batampos.co.id – Pedagang gorengan yang biasa berjualan di simpang empat Jalan Bhkati, Kecamatan Karimun pada Rabu (5/4) pukul 16.30 WIB jadi korban perampokan. Akibatnya, uang hasil jualan pada hari tersebut hilang semuanya diambil pria yang tidak dikenal.
”Korban belum membuat laporan. Tapi, pada sore itu kita mendapatkan informasi dari masyarakat, maka kita langsung menuju ke lokasi kejadian. Dan, ternyata memang benar telah terjadi pencurian yang dialami Desi, pedagang gorengan yang biasa berjualan di sekitar tanah lapang simpang empat,” ujar Kapolsek Kota Balai Karimun, AKP Lulik Febryantara kepada Batam Pos, Kamis (6/4).
Dari pengakuan korban, kata Kapolsek, peristiwa ini terjadi pada saat korban selesai berjualan. Dan, sebelum meninggalkan tempat jualan, korban seperti biasa membersihkan dulu tempat berjualannya. Tiba-tiba ada seorang pria dengan sepeda motor dengan ciri-ciri mengenakan jaket warna hitam dan membawa tas ransel berhenti di depan tempat korban berjualan. Karena, tidak merasa curiga, korban membiarkan saja.
”Karena tidak merasa curiga, korban meneruskan menyapu tempat jualannya. Tapi, tidak lama kemudian pria tadi langsung mengabil tas milik korban yang terletak di atas meja dan langsung melarikan diri menggunakan sepeda motor. Korban sempat berteriak pencuri dan mengejar, tapi, karena pelaku pakai sepeda motor, korban tidak berhasil mengambil tas miliknya. Kerugian belum diketahui berapa, hanya saja pengakuan korban bahwa di dalam tas itu adalah uang hasil berjualan seharian,” jelasnya.
Dikatakan Lulik, saat ini pihaknya sedang melakukan penyelidikan. Khususnya, mencari keterangan dari masyarakat yang ada di sekitar lokasi kejadian. Dari korban sendiri tidak sempat melihat bara plat nomot polisi sepeda motor yang digunakan pelaku. Korban hanya melihat kalau pelakunya lari menuju ke arah Kata Tanjungbalai. (san)
Lurah Tanjungbatu Kota Budihartono kaos biru bersama warga Fajar Baru saat membuka jalan secara swadaya masyarakat kamis kemarin (ft Iwan utk Batam Pos)
batampos.co.id – Untu memudahkan warga maupun pelajar menuju sekolah, warga RT 04 RW 04 dan RT 05 RW 13 Fajar Baru Kelurahan Tanjungbatu Kota Kecamatan Kundur, bergotong royong membuka akses jalan baru, Kamis (6/4) kemarin. Pembukaan akses jalan baru sepanjang 100 meter ini dilakukan secara swadya.
Lurah Tanjungbatu Kota Budihartono membenarkan adanya warga membuka akses jalan baru secara swadaya tersebut. Selama ini warga mengaku terisolasi karena minimnya akses jalan menuju masjid, maupun anak-anak saat berangkat sekolah. Sehingga warga sepakat untuk membuka jalan baru dengan biaya syadawa masyarakat.
“Alhamdulillah warga dua RT melakukan gotong royong membuka jalan lebar tiga meter panjang 100 meter. Untuk tahap awal jalan dibersihkan dari semak selanjutnya akan ditimbun dengan tanah merah. Warga cukup antusias dibantu sejumlah pegawai dan staf kantor lurah Tanjungbatu kota,” kata Budihartono.
Lebih lanjut dikatakan selama ini warga ketika hendak pergi ke tempat kerja maupun anak-anak pergi sekolah harus menjcari jalan alternatif dan memakan waktu karena jalanya lumayan jauh. Dengan dibukanya jalan baru ini warga akan terbantu karena tidak perlu harus memutar mencari jalan alternatif. (ims)
Bupati Karimun, Aunur Rafiq bersama pengurus Baznas Karimun, pelajar penerima bantuan beasiswa pendidikan, dan warga kurang mampu menerima dana zakat di masjid Agung Karimun, Kamis (6/4)
batampos.co.id – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Karimun kembali mendistribusikan dana zakat. Kali ini, dana zakat yang disalurkan untuk lima kecamatan (Karimun, Meral, Meral Barat, Tebing, dan Moro) mencapai Rp 351 juta.
Penyerahan secara simbolis dilakukan oleh Bupati Aunur Rafiq di aula Masjid Agung, Kamis (6/4) kemarin. Untuk Moro yang berhak menerima sebanyak 712 fakir miskin, dan 168 fisabilillah, dan bantuan beasiswa pendidikan, bantuan insentif dan usaha akan diserahkan hari ini, Jumat (7/4).
Bupati Aunur Rafiq mengucapkan terimakasih kepada pengurus Baznas yang telah berhasil mengumpulkan dana umat sebesar Rp351 juta lebih di triwulan pertama tahun 2017. Diminta penerima dana zakat dari Baznas Karimun benar-benar tepat sasaran.
”Saya harap kepada pengurus Baznas Karimun, agar terus melakukan pemutakhiran data bagi penerima zakat nantinya. Lebih baik, diberikan kepada dunia pendidikan bagi generasi penerus yang benar-benar ingin meneruskan pendidikan,” pesannya.
Rafiq mengaku keberadaan Baznas sangat membantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. Apabila ditambah dengan dana infaq Rp1000 yang sudah digalakkan, tentu nantinya akan lebih besar lagi untuk diberikan kepada masyarakat kurang mampu.
”Kalau digabung dengan dana infaq, tentu akan besar. Buktinya, bulan lalu sudah tercapai Rp28 juta dana infaq yang terkumpul. Insyaallah dalam satu tahun akan terkumpul lebih,” tuturnya.
Sementara Wakil Ketua Baznas Karimun H Nasrial mengatakan, target tahun 2017 dari Baznas Provinsi Kepri yaitu Rp2,6 miliar. Sedangkan di tahun 2016 lalu, Baznas Karimun Rp2.180.864 miliar yang melebih target dari Baznas Provinsi Kepri Rp2 miliar. Untuk triwulan pertama hanya RpRp351.100 juta, dan nanti di triwulan kedua biasanya meningkat drastis berbarengan dengan masyarakat melakukan zakat di bulan suci Ramadan.
”Kita tetap terus mengimbau kepada instansi-instansi pemerintah maupun swasta untuk menyisihkan pendapatannya, berzakat ke Baznas Karimun. Yang langganan dari Polres Karimun, rutin mereka berzakat ke Baznas Karimun,” bebernya. (tri)
Salah satu perusahaan galangan kapal yang berada di Karimun. F. Tri Haryono/batampos.
batampos.co.id – Lahan untuk usaha bidang industri shipyard atau galangan kapal di Karimun sudah tidak ada lagi atau sudah habis. Hal tersebut diungkapkan Sebab, untuk industri galangan kapal membutuhkan lahan yang dekat dengan pantai. Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perisizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), Sularno kepada Batam Pos, Kamis (6/4).
”Data yang kita miliki, memang jika ada pemodal yang ingin investasi untuk industri galangan kapal di Pulau Karimun ini memang sudah tidak ada. Tapi, bukan berarti tidak ada pantai. Hanya saja, lokasi pantai yang masih ada saat ini sudah lama jadi objek wisata. Seperti Pantai Pelawan dan Pongkar. Sehingga, tidak mungkin objek wisata tersebut diberikan izin untuk industri shipyard,” ujar Sularno
Memang, katanya, ada puluhan hektar lahan yang dekat dengan pantai, namun itu sudah dibeli atau dikuasai oleh perusahaan. Hanya saja, sudah lebih dari lima tahun lahan tersebut belum digunakan. Dengan kata lain, jika ada investor yang membutuhkan lahan dekat pantai pihaknya tidak lagi bisa menunjuk atau mengalokasikan lahan milik masyarakat. Karena, sudah habis. yang terakhir perusahaan shipyard mendapatkan lahan dekat pantai adalah PT Grace Rich Marine yang terletak di Sungai Raya.
”Tapi, jika membutuhkan lahan selain untuk shipyard di Pulau Karimun, seperti untuk industri manufaktur atau yang lainnya, masih cukup banyak tersedia. Baik, yang berlokasi di kawasan FTZ maupun yang bukan,” jelasnya. (san)
Insan pariwisata Indonesia boleh berbesar hati. Indeks daya saing Indonesia melesat naik 8 poin, dari posisi 50 besar dunia ke peringkat 42. Reputasi itu dipotret oleh The Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) 2017, yang dikeluarkan secara resmi oleh World Economic Forum (WEF), 6 April 2017.
Ini adalah sukses kedua Menpar Arief Yahya, setelah 2015 lalu mendongkrak posisi Indonesia dari papan 70 besar ke nomor 50.
“Terima kasih! Ini berkat support dan komitmen Presiden Joko Widodo, yang menempatkan sektor pariwisata sebagai prioritas utama, leading sector dan sekaligus menjadikan core economy bangsa Indonesia!” jawab Menpar Arief Yahya begitu mendengar prestasi dunia itu.
Apakah puas dengan capaian itu? Mantan Dirut PT Telkom itu hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan itu. “Pekerjaan rumah kita masih banyak, menumpuk, dan perlu kerja keras untuk mengurai satu per satu dari 14 pilar dan 4 sub sektor yang dipantau oleh TTCI Itu,” ucap Menteri Arief sambil menghela nafas panjang.
Ibarat berlari, ini lari marathon 42,195 km, bukan sprint 100 meter. Karena itu semua lini harus bekerja dengan system, menyeluruh di semua level, dan konsisten dengan ritme yang tinggi. Itulah jawaban, mengapa Arief Yahya menempa jajaran di Kemenpar dengan spirit dan corporate culture: solid, speed, smart. “Harus kompak dalam satu tujuan,” tegasnya.
Tanpa itu, kata Menter Arief, lupakan mimpi menjadi global player. Fundamen-nya harus kuat, staminanya harus teruji untuk bisa berlari panjang menuju garis finish. “Indonesia naik 8 poin, Malaysia turun -1 di posisi 26, Singapore juga melemah -2, dan Thailand naik 1 poin di peringkat 34. Tahun 2019, proyeksi kami, Indonesia akan naik di posisi 30 besar dunia,” predikai Menpar Arief.
Point penting dari kenaikan signifikan 8 poin Indonesia itu, menurut Arief Yahya, ada 3 hal. Pertama, confidence level bangsa ini meningkat drastis. “Ternyata kita mampu bersaing di level dunia! Ternyata potensi kita kuat untuk bisa mengalahkan pesaing negara lain dengan bangga. Kita bukan bangsa lemah, kita bangsa hebat. Coba sedikit lebih solid, speed dan smart, kita bisa lebih hebat lagi,” sebut Arief Yahya.
Kepercayaan diri itu penting untuk berkompetisi. Kemenpar sudah membuktikan, bukan hanya di TTCI WEF, tetapi di semua level kompetisi, Wonderful Indonesia selalu juara. “Tidak salah, jika Presiden Jokowi menyebut DNA kita ada di sini! Creative industry, pariwisata di dalamnya. Kemenangan itu menyadarkan bahwa kita mampu hebat,” jelasnya.
Kedua, sukses naik 8 poin itu dikalibrasi oleh lembaga dunia yang kredibel. WEF, yang mengambil data sangat akurat. Artinya, potret tentang TTCI itu sudah melalui proses kalibrasi berdasarkan global standart, yang dipakai dunia. “Mereka mencollect data dari banyak sumber, termasuk UNWTO dan World Bank, jadi ketika kita mengerjaka 14 pilar dengan baik, secara otomatis mereka akan menilai,” jelas dia.
Dari data yang terekam TTCI, angka 14 pilar itu naik turun sangat dinamis. Business environment naik 3 poin, dari 63 ke 60. Healty and hygiene naik 1 poin, dari 109 ke 108. International Openess naik drastis, dari 55 ke 17, karena faktor Bebas Visa Kunjungan. Priorization Travel and Tourism naik dari 15 ke 12, karena pemerintah Presiden Jokowi memang mendorong pertumbuhan sektor pariwisata.
Environment Sustainability sedikit membaik, meskipun masih di posisi 131 dari 134 dunia. Air transport infrastructure membaik 3 poin, dari 39 ke 36. Ground and port infrastructure naik dari 77 ke 69, Tourism Service Infrastructure juga naik dari 101 ke 96. Natural reaources melejit dari 19 ke 14.
Menpar Arief Yahya. Foto: kemenpar
“Kita masih banyak kelemahan, dan ketika sudah tahu titik lemahnya, maka kita tinggal berkonsentrasi memperbaiki lebih serius di titik titik itu,” jelas Arief Yahya.
Ketiga, sukses naik 8 poin itu akan menaikkan kredibilitas Indonesia di mata dunia. Ketika sudah terpercaya, maka wisman pun tidak merasa ragu lagi untuk berwisata ke Indonesia. “Tiga hal itu sering saya sebut dengan 3C, credibility, confidence san calibration,” sebutnya.
Soal daya saing pariwisata, Menteri asal Banyuwangi itu memang tak ingin kalah dari musuh emosional Malaysia dan musuh profesional Thailand. Dua negara itu perlahan mulai didekati Wonderful Indonesia. Di 2017, Indeks Daya Saing Pariwisata Malaysia turun satu strip ke posisi 26 dunia. Sementara Thailand naik satu strip ke posisi 34.
“Wonderful Indonesia harus segera move on ke 30 besar dunia. Untuk mencapai ranking 30 dunia, kita terus memperbaiki kelemahan seperti infrastruktur pariwisata, infrastruktur ICT, health and hygiene, dan aksesibilitas khususnya konektivitas penerbangan, kapasitas kursi dan penerbangan langsung,” kata Arief Yahya.
Untuk memperbaikinya memang tak bisa instan. Tak bisa juga digarap Kemenpar sendirian. Karenanya Arief Yahya mendorong “Indonesia Incorporated”, harus kerja bareng bergotong royong dengan kementerian dan lembaga lain.
Kementerian Pariwisata juga merumuskan 3 program prioritas di 2017. Yang pertama, ekosistem pariwisata ditampung dalam pasar digital. Buyers dan ‘sellers’ yang terdiri dari ‘travell agent’, akomodasi, atraksi dikumpulkan jadi satu di ITX untuk bertransaksi.
Selain itu, mantan Direktur Telkomsel tersebut juga memaparkan program pembangunan ‘homestay’ atau desa wisata, yang akan dimulai kembali pada 2017. Program ‘home stay’ dalam desa wisata merupakan pendukung percepatan pembangunan 10 destinasi prioritas ‘Bali baru’ yakni, Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu,Candi Borubudur, Bromo Tengger Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi dan Morotai.
Satu lagi, pembangunan konektivitas udara, mengingat sekitar 75% kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia menggunakan moda transportasi udara. Ketersedian jumlah kursi pesawat menjadi kunci pencapaian target di tahun 2017 hingga 2019.
“Kapasitas seat 19,5 juta oleh perusahaan maskapai penerbangan (airlines) Indonesia dan asing saat ini hanya cukup untuk memenuhi target kunjungan 12 juta Wisman. Sedangkan untuk target 15 juta wisman tahun 2017 membutuhkan 4 juta ‘seat’,” imbuh Arief, yang semua itu tetap berkaca pada global standart.
Untuk itu kemenpar, lanjut Arief, akan melakaukan startegi 3 A (Airlines, Airport dan Air Navigation Authorities), yang diawali dengan melakukan nota kesepahaman (Mou) dengan perusahaan penerbangan Indonesia dan asing.
“Yaitu PT Angkasa Pura I dan II dan Airnav Indonesia yang akan menambah ‘direct flight’ (penerbangan langsung) melalui pembukaan rute baru, ‘extra flight’, maupun ‘flight’ baru dari pasar potensial serta pemberian ‘incentive airport change’,” tandas Arief.
Mantan Dirut Indosat itu berharap, ke depannya semua sektor yang berhubungan dengan industri pariwisata terus berbenah dan bersinergi demi mewujudkan target yang akan dicapai pada tahun 2019 tersebut.
“Semua unsur yang menjadi kelemahan terus kita perbaiki dengan melibatkan stakeholder, pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, pers, dan komunitas masyarakat atau sebagai kekuatan penta helix. Sinergisitas penta helix ini merupakan kunci sukses dalam mengembangkan pariwisata nasional,” kata Arief Yahya. (*)
Ketua GAPOPIN Kepri, Ita (kiri) bersama Wakil Ketua GAPOPIN Kepri Mariono saat Rakerda GAPOPIN di Restoran Shangrila Tanjungpinang, Kamis (6/4). F.Yusnadi/Batam Pos
batampos.co.id – Asosiasi Gabungan Pengusaha Optik Indonesia (GAPOPIN) pada rapat kerja daerah yang digelar, Kamis (6/4) kemarin, mensosialisasikan peraturan pengurusan izin optik. Hal ini guna mengikuti Peraturan Menteri Kesehatan RI no.1 tahun 2016 pasal 3 ayat H.. bahwa dalam menyelenggarakan optikal pengurusan izin diperlukan rekomendasi asosiasi optikal setempat.
“Dalam hal ini asosiasi optikal yang dimaksud, sesuai Surat Edaran Dinas Kesehatan Kepri, adalah GAPOPIN,” tutur Ketua GAPOPIN Kepri, Ita saat dijumpai kemarin.
Dalam surat bernomor 445/3561/X/DK 3.1/2016, menjelaskan rekomendasi asosiasi optikal setempat berasal dari GAPOPIN. Sehingga para pengusaha yang ingin menyelenggarakan optikal, perubahan izin dan perpanjangan izin, wajib melampirkan rekomendasi dari GAPOPIN setempat.
Sementara bagi pemilik layanan kesehatan optik yang belum bergabung dengan asosiasi, terang Ita, diharapkan segera menjadi anggota dari GAPOPIN setempat. Ita menuturkan, bergabungnya pemilik layanan optik akan mempermudah pengurusan izin.
Selain menitikberatkan pada administratif perizinan usaha optik, GAPOPIN pun perlu diajak bekersama dalam hal kredensialing bersama dengan BPJS kesehatan sesuai Permenkes No.99 tahun 2015 tentang perubahan Permenkes No.71 tahun 2013 tentang Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional pasal 9 ayat 2 a dan b serta pasal 10 ayat 2.
Pasal 2a disebutkan, seleksi dan kredensialing melibatkan Dinkes kabupaten/kota dan atau asosiasi fasilitas kesehatan.
Pasal 2b disebutkan, dalam hal Dinkes kabupaten/kota dan atau asosiasi fasilitas kesehatan sebagaimana ayat 2a tidak terlibat dalam seleksi dan kredensialing, BPJS Kesehatan dalam melakukan penetapan hasil harus secara bersama dengan Dinkes kab/kota dan atau asosiasi fasilitas kesehatan.
Penekanan peraturan inilah yang menjadi poin penting yang dibahas Gapopin Kepri saat rapat kerja daerah (Rakerda) di Tanjungpinang, Kamis (6/4) kemarin. sambung wanita berkacamata ini.
Dalam menjalankan fungsinya sebagai asosiasi pemberi rekomendasi izin usaha optik, GAPOPIN melakukan pemeriksaan terhadap optik pemohon. “Pengecekan alat-alat kesehatannya juga. Layak atau tidak digunakan dan lain sebagainya,” jelas Ita.
Namun pemeriksaan kelayakan tak hanya dilangsungkan GAPOPIN. Dinas Kesehatan setempat, juga melangsungkan pengecekkan usai mendapatkan rekomendasi GAPOPIN terebut.
“Dan untuk mempermudah urusan izin ini, untuk di wilayah luar Tanjungpinang masing-masing ada perwakilannya,” papar Ita. Sehingga pemilik usaha tak perlu, repot bertandang ke Tanjungpinang.
Sementara, untuk saat ini anggota GAPOPIN Kepri terdata sebanyak 99 anggota. “Artinya baru 99 optik yang bergabung dan terdata legal. Masih banyak yang belum, utamanya yang di Batam,” papar Ita lagi.
Tak terdaftar secara legal, terang Ita, sedikit banyak memengaruhi pelayanan kesehatan optik yang didapatkan masyarakat. “Maka itu untuk melindungi masyarakat dari pelayanan optikal, yang dapat merugikan, optik-optik harus mengantongi izin ini,” tutupnya. (aya)
Spanyol, menjadi negara yang dilirik untuk target wisman berkunjung ke Ternate dan Tidore.
Ternate dan Tidore karena kedua pulau tersebut mempunyai hubungan dan nilai sejarah yang penting bagi Spanyol.
Promosi tersebut dilakukan dengan menyelenggarakan acara Jamuan Santap Siang di KBRI Madrid dengan beberapa operator perjalanan (tour operator) Spanyol yang mempunyai program kunjungan ke Indonesia.
Festival Tidore sendiri, Rabu, 5 April 2017 dilaunching Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya bersama Sultan Tidore Huseinsyah, dan Walikota Tidore Ali Ibrahim. Tempatnya di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona Jakarta, Kementerian Pariwisata (Kemenpar).
Puncak festivalnya sendiri, dilangsungkan 10-11 April mendatang. Kali ini Festival Tidore 2017 mengangkat tema “Merawat Tradisi, Mempertegas Jati Diri Bangsa Maritim”. Festival ini sekaligus dalam rangka memperingati hari jadi Tidore serta sebagai upaya menggali, mengembangkan sekaligus melestarikan warisan sejarah budaya Kesultanan Tidore.
Ketua DPRD Kota Tidore, Merlisa Adam Marsaoly yang memimpin rombongan promosi pariwisata Ternate dan Tidore ke Spanyol, menyampaikan bahwa pada tahun 1521 Ekspedisi Spanyol yang dipimpin oleh Juan Sebastian El Cano telah singgah dan membeli rempah-rempah dari penduduk Tidore.
Untuk mengenang pendaratan Ekspedisi El Cano di Tidore tersebut maka Kedutaan Besar Spanyol di Jakarta pada 1993 membangun sebuah Monumen di Tidore, menambah jumlah bangunan peninggalan Spanyol seperti Torre Fort dan yang di Ternate seperti Kalamata Fort dan Tolukko Fort yang dibangun pada 1606.
Erwati Safiun, staf pemasaran Asya Travel dari Tidore pada kesempatan tersebut menyampaikan paparan tentang pariwisata Maluku Utara. Para operator perjalanan Spanyol sangat tertarik dengan informasi yang disampaikannya. Ditambah informasi dari anggota rombongan lainnya, seperti misalnya tentang Tari Persembahan yang busananya berwarna merah dan kuning, sangat mirip dengan tarian rakyat Spanyol. Begitu juga beberapa pesta rakyat yang mirip dengan pesta rakyat di Spanyol seperti Legu Gam – Festival Obor dimana para pria pembawa obor berbusana kemeja warna merah dan kuning.
Demikian pula Jailolo Festival yang merupakan pesta nelayan di pinggir pantai, para penari pria mengenakan ikat kepala berwarna merah dan kuning, demikian pula para penari wanitanya juga mengenakan selendang berwarna merah dan kuning, warna bendera Spanyol. Mereka juga terkesan dengan nama danau cantik di Maluku Utara, “Danau Laguna” karena dalam bahasa Spanyol “Laguna” adalah danau. Besar kemungkinan penamaan danau tersebut dilakukan oleh orang Spanyol yang mendarat di wilayah tersebut.
Peninggalan-peninggalan Spanyol di Ternate dan Tidore serta keindahan alam danau dan pantai – pantainya yang putih bersih serta gunung – gunung yang menjulang di kedua pulau tersebut ditambah keindahan alam bawah laut di Halmahera dan Morotai juga menarik pehatian para operator perjalanan Spanyol. Mereka langsung jatuh cinta kepada pulau-pulau kecil berpasir putih bersih yang bertaburan di sekitar Ternate dan Tidore. Decak kagum tak pernah berhenti, sejak awal penyajian destinasi-destinasi menarik tersebut.
wikimedia
Asya Travel kemudian mengundang para operator perjalanan Spanyol untuk mengunjungi Ternate dan Tidore yang ditanggapi dengan semangat dan sangat positif oleh para operator perjalanan yang hadir. Para operator perjalanan yang menghadiri acara tersebut, seperti Nyala Tours, Moah Viajes, Viajes Singulares, Ultima Frontera, Indonesia en Tus Manos, Viajes United World, Think Trip, Malik Travel S.L. dan Geografica XXI setelah menyaksikan film video pariwisata Maluku Utara menyatakan akan mengambil kesempatan pertama untuk mengunjungi Ternate dan Tidore, memenuhi undangan Asya Tour.
Leticia Calleja dari Think Trip, Madrid, dan Alejandro Viato dari “Indonesia en Tus Manos” menyatakan akan ke Ternate dan Tidore pada bulan Mei mendatang, untuk melihat potensi dan peluangnya.
Jamuan makan siang ini diadakan oleh KBRI Madrid untuk menyampaikan penghargaan karena jumlah turis Spanyol ke Indonesia terus meningkat. Pada 2011 baru berjumlah 25.500 turis, sedangkan pada 2016 telah mencapai 67.988, meningkat 150% dalam waktu lima tahun.
Duta Besar RI di Madrid, Yuli Mumpuni Widarso menyampaikan bahwa peningkatan tersebut dapat tercapai karena para operator perjalanan Spanyol sangat kreatif dalam mengembangkan produk-produk kunjungan ke Indonesia yang makin menarik dan bervariasi. Hal tersebut dimungkinkan karena Indonesia mempunyai destinasi yang sangat beragam, mulai dari destinasi budaya, petualangan dan alam (adventure and natural), olahraga (cycling, surfing and diving), hingga destinasi kuliner dan belanja.
Sementara itu KBRI Madrid juga menawarkan kepada kalangan konsultan investasi infrastruktur untuk juga segera ke Ternate dan Tidore agar dapat melihat peluang investasi di sektor infrastruktur pariwisata (resort) dan trasnportasi laut (pembangunan pelabuhan dan kapal penumpang) serta perikanan (pabrik pengalengan ikan).
KBRI Madrid juga menyampaikan informasi tentang beberapa ajang temu bisnis industria pariwisata yang diselenggarakan beberapa daerah di Indonesia, seperti Jakarta Astindo Fair 2017, Jogya Istimewa Travel Exchange April 2017, Yogyakarta Travel Mart Mei 2017, Bali & Beyond Travel Fair Juni 2017, dan Makassar Celebes Travel Mart Nopember 2017.
Sebagai ungkapan penghargaan kepada para operator perjalanan Spanyol yang selama beberapa tahun terakhir ini terus menjual produk kunjungan ke Indonesia, KBRI Madrid bekerjasama dengan operator perjalanan di Jogjakarta menyediakan hadiah 3 tiket ke Jogja untuk meninjau Jogja Travel Mart, Mei 2017.
Selama berlangsungnya pertemuan, telah disajikan lumpia sayur dan soto ayam komplit dengan makanan penutup berupa dawet ayu. Kepada para hadirin juga dibagikan bahan promosi pariwisata Indonesia seperti CD dan pin Wonderful Indonesia serta brosur pariwisata Maluku Utara. (*)
Tersangka kasus Pungli Lapak Slamet (kanan) mengikuti rekonstruksi yang digelar Polda Kepri di Pasar bintan Centre Tanjungpinang, Kamis (6/4). F.Yusnadi/Batam Pos
batampos.co.id – Subdit Tipikor Polda Kepri, menggelar rekonstruksi terhadap Slamet, karyawan BUMD yang ditangkap melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT) pungutan liar (pungli) sewa lapak dan kios di Pujasera pasar Bintan Center tempat terjadinya pungli. Termasuk kantor BUMD PT Tanjungpinang Makmur Bersama, di Jalan Plantar Mutiara III, Kamis (6/4) pagi.
Rekonstruksi dimulai dari kedatangan tersangka Slamet ke pujasera dan bertemu dengan saksi Haryanto, yang hendak membayar uang untuk menyewa lapak untuk berdagang di pasar Bintan Centre.
“Ada 32 adegan dalam rekonstruksi itu. 17 adegan dilakukan di Pasar Bintan Centre dan 15 adegan di kantor BUMD,” ujar Kasubdit Tipikor Polda Kepri, AKBP Arif Budiman, ditemui disela-sela rekonstruksi di Pasar Bintan Centre.
Dikatakan Arif, adegan yang diperagakan oleh tersangka sesuai dengan pengakuannya dan keterangan sejumlah saksi didalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tim penyidik sesuai petunjuk jaksa.
“Adegannya dari tersangka menerima uang. Kemudian menyerahkan kembali ke saksi lainnya dan juga menelpon Direktur Utama BUMD bahwa uang sudah diterimanya,” kata Arif.
Sementara itu, Kabag Ops Polres Tanjungpinang, Kompol Jhon Heri Sitepu menambahkan rekonstruksi dilaksanakan untuk bahan bukti di pengadilan saat persidangan.
“Kegiatan rekonstruksi mulai jam 10 pagi sampai selesai aman dan tidak ada kendala sama sekali,” ungkapnya.
Dalam melakukan pengamanan kata Sitepu, pihaknya menurunkan hampir seluruh kekuatan personel Polres Tanjungpinang dibantu Polsek Kota.
“Karena ini kan (rekonstruksi) ditempat umum dan banyak warga yang menyaksikan. Makanya hampir seluruh personel kami siagakan baik yang berpakaian dinas maupun preman,” ucapnya.
Pantauan di lapangan, rekonstruksi di pujasera Pasar Bintan Centre, disaksikan ratusan masyarakat maupun pedagang. Polisi yang berjaga disebar kesejumlah titik untuk melakukan pengamanan di lokasi kegiatan. (ias)
Ratusan warga mengikuti senam sehat di Gedung Daerah Tanjungpinang. Senam sehat menjadi salah cara mengurangi depresi. F.Yusnadi/Batam Pos
batampos.co.id – Menangani warga yang mengalami gangguan jiwa, penanganan dilakukan dengan berbeda. Bagi mereka yang memiliki kondisi tak terlalu parah atau hanya guncangan batin, tetap dilakukan penanganan medis secara intensif.
Dan agar penderita gangguan jiwa dapat segera terobati, Dinas Kesehatan Tanjungpinang tak hanya sekedar mengerahkan tenaga medis ke rumah-rumah. Namun juga menggndeng dr spesialis untuk menangani pengobatan tersebut.
“Kami juga sudah surati pemprov Kepri. Semoga dalam waktu dekat ini dokter spesialisnya bisa segera dikerahkan untuk tangani 200 penderita gangguan jiwa itu,” terang Kepala Dinas Kesehatan Tanjungpinang, Rustam, belum lama ini.
Melihat fakta gangguan kesehatan jiwa yang ada di Kepri, pihak pemerintah provinsi Kepri tak memungkiri, adanya urgensi untuk membangun Rumah Sakit Jiwa. Bahkan pemprov Kepri, masuk sebagai salah satu provinsi yang diberikan peringatan oleh pemerintah pusat. Dikarenakan instruksi presiden, mewajibkan setiap provinsi membangun minimal satu rumah sakit jiwa (RSJ).
“Maka, tahun ini tengah berjalan pembangunan fasilitas untuk pengobatan gangguan jiwa,” terang Ketua Komisi IV, DPRD Kepri, Teddy Jun Askara pada Batam Pos, Kamis (6/4) kemarin.
Pembangunan yang dibiayai dengan dana APBN sebesar Rp 5 miliar ini, memulai pembangunan fisik pada 2017. Sebagaimana yang diterangkan Teddy, pembangunan tersebut berupa ruang yang berada di Rumah Sakit Umum Daerah Tanjung Uban. Secara bertahap, sebagaimana konsep awal pemprov Kepri, akan merubah RS Tg. Uban sebagai RS Jiwa. Meski tetap melayani gangguan kesehatan lainnya.
“Sementara fisiknya dulu. Tahun depan, sudah mulai diajukan untuk penganggaran fasilitas di dalamnya. Termasuk nanti akan difikirkan kedepannya untuk perekrutan baru fasilitas tenaga kesehatan jiwa,” terang dia.
Dengan pembangunan RSJ ini, kemudahan akses untuk mendapatkan kesembuhan dari gangguan jiwa akan jauh lebih mudah. “Tidak ada lagi penderita yang terpaksa dirawat seadanya. Atau bahkan sampai harus repot diawa ke Pekanbaru,” ucap Teddy.
Menggesa perolehan layanan pengobatan gangguan jiwa, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepri, Tjetjep, mengatakan pembangunan ruang tersebut tak hanya satu-satunya upaya. “Saat ini juga berjalan pelatihan fasilitas tenaga kesehatan jiwa,” terang Tjetjep.
Pelatihan ini diberikan kepada 25 orang yang bakal menjadi tenaga kesehatan jiwa di RS Tg. Uban tersebut. Terdiri dari dokter dan perawat. Dan untuk sementara ini, pelayanan kesehatan gangguan jiwa hanya dapat dilayani oleh lima orang dokter melayani tujuh kabupaten/kota di Kepri. Persebaran ke lima dokter spesialis jiwa ini pun tak merata. “Lima ini dua diantaranya berada di Tanjungpinang dan tiga lainnya di Batam,” sambung dia.
Kondisi ini lantas membuat masyarakat Kepri sulit mendapatkan pengobatan jiwa. Bergubung jika harus dikirim ke Rumah Sakit Jiwa di Pekanbaru, yang mana merupakan satu-satunya alternatif pengobatan langsung. Pasien dari Kepri dibatasi. Dikarenakan kapasitas rumah sakit yang terbatas. Dan juga memprioritaskan masyarakat Pekanbaru sendiri.
Untuk saat ini, 30 warga Kepri yang menderita gangguan jiwa berat, akhirnya mendapatkan di Pekanbaru. Namun sebagian lainnya, terpaksa harus dirawat di rumah. “Namun kami pastikan, yang berat-berat ini harus bisa dirawat di RSJ. Kalau yang ringan, sementara waktu tak terlalu bermasalah jika dirawat jalan,” kata Tjetjep menerangkan.
Mendapatkan pelayanan kesehatan jiwa yang memadai di RS Tanjunguban, lantas harus ditunggu warga Kepri hingga akhir tahun depan. Berhubung rumah sakit tersebut, diperkirakan baru dapat melayani di 2018 bulan-bulan akhir. Dikarenakan pada awal tahun, fasilitas kesehatan pendukung baru akan dilengkapi. Sehingga ruangan yang mampu menampung 20 pasien rawat inap, digunakan di penghujung 2018.
“Maka itu, imbauan kepada masyarakat untuk meminimalisir tekanan sehingga menimbulkan stres,” himbau Kepala Dinas Kesehatan Provinsi ini, demi menekan anggan gangguan kejiwaan.
Imbauannya diikuti dengan saran untuk memperbaiki komunikasi. Baik di rumah tangga maupun, lingkungan kerja. Meminimalisir tekanan terhadap pasangan, orang tua kepada anak. Dan juga kepada para atasan ke bawahannya, berlaku pula sebaliknya.
“Dan salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah saat ini, dengan menyelenggarakan senam sehat secara rutin di masing-masing kelurahan atau pun puskesmas. Karena senam sehat ini juga salah satu cara mengurangi stres,” ucap Tjetjep.
Apa yang digesa Pemprov Kepri hari ini adalah demi menjamin kesetaraan kelayakan hidup bagi seluruh masyarakatnya. Karena depresi tidak bisa diatasi sepihak oleh para penderitanya, tapi harus dilakukan bersama-sama. Baik dari keluarga dan juga pemerintah. Seperti kata WHO, depresi itu perkara serius dan bukan sekedar ketawa belaka. (aya)
Ratusan warga mengikuti senam sehat di Gedung Daerah Tanjungpinang. Senam sehat menjadi salah satu cara mengurangi depresi. F.Yusnadi/Batam Pos
batampos.co.id – Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2013 mencatat, prevalensi gangguan jiwa berat di Kepri mencapai 1,3 per mil. Angka ini dua poin lebih tinggi dibandingkan DKI Jakarta (1,1 mil). Sementara di Ibu Kota Provinsi Kepri, terdapat 200 lebih warganya yang mengalami gangguan jiwa.
Peringatan Hari Kesehatan Sedunia yang ditetapkan pada hari ini, Jumat (7/4), mengusung tema khusus yang selalu berganti tiap tahunnya. Kali ini,World Health Organization (WHO) mengusung tema depresi. Yakni suatu penyakit psikis yang ditandai dengan rasa sedih dan putus asa yang dialami pada waktu tertentu. Yang mana kedua perasaan tersebut merupakan reaksi normal dalam menghadapi masalah. Namun dapat menjadi berbahaya, pada tingkat akut, jika berlangsung selama beberapa hari bahkan lebih.
Dewasa ini, persoalan kesedihan terus-menerus telah dianggap sebagai suatu masalah serius, yang mesti ditangani dengan lebih serius. Dikarenakan WHO pada 1990, melaporkan dari 10 permasalahan kesehatan utama yang menyebabkan disabilitas, lima diantaranya adalah masalah kesehatan jiwa. Bahkan dari fakta yang telah terangkum, WHO telah memprediksi di 2020 mendatang, depresi akan menjadi penyakit urutan kedua dalam menimbulkan beban kesehatan.
Fakta dan prediksi yang dirangkum WHO ini lantas menjadi alasan, diangkatnya tema depresi pada peringatan Hari Kesehatan Sedunia. Untuk membangkitkan kesadaran akan kepedulian penanganan depresi, yang lebih serius.
Dengan dipaparkan data global oleh WHO ini, lantas bagaimana pula gambaran kesehatan jiwa di Kepri?
Mengutip kanal Ilmu Pengetahuan dan Informasi Fakultas Kedokteran, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta yang memuat hasil RISKEDAS 2013, terdata prevalensi Kepri sebanyak 1,3 permil. Sementara angka tertinggi pada klasifikasi ini, berada di Aceh dan Yogyakarta. Masing-masingnya sebanyak 2,7 permil.
Masih berdasarkan data yang dikeluarkan oleh RISKEDAS 2013, prevalensi penduduk yang mengalami gangguan mental emosional pada penduduk usia 15 tahun ke atas di Kepri sebanyak 2,6 permil. Dimana angka tertinggi berada di Sulawesi Tengah (11,6 permil) dan terendah berada di Lampung (1,2 permil).
Sementara itu, untuk kawasan ibu kota Provinsi Kepri, ratusan warga Tanjungpinang diketahui mengalami gangguan jiwa. Dengan jumlah penduduknya, 250 ribu lebih, terdata sekitar 200 lebih warga Tanjungpinang yang mengalami ganguan jiwa. Dimana berdasarkan pendataan Dinas Kesehatan Tanjungpinang, 90 persen kondisinya, tidak terlalu parah. Atau hanya mengalami guncangan batin.
Sebagaimana yang diberitakan Batam Pos belum lama ini, terdapat beberapa faktor pemicu terjadinya gangguan jiwa di kalangan masyarakat Tanjungpinang. Yang mana 30 persen disebabkan gagal menjalankan bisnis. Lalu 25 persen disumbang oleh dampak penggunaan narkoba. Lalu 20 persen disebabkan hubungan asmara. Dan faktor terakhir, disebabkan tidak harmonisnya hubungan keluarga, yang menyumbang presentase sebanyak 15 persen. (aya)