Senin, 18 Mei 2026
Beranda blog Halaman 13489

Bulan Ini Curah Hujan Batam Tertinggi

0
ilustrasi

batampos.co.id – Stasiun Meteorologi Bandara Internasional Hang Nadim Batam melansir curah hujan di Batam pada bulan Mei ini tertinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Tak hanya itu dari data yang dipaparkan oleh Kasi Datin Stamet Hang Nadim, Suratman mengatakan bahwa sangat tinggi dalam beberapa tahun belakangan ini.

“Mei dan November merupakan puncak curah hujan tertinggi di Batam. Tapi bulan ini, curah hujannya lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” katanya pada Batam Pos, kemarin.

Ia mengataka hingga 30 Mei, pihaknya mencatat curah hujan di Batam sebanyak 310,9 mm. Mei tahun 2015 curah hujan di Batam hanya 132,2 mm, lalu di dibulan yang sama tahun lalu 149,6 mm.

“Cukup tinggi, penyebabnya adanya sherline. Sehingga terjadi penumpukan awan di atas Batam. Ditambah kelembaban udara yang tinggi dilapisan awan menengah dan atas,” tuturnya.

Suratman mengatakan dalam rata-rata biasanya curah hujan di Batam dalam satu harinya itu pada kisaran 20 hingga 30 mm. Tapi pada 26 Mei lalu, curah hujan di Batam mencapai 92,6 mm. “Jumat lalu itu, saat banjir melanda Batam,” terangnya.

Tapi kondisi ini kata Suratman tak akan berlangsung lama, diperkirakan hingga awal Juni saja. Setelah itu curah hujan di Batam kembali normal.

Suratman mengatakan mengenai kondisi cuaca seperti ini, ia meminta masyarakat selalu berhati-hati. “Apalagi yang menggunakan moda tranportasi laut, saat hujan lebat diserati angin juga mempengaruhi gelombang. Bila itu terjadi, sebaiknya menepi dahulu,” ungkapnya. (ska)

Pemprov Krepri Harus Kreatif Cari Duit

0

batampos.co.id – Pengamat Ekonomi dari Politeknik Negeri Batam, Muhammad Zaenuddin, mengatakan Pemprov Kepri hendaknya lebih kreatif dalam mengelola dan mencari sumber PAD. Menurut dia, mendongkrak PAD dengan menaikkan pajak hanya akan menambah beban masyarakat.

“Jangan sampai terjadi ego sektoral yang menguasai sehingga merugikan masyarakat,” kata Zaenuddin, Jumat (2/6).

Menurut dia, baik Badan Pengusahaan (BP) Batam maupun Pemrpov Kepri memiliki kepentingan masing-masing dalam polemik kenaikan pajak air permukaan (PAP) ini.

“Namun mesti dilihat dulu mengapa harus sampai menaikkan pajak tersebut. Apakah urgen, kan bisa dilihat dari skala prioritasnya,” ucapnya lagi.

Naiknya PAP, kata Zaenuddin, otomatis akan berimbas pada kenaikan tarif air bersih dari PT Adhya Tirta Batam (ATB). Hal ini tentu akan memberatkan masyarakat, apalagi kondisi ekonomi saat ini tengah lesu.

“Lihat dulu kondisi ekonomi saat ini,” tambahnya.

Jika Pemprov Kepri memang ingin menaikkan pajak, lebih baik mencari potensi dari pajak yang tidak bersinggungan langsung dengan kebutuhan hidup masyarakat banyak. Contohnya pajak labuh jangkar.

“Kreativitas itu perlu. Banyak sektor lain yang bisa digarap tanpa perlu menaikkan sektor yang menguasai hajat hidup orang banyak, seperti air,” tegasnya.

Deputi IV BP Batam, Purba Robert Sianipar, mengatakan sumber daya air di Batam itu merupakan milik negara dan dikelola oleh BP Batam sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat.

“Untuk kelola aset negara, kita perlu biaya. Hal tersebut diatur dalam PP Nomor 5 Tahun 2011 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam,” ungkapnya.

Sehingga BP Batam diharapkan dapat mengutip Pendapat Negara Bukan Pajak (PNBP) dari ATB yang membeli air baku dari BP Batam.

“Kami sebut itu tarif air baku yang tercantum dalam PMK Nomor 148 Tahun 2016,” jelasnya.

Ilustrasi

Ia menegaskan tarif air baku itu bukan pajak seperti yang disebut Pemprov Kepri selama ini. “BP Batam tidak pernah menarik pajak dari ATB. Itu adalah tarif sedangkan bagian Pemprov adalah pajak. Itu hak mereka dan kami menghormatinya,” tegasnya lagi.

Robert menyebut, selama ini pendapatan BP Batam dari penjualan air baku ke ATB mencapai Rp 15 miliar per tahun. Jumlah tersebut, menurut dia, belum cukup untuk biaya perawatan dan pemeliharaan sumber air dan dam yang dikelola BP Batam.

Sebaliknya, Robert menilai dengan disahkannya Perda yang mengatur kenaikan pajak air permukaan yang didahului dengan terbitnya Peraturan Gubernur Nomor 25 tahun 2016, Pemprov Kepri menambah beban baru dalam bentuk tarif kepada masyarakat. Imbasnya adalah kenaikan tarif air bersih yang harus dibayarkan masyarakat.

“Kami menilai ini pembebanan baru. Pemprov menganjurkan kepada kami untuk menaikkan nilai perolehan air. Kenaikan ini akan berdampak pada pembebanan tarif air bersih kepada masyarakat,” kata Robert. (leo)

Pajak Air Permukaan Sudah Dinaikkan 900 Persen Sejak 2016

0
Waduk Tembesi . foto:  ATB/Benny Andrianto

batampos.co.id – Tarif pajak air permukaan (PAP) sebesar Rp 180 per meter kubik ternyata sudah berlaku sejak 2016. Namun hingga saat ini PT ATB tetap membayar PAP sebesar Rp 20 per meter kubik. Alasannya, ATB berpedoman pada konsesi pengelolaan air bersih, bukan Perda ataupun Pergub Kepri.

“Segala macam pajak atau apapun yang timbul, kami hanya mengacu pada aturan BP Batam,” kata Manager Corporate Communication PT ATB, Enriqo Moreno, Jumat (2/6).

Enriqo mengatakan, Pergub Nomor 25 Tahun 2016 tentang Pajak Air Permukaan (PAP) merupakan produk hukum yang sah dan harus ditaati. Namun menurut dia, Pergub tersebut harus sejalan dengan aturan konsesi pengelolaan air bersih dan keputusan dari Kepala BP Batam.

Menurut dia, sejauh ini BP Batam belum menyetujui kenaikan PAP tersebut. Sehingga PT ATB tetap membayar PAP sebesar Rp 20 per meter kubik air, bukan Rp 180 per meter kubik.

“Bukan kami tak mau bayar, tapi kami sebagai investor bingung, aturan mana yang harus kami ikuti,” kata dia.

Namun jika Pemprov Kepri tetap memaksakan kenaikan PAP dari Rp 20 menjadi Rp 180 dan itu disetujui oleh BP Batam, ATB akan melaksanakannya. Tetapi dengan konsekuensi, tarif air bersih kepada pelanggan ATB juga akan ikut naik.

“Itu konsekuensi yang tak bisa dihindari. Tapi perlu dijelaskan, sampai saat ini kami tak pernah punya rencana menaikkan tarif air bersih. Kecuali karena faktor-faktor dari luar itu,” katanya.

Kepala Bidang Pendapatan, Badan Pengelola Pajak, dan Retrebusi Daerah (BP2RD) Pemprov Kepri, Herman Prasetyo, membenarkan hingga saat ini ATB belum membayar PAP sebesar Rp 180 sesuai Pergub Nomor 25 Tahun 2016. Sehingga BP2RD mencatat, ada selisih atau tunggakan PAP dari ATB sebesar Rp 12,2 miliar.

“Pergub itu berlaku tahun kemarin. Kenyataannya ATB masih tetap membayar PAP sebesar Rp 20 per kubik,” ujar Herman, Jumat (2/6) di Batam.

Herman menjelaskan, sebelum keluarnya Undang-Undang (UU) Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah, pemungutan PAP memang masih mengacu pada nota kesepahaman bersama dengan ATB dan BP Batam. Akan tetapi, sejak terbitnya UU tersebut, kesepakatan ATB dan BP Batam itu batal demi hukum.

Apalagi setelah Pemprov Kepri menerbitkan Pergub Nomor 25 Tahun 2016 tentang PAP. Pergub tersebut menjadi dasar hukum yang sah bagi Pemprov Kepri untuk memungut PAP di Batam.

Herman merinci, total tunggakan PAP yang harus dibayar PT ATB pada 2016 sebesar Rp 8,2 miliar. Sementara tahun 2017 sampai April lalu pihaknya mencatat ada tunggakan sebesar Rp 4 miliar. Sehingga totalnya Rp 12,2 miliar.

“Tagihan itu belum termasuk denda. Kami harap ATB kooperatif,” kata Herman.

Anggota DPRD Kepri, Irwansyah, juga meminta ATB mematuhi Pergub Kepri Nomor 25 Tahun 2016 tersebut. “Semua ada konsekuensinya, apalagi kontrak kerja ATB dengan BP Batam akan berakhir pada 2020 nanti. Kita minta kerja sama ATB untuk menyelesaikan kewajibannya,” ujar Irwansyah.

Keputusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri menaikkan pajak air permukaan terus menuai kritik. Kebijakan ini dinilai terlalu dipaksakan demi mendulang pundi-pundi pendapatan asli daerah (PAD). (jpg)

Batam Masih Jadi Primadona Investasi di Asia

0

batampos.co.id – Kepala Badan Pengusahaan Batam (BP Batam), Hatanto Reksodipoetro mendapat sambutan positif dari para pengusaha Singapura saat menjadi pembicara utama dalam acara Dialog Bisnis antara Singapore Business Federation (SBF) bersama KADIN Indonesia Komite Singapura, Selasa (30/5) di SBF Center, Robinson Road, Singapura.

Berbicara di hadapan sekitar 50 pengusaha lintas sektoral negeri jiran (tetangga) Singapura ini, Hatanto memaparkan berbagai terobosan yang telah dilakukan untuk meningkatkan minat investor berbisnis di Batam. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut kunjungan delegasi SBF beberapa waktu lalu ke Batam yang mengungkapkan bahwa Batam masih menjadi wilayah yang sangat diperhitungkan di Pasar Asia.

“Kami sangat optimis dengan sejumlah terobosan yang dilakukan BP Batam, termasuk perbaikan sistem dari manual menjadi online di seluruh layanan yang dimanfaatkan oleh investor. Misalnya, layanan i23J dan KILK yang sangat diapresiasi oleh investor, serta fasilitas dan layanan lainnya seperti Host to Host Sistem Perijinan Online Pelabuhan dan aplikasi Geographical Information System (GIS) untuk manajemen lahan dengan pemetaan menggunakan drone seperti di Singapura,” papar Kepala BP Batam.

Dalam Dialog Bisnis tersebut, Hatanto menjelaskan berbagai aspek perekonomian Batam, termasuk pertumbuhan ekonomi Batam yang saat ini didominasi industri manufaktur berorientasi ekspor, serta nilai investasi tahun 2016 sebesar US$ 471,37 miliar yang didominasi investasi dari Singapura.

“Sebagai negara yang paling banyak melakukan investasi di Batam dalam lima tahun terakhir, Singapura memiliki posisi yang penting. Berbagai perubahan dan perbaikan sistem yang telah diaplikasikan oleh BP Batam diharapkan dapat mempercepat tercapainya tujuan mewujudkan Batam sebagai jendela investasi di Indonesia,” ungkap Hatanto.

Dialog Bisnis di Singapura ini dihadiri oleh Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Ngurah Swajaya, Ketua KADIN Indonesia Komite Singapura, Michael Goutama, serta Direktur Eksekutif Singapore Business Federation, Thian Tai Chew.

“Kami berharap hubungan bilateral yang telah terjalin erat selama 50 tahun antara Singapura dan Indonesia, khususnya dengan Batam, dapat terus ditingkatkan terutama melalui Forum Joint Working Group Singapura – BBK, mengingat Singapura merupakan sumber investasi PMA tertinggi di Batam untuk saat ini,” kata Ngurah Swajaya, Duta Besar Indonesia untuk Singapura.

“Batam masih menjadi tujuan investasi menarik bagi para investor Singapura. Batam memiliki kelebihannya sendiri, Singapura juga memiliki kekuatannya sendiri, dan apabila dua kekuatan ini dikolaborasikan akan dapat menghasilkan sesuatu yang sangat besar. Saat ini Batam masih menjadi primadona bagi ekologi investasi di Asia,” ungkap Thian Tai Chew, Direktur Eksekutif Singapore Business Federation.

Ketua KADIN Indonesia Komite Singapura Michael Goutama menambahkan, bahwa Batam memiliki potensi yang sangat besar karena lokasinya secara geografis sangat strategis dan memiliki berbagai fasilitas yang menarik bagi investor. Potensi ini akan menjadi kenyataan bila ditunjang dengan sejumlah reformasi kebijakan dari pemerintah pusat dan perubahan sistem yang dilakukan BP Batam.

“Bila keduanya – Batam dan Singapura – dapat terus bekerjasama dengan erat dalam dunia bisnis, berbagai kepentingan politik beberapa pihak dapat dihilangkan, Batam dapat kembali kepada tujuan dasarnya yakni sebagai jendela investasi di Indonesia.”

Indomie Produk Paling Populer

0

batampos.co.id – Indomie dinobatkan sebagai merek produk yang paling sering dipilih konsumen Indonesia di perkotaan besar.

Setidaknya hampir semua penduduk Indonesia pernah membeli merek Indomie, rata-rata 3–4 kali dalam sebulan selama 2016.

Menurut New Business Development Director Kantar Worldpanel Indonesia Fanny Murhayati, kekuatan Indomie membuat merek tersebut berhasil mempertahankan posisi teratas dalam survei Brand Footprint sejak tahun lalu.

“Bahkan Indomie juga mampu memperoleh posisi ke delapan merek paling banyak dipilih di seluruh dunia,” ujar Fanny di Jakarta, Jumat (2/6).

Di Nigeria, Indomie kata Fanny, juga berhasil menjuarai ranking Brand Footprint dan berada pada posisi nomor satu.

Penjualan international yang luas, merupakan salah satu faktor pendukung performance dari Indomie.

“Di samping Indonesia dan Nigeria, Indomie juga memiliki pangsa pasar di Ghana, Malaysia, Timur Tengah, Turki, dan Amerika Serikat,” ucapnya.

Fanny menuturkan, selain Indomie, merek lain yang paling banyak dipilih konsumen Indonesia yaitu Royco, Mie Sedap, Frisian Flag, So Klin, Kapal Api, Indofood, Masako, Lifebuoy dan Rinso.

“Untuk dunia, Coca Cola merupakan merek yang paling sering dipilih oleh konsumen. Setidaknya 42 persen dari seluruh rumah tangga di dunia pernah membeli merek Coca Cola sekitar 13 kali dalam kurun satu tahun terakhir,” tutur Fanny.

Kantar Worldpanel merupakan perusahaan riset terkemuka dalam bidang pengetahuan dan wawasan konsumen yang menggabungkan monitoring pasar, analisis terkemuka, serta solusi riset pasar yang dapat disesuaikan.

Tim terdiri dari 3.500 orang di lebih 50 negara termasuk Indonesia.(gir/jpnn)

380 KM Jalan Provinsi Rusak

0

batampos.co.id – Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUPR) Provinsi Kepri, Abu Bakar mengatakan pihaknya sudah mengantongi data base jalan-jalan provinsi yang ada di tujuh Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Kepri. Menurut Abu Bakar dari 880 kilo meter (km), sebanyak 380 km mengalami kerusakan.

“Kami sudah menyelesaikan penyusunan data base jalan-jalan Provinsi yang ada di Kabupaten/Kota. Dari 880 km, sekitar 500 km jalan provinsi yang kondisinya bagus,” ujar Abu Bakar menjawab pertanyaan media belum lama ini.

Mantan Pejabat Pemkab Karimun tersebut mengatakan, kerusakan jalan yang dibangun Pemprov Kepri tersebut bervariasi, mulai dari berlobang, bergelombang, ambles hingga terputus. Dikatakannya untuk melakukan perbaikan ataupun pemeliharaan jalan provinsi, setiap tahun anggaran Pemprov Kepri selalu menyiapkan anggaran.

“Proses perbaikan yang kita lakukan tentunya secara berkala. Karena apabila dilakukan secara sporadis, tidak sesuai dengan kemampuan keuangan yang kita miliki,” papar Abu Bakar.

Masih kata Abu Bakar, tahun ini Pemprov Kepri tidak menganggarkan perbaikan jalan secara menyeluruh. Kegiatannya pun sedang berlangsung di Kabupaten Lingga, dan Anambas. Dinas PUPR akan melakukan perbaikan pada kerusakan prioritas. Sementara untuk daerah lain seperti di Batam, Tanjungpinang, Bintan, Natuna dan Karimun ada yang masih proses lelang di LPSE Kepri.

“Untuk pemeliharaan kita menyiapkan anggaran sekitar Rp2 miliar lebih. Pemprov Kepri juga sudah mengajukan permohonan ke pemerintah pusat untuk bantuan anggaran perbaikan jalan, dari Dana Alokasi Khusus (DAK),” paparnya lagi.

Ditambahkan Abu Bakar, pihaknya berharap tahun depan bantuan tersebut bisa terealisasi, agar kegiatan perbaikan jalan bisa langsung dikerjakan. Bantuan dari pusat bukan hanya untuk perbaikan jalan. Pihaknya juga mengusulkan bantuan untuk pembangunan jembatan, peningkatan kualitas jalan dan lainnya.

“Kemampuan kita terbatas, tentunya kita juga butuh dukungan dari pusat. Sehingga rencana-rencana perbaikan bisa terwujud dengan baik,” tutup Abu Bakar.(jpg)

Proyek Ratusan Miliar, Irigasi Kelarik Belum Maksimal

0

batampos.co.id – Proyek irigasi Desa Kelarik Kecamatan Bunguran Utara Natuna yang dibangun sejak tahun 2011 lalu hingga saat ini belum bisa dimanfaakan masyarakat. Bahkan sudah menyerap anggaran ratusan miliar.

Saat ini proyek irigasi tersebut masih dilanjutkan tahun 2017 ini, dikucurkan anggaran sebesar Rp 35 miliar lebih untuk membangun parit dan jalan sepanjang 7 kilometer. Pembangunan irigasi ini sempat menjadi sorotan DPRD Provinsi Kepri Tawarich karena pengerjaannya tidak sesuai jadwal yang ditentukan.

Jauhnya pengawasan pembangunan irigasi di Kelarik menyebab pelaksanaannya dinilai semenda-semena. Meski berbagai elemen masyarakat di Natuna sudah menilai pengerjaan proyek irigasi terlihat ganjal. Dan sudah dilaporkan ke Kejaksaan Negeri Natuna.

Diketahui pembangunan irigasi di Kelarik merupakan kegiatan di Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, yang dimulai tahun 2011 lalu dikerjakan PT Gompar Palluga Jaya.Tujuannya untuk membantu suplai pengaira pertanian masyarakat. Dengan letak irigasi, warga pesimis bisa dimanfaatkan. Karena terlalu jauh dari pemukiman warga.

“Warga masih manfaatkan aliran sungai untuk pertanian. Irigasi yang dibangun belum dimanfaatkan sampai sekarang,” ujar Kamarudin, warga Kelarik kemarin.

Pembangunan irigasi tidak hanya ditahun 2011, tetapi dilanjut tahun 2013. Dikerjakan PT Benteng Indo Raya. Proyek dianggarkan sebesar Rp 10 miliar. Proyek belum selesai, dilanjutkan tahun 2014. Dari APBN dikucurkan anggaran sebesar Rp 17 miliar. Dan tahun 2015 juga dikucurkan anggaran proyek irigasi sebesar Rp 20 miliar. Dan tahun 2016 dikucurkan anggaran sebesar Rp 25,279 miliar.

Tokoh masyarakat setempat, Wan Sanusi mengaku, proyek irigasi tersebut belum selesai dan belum bisa dimanfaatkan masyarakat. Dan ditahun 2017 ini dari APBN dikucurkan kembali anggaran sebesar RP 35 miliar lebih untuk membangun parit sepanjang 7 kilo meter.

“Proyek irigasi itu belum juga selesai sekarang. Anggarannya sudah ratusan miliar. Dulunya proyek irigasi itu tidak pernah dipasangi
papan pengumuman proyek. Baru sekarang terlihat. Sekarang pun sudah dilaporkan ke Kejaksaan,” ujar Wan Sanusi.

Menurut informasi dilapangan direktur utama PT Benteng Indo Raya sudah datang ke Kejaksaan dan menemui Kajari Natuna Efrianto. Namun belum bisa dikomfirmasi tindak lanjut proyek irigasi tahun 2016 lalu karena pengerjaannya yang tidak selesai. (arn)

Serda TNI AD Bikin Kagum Tentara Negara Lain dalam Hal Menembak

0
Wolly Hamsan ditandu dengan kursi setelah terpilih menjadi petembak terbaik di ASAAM 2017 di Kompleks Militer Puckapunyal, Victoria, Australia, 26 Mei lalu. (DISPENAD for JAWA POS)

SEJUMPUT rumput itu dipegang Wolly Hamsan sembari matanya mendongak. Sejurus kemudian dilemparnya rumput tadi. Diamatinya di mana jatuhnya. Dan, dor, dor, dor! Hasilnya? Cukup dengan metode pengukuran angin secara sederhana itu, Wolly meraup poin sempurna di nomor tembak reaksi. Tanpa memerlukan alat bantu wind speed meter seperti para rival.

“Begitu saja bisa tepat. Kami yang canggih (memakai alat, Red) malah tidak,” kata Wolly menirukan pujian yang dia peroleh dari petembak lain.

Hasil di nomor tembak reaksi tersebut hanyalah satu di antara sederet kesuksesan yang dibawa prajurit TNI-AD berpangkat sersan dua (serda) itu di Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) pada 5-26 Mei lalu. Selama 22 hari berkompetisi bersama perwakilan 19 negara se-Asia-Pasifik di Kompleks Militer Puckapunyal, Victoria, Australia, dia total mengoleksi 18 medali.

Perinciannya, 15 emas (9 perseorangan dan 6 beregu), 2 perak, dan 1 perunggu. Ayah dua anak tersebut mengulangi prestasinya di ajang yang sama pada 2011 dengan terpilih sebagai petembak terbaik. Bahkan dengan embel-embel raihan emas perseorangan lebih banyak ketimbang 2011 yang “hanya” merebut 8 emas.

Selain itu, Wolly berperan besar mengantarkan kontingen TNI-AD menjadi juara umum dengan total 28 emas, 6 perak, dan 5 perunggu. Itu gelar juara bertahan TNI-AD untuk sepuluh kali berturut-turut. Kian membanggakan lagi karena pistol dan senapan produksi yang digunakan Wolly dan 14 petembak lain di tim TNI-AD merupakan produksi PT Pindad.

Kesuksesan Wolly tersebut datang dari kedisiplinan dan kegigihan dalam berlatih. Kendati sudah tujuh kali jadi bagian dari skuad TNI-AD ke ajang itu, prajurit kelahiran 19 Februari 1979 tersebut tetap tak mengendurkan rutinitas dalam mengasah kemampuan.

Sampai-sampai personel Kontingen Garuda (Konga) 2009-2010 itu sempat diprotes sang istri karena rumah pun dijadikan tempat latihan. Bukan dar-der-dornya tentu. Melainkan latihan mengatur posisi dan strategi. “Ini rumah, bukan tempat latihan,” ucap dia menirukan perkataan sang istri.

Lantaran sadar betul AASAM bukan kompetisi sembarangan, Wolly kerap menambah jam latihan. Setiap hari dia berlatih menembak sejak pagi sampai sore. Tidak kurang sembilan jam dia berlatih bersama petembak lainnya.

Latihan tambahan biasa dilakukan Wolly setelah istirahat. Salah satunya ketika berada di rumah. Dia tidak segan telungkup sambil membayangkan tengah memegang senapan. Itu yang sering membuat istrinya geleng kepala.

Tidak cukup dengan latihan tersebut, Wolly juga kerap meluangkan waktu untuk yoga. “Satu jam setiap malam,” ucapnya. Itu dia lakukan untuk melatih konsentrasi. Selain melawan diri sendiri, dibutuhkan konsentrasi tinggi ketika tengah beradu ketangkasan dalam kompetisi menembak. Tanpa itu, sulit menembak tepat sasaran. Jika sudah demikian, jangan harap dapat medali dan poin tinggi.

Wolly berkenalan dengan dunia menembak sejak belia. Di kampungnya di Sambas, Kalimantan Barat, sana, Wolly sudah doyan berburu dengan senapan angin mulai SMP. Begitu masuk TNI-AD pada 1998, Wolly menambah ilmu dengan mengikuti beberapa pelatihan menembak. Skill-nya pun kian terasah dan terpantau para senior.

Seleksi internal untuk bisa masuk tim ke AASAM juga sangat ketat. Sebab, bagi TNI-AD, ajang tersebut merupakan salah satu media unjuk kemampuan. Juga sebagai sarana diplomasi.

“Menembak itu bukan hanya soal bagaimana bisa tepat sasaran, tapi juga menaklukkan ego,” tutur Wolly.

Atas raihan prestasinya tersebut, Wolly pun mendapat hadiah rumah dari Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono yang diserahkan di Jakarta Selasa lalu (30/5/2017). Dia pun mengaku sangat bangga dan terharu.

“Hadiah ini saya dedikasikan untuk istri dan anak-anak,” katanya. (SAHRUL YUNIZAR, Jakarta)

Kisah Mula Cheng Ho Keliling Dunia

0

Suasana Presidential Palace (Istana Kepresidenan) Nanjing pada Minggu siang (28/5) sangat ramai. Lebih dari 500 orang memadati empat loket pembelian tiket. Mayoritas berasal dari Nanjing. Sisanya adalah rombongan dari luar kota.

Masyarakat Nanjing memang tengah libur panjang. Hampir semua tempat wisata di kota yang luasnya 10 kali lipat luas Jakarta (Jakarta seluas 661 km2, sedangkan Nanjing 6.500 km2) itu ramai pengunjung. Terutama Istana Kepresidenan yang menjadi istana bagi enam dinasti awal kekaisaran Tiongkok.

Di Istana Kepresidenan itu pula sejarah yang membentuk takdir Cheng Ho terjadi. Juga, kelak di kota itulah Cheng Ho paling banyak menghabiskan waktu.

”Selama di Tiongkok, Nanjing boleh dibilang home base Cheng Ho,” kata Ian Hudson, tangan kanan Gavin Menzies, penulis buku terkenal Cheng Ho, 1421, melalui e-mail. ”Tidak di Kunyang, tidak di Beijing. Tetapi Nanjing,” imbuhnya.

Bermula ketika kaisar pertama Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang, berhasil merebut Nanjing pada 1368 dan mengalahkan kaisar terakhir Dinasti Mongol Yuan, Toghon Temur. Sebagai anak kaisar, Zhu Di berhasil membuktikan dirinya sebagai pria tangguh dengan ikut serta menghancurkan bangsa Mongol di tanahnya sendiri.

Seusai kampanye penaklukan itu, Zhu Di mendapat penempatan di Ta-Tu, lalu mengganti namanya dengan Beijing. Tentu saja, saat itu Cheng Ho sudah menyertainya. Baik sebagai sahabat maupun kasim yang paling dipercaya.

Pada 1387, perangai Kaisar Zhu Yuanzhang makin aneh. Terutama setelah kematian anak pertama dan ketiganya (Zhu Di adalah anak kedua). Dia menyingkirkan banyak orang, termasuk para jenderal militernya, dengan alasan yang tak jelas. Banyak perwira militer yang dituding berkhianat, lalu dihukum pancung.

Museum Presidential palace di kota Nanjing Provinsi Jiangsu, Tiongkok (28/5). Museum itu merupakan pusat pemerintahan pada abad ke 17 sebelum pindah ke Beijing.

Termasuk kepada Zhu Di. Kaisar yang berjuluk Hong Wu itu bahkan menganggap Zhu Di sebagai orang Mongol. Ketika akan meninggal pada 1398, Zhu Yuanzhang menunjuk Zhu Yunwen, keponakannya, sebagai kaisar. Zhu Yunwen ini meneruskan program aneh Zhu Yuanzhang dan mengirimkan banyak pembunuh bayaran ke Beijing untuk menghabisi Zhu Di.

Terjepit, Zhu Di yang ditemani Cheng Ho meninggalkan istananya dan selama beberapa bulan hidup sebagai gelandangan di jalanan Beijing. Tidur di selokan dan siangnya menelusuri jalanan Beijing. Tentu untuk melihat situasi dan menghindari sekaligus merencanakan serangan balasan kepada para pembunuh bayaran itu.

Tepat pada saatnya, Zhu Di dan Cheng Ho serta sejumlah tentara yang masih setia melakukan serangan balik. Sekitar 200 pembunuh bayaran berhasil dikepung dan dikalahkan di tempat yang kini menjadi Lapangan Tiananmen.

Tahu upayanya gagal, Zhu Yunwen tak menyerah. Dia mengirimkan 500 ribu tentara ke Beijing. Namun, takdir pula yang menentukan. Persis seperti tentara Nazi yang gagal menyerbu Rusia gara-gara musim dingin, begitu pula pasukan Zhu Yunwen. Hanya mengenakan seragam tentara musim panas dan sandal jerami, pasukan Zhu Yunwen tak bisa berbuat banyak ketika musim dingin datang menyelimuti Beijing. Dengan mudahnya pasukan Zhu Di menghabisi mereka.

Kendali di tangan Zhu Di. Begitu sudah kuat, giliran Zhu Di yang menyerbu Nanjing. Pada 1402, Zhu Di berhasil merampas Istana Naga (kini Istana Kepresidenan) di Nanjing. Sementara itu, Zhu Yunwen kabur menyelamatkan diri dan tidak diketahui rimbanya.

Ada kabar bahwa Zhu Yunwen melarikan diri hingga ke luar negeri. Itu pula yang konon menjadi salah satu alasan Zhu Di memerintah Cheng Ho untuk membangun armada besar untuk mengelilingi dunia. Tujuannya, mencari Zhu Yunwen.

Sejak tahun itulah Cheng Ho membangun banyak hal untuk kepentingan ekspedisi tersebut. Mulai memperbesar ukuran galangan kapal di Longjiang hingga membangun sekolah penerjemah. (kardono / boy slamet/ jawa pos)

Inilah 10 Besar Lulusan SMP Se-Kepri 2017

0

 

batampos.co.id – Tahun ini, pelajar SMP di Batam mendominasi 10 besar peringkat lulus Ujian  Nasional se-Kepri. Ada 8 pelajar asal Batam yang duduk di peringkat 10 besar itu sedangkan dua lainnya dari Tanjungpinang.
Adalah pelajar SMP Nabilah Batam bernama Nabilah Avi Rizky yang duduk di peringkat pertama nilai UN SMP tertinggi tahun ini. Nilai UN gadis ini adalah 385,00.
Dibawah Nabilah ada pelajar SMP 1 Tanjungpinang bernama Ahmad Ramadhan Avni yang memperoleh nilai 382.00.
Peringkat tiga besar diraih Johan Wijaya dari SMP Negeri 6 Batam dengan nikai 381,50. Dibawah Johan ada Hafuzah Abiyoniqbal Harahap dengan nilai 381.00 dari SMP Negeri 3 Batam.
Posisi enam besar diraih Juve Anthony dari SMP Maitreyawira dengan nilai 381.00 disusul Albertha Adeline Marvel dari SMP Kristen Tabgha Batam kemudian M Rifqi Kemal Fata dari SMP Negeri 1 Tanjungpinang dengan nilai 380,50.
Nilai Riqi sama dengan pelajar SMP Negeri 3 Batam lainnya yakni Riccy. Untuk urut 9 dan 10 besar diraih Wafiq Hanufah dari SMP Negeri 3 Batam dan Michelle Cordelia Tanjaya dari SMP Mondial Batam dengan nilai yang sama yakni 379,50. (spt)