Rabu, 13 Mei 2026
Beranda blog Halaman 13484

Bertabur Beasiswa di STTI Tanjungpinang

0
Mahasiswa STTI Tanjungpinang  mempromosikan kampusnya beberapa waktu lalu. STTI memberikan banyak beasiswa bagi pelajar berprestasi. F. STTI Tanjungpinang untuk Batam Pos

batampos.co.id – Sekolah Tinggi Teknologi Indonesia (STTI) Tanjungpinang di jalan Brigjen katamso no 92 Batu 2,5 ini memberikan beasiswa bagi lulusan SMA sederajat yang ingin melanjutkan pendidikannya di STTI Tanjungpinang.

Pendidikan Strata Satu (S1) ini memiliki tiga program studi (prodi) unggulan yakni Teknik Informatika, Sistem Informasi, dan Komputer Akutansi yang kesemuanya sudah terakreditasi B ini siap menerima siswa teladan dengan raihan beasiswa.

“Syaratnya melampirkan nilai UN (Ujian Nasional) tertinggi, nilai try out tertinggi, dan yang memiliki rangking satu sampai sepuluh di sekolahnya,” ujar

Ardianto Wibowo, Kasubag Humas dan marketing STTI Tanjungpinang, Minggu (28/5). Dikatakan Ardianto, STTI Tanjungpinang juga memberikan beasiswa bagi pelajar yang memiliki prestasi non akademik di bidang olahraga. Baik prestasi ditingkat kota, pronvinsi maupun nasional.

“STTI Tanjungpinang memberikan beasiswa bagi mahasiswa berprestasi, baik dibidang akademik maupun non akademik. Khusus bagi siswa di Tanjungpinang dan Bintan. Ada sekitar 30 sekolah yang sudah kami survei,” ungkapnya.

Ardianto menambahkan, khusus bagi lulusan tahun ajaran 2019 mendatang, STTI akan memberikan beasiswa full sampai selesai kuliah dengan syarat indeks prestasi kumulatif (IPK) tidak boleh kurang dari 3,00 selama kuliah.

“Untuk kelulusan tahun 2019 nanti, kami (STTI, red) akan memberikn beasiswa sampai selesai, dengan syarat IPK-nya harus bagus. Kalau turun (IPK, red) akan gugur dengan sendirinya. Makanya harus dipertahankan,” pungkasnya. (cca)

Lis dan Syahrul Akan Berpisah

0
Syahrul dan Lis. F. Tanjungpinangpos.

batampos.co.id – Walikota Tanjungpinang, Lis Darmasnyah dan Wakilnya, Syahrul akan berpisah ketika melaksanakan Safari Ramadan ke masjid dan surau se Kota Tanjungpinang. Pelaksanaannya, mulai dari 31 Mei sampai 21 Juni mendatang.

Bedasarkan jadwal Safarai Ramadan, Lis dan Syahrul akan mengunjungi 16 rumah ibadah yang tersebar di empat kecamatan. Dari keseluruhan kunjungan itu, kedua pemimpin dijadwalkan berbuka puasa dan tarawih bersama di empat rumah ibadah.

Humas Pemko Tanjungpinang, Boby Wira Satria mengatakan Lis dan Syahrul akan mengunjungi seluruh rumah ibadah secara terpisah. Itu dilakukan agar seluruh rumah ibadah dapat terkunjungi semua di bulan suci ramadan kali ini.

“Kedua pemimpin berbagi tugas untuk mengunjungi seluruh rumah ibadah. Mereka lakukan itu secara terpisah,” ujar Boby ketika dikonfirmasi, Minggu (28/5).

Namun, kata Boby jadwal safari yang diterbitkan Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) itu menetapkan ada empat lokasi yang pertemukan kedua pemimpin bersama-sama. Mulai dari berbuka puasa bersama sampai tarawih bersama.

Dari jadwalnya, lanjut Boby safari bersama itu dilakukan pada 31 Mei di Masjid Nurul Iman, 9 Juni di Masjid Al Mujahid, 16 Juni di Masjid Jannatul Ala dan 21 Juni di Masjid Nurul Islam.

“Selebihnya Pak Lis dan Pak Syahrul berpisah. Tapi akan ditemani masing-masing OPD,” ungkapnya. (ary)

Puasa, Lokalisasi Sintai Tetap Buka, Tapi….

0


batampos.co.id – Selama bulan puasa, lokalisasi Sintai di Batuaji tetap beroperasi. Tapi, jam operasionalnya dibatasi sesuai dengan surat edaran Wali Kota Batanm, HM Rudi.

Jam operasi itu dibatasi oleh pengurus rehabilitasi sosial non panti yakni buka setelah habis tarawih dan tutup sektar pukul 02.00 dinihari.

“Bukanya pun tak bisa sampai pagi lagi. Selama puasa kami hanya buka sampai jam dua saja,” kata Ketua pengurus pusat rehabilitasi sosial non panti Teluk Pandan, Sintai Ace Jamaluddin, Minggu (28/4/2017) siang.

Ini bertujuan untuk memberikan waktu kepada pekerja untuk istirahat ataupun mempersiapkan makanan untuk sahur.”Karena mereka (pekerja) juga puasa,” kata Ace.

Selain membatasi jadwal operasional, selama puasa ini lokalisasi tersebut juga tutup total selama sembilan hari. Penutupan itu dilakukan pada tiga hari awal puasa, tiga hari pertengahan puasa dan tiga hari di akhir puasa. “Itu juga sesuai edaran dari Pemko Batam. Kita juga harus memberikan waktu kepada warga di sini untuk menjalankan ibadah puasa dengan khusuk tentunya,” tutur Ace.

Sampai hari kedua pelaksaan ibadah puasa, kemarin, kata Ace sebagian besar warga binaan atau pekerja di lokalisasi tersebut tetap menjalankan ibadah puasa.

“Dua hari ini lancar-lancar saja. Kalau siang mereka tidur di dalam kamar masing-masing. Nanti agak sore baru ke Masjid mereka,” ujar Ace.

Saat ini lokalisasi Teluk Pandan, Sintai terdapat 224 wanita PSK. Mereka tersebar di 26 bar yang ada di dalam lokalisasi tersebut. (eja)

Selama Ramadan Jam Operasi THM Dikurangi

0

 

Satpol PP Kabupaten Bintan sedang menertibkan PSK yang berdomisili di Bukit Indah, Batu 24, Kecamatan Toapaya, beberapa waktu lalu. Foto: Harry/Batampos

batampos.co.id – Bupati Bintan, Apri Sujadi akan berlakukan sistem buka tutup terhadap Tempat Hiburan Malam (THM), seperti lokalisasi Kilometer 24 di KecamatanToapaya.

“Ini kami lakukan untuk menghormati umat muslim menjalankan ibadah puasa. Untuk itu sistem buka tutup kita berlakukan dengan mengurangi jam operasinya tidak boleh lebih dari pukul 01.00WIB,” jelas Apri, belum lama ini

Tak hanya THM, ini juga berlaku untuk jam operasi warnet, dimana jam operasinya juga akan dikurangi dan dilarang keras untuk tutup terlalu malam.

“Warnet tidak ada yang boleh tutup diatas jam 00.00 WIB. Ini akan dikawal langsung tim Satpol PP,” ucapnya.

Sedangkan untuk usaha pijat plus-plus lanjutnya dilarang keras beroperasi Selama bulan Ramadan, hingga lebaran nanti.

Sementara itu, untuk pijat tunanetra dan refleksi diperbolehkan beroperasi dibulan Ramadan.

“Penindakan ini akan dipimpin langsung oleh Satpol PP. Jika membandel untuk buka, tentu akan langsung ditindak,” imbuhnya. (cr20)

Setiap Tahun Anggaran Kelola Sampah Naik, Ketua DPRD Bilang Itu Memberatkan APBD, Solusinya…

0

batampos.co.id – Setelah menimbang beberapa opsi untuk menekan biaya pengelolaan sampah, Ketua DPRD Kota Batam, Nuryanto, meminta agar biaya pengelolaan sampah di tahun 2018 bisa diminimalisir.

“Hampir setiap tahun biaya pengelolaan sampah mengalami kenaikan. Tahun 2017 ini saja, dianggarkan sebesar Rp 97 miliar. Nilai ini cukup besar dan memberatkan APBD kita,” kata Nuryanto, kemarin.

Ia berharap Pemko Batam bisa memaksimalkan segala penawaran yang masuk untuk pengelolaan sampah. Seperti halnya tawaran kerjasama pengolahan sampah oleh perusahaan asal Korea Selatan, Dae Cheong.

“Ada beberapa investor yang ingin berinvestasi tanpa tipping fee. Ini bisa dimaksimalkan,” ujarnya.

Ia menilai, untuk mengetahui penawaran ini, Pemko wajib melihat terlebih dulu teknologi yang akan dijalankan. Kemudian, jika sudah pas, Pemko juga wajib melihat dan menimbang dari sisi pembiayaan.

“Kalau teknologi terbaru dan biaya efisien dan tidak memberatkan APBD, kenapa tidak,” ungkapnya.

Nuryanto menambahkan, selain Dae Cheong, saat ini ada enam investor yang sedang dalam proses pengajuan kerjasama pengolahan sampah dengan Pemko Batam. Investor ini berasal dari Asia, tepatnya Korea, Jepang dan Malaysia.

“Untuk progresnya, kami lagi cek kesiapan investor ini,” ujar Nuryanto.

Anggota Komisi III DPRD Batam, Jeffry Simanjuntak, saat ini Batam belum memiliki Peraturan Daerah (Perda) tentang tipping fee kerjasama dalam pengolahan sampah. Meski begitu, ia mengaku mengapresiasi langkah Pemko Batam yang menghindari tipping fee dan lebih mengutamakan kerja sama.

Saat iini, pengelolaan sampah di Batam untuk perumahan ke tempat pembuangan sementara, diserahkan ke setiap kecamatan. Kemudian, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam bertanggungjawab mengatur dan mengolah sampah dari tempat pembuangan sementara ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Punggur.

Menurut dia, anggaran Rp97 miliar itu dibagi di masing-masing kecamatan.

“Total di kecamatan Rp19 miliar sedangkan di DLH anggarannya Rp78,76 miliar,” terang Jefri. (rng)

Kapolres : Pengawasan Administrasi Kendaraan Masih Lemah

0

batampos.co.id – Kapolres Bintan, AKBP Guntur Febrianto Sunoto, menilai pengawasan administrasi kendaraan di Kabupaten Bintan, saat ini masih terbilang lemah.

Hal ini menyusul dengan adanya fakta yang ditemukan terkait dengan kecelakaan bus sekolah yang terjadi, Kamis (18/5) lalu.

Dimana kendaraan transportasi masal yang digunakan untuk menjemput dan mengantar pelajar di Kabupaten Bintan, tersebut kondisi KIR-nya dalam keadaan mati.

“Ini adalah bukti bagaimana pengawasan administrasi kendaraan disini (Bintan, red) sangat lemah. Sehingga perlu adanya pembenahan. Dan kami akan tindaklanjuti itu,” jelas Guntur, Rabu (24/5)

Untuk itu, lanjut Guntur pihaknya akan berkoordinasi dengan Dishub Bintan, agar segera bersama-sama melakukan pengecekan ulang, terhadap kelayakan dari seluruh bus yang ada.

Termasuk melakukan pemeriksaan kelengkapan surat-surat kendaraan, serta surat kelayakan yang digunakan sopir untuk membawa kendaraan tersebut.

“Secepatnya kami akan turun bersama untuk menertibkan ini semua. Sehingga dapat dipastikan jaminan keselamatan pelajar akan terjaga dengan baik. Dan kejadian yang sama tidak akan terulang lagi,” tegasnya.

Sementara itu, lanjut Guntur, terkait perkembangan terhadap kasus kecelakaan yang mengakibatkan 31 pelajar menjadi korban tersebut, masih dalam tahap penanganan tim Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Bintan.

Dimana tim ini masih melakukan pengumpulan bukti dilapangan serta memeriksa keterangan dari para saksi yang melihat langsung kejadian tersebut.

“Ini masih akan terus kami dalami. Hasil yang didapat nantinya juga akan digabungkan dengan hasil olah TKP yang dilakukan Dirlantas Polda Kepri, menggunakan kecanggihan teknologi Traffic Analisis Accident. Sehingga dapat langsung diketahui kronologis kejadiannya seperti apa. Kita tunggu saja hasilnya nanti,” imbuhnya. (cr20)

Setahun jadi Gubernur, Kebijakan Nurdin Hanya Memberatkan Rakyat

0
Gubernur Nurdin di atas kapal MV Seven Star usai melakukan peninjaun ke Letung, Jemaja, Anambas, Selasa (14/3).

batampos.co.id – Saya ingin fokus. Pertajam prioritas. Kalau kita tidak bergerak cepat, kita tertinggal.” Itulah kata-kata yang terlontar dari Gubernur Kepri Nurdin Basirun, saat dilantik menjadi Gubernur Kepri oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, 25 Mei 2016 lalu. Nurdin menggantikan gubernur senior, HM Sani, yang wafat beberapa bulan setelah dilantik menjadi Gubernur Kepri. Nurdin saat itu menjadi wakil Sani.

Setahun berlalu, kehadiran Nurdin memang memberikan kesan sama seperti saat masih menjabat sebagai Bupati Karimun, dua periode. Nurdin yang selalu bangun saat fajar, menemui rakyat dengan menyetir kendaraan sendiri. Bahkan, kadang menyetir kapal sendiri, membelah ombak di lautan Kepri untuk menemui rakyat di hinterland.

Nurdin bahkan dikenal gubernur yang suka menemui rakyatnya di warung kopi, sambil membicarakan berbagai persoalan publik. Jangankan acara resmi, undangan kawinan pun kadang dihadiri oleh Nurdin. Datang tanpa pengawalan yang ketat.

Namun, kesan merakyat itu bertolak belakang dengan beberapa kebijakan Nurdin setahun terakhir. Baik berupa kebijakan baru maupun kebijakan yang ia teruskan.

Kebijakan paling populer adalah keberanian Nurdin menyetujui kenaikan tarif listrik Batam hingga 45 persen. Tarif itu khusus untuk pelanggan rumah tangga yang merupakan terbanyak di Batam dan disetujui saat ekonomi masyarakat lagi lesu.

”Saya tak ingin Batam krisis listrik. Lagian pembahasan ini sudah setahun lebih,” ujar Nurdin, usai meneken regulasi yang menguatkan kenaikan tarif 45 persen yang digodok bersama anggota DPRD Kepri.

Kebijakan kedua, Nurdin tetap mempertahankan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah dengan melanjutkan angka maksimum penerapan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) 10 persen. Akibatnya, BBM Kepri, khususnya nonsubsidi tercatat paling tinggi se-Indonesia. Kepri tak sendiri, penerapan PBBKB maksimum juga diikuti oleh Provinsi Riau sejak 2015.

Nurdin berdalih, kebijakan itu sudah lama dan menjadi andalan pemasukan asli daerah (PAD) Provinsi Kepri. ”Selama ini tak ada yang protes,” kata Nurdin.

Kebijakan ketiga, Nurdin berencana menaikkan tarif pajak air permukaan dari 10 persen yang diatur di Perda Nomor 8/2011 menjadi 900 persen. Akibatnya, pengelola air bersih di Batam, PT Adhya Tirta Batam (ATB) sudah pasang kuda-kuda untuk menaikkan tarif air bersih ke konsumen.
Dari tiga kebijakan itu saja, Nurdin banjir kritikan. Beberapa kali aksi demo warga Batam menuntut tarif listrik direvisi, namun Nurdin tetap pada sikapnya, tarif tetap naik 45 persen.

Nurdin hanya mengubah skema penerapannya dari 3015 (30 persen di bulan April, menyusul 15 persen berikutnya) menjadi 15 plus-plus. Skema 15 plus-plus ini bisa menggunakan pola 151515 (15 persen pertama, 15 persen kedua, dan ketiga 15 persen) atau pola 1530 (15 persen di awal dan 30 persen berikutnya). Nurdin belum menentukan waktu penerapan ”plus-plus” tersebut.

Kritikan tak hanya datang dari masyarakat, tapi juga anggota DPRD. Salah satunya anggota DPRD Kepri, Ruslan Kasbulatov.

”Secara fisik, kita belum melihat apa yang sudah dilakukan,” ujar Ruslan kepada Batam Pos, Minggu (28/5) Legislator Komisi I DPRD Kepri tersebut memaparkan, sebelum persoalan tarif listrik Batam, PBBKB, dan tarif air permukaan, kritikan paling awal muncul saat DPRD Kepri mengajukan hak interpelasi terkait proses pelantikan pejabat-pejabat pada Oktober 2016 lalu.
Kemudian molornya pengesahan APBD Kepri 2017 karena tidak optimalnya kinerja Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Pemprov Kepri. Padahal Gubernur sebagai pimpinan punya tanggungjawab melakukan pembinaan terhadap bawahannya. Bukan hanya menerima hasil.

”Artinya proses pengawasan tidak berjalan, persoalan ini terjadi disebabkan dua faktor. Tidak mengertinya Gubernur tentang tata kelola anggaran, dan tidak adanya komunikasi yang baik dengan bawahan,” papar Ruslan.

Lebih lanjut, mantan Wakil Ketua DPRD Batam tersebut menjelaskan, kritikan juga bermunculan ketika terungkapnya ada dugaan praktik nepotisme dalam proses lelang Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP). Apalagi sampai keluarnya rekomendasi dari Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN). Akan tetapi sampai sekarang ini, rekomendasi yang dikeluarkan belum tindaklanjuti.

Menurut Ruslan, Gubernur bukannya sibuk untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi, tetapi lebih memilih melakukan pencitraan politik dengan dalih melakukan kunjungan kerja dan silaturahmi ke setiap daerah.

Diakui Ruslan, sebagai pimpinan memang diharuskan untuk menyerap aspirasi rakyat. Tetapi mendekati berakhirnya semester pertama Tahun Anggaran (TA) 2017, belum terlihat adanya pembangunan fisik yang berjalan.

Dan Ruslan mengakui kebijakan populer namun tak pro rakyat adalah kenaikan tarif listrik Batam 45 persen itu. Ditegaskannya, apabila persetujuan DPRD Kepri berdasarkan individu, dirinya sangat tidak mendukung kenaikan TLB itu. Tetapi, persetujuan yang dibuat berdasarkan kolektif kolegial di lintas Komisi II dan Komisi III DPRD Kepri.

”Listrik memang infrastruktur penting saat ini. Tetapi untuk menaikkan tarif, harusnya tidak begitu tinggi. Sehingga tidak menimbulkan reaksi di tengah-tengah masyarakat Batam,” ujarnya.
Ditegaskan Ruslan, adanya pergerakan unjuk rasa di Batam belakangan ini, menunjukkan kebijakan yang dibuat Gubernur tidak pro rakyat. Apalagi persentase kenaikan 45 persen untuk golongan rumah tangga sangat besar.

Ketua Pengprov Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) Kepri tersebut juga menyebut kebijakan mempertahankan PBBKB maksimum bukan hanya tak pro rakyat tapi juga menggerogoti rakyat. Apalagi selain PBBKB, sebentar lagi akan keluar kebijakan pajak progresif kendaraan bermotor.

”Belum lagi ditambah dengan pengurangan premium di pasaran. Sehingga masyarakat terkesan ’dipaksa’ untuk membeli premium. Artinya masyarakat harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar PBBKB 10 persen. Daerah lain selain Riau tak maksimum PBBKB-nya,” jelas Ruslan.

Ruslan juga tak habis pikir dengan rencana Pemprov Kepri menaikkan Pajak Air Permukaan hingga 900 persen. ”PAD yang dihasilkan dari keringat rakyat, itu namanya bukan PAD. Tetapi ’pemerasan’,” ujar Ruslan.

Menurutnya, melalui UU Nomor 23 Tahun 2014 Pemprov diberikan kewenangan untuk mengelola berbagai sektor. Baik itu pariwisata, kemaritiman, dan sebagainya. Harusnya peluang yang ada ini dioptimal. Sehingga PAD yang didapat murni dari potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang ada.

Sementara itu, Ketua Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Kepri, Abdul Rahman yang juga anggota DPRD Kepri tidak menafikan setahun kepemimpinan Gubernur Nurdin mendapat banyak sorotan. Seperti keputusan menaikkan tarif listrik Batam. Menurut Abdul Rahman, PKS sejak awal tidak mendukung kenaikan TLB, dengan melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat sekarang ini.

”Secara individu kita sangat menentang kenaikan TLB. Karena kondisi ekonomi masyarakat yang sedang tidak stabil. Tetapi kesepakatan diambil berdasarkan voting,” ujarnya.

Abdul Rahman mengatakan, pihaknya juga memberikan beberapa catatan terkait adanya rencana penerapan pajak progresif kendaraan bermotor. Karena jangan sampai kebijakan yang dibuat membebani masyarakat.

Menurut dia, satu tahun kepemimpinan Gubernur Nurdin, pihaknya sudah memberikan catatan-catatan khusus dengan me-review kebijakan yang diambil Nurdin.

Disebutkannya, ada beberapa hal yang harus segera diperbaiki oleh Gubernur. Yakni membangunan komunikasi yang baik dengan legislatif, meningkatkan fungsi kontrol kepada setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD). ”Terkesan, OPD jalan sendiri-sendiri,” katanya.

Legislator dapil Batam itu menambahkan, sekarang ini banyak kewenangan yang dimiliki Pemprov Kepri. Khusus untuk meningkatkan PAD, tidak perlu membebani rakyat dengan menaikan berbagai tarif pajak. Karena ada potensi-potensi besar yang bisa dioptimalkan, seperti sektor kemaritiman, pariwisata, dan pengelolaan Participating Interst (PI) 10 persen di bidang minyak dan gas (Migas).

”Progres di sektor ini yang harus digesa. Sehingga PAD meningkat, masyarakat Kepri akan lebih sejahtera. Begitu juga pembangunan akan cepat terlaksana,” papar Abdul Rahman.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Batam, Sallon Simatupang menambahkan, kebijakan yang berakibat kepada kenaikan tarif tersebut sangat tidak memihak masyarakat. Apalagi melihat kondisi ekonomi Kota Batam saat ini.

”Masyarakat sudah menderita akibat banyak perusahaan yang tutup. Tarif listrik yang melambung. Masa mau dibebani lagi tarif air yang naik,” sesal Sallon.

Apapun ceritanya, kata Sallon, DPRD Kota Batam tidak akan setuju dengan kebijakan yang tidak memihak pada rakyat.

Safari Ramadhan, anggota Komisi IV DPRD Batam mengaku, pemerintah harus tahu kondisi masyarakatnya saat ini. Kondisi ekonomi yang memprihatinkan ditambah peluang kerja sedikit, masyarakat banyak tak mampu bahkan sangat banyak yang belum mendapatkan pekerjaan.

Alasan-alasan klasik yang disampaikan gubernur dinilai tidak beralasan. ”Kenapa bukan DBH migas saja yang diperjuangkan ke pusat agar kembali besar seperti tahun-tahun sebelumnya dari pada memajaki masyarakat Kepri. Kenapa tidak dioptimalkan potensi wisata Kepri dengan mengajukan KEK pariwisata. Padahal sektor ini bisa meningkatkan ekonomi masyrakat,” katanya.

Kritikan juga datang dari Ketua FSPMI Kota Batam Suprapto. Ia menegaskan, secara tidak langsung Gubernur Kepri dengan segala kebijakannya telah membunuh rakyatnya secara pelan-pelan.

Menurut dia, rakyat Batam yang mayoritas pekerja atau buruh mendapat kenaikan upah yang tidak seberapa. Bahkan belum mencukupi kebutuhan hidup, dibebani dengan kebijakan-kebijakan yang tidak memihak pada rakyat.

”Artinya jika ini dinaikkan semua (listrik, PBBKB, pajak air permukaan, pajak progressif, red), berarti peran negara lewat pemerintah untuk melindungi rakyatnya sudah tak ada,” tuturnya.

Dia tak habis pikir dengan tindakan pemerintah kini yang mengaku paham kondisi ekonomi rakyat yang tengah lesu, namun satu sisi seolah tanpa kendali berlomba-lomba menaikkan tarif.

Menurutnya, keadaan ini justru kontras dengan kesejahteraan yang diperoleh rakyat. ”Upah minimum yang naik hanya 8,25 persen, upah sektoral yang tak kunjung diSK-kan. Buruh semakin terpuruk daya belinya,” kata dia.

Ia juga sangat menyayangkan peran pemerintah yang gagal menekan harga bahan pokok, padahal persoalan tersebut kerap terjadi setiap tahun. ”Satu ini sangat parah, naik terus tiap tahun, harusnya ini yang dikendalikan,” keluhnya.

Tak hanya itu, saat ini jumlah kesempatan kerja yang sedikit tak sebanding dengan jumlah angkatan kerja yang sangat banyak. ”Harusnya yang begini dibuatkan kebijakan,” kata Suprapto.(nur/jpg/rng/cr13/aya)

Disdik Akui Tak Tahu Kondisi Kelayakan Bus

0

batampos.co.id – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bintan, Tamsir mengaku tidak mengetahui terkait kondisi kelayakan bus sekolah yang mengalami kecelakaan, Kamis (18/5) lalu, yang ternyata uji KIR-nya sudah mati.

“Baru ini saya tahu setelah kejadian. Sebelumnya saya memang belum tahu kalau uji KIR-nya mati. Sebab baik dari pihak pengelola bus dan Dishub belum ada memberikan informasinya,” jelas Tamsir, Minggu (28/5).

Tamsir menuturkan dari awal pengadaan seluruh bus sekolah, tentunya semua bus tersebut sudah di uji KIR.

Namun seiring berjalannya waktu, ternyata ada tiga unit bus sekolah yang masa berlaku uji KIR-nya sudah habis.

“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Sebab baru ini juga kami ketahui kalau sebagian bus ternyata kelayakan operasinya ada yang sudah tidak aktif lagi masa berlakunya,” ungkapnya.

Ia mengakui dirinya juga tidak mengetahui persis terkait dengan aturan dan ketentuan dari teknis pelelangan serta kelayakan bus sepenuhnya seperti apa.

Hal ini dikarenakan dari pelelangan awal pengadaan bus sekolah tersebut sudah berjalan sebelum dirinya menjabat sebagai Kadisdik Bintan.

“Waktu saya menjabat disini (Disdik, red), proses pelelangan dan aturan teknisnya sudah berjalan,” ucapnya.

“Nah, setelah duduk menjabat saya pernah minta dokumen terkait semuanya. Mulai dari ketentuan teknis pelelangan, kelayakan kondisi bus, termasuk uji KIR bus, apakah sudah memenuhi atau belum? Namun sampai saat ini belum ada kami terima informasinya dari yang lama,” sambungnya lagi.

Untuk itu, lanjutnya setelah kecelakaan itu terjadi pihaknya langsung memanggil semua pihak terkait diantaranya, Dishub Bintan, Polres Bintan, Organda, serta pengelola bus untuk melakukan evaluasi, sebagai langkah antisipasi agar kejadian yang sama tidak terulang lagi.

“Kami sudah lakukan pertemuan bersama. Dimana kesimpulannya saya meminta semua bus untuk di uji KIR ulang semuanya. Mengingat pentingnya keselamatan pelajar menjadi prioritas utama kedepannya,” terangnya.

Tak hanya itu, masih kata Tamsir, setiap sopir juga akan dibuatkan pakaian seragam lengkap dengan bet nama. Serta pemberlakuan Standart Operasional Procedure (SOP) juga akan diwajibkan, mulai dari jumlah penumpang yang tidak boleh melebihi kapasitas bus, serta jarak laju maksimal yang harus dilalui sopir bus tersebut.

“Secepatnya ini akan diberlakukan. Mudah-mudahan bisa memberikan jaminan keselamatan bagi pelajar kedepannya,” imbuhnya.

Sementara itu, Muslim Matondang salah satu Mantan Pemilik Perusahaan Otobus (PO) resmi pertama kalinya di Bintan, yakni Kepri Trans, menilai kecelakaan yang terjadi beberapa waktu lalu itu tidak serta-merta hanya sopir yang harus disalahkan.

Menurutnya kelayakan dari pada bus tersebut yang juga harus menjadi perhatian khusus dari semua pihak terkait.

Apalagi bus yang mengalami kecelakaan itu, kondisi KIR-nya sudah mati.

“Setahu saya yang namanya pengadaan bus itu utamanya adalah kelayakan. Apalagi itu bus untuk pelajar. Masa uji KIR-nya bisa sampai mati. Tentu ini akan menjadi pertanyaan besar ada apakah dengan ini semua?” terangnya.

Menurutnya kelayakan bus tersebut harus ditinjau kembali, apakah sudah memenuhi standart kelayakan untuk dioperasikan dijalan atau belum sama sekali.

Hal ini juga sebagai langkah antisipasi agar kejadian yang sama tidak terulang lagi untuk selanjutnya.

“Kasihan anak pelajar harus menjadi korban akibat dari kelalaian dalam pengecekan kelayakan bus yang belum memenuhi standarisasinya. Mudah -mudahan pemerintah daerah bisa segera mengambil langkah cepat untuk memperbaiki ini semua, sehingga Jamiman keselamatan bagi pelajar bisa jadi prioritas kedepannya,” imbuhnya. (cr20)

 

Lima Bulan,34 Perusahaan di Batam Tutup

0
ilustrasi

SEKUPANG (BP) – Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam, Rudi Sakyakirti menyebut rentang waktu dua bulan terjadi penambahan perusahaan yang tutup sepanjang 2017 ini.

“Hingga 17 Mei 2017 ini, sudah ada 34 perusahaan yang tutup dan 889 karyawan kehilangan pekerjaannya,” kata Rudi, Rabu (24/5/2017).

Sebelumnya, jumlah perusahaan yang tutup berjumlah 24 perusahaan. Sekarang bertambah menjadi 37 perusahaan. “Terjadi penambahan 10 perusahaan dalam kurun waktu dua bulan,” sebutnya.

Bertambahnya jumlah perusahaan yang tutup ini, disebabkan tidak adanya pengerjaan proyek yang masuk. Alasan lainnya adalah perusahaan berhenti operasi karena masalah keuangan. “Secara global sebabnya masih sama, karena sepi order, perusahaan bangkrut dan tutup,” sebut mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam ini.

Rudi menambahkan, kondisi perekonomian Batam yang tengah memburuk ini juga menjadi faktor pendukung perusahaan tutup. Sejauh ini, lanjut Rudi, baru 34 perusahaan yang telah melapor ke Disnaker.

“Yang lain saya belum terima informasinya, walaupun di luar sana ada informasi yang beredar tentang perusahaan yang bersiap-siap tutup karena sepi order,” terangnya.

Seperti biasanya, perusahaan yang ingin tutup terlebih dahulu menyelesaikan beberapa tanggung jawab kepada pekerja, seperti pembayaran pesangon pekerja. “Setelah semuanya selesai baru mereka melapor,” ungkapnya.

Sementara itu, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi mengatakan belum menerima laporan bertambahnya perusahaan yang tutup. “Ini masalah yang cukup sensitif, jadi saya tidak mau bicara terlalu banyak dulu, yang jelas kami tengah berusaha mencarikan solusi, termasuk mengembalikan kondisi perekonomian Batam seperti semula,” ujarnya. (cr17)

Kementerian PUPR Salurkan Bantuan Rp 2,6 M

0

batampos.co.id – Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) menyalurkan bantuan dana sebesar Rp 2.690.400.000 kepada Pemko Tanjungpinang. Kucuran dana yang bersumber dari APBN 2017 itu diperuntukan pembangunan sanitasi berbasis masyarakat (sanimas) di empat kecamatan.

“Kita sudah teken kesepakatan bersama (MoU) dengan Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR. Menindaklanjutinya kita siap membangun sanimas disini,” ujar Wakil Walikota Tanjungpinang, Syahrul, kemarin.

Bantuan dana pembangunan sanimas itu, kata Syahrul diantaranya untuk sanimas di Kecamatan Bukit Bestari digelontorkan sebesar Rp 538.080.000, Kecamatan Tanjungpinang Kota sebesar Rp 1.076.160.000, Kecamatan Tanjungpinang Barat sebesar Rp 538.080.000 dan Kecamatan Tanjungpinang Timur sebesar Rp 538.080.000.

Kesemua dana itu, lanjut Syahrul akan dikucurkan ke Dinas PUPR Kota Tanjungpinang. Bahkan dinas ini juga yang akan melaksanakan pembangunannya. Kemudian untuk lokasi pembangunannya akan ditetapkan oleh Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman, Kebersihan dan Pertamanan (PRKPKP). Sedangkan untuk pengelolaannya berada di tangan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tanjungpinang.

“Kita minta DLH bersinergi dengan PU dan PRKPKP agar lokasi pembangunannya tepat sasaran. Kemudian juga bisa dinikmati semaksimalnya oleh masyarakat di empat kecamatan,” bebernya.

Besar harapan Syahrul Dinas PUPR, DLH dan PRKPKP mau mensosialisasikan program pembangunan sanimas ini kepada masyarakat sebelum dibangun. Dengan begitu masyarakat bisa mengetahui dan memahami fungsi dan kegunaan sanimas tersebut.

“Semoga program pembangunan sanimas ini mampu meningkatkan layanan sanitasi layak bagi masyarakat Tanjungpinang,” ungkapnya. (ary)