Petugas ATB mengecek kondisi meter pelanggan beberapa waktu lalu, untuk menghindari kemungkinan kebocoran dalam yang tidak terdeteksi, pelanggan dapat mengecek meter air secara berkala.
Pembaca, pelanggan ATB ketahuilah sesungguhnya jaringan pipa setelah meter air, sepenuhnya menjadi tanggung jawab pelanggan.
Apabila terjadi kebocoran pada jaringan tersebut, akan jadi tanggung jawab pelanggan.
Selain menanggung tagihan air yang terbuang, pelanggan juga yang bertanggung jawab memperbaiki kebocoran pipa tersebut.
“Bila terjadi kebocoran pada jaringan pipa pelanggan setelah meter air, air bersih yang terbuang akibat kebocoran pipa tersebut akan ditagihkan kepada pelanggan,” jelas Enriqo Moreno, Corporate Communication Manager ATB Jumat (10/11)
Ia melanjutkan, bila pelanggan tidak mau membayar tagihan tersebut karena merasa tidak menggunakan air yang merembes karena bocor, perusahaan air minum berhak menghentikan aliran air kepada pelanggan tersebut sementara, hingga pelanggan melunasi tagihan yang dibebankan.
Kebijakan kebocoran yang terjadi dijaringan pipa pelanggan tidak hanya di PT Adhya Tirta Batam (ATB), perusahaan air minum maupun PDAM di seluruh Indonesia menerapkan kebijakan yang sama.
“Kami kembali tegaskan bahwa pipa jaringan dalam sepenuhnya menjadi tanggung jawab pelanggan, sehingga bila terjadi kebocoran pipa di jaringan dalam, dianggap menjadi kelalaian pelanggan,” tutur Enriqo.
Oleh karena itu, Enriqo mengimbau, pelanggan diharapkan secara berkala mengecek apakah terjadi kebocoran jaringan dalam atau tidak. Selain itu, pastikan pipa jaringan dalam di rumah atau bangunan yang ditempati dipasang dengan baik sehingga resiko kebocoran dapat diminimalisir.
Pelanggan juga bisa memeriksa sendiri tanda-tanda kebocoran yang terjadi pada jaringan pipa pelanggan dengan mudah. Pelanggan bisa mengatur posisi valve meter dalam posisi on atau terbuka, kemudian tutup semua kran air yang terdapat didalam rumah.
Apabila meter air berputar, dapat dipastikan adanya kebocoran pada jaringan pipa pelanggan dan harus segera diperbaiki.
Untuk itu apabila ada pelanggan yang mengalami kebocoran jaringan pipa dalam pelanggan dan kesulitan menemukan titik kebocoran pipa, pelanggan bisa meminta bantuan ke petugas ATB melalui kantor pelayanan terdekat, baik di kantor pusat Sukajadi, kantor cabang Batu Aji, kantor cabang Tiban dan kantor cabang yang ada di Bengkong.
“Tim ATB akan membantu mencari lokasi titik kebocoran pada jaringan pelanggan, untuk perbaikannya tetap tanggung jawab pelanggan dengan mencari tenaga pekerja. Kebocoran jaringan dalam yang terjadi di tempat pelanggan akan menyebabkan tagihan tinggi, meski pemakaian air normal,” pesan Enriqo.
Apabila pelanggan mencurigai ada kebocorean jaringan dalam, dapat menelepon call centre kami di nomor 0778-467111 atau datang langsung ke kantor pelayanan kami terdekat. (*)
batampos.co.id – Kabar kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan Soekarno-Hatta di Jakarta tiba di Kepulauan Riau. Bukan cuma untuk dirayakan, tetapi juga dipertahankan. Tapi, sayangnya sedikit saja yang mengingat nama-nama martir itu.
Pertama, marilah mengenang Sunaryo. Nama orang Jawa ini sekarang abadi pada sebuah ruas jalan menanjak di Tanjungpinang. Sejarawan Kepri, Aswandi Syahri menceritakan, Sunaryo adalah nama yang paling benderang di tengah nyala api revolusi di Kepri.
“Aksi-aksi Sunaryo selalu menjengkelkan pemerintah Belanda di Tanjungpinang,” kisah Aswandi, kemarin.
Memasuki pertengahan tahun 1946, suasana politik di Tanjungpinang mamasuki suasana yang genting dan mencapai titik didihnya. Tokoh-tokoh dan organisasi pendukung Republik mulai menyusun sejumlah gerakan yang dipandang ekstrimis oleh Coenrad, Komandan Reserse (Hoofd Recherche) Polisi Belanda, dan Residen Belanda di Tanjungpinang. Akibatnya, penangkapan dan pengeledahan sejumlah tokoh revolusi di pada sejumlah tempat di Tanjungpinang.
Memanasnya suhu politik ini, kata Aswandi, dimulai oleh seorang Sunaryo. Agitasi-agitasi yang dilakukan oleh Sunaryo sebagai Komandan Pos Polisi Belanda di Tanjungpinang, yang juga anggota Gerakan Merah Putih dan tokoh Badan Kedaulatan Indonesia Riouw (BKIR). Walaupun berdinas sebagai anggota Veldpolitie Belanda, Sunaryo dikenal sangat membenci dan anti Belanda.
Laporan-laporan polisi dan jaksa Belanda di Tanjungpinang mencatat, bahwa Sunaryo pernah beberapa kali mengumpulkan uang untuk membantu aktivitas kurir perwakilan Republik Indonesia yang selalu berulang-alik ke Tanjungpinang mengumpulkan informasi tentang keuatan militer Belanda.
Sunaryo, sambung Aswandi, juga dilaporkan selalu mengumpulkan eks Giyutai (tentara pembera pulau-pulau pada zaman jepang) pada sebuah rumah makan Padang di Tanjungpinang yang dijadikannya markas Gerakan Merah Putih.
“Bahkan, dalam laporannya kepada Jaksa Agung di Batavia, Residen Riau menyebutkan bahwa Soenaryo antara lain kerap menyalahgunakan dan mempertaruhkan jabatannya sebagai guru sekolah polisi di Tanjungpinang dengan melakukan propaganda bagi Gerakan Merah Putih dan menyebarkan sentimen anti Belanda kepada murud-muridnya,” tutur Aswandi.
Kekhawatiran pemerintah Belanda tindak-tanduk Sunaryo, semakin memuncak, ketika diketahui bahwa ia akan melakukan sebuah peemberontakan yang didukung oleh 100 orang polisi bersenjata. Akibatnya ia dipecat dari kepolisian dan ditahan di penjara benteng KNIL di Bukit Tanjungpinang (sekarang Rumah Sakit AL Tanjungpinang) setelah melalui serangkain pemeriksaan pada 3 Juli 1946.
Penahanan Sunaryo berimbas panjang. Semakin membuat suhu politik dan aktivitas organisasi pendukung kemerdekaan di Tanjungpinang semakin riuh. Apalagi ketika penahanan itu berakhir dengan kematian Sunaryo secara tidak wajar.
“Ia gugur wira bangsa dan martir di pentas revolusi di Kepulauan Riau,” kata Aswandi.
Yusuf Kahar yang ditandai tanda merah. F. Dokumen Aswandi untuk Batam Pos
Selain Sunaryo, ada Yusuf Kahar. Sama seperti Sunaryo, namanya abadi pada seruas jalan di muka GOR Kaca Puri Tanjungpinang. Yusuf Kahar adalah salah satu tokoh yang erat kaitannya dengan sejarah mempertahankan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan upaya-upaya mengibarkan merah putih di Kepulauan Riau.
Sunaryo dan kawan-kawan bergerak di Tanjungpinang, sedangkan Yusuf Kahar berjuang di Dabo Singkep dan sekitarnya.
“Ia adalah bagian dari heroisme pemuda-pemuda republieken pendukung proklamsi kemerdekaan di Lingga, Senayang, Penuba, dan Dabo Singkep yang tersebar dalam berbagai organisi seperti; Komite Nasional Indonesia (KNI), Pemuda Republik Indonesia (PRI), dan Party Kaum Buruh Indonesia (PKBI) yang berpusat di Singapura,” terang Aswandi.
Sejak November dan Desember 1945, sejumlah anggota organisasi pemuda republieken tersebut berafiliasi dengan pemimpin-pemimpin republik di Sumatra, terutama yang berada di Indragiri, dan mulai melakukan gerakan “di bawah tanah” untuk mengusir Belanda dari Pulau Singkep, Lingga, Senayang, dan Pulau Selayar atau Penuba.
Setelah itu, terutama sejak Mei 1946, situasi di Dabo Singkep dan Penuba yang merupakan pusat konsentrasi Belanda semakin memanas. Puncaknya adalah ketika 50 anggota kesatuan Tentara Kemanan Rakyat (TKR) dari Tembilahan yang dimpim oleh Sersan Major Andris Kilak sampai di Dabo Singkep dan menyerang pos militer Belanda di Penuba bersama pemuda-pemuda anggota arganisasi pro-republik di Dabo Singkep, Senayang, dan Penuba pada 12 Juni 1946.
Sebuah agresi terjadi. Adu tembak tak terelakkan hingga menewaskan sang komandan. Oleh Belanda, serangan bersenjata di Penuba itu terbilang mengejutkan. Akibatnya, dilakukan penggeledahan, penangkapan, dan berujung pada penahanan. Sejumlah dokumen organisasi pro-republik dirampas.
Dari dokumen itu tersebut nama-nama yang terlibat. Yusuf Kahar bersama Said Abdullah, Sukarjo, Sukarwo, Encik Muhamad bin A. Kahar (abang Yusuf Kahar) dan Ja’afar Panggabean ditangkap di Dabo Singkep pada 21 Oktober 1946. Saat agresi Penuba, nama-nama yang termaktub dalam dokumen itu merupakan anggota Tentara Republik Indonesia (TRI).
Mereka kemudian digiring ke Tanjungpinang. Lalu dijebloskan di penjara Kampung Jawa. Setelah menjalani proses pengadilan militer, para tawanan perang dari Dabo Singkep itu harus menjalani 2,5 hingga 5 tahun kurungan di penjara yang sama.
“Namun tidak demikian halnya dengan Yusuf Kahar. Beliau telah lebih dahulu wafat sebelum seluruh proses pengadilannya selesai,” terang Aswandi.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap pejuang republik dengan status tahanan Belanda yang wafat dalam usia 28 tahun, prosesi pemakaman Yusuf Kahar dihadiri oleh ketua Riouw Raad dan anggotanya, juga seluruh pemuda anggota organisasi pendukung proklamasi di Tanjungpinang.
Hampir tiga puluh tahun kemudian, penghormatan itu kian purna. Pada 1976, makam Yusuf Kahar di Taman Bahagia dipindah oleh pemerintah Kabupaten Kepulauan Riau ke Taman Makam Pahlawan Pusara Bakti di Tanjungpinang. “Pada nisan pusaranya hanya ditulis M.Y. Kahar 1948,” terang Aswandi.
Sejalan sebagai laku penghormatan atas jasa-jasa Yusuf Kahar, pemerintah daerah pun mengabadikan namanya pada seruas jalan di Tanjungpinang. Sekaligus mendampingi nama Sunaryo, rekan semasa seperjuangan mempertahankan kemerdekaan, yang juga ditetapkan sebagai nama jalan.
“Ironinya, sekarang anak muda lebih kenal Yusuf Kahar sebagai nama jalan, dan bukan keberaniannya angkat senjata untuk mempertahankan kemerdekaan,” pungkas Aswandi. (aya)
Yolanda Cantika Tatengkeng F.Dok pribadi untuk Batam Pos.
batampos.co.id – Nama Yolanda Cantika Tatengkeng kini melambung di dunia modeling. Membawa nama Kabupaten Karimun, putri bungsu dari pasangan Yopi Tatengkeng dan Dessy Andriany ini, berhasil meraih posisi runner up audisi Wajah Pesona Indoensia di gedung Kementerian Pariwisata, Oktober 2017.
Dunia modeling sudah dilakoni gadis berparas cantik ini sejak duduk di bangku sekolah dasar. Minat dan bakat gadis yang menimba ilmu di SD Mahabodhi Tanjungbalai Karimun itu didukung penuh oleh kedua orang tuanya.
Setiap ada event modeling baik tingkat sekolah, kecamatan hingga kabupaten, Yola, panggilan akrabnya, tidak pernah absen ikut serta. Memang jalan menuju kemenangan tidak semudah membalik tapak tangan. Yola kecil juga terus mengasah dan menimba ilmu dunia modeling. Dia pun kenyang akan pengalaman dan prestasi.
Tidak cukup tingkat kabupaten, Yola pun melebarkan sayap untuk mengembangkan bakat modelingnya. Kota Batam pun menjadi tujuannya saat mengikuti Duta Batik. Meski baru pertama, namun Yola berhasil meraih juara ketiga. Sejak itu, Yola selalu masuk tiga besar.
Mengusung moto “Mau Belajar, Tidak Mau Menyerah dan Rendah Diri”, Yola terus mengasah kemampuan untuk menjadi modeling yang profesional. Meski begitu, tugas belajar di sekolah tetap menjadi prioritas.
“Alhamdulillah, bulan Oktober saya ikut audisi Wajah Pesona Indonesia di gedung Kementerian Pariwisata. Hasilnya saya meraih posisi runner up satu dari 370 peserta seIndonesia,” ujar Yola mengawali perbincangan dengan Batam Pos, Kamis (9/11).
Tahun sebelumnya, kata Yola, dirinya menjadi juara ketiga di ajang Wajah Pesona Indonesia, dan juara favorit di event sama yang berlangsung di Jakarta. Atas raihan prestasi tersebut, Yola pun mendapat undangan dari KBRI Singapura pada Februari 2018 untuk tampil di ajang Chingay Parade Singapore. Yola akan mewakili Provinsi Kepri sebagai peserta fashion show di tingkat internasional.
“Saat tampil di Kementerian Pariwisata saya menggunakan gaun karya desainer muda Tengku Fazeza berwarna biru, dan bercorak etnik Nusantara. Bersyukur dapat runner up sebab pesertanya ratusan,” ujar gadis yang bercita-cita ingin jadi dokter spesialis jantung ini.
Dengan segudang prestasi tersebut, Yolanda kini kebanjiran tawaran untuk menjadi model berbagai produk. Mulai dari pakaian bermerk, menjadi endorse salah satu swalayan ternama di Karimun, hingga produk makanan, dan banyak lagi. Selain itu, dirinya juga dengan sukarela melatih adik-adik kelasnya yang hobi modeling di salah satu swalayan, setiap akhir pekan.
Suka duka mengikuti modeling ini, menjadi bekal buat dirinya terus melatih bakat hingga suatu saat menjadi Putri Indonesia. Dukungan dan dorongan dari kedua orang tuanya pun dirasakan sangat berperan besar bagi Yolanda untuk meraih prestasi.
“Tanpa doa dan dukungan kedua orang tua saya, prestasi ini tidak akan datang. Penuh dengan perjuangan tapi saya menikmati semuanya. Walaupun banyak tawaran dari berbagai perusahaan, tapi saya tetap memprioritaskan menuntut ilmu,” papar penghobi berenang dan makan nasi lemak ini. (tri)
Gubernur Kepri Nurdin Basirun bersalaman dengan Presiden Jokowi usai upacara penganugerahan gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Kamis (9/11).
batampos.co.id – Pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Sultan Mahmud Riayat Syah dari Kepri. Hal itu tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 115 Tahun 2017. Upacara penganugerahaan berlangsung Kamis (9/11) di Istana Merdeka, Jakarta, dipimpin Presiden Joko Widodo.
Selain Sultan Mahmud, ada tiga tokoh lain yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional tahun ini. Mereka adalah almarhum TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari Provinsi Nusa Tenggara Barat, almarhumah Laksamana Malahayati dari Provinsi Aceh, dan almarhum Lafran Pane dari Provinsi DI Yogyakarta.
Gubernur Kepri, Nurdin Basirun, mengatakan gelar pahlawan nasional yang diberikan kepada Sultan Mahmud diharapkan menjadi motivasi dan pendorong masyarakat untuk menjadikan Kepri semakin maju. Dengan gelar Gerilya Laut, momentum ini hendaknya menjadi semangat untuk memaksimalkan potensi bahari Kepri untuk kesejahteraan masyarakat.
Poster Sultan Mahmud Riayat Syah saat memimpin Kesultanan Lingga diperkenalkan pada event tingkat Provinsi Kepri.
Berdasarkan catatan sejarah selama lebih kurang 50 tahun memimpin Kesultan Riau Lingga, Johor, dan Pahang, Sultan Mahmud Riayat Syah (SMRS) III adalah pemimpin yang dikenal cerdas. Bahkan untuk membangun kekuatan, SMRS III mengedepankan konsep otonomi.
“Setelah kami melakukan berbagai kajian dan penelitian, SMRS III adalah tipikal pemimpin yang militan di semua bidang,” ujar Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Provinsi Kepri, Abdul Malik, kemarin.
Kelebihan itulah yang menjadi penilaian bahwa SMRS III layak dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Menurut akademisi Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang tersebut, banyak faktor keteladan SMRS. Bukan hanya di bidang politik dan pemerintahan saja. Bahkan Sultan juga berjaya membangun kekuatan ekonomi di Kerajaan Riau Lingga pada masa itu.
“Lahirnya tulis menulis monumental dari Raja Ali Haji juga pada masa Kesultanan Mahmud Riayat Syah III. Bahkan agama Islam turut berkembang pesat. Meskipun demikian, ia tetap mengedepankan keberagaman dalam memimpin,” papar Malik.
Dijelaskan Malik, sejak pindah ke Lingga pada 24 Juli 1787, SMRS III membagi kekuasan dalam sistem otonomi luas. Dengan konsep tersebut, Kerajaan Riau Lingga, Johor Pahang berkembang begitu pesat dan berjaya dalam menghadang Belanda.
“Kelebihan-kelebihan inilah yang membuat kita mengajukan SMRS sebagai calon pahlawan nasional pada 2013 lalu. Pada waktu itu, kita juga belum memutuskan pahlawan dalam bidang apa,” jelas Malik.
“Akhir 2016 lalu, kita putuskan bahwa SMRS III adalah Pahlawan Gerilya Laut. Karena Pahlawan Gerilya Darat sudah menjadi milik Jenderal Soedirman,” jelasnya lagi.
Anggota DPR asal Kepri, Nyat Kadir, menilai keberhasilan menjadikan Sultan Mahmud sebagai pahlawan nasional tentunya tidak lepas dari kegigihan pemerintah daerah, Kabupaten Lingga khususnya. Untuk memperkuat hal itu, pihaknya beberapa kali menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Senayan.
“Kekurangan kita pada percobaan pertama adalah kurang didukung dengan dokumen. Pada waktu itu, era Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah memberikan apresiasi,” ujar Nyat Kadir.
Mantan Wali Kota Batam itu menilai, pencapaian ini adalah kesungguhan semua pihak. Semua dokumen, fakta, dan data sudah menyatakan SMRS III layak diberi gelar pahlawan. “Selama 50 tahun, Sultan gigih berjuang membangun kerajaan dan mempertahankan jati diri. Selain itu, juga terus memajukan tamadun Melayu,” tegasnya.
Menurut Nyat, konsep otonomi dan kebangsaan lahir pada masa SMRS III. Di Bulang Lintang dipimpin seorang Temenggung yang wilayah kekuasaanya sampai Singapura dan Johor. Kemudian di Penyengat sampai ke Pulau Tujuh dipercayakan kepada Yang Dipertuan Muda.
“Kalau Kepri ingin maju, pemimpin harus meneladani SMRS III dalam membangun sebuah negeri,” katanya.
Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) asal Provinsi Kepri, Rida K Liamsi, mengatakan sudah seharusnya Sultan Mahmud Riayat Syah diberikan gelar pahlawan. Apalagi Sultan Mahmud adalah pejuang yang militan saat menentang Belanda dengan melalukan perang maritim.
Masih kata Rida, pengajuan sekarang ini adalah yang kedua. Sehingga lebih ditekankan sebagai tokoh gerilya laut dan itulah strategi yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensi Kerajaan Riau Lingga dari 1788 sampai 1795 sampai akhirnya Belanda dan Inggris mengakui kemerdekaan Riau Lingga.
“Predikat yang diterima ini harus menjadi motivasi untuk membawa Provinsi Kepri lebih maju dan lebih baik lagi,” papar Rida.
Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepri, Abdul Razak mengatakan pemberian nama Sultan Mahmud Riayat Syah (SMRS) pada Kantor Gubernur Kepri, filosofinya adalah untuk mendukung SMRS mendapatkan gelar pahlawan nasional. Karena pada kesempatan sebelumnya, SMRS belum mendapatkan predikat pahlawan nasional.
“Pemberian gelar pada gedung di pusat Pemerintahan Provinsi Kepri memang sudah menjadi kesepakatan. Termasuk Kantor Gubernur Kepri, yakni Sultan Mahmud Riayat Syah. Alhamudlillah, hajat sampai niat terkabul,” ujar Abdul Razak
Dijelaskannya, pemberian nama tersebut sudah tertuang dalam Surat Keputusan Gubernur (SK) Nomor 988 Tahun 2014. (jpg)
Danlantamal IV Tanjungpinang Laksamana Pertama Ribut Eko Suyatno melakukan tabur bunga pada Ziarah Nasional memperingati Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan Pusara Bakti Tanjungpinang, Kamis (9/11). F.Yusnadi/Batam Pos
batampos.co.id – Sekda Provinsi Kepri TS. Arif Fadillah berharap moment hari pahlawan saat ini dapat menumbuhkan nilai kepahlawanan di kalangan generasi penerus bangsa. Selain itu, perjuangan para pahlawan yang telah mempertahankan kemerdekaan hendaknya menjadi insprasi dan motivasi dalam mengisi kemerdekaan dengan berbagai hal yang positif untuk mewujudkan cita – cita para pejuang terdahulu.
“Sebagai penerus perjuangan hendaknya seluruh warga negara Indonesia khususnya generasi muda untuk terus melestarikan dan mendayagunakan sikap perilaku para pahlawan kusuma bangsa dalam rangka membangun bangsa yang lebih baik kedepan,” ujar Arif sesaat setelah menghadiri acara Ziarah Makam Pahlawan dalam rangka Peringatan Hari Pahlawan Tahun 2017 di Taman Makam Pahlawan, Tanjungpinang, Kamis (09/11).
Turut hadir pada acara ini Danlantamal IV, perwakilan FKPD dan Asisten Administrasi Umum dan Kepala OPD di Lingkungan Setda Provinsi Kepri.
Arif menyebutkan kegiatan ziarah ke makam pahlawan ini sebagai bentuk penghormatan bangsa terhadap para pahlawan. Para pahlawan menurut Sekdaprov, sangat layak mendapatkan penghormatan dari segenap elemen bangsa karena jasa-jasanya bagi Bangsa Indonesia.
“Kegiatan ziarah ini memiliki arti penting, disamping sebagai penghormatan kepada para pahlawan,” jelasnya.
Tidak lupa pada kesempatan ini Arif mengajak kepada seluruh masyarakat di Kepulauan Riau untuk menyambut Gelar Pahlawan kepada salah satu tokoh besar dari Melayu di Kepulauan Riau yakni Sultan Mahmud Riayat Syah, yang diserahkan oleh Presiden RI di Istana Negara, Jakarta, Kamis (09/11).
“Mari kita sama-sama syukuri anugerah yang besar bagi masyarakat Kepri ini karena dengan penganugarahan ini maka saat ini Kepri akan memiliki 3 orang Pahlawan Nasional,” ujar Arif.
Pada kesempatan yang sama Danlantamal IV Tanjungpinang setelah menjadi Inspektur Upacara Ziarah Makam Pahlawan ini mengharapkan kepada generasi muda untuk memahami dan memaknai perjuangan para pahlawan terdahulu.
“Untuk generasi muda, maknai, hayati dan teruskan perjuangan para pahlawan. Isi pembangunan dengan melakukan hal-hal yang berguna guna. Generasi sekarang harus lebih baik kedepannya” ujar R. Eko Suyatno, SE, MM.
Kegiatan Ziarah Makam Pahlawan ini sendiri, diawali dengan upacara penghormatan dan doa, kemudian dilanjutkan dengan tabur bunga secara bergantian pada makam-makam pahlawan. (bni)
Memperingati 350 tahun Perjanjian Breda, Indonesia mengajak Konsulat Jenderal (Konjen) berlayar sekaligus mengikuti seminar dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dari atas KM Pangrango .
Konjen itu antara lain dari KBRI London, KBRI Den Haag dan KJRI New York, juga para Diplomat dan Perwakilan Negara Sahabat di Jakarta. Misi seminar ini mempopulerkan Pulau Banda kepada Konsuler dan Diplomat . Menjadi kehormatan bagi para duta besar tersebut, karena mereka terlibat dalam pelayaran perdana KM Pangrango.
Pelayaran inagurasi ini mengarungi rute dari Ambon ke Banda Neira untuk menandai pembukaan Festival Banda 2017 mulai 11 Oktober sampai 11 November 2017.
Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata, Esthy Reko Astuti menilai, seminar ini menjadi salah satu cara efektif untuk kembali mendongkrak pamor Pulau Banda sebagai sentra perdagangan rempah-rempah di dunia pada masa lalu.
“Seminar ini memperkenalkan Pulau Banda sebagai destinasi wisata populer di dunia selama berabad-abad. Pulau Banda terkenal dengan dengan rempah rempah dan pesona wisata alam luar biasa,” ujar Esthy didampingi Kabid Promosi Wisata Pertemuan dan Konvensi, Eddy Susilo.
Wanita berkacamata ini berani memberikan jaminan, para peserta kerasan di Pulau Banda. Sebagai destinasi bahari dan salah satu poros maritim di Indonesia, Pulau Banda menawarkan 30 titik lokasi selam. Kapal berangkat dari Ambon, 10 November dan sampai di Banda Neira, pukul 6 pagi keesokan hari. KM Pangrango mengangkut sekitar 350 peserta seminar. Agenda ini berlangsung di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Hatta-Sjahrir Banda Neira.
Pemerintah Daerah (Pemda) Maluku selaku pemangku hajat gelaran ini bekerja sama dengan PT Pelni (Persero).
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Ona Saimima puas, rencana mendatangkan para Konjen dan duta besar dari Jakarta terealisasi, terutama untuk mendongkrak destinasi wisata di Maluku. “Atraksi ini menarik, pada 10 Oktober, KM Pangrango melakukan pelayaran perdana ke Banda, setelah itu para peserta akan mengikuti acara seminar dengan pembicar dari Amerika dan Australia,” ujar Ona.
Para peserta bukan cuma Konjen dan Duta Besar, lebih dari itu, para peserta seminar nanti memiliki latar belakang sejarawan, antropolog, budayawan, Ilmuwan, akademisi serta pemerintah pusat dan daerah.Setelah mengikuti seminar sejarah Banda dan Sejarah Traty of Breda, para peserta akan diajak berkeliling ke destinasi sejarah di Banda Naire dan berpartisipasi dalam Festival Banda 2017.
“Sebelum kembali berlayar menuju Ambon, kami akan menggelar gala dinner gala dinner dan pemutaran Film: Banda The Dark Forgotten Trail, karya Jay Soebijakto,” imbuh Ona.
Film dokumenter itu berisi tentang monopoli bangsa arab dan perseteruan dalam perang salib membawa Eropa ke dalam perburuan menemukan pulau-pulau penghasil rempah.
Kepulauan Banda menjadi rebutan lantaran pohon-pohon pala hanya tumbuh di Pulau itu. Karena Pulau Banda pula, Belanda bahkan rela melepas Nieuw Amsterdam (Mannhatan, New York) agar bisa mengusir Inggris dari kepulauan tersebut. Pembantaian massal dan perbudakan pertama di Nusantara terjadi di Kepulauan Banda. Namun dari masa -masa pahit ini, semangat kebangsaan dan identitas multikultural lahir menjadi warisan sejarah dunia.
Menteri Pariwisata, Arief Yahya mendukung Pesta Rakyat Banda 2017 sebagai bagian kampanye maritim ke wilayah Indonesia Timur . Presiden Jokowi mencantumkan Indonesia bagian timur sebagai prioritas pemerataan pembangunan.
“Semangat Presiden Joko WIdodo memajukan pariwisata luar biasa. Buktinya gambar destinasi wisata unggulan di Banda Neira ini sampai dimasukkan ke dalam uang rupiah baru tahun emisi 2016,” kata Menpar Arief Yahya.
Banda memiliki segudang destinasi wisata bersejarah peninggalan penjajahan Portugis dan Belanda di Nusantara. Mulai Gunung Api Banda, Benteng Belgica peninggalan bangsa Portugis, spot menyelam terbaik di Lava Flow, Gereja Tua Hollandische Kerk, Rumah Budaya, Istana Mini, lokasi pengasingan Bung Hatta.(*)
Bupati Kepulauan Seribu, Irmansyah dalam acara potong tumpeng dalam rangka Ultah dan pembukaan Festival Kepulauan Seribu di Lapangan Bupati, Kep Seribu, Pulau Pramuka 9 November 2017 mengatakan, ”Ini umur sudah sangat dewasa. Sebentar lagi akan sweet seventeen, itu artinya, kita semua harus siap dalam segala hal.Yang paling utama adalah, dewasa dalam menyambut tamu wisatawan di Asian Games dan harus bisa mengedepankan semua kepentingan pariwisata untuk menjadi destinasi kelas dunia.”
Perhelatan Kepulauan Seribu digelar mulai tanggal 6 hingga 12 November 2017. Berbagai acara menarik digelar oleh stake holder Kep Seribu dan pelaku industri pariwisata di DKI. Mulai dari bersih-bersih pantai, pentas musik hingga beberapa perlombaan. Festival tersebut juga mendapatkan dukungan dari Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Asdep Segmen Pasar Personal Kemenpar.
Irmansyah menambahkan, masyarakat Kep Seribu diharapkan welcome dengan wisatawan, cerdas dalam menyambut dan juga menjaga kebersihan agar wisatawan nyaman.
”Saat Asian Games nanti ayo bikin mereka datang ke daerah kita, biarkan dolarnya dikeluarkan di sini, biarkan Yen Jepang-nya mengeluarkan uang di Kepulauan Seribu. Karena dengan seperti itu, masyarakat kita akan semakin makmur dan pembangunan kita semakin bagus, rakyat pun jadi sejahtera,” ujar Irmansyah.
Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti menyambut positif pemikiran dari Bupati Kepulauan Seribu. Kata Esthy, memang Indonesia akan menjadi tuan rumah perhelatan pesta olahraga Asian Games 2018. Berbagai hal telah dipersiapkan guna menyambut kehadiran puluhan ribu atlet dan offisial yang akan bertanding di Jakarta maupun Palembang, Sumatera Selatan.
Kemenpar pun turut mengantisipasi kehadiran puluhan ribu atlet, offisial, juga supporter dari 45 negara yang hadir. ”Termasuk Kepulauan Seribu dan Kota Tua Jakarta yang harus siap menyambut atlet, pendukung, official yang jumlahnya ribuan orang itu,” ujar Esthy.
Esthy memaparkan, Kemenpar juga sudah actionmempersiapkan dengan baik dengan menggandeng industri, asosiasi, untuk dapat membuat paket-paket wisata yang dapat dipilih para atlet, offisial, maupun supporter dari berbagai negara nantinya.
Bahkan persiapan sudah dilakukan sejak April kemarin. Secara khusus, Kemenpar telah melakukan road show ke berbagai daerah seperti Bali, Palembang, Banten dan Bandung untuk melakukan sosialisasi kepada dinas-dinas terkait, industri dan juga asosiasi terkait Asian Games 2018. ” Kita harus memanfaatkan momentum itu dengan baik,”katanya.
Menteri Pariwisata Arief Yahya menambahkan, Asian Games merupakan satu dari tiga kegiatan yang akan difokuskan Kemenpar pada 2018. Kata Menpar, sejak April lalu Kemenpar selalu menempatkan logo “Asian Games 2018 – Indonesia” di setiap kegiatan-kegiatan pemasaran dan promosi pariwisata Indonesia di berbagai negara.
“Karena kita sudah harus terus membangun membangun awarenessmasyarakat dunia terhadap penyelenggaraan Asian Games 2018 di Indonesia,” kata Menteri asli Banyuwangi itu.
Kemenpar, imbuh Arief Yahya, memfasilitasi pencetakan promosi paket-paket tersebut untuk dipromosikan di pasar luar negeri termasuk negara-negara ASEAN. Selain Asian Games 2018, Kemenpar juga akan akan memfokuskan dua acara besar lainnya yakni Sail Sabang pada 28 November sampai 5 Desember 2017, dan IMF Worldbank Annual Meeting 2018 di Bali. (*)
batampos.co.id – Pemerintah Kabupaten Bintan melalui Satpol PP Kabupaten Bintan menfasilitasi persoalan pertambangan timah yang sudah meresahkan di Kampung Sekuning, Desa Sri Bintan dalam rapat di Bintan Buyu, Kamis (9/11) kemarin.
Dalam pertemuan itu, dihadiri Kasi Tantrib Pemerintah Kecamatan Teluk Sebong dan Kades Sri Bintan Jumiran. “Pak Kadus dan Kepala BPD juga hadir,” ungkap Jumiran kepada Batam Pos, Kamis (9/11).
Ia mengatakan, rapat tersebut membahas langkah selanjutnya pemerintah daerah. Di mana, dalam waktu dekat pemerintah daerah akan mengundang pihak Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kepri serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Provinsi Kepri. Tujuannya meminta klarifikasi perizinan yang telah dikeluarkan Pemprov Kepri untuk melakukan aktivitas pertambangan timah di Desa Sri Bintan.
Ia juga mengaku, sebagian masyarakat sebenarnya bukan menolak kehadiran pertambangan timah yang ada, namun meminta aktivitas pertambangan timah dihentikan sampai ada kejelasan mengenai perizinan. Meski demikian, ada sebagian masyarakat yang mengaku resah lantaran aktivitas pertambangan itu masuk tanpa permisi.
“Keluar masuk melintasi lahan masyarakat, ini yang menimbulkan keresahan,” katanya.
Camat Teluk Sebong Herika kepada Batam Pos membenarkan masyarakat telah melakukan pengumpulan tanda tangan meminta aktivitas pertambangan timah dihentikan. “Itu ada saya terima dalam berita acara,” akunya.
Hanya, dalam rapat kali ini, ia mengatakan, membahas soal perizinan dan langkat selanjutnya karena kewenangan perizinan pertambangan sudah diambil pemerintah provinsi, sehingga Satpol PP Bintan belum memiliki kewenangan secara langsung untuk menindak aktivitas pertambangan di Desa Sri Bintan. Hal ini mengingat izin yang diberikan dikeluarkan pihak pemerintah provinsi.
“Jadi, disimpulkan dari pertemuan tadi, akan dilakukan pertemuan dengan pihak Pemprov Kepri, dalam hal ini Distamben dan PTSP kepri selaku yang menerbitkan izin. Juga dari pihak perusahaan akan kita undang. Tujuanya untuk mengklarifikasi perizinan
tadi,” jelasnya.
Kabid Penegakkan Perda Satpol PP Bintan, Ali Bazar mengatakan, dalam pertemuan ini disepakati bahwa akan dilakukan pertemuan selanjutnya, di mana pihak Pemkab Bintan dan Pemprov Kepri akan berdiskusi untuk menuntaskan persoalan pertambangan timah yang beroperasi di Sri Bintan.
Mengapa harus berkoordinasi ke provinsi, menurutnya, karena berdasarkan undang undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintah daerah bahwa kewenangan perizinan pertambangan sudah menjadi ranah pihak provinsi. “Itulah alasannya kenapa kita undang, untuk mengklarifikasi dahulu,” jelasnya. Hadir dalam pertemuan itu, Dinas
Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan umum Penataan Ruang, kades Sri Bintan dan kasi Tantrib pemerintah kecamatan Teluk Sebong. (cr21)
International Musi Triboatton (IMT) 2017 start di Pantai Terusan, Empat Lawang, Rabu, (8/11/2017), lalu.
Etape 1 mengambil rute Pantai Terusan sampai Pulomas berjarak 12 KM. Tim rafting Sumatera Barat menjadi juara dalam etape pertama.
Mereka mencatatkan waktu 41 menit 17 detik. Tampil sebagai pemenang etape pertama, Sumbar mengantongi hadiah sebesar Rp 7 juta. Tim rafting Jawa Barat menempati posisi dua dan Sumsel -I (PPHRI) menyusul di posisi tiga.
Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Reko Astuti bersama Bupati Empat Lawang, Syahril Hanafiah secara simbolis melepas peserta dengan mengibarkan bendera start untuk kategori renang serapungan dan rafting. Renang serapungan cara tradisional penduduk menyusuri Sungai Musi dengan menggunakan batang bambu diikat dengan rotan. Setelah serapungan start, giliran peserta rafting masuk arena. 10 tim dari dalam dan luar negeri langsung tancap gas menyusuri sungai sampai di Jembatan Kuning, Pulomas, lokasi finis etape pertama.
Peserta rafting asal Negeri Malaysia, Rizwan antusias dengan IMT 2017. Menurut dia, dimensi Sungai Musi menjadi pembeda. “Selain panjang, sungai ini sangat lebar. Tantangan bagi kami, membuat boat (perahu) stabil, perahu berbalik arah, bahkan terbalik karena arus kuat,” ujar Rizwan.
Medan berbatu dan arus kuat memberikan petualangan dan sensasi sendiri bagi para peserta. “Karakteristik Sungai Musi ini sangat berbeda, handicap (tantangan) sangat menantang. Mulai dari batu-batu, kedalaman, sampai ceruk-ceruk di sepanjang aliran sungai,” ujar Rizwan melanjutkan.
Anggota Komisi X DPR RI, Ir Sri Meliyana menyempatkan diri datang ke lokasi start IMT 2017. Didampingi Deputi Kemenpar, Esthy Reko Astuti, Sri meminta warga tepian Sungai Musi sadar pariwisata, karena wisata bisa menjadi lahan baru untuk mendatangkan keuntungan.
“Sekarang, mari bersama-sama membuat pariwisata sebagai ladang untuk mencari uang, dengan cara melestarikan Sungai Musi. Saya melihat, sudah banyak kemajuan.Seperti di Pantai Terusan ini, terdapat infastruktur memadai untuk mendukung pariwisata di sini,” ujar Sri .
Dalam kesempatan ini, Asisten Deputi Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian RI, Putu Ngurah menilai, Sungai Musi memiliki potensi wisata air terutama, rafting.Terlebih, wisata rafting sudah menjamur di daerah -daerah lain di Indonesia, di Sungai Citarik di Sukabumi dan Telaga Waja di Karangasem, Bali.
“Perlu pengelolaan profesional untuk meningkatkan daya jual Sungai Musi . Bisa saja, operator rafting menyediakan paket -paket wisata menyusuri Sungai Musi sepanjang beberapa kilometer,” ujar Putu Ngurah didampingi Kabid Promosi Wisata Buatan, Ni Putu G. Gayatri. Masyarakat sekitar Pantai Terusan dan Pasar Pulomas berbondong-bondong menyaksikan event ini . Panitia memang menyelipkan aneka hiburan, mulai dari organ tunggal sampai tari tradisional di atas panggung saat pembagian hadiah berlangsung di sekitar Jembatan Kuning. Total hadiah lebih dari Rp 20 juta, karena panitia menyediakan peralatan elektronik mulai dari kulkas, mesin cuci, televisi sampai sepeda motor Yamaha Vega .
Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengapesiasi gelaran IMT di tahun ke-7 agar semakin populer. Melalui kegiatan ini, Menpar berharap, Sungai Musi bisa menjadi destinasi wisata minat khusus untuk mendukung program dan branding Wonderful Indonesia.(*)
Coffee Festival Toba 2017 di Sipinsur Park-Danau Toba akan dilaksanakan 2-3 Desember 2017, mendatang.
Wakil Gubernur Sumut, Nurhajizah mengatakan, ini adalah usaha Sumatera Utara (Sumut) untuk mengembangkan produk kopi yang dikenal salah satu terbaik di dunia. Kata dia, tujuan utama festival ini untuk memperkenalkan lebih dalam akan keragaman jenis kopi khas Indonesia terutama di kawasan Sumut sehingga pariwisata Danau Toba dapat memperbanyak jumlah wisatawan melalui agrowisata kopi.
Bukan tanpa dasar, karena faktanya banyak Wisatawan Mancanegara (Wisman) menjadikan kopi Sumut seperti kopi Lintong, kopi Mandheling, kopi Sidikalang, kopi Tarutung, kopi Silimakuta, kopi Dolog Sanggul, kopi Karo, dan kopi Samosir sebagai oleh-oleh wajib jika mereka berwisata ke Danau Toba dan sekitarnya.
“Kopi-kopi yang dihasilkan Sumut ini mulai diakui dan dicari oleh para peracik kopi dunia. Nah, dalam rangka mempromosikan kopi Sumut itu, Coffee Festival Toba diyakini bisa mendatangkan wisatawan, termasuk dari mancanegara penikmat kopi,” kata Nurhajizah.
Coffee Festival Toba 2017 ini, lanjut Nurhajizah, selain menjadi ajang silaturahim antarjejaring pelaku usaha kopi dan penikmat kopi, acara ini juga diharapkan dapat meningkatkan industri pariwisata Sumut. Karena itu, di Coffee Festival Toba 2017 nanti juga diisi dengan berbagai kegiatan edukatif seperti workshop “Racik Kopi & Field Trip”, seminar, kompetisi, musik dan lain-lain.
“Coffee Festival Toba 2017 ini diharapkan mampu memberikan dampak besar terhadap produktivitas kopi di Indonesia, sekaligus mempercepat pergerakan ekonomi di wilayah Sumut. Kegiatan ini nanti juga dapat dijadikan momentum dibangunnya kerjasama kemitraan strategis antara petani kopi dan perusahaan industri pengolahan kopi. Bahkan bisa dengan eksportir kopi,” papar Nurhajizah.
Sebagai informasi, Indonesia merupakan negara terbesar ketiga penghasil kopi di dunia setelah Brasil dan Vietnam, dengan produksi rata-rata sebesar 685 ribu ton per-tahun (8,9%) dari produksi kopi dunia.
Saat ini, yang paling terkenal di dunia adalah Luwak Kopi dari sebelas kopi Indonesia yang telah mendunia namanya. Sedangkan kopi Sumut yang sudah mendapat pengakuan mancanegara adalah kopi Sumatera Arabika dari Simalungun Utara, kopi Sidikalang, kopi Mandailing, kopi Tarutung dan kopi Lintong.
“Penikmat kopi sudah mengetahui khasiat kopi bagi kesehatan, dan ini menjadi gaya hidup. Kopi Sumut kopi ini sangat diminati para penggemar kopi baik dalam negeri maupun luar negeri,” ujar Nurhajizah.
Rencananya, Coffee Festival Toba 2017 akan diikuti 30 peserta. Selain dari sentra penghasil kopi Sumut, juga ada yang berasal dari daerah lain seperti Jakarta, Bekasi, Surabaya, Palembang, dan Makassar. “Semoga melalui kegiatan ini, bisnis kopi menjadi bisnis yang besar. Sehingga menjadi ikon baru di Sumut baik dari sisi budaya, ekonomi dan pariwisatanya,” pungkas Nurhajizah.
Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menambahkan, menikmati kopi, itu bagian dari sensasi amenitas yang kuat di Sumut. Karena itu, kopi harus selalu dipopulerkan sebagai minuman dari hasil bumi Indonesia yang khas.
“Dulu Bali, lalu Tana Toraja, sekarang Danau Toba selain wisatanya, kopinya juga sangat populer. Karena dulu wisatawan mau naik bus 10 jam datang ke Danau Toba walau hanya untuk menikmati kopinya. Sekarang orang tidak mau lagi, maunya langsung terbang sampai di lokasi,” ujar Menpar Arief Yahya.
Karena itu, tegas mantan Dirut PT Telkom ini, aksesbilitas di Danau Toba harus benar-benar ditingkatkan. Tanpa adanya bandara internasional di Danau Toba, sulit bagi tiga besar destinasi wisata terprioritas di Indonesia ini untuk menjadi destinasi wisata dunia.
“Pemerintah kini sudah menjadikan Bandara Silangit menjadi bandara internasional. Sebab, 75 persen wisatawan dunia datang ke Indonesia melalui jalur udara, maka bandara Silangit ini menjadi penting sekali. Dan bandara ini juga bisa memotong waktu tempuh yang panjang saat ini melalui jalur darat dari Medan ke Danau Toba yang bisa makan waktu tujuh jam,” jelas Menpar Arief Yahya.(*)