Karyawan SPBU Pasir putih saat mengisi BBM ke kenderaan warga. Foto: Immanuel Sebayang/Batam Pos.
batampos.co.id – Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Batam bersama Pemerintah Kota (Pemko) Batam dan pihak terkait lainnya hari ini, Senin (4/4) mulai membahas penurunan tarif angkutan umum di Batam. Organda meminta agar tarif angkutan umum turun di bawah tiga persen.
”Mungkin Senin (hari ini, red) sudah mulai dilakukan pembahasan. Kita pada dasarnya tetap sepakat agar tarif ini memang harus turun,” kata Ketua Organda Batam, Hardi Sam Harun.
Hardi mengatakan banyak hal akan dibicarakan dengan Pemko Batam, termasuk membahas beberapa tarif angkutan umum yang saat ini sudah hampir sama dengan tarif di Jakarta. Bahkan ada yang lebih rendah dari Jakarta.
”Misalnya taksi, lebih rendah tarifnya dari Jakarta. Padahal selama ini acuan kita Jakarta. Kalau menurut saya ini tak usah turun tarifnya, cukup surcharge-nya saja yang turun,” ujarnya.
Selain itu, kata Hardi, terkait kebijakan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) agar tarif angkutan umum turun tiga persen, juga akan menjadi pembahasan. Sebab, merujuk besaran tarif saat ini maka tidak akan mendapatkan angka genap. Misalnya, bila tarif angkot saat ini Rp 5 ribu, maka turunnya sekitar Rp 150.
”Ini kan ganjil, maka harus dibicarakan, apakah pembulatannya ke atas atau ke bawah,” jelasnya.
Hardi menambahkan, pada prinsipnya Organda Batam sepakat tarif angkutan diturunkan, tetapi harus diikuti dengan penurunan harga-harga kebutuhan pokok dan spare part kendaraan.
”Memang BBM (bahan bakar minyak) sudah turun, tapi tidak signifikan. Jadi, dampaknya tetap sangat besar kalau tidak disertai penurunan harga barang,” ungkapnya.
Untuk itu, apabila tarif angkutan umum nanti disepakati turun, maka Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam harus bisa mengontrol dan mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok. Sehingga penurunan tarif angkutan ini, ada manfaatnya untuk warga.
”Kalau harga barang tak turun, maka kurang terasa manfaatnya. Sopir juga harus hidup. Makanya pemerintah harus aktif untuk mengontrol harga,” jelasnya lagi. (ian)
batampos.co.id – Seorang sopir berinisial Ar tega mencabuli Mawar (bukan nama sebenarnya, red) bocah sekolah dasar. Pencabulan itu, membuat Mawar trauma. Sementara Ar babakbelur dihajar warga sebelum diserahkan ke Polsek Bengkong, Batam.
Menurut informasi, pencabulan yang dialami Mawar terjadi sekitar pukul 10.00 WIB di kawasan kos-kosan, Bengkong.
Mawar saat itu tengah berada di dalam kamar lantai 3. Ia menunggu rekan sepermainan yang sedang mandi. Disaat bersamaan, Ar yang baru keluar dari toilet masuk ke kamar yang tengah ditunggui Mawar.
Ar membuka celananya dan menarik tangan Mawar. Meski Mawar terus menangis, Ar tetap memaksa bocah itu memegang kemaluannya.
Tak hanya Mawar, Ar juga mengerayangi tubuh bocah lainnya. Setelah beberapa saat, kedua bocah tersebut berhasil melarikan diri.
Sembari menangis, mereka melaporkan kejadian itu kepada warga. Mendengar pengakuan polos Mawar, wargapun naik pitam. Belasan warga mengepung Ar dan menghajarnya hingga babak belur. Meski begitu, pria berusia sekitar 25 tahun ini sempat membantah pengakuan kedua bocah tersebut.
Kapolsek Bengkong AKP Syamsurizal membenarkan kejadian pencabulan itu. Menurut dia, pihaknya telah mengamankan Ar. Ar juga telah dimintai keterangan, beserta para saksi. Jika terbukti bersalah, Ar terancam pidana 15 tahun karena melanggar undang-undang perlindungan anak.
“Sudah kami amankan. Saat ini masih di proses. Kami juga sudah meminta keterangan beberapa saksi, termasuk korban,” pungkas Rizal yang dihubungi, kemarin.(she)
batampos.co.id – Penembakan yang dilakukan Brigadir Ys terhadap kekasihnya MS diawali keributan di dalam kosan Ruko Penuin Blok Y nomor 11. Sebelum melepaskan tembakan, anggota Direktorat Narkoba Polda Kepri tersebut mengancam membunuh kekasihnya. Bahkan Ys berniat membuang MS dari jendela kamar lantai III.
Eti, pemilik binatu (laundry) di lantai dasar Ruko mengaku sempat bertemu korban setelah penembakan terjadi. Kepadanya, MS yang biasa disapa Lina itu mengaku tak bisa berteriak karena Ys membekap wajahnya menggunakan bantal.
“Sudah lemas Bu. Gak bisa teriak lagi. Mau dilempar dari jendela,” ujar Eti menirukan ucapan MS di lokasi kejadian, kemarin (3/4) siang.
Eti mengaku bertemu MS setelah menjalani perawatan Rumah Sakit Harapan Bunda (RSHB). Saat keributan itu terjadi, Yondrialis melepaskan tembakan yang mengenai tangan kanan Lina. Namun, MS enggan menceritakan penyebab keributan tersebut.
“Yang bawa dia turun dan mengantar ke rumah sakit, pacarnya yang menembak dia itu,” tutur Eti.
Dia menjelaskan, beberapa jam meninggalkan rumah sakit, MS bergegas mengemas barangnya dari dalam kamar kos. Wanita 23 tahun itu terlihat dijemput beberapa keluarga menggunakan taksi.
“”Tadi MS datang bersama keluarganya. Katanya mereka mau pulang kampung,” terangnya.
Hal senada dikatakan Wiwin, penghuni kosan lainnya. Ia mengaku sempat mendengar keributan dari arah kamar korban. Selang beberapa menit terdengar suara tembakan.
“Kalau ribut sering dengar. Sebelum suara tembakan juga dengar ribut-ribut,” ujar Wiwin.
Sementara itu, salah seorang rekan kerja korban mengaku tidak mengetahui penyebab keributan dan penembakan itu. Karyawan De Best Hotel itu hanya mengetahui hubungan MS dan pelaku sebagai kekasih.
“Iya pacarnya polisi. Permasalahannya tak tahu, dia gak pernah cerita hal pribadinya,” ujarnya yang enggan menyebutkan nama.
Salah seorang perawat RSHB mengatakan Lina menjalani perawatan selama 12 jam. Ia dirawat di ruang Melati nomor 10 lantai IV.
“Pasiennya sudah ke luar. Semalam memang dirawat di sini,” ujarnya.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Kepri, AKBP Hartono belum memberikan keterangan terkait penembakan ini. Ponsel miliknya yang dihubungi tak mendapatkan jawaban.
Seperti diberitakan sebelumnya, Brigadir Ys nekad menembak kekasihnya MS, Jumat (1/4). Pasangan kekasih ini terlibat cek-cok. Dimana sebelumnya, pelaku masuk ke dalam kamar kos korban menggunakan kunci duplikat.
Lina yang menghindar dari keributan itu berusaha meninggalkan pelaku di dalam kamar. Namun. pelaku tak terima menarik tangan korban hingga tertidur, kemudian membekapnya menggunakan bantal. Lantas Ys mengeluarkan senjata api (senpi) melepaskan tembakan dibagian samping kepala korban. Namun, tembakan itu mengenai tangan MS saat mencoba menggapai senpi tersebut. (opi)
batampos.co.id – Wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali memakan korban di Batam, Minggu (3/4). Kali ini korbannya Eduard Manurung, warga Bida Ayu, Mangsang. Bocah berusia 6 tahun ini meninggal setelah satu minggu terjangkit DBD.
“Meninggalnya tadi malam di rumah sakit Elisabeth, Batam Center, sekitar pukul 00.20 WIB,” ujar ketua RT setempat, Firman Purba kepada koran Batam Pos.
Ia mengatakan sebelumnya, anak dari pasangan J Manurung dan Br Pardede ini dirawat intensif dirumah sakit Elisabeth selama satu minggu.
“Dia dibawa ke rumah sekitar Sabtu (26/3) lalu,” katanya.
Lanjut ia mengatakan, kondisi terakhir yang dialami bocah laki-laki enam tahun ini begitu buruk dan mengkhawatirkan hingga ia meninggal.
“Pembuluh darahnya pecah, dan seminggu dia dirawat ada sembilan kantong darah yang ditranfusikan,” jelasnya.
Sebelumnya, ia menyebutkan ada dua warganya yang terkena penyakit yang sama dan sempat dilarikan ke Rumah sakit.
“Dua bulan terakhir ini ada tiga warga saya yang terkena DBD,”imbuhnya.
Di Daerah setempat, Firman mengaku sudah tiga tahun terakhir ini pihak Dinkes maupun Puskesmas yang turun melakukan penyemrotan (fooging) atau pun sosialisasi mengenai hidup bersih.
“Seharusnya enam bulan sekali ada penyemrotan, tapi sampai sekarang mereka gak turun, meskipun kami sudah meminta dan beberapa kali mengirim surat ke Puskesmas,” jelasnya.
Ia juga mengatakan bahwa gotong royong yang mesti dilakukan setiap Minggu memang jarang dilaksanakan.
“Mulai besok kami akan melakukan gotong royong ataupun membeli obat penyemprotan meskipun kami harus ngutip dari warga,” paparnya.
Sementara itu, Manurung salah satu warga mengatakan untuk kesedian pemerintah terkait untuk melakukan sosialisasi mengenai kebersihan lingkungan agar tidak ada lagi korban yang jatuh.
“Gotong royong memang jarang, tapi kami juga minta dukungan dari pemerintah seperti obat-obat semprot,” pungkasnya.
Ratusan pelayat hadir di rumah duka sejak pagi tadi. Sedangkan jenazah dikebumikan di TPU sei Temiang, Sekupang. (cr19)
Zulaikha(13) peserta pelatihan MTQ untuk Provinsi Kepri cabang tahfizh satu juz dan tilawah saat pembukaan pelatihan di Quran Centre, Sekupang, Jumat (1/4/2016). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
batampos.co.id – Menjelang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 31 Juli 2016 mendatang, sebanyak 75 kafilah asal Kepri yang akan mengikuti 15 cabang yang diperlombakan kembali dilatih di Quran Centre, Sekupang.
Wakil Gubernur Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Nurdin Basirun membuka langsung acara Pelatihan dan Pembinaan Intensif Peserta Potensial Provinsi Kepulaun Riau di Aula Utama Quran Centre, Sekupang, Jumat (1/4/2016).
Nurdin Basirun mengatakan Provinsi Kepri memiliki potensi untuk kembali meraih juara umum di MTQ nanti, seperti yang diraih saat MTQ Nasional di Batam 2014 lalu.
“Kita optimis bisa kembali mengulang prestasi gemilang yang lalu,” ujar Pria yang juga merupakan Ketua Umum Lembaga Pembangunan Tilawatil Quran Provinsi Kepri ini.
Direktur Quran Centre, Mahamadi Rahman menuturkan pelatihan sudah dimulai sejak dua tahun yang lalu. Hanya saja sekarang ini lebih difokuskan lagi untuk menyambut pelaksanaan MTQ yang sudah semakin dekat.
“Pelaksanaannya delapan hari,” ujarnya.
Setelah mengikuti pelatihan, kafilah akan dikembalikan ke daerah masing-masing untuk mengikuti MTQ tingkat Kota/Kabupaten.
Minggu (3/4/2016) hari ini semua kafilah diuji kemampuannya di pusat pelatihan yang berada di Pulau Moro.
“Di sana mereka akan uji kemampuan, masih ada beberapa bulan lagi untuk memantapkan bacaan maupun hapalan. Kita harapkan yang Kepri berjaya di tingkat Nasional,” pungkasnya. (cr17/bp)
Khairani, salah satu siswi SMK Muhammadiyah Batam yang menunggak pembayaran SPP karena mikisn. Ia anak yatimpiatu. Rani pun mengadukan nasibnya ke komisi IV DPRD Batam, Batamcentre, Jumat (1/4/2016) karen akhawatir tak bisa ikut UN. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
batampos.co.id – Khairani, siswi kelas III SMK Muhammadiyah, Batuaji, Batam, bukan satu-satunya yang menunggak SPP di SMK tersebut. Banyak siswa lain yang juga menunggak karena miskin atau yatim.
“Iya, bukan hanya Rani yang nunggak SPP, tapi kenapa hanya Rani yang mengadu ke dewan,” ujar Agus, wakil kesiswaan SMK Muhammadiyah, Sabtu (3/4/2016).
Agusmenyebutkan, total tunggakan siswa kelas tiga secara umum di sekolah tersebut mencapai angka Rp 35 juta.
“Kalau dari kelas satu sampai tiga sekitaran Rp 300-an juta ada,” sebutnya.
Agus juga membenarkan kalau Rani, sapaan akrab Khairani, sering menunggak pembayaran SPP. “Kalau tak mampu memang iya karena neneknya sering datang ke sini minta kebijakan,” kata Agus yang juga Wali Kelas Rani.
Menurut Agus, warning terpaksa diberikan pada siswa yang menunggak pembayaran SPP, namun Agus menegaskan pihak sekolah tidak pernah mengancam atau melarang siswa yang masih punya tunggakan untuk tidak ikut UN.
“Masa warning saja tak boleh? Sekolah juga butuh biaya,” kata Agus.
Untuk itu sekali lagi Agus menegaskan, tunggakan SPP ya tetap tunggakan. Meskipun diperbolehkan ikut UN, namun saat pengambilan ijazah nanti tetap harus dilunasi tunggakan tersebut.
“Kalau tak lunas ya ijazahnya ditahan. Itu sudah kebijakan sekolah,” tegasnya. (eja/bp)
Siti Aisyah bersama cucunya Khairani di kontrakannya Sagulung Lama blok d nomor 19, Sagulung, Jumat (1/4/2016). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Ayahnya meninggal saat dia masih dalam kandungan. Sang ibu menyusul suaminya saat buah hartinya masih berusia 8 tahun. Khairani akhirnya dibesarkan neneknya, Siti Aisyah, yang sudah rentah. Sang nenek berjuang mencari nafkah untuk menyekolahkan sang cucu dari hasil pijak. Namun hasilnya, hanya cukup bayar kontrakan. Makan seadanya, dan sang cucu selalu menunggak SPP.
Suasana di Kaveling Lama, Blok D nomor 17 Sagulung, terlihat lengang, begitupun dengan suasana rumah kontrakan bercat putih yang ditempati oleh Khairani, 18, dan sang nenek, Siti Aisyah, 80.
Rumah kontrakan itu hanya punya falisitas satu kamar tidur, satu kamar mandi dalam, ruang tamu dan dapur. Kasur lusuh terhampar di ruang tamu. Televisi model tabung bertengger di rak besi yang sudah berkarat di ruang tamu.
”Silakan masuk, ayo duduk,” suara dari dalam memanggil wartawan koran ini. ”Maaf, agak sempit (ruangannya),” sambung perempuan tua yang masih terdengar tegas.
Perempuan tua itu adalah nenek dari Khairani. Pelajar kelas tiga SMK Muhammadiyah yang sebelumnya dikabarkan tidak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN) karena menunggak bayaran SPP.
Rani—panggilan akrab Khairani—anak pasangan Afimah dan Indra. Ibunya berasal dari Banten, sedangkan bapaknya dari Kota Padang. Rani lahir di Kota Medan, Sumatera Utara, pada 11 Mei 1997. Dia hijrah ke Batam tahun 2002 bersama ibu dan neneknya. ”Dua tahun di Batam saya masuk SD,” ungkap Rani.
Karena kondisi keuangan yang tidak stabil, tempat tinggal mereka sering berpindah-pindah. Dari satu kontrakan ke kontrakan lain.
”Mamak gak kerja, jadi nenek kasih makan dari hasil pijat,” tutur Rani. ”Tinggal di sini (Kaveling Lama, Red) sejak SMK kelas 1,” sambungnya.
Inilah rumah kontrakan Khairani di Sagulung Lama blok d nomor 19, Sagulung. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Perbincangan kami berlangsung santai. Selain koran Batam Pos (grup batampos.co.id), juga ada dua tamu. Kedua laki-laki tersebut adalah Ade Koto dan Anas yang merupakan anggota komunitas sosial online di Batam.
”Kedatangan kami, tak lain karena mendengar kabar dari Rani yang tak bisa ikut UN,” ujar Ade, Sabtu (2/4/2016).
Kabar tentang ancaman kepada Rani tidak bisa ikut UN yang akan diselenggarakan Senin (4/2/2016) besok, membuat pria berkecamata ini langsung mendatangi sekolah dan bertatap muka dengan pihak SMK Muhammadiyah. Di hadapan kepala sekolah, ia menanyakan perihal Khairani.
”Pas lihat postingan di sosmed, saya langsung datang ke sekolahnya,” kata Ade.
Dari Kepala Sekolah, Ade mendapatkan keterangan bahwa siswa yang bersangkutan memang mempunyai tunggakan SPP sebanyak Rp 4,8 juta. Namun, untuk masalah menolak Rani untuk ikut UN, katanya hal itu tidak benar.
Pihak sekolah mengatakan tunggakan tersebut akan dilunasi pihak Lembaga Amil Zakat (LAZ) Masjid Raya Batam (MRB) yang merupakan donatur Khairani.
“Menolak ikut (UN) itu tidak, tapi pihak sekolah hanya mengimbau untuk segera melunasi tunggakan tersebut,” jelasnya.
Setelah mendengar dan bertemu dengan pihak sekolah atas kabar tersebut, ia dan Anas melangkahkan kakinya ke kediaman Khairani.
”Kami ke sini untuk mengecek langsung, apakah Rani ini memang layak dibantu atau tidak, dan setelah mendengar ceritanya ya kami siap membantu,” ungkapnya.
Ade mengatakan, jika dana yang dikumpulkan oleh donatur nantinya melebihi target, ia berharap uang tersebut bisa digunakan Aisyah untuk mengelola usaha.
”Kalau uangnya banyak, nenek bisa buat usaha warung, biar gak mijit lagi,” sarannya yang diamini langsung oleh Aisyah.
Sementara itu, Anas yang langsung memposting berita mengenai Khairani mengaku banyak warga yang antusias membantunya. Satu per satu pengguna sosmed pun meneleponnya.
”Baru-baru tadi juga ada seorang polisi yang mau transfer uang, tapi saya bilang tahan dulu, karena saya gak berani simpan uang orang,” ucap pengajar di sekolah Gici ini.
Akhirnya ia pun menyarankan kepada Siti Aisyah untuk secepatnya membuat rekening untuk memudahkan para donatur mentrasfer bantuan tersebut.
”Saya bilang hari Senin setelah ujian pergi ke bank, secepatnya rekening dibuat,” katanya.
Selain pengguna sosmed, perusahaan MC Dermott juga antusias membantu Khairani, dengan memberikan uang sebanyak Rp 2 juta yang diterima langsung oleh Siti Aisyah dan Khairani.
”Pas baca koran dan online, mereka langsung datang dan menyerahkan uangnya,” ujar sang nenek, Siti Aisyah.
Khairani saat mengadu ke komisi IV DPRD Batam, Batamcentre, Jumat (1/4/2016). Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Aisyah mengaku bersyukur dan terharu, ternyata banyak warga yang bersimpati dengan keadaan serta keterbatasannya.
”Syukur Alhamdulillah, Allah ngasih kemudahan buat saya dan Rani,” katanya terisak.
Diakuinya, penghasilan dari pekerjaannya sebagai tukang pijat dan urut memang tidak seberapa, per bulannya nenek berkacamata ini hanya mampu mendapatkan uang di bawah satu juta.
”Belum lagi saya harus bayar kontrakan Rp 700 per bulan, saya pun harus mencukup-cukupkan penghasilan saya,” sebutnya.
Apalagi untuk urusan biaya sekolah cucunya, ia hanya bisa meminta bantuan kepada pihak LAZ MRB sebagai donatur Rani. Selain itu ia kerap mendatangi sekolah tempat Rani mengenyam pendidikan untuk meminta keringanan biaya.
”Setiap ujian semester saya pasti ke sekolah minta keringanan,” ungkapnya.
Rani ditinggal mati oleh kedua orang tuanya sejak usianya 8 tahun, membuat Aisyah harus benar-benar mengurus tenaga.
”Ayahnya meninggal saat Rani belum lahir, sedangkan ibunya meninggal saat Rani usia 8 tahun karena penyakit pernapasan yang dideritanya,” tuturnya.
Apalagi untuk masalah pendidikannya, ia rela meninggalkan rasa malunya untuk mengharap rasa iba dan bantuan dari pihak lain.
”Kadang saya malu minta seperti ini, tapi mau gimana lagi, keadaan dan keterbatasanlah yang membuat saya seperti ini,” ungkapnya.
Aisyah mengaku trauma dengan kejadian seperti ini, tidak hanya kali ini, dari dulu ketika SMP, Rani kerap mendapatkan cobaan seperti itu.
“Saya trauma jika ijazah Rani harus ditahan seperti waktu SMP. Jika ditahan lagi, cucu saya harus lamar kerja pakai apa?” ungkapnya.
Saat ini, yang Aisyah inginkan adalah Rani bisa mengikuti ujian dan lulus, lalu mendapatkan ijazah terakhirnya, karena ia mengharapkan supaya ke depan Rani bisa bekerja dan membantu ekonomi keluarga di kala usianya semakin ringkih.
Ia juga mengaku, saat ini Rani sudah mendaftarkan diri menjadi calon mahasiswa baru di Politeknik Negeri Batam, ia mendaftar di jurusan administrasi.
”Maunya sih nanti kuliah sambil kerja,” tukas Rani yang mengenakan pakaian warna hijau.
Rani mengaku senang setelah pihak SMK Muhammadiyah meyakinkan dia bisa ikut UN.
”Senang dan bersyukur, karena gak mau lagi disuruh keluar dari ruangan ujian karena gak bayar uang semester. Trauma,” ucap cewek yang ingin jadi pegawai negeri ini.
Sementara itu, mengenai keseharian Rani, menurut seorang tetangganya, Rani merupakan tipe anak yang biasa-biasa saja, yang selalu menghabiskan waktunya di rumah saja.
”Kayak anak muda seusianya, jarang juga keluyuran,” pungkasnya. (YULIANTI/bp)
batampos.co.id – Oknum polisi menembak orang dekatnya kembali terjadi. Kali ini oknum polisi yang bertugas di Batam.
Ya, dia oknum polisi berinisial Ys. Dia menembak kekasihnya, MS, 23, di Komplek Ruko Penuin Blok Y Nomor 9, Lubukbaja, Batam, Kepri, pada Jumat (1/4/2016).
Sebelum menembak kekasihnya itu, kedua pasangan sejoli ini terlibat pertengkaran. Penyebab pertengkaran polisi berpangkat brigadir itu dengan sang kekasih masih dalam penyelidikan.
Saksi di lapangan menyebutkan ada pertengakaran antara keduanya.
“Kejadiannya itu malam, sekitar pukul 22.40. Rs ini mendatangi korban di kamar kosnya,” kata sumber koran Batam Pos di Polresta Barelang, Sabtu (2/4/2016).
Ia menyebutkan Brigadir Ys ternyata memiliki kunci duplikat kamar kos MS, dan membuka pintu kamar kos tersebut. Ss pada saat itu sedang tidur terlelap. Tak mengetahui ada orang yang telah memasuki kosnya.
“Tak berapa lama terdengar suara orang sedang berantem, mungkin ketika MS terbangun melihat ada Ys di kamarnya,” ungkapnya.
Kemudian, kata sumber, setelah ribut-ribut, MS mencoba untuk keluar dari kamarnya, namun dicegat oleh Ys dan mengancam pelaku.
“Kalau aku keluar, kau yang mati atau aku yang mati,” ujar sumber itu menirukan perkataan pelaku.
Namun MS, tetap memberontak ingin keluar. Tapi pelaku lebih kuat dan menarik tangan korban, sehingga korban terjatuh di kasur. Entah apa sebab, pelaku menodongkan senjata ke arah korban. Sehingga korban menutup mukanya dengan bantal.
Melihat hal ini, pelaku melepaskan tembakan ke arah kepala korban. Namun tembakan tersebut mengenai tangan kanan korban, menembus di sela antara jari korban. Akibatnya, korban dilarikan ke RS Harapan Bunda.
“Korban di rumah sakit sekarang, sedangkan pelaku diamankan oleh Polda Kepri,” kata salah satu sumber koran Batam Pos di kepolisian.
Adapun barang bukti yang diamankan pihak kepolisian yakni satu pucuk pistol dan amunisi. (ska/ray/jpnn)
batampos.co.id – Salah seorang mayat laki-laki bernama Anwar Bapa Lego (24), ditemukan oleh temannya Pascal di kawasan Golden Land, Batam Centre Sabtu (2/4) sekira pukul 01.30 WIB.
Saat ditemukan, Pascal menuturkan terdapat luka tusuk di bagian leher Anwar. Korban sempat dibawa Pascal ke Rumah Sakit AwalBros untuk mendapat pertolongan. Namun nahas, nyawa korban tidak bisa tertolong.
Jenazah Anwar lalu dibawa ke kamar jenazah RSOB Sekupang untuk dilakukan otopsi. Namun pihak keluarga menolak untuk dilakukan otopsi.
“Tidak usah pakai otopsi, kami langsung bawa pulang saja ke kampung,” kata salah seorang keluarga korban.
Korban sendiri rencananya akan dibawa pulang ke kampung halamannya di Adonara Provinsi Nusa Tenggara Timur. (egi)
batampos.co.id – Mantap, Marga Nababan se-Indonesia menggelar Rapat Kerja Nasional I Parsadaan Borsak Mangatasi Nababab Boru Bere (PBMNBB) di Batam, Sabtu (2/4/2016).
Ketua Umum PBMNBB Anthon Nababan mengatakan bahwa saat ini Indonesia memasuki pasar bebas masyarakat Ekonomi Asean (MEA).
“Saat ini, Vietnam sudah mulai belajar bahasa Indonesia. Dan kita, marga Nababan, tidak boleh hanya berdiam diri saja,” kata Anthon.
Maka dari itu, Ia meminta kepada seluruh marga Nababan untuk mulai berubah. “Karakter dan mental kita harus dirubah. Kita tidak boleh lagi hanya duduk dan diam. Kita harus terus bergerak,” pinta pria yang juga anggota DPR RI.
Rakernas ini semakin istimewa karena dihadiri tokoh Nababan dunia, Dr.SAE Nababan mantan Ephorus HKBP sebagai pembicara utama.
Dr.SAE Nababan, mengaku gembira dengan rakernas ini. “Yang paling susah adalah mengumpulkan orang Batak. Tapi ketua kita Anthon ini, berhasil mengumpulkan kita marga Nababan dari seluruh penjuru Indonesia,” kata SAE.
Melalui rakernas ini, Ia juga sepakat dengan Anthon agar anak-anak Nababan meningkatkan kemampuannya. “Selain kemampuan, kredibilitas, dan dapat dipercaya. Hal inilah yang harus dimiliki anak-anak kita nanti,” kata SAE.
Sebab, kedepan, sambungnya, orang-orang yang dapat dipercaya akan terus dicari. “Saya memuji PBMNBB ini. Karena dari organisasi ini kita mulai belajar terbuka. Itu kunci dari orang yang dapat dipercaya,” tegasnya.
Sebelumnya, ketua panitia Rynaldi Nababan mengatakan bahwa pemilihan Batam sebagai tempat rakernas karena dekat dengan Singapura dan Malaysia. “Agar kita bisa melihat dan belajar langsung dari negara tetangga kesiapan mereka menghadapi MEA. Kami berharap semangat itu bisa ditiru kita marga-marga Nababan,” harapnya.
Rakernas pertama ini dihadiri para pengurus Nababan dari seluruh Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi. Dalam rakernas ini, para pengurus berencana menyusun rencana kerja Nababan kedepannya. (*)