Kamis, 2 April 2026
Beranda blog Halaman 13298

Sesmenko Perekonomian akan Berembug dengan Kemenkeu soal Peralihan Aset di Batam

0
Wakil Walikota Batam Amsakar Achmad bersama Sekertaris Kementrian Koordinator perekonomian Lukita Dinasyah Ketua DPRD Batam memberikan sambutan dan penjelasan saat rapat teknis Dewan Kawasan di kantor Pemko Batam, Kamis (18/5). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Lukita Dinarsyah Tuwo mendorong percepatan peralihan aset yang semula dikelola BP Batam dan akan diserahkan ke Pemko Batam. Untuk itu, dia akan memanggil Kementrian Keuangan membicarakan proses percepatan tersebut.

“Minggu depan ini, kami akan undang Kemenkeu meminta prosesnya dapat dilakukan sesegera mungkin,” kata di kantor walikota Batam, Kamis (18/5) sore.

Menurutnya, pada dasarnya semua pihak yang berkaitan telah bersepakat beberapa aset akan dialihkan. Namun dia mengatakan, niat tersebut hendaknya melalui aturan yang berlaku. “Ada enam yang pertama, lalu tujuh lagi termasuk soal jalan akan diserahkan ke pemko,” ucap dia.

Sementara itu, dalam kesempatan diskusi,  beberapa Pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota (Pemko) Batam mengeluhkan kendala pembangunan dan pelayanan di Batam yang disebabkan karena aset bangunan maupun lahan masih dikuasai BP Batam.

Seperti Kepala Dinas Bina Marga, Yumasnur yang mengeluhkan pembangunan jalan juga penanganan banjir yang tersendat karena persoalan lahan. Hal ini, menurut dia sangat menganggu program infrastruktur Pemko Batam.

“Sudah lama kami minta jalan ke Pemko saja. Sekarang, kalau pemko Batam mau perbaiki jalan harus ke BP dulu, boleh nggak ini, boleh nggak itu, ini jadi persoalan. Selama ini yang kami kerjakan adalah jalan BP sebenarnya, dananya dari APBD, sampai kapan kita lakukan,” keluhnya.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Azman menegluhkan janji peralihan pemadam kebakaran yang sejak masa kepemimpinan Mustofa Widjaja. “Katanya selain pos di Duriangkang, akan diserahkan ke Pemko Batam. Diluar itu, Sagulung, Nongsa, Seipanas akan diserahakn ke Pemko. Sampai kini belum ada perkembangannya,” ucap dia.

Dalam diskusi ini, ada kesepakatan semua OPD menyusun semua keluhan dalam satu format untuk diserahkan dan akan dibahas lebih lanjut.

“Tiga hari ke depan harus sudah di atas meja kami,” kata Wakil Walikota Batam Amsakar Achmad. (cr13)

Pesimis BPHTB Capai Target

0

batampos.co.id – Kepala Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah Kota Batam Raja Azmansyah menilai target 50 persen perolehan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)  pada triwulan II tercapai. Untuk diketahui, target BPHTB tahun 2017 ini yakni Rp 342 miliar.

“Normalnya triwulan kedua harus 50 persen. Tapi agak berat kalau melihat keadaan ini, kendalanya masih sama seperti sebelumnya, terkait IPH terhambat di BP Batam,” sebut Azman.

Ia khawatir, jika target IPH tidak tercapai akan berpengaruh ke pendapatan daerah. Alhasil, kecilnya pendapatan akan berpengaruh pada pembangunan Kota Batam kelak. Apalagi, BPHTB merupaka sektor andalan mendongkrak pendapatan asli daerah.

“Ini yang kita khawatirkan,” ucapnya.

Walau demikian, dia meyakini BP Batam juga tidak tinggal diam dengan keadaan ini. Menurutnya, dibanding awal tahun pendapatan dari sektor ini sangat minim, kini triwulan kedua keadaan cenderung membaik walau tak signifikan. “Pendapatan BPHTB kita sekarang Rp 59 miliar. walau masih kecil, yang perlu kita hargai usaha menuju perbaikan ini,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Batam Jefridin mengatakan ancaman pendapatan daerah yang minim sudah pasti akan menganggu proses pembangunan. Untuk itu dia berharap hal ini tidak terus berlarut, apalagi Batam kini tengah gencar membangun.

“Tentu akan menghambat pembangunan kita. Misalkan satu sisi kita sudah lelang sisi lain duit tak cukup, tidak jadi pembangunan,” ucap dia, belum lama ini. (cr13)

Gusur

0
Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

Tim terpadu Kota Batam mengeksekusi puluhan rumah yang berdiri diatas lahan milik PT. Wira Nata Tantama, Kamis (18/5).

Rumah-rumah yang berada di kawasan Bukit Timur Tanjunguma itu, diratakan dengan tanah menggunakan empat unit alat berat (ekskavator).

Ratusan aparat gabungan (Polri, TNI, Dipam BP Batam dan Satpol PP) telah berada di pujasera J8 sejak pukul 08.00 WIB. Sekitar jam 09.00 WIB, aparat gabungan mulai masuk ke kawasan Bukit Timur Tanjunguma setelah sebelumnya mereka berkumpul untuk mendengar arahan dari Kapolsek Lubukbaja, Kompol I Putu Bayu Pati.

Lurah Tanjunguma Syahrial mengatakan, penggusuran lahan seluas tiga hektare ini dilakukan untuk membangun gardu induk listrik seluas 1 hektare dan 2 hektare lagi akan dibangun untuk Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa) dan Rusunami (Rumah Susun Sederhana Milik).

Kennedy Dukung KEK Batam

0
Welcome to Batam. Foto: istimewa

batampos.co.id – Bos Panbil Group, Johannes Kennedy merespon positif kunjungan Tim Teknis Dewan Kawasan yang ingin mencari masukan mengenai usulan pembentukan KEK.

“Kami menyambut baik kunjungan Sesmenko sekaligus Ketua Tim Teknis DK, Lukita Dinarsyah Tuwo, karena kami diajak untuk menyumbang saran tentang Batam,” katanya di hotel Best Western Premiere, Kamis (18/5).

Ia mendukung langkah tim teknis DK yang ingin mempercepat realisasi KEK. “Badan pengelolanya tidak perlu besar, yang penting bisa selesaikan perizinan barang masuk dan penangannnya lebih simpel,” ujarnya.

Namun, secara tidak langsung, Jhon, sapaan akrab Johanes Kennedy juga menyukai ide KEK pariwisata di Batam, namun harus ditentukan zonasinya terlebih dahulu.

“KEK bisa macam-macam, ada KEK industri, ada KEK pariwisata, tinggal lihat zonasinya saja,” jelasnya.

Ide perluasan KEK ke wilayah Relang yang saat ini masih dalam status quo juga patut dipertimbangkan tim teknis DK.

“Harus ada daerah baru yang dikelola seperti Relang. Kalau bisa di Relang tidak perlu pungut UWTO. Banyak perusahaan habis dananya untuk UWTO, padahal baru mulai investasi sehingga terbebani,” ujarnya.

Wacana BP Batam yang ingin menerapkan konsep pengalokasian lahan secara lelang online juga secara tidak langsung didukung oleh pengusaha ternama ini.

“Ada terobosan baru, bagaimana kalau proses pengalokasian lahan baru diberikan kepada perusahaann yang punya kapabilitas, modal, dan kepastian dalam investasi. Supaya nanti bisa tumbuh sehat sehingga bayar pajaknya pun lancar,” ungkapnya.

Kemudian pria berkacamata ini juga menyinggung tentang kelesuan ekonomi yang juga melanda dunia pariwisata di Batam. “Kunjungan tim teknis ini juga bagus untuk mencari solusi buat dunia turisme yang tengah lesu,” ungkapnya.

Jhon mengungkapkan restoran dan hotel banyak yang mengeluh karena ekonomi lesu. “Batam itu kalau mau bagus pariwisatanya butuh 3 juta turis yang berkunjung,” ucapnya.

Sehingga ia memberikan saran agar Bandara Hang Nadim dikelola badan swasta, sama seperti bandara di Bali yang dikelola oleh Angkasapura yang bekerjasama dengan India.

“Supaya ada penerbangan langsung dari luar negeri ke Batam, sehingga turisme pun meningkat,” katanya lagi.

Jika tetap seperti saat ini dengan mengandalkan kunjungan wisman yang terus menurun, maka pelaku pariwisata akan saling memangsa satu dengan yang lainnya hanya untuk berusaha agar bisa bertahan hidup.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam, Jadi Rajagukguk juga sangat mendukung jika KEK berbasis pariwisata ditempatkan di wilayah seperti Relang.

“Pemerintah harus memikirkan sektor alternatif lainnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi karena sektor industri berat tengah terpuruk akibat ekonomi lesu,” katanya.

Ia mengatakan pemerintah harus menitikberatkan sektor pariwisata. Dimulai dengan pembenahan infrastruktur, penambahan transportasi publik dan buka destinasi baru.

Jadi menganggap Batam tidak bisa bergantung lagi dengan sektor industri berat untuk menopang ekonomi, karena rentan terpengaruh ekonomi global.

”Kalau negara tujuan ekspor tengah lesu, maka produk yang dihasilkan industri akan menurun dan sudah pasti akan dilakukan pengurangan tenaga kerja,” tambahnya.

Namun, ia tak memungkiri bahwa jalinan kerjasama antara Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam sangat dibutuhkan. BP Batam sebagai pemilik Hak Pengelolaan Lahan (HPL) dan Pemko Batam dengan Dinas Pariwisata sebagai penggagas event pariwisata di Batam.

“Kami juga siap jika diminta untuk melakukan promosi keluar negeri untuk memperkenalkan keunggulan Batam,” tambahnya.(leo)

Tahun Ini Batam Jadi KEK

0
Dua orang warga Batam berfoto mengambil latar belakang Welcome To Batam yang terpampang di Bukit Clara Batamkota. Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos.co.id – Konsep Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam yang dijajikan Menko Perekonomian Darmin Nasution setahun lalu akan segera direalisasikan tahun ini. Tim Teknis Dewan Kawasan (DK) tengah berada di Batam mengumpulkan data dan masukan-masukan dari berbagai kalangan sebelum kebijakan KEK diterapkan.

“Sebagaimana arahan DK, transformasi Free Trade Zone (FTZ) menjadi KEK akan segera dilakukan. Makanya kami ingin mendengar masukan dari pengelola kawasan industri terlebih dahulu,” kata Ketua Tim Teknis DK sekaligus Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Lukita Dinarsyah Tuwo, Kamis (18/5) di Hotel Best Western Premier (BWP) Panbil, usai meninjau Kawasan Industri Panbil.

Masukan pertama yang ia peroleh adalah penurunan ekonomi terjadi karena masalah daya saing.

“Masalah ini terkait dengan biaya logistik, salah satunya dari sisi biaya pelabuhan,” ungkapnya. “Makanya dukungan terhadap sektor logistik di pelabuhan sangat dibutuhkan.”

Lukita menilai, masalah ini terjadi karena kelemahan dari kebijakan FTZ sendiri. Dimana ketika perusahaan industri mengekspor atau mengimpor barang ke dan dari luar negeri diberikan insentif berupa pembebasan pajak dan bea masuk. Sedangkan dari Batam ke domestik dan dari domestik ke Batam malah dikenakan pajak dan bea masuk.

“Tentu ini sangat menganggu saat negara tujuan ekspor mengalami dampak dari kelesuan ekonomi global. Permintaan ekspor menurun, perusahaan kehilangan order sehingga terpaksa memangkas karyawannya,” ujar Lukita.

Padahal, ada pasar potensial dalam negeri yang bisa digarap agar industri bisa bertahan. Namun, kebijakan yang mewajibkan membayar pajak saat membawa keluar barang dari wilayah FTZ batam ke kawasan lain di Indonesia membuat industri di Batam semakin kehilangan daya saing.

Begitupun sebaliknya, bahan baku industri dari domestik ke kawasan FTZ Batam juga dikenakan pajak dan bea masuk sehingga semakin lengkap penderitaan industri di Batam saat ini.

“Tapi perubahan kebijakan tersebut tengah digodok di Kementerian Keuangan untuk industri di Batam. Seharusnya baik itu keluar maupun ke dalam nilainya harus sebanding sehingga bisa kompetitif,” jelasnya. “Nah, saat jadi KEK nanti, sangat menjamin hal tersebut.”

Lukita menambahkan prubahan menuju arah KEK menguntungkan bagi semua pihak dalam memajukan Batam. Untuk industri yang ada saat ini, pemerintah menjamin investasinya tak akan dirugikan. “Namun jika masuk KEK, maka akan diberikan insentif lebih banyak lagi,” katanya.

Selain permasalahan insentif yang dikeluhkan pengusaha di kawasan industri, masalah serius yang juga menghambat pertumbuhan ekonomi Batam adalah dualisme pemerintahan di Batam.

Namun saat berubah status menjadi KEK nanti, Lukita menjamin kewenangan wilayah kerja antara Pemko Batam dan BP Batam semakin jelas. “Dualisme itu dijamin penyelesaiannya. BP Batam akan fokus industri dan Pemko diluarnya,” katanya lagi.

Namun yang mesti dilalui sebelum menuju KEK adalah masa transisi. “Kalau KEK ada enclave-enclave. Diluar enclave itu ada aset-aset milik BP Batam. Makanya perlu masa transisi,” ungkapnya.

Masalah dokumen Izin Peralihan Hak (IPH) juga menjadi fokus tim teknis DK. Baru-baru ini jadi perhatian. “BP dan Pemko harus bisa kerjasama terkait kejelasan mengenai pelayanan, khususnya IPH dan lainnya,” ujarnya.

Di luar berbagai persoalan yang membelit Batam itu, Lukita memuji program Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KILK). Sebab, kebijakan tersebut membuat kawasan industri yang sudah berdiri mampu membangun sekaligus mengurus perizinan secara paralel.

“Di luar dari itu, ada juga masalah UWTO. Namun itu bukan kendala utama. Masalah kepastian menjadi hal yang utama untuk dibenahi,” tuturnya.

Lukita menjelaskan untuk bisa menjadi KEK, ada empat kriteria lokasi yang menjadi ketentuan utama. Kepala Bagian Hukum dan Umum Sekretaris Dewan Nasional KEK, Paulus Riyanto mennyebutkan; Pertama, harus mendapat dukungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) dan Pemerintah Kabupaten. Kedua, harus sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan tidak berpotensi mengganggu kawasan lindung. Ketiga, terletak pada posisi yang dekat dengan jalur perdagangan internasional. Keempat, memiliki batas yang jelas.

“Hal ini sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 2011 tentang penyelenggaraan KEK,” katanya.

Selain itu, dalam Pasal 3 Ayat 2 PP tersebut, sektor industri yang bisa dijadikan basis KEK adalah pengolahan ekspor, logistik, industri, pengembangan teknologi, pariwisata, energi, dan ekonomi lainnya.

Untuk tahap pertama, pengusulan pembentukan KEK dimulai dari kesiapan lahan. “Kemudian tujuan pengembangannya. Kesiapan dukungan infrastruktur dan mempunya calon investor,” katanya.

Sedangkan mengenai badan pengelola KEK, pemerintah pusat yang menentukannya ditinjau dari segi kesiapan infrastruktur kawasan, kesiapan SDM, kesiapan perangkat pengendali administrasi. (leo)

Besok, Bos Panbil Group Gelar Acara Adat Pernikahan Putri Bungsu

0
foto: cecep mulyana / batampos

batampos.co.id – Bos Panbil Group, Johanes Kennedy Aritonang, akan menggelar acara adat Tapanuli untuk pernikahan putri bungsunya, Maria Giovani Isalaura, di Kawasan Industri Panbil, Sabtu (20/5). Bukan acara adat biasa, gawe akbar ini sekaligus menjadi ajang promosi dan pameran budaya dan kerajinan khas Tapanuli Utara.

“Jadi ini kita buat beda. Bukan hanya sebatas acara adat. Tetapi harus mendukung UKM yang ada di Batam. Ada penenun ulos Batak selama acara berlangsung,” kata Johanes Kennedy saat mengikuti gladi bersih acara adat Tapanuli di Panbil, Kamis (18/5) malam.

Acara adat ini dipastikan akan semakin meriah dengan hadirnya sederet artis ibukota yang akan menghibur tamu undangan. Antara lain penyanyi solo Cakra Khan, Amigos, Fanda Hutagalung, dan sejumlah artis Batak lainnya yang tak kalah populer.

“Pentolan-pentolan (warga) Batak dari Jakarta dan Medan, mungkin akan hadir di sini,” katanya.

Martha S Napitupulu selaku penata acara kegiatan ini mengaku timnya akan menghadirkan budaya Batak secara utuh dalam acara adat tersebut. Dekorasi yang ditampilkan juga mencerminkan adat Batak. “Jadi acara diiringi gondang Batak. Bahkan dekorasinya juga gorga,” kata pemilik butik Martha Ulos ini.

Selain itu, pameran kerajinan tangan juga akan memanjakan mata tamu undangan yang ingin lebih tahu mengenai kerajinan tangan Batak Toba.

“Akan ada penenun, kerajinan ukir, dan cara mengukir juga bisa dipratikkan. Ada cara merajut sama menganyam tikar juga. Beberapa produk makanan tradisional juga akan dipamerkan, seperti kacang sihobuk,” katanya.

Ia mengapresiasi Johanes Kennedy, pengusaha sukses yang masih sangat peduli dengan nilai-nilai kedaerahan. Ia berharap pengusaha-pengusaha sukses dari Tapanuli bisa mengikuti Johanes Kennedy dalam memberikan perhatian kepada budaya dan kerajinan Batak Toba.

Seperti diketahui, putri bungsu Johanes Kennedy, Giovani Isalaura, akan menikah dengan kekasihnya, Jonny Yewsuanto, pada Jumat (19/5) hari ini. Acara pemberkatan pernikahan akan digelar di Gereja St Petrus Lubukbaja, Batam, dengan diiringi orkestra dan paduan suara.

Malam harinya, mulai pukul 19.00 WIB sampai 22.00 WIB, akan digelar resepsi bertempat di Hotel Best Western Panbil. Undangan yang disebar mencapai 2000 orang. Sahabat, relasi dan kolega Johanes Kennedy akan hadir dalam acara ini. (ian)

Ambil Dokumen Kapal, Oknum Jaksa Minta Rp 500 Juta

0

batampos.co.id – Pemilik Kapal Motor (KM) Kawal Bahari, Akau, mengaku dimintai uang oleh oknum Jaksa di Kejati Kepri, saat hendak mengambil dokumen kapalnya yang telah memiliki kekuatan hukum tetap atas kasus penyelundupan tangkapan tim WFQR Lantamal IV Tanjungpinang.

“Saya dimintai uang Rp 500 juta. Tapi saya tidak penuhi permintaan Jaksa berinisial DPT itu. Karena tidak ada kaitan dokumen kapal dengan uang sebanyak itu,” ujar Akau, kemarin.

Akau menilai yang diminta Jaksa tersebut diduga sebagai pelicin agar dokumen kapal miliknya tersebut dapat diambil.

“Kapal yang dokumennya tidak lengkap dilepas. Nah, sementara kami yang dokumen kapalnya lengkap dimintai uang. Kami tidak punya uang dipersulit, disini salah Jaksa atau salah siapa,” kata Akau.

Dikatakan Akau, dirinya dimintai uang sebanyak itu saat bertatap muka langsung dengan Jaksa tersebut belum lama ini. Ia pun langsung dengan tegas untuk tidak memenuhi permintaan Jaksa tersebut. “Satu rupiah pun tidak saya kasih uang,” katanya.

Diterangkan Akau, kedatangannya ke Kantor Kejati Kepri untuk meminta dokumen kapal miliknya karena proses hukum di Pengadilan Tinggi (PT) Riau, untuk terdakwa, Herjon, 48, selaku pengurus kapal dan Rusli, 46, Nakhoda Kapal, memutuskan barang bukti kapal dan dokumennya dikembalikan kepada pemiliknya.

“Ini akan saya tanyakan ke pak Kajati dulu. Apakah beliau tahu atau tidak permasalahan ini. Kalau tidak tahu akan ku ributkan,” ucapnya.

Kepala Kejati Kepri, Yunan Harjaka, yang dikonfirmasi terkait hal tersebut langsung membantah. Ia mengatakan tidak ada oknum Jaksa dijajarannya yang meminta uang kepada pemilik kapal KM Bahari.

“Sudah saya cek, langsung sama Jaksa yang disebutkan, tak ada itu minta uang. Saya juga sudah mengklarifikasi dengan pemilik kapal dan Jaksa yang bersangkutan,” ujar Yunan.

Sementara saat disinggung terkait sanksi yang akan diberikan jika ada Jaksa yang meminta sejumlah uang kepada orang yang mempunyai kepentingan dengan korps Kejaksaan. Yunan menyebutkan pihaknya tidak kenal dengan cara berandai-andai.

“Kejaksaan tidak kenal dengan misalkan atau berandai-andai,” ucap Yunan singkat. (ias)

Pencari Kerja Masih Ingin Bertahan di Batam

0
ilustrasi Foto:Rezza Herdiyanto Batam Pos

batampos.co.id – Batam masih menjadi surga bagi para pencari kerja (pencaker). Dan hal itu disadari oleh Faridah Hussain, perempuan lajang asal Lombok, NTB itu baru saja tiba di kota Batam enam hari lalu. Walau baru beberapa hari di Batam, perempuan 21 tahun itu sudah sibuk ke sana kemari untuk mengantarkan berkas lamaran kerja.

“Sudah ngantar ke PT Schneider, SIXX, Rapala dan Epcos,” kata Faridah saat ditemui di MPH Pujasera Batamindo, Kamis (18/5).

Meskipun lowongan sangat sepi serta ekonomi Batam yang sedang lesu, namun ia tetap yakin akan mendapatkan pekerjaan. Ia menceritakan, sebelumnya ia pernah bekerja di PT Sanipak di kawasan Batamindo Mukakuning selama dua tahun. Karena perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur itu tak memperpanjang kontraknya, ia memutuskan untuk pulang kampung. “Orangtua juga minta pulang saja, dan cari kerja di sana (Lombok,red),” tutur perempuan hitam manis ini.

Namun, karena pekerjaan juga cukup sulit di kampung dan juga tak betah lama-lama membebani orang tuanya, Rida sapaannya, memutuskan untuk kembali ke Batam. “Kali ini saya coba kembali, daya tarik Batam tak bisa dipungkiri. Gaji yang tinggi,” ucapnya.

Baginya tak masalah jauh dari orangtua dan kampung halaman. Asalkan bisa menghasilkan sedikit Rupiah, agar tak merepotkan orang tuanya.

“Ijazah SMK sudah menjadi modal besar bagi saya, tak akan menuntut lebih lagi,” ujarnya.

Pencaker lain, Diana juga mengaku sulitnya mendapatkan pekerjaan di Batam. “Susah dapat kerja sekarang,” ungkapnya.

Ia sendiri sudah lima bulan hadir di Batam. Dan selama lima  bulan tersebut ia sama sekali belum mendapatkan pekerjaan. “Pernah jadi marketing selama tiga hari, cuman keluar karena gajinya tak sesuai,” terang perempuan asal Lampung ini. (cr19)

Demi Berjudi di Jackpot, Pemulung Bobol Rumah Orang

0

batampos.co.id – Jajaran Polsek Batuampar mengamankan Alexander Simbolon, 31, di kawasan Jodoh, Selasa (9/5) lalu. Ia diringkus polisi setelah membobol rumah milik Zulkarnain yang berada di Komplek Jodoh Square Blok E nomor 62, Batuampar, Selasa (9/5/2017) lalu.

“Pelaku mengambil uang sebesar Rp 5 juta dari dalam lemari korban,” ujar Kanit Reskrim Polsek Batuampar, Iptu Ferry Supriadi, Kamis (18/5) siang.

Dijelaskan Ferry kejadian ini bermula dari korban yang baru keluar dari rumah hendak pergi ke pasar untuk membeli belanja kebutuhan sehari-hari. Sekitar pukul 08.30 WIB, korban yang pulang langsung merasa terkejut melihat pintu depan rumahnya dalam keadaan terbuka.

“Selanjutnya korban masuk ke kamar dan uang di dalam lemari telah hilang sebesar Rp. 5 juta dan membuat laporan ke Polsek,” katanya.

Setelah menerima laporan dari korban, kemudian dilakukan penyelidikan oleh jajaran Polsek Batuampar dengan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Dari hasil olah TKP itu, didapati rekaman CCTv merekam aski Alexander.

“Dari informasi yang didapatkan dari masyarakat dan CCTv itu, pelaku kita amankan pada malamnya sekitar pukul 22.00 WIB di pasar Angkasa,” ucapnya.

Ferry menambahkan, pelaku dijerat dengan pasal 365 KUHP tentang pencurian dan diancam dengan hukuman penjara selama lima tahun.

Sementara itu, Alexander mengaku tidak berencana membobol rumah korban. Pada saat itu ia hanya mengaku kebetulan lewat di depan rumah korban, dan melihat korban yang keluar rumah untuk mengantarkan anaknya ke sekolah.

“Aku tidak pernah berencana. Aku khilaf aja pagi itu dan aku langsung masuk ke rumah liat dia keluar rumah,” katanya.

Ditambahkannya, selama ini Alexander hanya bekerja sebagai pemulung. Hasil dari mulung itu, dinilainya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Sehingga ia mencuri uang milik korban yang telah dikenalnya itu untuk memenuhi kebutuhannya.

“Hasil mulung dapat Rp 20 ribu sehari. Uang hasil nyuri kemarim aku belanjakan untuk kebutuhan harian. Sisanya Rp 3.515.000 untuk main Jackpot,” tuturnya. (cr1)

Mustajab Kini Dipenjarakan

0

batampos.co.id – Mustajab alias Mus, 41 diamankan jajaran Polsek Batuampar karena mencuri sepeda motor milik Sugeng diparkiran rumahnya yang berada di Ruli Bukit Senyum, Batuampar, Sabtu (13/5) lalu sekira pukul 06.00 WIB.

“Awal mulanya itu, pelapor yang baru bangun tidur melihat sepeda motornya sudah tidak ada lagi di parkiran rumahnya,” ujar Kanit Reskrim Polsek Batuampar, Iptu Ferry Supriadi.

Merasa sepeda motornya telah dibawa kabur pencuri, Sugeng berusaha mencari sepeda motornya disekitaran Ruli Bukit Senyum. Namun usahanya itu tidak membuahkan hasil hingga ia mendatangi Polsek Batuampar untuk membuat laporan.

“Setelah dapat laporan itu, kita mendatangi TKP dan melakukan penyelidikan dan mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa ada yang menjual sepeda motor tanpa dilengkapi dokumen,” katanya.

Mendapatkan informasi dari masyarakat itu, kemudian anggota Opsnal yang dipimpin langsung oleh Ferry langsung bergerak menuju ke kawasan Batamcenter dan melakukan penyamaran untuk membeli sepeda motor yang tidak dilengkapi dengan dokumen tersebut.

“Disana kita lakukan pemantauan dan pengintaian. Setelah itu, kita bertemu dengan pelaku dan sepeda motornya sama dengan yang dilapokan hilang oleh pemiliknya,” tuturnya.

Dari sana, Unit Opsnal langsung mengamankan Mustajab beserta barang bukti sepeda motor hasil curiannya ke Mapolsek Batuampar. Kepada penyidik, Mustajab memang mengakui bahwa sepeda motor yang hendak dijual itu merupakan hasil curian dari kawasan Ruli Bukit Senyum.

“Kepada pelaku, saat ini masih kita lakukan pengembangan, apakah ada lokasi pencurian lainnya. Kalau dari pengakuannya sampai sekarang baru sekali. Tapi kita percaya begitu saja,” imbuh Ferry. (cr1)