Jumat, 10 April 2026
Beranda blog Halaman 12746

Panjat Pinang di Laut dan Tarian Kolosal Hebohkan Festival Wakatobi Wave 2017

0

Karnaval Budaya dan tarian kolosal dari 4 pulau di Kabupaten Wakatobi dari 4 kecamatan di Wakatobi membuka gelaran Festival Wakatobi Wave 2017.

Upacara seremonial ini berlangsung di Pangulu Beloh, Wangi-Wangi Selatan, Ibukota Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara pada Sabtu (11/11) siang.

Bupati, Wakil Bupati, Sekda, DPRD dan perwakilan Kementerian Pariwisata turut membuka Festival Wakatobi selama 3 hari berturut -turut mulai dari 11 sampai 13 November 2017. Wakatobi Wave sudah berlangsung selama 3 tahun berturut-turut.

Sebanyak 1.000 orang penari tampil dalam acara tarian kolosal ini mewakili keragaman etnis dan seni budaya Wakatobi Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Semua penari berasal dari masyarakat setempat.

Bupati Wakatobi, Arhawi mengungkapkan, Waktobi Wave salah satu event andalan Pariwisata Nasional dari Kementerian Pariwisata RI. Wakatobi Wave 2017 mengambil tema besar Mengapresiasi Keragaman Budaya dan Membina Keutuhan Spirit Maritim Dalam Rangka Memperkaya Khasanah Budaya Nasional.

Selama Festival Wakatobi Wave 2017 berlangsung, panitia menyiapkan sejumlah kegiatan menarik sekaligus menantang seperti lomba daya tahan fisik, triliathon, underwater fotografi competition. “Kegiatan berbeda tahun ini adalah panjat pinang di laut. Selain itu, terdapat ada seminar bahari. Kami juga bakal mengemas event ini dengan merangkul teman-teman pelaku industri wisata, terutama dive operator . Mereka sudah mencetuskan ide ini,” ujar Arhawi.

Kendati demikian, Arhawi mengaku Wakatobi belum maksimal dalam aksesibilitas terutama trasportasi udara dan amenitas industri pariwisata seperti akomodasi, kuliner dan kerajinan tangan.

“Kami bisa merasakan secara langsung kesulitan para tamu untuk mengakses melalui udara, bahkan banyak tamu telah mendaftarkan diri utuk hadir pada event Wakatobi Wave harus mundur karena kesulitan akses melalui udara ke Wakatobi. Ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi kami,” papar Arhawi.

Terpisah, Deputi Bidang Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Esthy Reko Astuti menjelaskan, Wakatobi Wave salah satu cara untuk memperkenalkan Rangkaian kegiatan Festival berbasis keindahan Pulau Wakatobi pada dunia.

Serta, membuat model percepatan pembangunan daerah kepulauan dan daerah tertinggal dan meningkatkan kontribusi pariwisata Indonesia. Wakatobi masuk dalam 10 destinasi prioritas nasional atau ‘10 Bali Baru’ dari Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.

Wakatobi Wave mengusung misi mempromosikan Wakatobi sebagai salah satu tulang punggung destinasi bahari di Indonesia. Dengan target peningkatan arus kunjungan wisatawan.

”Terutama wisatawan mancanegara serta mendorong percepatan pembangunan dan pengembangan potensi sumberdaya kelautan dan pariwisata Indonesia,” kata Esthy Reko Astuti.

Saat berkunjung ke Wakatobi, lanjut Esthy bisa mengunjungi ke 4 kabupaten di sana. Misalnya Tomia, yang punya beberapa tradisi budaya asli. Ada pesta adat Safara yang diselenggarakan setiap bulan Safar dalam penanggalan Islam.

Juga tradisi Bose–Bose, yaitu melarung perahu berwarna-warni yang diisi dengan sajian masakan tradisional—seperti liwo, dari Dermaga Patipelong, menuju Dermaga Usuku sampai ke Selat One Mobaa. Sepanjang perjalanan itu dilakukan prosesi sambil menabuh gendang.

“Ada pula tari Sajo Moane, tarian sakral yang dilakukan oleh kaum laki–laki, serta tari Saride, yang melambangkan makna persatuan dan kebersamaan. Jadi tidak ada alasan untuk tidak ke Wakatobi,” ajak Esthy.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan wisata yang dimiliki oleh Wakatobi dianggap telah mendunia. “Positioning Wakatobi sudah bagus. Menjadi obyek wisata high end,” ucap Arief.

Terlebih, lanjut Menpar Arief, Festival Wakatobi 2017 akan meningkatkan perekonomian masyarakat di sana, perputaran uang berjalan. Terbukti menjelang perhelatan, hotel dan penginapan penuh.

“Hal itu menunjukan Event Wakatobi Wave berkelas dunia sehingga menarik wisatawan datang, kita harus pastikan tamu jika ke Wakatobi, puas dan selalu ingin kembali ke Wakatobi,” jelas Arief Yahya.(*)

 

 

Festival Wayang Nusantara, Sawahlunto

0

Sawahlunto sukses menghadirkan suguhan atraksi wisata budaya Festival Wayang Nusantara yang berlangsung pada 9 hingga 11 November 2017.

Suguhan yang digelar sebagai bagian dari rangkaian HUT ke-129 Kota Sawahlunto itu dihadiri ribuan masyarakat yang datang silih berganti.

Mereka antusias menikmati suguhan seni budaya wayang, mulai dari Wayang Ajen yang dihadirkan Kementerian Pariwisata, Dalang Wayang Cilik Perempuan Kanastren Nareswara Darmanasti Kota Surakarta, serta Wayang Kulit Khas Kota Sawahlunto Wayang Mbah Soero. Serta tidak ketinggalah ragam atraksi budaya lainnya seperto Reog Gamelan, Campur Sari, Keroncong dan Kuda Kepang. Semuanya dihadirkan dengan apik di Lapangan Segitiga Kota Sawahlunto.

Event Conceptor Festival Wayang Nusantara 2017, Yogi Andika H mengatakan, festival ini juga menjadi salah satu bagian dalam mewujudkan Kota Sawahlunto sebagai kota tujuan utama pariwisata di Sumatera Barat.

“Juga untuk mengapresiasi penetapan kesenian wayang asli Indonesia sebagai warisan budaya dunia yang tak ternilai dan seni bertutur oleh UNESCO,” ujar Yogi.

Sementara Wali Kota Sawahlunto Ali Yusuf mengatakan, Festival Wayang Nusantara yang sudah memasuki tahun ke-5 penyelenggaraan ini merupakan upaya dari Pemkot menjadikan budaya sebagai kekuatan untuk mempromosikan Sawahlunto sebagai kota wisata.

“Dengan demikian orang berwisata bisa dihibur dengan aneka budaya yang ada di kota ini yang memberikan inspirasi tersendiri dalam upaya kita melestarikan nilai-nilai luhur budaya bangsa yang ada di kota ini,” ujar Ali Yusuf.

Selain itu, wayang sendiri menjadi cerminan bahwa filosofi dari wayang dapat memberikan sebuah pendidikan karakter bangsa.

“Oleh karena itu melalui festival ini diharapkan menjadi ajang bagi generasi muda untuk memperbaiki akhlak budi pekerti yang berkaitan dengan nilai dan karakter sehingga anak muda bangsa indonesia akan terpelihara martabatnya di masa akan datang,” ujar Ali Yusuf yang didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Peninggalan Sejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Hendri Thalib.

Lebih lanjut Deputi Bidang Pengembangan dan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astutii menjelaskan, masyarakat di Kotq Sawahlunto dikenal dengan ragam etnis. Sehingga ke depan, acara-acara budaya seperti ini perlu terus ditampilkan.

Selain sebagai atraksi wisata budaya, juga pelestarian dan pengembangan seni budaya di Kota Sawahlunto.

“Sehingga dapat menjadi atraksi wisata budaya sekaligus meningkatkan rasa nasionalisme dan alat perekat bangsa,” ujar Esthy Reko Astuti didampingi Kabid Promosi Wisata Budaya, Wawan Gunawan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyambut baik terselenggaranya Festival Wayang Nusantara 2017 yang merupakan penyelenggaraan tahun ke-5. Ia menyebut penyelenggaraan festival merupakan salah satu cara yang paling efektif dalam mempromosikan satu daerah atau destinasi pariwisata yang ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Sebuah event, ujar Menpar, memiliki manfaat ganda. Yaitu manfaat langsung dan tidak langsung. Manfaat yang pertama adalah memperkenalkan destinasi, dan kedua bisa menjadi ikon untuk mendatangkan wisatawan langsung pada saat event berjalan.

Selanjutnya memacu masyarakat lokal dalam mengembangkan kreatifitas dan secara langsung terlibat dalam kepariwisataan.

“Tidak kalah pentingnya sebuah event atau festival akan menggairahkan dan membangkitkan kesenian dan kebudayaan lokal yang merupakan modal dasar pembangunan kepariwisataan,” kata Arief Yahya.

Karena itu Menpar yakin Festival Wayang Nusantara akan menjadi salah satu ikon yang bisa mencitrakan Sawahlunto dan Sumatera Barat pada umumnya sebagai destinasi pariwisata berkualitas sehingga makin menarik kedatangan wisatawan, baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara.(*)

BPR Karimun Sejahtera Tempati Gedung Baru

0
Dari kiri, Kui Kiong (Owner BPR KS), Syamsuardi mewakili Gubernur Kepri, Bupati Karimun Aunur Rafiq dan Dirut BPR KS Teri Zulkarnaen memotong pita tanda ditempatinya gedung baru BPR KS, Sabtu (11/11). F. Tri Haryono/Batam Pos.

batampos.co.id – Bank Perkreditan Rakyat Karimun Sejahtera (BPR-KS), resmi menempati gedung baru empat lantai yang terletak di pusat jantung kota Tanjungbalai Karimun, di Jalan Ampera no 88-89 Tanjungbalai Karimun, Sabtu (11/11) lalu. Penempatan gedung baru tersebut diresmikan oleh Bupati Karimun Aunur Rafiq ditandai dengan memotong pita dan meninjau ruangan pelayanan.

”Selamat menempati gedung baru sebagai kantor Pusat BPR KS, semoga terus bertambah nasabahnya dan memberikan kontribusi di sektor ekonomi mikro dan makro di kabupaten Karimun,” pesan Aunur Rafiq yang disambut dengan tepuk tangan oleh tamu undangan.

Sementara itu Direktur Utama BPR KS Teri Zulkarnaen mengatakan, dalam meningkatkan pelayanan kepada para nasarabah,debitur maupun nasabah prioritas BPR KS sudah berkomitmen untuk meningkatkan fasilitas dengan menginvestasikan gedung baru yang lebih representatif dan terlihat performance perbankan dengan tempat parkir cukup luas.

”Kami mengucapkan terimakasih atas kepercayaan masyarakat kabupaten Karimun, sebagai mitra dan nasabah sejak tahun 2009 sampai sekarang. Sesuai moto BPR KS yaitu, bersama BPR KS semakin maju dan semakin sejahtera dalam menghadapi ekonomi global saat ini,” tuturnya.

Hingga saat ini BPR KS sudah mempunyai aset mencapai Rp279 Miliar dengan jenis produk yang ditawarkan kepada nasabah dalam mempermudah untuk mendapatkan barang seperti kredit modal kerja, kredit kepemilikan mobil, kredit KPR dan kredit simpel. Selain itu ada program khusus suku bunga KPR 8 persen untuk 3 tahun. pertama dan tahun berikutnya 10 persen per tahun.

”Paling penting prosesnya cukup cepat dan memberikan berbagai kemudahan yang cukup ringan bagi calon nasabah,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut kata Teri lagi, pihaknya juga memberikan bantuan kepada korban kebakaran di Gg Perdamaian RT 01/RW 02 Kelurahan Sei Lakam Barat, Kecamatan Karimun melalui dana CSR sebesar Rp48 Juta.

”Walaupun tidak begitu banyak, ini sebagai bentuk sosial dan kepedulian kita kepada warga korban kebakaran,” ungkapnya.(tri)

Menpar Resmikan Sahid Osing, Banyuwangi

0

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya meresmikan Sahid Osing Resort Kemiren Banyuwangi, Sabtu (11/11/2017).

Keberadaan Resort ini semakin menambah jumlah amenitas yang berada di ujung timur Pulau Jawa tersebut. Menpar dalam sambutannya mengatakan, masyarakat Banyuwangi harus bisa mengelola Homestay secara profesional, secara korporasi, dengan menggunakan standard hotel chain kelas dunia, seperti Sahid.

Kata Menpar, pisahkan ownership dengan management. Di era digital saat ini, di Tourism sudah marak penerapan sharing economy atau pemanfaatan penggunaan kapasitas berlebih secara bersama-sama.

”Untuk bertahan dalam persaingan, homestay-homestay tersebut harus tergabung dalam business network melalui sharing economy tersebut. Sahid Osing juga harus siap menghadapi ini, perubahan ke digital yang sudah pasti terjadi,” ujar Menpar Arief Yahya.

Menpar juga mengucapkan terima kasih kepada Sahid yang terus mendukung pariwisata. Kata mantan direktur utama Telkom itu, Sahid adalah nama besar, pasti akan membawa customer-nya ke Kemiren.

”Semua elemen masyarakat di Desa Kemiren harus memanfaatkan hal ini,” katanya.

Dalam acara peresmian, Menpar didampingi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Selain itu, hadir juga Direktur Utama Sahid Hotels and Resorts Hariyadi Sukamdani, Wakil Komisaris Utama dan Wakil Komisaris Harian Sahid Hotels and Resorts Dra. SB. Wiryanti Sukamdani Serta jajaran Direksi Sahid Hotels & Resorts, Manajemen Sahid Osing Kemiren Banyuwangi.

Sahid Osing Resort Kemiren Banyuwangi memiliki luas 7.600 meter persegi, dengan fasilitas 10 Villa dan 16 Rooms, terletak di Desa Wisata Kemiren. Resort ini akan mendukung pemberian pelayanan kepada para wisatawan, karena memberikan lebih banyak pilihan akomodasi.

“Banyuwangi juga akan semakin maju dan semakin besar pariwisatanya jika Bandara Banyuwangi menjadi Bandara Internasional. Bapak Bupati semoga bisa merampungkan di bulan Oktober tahun 2018,” ujar Menpar.

Direktur Utama Sahid Hotels and Resorts Hariyadi Sukamdani mengatakan, sektor pariwisata terbukti sebagai salah satu sektor pendongkrak pendapatan asli daerah (PAD).

Serta mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah Banyuwangi. Alasan itu yang mebuat Sahid Hotels & Resorts dengan sangat optimis melakukan investasi. Untuk pembangunan serta pengelolaan Hotel Sahid Osing Kemiren Banyuwangi bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi selaku pemilik.

“Interior design dan arsitekturnya berkonsep khas rumah suku osing, yang terdiri dari 16 villa serta 10 kamar yang terletak di bangunan dua lantai. Mulai dari interior design, fasilitas modern, pemandangan hijau yang asri, pelayanan yang diberikan hingga sapaan hangat khas warga sekitar,” kata Hariyadi.

Hariyadi juga menambahkan, Sahid Osing Kemiren Banyuwangi mengusung konsep resort dengan sentuhan modern namun tetap mempertahankan budaya serta kearifan lokal dengan nuansa pedesaan yang asri, natural dan nyaman.

“Di sini kami memberikan pengalaman menginap yang unik layaknya ‘Suku Osing’ penduduk asli Banyuwangi, kepada para tamunya. Kami akan membuat para tamu yang menginap merasakan sensasi menginap yang sangat berbeda dan memiliki kesan yang tak terlupakan,” ucapnya.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyambut baik pertumbuhan hotel yang ada di Banyuwangi.

“Hotel ini melengkapi homestay milik warga yang telah ada di area ini. Tentunya hotel ini akan melayani segmen wisatawan yang berbeda dengan homestay milik warga,” kata Anas.

Bupati Anas melanjutkan, bangunan hotel tersebut merupakan milik Pemkab yang pembangunannya menggunakan dana APBD dengan tujuan untuk sumber pemasukan daerah. Namun untuk pengelolaannya sengaja diserahkan kepada pihak ketiga agar lebih profesional dan akuntabel.

“APBD kami terbatas, kalau pemda yang tangani semua cukup berat, investasi yang diperlukan untuk melengkapi hotel cukup banyak dan ini di cover oleh pengelola saat ini. Sengaja kami serahkan pihak ketiga agar lebih profesional, ” ujarnya.

Desa Kemiren, kata Anas merupakan Desa Adat suku Using yang dikembangkan menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Banyuwangi. Selain memiliki kekhasan adat dan budaya yang unik, Desa Kemiren juga memiliki berbagai atraksi festival seperti Festival Ngopi Sepuluh Ewu dan Festival Tumpeng Sewu.

“Tradisi, budaya dan atraksi wisata sudah ada, harapan kami dengan pengelolaan hotel oleh Sahid, Desa Kemiren akan semakin dikenal luas melalui jaringan hotel yang tersebar di seluruh Indonesia, karena Sahid ini Merk yang hebat,” tandasnya.(*)

 

Rakyat Banyuwangi Kunci Kesuksesan BEC 2017

0

Parade busana kolosal, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) berlangsung meriah, Sabtu (11/11), sukses.

”Yang membuat berbeda adalah, BEC ini semua dikelola dan dibuat oleh masyarakat Banyuwangi. Dari Sanggar, dari pemusik, penari hingga panitia pelaksana semua dari masyarakat Banyuwangi. Itu perbedaan Karnaval BEC dengan yang lain, kami sangat bangga dengan acara ini,” ujar Bupati Banyuwangi Azwar Anas dalam sambutannya.

Lebih lanjut Bupati mengatakan, masyarakat Banyuwangi juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pariwisata yang terus ikut mendukung berbagai festival yang saat ini sangat konsisten dilaksanakan di Banyuwangi.

”Terima kasih kepada bapak Menteri Pariwisata Arief Yahya atas keperduliannya, perhatiaannya. Sebelum jadi Menteri bahkan saat menjadi Direktur Telkom, bapak Menteri sangat perduli dan terus mendukung Banyuwangi,” kata Bupati Anas.

Sekadar informasi, BEC menghadirkan 160 busana adikarya desainer lokal yang pada tahun ini mengangkat tema Majestic Ijen, yang terinspirasi dari keindahan Gunung Ijen Banyuwangi. Pesona Ijen yang berupa blue fire atau api biru, belerang dan landscape yang mengelilinginya dituangkan dalam kanvas busana nan megah oleh para desainer lokal kebanggaan daerah.

“Penyelenggaraan Banyuwangi Ethno Carnival yang mengangkat kebudayaan lokal membuktikan jika BEC menjadi sebuah etalase seni yang patut diapresiasi,” kata Menko Puan saat membuka BEC 2017 disambut dengan tepuk tangan meriah.

Sejak penyelenggaraannya yang pertama BEC konsisten untuk mengangkat kearifan lokal baik tradisi maupun budaya sebagai temanya sekaligus jadi pembeda even ini dengan even serupa di berbagai daerah lainnya.

Dimulai dengan BEC 1 yang mengangkat tema Gandrung, Damarwulan dan Kundaran, lalu BEC 2 dengan re- Barong Using, BEC 3 Kebo-keboan, dan BEC 4 The Mystic Dance of Seblang. Selanjutnya pada BEC 5 mengangkat tema Kemanten Using, BEC 6 The Legend of Sritanjung Sidopekso hingga yang ketujuh masih setia dengan tema berkarakteristik lokal yakni Majestic Ijen.

Busana megah nan unik itu ditampilkan secara tematik. Ada yang menggambarkan fenomena blue fire dengan busana unik berhiaskan api berwarna biru menyala-nyala yang memukau mata. Ada pula busana yang mengejewantahkan belerang dalam kostum dominasi warna kuning, hingga landscape Ijen yang dirupakan busana berbentuk flora dan fauna yang ada di V Gunung Ijen.

“Apa yang telah disuguhkan oleh Banyuwangi ini adalah peneguhan budaya yang terbukti telah meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan di kabupaten ini. Ini juga membuktikan jika Kabupaten The Sunrise of Java ini akan menjadi destinasi andalan Indonesia di masa yang akan datang, dan pariwisata membuktikan bisa mensejahterakan rakyat Indonesia,” ujar Puan.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Aastuti mengatakan, BEC merupakan satu dari 72 even Banyuwangi Festival yang digelar oleh Banyuwangi sepanjang tahun ini. Selain sebagai atramsi wisata, BEC juga menjadi sarana mendorong gotong royong dan partisipasi masyarakat bersama-sama pemerintah dalam membangun Banyuwangi.

“ Even ini berdampak kepada membangun kebanggan warga akan daerahnya. Dengan begitu masyarakat akan tergerak untuk ikut memberikan yang terbaik bagi Banyuwangi. Kami sangat salut karena begitu membludak dan ribuan orang hadir ke acara ini, bahkan kami juga mendapatkan kabar dari panitia bahwa pesertanya terus bertambah dari tahun ke tahun hingga dibatasi panitia,” kata Esthy yang juga diamini Kepala Bidang Promosi Wisata Budaya Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal Wawan Gunawan.

Seperti diketahui, BEC sendiri juga telah menjadi batu loncatan bagi para desainer lokal Banyuwangi melangkahkan kiprahnya di jagad nasional. Salah satunya adalah Annisa Feby Chaurina. Berawal dari aktivitasnya membuat kostum BEC, Feby kini telah menjadi desainer berbagai kostum etnik yang memenangkan berbagai penghargaan baik di tingkat nasional maupun internasional.

Feby yang merancang kostum Barong Sunar Udara yang membawa duta Indonesia menjadi pemenang Best National Costume pada perhelatan Miss Supermodel Internasional 2016 di New Delhi, India. Feby juga merancang gaun The Exotica of Gandrung Banyuwangi yang menjadi pemenang TOP 3 Traditional Costume pada ajang pemilihan Putri Indonesia 2016 yang dikenakan oleh Putri Indonesia Jawa Timur.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya juga ikut bangga dengan acara ini. Kata Menpar dengan digelarnya BEC, maka semakin membuktikan bahwa Banyuwangi sebagai kota festival yang sukses.Yang lebih membanggakan lagi, imbuh Menpar, Banyuwangi telah menyumbang acara lokal terbanyak untuk masuk ke kalender event nasional.

”Ada tiga event yakni BEC, Gandrung Sewu, Tour de Ijen. Prestasi untuk Banyuwangi karena salah satu kota yang paling banyak menyumbang kalender event nasional. BEC sangat bagus, temanya juga bagus. 72 event dalam satu tahun, itu berarti tiap minggu ada festival di Banyuwangi. Pendapatan perkapita di Banyuwangi juga meningkat yang tadinya 14 Juta menjadi 41 juta. Ini bukti bahwa Budaya semakin dilestarikan maka semakin mensejahterakan,”kata Menpar Arief Yahya.(*)

 

Gesa Pembangunan Desa

0

batampos.co.id – Sekda Pemkab Natuna Wan Siswandi mengingatkan, kepada seluruh kepala Desa di Natuna segera melakukan evaluasi dan realisasian program Desa tahun 2017.

“Dana Desa pada triwulan IV rahun 2017 sudah disalurkan diseluruh kas Desa. Kades harus menggesa realisasi pembangunan yang sudah direncanakan,” kata Siswandi kemarin.

Namun kata Siswandi, transaparansi dibutuhkan dalam penyelenggaraan pembangunan nawacita Presiden yang telah mengamanatkan bahwa pelaksanaan pembangunan harus dimulai dari wilayah pinggiran, tingkat pedesaan. Dan memberikan peluang besar bagi pemerintah Desa untuk menentukan arah pembangunan sesuai skala prioritas.

Dengan alokasi anggaran sangat besar untuk Desa sambungnya, lebih memudahkan pemerintah Desa mengelola pembangunan secara mandiri. Peluang besar tersebut tentu diiringi dengan pengawasan yang dimaksudkan agar dalam pengelolaannya.

“Pengelolaan anggaran Desa harus terus dapat terpantau oleh masyarakat sebagai kontrol sosial dan lembaga penegak hukum,” ujar Siswandi.

Transparan dalam kelola dana Desa jelas Siswandi, seluruh tahapan pembangunan melalui proses perencanaan, realisasi, pelajaran dan pengawasan harus diselenggarakan secara terbuka. Agar rencana pembangunan yang tepat sasaran dan selalu berpedoman pada petunjuk dan peraturan yang berlaku.

Dikatakan Siswandi, pemerintah daerah juga akan terus melakukan evaluasi realisasi alokasi dana desa (ADD). Karena kemungkinan akan terjadi penurunan di tahun 2018 mendatang, dampak dari asumsi menurunnya angka APBD 2018.(arn)

Maksimalkan Penyerapan Dana Desa

0

batampos.co.id – Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kependudukan dan Sipil (DPMD-Dukcapil) Provinsi Kepri, Sardison mengingatkan Kepala Desa di Provinsi Kepri untuk mengoptimalkan penyerapan penggunaan dana desa sampai 31 Desember mendatang. Pada tahap II ini, masih ada Rp 90 miliar dana desa yang harus digesa penyerapannya.

“Masing-masing desa masih ada waktu sampai 31 Desember sampai mendatang untuk melaksanan kegiatan yang menggunakan dana desa,” ujar Sardison menjawab pertanyaan Batam Pos, kemarin.

Menurut Sardison, sekarang ini proses penyerahan dana desa tahap II sedang berlangsung. Ditegaskannya, penggunaan dana desa tersebut harus tetap berpegang pada Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBDES) yang sudah disepakti. Ditanya apakah masih ada kendala dalam penggunaan dana desa, pihaknya tetap berharap penyerapan tetap pada angka 100 persen.

“Kami terus membangun komunikasi dengan kabupaten untuk sama-sama mengawasi penggunaan dana desa ini. Karena melalui anggaran yang adalah inilah, bisa mempercepat pergerakan pembangunan didaerah,” papar Sardison.

Mantan Kepala Biro Pembangunan, Pemprov Kepri tersebut menjelaskan, meskipun masih ada beberapa kendala yang berpotensi akan mempengaruhi target serapan dana desa nanti. Pihaknya tetap berharap kepada masing-masing desa bisa menekan Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) Dana Desa.

“Semakin besar Silpa tentu akan sangat mempengaruhi untuk pembagian dana desa di 2018 nanti. Kita berharap penyerapan bisa di optimalkan dengan sebaik-baiknya,” tegas Sardison.

Disebutkannya, pada tahun 2015 dari semua desa lingkup Kepulauan Riau mengalokasikan sebesar 70,4 persen dari Dana Desa untuk prioritas Pembangunan Desa. Kemudian pada tahun 2016 terjadi peningkatan alokasi untuk prioritas Pembangunan Desa sebesar 6 persen. Sehingga Dana Desa yang digunakan untuk prioritas Pembangunan Desa mencapai 76,4 peresen.

“Pada tahun 2017 ini, nilai juga cenderung meningkat. Memaksimalkan penyerapan dan penggunaan Dana Desa untuk dapat memberikan nilai tambah bagi kegiatan ekonomi masyarakat di Desa,” tutup Sardison.

Seperti diketahui, pada TA 2017 ini, Kepri mendapatkan pembagian dana desa sebesar Rp228 miliar. Anggaran tersebut dibagi kepada 276 desa di lima Kabupaten yang ada di Provinsi Kepri. Pada tahap awal, Kementerian Keuangan melalui Dirjen Perbendaharaan Kepri sudah menyalurkan 60 persen dari Rp228 miliar atau lebih kurang Rp136 miliar. Sedangkan pada tahap II ini adalah sekitar Rp91 miliar.(jpg)

Rempang-Galang Paling Potensial

0

batampos.co.id – Kepala BP Batam, Lukita Dinarsya Tuwo, mengakui Rempang-Galang adalah kawasan yang paling potensial untuk dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) selain beberapa zona di Kota Batam. Karenanya, BP Batam akan memperjuangkan agara Rempang-Galang dijadikan KEK.

Tahap pertama, mencabut status quo Rempang-Galang. Kemudian mengajukan ke kementerian terkait agar status hutan buru juga dicabut atau dikonversi menjadi area peruntukan lain, sehingga bisa dikelola. Kalaupun beberapa luasan hutan buru dipertahankan, juga cukup baik, sehingga Rempang-Galang bisa dikembangkan menjadi KEK dengan tetap memperhatian keasrian lingkungannya.

“Kerena urusannya lintas kementerian, nanti akan kami dudukkan lagi,” ujar Lukita di kantornya, Kamis (9/11) pekan lalu.

Rempang-Galang memang jadi primadona. Pulau berjarak 2,5 kilometer di sebelah tenggara Pulau Batam itu memiliki luas 165,83 kilo meter persegi atau 27 persen luas Singapura. Sedangkan Galang terletak di sebelah tenggara Pulau Rempang dengan luas sekitar 80 kilometer persegi atau 13 persen luas Singapura.

Lukita mengatakan, untuk mengembangkan Rempang-Galang menjadi KEK secara keseluruhan, memang tidak murah. Butuh biaya besar untuk membangun infrastruktur. Sementara mengandalkan kucuran dana dari pemerintah pusat bakal tak semudah membalikkan telapak tangan.

Namun berkaca dengan pengembangan KEK Lhokseumawe di Aceh Utara yang melibatkan berbagai pihak (konsorsium), antara lain pemerintah provinsi, Pemkab Lhokseumawe, dan sejumlah BUMN, maka Rempang-Galang juga dikembangkan dengan pola yang sama. Bahkan bisa lebih luas lagi dengan melibatkan swasta.

“Jadi bisa melibatkan BP Batam, Pemko Batam, Pemprov Kepri, BUMN, dan swasta,” ujar Lukita.

Bahkan, tak menutup kemungkinan pengembangannya melibatkan grup swasta besar. Apalagi Rempang-Galang tak hanya diminati pengusaha lokal, tapi juga perusahaan asing.

Catatan Batam Pos, sedikitnya ada 68 perusahaan asing dan nasional yang berminat menanam modal miliaran dolar Amerika di kawasan itu. Perusahaan-perusahaan itu bergerak di berbagai bidang. Ada sektor migas, agroindustri, perikanan, dan pariwisata.

Sejumlah perusahaan yang pernah hendak berinvestasi di sana antara lain PT Tanjung Jelita dari Malaysia yang bergerak di bidang transmisi gas. Perusahaan ini hendak menanam modal 873 juta dolar Amerika. Kemudian ada Global Utility Development dari Jepang. Lalu Al Ain Industries dari Arab Saudi yang bergerak di bidang penyulingan minyak. Al Ain siap menggelontorkan 1 miliar dolar Amerika. Ada juga Aquabis dari Australia siap dengan uang 15 juta dolar Amerika untuk usaha ikan tenggiri.

Tak hanya itu, dari dalam negeri ada PT Bukaka Barelang Energy Indonesia yang berniat investasi 500 juta dolar Amerika. Lalu ada Batam Marikulture Estate berniat investasi Rp 300 miliar. Kemudian ada PT Batam Livestock Center Konsorsium dengan Rp 150 miliar siap membangun peternakan kambing dan lainnya.

Paling fenomenal adalah rencana PT Makmur Elok Graha (MEG), Grup Artha Graha, yang ingin membuat kawasan wisata eksklusif dengan modal 15 miliar dolar Amerika. Rencana investasi itu selain melibatkan duit miliaran dolar, juga melibatkan Tomy Winata, pengusaha terkenal di Tanah Air. Bahkan saat itu, Pemko Batam dan pihak Tomy sudah pernah meneken nota kesepahaman (MoU) pada 26 Agustus 2004.

Dari maket pengembangan yang ditunjukkan tim Tomy saat itu, Rempang-Galang akan disulap menjadi kota baru yang modern dengan beragam fasilitas. Ada zona pariwisata terpadu eksklusif, ada zona olahraga, zona industri, zona perkantoran dan perbankan, zona industri kreatif, dan lainnya.

Bahkan, Tomy juga pernah berencana membangun sirkuit F1 dengan lintasan sepanjang tepi laut Rempang-Galang. Namun rencana itu tak terwujud karena status quo Rempang-Galang tak kunjung dicabut.

“Bisa nanti kita libatkan swasta. Apalagi kalau ada grup besar berminat. KEK Rempang-Galang bisa cepat terwujud,” kata Lukita.

PP Nomor 46 Tahun 2007 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, memang memasukkan enam pulau yang terhubung jembatan di kawasan itu, yakni Tonton, Setokok, Nipah, Rempang, Galang, dan Pulau Galang Baru masuk kawasan FTZ. Namun hak pengelolaan lahan (HPL) kawasan itu belum ditentukan diberikan kepada siapa karena terkendala status lahan tersebut.

“Mudah-mudahan bisa terealisasi. Kita harus optimis,” kata Lukita. (nur)

KPU Temukan 300 Nama Anggota Ganda

0
Ketua KPU Natuna Affuandris melakukan verifikasi administrasi anggota parpol hingga ke makam warga karena masih tercatat sebagai salah satu anggota parpol. F. KPU Natuna untuk Batam Pos.

batampos.co.id – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Natuna masih melakukan verifikasi administrasi keanggotaan partai politik hingga pekan depan. Dari verifikasi sementara KPU menemukan hampir 300 nama keanggotaan partai politik ganda.

Selain itu, kata Ketua KPU Natuna Affuandris, dalam verifikasi administrasi KPU menemukan nama anggota partai yang sudah satu tahun meninggal, tetapi masih terdaftar dalam keanggotaan.

“Kami sangat kaget kemarin, kami sampai diarahkan ke makam warga di Desa Air Lengit. Ternyata nama yang bersangkutan sudah meninggal tahun 2016 lalu,” kata Affuandris, Minggu (12/11).

Selain itu kata Affuandris, nama ganda dalam keanggotaan parpol ditelusuri satu persatu sesuai alamat. Dan banyak yang tidak mengetahui bahwa namanya tercatat dalam partai politik ketika dikomfirmasi KPU.

Verifikasi administrasi ini sambungnya, KPU juga menanyakan kepada bersangkutan menentukan pilihan disalah satu parpol atau tidak sama sekali. Tetapi sebagian besar yang temui dilapangan, warga tidak tahu namanya dalam keanggotaan parpol, sehingga memilih tidak ikut keanggotaan. Dan diberikan formulir pernyataan.

“Hampir 300 orang satu nama tetapi terdaftar lebih dari satu partai. Lebih lagi ada yang tak tahu namanya dan identitas masuk keanggotaan. Verifikasi administrasi selesai pekan depan. KPU fokus turun ke lapangan mengecek nama ganda. Dan akan dilanjutkan verifikasi faktual,” ujar Affuandris.(arn)

Mata Kail Batam Boat Fishing Tournament Ceruk Baru Wisata Batam

0

Mata Kail Batam Boat Fishing Tournament, berlangsung pada Sabtu (11/11) hingga Minggu (12/11). Lomba ini diikuti 300 peserta asal Palembang, Padang, Karimun, Batam, Jepang, Malaysia serta Singapura.

“Acara mancingnya heboh banget. Semua happy dan mengakui Batam harus cepat dikembangkan sebagai destinasi bahari yang potensial,” kata Kadispar Kota Batam Pebrialin, Minggu (12/11).

Spot mancingnya juga sangat bagus. Lokasinya ada di Pulau Abang dan Pulau Petong yang kaya akan keberagaman ikannya. Dari yang kecil sampai ikan ukuran jumbo, bisa dengan mudah dijumpai di spot ini. Jenis ikan seperti kerapu, kakap merah, pasir merah dan tenggiri banyak hidup di sana.

“Kami bawa para peserta ke spot mancing yang akan membuat mereka ketagihan mancing di Batam. Kami ajak peserta membawa pulang cerita menarik ke kolega dan komunitas mancing,” tambahnya.

Hasilnya? Banyak yang exciting. Banyak yang happy lantaran peserta diwajibkan mancing dengan perahu pompong. Inilah perahu kayu yang biasa digunakan nelayan setempat mencari ikan.

“Panitia sampai harus membatasi jumlah peserta karena pelabuhan Galang over kapasitas. Ini yang kita harapkan. Masyarakat melalui komunitasnya berperan aktif mengembangkan pariwisata di Batam. Mereka selalu punya ide ide fresh serta jaringan yang kuat antar komunitas, baik itu dalam dan luar negeri,” tambahnya.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar Esthy Reko Astuti juga ikut happy. Baginya, acara ini merupakan wujud sinkronisasi dengan semua pihak untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Batam.

“Ini yang kita akan terus dorong. Kita buat masyarakat semakin sadar bahwa pariwisata merupakan cara cepat untuk menumbuhkan ekonomi yang berkesinambungan,” ujar Esthy didampingi Kepala Bidang Penguatan Jejaring Kemenpar Hidayat.

Hidayat menambahkan, keberadaan komunitas kemasyarakatan yang sadar wisata merupakan aset yang luar biasa. Utamanya dalam mengembangkan pariwisata.

“Ya ini seperti GenPI lah. Komunitasnya sadar akan potensi daerahnya adalah masyarakat daerah itu sendiri. Dan ketika pariwisata berkembang mereka sendiri juga yang merasakan manisnya madu pariwisata,” timpal Hidayat.

Lebih lanjut Hidayat mengatakan, masyarakat dan pemerintah harus kompak, saling support, sehingga terbangun iklim pariwisata yang kondusif dan profesional. “Jika masyarakat dan pemerintah selaras maka pertumbuhan pariwisata akan semakin cepat,”ujar Hidayat.

Menpar Arief Yahya ikut mengamini. Menurutnya, komunitas harus diberikan ruang dan didukung sehingga melahirkan even-even yang kreatif.

“Ini bisa menjadi contoh yang bagus dan konkret peran C (community) dalam Pentahrlix, ABCGM. Academician, Business, Community, Government, Media,” terangnya.

Menpar yang lulusan ITB Bandung, Surrey University Inggris dan Program Doktoral Unpad Bandung itu berharap setiap event selalu menjadi bahan perbincangan publik, untuk menjadikan pariwisata sebagai nafas semua kalangan.

“Yang dibutuhkan adalah kreasi. Ajak wisman yang ada di border area agar mau mancing di Batam,” ucapnya. (*)