Rabu, 15 April 2026
Beranda blog Halaman 12843

Jempol untuk Batam International Open Piano Competition

0

Penampilan pemenang dari masing-masing kategori (winner concert) Batam International Open Piano Competition (BIOPC) 2017 berlangsung sukses, Minggu (22/10) .

Kompetisi ini berlangsung selama dua hari sejak Sabtu (21/10) kemarin di Swissbel Hotel Harbour Bay, Batam, Kepulauan Riau.

Para peserta yang datang dari sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Cina dan Vietnam serta beberapa kota di Indonesia mengaku senang dengan jalannya kompetisi yang berlangsung ketat. Para peserta juga sangat menikmati waktu-waktu keberadaanya di Batam, satu dari tiga pintu masuk wisatawan terbesar di Indonesia.

Hoai Dhang Thanh misalnya. Ia yang terbang langsung dari Vietnam bersama anaknya, Bamboo (5 tahun) mengapresiasi kompetisi ini.

“Saya bersama rekan-rekan lain dari Vietnam sangat mengapresiasi kompetisi ini. Semuanya berjalan dengan baik,” ujar Hoai.

Keceriaanya juga semakin bertambah karena di kompetisi ini putranya meraih juara Harapan 2.

Hoai mengatakan ini adalah kesempatan pertamanya mengunjungi Indonesia. Ia banyak mendengar tentang pariwisata yang sangat indah di Indonesia. Karena itu ketika mendapat informasi perihal kompetisi ini di internet, ia langsung tertarik.

Selain untuk berkompetisi, tapi juga sekaligus berwisata. Hanya saja ia mengatakan harus masuk melalui Singapura karena tidak ada penerbangan langsung dari Ho Chi Minh ke Batam.

“Ini kesempatan pertama saya ke Batam, terutama Indonesia. Saya banyak mendapat informasi tentang Bali. Suatu saat saya juga akan ke sana,” kata Hoai yang terlihat begiti antusias.

Deputi Bidangan Pemgembangan dan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuti mengatakan, pemilihan Batam sebagai lokasi penyelenggaraan BIPOC 2017 sangatlah tepat. Batam merupakan pintu masuk wisatawan terbesar ketiga di Indonesia setelah Bali dan Jakarta.

“Batam menyumbang wisatawan 20 persen dari jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Itu kenapa kita mendukung kegiatan ini dilaksanakan di Batam,” ujar Esthy Reko Astuti dalam sambutannya di acara penutupan BIOPC 2017.

Lokasi Batam yang dekat dengan Singapura dan Malaysia sangat berpotensi dalam menjaring wisatawan crossborder. Esthy mengucapkan selamat buat para pemenang, karena itu akan menaikkan 3C, calibration, confidence dan credibilit.

“Sehingga akan lebih mudah menarik wisatawan mancanegara karena tahun ini target kunjungan wisman mencapai 15 juta kunjungan,” kata Esthy.

Musik, dalam hal ini piano dikatakan Esthy memiliki komunitas yang kuat. Baik di dalam negeri maupun luar negeri. Karakternya pun masuk dalam kategori premium atau niche market. Spendingnya besar. Waktu tinggalnya juga lama.

Karena itu tidak heran jika dalam kompetisi ini, meski yang bertanding satu orang, tapi yang hadir banyak.

“Mulai dari orang tua, kakak, kakek dan neneknya. Semua ikut menemani. Sekaligus sekalian berwisata keluarga,” jelasnya.

Ia pun akan terus mendukung kegiatan-kegiatan seperti ini untuk terus diselenggarakan. Tidak hanya di Batam, tapi juga daerah-daerah lainnya di Indonesia.

“Kita akan evalusasi program ini dan mungkin untuk dikembangkan ke daerah-daerah lain di Indonesia. Berkompetisi sekaligus wisata,” ujarnya.

Turut hadir dalam acara penutupan BIOPC, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam Pebrialin serta Kepala Dinas Pariwisata Kepulauan Riau Boeralimar.

Sebelumnya Ketua Pelaksana Batam Internasional Open Piano Competition 2017, Eleonora Aprilita menjelaskan, kompetisi ini sebagai upaya dari Opus Nusantara dalam memfasilitasi pianis-pianis muda untuk berkompetisi secara sehat. Membentuk komunitas pianis muda berbakat serta sekaligus turut mensukseskan program Wonderful Indonesia.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi berlangsungnya ajang Batam International Open Piano Competition 2017. Kalau dipecah 3, culture, nature, manmade, kompetisi ink termasuk kategori manmade!

“Piano itu komunitas, sama dengan golf, diving, yang penikmatjya terbatas, tapi level atas,” jelas Arief Yahya.

Penyelenggaraan event ini dapat mendongkrak promosi pariwisata Indonesia, khususnya Batam.

Sebagai tujuan wisata favorit di Indonesia, Batam memang membutuhkan atraksi-atraksi tambahan yang dapat mendatangkan wisman.

“Memang harus diperbanyak atraksi ataupun event-event berskala internasional seperti ini sehingga dapat menjadi daya tarik wisata,” ujarnya.(*)

Festival Pesona Meti Kei Menuju Kelas Dunia

0

Sungguh, Maluku Tenggara, sangat indah.

Sekretaris Kemenpar Ukus Kuswara berkesempatan meninjau kawasan Maluku Tenggara.

Ia hadir bersempena dengan Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2017 yang digelar 19-22 Oktober 2017. Acara ini menghadirkan seni budaya Kei. Mulai dari Tarik Tali Tangkap Ikan, Cerita Rakyat Kei, hingga tarian tradisional Kei.

Tak ketinggalan dengan wisata bahari diving dan snorkeling, serta lari 10 km mengelilingi pulau Kei Kecil. Ukus Kuswara mengatakan, pihaknya siap mendukung promosi festival ini agar terdengat di dunia. Menurutnya, Maluku Tenggara bisa juga disebut sebagai surga tersembunyi di Indonesia.

“Pantai Ngurbloat berpasir putih paling halus di dunia yang dinobatkan oleh Majalah National Geographic. Untuk culture-nya, Desa Tanimbar Kei terdapat banyak hal menarik dari kehidupan penduduknya. Mulai dari seni arsitektur, adat istiadat dan kepercayaan kepada leluhur yang masih dipegang sampai saat ini,” ujar Ukus dalam sambutannya di acara puncak FPMK 2017 di Pantai Ngurtavur atau Pasir Panjang, Minggu (22/10).

Acara puncak FPMK ini juga dihadiri Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburia, Bupati Maluku Tenggara Andre Rentanubun, Wakil Bupati Maluku Tenggara, Yunus Serang, Ketua Fraksi PKS DPRD Maluku, Amir Rumra dan sejumlah anggota DPRD Kota Tual dan Malra.

Di kesempatan ini, Ukus meyakinkan daerah bahwa sektor pariwisata dapat diandalkan sebagai pendongkrak perekonomian masyarakat. Dia menjelaskan, saat ini sektor pariwisata menjadi penyumbang terbesar devisa negara nomor dua setelah Cruid Palm Oil (CPO.

“Pada 2016 pendapatan dari sektor pariwisata mampu duduk di peringkat kedua dengan 13,568 miliar dolar AS di bawah CPO yang berhasil meraih 15,965 miliar dolar AS. Sektor Migas justru harus turun di posisi ketiga karena nilai jual komoditas ini sempat anjlok dalam beberapa tahun terakhir,” papar Ukus meyakinkan.

Dalam dua tahun ke depan, lanjut Ukus, pemasukan devisa dari sektor pariwisata akan mendominasi. Mengalahkan pendapatan dari minyak kelapa sawit (CPO) serta minyak dan gas (migas) yang selama ini mendominasi devisa.

Ukus menambahkan, dalam tiga tahun terakhir, sektor pariwisata juga banyak meraih berbagai capaian. Di antaranya pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara periode Januari hingga Agustus 2017 meningkat 25,68 persen.

“Jumlah ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan industri pariwisata di ASEAN yang hanya tumbuh tujuh persen dan bahkan global yang hanya berkembang enam persen,” tuturnya.

Ukus juga mengingatkan, atraksi di Maluku Tenggara juga harus ditingkatkan, begitu juga dengan aksesibilitas dan amenitasnya. Saat ini, sudah ada 3 maskapai penerbangan yang melayani Ambon-Langgur dengan 4 frekuensi penerbangan. Sedangkan untuk amenitas juga sudah ada hotel dan resort.

“Karena itu dibutuhkan CEO Commitment, kepala daerah harus berani menetapkan pariwisata sebagai core economy-nya sehingga mengalokasikan segala sumber daya ke pariwisata baik sumber daya keuangan maupun sumber daya manusianya,” cetus Ukus.

FPMK 2017 merupakan event skala nasional yang diselenggarakan pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata, Provinsi Maluku, Badan Promosi Pariwisata Daerah Kei, dan masyarakat Maluku Tenggara di Kepulauan Kei, serta GenPi Kei.

Karnaval budaya mengawali pembukaan Festival Pesona Meti Kei (FPMK) 2017, diikuti oleh 102 peserta baik dari Kota Tual maupun Kabupaten Maluku Tenggara. Seperti tahun sebelumnya, karnaval budaya juga dimasukkan sebagai salah satu agenda penting. Kegiatannya menampilkan kebudayaan masyarakat suku Kei, maupun suku-suku lain yang mendiami kepulauan Kei.

Dia mengimbau agar generasi penerus Kei dan seluruh warga Kei yang tinggal di Kepulauan Kei agar menjaga dan memelihara amanat budaya “Ain ni Ain” yang memberi inspirasi kepada orang Kei tentang relasi baik kehidupan sosial antarmasyarakat.

Dia menyatakan, karnaval itu juga merupakan upaya sosialisasi FPMK kepada masyarakat, dalam hal ini kelompok-kelompok etnis dan elemen-elemen termasuk kepala desa dan kepala sekolah yang ada di Malra maupun Kota Tual.

“Patut diapresiasi, karnaval berlangsung sukses, aman dan lancar. Antusias masyarakat kedua daerah ini cukup bagus,” katanya.

Karnaval budaya FPMK 2017 dilepas secara bersama oleh dua pemerintah daerah yakni Kabupaten Maluku Tenggara dan Pemerintah Kota Tual. Titik start di Lapangan Lodar El Kota Tual dan Finish di Kawasan Pasar Langgur, Kabupaten Maluku Tenggara. Peserta karnaval berasal dari berbagai sekolah di dua daerah tersebut, mulai dari SD hingga SMA, pemerintah desa, dan kelompok-kelompok etnis yang ada di Kepulauan Kei.

Menangkap ikan secara tradisional juga menjadi rangkaian event menarik di FPMK 2017 hari kedua di Desa Yafafun Abean, Kabupaten Maluku Tenggara. Ribuan ikan dasar laut berhasil ditangkap peserta Meti Kei. Padahal, pola penangkapan ikan sangat tradisional.

Di sini warga hanya menggunakan tali kemudian dililit daun kelapa hingga ke dasar laut. Nah, ketika air mulai surut, tali tersebut ditarik ke daratan untuk mengarahkan ikan yang terjebak. Selain itu, mereka juga menangkap menggunakan alat tangkap tradisional, seperti kalewang (tombak ikan), busur, dan juga sarut (dari daun rumbia).

Penangkapan ikan secara tradisional dalam Festival Meti Kei cukup menarik oerhatian wisatawan domestik dan mancanegara yang berbondong-bondong turun ke laut untuk turut menangkap ikan.

Tak kalah menarik, lomba Dayung Belan antar-Ratschap (wilayah yang terdiri dari beberapa desa dan membuat kesatuan yang dipimpin oleh seorang raja) di Kepulauan Kei yang sudah lama vakum, kembali digelar untuk memeriahkan FPMK 2017.

Lomba ini salah satu kegiatan yang digelar untuk meramaikan Festival Pesona Meti Kei tahun ini, yang menampilkan kekayaan budaya masyarakat Kei. Lomba Dayung Belan FPMK 2017 diikuti oleh 12 peserta yakni Ratschap Loor Labay Tam, Manyeuw, Maur Ohoiwut, Ub Ohoi Fak, Songli, Tubab Yamlim, Lo Ohoitel, Mear Ohoinean, Meu Umfit, Kirkes, Dit Sakmas, dan Yarbadang.

Sedangkan lomba lari 10 KM dilepas Wakil Bupati Malra Yunus Serang di Perempatan Jalan Kolser Kota Langgur. Sekitar 600 peserta ikut dalam perlombaan ini.(*)

 

Tanjung Pinang Internasional Dragon Boat Race, Sukses

0
Sejumlah peserta mengikuti Dragon Boat Race 2017 di Sei Carang Tanjungpinang. F.Yusnadi/Batam Pos

Genderang ditabuh, dayung diayunkan sekuat mungkin.

Yap, event Tanjung Pinang Internasional Dragon Boat Race (DBR) dimulai.

Sebanyak 42 tim dari Indonesia dan Malaysia bersaing dalam perlombaan yang dihelat di Sungai Carang, Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), Sabtu (21/10).

Warga pun atusias menonton perlombaan tersebut. Bahkan beberapa warga rela membawa sampan dan berlabuh di pinggiran sungai untuk menyaksikan para atlit dengan semangat mendayung kapalnya.

Dragon Boat Race yang merupakan rangkaian acara Festival Bahari Kepri ini dibuka dengan tari persembahan Makan Sirih yang dibawakan oleh 7 penari perempuan yang menggunakan pakaian khas Melayu berwarna merah. Alunan musik bernuansa Melayu mengiringi gerakan gemulai para penari.

Masyarakat yang telah berkumpul di tepi sungai mulai pun bersorak ketika tim-tim mulai mengayuh perahu naga mereka. Suasana menjadi lebih meriah dengan teriakan-teriakan warga ketika selisih jarak empat tim sangat tipis.

Wali Kota Tanjung Pinang, Lis Darmansyah mengatakan, dragon boat race sebenarnya telah digelar sejak 1992 dengan nama Bintang Dragon Boat Race. Awalnya, perlombaan ini digelar di laut. Namun karena berbagai pertimbangan, acara ini digelar di Sungai Carang sejak 2014.

“Dragon Boat Race lahir dari kegiatan tradisi salah satu etnis di Tanjung Pinang. Acara yang mulanya tradisi kini telah dipoles dan dijadikan agenda tahunan Tanjung Pinang. Sejak 2014 digelar di Sungai Carang dengan standar internasional,” jelas Lis Darmansyah di Sungai Carang, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Jumat (20/10).

Pemindahan lokasi perlombaan ini dilakukan karena air Sungai Carang dinilai memiliki kelebihan dibanding air laut. Perairan di Sungai Carang lebih tenang karena tidak terganggu dengan gelombang kapal. Sungai ini juga dinilai memiliki jalur lomba yang cukup untuk menggelar pertandingan berstandar internasional.

Selain karena permukaan airnya yang relatif tenang, Sungai Carang juga dipilih karena memiliki nilai historis kerajaan Melayu yang kuat. Selain itu, ajang kompetisi ini juga terinspirasi dari budaya dan tradisi rakyat pada masa lalu.

“Di dekat Sungai Carang ini terdapat bekas pusat kerajaan Melayu. Ada situs Istana Kota Rebah. Generasi dahulu memiliki kehidupan yang sangat erat dengan laut,” lanjut Lis.

Dragon Boat Race, lanjut Lis, bukan sekadar ajang olahraga biasa. Tetapi sebagai salah satu jejak rekam sejarah masa lalu yang harus dititipkan pada generasi saat ini.

Pada kesempatan itu, Lis berharap, iven tersebut bisa ditingkatkan dan partisipasi peserta dari luar negeri juga negeri meningkat.

“Kegiatan tahunan Pemko Tanjungpinang ini sudah dirasakan ditingkat provinsi dan nasional bahkan internasional. Jadi event ini merupakan momentum. Ini akan terus kami evaluasi,” katanya.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti mengatakan pihaknya mengapresiasi perlombaan yang telah hadir selama empat tahun ini. Menurutnya, dibanding dengan acara dragon boat yang diselenggarakan daerah lainnya, dragon boat milik Tanjung Pinang memiliki peserta terbanyak.

“Kita sering mengadakan dragon boat race, tapi ini yang terbanyak pesertanya. Setiap tahun pesertanya selalu meningkat, untuk tahun depan mungkin hadiahnya perlu kita tingkatkan. Saat ini ada 5 tim dari Malaysia, bila 1 tim berisi 20 orang, sudah masuk 200 wisman. Kami siap mendukung supaya banyak tim luar negeri yang hadir. Karena ini menjadi target kami dalam rangka meningkatkan kunjungan wisman, tahun ini 15 juta,” ujar Esthy yang juga diamini Kepala Bidang Wisata Bahari Florida Pardosi dan Kepala Bidang Penguatan Jejaring Hidayat.

Esthy juga mengapresiasi berbagai event di Kepulauan Riau yang melibatkan olahraga dan pariwisata atau sport tourism. Di antaranya adalah Tour de Bintan, Dragon Boat Race, dan Bintan Fishing Festival. Dengan banyaknya event sport tourism di Kepri, Raseno optimis Kementerian Pariwisata dapat mencapai target wisman akhir tahun. Terlebih, Kepri masuk ke dalam tiga provinsi penghasil wisman terbesar selain Bali dan Jakarta.

“Banyak yang kita lakukan supaya target tahun ini bisa tercapai. Saya yakin wisman tahun ini akan melebihi target,” ujar Esthy.

Selain lomba perahu naga, acara juga diramaikan dengan lomba kayak dan lomba yel-yel tingkat SMP di Tanjung Pinang, hingga barongsai. Festival Sungai Carang 2017 masih akan berlanjut hingga Sabtu 21 Oktober 2017 dengan rangkaian kegiatan yang tak kalah seru.

Di kegiatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tanjungpinang Reni Yusneli menjelaskan, acara yang merupakan rangkaian kegiatan Festival Bahari Kepri tersebut akan dilaksanakan hingga 22 Oktober. “Final dan penutupan akan kita laksanakan 22 Oktober mendatang,” katanya.

Menurutnya, hadiah yang disiapkan sebanyak Rp150 juta untuk DBR. Acara tersebut juga dimeriahkan dengan lomba kayak kano dengan hadiah yang disipkan Rp15 juta. Kemudian dilokasi acara juga dilaksanakan lomba yel-yel untuk siswa SMP dengan hadiah disiapkan pihak sponsor.

Reni juga mentakan iven yang diikuti 42 tim tersebut sudah lebih baik dari tahun sebelumnya. Memang untuk tim luar negeri sebanyak lima tim dari Malaysia. Sedangkan Singapura tidak bisa ikut berpartisipasi. Karena saat bersamaan juga ada lomba di Tiongkok.

“Mereka sudah mendaftar di sana,” katanya.(*)

 

Pelanggan Datang dari Malaysia dan Singapura

0
Pak Mok mematangkan otak-otak yang dibuatnya. Pak Mok merupakan generasi kedua, yang meneruskan usaha otak-otak pertama di Kampung Sei Enam Laut. F. Slamet/Batam Pos.

batampos.co.id – Bagi wisatawan yang berpelesir ke Kijang belum lengkap rasanya jika
belum menikmati otak-otak khas Sei Enam Laut di Kelurahan Sei Enam, Kecamatan Kijang, Bintan. Betapa tidak rasa kuliner satu ini memang tiada dua jika dibandingkan otak-otak yang ditemukan di daerah lain di Bintan. Cuma di sini bisa menikmati sensasi makan otak-otak dengan cita rasa bumbu yang sangat berasa, dari bahan olahan ikan tenggiri, sotong sampai tulang ikan.

Kampung yang telah ditetapkan pemerintah menjadi kampung budaya dan kuliner otak-otak Sei Enam ini terletak di wilayah pesisir Kelurahan Sei Enam. Jaraknya sekitar 10 menit dari Kota Kijang. Sabtu, dua pekan lalu, Batam Pos menyusuri jalan di perkampungan tersebut. Hampir di semua pekarangan rumah warga ada plang bertuliskan tersedia
otak-otak ikan, sotong dan tulang.

Tidak heran apabila pemerintah kemudian menetapkan kampung ini sebagai kampung otak-otak, karena di sini, hampir satu per tiga kepala keluarga bekerja sebagai penjual
otak – otak.

Pagi itu, Batam Pos mencari rumah ketua RT. Idris namanya, atau biasa disapa Pak Itam. Saat ditemui dan diminta bantuannya untuk menemukan keluarga pertama yang membuat otak-otak di kampung itu, Idris menyambutnya dengan ramah dan bersedia mengantarkannya. Dia menemani wartawan koran ini menemui seorang pria yang merupakan generasi kedua pembuat otak-otak di kampung itu.

Adalah Jamil, laki-laki paruh bayah yang akrab disapa Pak Mok sedang duduk di kedainya. Sama dengan rumah kebanyakan, di kampung itu, di depan rumah Pak Mok juga ada tulisan tersedia otak-otak Pak Mok. Ia merupakan generasi kedua atau penerus usaha otak-otak yang diwariskan orangtuanya, alm Garib dan almh Piah. “Bikin otak-otak sudah turun temurun dari mamak, orang tua kami yang pertama buat otak-otak,” kata
Pak Mok yang ditemui di rumahnya, Sabtu (14/10) lalu.

Pak Mok mengatakan, dirinya belajar saat membantu ibunya membuat otak-otak. Sebenarnya, ibunya bukan saja membuat otak-otak, tapi juga beragam jenis kue. Modal itu, Pak Mok memberanikan membuka kedai dan kedainya sudah berdiri puluhan tahun. Setelah jualannya laris manis, ia kemudian menurunkan ilmu membuat otak-otak ke anak saudaranya dan sekarang sudah ada belasan warga di sana yang berjualan otak-otak.

Pak Mok mengatakan, pelanggannya bukan hanya warga Kijang, dan Tanjungpinang. Tapi dari Tanjunguban, Batam, dan daerah lain di Kepri. Bahkan, ada pelangganya dari Malaysia dan Singapura. Bagaimana warga Malaysia dan Singapura bisa menjadi pelangga setia Pak Mok? “Biasanya mereka ada sanak saudara di Tanjungpinang atau Batam, jadi pas ke sini
mereka rasa, cocok. Lalu, kalau mereka ke sini selalu pesan, untuk dijadikan buah tangan ke negaranya,” kata Pak Mok.

Pak Mok bukan membanggakan otak-otaknya, tapi menurut orang yang sudah membeli otak-otaknya, rasanya beda dari otak-otak di daerah lainnya. “Mereka bilang enak. Kalau sudah enak, pasti mereka pulang akan bawa cerita,” katanya.

Bahkan, turis pernah singgah dan makan otak-otak di kedianya. “Pernah ada rombongan yang mampir ke sini, mereka bule. Katanya, good,” ucapnya tertawa.

Lalu apa keisitmewaan dari otak-otak Pak Mok di Sei Enam, ia menuturkan, sebenarnya tidak ada yang istimewa. Hanya, dia selalu memilih ikan yang segar dan bumbu yang turun temurun. Soal ikan, ia membelinya ke pasar atau langsung ke nelayan, untuk memastikan ikan tersebut benar-benar layak dibuat otak-otak. Pilihannya adalah ikan Tenggiri.

Hanya, harga ikan di masanya dulu dengan sekarang jauh berbeda. Dulu, tenggiri dihargai Rp 18 ribu sekilo, sekarang bisa mencapai Rp 45 ribu sekilo. “Macam mana lagi, tak mungkin kita mau naikkan harga otak-otak ini dari seribu menjadi dua ribu. Ya, biarlah asal ada untung sedikit,” katanya.

Mengenai bumbu, ia sedikit membuka rahasianya. Ia mengatakan, bumbu yang dicampur dengan ikan adalah cabai kering, bawang putih merah dan santan, lalu ada serai. Hanya, diakuinya membuat bumbu seperti membuat gulai, karena itu perlu kesabaran. Setelah bumbu matang, baru dicampur dengan ikan yang sudah digiling halus, lalu dicampur tepung kanji. “Alhamdulillah sudah dibantu dari pihak Pertamina, mesin giling ikan,
jadi tak perlu pakai lesung lagi,” katanya.

Dikatakannya juga, otak-otak di masa sekarang tidak senikmat buatan orang tua dahulu. Jika dulu orangtua mencampurkannya dengan ampas kelapa dan menghaluskan ikan dengan lesung, tapi sekarang banyak pembuat otak-otak tidak lagi melakukannya. Menurutnya, campuran ampas kepala akan membuat otak-otak berasa gurih. “Kalau ikannya ditumbuh lebih sedap, tapi saya sudah tak ada tenaga lagi kalau mau pakai
lesung,” kata dia.

Pak Mok juga mengatakan, sama seperti usaha lainnya, usaha otak otak ada pasang surut. Otak otak biasanya akan ramai dipesan saat malam tahun baru atau akhir pekan. Menjelang malam tahun baru, ia mengaku bisa menghabiskan ikan sampai 300 kilo. “Wah kadang kami tidak sanggup mengerjakannya,” katanya.

Dalam sebulan, ia mengaku, jika sepi dirinya bisa meraup keuntungan sekitar Rp 2 juta, namun jika ramai bisa mencapai Rp 5 juta. Hanya ia berharap, pemerintah terus membantu permodalan dan pemasaran sehingga kampung otak-otak yang sudah ada
terus dilestarikan.

Sementara itu, Hasanudin, warga di sana mengakui kelezatan otak-otak Pak Mok. Ia mengatakan, sejak kecil, keluarga Pak Mok memang terkenal dengan kulinernya. “Ibunya Pak Mok ini pembuat kue. Dulu, ingat saya, kalau ibunya lagi masak, belum lagi diangkat di wajah, kue itu sudah habis,” katanya. Hanya, diakuinya sekarang banyak usaha otak-otak yang tumbuh selain dari punya Pak Mok. “Sekarang sainggannya banyak, tak
seperti dulu,” katanya,

Ketua RT setempat, Idris mengaku, di kampungnya telah ditetapkan sebagai kampung budaya dan kuliner otak-otak. Setidaknya ada 14 warganya yang berjualan otak-otak. Ia berharap, kampung ini terus dikenal dengan otak-otaknya. (cr21)

50 Pesepeda Ikuti Piala Walikota 2017

0
Walikota Tanjungpinang Lis Darmansyah melepas balapan sepeda pada ajang Piala Walikota 2017, Minggu (22/10). F,Humas Pemko Tanjungpinang

batampos.co.id – Sebanyak 50 pesepeda dari berbagai daerah menunjukkan kebolehannya beradu cepat dalam menggowes sepeda pada ajang Piala Walikota 2017, Minggu (22/10) pagi kemarin. Kategori yang dilombakan kemarin adalah Individual Road Race (IRR) yang dimulai dari jalan Wiratno dan kemudian menyusuri rute keliling kota dengan total jarak tempuh sejauh 85 kilometer.

Meski diguyur hujan deras pagi itu, tak menyurutkan semangat pesepeda dari berbagai daerah yang mengikuti ajang bergengsi ini. Keakraban yang terlihat di garis start seketika hilang sesaat Walikota Lis Darmansyah melepaskan bendera, tanda balapan dimulai. Spontan mereka mengayuh sepeda agar bisa menyentuh garis finish sebagai yang tercepat pertama.

Lis sendiri cukup takjub mendapati semangat dan antusiasme pesepeda yang ambil bagian pada helatan tahun ini. “Junjung sportivitas, profesionalisme, dan kebersamaan. Dari garis start sampai ke garis finish nanti,” pesannya.

Menurut Lis, ajang semacam ini bisa menjadi sejalan dengan promosi pariwisata Tanjungpinang. Terlebih dengan melihat antusiasme peserta yang berasal dari luar kota. Jika ke depannya bisa dipromosikan dengan baik, ia meyakini ajang balap sepeda semacam ini bisa menarik minat yang lebih tinggi dan bahkan sampai melibatkan wisatawan mancanegara yang sedang berlibur di Tanjungpinang.

“Harapannya memang begitu. Kita perlu inovatif untuk mengembangkan pariwisata Tanjungpinang ke depannya,” ungkapnya. (aya)

207 Layang-layang Hiasi Langit Bintan

0
Layang-layang naga saat berusaha dinaikkan ke langit dalam
Festival Kite Bintan 2017 di Gurun Pasir Desa Busung Kecamatan Seri
Kuala Lobam, Sabtu (21/10). F.Slamet/batam Pos.

batampos.co.id – Sebanyak 207 layang-layang dari lima negara dan dua belas kabupaten kota di Indonesia menghiasi langit sekitar Gurun Pasir di Desa Busung Kecamatan Seri Kuala Lobam, Bintan. Event yang bertajuk Festival Kite Bintan 2017 berlangsung selama dua hari, 21 hingga 22 Oktober.

Lima negara yang berpartisipasi dalam kegiatan festival layang-layang yakni Swedia, India, Malaysia, Singapura dan Thailand, sedangkan dua belas kabupaten kota diantaranya dari Jakarta, Surabaya, Jogyakarta, Banjarmasin, Pekanbaru, Batam, dan Tanjungpinang serta
Bintan.

Salah seorang pelayang dari Surabaya, Adieb menuturkan, dirinya membawa banyak jenis layang-layang, mulai dua buah layang-layang naga, layang-layang rokkaku dan layang-layang kaki seribu ekor panjang serta lainnya. Rencananya layang-layang tren naga akan dipertunjukkan pada saat pembukaan festival tetapi karena angin yang kurang, layang-layang seharga Rp 10 juta dengan panjang sekitar seratus meter itu tidak jadi
mewarnai langit. “Anginnya tidak stabil. Tak bisa naik sepertinya. Lagi pula kalau mau diterbangkan harus sepuluh orang yang memegang ekornya,” katanya.

Ia mengaku kecintaannya pada layang-layang dimulai sejak 18 tahun lalu. Bukan dirinya, istri dan anaknya juga mencintai hobi ini. Bahkan, dirinya rela membawa layang-layang dari daerahnya ke Bintan dengan total berat 26,7 kilogram yang tercatat masuk dalam bagasi
pesawat terbang. Itu melebihi berat dua tas yang dibawanya yang hanya berisikan pakaian.

Senada, pelayang asal Malaysia, Lim Kok Tiong mengaku dirinya ke Bintan membawa layang-layang bernama Smurf dengan berat 10 kilogram. Di rumahnya, di Malaysia, masih ada 5 lagi layang-layang Smurf yang tak dibawanya. “Ada sepaket, 6 macam gini. Smurf kan ada bapak, ibu dan empat orang anak. Jika dibawa semua beratnya bisa seratus
kilo,” ungkapnya sembari mengaku dirinya hanya membawa baju dan celana
secukupnya saja.

Ditanya harga satu layang-layang Smurf, ia mengaku membelinya seharga 4.200 ringgit Malaysia. Setelah dari Bintan, ia mengaku menyiapkan untuk mengikuti festival layang – layang di Taiwan. “Dari hobi layang-layang saya sudah ke banyak tempat, mulai Thailand,
Macau, Hongkong dan lainnya. Di Indonesia juga saya sudah mengunjungi banyak tempat. Festival layang-layang ini sebenarnya hampir digelar pada seminggu sekali, setahun saya hampir mengikuti empat belas event,” katanya.

Lain waktu ia berjanji akan kembali lagi ke Bintan untuk menikmati objek wisatanya. “next Time saya mau ke Tanjungpinang dan Lagoi,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Festival Kite Bintan 2017, Ari menuturkan, peserta lomba Festival Kite Bintan 2017 berasal dari 42 pelayang lokal, 16 pelayang dari daerah di luar negeri dan 44 pelayang daerah di Indonesia. Tujuan digelar festival ini untuk melestarikan
budaya dan mempromosikan daerah sehingga banyak wisatawan mancanegara yang
datang ke Bintan.

Ada pun, dijelaskanya lima kategori yang dilombakan yakni kategori dua dimensi atau modern, tren naga, rokkaku, tradisional atau wow dan ekor panjang. Masing-masing tim akan dinilai, layang-layangnya, kemudian saat akan naik ke udara dan saat layang-layang berada di udara.

Wabup Bintan Dalmasri Syam, dalam pembukaan festival kite Bintan 2017 mengatakan, dirinya mengapresiasi Asosiasi Pelayang Bintan yang sukses menggelar festival kite Bintan 2017. Dirinya berjanji akan menjadikan festival ini sebagai agenda pariwisata tahunan di Bintan. Ia berharap, tahun depan peserta yang menghadiri festival ini semakin banyak.
(cr21)

Kejari Minta Bantuan Satpol PP

0
Sejumlah nelayan asing yang di proses hukum tampak nongkrong di depan kantor Kejaksaan Negeri Ranai, Natuna, beberapa waktu lalu. Untuk mengawasai nelayan asing ini, pihak Kejari meminta bantuan Satpol PP. F. Aulia Rahman/Batam Pos.

batampos.co.id – Karena sudah dua kali kabur, Kejakasaan Negeri (Kejari) Natuna meminta pemerintah daerah membantu mengawasi nelayan asing yang mereka amankan.

“Kami sudah minta bantuan tambahan ke Pemkab Natuna untuk menempati personil jaga di Kejaksaan. Antisipasi jangan ada lagi nelayan asing yang kabur,” jar Waher Tarihoran, Kasi Pidum Kejari Natuna, Minggu (22/10).

Dikatakan Waher, jumlah terdakwa nelayan asing yang berada di lingkungan Kejari Natuna terhitung hingga belasan orang. Mereka tinggal dan makan di lingkungan kejaksaan. Namun mereka tidak boleh ditahan seperti terdakwa kasus lainnya dengan alasan aturan yang tidak membolehkan penahanan.

“Karena kami kekurangan petugas jaga, kami minta personil Satpol PP untuk membantu mengawasi terdakwa Illeghal Fishing,” kata Waher.

Langkah ini sebutnya, untuk memaksimalkan pengawasan terhadap terdakwa ilegal fishing karena selama ini sudah ada beberap orang di antara mereka yang kabur dari Kejaksaan melalui jalur laut. Dan meningkatkan intensitas jaga agar tidak terjadi kecolongan lagi.

Penempatan personil Satol PP katanya, disiagakan selama 24 jam di Kejaksaan. Dan tugasnya membackup petugas jaga Kejaksaan. Dan saat ini sudah tiga personil Satpol PP setiap hari ditempatkan di Kejaksaan secara bergantian.

“Penempatan Satpol PP ini kami rasa sangat efektif dan sangat membantu awasi nelayan asing yang akan menjalani persidangan. Mudah-mudahan tidak ada lagi nelayan asing yang kabur nanti,” ujar Waher.(arn)

Genjot PAD, Buru Kendaraan Plat Luar

0

batampos.co.id – Anggota Komisi II DPRD Kepri, Rudy Chua meminta Badan Pengelola Pajak dan Retrebusi Daerah (BP2RD) Provinsi Kepri menggesa penyerapan pajak kenderaan bermotor di Kepri. Salah satu caranya adalah memburu kendaraan plat luar yang dibeli masyarakat.

“Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) masih menjadi pendapatan yang potensial. Pendapatannya berada diurutan terdepan dalam daftar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kepri,” ujar Rudy Chua menjawab pertanyaan Batam Pos, Minggu (22/10) di Tanjungpinang.

Menurut politisi Partai Hanura tersebut, target PKB Kepri tahun 2017 ini adalah Rp 354 miliar. Ditegaskan Rudy, untuk mencapai angka tersebut, BP2RD Kepri yang bertanggungjawab tentu harus bekerja lebih keras.

Ia melihat beberapa daerah di Kepri, banyak kenderaan yang masih menggunakan plat luar. “Kita yakin, banyak masyarakat Kepri yang membeli kendaraan dari Jakarta. Akan tetapi, mereka enggan untuk melakukan balik nama atas kendaraan tersebut,” papar Rudy.

Rudy menilai, sikap enggannya masyarakat untuk melakukan balik nama, khusus kendaraan luar lebih disebabkan oleh harga jual. Dijelaskannya, ketika plat kenderaan masih luar, Jakarta misalnya harga jual masih tinggi.

“Harus ada ketegasan dari Pemerintah Daerah. Jika ini dibiarkan, PKB dan Pajak Balik Nama Kenderaan akan hilang,” paparnya lagi.

Wakil rakyat yang sudah dua priode duduk di DPRD Kepri tersebut juga menjelaskan, adanya revisi Perda Pajak dan Retrebusi Daerah memang diharapkan bisa meningkatkan sektor pendapatan daerah. Seperti penerapan pajak progresif kenderaan bermotor.

“Kenyataan di Kepri sistem yang digunakan berbeda. Usulan Pemprov adalah menggunakan by name by adress. Tetapi persetujuan DPRD Kepri hanya mengacu pada by name saja,” jelas Rudy.

Ditambahkan Rudy, sektor pajak yang menjadi harapan adalah dari bidang pertambangan. Akan tetapi, adanya pertambangan liar yang tidak ditertibkan seperti di Bintan belakangan ini juga berpotensi memberikan kerugian bagi daerah.

“Harus ada ketegasan dari Pemerintah Daerah untuk bertindak. Jika memang ilegal dan tidak sesuai aturan, harus dihentikan. Pajak sektor pertambangan termasuk primadona yang bisa meningkatkan PAD Kepri,” jelasnya lagi.

Selain itu Rudy juga berharap, dengan adanya pergantian unsur pimpinan BP Batam memberikan harapan baru bagi tuntasnya persoalan Pajak Air Permukaan (PAP). Menurut Rudy, Kepala BP Batam, Lukita adalah sosok yang paham aturan.

“Mudah-mudahan bisa segera tuntas persoalan PAP di Batam. Sehingga bisa menambah PAD dari sektor PAP. Karena untuk berharap dari labuh jangkar, masih belum ada kepastiannya,” tutup Wakil Rakyat utusan Tanjungpinang tersebut.(jpg)

Sebelumnya, Kepala Bidang Pendapatan, BP2RD Kepri, Herman mengatakan target PKB tahun 2017 ini adalah Rp 354.831.803.445. Target berikutnya adalah Bea Balik Nama Kendraan Bermotor (BBNKB) sebesar Rp 265.884.268.949. Kemudian pendapatan dari Pajak Bahan Bakar Kendraan Bermotor (PBB KB) senilai Rp 264.190.642.043.

“Sektor pajak terakhir adalah pajak Air Permukaan (AP). Adapun target pada sektor ini adalah sebesar Rp 12.288.919.500,” papar Herman.(jpg)

Ciptakan Generasi Penghafal Al-Quran

0
batampos.co.id -Untuk menciptakan generasi penghafal Alquran, SMA Baitul Quran berlokasi di Dabo Singkep resmi dibuka setelah izinnya keluar sejak Juli lalu.
“Seluruh sisiwa tinggal di asrama, sepulang sekolah mereka fokus menghafal Al-Quran. Kami juga menekankan kepada siswa untuk berahlaq baik sesuai ajaran agama,” ujar Kepala Sekolah SMA Baitul Quran Ust Nizar ketika memberikan keterangan kepada Batam Pos, Minggu (22/10).
Nizar mengharapkan seluruh siswa yang bersekolah di SMA Baitul Quran setelah lulus dapat mencari ilmu ke jenjang yang lebih tinggi dengan bermodalkan hafalan Al-Quran. Banyak universitas yang menyediakan bea siswa bagi pelajar yang dapat menghafal Al-Quran minimal 15 juz. Ada UIN Jakarta, UIN Surabaya dan UIN Malam memiliki program bea siswa bagi penghafal Alquran.
Saat ini, sekolah Baitul Quran baru memiliki satu lokal sekolah dengan 29 siswa yang belajar di sana. Ke depan, Nizar mengatakan akan membangun enam lokal bertingakat pada tahap awal, sehingga dapat menampung siswa lainnya yang hendak belajar di sekolah tersebut.
“Tahun depan kami membuka pendaftaran bagi siswa yang ingin belajar di sekolah Baitul Quran. Sehingga semakin banyak generasi penghafal Al-Quran,” ujar Nizar.
Dia juga meminta dukungan dari seluruh kalangan masyarakat agar dapat membantu keberlangsungan sekolah tersebut. Dengan tujuan dapat mengembangkan generasi muda Bunda Tanah Melayu menjadi generasi yang berahlaq mulia dengan tuntunan agama.
Nizar menambahkan, seluruh siswa yang lulus dari SMA Baitul Quran ini akan mendapat dua ijazah. Satu ijazah umum layaknya sekolah lainnya, satu lagi mendapat ijazah penghafal Al-Quran yang juga dikeluarkan SMA Baitul Quran. Harapan Nizar minimal siswa yang lulus dapat menghafal 15 juz Al-Quran.
SMA Baitul Quran ini juga baru diresmikan Gubernur Kepri Nurdin Basirun yang berkunjung ke Kabupaten Lingga pada Sabtu (21/10). Dalam kesempatan itu Nurdin berharap dengan adanya sekolah SMA Baitul Quran dapat menjaring penerus bangsa yang potensial dan menambah penghafal Al-Quran dari kalangan remaja. (wsa) 

Hubungi 110 bila Dalam Keadaan Darurat

0

batampos.co.id – Aparat kepolisian telah menyediakan nomor telepon pusat pelayanan publik 110 bagi masyarakat yang mengalami atau mengetahui adanya tindak pidana. Baik itu tindak pidana dijalanan maupun di lingkungan perumahan.

“Silahkan langsung telepon ke 110. Layanan itu tidak dibebankan pulsa,” ujar Wakapolresta Barelang AKBP Mudji Supriadi, Minggu (22/10/2017) siang.

Dikatakan Muji, masyarakat yang nantinya menghubungi ke nomor tersebut, langsung terkoneksi ke Mabes Polri. Nantinya, dari mabes Polri akan disambungkan sesuaikan dengan posisi penelpon.

“Misalnya, kalau dia menelpon dari Batam, nantinya akan langsung terhubung ke Command Center Polresta Barelang,” katanya.

Kepada masyarakat yang menjadi korban kejahatan, nantinya tidak perlu untuk berbicara dengan operator. Masyarakat hanya cukup untuk mengaktifkan ponselnya dan operator yang akan mendengarkan pembicaraan itu.

“Nanti operator sudah bisa menilai, bahwa penelpon sedang dalam bahaya. Nanti anggota kami yang paling dekat akan langsung ke lokasi penelpon,” tuturnya.

Namun, Muji mengakui bahwa sejauh ini masih banyak masyarakat yang iseng. Menurut Muji, mereka masih mencoba-coba apakah layanan tersebut memang benar ada atau tidak.

“Itu hal yang biasa. Kita berikan teguran sama mereka, Karena banyak yang harus dikerjakan oleh pihak kepolisian,” imbuhnya.

Selain membuka menyediakan nomor telepon pusat pelayanan publik, polisi juga melaksanakan patroli rutin dalam mengantisipasi kejahatan jalanan serta balap liar. Kegiatan ini merupakan agenda rutin setiap polsek-polsek dan salah satunya Polsek Sekupang.

“Patroli kita Sabtu (21/10) kemarin dengan melewati kawasan Marina City, Mata Kucing dan Temiang. Kawasan itu memang menjadi prioritas kita dalam mengantisipasi kejahatan jalanan,” ujar Kapolsek Sekupang Kompol Oji Fahroji.

Selain melakukan patroli, anggota Polsek Sekupang juga melakukan pemeriksaan kendaraan sepeda motor dan kelengakapan surat surat kendaraan, serta memberikan himbauan Kamtibmas.

“Dari hasil kegiatan semalam, semuanya aman dan terkendali. Tidak ada kita temukan kejadian yang menonjol,” imbuhnya. (cr1)