
batampos.co.id – Hingga kini Flight Information Region (FIR) Kepri masih dikuasi dan dikendalikan oleh negara tetangga. Walaupun wilayah FIR tersebut bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Hal ini disebut oleh pihak Kemenhan sebagai ancaman bagi kedaulatan NKRI.
“Karena bisa jadi ajang Spionase ,” kata Kasubdit Sapras Dit Komduk Direktorat Potensi Pertahanan, Rika Yuliani, saat Seminar Dirgantara yang digelar di Hotel Pasifik, Jumat (31/3).
Karena sudah menjadi ancaman kedaulatan negara. Ia meminta semua pihak bersama-sama untuk bersinergi, untuk mengambil alih FIR Kepri kembali ke pangkuan NKRI.
Akibat FIR ini dikuasai asing, banyak pelanggaran yang dilakukan oleh negara asing.
“Pelanggaran wilayah ini, pihak militer paling paham,” ungkapnya.
Kasubdis Hukum Dirgantara Dinas Hukum TNI AU Kolonel Pnb, Supri Abu menambahkan bahwa wilayah Indonesia dijadikan danger area. Dimana pihak asing melakukan latihan militer, dan hal itu sudah bertahun-tahun terjadi.
Saat hal ini diprotes ke negera tetengga tersebut, Supri mengatakan bahwa jawabannya bahwa FIR yang masuk wilayah NKRI tersebut masuk dalam tradisional perdagangan mereka.
“Tapi tradisional perdagangan itu tak ada berlaku di udara, hanya di laut,” ungkap Supri.
Dan wilayah udara yang diklaim negara tetangga sebagai tradional perdagangan itu, lautnya dikuasai dan sepenuhnya wilayah NKRI.
“Kami sudah buka semua dokumen tentang tradisional perdagangan itu, tapi tak ada kami temukan dokumen tentang itu,” ujarnya.
Ia mengatakan sangat mendukung langkah yang diambil Presiden Jokowi, untuk mengambil kontrol FIR yang dikuasai asing pada 2019.
“Ini sangat penting, kita ambil kembali, Indonesia kontrol FIR yang berada di wilayah kedaulatannya,” tuturnya.
Mengenai Sumber Daya Manusia (SDM) serta sarana dan pra sarana Marsekal Muda TNI Agus Munandar, mengatakan pihaknya sudah siap. Sedang hal ini sedang dalam proses.
“Sedang ditindak lanjuti,” tuturnya.
Sementara itu Dan Lanud Raja Haji Fisabilillah Kolonel Pnb, Wahyu Anggono mengatakan pemerintah sudah merancang dengan matang mengenai pengambil alihan FIR. Mengenai alusista, sebagai satuan pengamanan kedaulatan Indonesia dan penegakan bila ada pesawat yang melanggar batas negera di udara.
“Ke depan sudah tau bersama kan, di Natuna akan dikembangkan sebagai pangkalan militer,” tuturnya.
Pemamparan mengenai FIR ini, dibeberkan juga ke para udangan yang hadir yakni anak sekolah, mahasiswa, LSM, Polisis dan beberapa instansi pemerintah. Pemabahasan FIR ini juga dalam rangka memperingati Hari Dirgantara pada 9 April mendatang. (ska)

Seorang Batak pemilik kedai kopi, yang kedatangan tamu. Setelah satu gelas kopi dipesan, dibuat, dihidangkan, dan dinikmati, tamu itu memesan lagi, kopi yang sama.
Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Triwulan I tahun 2017 mengukuhkan spirit harmoni dan sinergi.



