Selasa, 14 April 2026
Beranda blog Halaman 13985

Ubah Identitas, Al Sempat Diganti Nama Oleh Ibu Angkat

0
Bunga, 12, korban penganiayaan oleh ibu tirinya menunjukkan bekas penganiayaan kepada polisi di Mapolresta Barelang, Selasa (26/7/2016). Foto: eggi/batampos.co.id
Al, 9 tahun, korban penganiayaan oleh ibu angkatnya menunjukkan bekas penganiayaan kepada polisi di Mapolresta Barelang, Selasa (26/7/2016). Foto: eggi/batampos.co.id

batampos.co.id – Kasus penganiayaan terhadap Al, bocah perempuan sembilan tahun, oleh keluarga Yt ibu angkatnya di perumahan Griya Pratama, Batuaji terus bergulir.

Polsek Batuaji yang menangani kasus penganiayaan itu mendapat pengawalan dari Komosi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri. Pihak KPPAD menanggap serius laporan penganiayaan itu dan bertekad akan mendampingi penyelesaian kasus tersebut sampai tuntas.

Komisioner KPPAD Kepri Ery Syahrial mengatakan, kasus yang menimpa anak dibawa umur itu bukan saja kasus penganiayaan saja. Pihaknya yang turut aktif mengawali laporan kasus tersebut mencium ada gelagat praktek perdagangan manusia (trafficking) terhadap Al sehingga perlu adanya penangangan yang serius kepada semua pelaku yang terlibat.

“Ada indikasi trafficking dalam kasus ini, sebab anak ini diserahkan ayah tirinya ke orangtua angkatnya di Batam. Sementara ibu kandung anak ini belum diketahui keberadaannya sampai saat ini,” ujar Ery.

Dijelaskan Ery, sebelum Al sampai ke Batam, Al diketahui tinggal bersama ibu kandung dan ayah tirinya di Jakarta. Namun entah kenapa ayah tiri Al menyerahkan Al ke keluarga Yt di Batam dan meninggalkan ibu Yp begitu saja. “Nah bagaimana proses penyerahan Yp apakah jual atau adopsi perlu dikejar juga agar semuanya bisa terungkap,” ujar Ery.

Untuk kasus penganiayaan sendiri diakui Ery memang masih didalami polisi dan pihaknya akan terus mendampingi korban. “Nama anak ini sudah diganti oleh ibu angkatnya dan sekarang dia sudah bersama kami untuk mendapatkan pelindungan, polisi tetap usut laporan itu,” ujar Ery.

Untuk kelanjutan nasib Al, Ery mengatakan akan berkoordinasi dengan lembaga kesejahteraan sosial anak (LKSA) di Batam untuk menentukan hak asuh Al nantinya. “Banyak juga yang ingin asuh anak ini, tapi dia sendiri malah ingin kembali ke ibu kandungnya,” ujar Ery.

Kemauan Al itu belum bisa dipenuhi sebab keberadaan ibu kandungnya belum diketahui. “Maunya korban ingin jumpa dengan keluarganya. Al tidak mau lagi tinggal sama ibu angkatnya. Tapi keberadaan orangtuanya tidak tahu lagi alamat di Jakarta,” ujarnya.

Kanitreskrim Polsek Batuaji AKP M Said mengaku masih mendalami laporan penganiayaan itu. Sampai siang kemarin pihaknya sudah meminta keterangan korban dan dari tetangga ibu angkat korban. “Kalau sudah lengkap keterangan pelapor dan korban akan kami panggil orangtua angkatnya,” ujar M Said.

Sebelumnya, Al mendapat simpati dari para tetangganya. Al yang tinggal bersama keluarga Yt diinformasikan kerap mendapat penganiayaan. Bahkan bocah perempuan sembilan tahun itu kerap disekap oleh orangtua angkatnya itu. Oleh warga sekitar kejadian janggal itu dilaporkan ke pihak kepolisian dan kemudian direspon oleh KPPAD Kepri. (eja)

Jenazah Lia Dimakamkan Dekat Makam Sang Ayah

0

Mauri Ibu Lia digiring kerabatnya usai pemakaman Lia-f-Eusebius Sarabatampos.co.id – Jenazah Lia Arzalina, 22 korban pembunuhan yang jasadnya ditemukan tinggal tengkorak di hutan Bumi Perkemahan, Nongsa, Rabu (27/7) lalu akhirnya dimakamkan di pemakaman umum Seitamiang, Kamis (28/7) siang. Lia dimakamkan di blok B2, samping makam ayahnya Zamzali bin Kaelani yang tewas ditabrak trailer, Senin (4/7) lalu.

baca juga : Ayah Meninggal Saat Cari Lia, Ternyata Lia Juga Ditemukan Tewas, Diduga Dibunuh

Prosesi pemakaman Lia berlangsung hikmah sekitar pukul 11.00 WIB. Puluhan pelayat baik dari keluarga dan kerabat Lia yang ikut ambil bagian dalam prosesi pemakamanya itu terlarut dalam suasan duka.

Kesedihan yang paling mendalam terpacar dari wajah Mauri, 47 dan Ziana Ristania, ibu dan adik Nia. Dua wanita berkerudung itu tampak pucat dan lemas saat turun dari mobil yang mengantar mereka ke lokasi pemakaman Lia. Ditopang oleh beberapa anggota keluarga lainnya, Mauri dan Ziana berusaha mendekati peti jenazah Lia yang sudah diletakan di bibir makam.

Air mata terus membasahi pipi kedua Mauri dan Ziana. Keduanya duduk sempat duduk bersimbuh di samping peti jenazah Lia. Meskipun tak ada suara yang keluar, dua wanita itu tampak termenung menatap peti jenazah yang ada di depannya seolah-olah sedang melakukan percakapan dari hati ke hati.

Kerabat dan keluarga yang hadir tak kuasa menahan tangis melihat Mauri dan Ziana yang terus mengelus peti jenazah Lia. “Sudah bu, ini cobaan yang harus kita hadapi. Ikhlaskan biar dia istrahat dengan tenang,” hibur salah satu wanita yang berada dekat Mauri.

Usai menjalani doa pemakaman yang dibawakan oleh salah satu ustad, jenazah Lia pun dimakamkan. Mauri dan Ziana tak lagi menangis saat peti jenazah diturunkan ke liang lahat. Keduanya tampak tegar meskipun dibaluti duka yang mendalam.

Pihak keluarga tak banyak memberikan komentar terkait kematian Lia dan ayahnya itu. Mereka sepenuhnya percaya kepada polisi untuk mengusut tuntas pelaku pembunuhan Lia. “Anak kami ini dibunuh, ya polisi harus secepatnya menangkap pelaku,” ujar Djoko, salah satu anggota keluarga Mauri di lokasi pemakaman, kemarin.

Keluarga kata, Djoko tak mampu berbuat banyak atas musibah yang menimpah keluarga Mauri itu. Mereka hanya bisa berharap sepenuhnya kepada pihak kepolisian agar secepatnya mengungkap siapa pelaku pembunuhan Lia itu. “Kasusnya sudah ditangan polisi dan itu satu-satunya harapan kami agar pelakunya segera ditemukan,” tuturnya.

Rekan-rekan kampus Lia dari kampus Ibnu Sina, Batam yang turut hadir dalam proses pemakaman itu mengaku sangat kehilangan dengan sosok Lia yang pendiam dan baik hati itu. Mereka tak menyangka bahwa Lia harus meninggal dengan cara tragis seperti itu. “Saya teman satu ruangan dengan dia. Dari semester awal sampai mau semester lima ini, tak ada masalah atau apapun dengan orang lain dia selama ini. Kenapa ada orang yang tega membunuhnya seperti ini,” ujar Tanti, rekan sekampus Lia.

Lia dimata kawan-kawannya dikenal gadis yang pendiam. Dalam pergaulan sehari-hari Lia dikenal sosok yang baik dan penurut. Sehingga diyakini kawan-kawannya Lia tak punya musuh selama belajar di kampus Ibnu Sina. “Terakhir saya jumpa dengan dia setelah ujian semester. Setelah itu kan libur jadi kami tak jumpa lagi sampai ditemukan meninggal seperti ini,” ujar Tanti lagi.

Untuk hubungan asmara kata Tanti, Lia pernah bercerita kalau dia memang menjalani hubungan asmara dengan seorang pria yang berasal dari tempat tinggal Lia di kaveling Sagulung Baru (Saguba), blok B nomor 9, Seibinti, Sagulung, namun hubungan keduanya sudah putus sejak bulan Agustus 2015 lalu. Siapa pria yang pernah dekat dengan Lia itu, Tanti dan teman-temanya mengaku tak mengenal baik. “Mereka sudah lama putus. Tapi tak tahu jugalah gimana kelanjutan mereka. Karena Lia orangnya tertutup dan pendiam juga,” kata Tanti.(eja)

Dipaksa Bekerja, Al Jarang Sekolah

0
Bunga, 12, korban penganiayaan oleh ibu tirinya menunjukkan bekas penganiayaan kepada polisi di Mapolresta Barelang, Selasa (26/7/2016). Foto: eggi/batampos.co.id
Al, 9 tahun, korban penganiayaan oleh ibu tirinya menunjukkan bekas penganiayaan kepada polisi di Mapolresta Barelang, Selasa (26/7/2016). Foto: eggi/batampos.co.id

batampos.co.id – Penganiayaan terhadap Al, yang dilakukan ibu angkatnya Yanti kerap didengar para tetangga yang berada di Blok B Perumahan Griya Pratama Aviari, Batuaji. Bocah 9 tahun itu disiksa di dalam rumah dan jarang terlihat bergaul di luar.

baca juga : Kisah Pilu Bocah 9 Tahun, Dijual Rp 5 Juta, Disiksa Pembelinya

“Anaknya tak pernah ke luar rumah. Kita hanya dengar anaknya nangis saja,” ujar salah seorang tetangga yang enggan menyebutkan namanya.

Menurut wanita ini, Yanti dikenal dengan pribadi tertutup. Bahkan, Ibu satu anak tersebut jarang berkomunikasi dan bergaul dengan para tetangga.

“Ibu-ibu di sini takut dengan dia (Yanti). Ngomong saja tidak ada titik komanya,” terangnya.

Menurutnya, selain jarang bermain ke luar rumah, Al tak pernah terlihat pergi maupun berseragam sekolah.

“Saya tidak pernah lihat dia sekolah. Tak tau apa kerjaannya di dalam rumah,” tutur wanita berhijab ini.

Hal senada dikatakan Wati, tetangga lainnya. Menurut dia, Al sudah bersama ibu angkatnya tersebut sejak 2 tahun yang lalu.

“Dari kecil dia (Al) sudah di sini (Perumahan Griya Pratama). Tetapi saya jarang lihat anak itu,” ujar Wati.

Sementara dari pengakuan Al, sejak awal tahun ajaran, ia dilarang untuk bersekolah. Ibu angkatnya tersebut memaksanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah, seperti mencuci dan membersihkan rumah.

“Baru sekali pergi sekolah. Setiap hari disuruh kerja,” ujar Al di Mapolresta Barelang.

Pantauan Batam Pos, rumah pelaku yang berada di Blok B nomor 40 di Perumahan Griya Pratama Aviari, Batuaji tertutup rapat. Rumah berawarna cokelat itu ditinggal pemiliknya sejak pagi hari.

Yanti bekerja sebagai ibu rumah tangga, sedangkan suaminya Supriadi bekerja di salah satu galangan kapal kawasan Tanjunguncang. (opi)

Kuku Lia Ditemukan di TKP

0
Lia Arzalina
Lia Arzalina

batampos.co.id – Tim identifikasi bersama Sat Reskrim Polresta Barelang kembali melakukan olah TKP di lokasi penemuan jasad Lia di hutan lindung Dam Duriangkang, Nongsa. Dalam olah TKP itu polisi menemukan barang bukti baru berupa kuku milik korban.

Dalam olah TKP itu, polisi mengukur jarak penemuan barang milik korban. Barang berupa kacamata, tas, sendal dan linggis ditemukan secara acak.

Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Memo Ardian mengatakan olah TKP itu bertujuan mencari petunjuk baru.

“Kita mengukur posisi barang bukti untuk bukti petunjuk,” ujar Memo di lokasi.

Menurutnya, pihaknya sudah memeriksa 5 saksi kunci. Saksi ini diantaranya saksi yang menemukan jasad, serta mantan dan pacar korban.

“Selain kita, saksi diperiksa di Polsek Sagulung,” terangnya.

Sementara itu. Roy salah seorang warga sekitar mengaku lokasi hutan itu jarang dimasuki warga. Hanya saja beberapa warga memasuki hutan pada hari Minggu untuk memancing.

“Hari biasa jarang sekali orang masuk sini (hutan). Kalau masuk hanya warga untuk memancing,” ujarnya. (opi)

Gubernur Tinjau Maintenance Aircraft di Politeknik Batam

0
Gubernur Kepri Nurdin Basirun meninjau tempat praktik program studi Maintenance Aircraft Politeknik Batam, Kamis (28/7). foto:humas pemprov
Gubernur Kepri Nurdin Basirun meninjau tempat praktik program studi Maintenance Aircraft Politeknik Batam, Kamis (28/7). foto:humas pemprov

batampos.co.id – Gubernur H Nurdin Basirun yakin dengan kemampuan Politeknik Batam akan menghasilkan lulusan-lulusan terbaik yang mampu bersaing di dunia kerja. Apalagi kini Politeknik Batam semakin berkembang dengan tambahan program studi baru yang baik.

Keyakinan Nurdin itu disampaikannya usai melakukan silaturahmi ke Politeknik Batam, Kamis (28/7) siang. Dalam kunjungan itu, Nurdin diterima langsung Direktur Poltek Batam Priyono Eko Sanyoto.

Saat tiba, Gubernur langsung melihat maket-maket Gedung Poltek Batam di lantai dua. Secara detail, Nurdin bertanya satu persatu ihwal fungsi bangunan-bangunan itu. Nurdin juga melakukan dialog dengan para pengajar yang dipandu langsung Direktur Polteknik, Eko.

Usai dialog, Nurdin mengunjungi fasilitas-fasilitas yang menunjang kegiatan civitas akademika Pokitekni Batam. Pertama Nurdin berkunjung ke sejumlah laboratorium. Setelah menggunakan pakaian steril, Nurdin masuk ke laboratorium melihat aktivitas penunjang kegiatan Poltek.

Di sini, Nurdin bertanya tentang mesin-mesin yang tersedia di labor, mulai dari penggunaan, harga, sampai bahan baku untuk produksi sebuah peralatan.

Diskusi panjang antara Nurdin terjadi saat mengunjungi labor untuk produksi PCB. Apalagi yang disajikan adalah hasil produksi untuk propeler kapal selam. Nurdin melihat detil hasil produksinya, dan yakin itu berfungsi dengan sempurna.

“Ini bergeser sedikit langsung tak berfungsi,” kata Nurdin. Nurdin pun bertanya tentang frekuensi putaran, kemudian bagaimana jika dikaitkan dengan faktor arus di dalam air.

Nurdin pun melihat labor untuk menguji handphone. Saat itu ada seorang mahasiswa sedang menguji sebuah handphone merek ternama. Dia sedang menguji proses upload, download serta dayanya.

Usai dari labor, Nurdin melihat tempat latihan perbaikan mesin pesawat. Polteknik Batam memang baru membuka Program Studi Maintenance Aircraft. Beberapa jenis pesawat ada di situ.

Di sini, Nurdin berdialog dengan Eko soal kemungkinan anak-anak Kepri bisa melanjutkan pendidikan di sini. Nurdin terlihat sangat kuat ingin menyekolahkan anak-anak Kepri di Prodi Maintenance Aircraft.

Nurdin juga bertanya soal biaya hingga sertifikasi, sehingga lulusannya bisa meyakinkan dunia kerja. “Nanti lulusan SMA terbaik bagus juga di sini,” kata Nurdin.

Menurut Nurdin, dengan turun lamgsung ke lapangan dan mahasiswa sudah dapat praktik yang baik, maka lulusannya akan mudah diterima di dunia kerja.

Nurdin yakin Direktur Eko dan segenap civitas akademika Pokiteknik Batam bisa membuat inovasi inovasi baru. “Tidak ada kata berhenti untuk belajar. Semoga sukses,” kata Nurdin.

Lulusan Poltek Batam memang tersebar di berbagai tempat. Selain banyak di Batam, beberapa di antaranya ada di Dubai, Singapura dan beberapa negara lainnya. (bni/bpos)

Ingat Ya, Abate Itu Gratis, Segera Dapatkan di Puskesmas

0
ilustrasi f.republika.co.id
ilustrasi f.republika.co.id

batampos.co.id – Merebaknya penyakit DBD selama musim hujan ini, tak luput dimanfaatkan oleh beberapa oknum yang mengaku dari Dinas Kesehatan Kota Batam untuk menjual serbuk abate kepada masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Chandra Rizal menegaskan abate bisa didapatkan gratis disetiap Puskesmas yang ada di Batam.

“Tidak ada itu (oknum Dinkes, red), minta saja di Puskesmas,” tegas Chandra.

Dia juga mengakui, keberadaan beberapa oknum yang mendatangi rumah warga, serta memaksa untuk membeli abate sangat meresahkan warga.

“Aduan memang ada, tapi masyarakat jangan mudah percaya,” ujarnya.

Menurutnya, oknum yang mengaku sebagai perpanjangan tangan dari Dinkes ini menjual empat bungkus serbuk abate dengan harga Rp 20- 25 ribu.

Untuk menyakinkan warga, biasanya mereka juga membubuhi stempel Dinkes, bahkan ada surat keterangan kalau abate wajib dibeli.

“Jadi masyarakat merasa itu benar dari kami, padahal tidak sama sekali,” ungkapnya.

Dia menghimbau kepada masyarakat yang membutuhkan abate, bisa mengambil abate di Puskesmas terdekat.

Sebelumnya, terdapat beberapa oknum yang menjual bungkusan abate kepada warga yang berada di Perumahan Tiban Mc. Dermot, Tiban Indah. Oknum tersebut mengaku sudah mendapat izin dari Dinas Kesehatan Kota Batam. Empat bungkus abate dijual dengan harga bervarian mulai dari Rp 20-25 ribu.(cr17)

Masa Tahanan Hampir Habis, Selasa Depan Sidang Putusan Wardiaman

0
Wardiaman Zebua saat sidang   Foto: yashinta/batampos
Wardiaman Zebua saat sidang
Foto: yashinta/batampos

batampos.co.id – Atas pembelaan yang dibacakan dan mengingat masa tahanan terdakwa Wardiaman yang akan habis (10/8) ini, sidang beragendakan Replik (menjawab pembelaan) dan Duplik (jawaban atas replik) langsung digelar di hari yang sama, Kamis (28/7) malam.

Walaupun sudah menunjuki pukul 18.20 WIB, dengan singkat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Bani I Ginting bersama Rumondang membacakan nota replik-nya. Dengan segala penjabaran yang dibacakan JPU Bani, menegaskan bahwa pihaknya untuk tetap pada dakwaan dan tuntutan yang telah dibacakan sebelumnya. “Kami tetap pada tuntutan yang mulia,” ucap Bani.

Begitu juga halnya duplik yang disampaikan oleh PH terdakwa. “Kami PH dan terdakwa, juga tetap pada pembelaan yang telah kami bacakan,” kata Isfandir Hutasoit.

Dengan selesainya rentatan persidangan jelang putusan ini, Hakim Ketua Zulkifli didampingi Hakim Anggota Hera Polosia dan Iman Budi Putra Noor, menjadwalkan sidang terhadap terdakwa Wardiaman Zebua alias Ardin selanjutnya, Selasa (2/8) adalah sidang putusan.

“Untuk itu, terdakwa tetap ditahan di rutan, dan kembali dihadirkan di persidangan selanjutnya, Selasa (2/8) dengan agenda putusan. Sidang ditutup,” kata Hakim Ketua Zulkifli, sembari mengetuk palu menutup sidang. (cr15)

Wardiaman Tetap Bantah Membunuh Dian

0
Wardiaman Zebua saat sidang Foto: yashinta/batampos
Wardiaman Zebua saat sidang
Foto: yashinta/batampos

batampos.co.id – “Saya tidak mengenal korban, tidak pernah berjumpa dengan dia (Nia) apalagi berbicara kepada korban. Bagaimana mungkin saya bisa menyetubuhi dan membunuh Nia?”.

Inilah ungkapan Wardiaman Zebua alias Ardin saat membacakan nota pembelaan yang ditulis tangannya sendiri dan dibacakannya langsung dihadapan Majelis Hakim, Kamis (28/7).

“Dari dakwaan hingga tuntutan yang ditujukan kepada saya, membuat saya tertekan. Istri saya, keluarga saya, juga stres karena hal ini,” ucap terdakwa terisak-isak.

Ia juga tegas menyebutkan, bahwa dirinya bukanlah pelaku tindak asusila dan pembunuh alm.Nia, siswi SMA N 1 Sekupang, Batam, itu.

Dijelaskannya, saat peristiwa pembunuhan terjadi, ia mengalami mesin motor yang mogok sebanyak dua kali ketika hendak pergi kerja. Sehingga, tepatnya (26/10) 2015 itu, ia terlambat tiba ke kantor. “Saya minta izin ke bos dengan alasan istri sakit dan antar istri berobat,” ujarnya.

Ia melanjutkan, dirinya terpaksa bohong supaya diizinkan. Karena jika beralasan motor mogok, atasan kantornya tidak mudah percaya. “Setelah motor hidup, saya ke kantor dan bekerja seperti biasa,” sebutnya.

Selain itu, Wardiaman mengaku tidak pernah mengetahui sebelumnya dimana lokasi mayat ditemukan. Setelah Wardiaman dijemput oleh tiga orang polisi di tempat kerjanya dan dibawa ke TKP, disanalah ia baru mengetahui adanya penemuan mayat.

“Di perjalanan, salah seorang polisi (Priyo) membentak sambil meremas kemaluan saya. ‘Gara-gara kamu saya tidak naik jabatan jadi Kombes’ kata dia ke saya,” beber Wardiaman.

Ia juga berulang mendapat ancaman hingga penganiayaan agar mengakui perbuatan yang tidak pernah dilakukannya. “Saya bingung, takut, tertekan harus menghadapi keadaan ini,” tuturnya lagi.

Pembelaan Wardiaman yang dibuatnya secara pribadi itu, turut dipertegas oleh nota pembelaan dari Penasehat Hukum (PH) nya. Nota pembelaan yang berjumlah ratusan halaman tersebut menegaskan 11 poin untuk membela kliennya.

Diantaranya, call data record (CDR) antara terdakwa dengan korban tidak pernah terdeteksi daling berkomunikasi. Dari CDR itu juga, letak kordinat antara terdakwa dengan korban tidak pernah bersamaan.

Poin lainnya, tidak adanya saksi yang melihat terdakwa sedang bersama korban, tidak ditemukannya pisau, rentetan waktu yang menggambarkan adanya aktivitas berbeda antara terdakwa dan korban, serta dakwaan yang tidak sesuai karena terdapat unsur perencanaan terdakwa.

Pembelaan yang dibacakan bergantian oleh lima PH terdakwa di persidangan tersebut hingga memakan waktu tiga jam lamanya, memohon agar terdakwa dapat terbebas dari dakwaan dan tuntutan yang telah dijatuhkan sebelumnya. “Karena terdakwa bukanlah pelakunya,” ucap Isfandir Hutasoit.(cr15)

Barang Ini Bisa Jadi Petunjuk Baru Penyelidikan Pembunuhan Lia

0
Mayat perempuan berhijab saat ditemukan di hutan Dam Duriangkang wilayah Nongsa, Rabu (27/7/2016). Foto: eggi/batampos.co.id
Mayat perempuan berhijab saat ditemukan di hutan Dam Duriangkang wilayah Nongsa, Rabu (27/7/2016). Foto: eggi/batampos.co.id

batampos.co.id – Selain petunjuk hamilnya Lia, pihak Kasat Reskrim Polresta Barelang menemukan helm yang digunakan korban. Helm berwarna cokelat tersebut juga ditemukan di lokasi.

“Helmnya ini belum tau milik siapa. Keluarga korban belum bisa dimintai keterangan,” katanya.

Memo membantah terkait aktifnya ponsel korban. Dari penyelidikan pihaknya, ponsel yang digunakan korban sudah tak aktif sejak 3 Juli lalu.

“Temennya itu ngechat dari Facebook. Kalau ponselnya memang sudah tak aktif,” tegas Memo.

Menurut Memo, usai menerima laporan keluarga korban terkait orang kehilangan, pihaknya langsung melakukan penyelidikan. Hanya saja, penyelidikan terhambat akibat keluarga korban yang tengah berduka.

“Setelah laporan itu ayahnya meninggal. Jadi untuk pemanggilan dan pemeriksaan jadi terganggu,” katanya lagi.

Memo menegaskan sesuai instruksi Kapolresta Barelang, Kombes Helmy Santika, seluruh jajaran Polsek dan Sat Reskrim fokus mengungkap kasus pembunuhan ini.

“Doakan cepat terungkap. Apapun informasi saat ini kita butuhkan,” pungkasnya. (opi)

Lia Dibunuh Saat Hamil

0
Mayat perempuan berhijab saat ditemukan di hutan Dam Duriangkang wilayah Nongsa, Rabu (27/7/2016). Foto: eggi/batampos.co.id
Mayat perempuan berhijab saat ditemukan di hutan Dam Duriangkang wilayah Nongsa, Rabu (27/7/2016). Foto: eggi/batampos.co.id

batampos.co.id – Lia Arzalina, yang ditemukan tewas di Hutan Lindung Dam Duriangkang dipastikan korban pembunuhan. Dari hasil autopsi, Lia tewas akibat benda tumpul hingga lehernya patah.

“Korban meninggal tidak wajar. Leher korban patah, dan dugaan jasadnya di lokasi kurang lebih sebulan,” ujar Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Memo Ardian.

Dari autopsi dokter forensik diketahui Lia tewas dalam keadaan mengandung. Usia janin tersebut sekitar 6 bulan.

“Jasad korban ditemukan tempurung janin berusia enam bulan,” tegas Memo.

Menurut Memo, Lia dihabisi di dalam hutan atau dekat tower Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT). Di lokasi juga ditemukan linggis warna biru yang diduga digunakan pelaku untuk menghabisi nyawa korban.

“Dugaan dibunuh di lokasi (dalam hutan) menggunakan linggis itu ada. Tetapi masih kita selidiki,” tuturnya

Memo menjelaskan saat ini pihaknya masih mengumpulkan keterangan dari keluarga dan teman dekat korban. Sejauh ini, pihak keluarga belum memberikan keterangan terkait pergaulan dan kandungan Lia.

“Kita sangat butuh informasi dari keluarga. Kita harapkan keluarga terbuka dengan kasus ini. Sehingga bisa memberikan petunjuk bagi kita,” terang Memo.(opi)