam.

Hormat, rangkulan, pelukan, taburan bunga, dan cucuran air mata mengantar Sam hingga pintu gerbang Mapolda Kepri.

“Dia itu Bapak. Bapak bagi kami semua, mengayomi,” ujar salah seorang polisi di divisi SDM Polda Kepri.

Di mata para wartawan, Sam juga dikenal sosok yang sangat kooperatif dengan media. Bahkan Sam tak segan becanda dengan para wartawan yang biasa nyanggong di Mapolda Kepri.

“Mana pernah ada (kapolda sebelumnya) yang mau becanda seperti Pak Sam,” ujar Asmoro, seorang pewarta TV lokal.

Ia mengatakan, Sam sangat menghargai profesi jurnalis. Dan ada satu hal yang selalu diingat Asmoro, Sam selalu menanggapi pertanyaan wartawan dengan sangat bijak. “Mau itu pertanyaan positif atau negatif tentang Polri, selalu dijawab beliau,” ungkapnya.

Sam merangkul semua pihak. Tidak hanya para pejabat pemerintah atau pengusaha saja. Tapi juga komunitas-komunitas yang ada di Kepri. Berbagai even digelar sejak Sam menjabat sebagai Kapolda Kepri.

“Saya merasa kehilangan, baru kali ini saya merasa seperti ini,” tuturnya.

Sebelum mencapai gerbang keluar Mapolda Kepri, Sam diarak oleh anggota Brimob bersama Kapolda Kepri yang baru. Sesampai di pintu gerbang keluar, sudah menunggu mobil yang akan membawa Sam pergi dari Mapolda Kepri. Tanpa komando seluruh anggota polisi yang berada di sana memberikan penghoramatan terakhir untuk Sam. (ska)

Mengenang Bondan Winarno, Sang Jurnalis Kuliner Maknyus

0

Resah dengan invasi restoran cepat saji internasional, Bondan Winarno mulai akrab dengan dunia kuliner. Dedikasinya terhadap detail dan kejelian reportase tetap terbawa meski ’’hanya’’ menyajikan review makanan. Sang maestro kini tutup usia.

TAUFIQURRAHMAN, Bogor

SETIAP warung yang di dindingnya terpajang foto Bondan memiliki kebanggaan tersendiri. Ibarat hotel, sudah punya sertifikat. Ya, selama beberapa tahun Bondan berkeliling kota-kota di Nusantara, masuk keluar warung.

Kalau masakannya dirasa khas dan maknyus, segera dimasukkan TV. ’’Tapi, sehabis makan, beliau selalu bayar,’’ ungkap Harry Nazaruddin, kawan dekat Bondan, di sela-sela melayat di kediaman Bondan di Perumahan Sentul City, Bogor, Rabu (29/11).

Memang, beberapa warung enggan memungut bayaran. Kedatangan Bondan dan kru TV Wisata Kuliner saja sudah cukup membuat mereka bahagia. Namun, Bondan selalu keukeuh untuk membayar.

Bahkan, untuk memastikan makanan di restoran sasaran Wisata Kuliner terbayar lunas, Bondan harus menggunakan siasat tertentu. Mula-mula, mobil rombongan kru diparkir dekat warung. Beberapa kru dengan muka tidak terkenal lantas turun, kemudian duduk di warung dan memesan makanan.

Mereka pun membayar makanan yang sudah dibeli. Setelah itu, baru Bondan muncul tiba-tiba dengan beberapa kamera. Memunculkan adegan pemilik warung histeris dan kegirangan seperti yang selama ini akrab tampil di layar kaca.

’’Kalau aku yang turun duluan, bisa-bisa mereka nggak mau dibayar,’’ ujar Harry menirukan perkataan Bondan kepada kru.

Awalnya, pada 2003, Bondan, Harry, dan kawan-kawan membentuk semacam grup mailing list (milis) untuk saling berbagi ide tentang kuliner di daerah masing-masing. Grup itu bernama Jalansutra. Terinspirasi kolom-kolom tulisan Bondan di Suara Pembaruan pada dekade 1990-an.

Saat itu mereka berbagi keresahan yang sama. Invasi makanan branded dari jaringan restoran cepat saji internasional ke Indonesia. Prihatin dan bercita-cita ingin mempromosikan masakan khas Nusantara, sejak saat itulah Bondan mulai akrab dengan dunia review makanan.

Biasanya, sebelum berkelana ke kota tertentu, Bondan mengirimkan pesan ke milis Jalansutra. Memberitahukan bahwa dia akan menuju ke kota A.

Para anggota komunitas lantas memberikan beberapa rekomendasi tempat-tempat wisata kuliner. Saat itulah Bondan mulai melakukan riset. Mengapa riset? Sebab, Bondan adalah jurnalis tulen. Pada 1997 Bondan membuktikan kelasnya sebagai jurnalis dengan menyajikan laporan investigatif Bre X: Sebungkah Emas di Kaki Pelangi yang ditulisnya dalam sebuah buku. Berkisah tentang sebuah tambang emas palsu di pedalaman Kalimantan. Bre-X saat itu menyabet penghargaan kategori jurnalistik investigatif.

Karena itu, karakter dan standar jurnalistik selalu dia terapkan. Agar sebuah warung bisa mendapat ”sertifikat” Wisata Kuliner, Bondan mengukur banyak hal. Misalnya, seberapa khas makanannya, seberapa lama resepnya dipelihara, hingga seberapa populer dalam perbincangan orang-orang sekitar. ”Kalau dirasa kualitas-kualitas di atas terpenuhi, dia langsung datang, nggak bilang-bilang,” tutur Harry.

Jadi, ”sertifikasi” Maknyus! sangat objektif. Bondan tidak bisa dibayar, tidak bisa diundang. Misalnya, oleh restoran tertentu yang ingin tampil di Wisata Kuliner. Kalau restoran enak, Bondan akan muncul di pintu. Kalau tidak, Bondan tidak bisa diundang dengan uang.

Bagi dia, sebuah program Wisata Kuliner tidak cukup hanya dengan seorang talent cantik yang berkenes-kenes di layar kaca.

Program harus mampu menjalankan misi untuk mempromosikan kekhasan masakan tersebut. Tidak lupa, mengajak orang lain untuk turut merasakannya. Review harus detail, memunculkan kesan dan nilai budaya, serta seni dari makanan tersebut. Misi kuliner Bondan terdiri atas tiga asas utama. Yakni, kuliner, resep, dan cerita. Selain membahas kelezatan tampilan dan rasa, Bondan tidak melupakan cerita, sejarah, dan nilai budaya. Serta yang paling penting, resep.

Kenapa resep? Karena menuliskan resep adalah upaya pelestarian. Harry memberikan contoh brambang asem di sudut Kota Solo. Diketahui, hanya satu orang yang masih berjualan. Jika resep tidak ditulis, makanan itu dipastikan akan punah dari bumi pertiwi.

”Jadi, kita bukukan resepnya agar orang lain bisa membuat kembali. Jaga-jaga kalau simbah tidak jualan lagi,” ungkapnya.

Kuliner, resep, dan cerita hasil perjalanan Bondan diterbitkan dengan rapi dalam bentuk serial buku. 100 Maknyus. Bondan memilih 100 masakan terfavorit dari sebuah kota. Sudah terbit pada 2015. Dimulai dengan seri 100 Maknyus Jakarta, 100 Maknyus Bali, serta yang diterbitkan terbaru tahun ini, 100 Maknyus Joglosemar. Bondan selalu membawa standar jurnalistik pada liputan yang sepertinya sepele. ”Ini pelajaran pada generasi kita agar selalu kroscek ke lapangan,” kata Harry. Berkat usaha Bondan, restoran-restoran tradisional mulai melejit dan populer. Maknyus!

Namun, perjalanan sang maestro pun berakhir. Bondan meninggal kemarin (29/11) sekitar pukul 09.00 di RS Harapan Kita, Jakarta Barat, pada usia 67 tahun. Pria kelahiran 29 April 1950 itu meninggalkan seorang istri, Yvonne Winarno, serta tiga anak. Yakni, Gwendolin Amalia Winarno, Marisol Winarno, dan Eliseo Raket Winarno.

Eliseo mengatakan, sebelum meninggal, ayahnya dirawat lebih dari dua pekan di RS Harapkan Kita dan dua kali menjalani operasi. Operasi pertama dilakukan September lalu, sedangkan operasi kedua baru dijalani Kamis pekan lalu (23/11). ”Dia dioperasi dua kali. Yang pertama operasi aneurisma dan kedua aorta. Untuk jelasnya, tanya tim dokter saja, ya,” katanya.

Setelah operasi yang pertama, ayahnya sempat dibawa pulang ke rumah di Bali. Namun, setelah itu, terdapat infeksi sehingga kembali dibawa ke RS Harapan Kita dan kembali menjalani operasi untuk kali kedua. ”Operasi yang kedua ini ternyata ada komplikasi. Dari komplikasi itu, ada bakteri yang menyebar ke organ-organ tubuh yang lain. Yang saya tahu sebatas itu,” ungkapnya.

Terkait pemakaman, Eliseo mengatakan sesuai kehendak dan keinginan ayahnya sebelum meninggal yang sering bilang ingin dikremasi. Namun, sekarang dia dan keluarga masih akan rembuk bersama. ”Kita akan putusin apakah hari ini atau besok. Sekarang jenazah sedang diformalin,” ujarnya. (dilengkapi sugih mulyono/c5/c10/oki)

BP Batam Anulir 8 Izin Lahan yang Dicabut

0

batampos.co.id – Terbitnya Peraturan Kepala (Perka) Badan Pengusahaan (BP) Batam Nomor 27 Tahun 2017 tentang Penyenggaraan Pengalokasian Lahan membuat sejumlah pemilik lahan yang izinnya telah dicabut bisa tersenyum lega. Melalui Perka tersebut, BP Batam membatalkan delapan pencabutan izin lahan yang dilakukan pejabat terdahulu.

Deputi III BP Batam, Dwianto Eko Winaryo, mengatakan dasar pembatalan pencabutan izin lahan tersebut tertuang dalam pasal 42 Perka BP Batam Nomor 27 Tahun 2017. Ia menyebut, delapan izin lahan tersebut telah dicabut oleh pejabat lama BP Batam selama periode November 2016 hingga September 2017.

“Selanjutnya kami akan memanggil lagi untuk diproses lagi,” kata Dwianto, Kamis (30/11) di Gedung Marketing BP Batam.

Namun Dwi membantah jika pembatalan pencabutan izin lahan ini sebagai bentuk sikap BP Batam yang lunak terhadap para pemilik lahan telantar. Sebaliknya, ia mengklaim sikap tersebut merupakan langkah BP Batam untuk menyelesaikan persoalan dengan pendekatan persuasif.

“BP Batam buka diskusi dengan pemilik lahan dan bertanya kapan mereka mau bangun,” jelasnya.

Namun jika pemilik lahan tak kunjung membangun lahannya setelah mendapat kesempatan kedua itu, BP Batam tetap akan menjatuhkan sanksi tegas. Yakni mencabut izin lahan tersebut. Hanya saja, ada beberapa tahapan evaluasi yang akan dilalui sebelum proses pencabutan tersebut.

Dwi kemudian memerinci prosesnya. Pertama adalah proses pemanggilan untuk meminta klarifikasi terhadap pengguna lahan.

Dalam pemanggilan pertama, BP Batam memberikan waktu selama 30 hari. Jika tidak hadir, BP Batam akan melakukan pemanggilan kedua dengan durasi yang sama, 30 hari. Namun jika setelah pemanggilan kedua atau 60 hari tidak juga ditanggapi, BP Batam akan melayangkan surat peringatan (SP).

Surat peringatan (SP) 1 akan berlaku untuk jangka waktu 30 hari. SP 1 akan berlanjut hingga SP 3 dengan jangka waktu yang sama. Jika setelah SP 3 tidak ada tanggapan, BP Batam akan memproses pencabutan izin lahan terkait.

Deputi 3 Bidang Pengusahaan Sarana Usaha Dwi Eko Winaryo memberikan penjelasan saat sosialisasi tentang perka 27 tahun 2017 kepada wartawan di Gedung BP Batam, Kamis (30/11). F Cecep Mulyana/Batam Pos

Sayangnya, Dwi enggan merinci lahan dimana saja yang pencabutan izinnya dibatalkan itu.

Selain soal izin alokasi lahan, kebijakan mengenai uang jaminan investasi atau biasa dikenal dengan Jaminan Pelaksanaan Pembangunan (JPP) juga akan diatur kembali. Namun aturan mengenai JPP ini akan dituangkan dalam Perka tersendiri. Pembahasannya dilakukan mulai pekan depan.

“Jangan terlalu murah, nanti ada spekulan. Tapi juga jangan terlalu berat,” ujarnya.

Di sisi lainnya, pengusaha sudah sepakat untuk menerima pembaharuan dari Perka soal administrasi lahan ini.

“Kami sudah setuju. Dan kami sudah ajukan surat persetujuan yang ditandatangani oleh Kadin Kepri, HKI, REI dan INSA Batam,” kata Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepri, Achmad Makruf Maulana.

Ia menilai penciptaan iklim usaha yang kondusif pada dasarnya ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya ditinjau dari aspek fleksibilitas yakni regulasi yang pro bisnis, sederhana dan tepat sasaran.

“Revisi ini sudah fleksibel. Lebih baik lagi,” imbuhnya.

Senada dengan Makruf, pengusaha di kawasan industri juga menanggapi dengan positif. Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing atau yang biasa disapa Ayung mengatakan revisi Perka tersebut sudah memberikan angin segar untuk dunia usaha. “Meskipun masih ada sejumlah usulan yang belum sepenuhnya terakomodir,” ujarnya.

Ia memaklumi karena pimpinan BP Batam saat ini harus berani mengambil langkah-langkah strategis dalam merevisi Perka dalam waktu 1,5 bulan.

“Tidak ada aturan yang sempurna di dunia ini. Biarlah dari waktu ke waktu kita bisa memberikan masukan sehingga dapat disempurnakan lagi,” tegasnya.

Berbeda dengan Makruf dan Ayung, Ketua Kadin Batam, Jadi Rajagukguk belum sepenuhnya setuju dengan revisi dari Perka 10 ini. Terutama mengenai peraturan yang menyatakan bahwa jika pemilik lahan tidak membangun lahannya dalam jangka waktu yang telah ditentukan maka uang depositnya akan menjadi milik BP Batam.

“Tidak bisa begitu. Namanya bisnis tak semua bisa lancar,” tegasnya.

Sebelum mulai membangun, maka pengusaha akan membangun rencana bisnis termasuk juga menganalisa persoalan yang terjadi di lapangan ketika membangun.

BP Batam, kata Jadi, tak bisa menentukan jika pengusaha belum membangun dalam jangka waktu yang telah ditentukan sebagai wanprestasi.

“Pasti ada masalah mengapa belum dibangun. BP Batam harus menganalisa penyebabnya,” jelasnya.

Contohnya jika lahan yang telah dialokasikan berada di tengah hutan, dimana belum ada infrastruktur mau dibangun. “Bagaimana mau dibangun, tak ada jalan ke dalamnya. Maka tugas BP Batam yang harusnya membangun infrastruktur terlebih dahulu,” ungkapnya.

Begitu juga jika pembangunan tak bisa dilakukan karena ada permasalahan ruli di atasnya. Maka tanggung jawab membereskan persoalan itu ada pada BP Batam.

“Lagipula yang namanya deposit kan cuma ditiitpkan,” ungkapnya lagi.

Namun ia mengapresiasi langkah BP Batam yang cepat tanggap dalam merevisi Perka ini. Apalagi dengan mengundang asosiasi pengusaha untuk memberikan masukan.

“Ini kan masa transisi. Ini merupakan momentum harmonisasi kebijakan antara Pemko dan BP Batam. Meskipun sudah berlaku, belum tentu tidak bisa dilakukan perubahan lagi,” pungkasnya.

*Izin Agunan Selesai 7 Hari
Selain perizinan lahan, Perka Nomor 27 Tahun 2017 juga mengatur tentang izin hak tanggungan bagi pemilik lahan yang ingin mengagunkan sertifikat lahannya ke bank. Melalui Pasal 33 ayat 3 dalam Perka tersebut BP Batam menjamin izin akan rampung dalam tujuh hari kerja.

Jika dalam kurun waktu tujuh hari kerja itu izin belum juga kelar, maka BP Batam menganggap izin tanggungan sudah diberikan.

“Ini kami juga modal nekat saja. Karena Perka ini bukan lagi bagaimana mengoptimalkan pendapatan tapi dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi Batam,” kata Dwianto.

Hingga saat ini, Dwi mengatakan baru ada dua permohonan masuk untuk mendapatkan hak tanggungan dan semuanya sudah selesai. Jadi ia yakin BP Batam dapat menyelesaikan permohonan hak tanggungan sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan.

Hak tanggungan akan memakai persetujuan tertulis dari BP Batam. Pemohon harus melampirkan informasi penting seperti surat keterangan dari bank sebagai kreditur yang memuat informasi seperti objek kredit, informasi mengenai pemohon kredit dan jangka waktu kredit.

Setelah itu, maka harus melengkapi dokumen seperti tindasan sertifikat hak atas tanah, PPL, skep, identitas pemohonan Izin Hak Tanggungan dan surat kuasa jika dikuasakan. Dan yang paling utama, jangka waktu kredit tidak boleh melebihi jangka atau sisa waktu alokasi lahan.

Sebelumnya, standar operasional prosedur (SOP) mengenai hak tanggungan memang belum ditetapkan dalam Perka 10/2017. Sehingga Perka ini direvisi menjadi Perka 27/2017.

Hal tersebut pernah dikeluhkan kalangan pengusaha dan perbankan karena mereka takut bahwa pengurusannya nanti akan berjalan lambat, apalagi SOP-nya belum ada. (leo)

Aktor Bollywood Terpikat Raja Ampat, Bintang Amerika Sebut Gili Meno Surga

0

Pesona alam Indonesia tidak hanya membuat travelista jatuh cinta. Banyak pesohor lokal maupun asing yang juga terpikat keindahan alam Indonesia.

Salah satu pesohor luar negeri yang terpesona dengan keindahan Indonesia adalah Ankit Bathla. Aktor Bollywood itu terpikat dengan keindahan Raja Ampat, Papua Barat.

Awal November 2017 lalu, Bathla menyempatkan diri ke Raja Ampat sebelum kembali ke India usai membintangi serial di salah satu televisi swasta Indonesia.
Bathla mengaku jatuh cinta pada tiga hal di Raja Ampat. Yakni, sinar matahari, pasir, dan pantai.m

“Liburan saya benar-benar luar biasa. Tempat itu adalah surga di bumi. Itu adalah tempat terindah yang pernah saya lihat,” ujar Bathla sebagaimana dilansir laman Hindustan Times, 15 November 2017.

Anda yang penasaran dengan liburan Bathla di Raja Ampat bisa melihat akun Instagram-nya. Bathla mengunggah beberapa foto dengan latar belakang keindahan Raja Ampat yang sangat dahsyat.

Dalam salah satu foto terlihat Bathla berdiri membelakangi Pulau Wayag. Dalam foto lainnya terlihat Bathla berdiri di hamparan pasir putih.
“Saya juga bertemu turis dari negara lain. Berbincang dengan mereka cukup menyenangkan,” imbuh pemeran Iqbaal dalam film berjudul Club 60 itu.

Lain Bathla, lain pula David Hasselhoff. Bintang serial Baywatch itu dibuat mabuk kepayang dengan pesona Gili Meno, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Populasi yang sedikit, pantai berpasir putih nan cantik, dan suasana aduhai di Gili Meno membuat Hasselhoff klepek-klepek.
Cinta Hasselhoff pada Gili Meno memang sangat wajar. Selama ini, Gili Meno sudah dikenal dengan pantainya yang sangat memesona. Gili Meno bahkan menempati posisi kesebelas kategori Top 25 Beaches in Asia versi TripAdvisor pada 2016.

“Airnya seperti tak pernah saya lihat sebelumnya. Ini adalah surga. Ombaknya fantastis dan hanya sedikit orang di sana,” kata pria asal Amerika Serikat (AS) itu sebagaimana dilansir Hello Magazine, 21 Juli 2017.

Sementara itu, komedian Inggris Bill Bailey memiliki kenangan manis saat berlibur ke Sumatera sebelas tahun lalu.

“Saya dan istri pergi ke Sumatera di Indonesia selama dua pekan bersama anak kami yang masih bayi. Di suatu tempat, kami berkemah di hutan yang banyak gajahnya,” ujar Bailey sebagaimana dilansir Express, 8 Juli 2017.

Bintang Never Mind the Buzzcocks itu tidak menyebutkan lokasinya menginap. Meski begitu, pria 53 tahun tersebut merasakan pengalaman yang sangat hebat.

“Kami melihat kura-kura raksasa, orang utan liar, serta kehidupan burung yang spektakuler,” ujar Bailey. (*)

Menpar Arief Berharap Sail Sabang 2017 Mensejahterakan Rakyat

0

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya mengungkapkan kebanggaannya terhadap perhelatan Sail Sabang 2017. Menjadi Sail terbesar di Indonesia, Menpar berharap event tersebut bisa memberikan dampak positif kepada masyarakat Sabang, Provinsi Aceh.

“Sesuai instruksi bapak Presiden Joko Widodo, bahwa Sail itu jangan hanya sebuah seremoni, namun harus berdampak positif kepada masyarakat dan bisa mensejahterakan rakyat. Ini harus terjadi di Sail Sabang 2017,” ujar Menpar Arief saat acara jumpa pers jelang acara puncak Sail Sabang di CT-3 Terminal, Sabang, 30 November 2017.

Menpar Arief melakukan kunjungam gladi resik jelang acara. Menteri asli Banyuwangi itu didampingi Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti, Sekretaris Kementerian Pariwisata Ukus Kuswara, Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Don Kardono, Kepala Dinas Pariwisata Reza Fahlevi serta dari pihak panitia dan TNI Angkatan Laut Indonesia.

Dalam peninjauan tersebut, Menpar menyempatkan melihat Kapal Dewa Ruci dan kapal terbaru Bima Suci. Kedua kapal tersebut menjadi atraksi yang punya daya tarik bagi wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara yang hadir di Sail Sabang.

“Ini Sail Sabang terbesar karena ada tiga hal, yakni karena peserta yang terbanyak, penonton terbanyak, dan rangkaian event yang juga terbanyak. Maka ini menjadi event Sail Sabang terbesar di Indonesia,” ujar Menpar Arief.

Menpar memaparkan, mengapa menjadi yang terbanyak, karena Sail yang ke-9 di tanah air ini selain menghadirkan dua kapal kebanggan yakni Bima Suci dan Dewa Ruci, perhelatan yang dimulai sejak 28 November sampai dengan 5 Desember 2017 itu juga disambangi kapal Cruise Victoria yang membawa ribuan wisatawan dan juga 100 kapal yatcher dari berbagai negara yang bersandar ke Sail Sabang.

“Apalagi kapal pesiar ini punya spent money yang tinggi, yakni 100 Ribu US Dollar, yang pasti dampaknbeberya langsung kepada masyarakat Sabang,” Menpar.

Selain itu, imbuh Menpar, hal yang terbesarnya lagi adalah jumlah penonton yang sangat besar. Menpar mengatakan bahwa data yang sudah didapat bahwa jumlah penonton sampai tanggal 30 November 2017 mencapai 20 ribu orang. “Nah, jumlah ini 15 persennya adalah wisatawan mancanegara,” jelasnya.

Dan yang terakhir yang membuat Sail Sabang besar adalah memiliki event yang paling banyak dimana Sail ini memiliki 46 event sejak awal dimulai. “Dan ada acara puncak yang akan digelar 2 Desember, yang semoga cuaca semakin bagus dan acara berlangsung sukses,” harap Menpar Arief.

Menpar juga sangat setuju dengan dipertontonkannya dua kapal kebanggaan Indonesia yakni Dewa Ruci dan Bima Suci. Karena keberadaan dua kapal tersebut selain parade kapal TNI di setiap pelaksanaan 5 Oktober adalah menjadi daya tarik pariwisata.

“Kami menyebutnya commercial value, karena pengunjung bisa berfoto sepuasnya, bisa menyentuh taruna sepuasnya, bahkan bisa melihat kapal lebih jelas dari dekat yang mungkin akan lama tidak melihatnya lagi. Jadi daya tarik pariwisatanya muncul di momentum ini,”jelasnya.(*)

Bioskop Misbar Bekraf Ramaikan Sail Sabang 2017

0

Sail Sabang 2017 benar-benar meriah. Semua lini bergerak. Semuanya kompak membuat even-even kreatif. Satu di antaranya, ada Bioskop Misbar Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).

Melalui Deputi Infrastruktur, Bekraf ikut membangun bioskop mini Misbar (gerimis bubar) di arena Sabang Fair. Bagi yang ingin menyaksikan, bioskop misbar ini sudah mulai on memutar berbagai film karya anak bangsa mulai 29 November – 4 Desember 2017.

Rancangan biokop misbarnya sangat sederhana. Akses keluar masuknya juga sangat mudah. Daya tampungnya 120 orang. Dan lokasinya, diset menghadap ke Samudra Hindia atau laut lepas.

“Bioskop Misbar ini diadakan untuk memenuhi kebutuhan ruang kreatif bagi komunitas dan Pemerintah Kota Sabang. Utamanya subsektor Film dan Seni Pertunjukan. Tujuan lainnya ya sebagai daya tarik lain pariwisata Sail Sabang,” jelas Deputi Infrastruktur Bekraf, Hari Santosa Sungkari, Kamis (30/11).

Selain pemutaran film, ada juga seni pertunjukan dari DKS (Dewan Kesenian Sabang). Seni tari dan puisi ikut dipertontonkan di sana. Selain itu, ada juga kegiatan TED X pada 3 Desember dan Learn X 4 Desember, yang digelar di lokasi yang sama.

Bekraf juga mengadakan penayangan film Astronomi dalam sebuah Layar Kubah (Dome) yang ditujukan untuk anak-anak SD kelas 4-6 pada 3-5 Desember di SMAN 1 Sabang. Layar kubah tersebut seperti mini Planetarium. Di sana penonton diarahkan masuk ke dalam ruangan khusus. Planet-planet di alam semesta langsung bisa disaksikan melalui layar yang berbentuk kubah.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh Reza Fahlevi langsung melayangkan apresiasi. Layanan ini, dinilai sangat kreatif. Sangat pas untuk disuguhkan di sela Sail Sabang 2017. “Kita patut berbangga Bekraf turut datang memeriahkan Sail Sabang 2017 di Kota Sabang. Semoga ini menjadi sebuah motivasi bagi kita dalam memajukan kreatifitas untuk membangun wisata bagi ekonomi kreatif Aceh di masa mendatang,” kata Reza.

Lebih lanjut Reza mengatakan, Sail Sabang 2017 ini merupakan momen penting bagi Sabang untuk mengembangkan potensi pariwisatanya sebagai daerah wisata bertaraf internasional.

“Jadi momen Sail Sabang kita harapkan berlangsung lancar dan membawa positif bagi wisata Sabang khususnya dan Aceh serta Indonesia pada umumnya,” ujar Reza.

Menteri Pariwisata Arief Yahya juga seirama. Bagi Kemenpar, dukungan Bekraf di Sail Sabang 2017 itu sangat bermakna, karena industri kreatif itu berimpitan dengan industri pariwisata. “Film dan pariwisata sangat dekat. Dua-duanya bagian dari ekonomi kreatif Indonesia yang tidak bisa dipisahkan. Creative value itu wilayah Bekraf untuk menginkubasi, mendidik sampai siap terjun di pasar bebas. Setelah punya commercial value, sudah siap berkompetisi baru dipromosikan di Kemenpar,” kata Arief Yahya. (*)